Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 2 B

Volume 4
Chapter 2 – Para Newbie yang Tak Biasa (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

“Baiklah,” kata Rook sambil membuka matanya, setelah mengakhiri ingatan singkatnya. Di sampingnya terdapat Baby, yang sedang menatap langsung ke arahnya.

“Hei, Rook,” katanya. “Apakah kau mengingat kembali latih tanding sore ini?”

“Ya.” Angguk Rook.

“Lagipula, kenapa kau ingin melakukannya?”

“Kurasa bisa dibilang aku ingin bersiap-siap.”

“Untuk apa?”

“Sore ini, Ray bercerita kepada kita tentang pertarungannya melawan kelompok tian yang disebut ‘Gouz-Maise Gang,’ dan, yah, kupikir pertarungan itu sangat berat baginya. Bagaimanapun, Ray… memiliki jiwa yang lembut.”

“Itu benar,” angguk Baby.

“Namun, dia menghadapi situasi dimana dia benar-benar harus melewati hambatan mental itu dan bertarung melawan manusia. Hal itu membuatku berpikir bahwa, cepat atau lambat, aku juga harus melakukannya, jadi aku merasa bahwa aku perlu mempersiapkan pola pikir yang tepat untuk pertarungan semacam itu. Dan, sama seperti yang kuduga, kita hendak bertarung melawan manusia, yang artinya latih tanding melawan Marie benar-benar layak dilakukan.”

“Aku tidak benar-benar memahaminya, tapi jika kau akan membunuh, maka aku juga akan melakukannya!” tegas Baby.

Saat mereka sedang berbicara, orang-orang yang ada di sekitar mereka telah selesai melakukan persiapan.

Di lobi, terdapat Ray, Rook, dan sejumlah newbie lain. Namun, musuh yang ada diluar sangat banyak, dan mereka melebihi para newbie dalam hal level dan stats. Tentu saja, menerobos para musuh yang ada di alun-alun bukalah tugas yang mudah.

“Oke,” gumam Rook saat dia mengingat pertarungannya melawan Marie. “Hal terpenting yang harus diingat sedang bertarung dengan orang yang lebih kau darimu adalah memanfaatkan celah yang mereka tunjukkan.”

Lalu dia menyusun sebuah rencana tertentu dan mengatakannya kepada para rekan newbie-nya. Dengan itu, bahkan mereka—tidak, khususnya mereka—bisa memanfaatkan celah yang ditunjukkan oleh musuh.

Mereka semua menyetujui rencananya dan sesaat kemudian melangkah keluar dari arena.

***

Alun-alun pusat Duel City Gideon

Alun-alun pusat yang membentang di depan arena pusat biasanya dipenuhi dengan kedai-kedai, seniman jalanan, dan hiruk-pikuk para pengunjung, menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata paling terkenal di kota ini. Tapi, meskipun menjadi malam berlangsungnya event terbesar di Gideon, kedai-kedai yang ada di sini terlihat kosong dan para seniman jalanan juga tidak hadir.

Game Franklin telah membuat kota ini berada dalam kekacauan besar. Tentu saja, para penduduk biasa berhamburan dari alun-alun seperti semut, dan berusaha menjauh dari arena pusat, yang merupakan pusat kekacauan itu. Tapi ada kelompok tertentu yang menggantikan keberadaan mereka di sana.

Mereka adalah sekumpulan Master dan monster peliharaan serta para budak mereka. Mereka semua siap melakukan pertempuran, dan terus waspada tentang apapun yang dapat keluar melalui pintu masuk arena, siap untuk menghadang siapa saja yang mencoba melakukannya.

Kelompok itu jelas ada di sana bukan untuk menghentikan monster yang dilepaskan di dalam arena agar tidak keluar ke kota. Faktanya, mereka ada di sana untuk membunuh setiap Master yang mencoba menangani kekacauan yang menyelimuti Gideon.

Kelompok itu adalah pion milik Franklin: orang yang dia sebut sebagai “pengkhianat” saat sedang melakukan percakapan telepon dengan sponsornya, perdana menteri Vigoma. Sama seperti namanya, mereka adalah para Master kerajaan yang ingin bergabung dengan kekaisaran.

Alasan mereka sederhana: keuntungan. Saat perang terjadi dan berakhi, terdapat perbedaan besar pada keuntungan yang di dapatkan oleh pemenang dan yang didapatkan oleh pihak yang kalah.

Oleh karenanya, karena situasi di kerajaan menjadi semakin memburuk, ada banyak Master yang pindah ke negara lain. Di antara mereka ada para Master yang ingin pindah setelah melakukan sesuatu yang meninggikan derajat mereka dengan Dryfe, untuk terhindar menjadi pihak yang kalah dan mengambil keuntungan dari pihak yang menang.

Seperti itulah orang-orang yang berkumpul di alun-alun saat ini—sekelompok Master dari Kerajaan yang telah Franklin rayu dengan imbalan yang besar jika mereka pindah ke Dryfe. Dia membuat mereka berpartisipasi dalam rencananya sebagai player killer.

“Heh heh. Sepertinya mereka menyadari kalau bocah level rendah bisa keluar,” kata seorang pengkhianat berpakaian kulit saat dia melihat apa yang sedang terjadi di lobi.

“Oh? Dan aku mulai berpikir kalau aku tidak akan kebagian untuk melakukan apapun,” jawab wanita yang memakai pakaian priest.

“HYAHAAH! Waktunya memancing ikan yang ada di dalam drum!” teriak seorang pria berambut mohawk merah dan memakai kacamata hitam. Meskipun kacamata dan gaya rambutnya terkesan tidak cocok dengan hal itu, tapi keseluruhan penampilannya memastikan bahwa sebenarnya dia adalah seorang mage.

Tiga orang dengan level tertinggi diantara orang-orang yang berkumpul di alun-alun.

Strong Swordman, Ryzac.

Bishop, Myanna.

Pyromancer, Mohawk Red.

Sementara para pengkhianat lain memiliki level disekitaran angka 100, mereka bertiga memiliki level di atas 300. Dan juga, mungkin karena sudah mengenal satu sama lain sejak lama, mereka bertindak seperti pemimpin dari seluruh kelompok.

Namun, mereka jelas bukan pengkhianat terkuat di kerajaan.

Ada dua jenis Master pengkhianat. Jenis pertama adalah mereka yang memiliki kekuatan lumayan besar, sementara yang kedua adalah mereka yang ingin pindah karena cukup lemah. Jenis pertama di tugaskan untuk menangani high-rank player yang mungkin saja bisa meloloskan diri dari arena, sementara yang kedua, ditempat di alun-alun untuk menangani para newbie.

Fakta bahwa ketiganya ada di sini berarti bahwa Franklin tidak menganggap mereka cukup kuat.

“Baik, waktunya melakukan pekerjaan,” kata Ryzac.

Meskipun mereka jelas tidak puas dengan perlakuan itu, mereka masih menganggap diri mereka beruntung. Bagaimanapun, tugas yang diberikan kepada mereka sangatlah mudah. Secara logika bisa dipastikan kalau low-rank job lebih lemah dari high-rank job dan low-rank Embryo lebih lemah dari pada advanced-rank Embryo. Semua orang tau bahwa sebuah pekerjaan dimana orang harus menghadapi orang lain yang lebih lemah sangatlah mudah.

“HYAHAAH! Mereka datang!” Mohawk Red tertawa terbahak-bahak.

Para pengkhianat bisa melihat bahwa para newbie yang ada di lobi telah selesai melakukan persiapan.

Mereka hanya berjumlah dua puluh… Ya, kita menang, pikir Ryzac pada dirinya sendiri sambil menyeringai.

Mereka berada di atas para newbie dalam hal kekuatan individual dan jumlah, membuat pemikirannya tidak mungkin salah.

“Red, sambut mereka dengan sihir AOE kecil,” kata Ryzac.

“HYAHAAH! Waktunya menghancurkan sampah!” jawab Mohawk Red saat dia mempersiapkan sebuah sihir serangan, yang akan siap hanya dalam dua puluh detik. Tak perlu dikatakan kalau sihir itu memiliki kekuatan yang tidak bisa ditahan oleh low-rank job.

Mereka mungkin mendapatkan beberapa buff dari high-rank player yang terjebak di sana, tapi itu tidak akan pernah cukup untuk menaikan tingkat low-rank menjadi high-rank, pikir Ryzac dengan percaya diri. Karena hal itu, apa yang akan terjadi sejak awal tidak bisa disebut sebagai pertempuran dan lebih seperti pembantaian satu sisi. Ryzac sangat yakin dengan hal itu.

Tetapi pemikirannya ternyata salah.

“Apa?” dia mengangkat alisnya. Dia menduga bahwa para newbie akan menyerbu dengan kekuatan penuh. Tetapi, hanya ada salah satu dari mereka yang mengeluarkan tangannya dari barrier…

“Hellish Miasma, kekuatan penuh.”

… dan mengeluarkan asap berwarna ungu gelap dalam jumlah besar.

Sementara barrier mencegahnya masuk ke dalam arena, asap itu menyebar ke seluruh alun-alun, membuat hampir seperempat pengkhianat terjerembab ke tanah.

“Huh? Ap-Apa…?” Ryzac melihat ringkasan statusnya dan menyadari kalau dia terkenal sebuah debuff bernama “Intoxication.”

Dia kemudian melihat ke arah tampilan status milik party-nya dan melihat debuff Intoxication yang sama, bersama dengan dua debuff lainnya: Poison dan Weakness.

“G-Gas yang memberikan tiga debuff?” teriak Ryzac dengan panik. Beruntung baginya, dia memiliki accessories yang membuatnya kebal terhadap Poison dan Weakness, tapi itu bukan hal utama yang harus dipikirkan dalam situasi ini.

“Kenapa seorang low-rank newbie bisa menggunakan item seperti ini?!”

Kebingungannya benar-benar wajar. Bagaimanapun, equipment memiliki batasan level. Skill yang dapat memberikan tiga debuff sekaligus seharusnya hanya dimiliki oleh high-rank job yang berfokus pada kutukan, jadi orang-orang level rendah seharusnya tidak dapat memakai item yang dapat melakukan hal yang sama. Bahkan Ryzac dan rekannya akan kesulitan untuk mendapatkan dan menggunakan item seperti itu.

Namun, ada sebuah pengecualian.

Jika equipment yang dimaksud adalah sebuah MVP special reward, item itu memiliki skill yang didasarkan pada UBM asalnya. Selain itu, MVP dapat memakai dan menggunakan special reward mereka tidak peduli berapa level yang mereka miliki.

“Gheeh…”

“Hei! Minum Elixir kalian!”

“Huh? T-Tapi itu rugi…”

“Dasar goblok! Jika kita bertarung dalam keadaan seperti ini, bahkan low-rank player bisa memberikan death penalty kepada kita!”

Para pengkhianat telah kehilangan momentum mereka. Karena mereka hanyalah sebuah kelompok asal jadi yang ingin melakukan PK, sangat tidak masuk akal untuk mengharapkan kerja sama diantara mereka, tapi perubahan situasi membuatnya menjadi semakin buruk.

Sementara sebagian besar menolak untuk meminum Elixir milik mereka, ada banyak player pemilik monster dan budak yang cukup pelit untuk berbagi dan malah mengembalikan monster dan budaknya ke dalam Jewel. Tentu saja, hal itu mengurangi jumlah mereka.

“Cih…” Ryzac mendecakkan lidahnya.

Memiliki lebih banyak pengalaman bermain Infinite Dendrogram, tiga orang degan level tertinggi itu tidak ragu untuk meminum Elixir dan menghilangkan debuff yang mengenai mereka.

Mereka benar-benar memberi kami pukulan dengan hal ini, pikirnya. Kurasa mereka mendapatkan Elixir dari para high-rank player yang ada di sana. Mereka berencana untuk memanfaatkan buff yang mereka dapat dan menangani kami saat kami sedang menerima debuff!

Tapi Ryzac tidak berniat untuk membiarkan hal itu terjadi. Berbalik ke arah Mohawk Red, dia melihat sebuah bola api besar yang tampak sudah siap dilepaskan mengambang di atas kepalanya.

Baiklah! Itu akan menghancurkan mereka tepat pada saat mereka keluar! Pikir Ryzac saat dia merasa ada sesuatu yang bergerak di balik tabir asap—dari arah pintu masuk arena.

Dia segera menyadari kalau ada banyak orang sedang meninggalkan barrier.

Ryzac segera mempersiapkan dirinya untuk menghadapi para newbie sebelum dia menyadari kalau di sana juga ada sesuatu yang berada di luar dugaannya.

Tunggu… Ada sesuatu yang besar!

Dan kemudian, menerobos tabir asap berwarna ungu gelap, muncul seekor naga yang mirip dengan sebuah tank. Seekor Tri-Horn Demi-Dragon, lebih tepatnya.

Itu adalah monster kelas Demi-Dragon yang hanya memiliki sedikit skill unik, tapi dilengkapi dengan stats yang cukup besar. Ryzac pernah mengalahkan mereka sebelumnya, tapi yang jadi masalah di sini bukanlah hal itu, tapi pertanyaan…

“Kenapa seorang low-rank memiliki monster seperti itu?!”

Kehadiran makhluk seperti itu benar-benar berada di luar dugaan.

Saat Ryzac mempertimbangkan kalau mungkin saja ada seorang high-rank yang meminjamkannya kepada para newbie…

“MHOOOOO!”

…. Tri-Horn Demi-Dragon, yang menerima buff dan penguatan dari para Master yang ada di dalam, berlari ke depan dengan sekuat tenaga. Di hadapannya terdapat para Master pengkhianat yang masih belum menyembuhkan diri mereka dari debuff.

“Red!” teriak Ryzac.

“Crimson Sph—“ mengikuti perintah rekannya, Mohawk Red bersiap meluncurkan Crimson Sphere yang sudah siap, sihir ultimate milik Pyromancer, ke arah Demi-Dragon itu. Namun…

“Silence.” Suara jernih itu terdengar dari atas Demi-Dragon, dan diikuti oleh suara seseorang yang sedang menjentikkan jarinya.

Setelah suara itu bergema, Crimson Sphere milik Mohawk Red, yang sudah siap beberapa saat lalu dan telah dimaksudkan untuk mengakhiri Demi-Dragon itu, menghilang seperti kabut yang diterpa angin. Lalu, dengan sedikit perlawanan, Demi-Dragon itu menginjak-injak para Master yang menjadi terlalu lemah untuk menghindari karena debuff Intoxicationn dan Weakness.

“Red! Apa-apaan itu?!” seru Ryzac.

“Bukan aku! Seseorang baru saja telah membatalkan sihirku…!”

Setelah menghancurkan para Master yang sudah melemah, Demi-Dragon itu terus mengamuk di tengah kelompok mereka. Dan bukan hanya itu—seekor Avian kelas Demi-Dragon juga muncul dan bergabung dengan Tri-Horn untuk membuat kekacauan. Saat kekacauan dan kebingungan diantara para pengkhianat menjadi semakin besar, para newbie akhirnya menerobos tabir asap dan menyerang mereka.

Aku salah memperhitungkan kekuatan mereka dan membiarkan mereka mengambil inisiatif, tapi kami masih lebih kuat, dan jumlah kami lebih banyak! Pikir Ryzac, dan pikirannya memang benar.

Meskipun mereka memakai item tak terduga dan memiliki monster yang biasanya hanya dimiliki oleh high-rank job, perbedaan kekuatan mereka terlalu jelas. Saat dibandingkan, para pengkhianat memiliki kekuatan jauh melebihi dua kali atau tiga kali lipat. Dengan perbedaan sebesar itu, tidak diragukan lagi bahwa mereka akan meraih kemenangan, dan Ryzac benar-benar layak berpikir demikian.

“Para low-rank Master sudah sampai!”

“Hajar mereka!”

Seorang wanita dan pria diantara para pengkhianat mengacungkan senjata mereka untuk bersiap menyerang para newbie yang mendekat…

“Eh?”

“Ah?”

… tapi bukannya menyerang mereka, keduanya malah menyerang titik vital satu sama lain.

Kapak pria itu menancap di bahu sang wanita, sementara anak panah wanita itu menembus leher pria itu.

Dan dengan begitu, benar-benar tidak memahami apa yang terjadi, mereka berdua jatuh berlutut dan dikalahkan oleh para newbie tak lama kemudian.

“Apa-apaan itu… Huh?!” Ryzac menemukan jawaban dari pertanyaannya bahkan sebelum dia selesai berbicara.

Status display milik party-nya menunjukkan bahwa mereka menerima debuff “Charm.”

Charm adalah debuff yang membuat mereka membantu musuhnya dan membunuh rekannya, dan menjadikannya sebagai mental status effect terburuk yang pernah ada. Dan, karena yang dipengaruhinya adalah mental, bukannya tubuh, bahkan Elixir tidak dapat menyembuhkannya.

Kedua orang yang pada dasarnya saling bunuh satu sama lain dan anggota party Ryzac bukanlah satu-satunya yang menerima debuff Charm: Master lainnya, monster mereka, budak mereka… Charm itu terus menyebar secara perlahan sampai lebih dari setengah pengkhianat tengah bertarung untuk sisi musuh.

Memang, sulit untuk bertarung melawan high-rank saat kau sendiri masih low-rank. Meraih kemenangan saat sisimu lebih lemah dalam hal kualitas dan kuantitas adalah hal yang sangat sulit. Jadi seseorang memang harus meminjam kekuatan lain.

Kekuatan dari mana? Tentu saja, dari sisi lawan.

“Charm. CHARM?! Ini mustahil!” teriak Ryzac.

Reaksinya adalah hal yang wajar. Dia dan orang-orangnya memiliki high-rank job dan memakai item yang layak. Tentu saja, diantara item-item itu terdapat accessories yang menangkal efek debuff. Contohnya, meskipun tidak meminum Elixir, Ryzac tidak terpengaruh oleh Poison dan Weakness.

Namun, jumlah status effect yang ada di Infinite Dendrogram sangat banyak, dan sangat tidak mungkin mempersiapkan item untuk menangkal mereka semua.

Saat melakukan pemilihan equipment dalam persiapan untuk menghadapi pertempuran ini, salah satu status effect yang pertama kali tidak masuk hitungan adalah Charm. Bagaimanapun, skill yang bisa memberikan Charm hanya bisa dipelajari oleh job berorientasi non-petarung, seperti Pimp dan Harlot.

Para high-rank kadang-kadang mengambil Pimp untuk mendapatkan skill ini atau Female Monster Strengthening untuk sinerginya dengan Tamer’s Monster Strengthening. Namun, tidak ada satupun pengkhianat yang menduga akan bertemu dengan seorang player yang akan mengambil job itu sebelum total levelnya mencapai 50—sebagai salah satu job pertama mereka.

“Huuhh?! Charm ini menyebar terlalu cepat! Ada lebih dari satu?!”

“Kau kira aku tau!”

Hal tak terduga lainnya adalah kehadiran sebuah Embryo yang bisa memberikan Charm, sama seperti Pimp.

Biasanya, monster yang dapat menggunakan Charm itu sangat kuat, sulit dijinakkan, dan mahal, membuatnya sangat tidak mungkin dimiliki oleh seorang low-rank job. Namun, hal seperti itu tidak berlaku bagi seorang Master yang memiliki seekor Succubus sebagai Embryo-nya.

Memanfaatkan celah yang disebabkan oleh kekacauan yang ada, dia memberikan debuff Charm kepada para pria, satu per satu.

“MYANNAAA! Cepat gunakan sihirmu! Hilangkan debuff Charm ini, sialan!” Ryzac memanggil Myanna, teman Bishop berlevel tingginya. Dia percaya kalau skill sihir penyembuhnya mungkin bisa menghilangkan semua debuff Charm di sisi mereka.

Namun, tidak ada seorangpun yang menjawab panggilannya.

“Hei, apa-apaan itu?! Kau sudah mati atau apa?! Myanna!” dia kembali memanggilnya dan tetap saja tidak ada jawaban.

Karena ketiganya bertindak sebagai ketua dari party low-rank Master yang terpisah, Ryzac tidak bisa mengetahui apa yang terjadi pada Myanna. Namun, fakta bahwa dia tidak menjawab sudah cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa Myanna telah mati dalam kekacauan ini.

Kenapa…? Kenapa?! Kami seharusnya memenangkan ini, sialan!

Meskipun mereka memiliki keuntungan absolut, tetapi hal itu tetap membuat Ryzac kesulitan. Tapi, pengalamannya sebagai seorang player masih memungkinkannya dengan mudah menebas para Master newbie yang menyerbu ke arahnya.

Ya. Kami masih belum kalah! Pikirnya. Masih ada aku dan Red!

Mendapatkan kembali ketenangannya, Ryzac terus mengayunkan pedangnya.

Mohawk Red kembali selesai mempersiapkan Crimson Sphere. “HYAHAAH! KALI INI KALIAN AKAN MEMAKANNYA! Crimson Sphere!” teriaknya, dan tidak ada seorangpun yang menghentikannya kali ini.

Sihir terkuat milik Mohawk Red meluncur ke arah seorang Master—pemakai bracer yang menutupi alun-alun dengan miasma. Red bertujuan untuk membakarnya dan sekaligus melakukan balas dendam.

Newbie itu tidak menyadarinya, dan Crimson Sphere mendarat tepat kepadanya.

“HYAHAAH! MAKAN ITU!”

Master pemakai bracer itu tertelan api dan berubah menjadi partikel cahaya bahkan sebelum meninggalkan abu sedikitpun…

… atau begitulah yang Red pikirkan, tapi kemudian Master itu melompat keluar dari api dan berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh.

“Hyah?” Red mengeluarkan suara aneh, dan benar-benar tercengang.

Lalu, tepat setelah Dragonscale Ward yang telah hancur terjatuh dari saku Master newbie itu…

“Vengeance is Mine!”

… dia menyerang Mohawk Red—seorang Master dengan level di atas 250—dan memusnahkannya dalam sekejap.

“R-REEEEED!” teriak Ryzac, dan bukan tanpa alasan, karena apa yang dia liat adalah hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Sama seperti dirinya, Mohawk Red adalah Master berlevel tinggi, khususnya jika dibandingkan dengan orang-orang yang ada di alun-alun, tetapi dia dikalahkan dengan satu serangan oleh newbie yang jauh lebih lemah darinya.

“Ke-Kenapa ini bisa terjadi?!” teriak Ryzac.

Dia masih memegang dan mengayunkan pedangnya, tetapi pikirannya sedang panik, membuatnya tanpa sadar menyuarakan pikirannya.

“Kami semua adalah high-rank player… Stats dan bentuk Embryo kami lebih tinggi dari mereka… Jadi kenapa… Kenapa kami dibuat kewalahan… Ini sama sekali tidak masuk akal…”

Pada saat itu, jumlah pasukan di sisinya telah berkurang lebih dari separuh. Sekitar 40% dari mereka yang masih bertahan terkena debuff Charm. Dan dengan hilangnya Mohawk Red dan Myanna—player terkuat di antara mereka—bisa disimpulkan bahwa para pengkhianat sudah kalah.

“… M-Masih belum! Aku masih belum kalah!” teriak Ryzac.

Setelah menyemangati dirinya dengan paksa, Strong Swrodman berlevel tinggi itu menebas musuh yang ada di depannya.

Aku mencoba pindah ke Dryfe agar aku bisa menang, pikirnya. Kalah di sini adalah kebalikan dari apa yang kuinginkan.

Dengan putus asa dia mengalahkan setiap musuh yang berpapasan dengannya. Dia tidak bisa lagi membedakan apakah mereka adalah para newbie atau mantan sekutu yang terkena debuff Charm—dia menyerang semua orang yang datang ke arahnya sebagai musuh.

“Hh…!” Pada saat itulah dia berpapasan dengan seseorang yang cukup kuat. Orang itu memakai armor penuh berwarna perak—tidak, hasil dari skill Reveal-nya mengatakan kalau itu adalah seekor monster bernama “Mithril Arms Slime.”

Dia memakai seekor metal slime sebagai armor? Tapi… tampak agak tangguh…! Pikir Ryzac saat dia mempererat pegangannya pada pedangnya, sebuah Embryo Type Arms.

“All-Slashing Blade—Durandal!” raungnya, menyatakan kalau dia menggunakan skill ultimate milik high-rank Embryo-nya.

Skill ultimate milik Durandal berbeda dengan Hræsvelgr dan Poseidon, yang juga merupakan high-rank Embryo. Jika mereka adalah jenis skill yang melepaskan satu serangan kuat, skill ultimate milik Durandal adalah penguatan.

Selama satu menit setelah aktivasi, Durandal menjadi bisa memotong segalanya. Tidak peduli seberapa kerasnya Mithril Arms Slime itu, saat diperkuat dengan kekuatan itu, pedang milik Ryzac bisa dengan mudah memotongnya dan membunuh Master yang ada di dalamnya.

“Ayo lakukan ini!” teriaknya sambil berlari ke arah Master itu, yang kemudian di tanggapi oleh Mithril Slime itu dengan tebasan dari pedang mirip tentakelnya.

Meskipun kecepatannya sama—atau melebihi—penyerang kelas tinggi, tidak sulit bagi Ryzac untuk melihatnya, karena dia menjadi lebih kuat dan cepat karena efek dari skill ultimate-nya. Dia mengayunkan Durandal dua kali—dengan sangat santai—memotong tentakel itu sebelum kembali berlari sampai cukup dekat untuk bisa menebas musuhnya. Lalu Ryzac melepaskan sebuah tebasan horizontal dengan tujuan untuk membelah musuh tepat di perutnya.

“Kau selesai.”

Karena ketajaman besar milik Durandal, dia sama sekali tidak merasakan hambatan selama prosesnya. Namun, sudah jelas bahwa tebasannya dengan mudah menembus pertahanan Mithril Arms Slime dan membelah orang yang ada di dalamnya menjadi dua. Bagian atas dan bawah tubuh Master itu jatuh ke tanah lengkap dengan slime yang juga terbelah dua. Meski begitu, bagian atas Mithril Arms Slime bergerak untuk menghentikan darah yang mengalir dari luka tebasan itu.

Itu percuma. Dia sama saja sudah mat— Huh…? Untuk menghentikan darah yang mengalir, Slime itu memusatkan sebagian besar volumenya pada daerah luka, menyebabkan bagian tubuh lain milik Master itu mejadi terbuka.

Bagian tubuh itu termasuk wajah sang Master.

Setelah melihat hal itu, Ryzac kehabisan kata-kata, karena itu adalah wajah temannya, Myanna sang Bishop.

Mithril Arms Slime itu telah mengikatnya agar dia sama sekali tak bisa bergerak dan menjejali mulutnya sehingga dia tidak bisa berbicara.

Kenyataan bahwa dia baru saja membelah temannya sendiri membuat pikiran Ryzac menjadi kosong.

Memanfaatkan keadaannya yang kacau, Mithril Arms Slime itu segera mengubah separuh dari dirinya menjadi tombak dan menusuk kepala Ryzac.

“Gh?” Tentu saja, damage yang diterima sangat parah, membuat HP miliknya langsung turun menjadi 0. Meskipun dia samar-samar masih tersadar selama periode pembangkitan, kerusakan pada organnya sangat parah, memastikan kalau dia tidak akan bertahan lebih lama lagi.

“Buat mereka panik dan menunjukkan celah mereka. Incar critical hit dan mereka akan mati dalam sekejap.” Sebelum mendapat death penalty, Ryzac melihat Myanna terbebas dari ikatan Mithril Arms Slime dan secara perlahan berubah menjadi partikel cahaya saat Slime itu, dengan tugasnya yang sudah selesai, bergerak secara perlahan menuju seorang lelaki.

Sama indahnya dengan peri musim dingin, dia berbicara dengan Mithril Arms Slime itu dengan suara jernih yang sama dengan yang Ryzac dengar di awal pertempuran.

“Jangan sia-siakan sebuah kesempatan, dan kau dapat membunuh mereka yang lebih kuat darimu,” kata lelaki itu. “Ini sama seperti yang kita pelajari dalam latih tanding. Kecuali kali ini, kita berhasil, Liz.”

Meskipun tak diragukan lagi memiliki wajah yang menawan, Ryzac merasa senyum yang muncul di wajah lelaki itu sangat menakutkan.

Aahh… Sialan… pikirnya saat dia menghilang. Jika aku tau kami memiliki para newbie seperti ini… Aku tidak akan melakukan hal bodoh ini…

Dipenuhi dengan penyesalan, Ryzac mendapatkan death penalty.

*

Sesaat setelah mereka kehilangan pemimpin dan tiga orang terkuat di sisi mereka, sisa para pengkhianat yang berkumpul di alun-alun pusat dengan cepat dimusnahkan.

Lalu, setelah melewati rintangan itu, para newbie menyebar untuk membantu pertarungan melawan monster-monster yang mengamuk di kota atau mencari Franklin.

Meskipun pertarungan itu hanyalah awal bagi mereka, itu seharusnya adalah sesuatu yang tidak bisa mereka menangkan. Saat para pengkhianat dihadapkan pada banyak hal tak terduga, pada akhirnya, semua itu dapat di arahkan pada keberadaan dua entitas luar biasa—Ray dan Rook.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

One Comment Add yours

  1. alone698 says:

    wihh, ray pejuang tangguh rook si jenuis strategi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s