Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 2 A

Volume 4
Chapter 2 – Para Newbie yang Tak Biasa (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Lobi arena pusat, sepuluh menit sebelum para newbie pergi ke medan pertempuran.

Di arena pusat, para Master veteran sedang berkumpul dan mempersiapkan para newbie yang akan meninggalkan barrier dan pergi ke medan pertempuran. Di saat bersamaan, mereka menggunakan Embryo dan skill mereka untuk mengumpulkan informasi terkait pasukan yang akan mereka hadapi.

Rook, yang juga akan pergi ke medan pertempuran, melakukan persiapannya sendiri.

“Jadi, kita akan bertempur dengan player lain…” Gumamnya.

“Yap,” kata Baby.

Pertempuran yang akan dia hadapi bukan seperti pertarungan di bawah perlindungan barrier arena.

Kesalahan akan berarti mendapatkan death penalty dan keluar dari pasukan yang berjuang melawan kekacauan yang ada di kota.

Jika hal itu terjadi, Rook tidak akan bisa menolong Ray, yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dia toleransi.

“Setidaknya kita memiliki sedikit pengalaman dalam hal ini,” gumamnya.

Bertarung melawan player killer yang ada di luar arena bukanlah pengalaman pertama Rook melakukan PVP. Dia cukup beruntung telah melakukan latih tanding tepat sebelum insiden ini dimulai.

Menutup matanya, Rook mengingat kembali bagaimana hal itu terjadi.

***

Hal itu terjadi di siang hari, pada hari yang sama saat Rook menyadari identitas Marie yang sebenarnya.

“’Superior Killer’ yang selalu Ray bicarakan itu… adalah kau, bukan?” dia berbisik ke telinga Marie tepat setelah mereka dan Ray berpisah.

“B-Bagaimana kau bisa tau…?! M-Maksudku, tidak tidak tidak! Itu bukan aku!” dia gelagapan, kebingungan yang ada pada suaranya juga terlalu tampak. Biasanya, dia bisa menyembunyikannya dengan cukup baik, tapi faktor keterkejutan telah membuatnya membocorkan kalimat yang setara dengan “Ya, itu benar,” dan membuat Rook menjadi sangat yakin dengan dugaannya.

Insert1

“O-Oh, ayolah, t-tidak mungkin aku adalah pria yang disebut sebagai Superior Killer.” Marie masih mencoba menyangkalnya.

“Lalu izinkan aku memberikan bukti yang sudah kukumpulkan kepadamu,” kata Rook.

“Eh?”

Lalu, dia mulai mengatakan alasan kenapa yang bisa sampai pada kesimpulan itu.

Pertama: meskipun umur dan jenis kelamin Superior Killer masih misterius, Marie sering menyebutnya sebagai seorang pria. Bagi Rook, itu terlihat seperti niat untuk memberikan entitas itu gambaran yang berbeda dengan dirinya sendiri.

Kedua: sikapnya saat membicarakan pendapatnya tentang Superior Killer kepada Ray cenderung berbeda dari biasanya.

Ketiga: selama pertarungan dengan Gardranda, Rook berada jauh di atas tanah, tapi tetap saja tidak bisa melihat apa yang terjadi di bawah karena tertutupi miasma tebal. Tapi Marie, yang juga berada di luar arena itu, telah mengatakan dengan yakin bahwa “Superior Killer menembak bahu Gardranda.”

Keempat: meskipun Marie telah bermain selama setahun dalam waktu dunia nyata, yang sama dengan tiga tahun di sini, dia memiliki total level yang lebih rendah dari para newbie seperti Rook dan Ray, yang membuatnya percaya bahwa dia menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya.

Kelima: terdapat sebuah komik dengan protagonis seorang wartawan/pembunuh profesional yang memiliki banyak kemiripan dengan Marie, dan dari apa yang telah dia baca dari manga itu, bahkan perilaku mereka juga sama.

Pada saat itulah Marie mengangkat tangannya, terlihat benar-benar kalah.

“Heh. Heh heh heh,” dia terkekeh mengejek dirinya sendiri. “Aku menyerah. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menyadarinya sebelum aku mengatakannya sendiri.”

“Kau sebenarnya tidak terlalu hebat dalam menyembunyikan identitasmu, jadi aku sangat yakin kalau bukan hanya aku yang berhasil memecahkan hal itu,” kata Rook.

“Ghh!” wajah Marie mengerut kesakitan. Dia yakin bahwa dia telah melakukan kerja bagus dalam menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya, jadi perkataan Rook memberikan banyak luka mental kepadanya.

“Dan juga, kau menggunakan sebuah avatar yang memiliki nama dan penampilan dari karakter manga yang merupakan seorang wartawan dan pembunuh profesional, jadi itu sudah sangat jelas bagi siapa saja yang telah membaca karya itu,” tambah Rook.

“Aku benar-benar sadar dengan hal itu, tapi ini adalah bagian dari identitasku,” jawab Marie. Marie membuat karakter Infinite Dendrogram-nya berdasarkan Marie dari manga yang dia gambar, jadi sudah wajar baginya untuk menjadi “Marie Adler” yang bertindak sebagai seorang Journalist dan pembunuh profesional.

“Pokoknya, sekarang kami mengetahui identitasmu,” kata Rook. “Namun, sepertinya Ray dan Nemesis masih belum menyadarinya.”

“Aku mugkin merasa lebih baik mati jika mereka mengetahuinya,” kata Marie.

“Kaulah yang memberikan satu-satunya death penalty yang mereka alami, kan? Biasanya, aku memiliki satu atau dua kata tentang hal itu, tapi sepertinya saat ini kau tidak memiliki niat jahat terhadap mereka , jadi aku akan diam tentang hal itu.”

“Terima kasih.”

“Selain itu, bisakah aku mengajukan sebuah permintaan kecil?”

Marie tidak mengatakan apapun saat dia merenungkan fakta bahwa alur percakapan ini membuat pertanyaannya terlihat mirip seperti pemerasan.

Mungkin sebenarnya Rook memiliki sisi sadis pada dirinya, pikirnya.

“Sebuah permintaan katamu?” gumamnya. “A-Apakah kau hendak membuatku melakukan hal-hal tak senonoh dan—“

“Hal seperti itu sama sekali tidak akan membuatku tertarik.”

“Oi, bocah… kau tidak perlu menusukku begitu dalam… Tapi kalau begitu, apa yang kau inginkan dariku?”

“Aku ingin agar kau melakukan latih tanding denganku.”

“Latih tanding?” tanya Marie.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin belajar lebih banyak tentang pertarungan melawan orang lain. Dan aku berpikir bahwa menghadapi seorang player killer kuat sepertimu akan menjadi sebuah awal yang baik.”

“Baiklah, aku tidak benar-benar keberatan, tapi kenapa kau tertarik dengan pertarungan seperti itu?” tanya Marie.

“Itu rahasia,” Rook menjawab sambil menunjukkan senyum di wajahnya.

Ekspresinya benar-benar cantik sampai-sampai terlihat seperti malaikat, tapi setelah dia mempertimbangkan percakapan sejauh ini, Marie merasa kalau itu sedikit menakutkan.

Dan dengan begitu, mereka berdua pergi ke arena ke-enam, yang terletak di distrik ke-enam duel city. Meskipun tempat seperti itu biasanya ramai dengan berbagai event dan pertandingan, seluruh arena biasa hampir benar-benar kosong saat ini.

Selama masa-masa sepi seperti itu, kau bisa menyewa arena untuk melakukan latih tanding dalam perlindungan barrier. Tidak seperti pertarungan biasa, kau juga bisa membuat menjadi buram, dan Marie benar-benar bersyukur bahwa dia tidak harus bertarung sambil memikirkan setiap penonton yang ada.

“Levelmu masih berada di bawah 51, kan, Rook?” tanya Marie.

“Ya, aku level 48,” jawabnya.

“Kalau begitu jangan pergi mendekati barrier. Kau akan menembus melewatinya.”

Sistem barrier mengizinkan mereka yang memiliki level 51 ke bawah untuk melewatinya dengan aman. Meskipun para player tersebut menerima efek pemulihan dari barrier, tetapi mereka tidak terjebak di dalamnya. Itulah alasan kenapa mereka tidak bisa berpartisipasi dalam pertarungan arena resmi.

“Persiapan sudah selesai,” kata Marie saat dia mengatur blok yang mereka sewa menjadi mode buram.

Dengan Baby di sampingnya dan Liz yang mengambil bentuk sebagai equipment-nya, Rook memanggil Marilyn dan Audrey, membuatnya benar-benar siap untuk bertarung.

“Kita memiliki rencana sore nanti, jadi mari tidak lakukan lebih dari sepuluh pertarungan,” tambah Marie. “Dan juga, kita memang sedang latih tanding, tapi perbedaan kekuatan kita masih menjadi sebuah masalah, jadi aku tidak akan menggunakan special rewardku.”

Menurutnya, bertarung sambil menggunakan special reward seperti Palsy Stingblade akan membuat Rook kalah dalam kesepuluh pertarungannya tanpa sempat mempelajari apapun. Marie tetap akan menggunakan Embryo-nya, tapi sebisa mungkin dia tidak akan menggunakan skill ultimate karena alasan yang sama.

“Dibandingkan kebanyakan, Embryo milikku tidak terlalu rumit, jadi aku yakin ini cocok untuk latihan seperti itu,” kata Marie. “Apakah kau siap?”

“Ya!” jawab Rook dengan bersemangat.

“Kalau begitu ayo kita mulai… Arc-en-Ciel.” Marie memanggil Embryo berbentuk pistol revolver di tangan kirinya, dan memegang belati hitam di tangan kanannya. Embryo itu adalah Arc-en-Ciel, Type Legion, sementara belati itu bernama Night Pain.

Menanggapi Marie yang mempersiapkan senjatanya, Rook mengirim Marilyn dan Audrey setelahnya sementara Baby dengan waspada mengawasi Marie untuk mencari kesempatan menggunakan sebuah skill. Rook sendiri berdiri di belakang, dilindungi oleh Liz, dan menggunakan skill Charm.

Itu adalah gaya bertarung yang sudah sering mereka gunakan selama perburuan yang mereka lakukan setelah Liz bergabung.

Dia dengan jelas berencana untuk tidak menggunakan trik dan langsung habis-habisan di pertarungan pertama.

“Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan menggunakan satupun trik,” kata Marie saat dia mengayunkan tangan kirinya, membuat revolver yang dia pegang melepaskan tempat pelurunya.

Tindakan itu membuat Rook kebingungan. Dan bukan tanpa alasan, karena Marie telah mengosongkan pistol yang belum menembakkan satu peluru pun. Namun, meskipun itu memiliki bentuk sebuah revolver, Arc-en-Ciel merupakan sebuah Embryo, dan apa yang ditembakkan nya bukanlah sebuah peluru.

“Black Homing, Red Burst, Blue Spread.” Perkataan Marie membuat tiga jenis peluru—tidak, selongsong transparan berisi cat—masuk ke dalam tempat peluru yang ada pada Embryo-nya. Sekali lagi, dia kembali mengayunkan tangannya untuk mengubah Embryo-nya menjadi bentuk pistol…

“Tembak.”

… dan menekan pelatuknya.

“GYAGYAGYAGYAGYAH!”

Sesaat kemudian, puluhan makhluk peluru keluar dari moncong Arc-en-Ciel. Mereka keluar dari lintasan normal, dan bergerak untuk menyerbu Audrey. Dia terbang meninggi untuk berusaha menghindari mereka, tapi semua makhluk itu mengikutinya.

Terdapat sedikit perbedaan antara kecepatan Audrey dan makhluk itu…

“KIEEEE?!”
… jadi, sesaat setelah dia mencapai puncak barrier, makhluk-makhluk itu berhasil mengejarnya dan meledak setelah mengenainya.

Hancur berantakan, mayat Audrey berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.

“VRAAAAAGH!”

Tepat setelah serangan itu, Marilyn mengarahkan tanduknya ke arah Marie dan berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga. Di dunia nyata, itu akan sepadan dengan truk seberat 10 ton yang melaju dengan kecepatan penuh…

“Terlalu lambat.”

… tapi bagi Marie—dimana AGI yang tinggi membuatnya bisa menembus kecepatan suara—Marilyn hampir sama seperti tidak bergerak.

Dia menghindari tanduk itu tepat sebelum mengenainya dan kembali mengosongkan revolver-nya sebelum diam-diam mengisinya dengan dua buah tipe: Red Burst dan Green Piercing. Lalu—perlahan dari sudut pandangnya dan sangat cepat dari sudut pandang Marilyn—Marie meletakkan moncong pistolnya pada sisik Marilyn dan menembaknya.

Makhluk peluru yang diperkuat dengan kemampuan penetrasi itu menembus material keras itu dengan mudah sebelum meledak di dalam tubuh Marilyn, yang dengan cepat membunuhnya dan mengubahnya menjadi partikel cahaya.

Selanjutnya, Baby, pikir Marie sambil melihat sekeliling, tapi dia tidak dapat melihat succubus itu dimana pun. Sesaat kemudian, bahkan tanpa berbalik, Marie mengayunkan Night Pain miliknya ke belakang.

“… Ah.”

Tindakan itu menyebabkan ruang yang dia tebas mengeluarkan semburan darah sebelum berubah menjadi Baby, yang jelas berada di ujung kematian.

Karena dia mampu menggunakan Drain Learning untuk menyerap skill dari monster lain, Baby mendapatkan skill Optic Camouflage dari Lesser Chameleon Basilisk, seekor makhluk yang menghuni sebuah area hutan di dekat Nex Plain. Namun, kemampuan persembunyian milik skill itu tidak ada artinya bagi Death Shadow—job yang ahli dalam bersembunyi.

Baby menghilang, hanya menyisakan Rook dan Liz, yang masih bertindak sebagai equipment-nya.

Dengan tipe peluru Arc-en-Ciel yang masih di atur dengan “ketajaman dan ledakan,” Marie menembak ke arahnya.

Marie berniat mengakhiri pertarungan dengan satu tembakan itu, tapi secara tak terduga, makhluk peluru itu mengubah lintasannya menjauh dari Rook dan meledak setelah menghantam barrier.

Setelah mengamatinya, Marie menyadari bahwa salah satu bagian dari mantelnya tampak melengkung.

Rook telah menyadari kemampuan penetrasi milik peluru itu, dan bukannya menghentikannya, dia memilih untuk mengubah jalurnya.

“Begitu,” kata Marie, kagum karena bocah itu bisa menyadari sebanyak itu hanya dengan sebuah tembakan.

Dia sepertinya juga mengetahui bahwa aku perlu melakukan gerakan pengosongan untuk mengubah jenis peluru, pikirnya. Kemampuan pengamatan yang Rook miliki membuat keringat dingin mengalir di punggung Marie.

“Kau tidak akan bisa bertahan dari ini, sih,” kata Marie saat dia mengosongkan Arc-en-Ciel, mengisinya hanya dengan Green Piercing, dan sekali lagi menembakkannya.

Makhluk peluru penembus yang keluar dari moncong itu memiliki kekuatan penetrasi yang jauh lebih besar dari pada peluru yang dicampur dengan jenis ledakan, memungkinkan mereka untuk dengan mudah mengatasi pertahanan lengkung itu, menembus Rook, dan membunuhnya.

Ciri utama dari Arc-en-Ciel milik Marie adalah pembuatan dan penembakan makhluk peluru. Kualitas dari makhluk peluru yang ditembakkan bergantung pada cat yang digunakan. Terdapat enam jenis cat, dan yang dia gunakan dalam pertarungan ini adalah hitam untuk pengejaran, merah untuk ledakan, biru untuk penyebaran, dan hijau untuk penetrasi. Selain keempat jenis itu, ada juga putih untuk pelumpuh dan silver untuk kecepatan.

Mengisi enam ruang peluru dengan berbagai cat akan memberikan lebih banyak kemampuan kepada makhluk peluru, tapi menurunkan potensi masing-masing kemampuan. Hal itu menjadikan Arc-en-Ciel sebagai Embryo yang harus digunakan secara berbeda tergantung situasinya.

“Dan itulah cara kerjanya.” Marie mengakhiri penjelasannya.

“Dan bagaimana bisa kau menyebutnya ‘tidak rumit’?” tanya Rook. Di akhir pertarungan pertama, dia telah ditembak mati, Baby telah menghilang, dan Marilyn serta Audrey telah meledak, tapi sekarang mereka berdiri di sana—semuanya sehat dan baik-baik saja, karena para monster juga dilindungi oleh barrier.

“Hei, aku bilang ‘dibandingkan kebanyakan,’ dan aku tidak salah dengan hal itu,” jawab Marie. “Sampai bentuk ke-enam ini, Arc-en-Ciel tergolong sangat simple. Pada saat mereka mendapatkan skill ultimate mereka, Embryo bisa menjadi sedikit… kreatif. Contohnya, ada sebuah Embryo yang ‘mengubah orang-orang yang berada dalam batas tertentu menjadi bayi.’ Lalu ada yang ‘Secara paksa melepas equipment seseorang dan membuat mereka telanjang’ dan ada juga yang ‘Mengubah seseorang menjadi makhluk yang mereka benci.’ Punyaku cukup sederhana jika dibandingkan dengan itu, kan? Ngomong-ngomong, yang baru saja kusebutkan itu adalah Embryo milik para Superior dari Legendaria.

Para Master sering mendeskripsikan Legendaria sebagai “Negeri Orang-Orang Mesum,” dan orang-orang terkuat mereka benar-benar hidup sesuai dengan reputasinya.

Setelah itu, Rook dan Marie melakukan delapan pertarungan lagi, yang semuanya dimenangkan oleh Marie.

Pertarungan kedua dan ketiga pada dasarnya adalah reka ulang dari pertandingan pertama. Di pertarungan keempat, pergerakan dan tindakan Rook menjadi lebih baik, jadi Marie mulai menggunakan Shadow Clone Technique. Di pertarungan kelima, Rook berhasil menangani hal itu, jadi Marie juga menggunakan skill Art of Hiding.

Setelah itu, pertarungan menjadi pertunjukkan satu sisi dari Marie yang mengkombinasikan skill Embryo dan Job-nya untuk mengalahkan Rook.

Di paruh kedua, Marie menempatkan lebih banyak usaha pada pertarungan mereka dibandingkan pertarungan melawan para assassin, Reaper’s Pinky, yang dikirim untuk membunuh Elizabeth kemarin.

Dengan Marie yang merupakan pemilik Superior Job dan Embryo yang berada dalam bentuk keenam, perbedaan kekuatannya dengan Rook sangatlah besar.

Death Shadow yang merupakan job dari onmitsu grouping memiliki resistensi yang besar terhadap debuff, belum lagi dia memakai equipment yang semakin meningkatkan resistensi itu, membuat Charm milik Rook sama sekali tak berguna dan membuatnya hampir tidak memiliki kesempatan untuk menang. Namun, ada satu hal yang benar-benar membuat kagum dirinya—khususnya, Baby.

Optic Camouflage bukanlah satu-satunya skill yang dia dapat dari Drain Learning. Dia juga memiliki skill seperti Monstrous Strength, Petrifying Breath, dan bahkan peningkatan resistensi terhadap racun dan api.

Hal itu tentu saja memperluas pilihan taktik yang dimiliki Rook, tapi sayangnya, hal itu tidak cukup baginya untuk mendaratkan satu serangan pada Marie.

Ini membuatku bertanya-tanya apakah dia benar-benar mempelajari sesuatu, pikir Marie.

Karena dia sudah melakukan banyak pertarungan PVP, pertarungan ini tentunya bukanlah pertama kalinya dia menemui dan menang melawan taktik yang dimaksudkan untuk membunuhnya. Pada saat dia diserang oleh yang kemungkinan besar adalah King of Destruction bukanlah pengecualian, karena dia berhasil lolos dari pembantaian itu. Semua itu menegaskan bahwa taktik abal-abal tidak akan mempan pada Marie.

Bertarung melawan seseorang yang lebih atau setidaknya setara denganmu selalu membuatmu mempelajari sesuatu yang baru, pikirnya. Namun, saat bertarung melawan orang yang terlalu jauh lebih kuat darimu, itu semua tergantung dirimu—apakah kau tidak akan mendapatkan apapun atau kau mendapatkan banyak hal. Aku penasaran Rook masuk ke sisi yang mana…

Kekhawatiran seperti itu melintasi pikiran Marie saat mereka bersiap melakukan pertarungan kesepuluh dan terakhir mereka.

“Ini akan menjadi pertarungan terakhir kita, kan?” tanya Rook.

“Ya,” angguk Marie. “Apa kau sudah siap?”

“… Satu menit lagi.” Rook bernafas denga berat, membuktikan kalau dia benar-benar kelelahan. Barrier mengembalikan stats seperti semula sebelum pertarungan dimulai, tapi mereka tidak berefek pada kelelahan mental. Sudah wajar jika seseorang merasa kelelahan setelah dibunuh sembilan kali berturut-turut.

“Baiklah, aku siap sekarang,” katanya saat dia memanggil monster-monsternya.

Meskipun kelelahan, Rook sudah siap untuk bertarung kesepuluh dan terakhir kalinya.

“Baiklah. Ayo kita mulai,” Kata Marie saat dia mengaktifkan skill Shadow Clone dan Hiding miliknya.

Saat kelima tiruannya muncul dan menyerang Rook beserta monsternya, Marie sendiri bersembunyi dan mengisi Arc-en-Ciel. Rencananya adalah memanfaatkan celah yang diciptakan oleh tiruannya untuk mengisi Embryo-nya dengan kualitas paling efektif dan menembakkan makhluk peluru ke arah targetnya. Jika semuanya berjalan lancar, itu seharusnya akan mengakhiri pertarungan, tapi…

“KIEEEE!” Audrey menyuarakan panggilan saat dia melepaskan hembusan api yang dahsyat. Lidah api itu menjangkau seluruh area, dan menghanguskan semua yang ada di sana. Api itu cukup luas, besar dan menyilaukan untuk menghalangi pandangan Marie pada area itu.

Namun, dia telah melihat skill ini digunakan dalam pertarungan sebelumnya, jadi dia melakukan sama seperti yang dia lakukan terakhir kali. Marie menyelinap melalui api dan mengincar ruang yang ada diantaranya, bersiap untuk menembakkan peluru dalam mode pengejar.

“…?” Pada saat itulah dia merasakan ada sesuatu yang aneh.

Itu tidak datang dari balik api, tapi dari bawah kakinya, saat dia berdiri di ruang yang dia capai setelah menerobos api. Rasanya seperti ada yang sedang berbaring dan menunggu untuk menyergapnya di sana… dan “sesuatu” itu adalah makhluk berbentuk manusia berwarna perak.

“…!” Dipenuhi dengan pertanyaan, Marie kehabisan kata-kata. Bagaimana hal ini bisa memprediksi bahwa aku, yang asli, akan bergerak ke lokasi ini? Kenapa dia bisa menunggu untuk menyergapku sambil dikelilingi oleh api yang membara? Lagi pula, apa “ini”?

Dalam rangka untuk menemukan jawabannya, dia menggunakan kepalanya untuk memikirkan pertanyaan itu. Hal itu menciptakan sedikit celah dalam pergerakannya…

“Mithril Strain!” teriak Rook.

… dan Rook serta makhluk silvernya memanfaatkan hal itu dengan sebuah skill.

Diserang oleh tebasan perak, Marie tidak sedang berada dalam kondisi pikiran untuk menghindarinya. Dengan tipis bisa membungkukkan tubuhnya untuk menghindari damage, Marie kehilangan tangan kirinya akibat tebasan itu.

“■■■■■■■■■■ ■■■■■■■—Arc-en-Ciel!” teriak Marie.

Dari jarak yang sangat dekat dengan Rook, Marie menyerangnya menggunakan skill ultimate miliknya—skill yang tidak ingin dia gunakan.

Dalam sekejap, Rook beserta monsternya sama-sama disapu bersih.

Dengan itu, Marie memenangkan kesepuluh pertarungan. Selain kehilangan tangan kiri di pertarungan terakhir, hasilnya sama seperti yang diduga semua orang. Namun, kehilangan satu tangan itu membuat Marie merasa seperti dialah yang kalah di sini.

Di awal, Rook dan monsternya telah bergerak dengan cara yang tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya, kemudian Rook ternyata telah membaca pergerakannya dengan ketepatan yang mengerikan dan membuatnya lengah, memberikan Rook kesempatan untuk mengambil tangan kirinya. Bisa dibilang bahwa, pada saat itu, Rook telah memojokkan Marie—yang jauh lebih kuat darinya.

“Terima kasih atas latih tandingnya!” Sekarang setelah pertarungan berakhir, Rook membungkukkan kepalanya, mengungkapkan rasa terima kasihnya yang tulus.

“Sama-sama,” jawab Marie. “Kau dan monster-monstermu sama sekali tidak buruk… Faktanya, mengingat total waktu bermainmu, kau bisa dibilang menakjubkan. Caramu menggunakan skill-mu dan berkoordinasi dengan monster-monstermu benar-benar bagus. Aku khususnya terkejut dengan apa yang kau lakukan di akhir tadi. Apakah kau menyimpan taktik itu untuk pertarungan terakhir, saat kau kurang lebih memahami bagaimana caraku bertindak?”

“Ya.” Rook tersenyum. “Harus kukatakan, kau sangat kuat, Marie. Bahkan sembilan pertarungan tidak cukup bagiku untuk membaca pergerakanmu dengan cukup baik. Sejujurnya, aku ingin mengincar kepalamu dengan serangan terakhirku.”

Oh, begitu, pikir Marie. Dia menggunakan sembilan pertarungan pertama untuk memahami pola pergerakanku dan memprediksi apa yang akan kulakukan di pertarungan terakhir. Selain itu, senyum lebar yang dia tunjukkan jelas tidak cocok dengan apa yang dia katakan. Bocah ini mungkin memiliki bakat untuk menjadi orang kasar yang acuh. Aku agak takut membayangkan bagaimana jadinya dia di masa depan.

“Dan juga, kehilangan satu tangan sama sekali tidak mempengaruhi pergerakanmu,” tambah Rook. “Aku menduga hal itu akan menciptakan lebih banyak celah.”

“Bagaimanapun, dalam pertarungan tingkat tinggi, kehilangan lengan atau organ adalah hal yang biasa. Itu adalah sesuatu yang harus kau biasakan.”

“Aku akan mengingatnya,” kata Rook. “Terima kasih banyak untuk hari ini.”

“Apakah ini benar-benar sangat membantumu?”

“Ya! Sangat!”

Kalau begitu tidak sia-sia aku kehilangan tanganku, pikir Marie. Tapi, dia mendesakku—seorang pemilik Superior Job—sejauh ini meskipun dia hanya seorang pemilik low-rank job non-petarung. Aku telah memastikan bahwa Ray, seorang Newbie yang telah membunuh dua UBM, memang menakjubkan, tapi Rook jelas tidak berada jauh di belakangnya.

Karena telah bermain cukup lama, Marie mengetahui cukup banyak Master untuk yakin bahwa kedua orang itu benar-benar pengecualian. Dan itu bukan karena pertumbuhan mereka sebagai seorang player; sejak awal mereka sudah melenceng dari jalur normal. Marie setengah bersemangat dan setengah ketakutan mencoba untuk membayangkan akan jadi seperti apa mereka berdua nantinya.

“Aku penasaran siapa diantara mereka yang lebih kuat,” gumamnya.

“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Rook.

“Oh, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, di pertarungan terakhir, kau menggunakan skill yang belum pernah kau gunakan sebelumnya, kan? Oh, dan maksudku bukan Mithril Strain itu.” Mengesampingkan pertanyaan dari gumamannya sebelumnya, Marie mengutarakan sesuatu yang telah dia pikirkan sejak pertarungan terakhir selesai.

Rook telah membaca pergerakannya untuk menyergapnya, lalu menggunakan Liz untuk menyerang. Marie bisa memahami sampai sejauh itu, tapi dia tidak bisa memahami proses yang menghubungkan kedua hal itu.

Marie tidak bisa memahami bagaimana Rook bisa menunggu untuk menyergapnya sambil dikelilingi oleh api yang berkobar itu. Sosok manusia berwarna silver itu mungkin adalah hasil dari Liz yang menutupi tubuh Rook, tapi seharusnya itu tidak cukup untuk melindungi Rook dari panas yang ada. Hal itu membutuhkan resistensi api yang cukup besar. Jika tidak, dia akan mati karena api bahkan sebelum Marie datang cukup dekat untuk penyergapan itu. Karena itu, Marie menduga bahwa dia menggunakan sebuah skill yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.

“Itu adalah Union Jack!” teriak Baby dengan bangga sebelum Rook dapat menjawabnya.

“Union Jack…?” Marie mengangkat alisnya.

“Ya,” angguk Rook. “Itu adalah sebuah skill unik yang diperoleh Baby saat dia mencapai bentuk ke-tiganya.”

Sepertinya dia mendapatkan skill itu saat dia berevolusi selama perburuan kemarin, dan mereka terus menyembunyikannya sampai pertarungan kesepuluh.

Sebuah skill yang mereka sembunyikan sampai akhir… Dengan semua persiapan yang mereka lakukan untuknya, sudah jelas bahwa skill itu memiliki semacam efek yang kuat, tapi… Tapi Marie tidak dapat menduga efek seperti apa yang skill itu miliki. Sebagian besar skill Embryo didasarkan pada karakteristik kemampuan Embryo itu sendiri. Namun, tidak seperti Nemesis milik Ray atau Arc-en-Ciel milik Marie, karakteristik utama milik Baby tidak begitu jelas. Karena itu, Marie tidak bisa melihat gambaran lengkap dibalik Union Jack.

Tapi, setidaknya, dia bisa mengatakan bahwa itu sama menakutkannya dengan bakat manusia super milik Rook.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    wah, bs dibilang marie pada pertandingan ke 10 lose karena menggunakan skill ultimate.

    Like

    1. theo david says:

      iya w spndpt. rook si jenius strategi dan rook di pemberani vanguard.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s