Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 3

Volume 4
Chapter 3 – Pergerakan di Atas Papan Permainan

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Paladin, Ray Starling

“Penghalang pertama berhasil dilewati,” kataku.

“Sepertinya begitu,” setuju Nemesis.

Kami telah keluar dari arena pusat dan bertarung melawan player killer yang telah menunggu kami di alun-alun.

Berkat rencana Rook, kami bisa mengalahkan mereka hanya dengan sedikit korban, meskipun mereka jauh lebih kuat dan lebih banyak dari kami.

Saat aku harus menggunakan Hellish Miasma, aku khawatir akan kemungkinan terkena nya orang-orang tak bersalah yang kebetulan ada di alun-alun, tapi seorang high-rank Master dengan Embryo mirip radar telah menunjukkan kepadaku bahwa tidak ada masalah dalam hal itu.

Setelah itu, berkat Rook yang menggunakan Touch of the Silencer untuk membatalkan sihir musuh, dan kemudian dirinya dan Baby menggunakan skill Charm seperti yang mereka lakukan saat bertarung melawan gerombolan goblin itu, kami berhasil mengungguli para player killer itu.

Kupikir serangan kejutan dari caster itu akan membunuhku, tapi aku berhasil bertahan berkat Dragonscale Ward yang Shu berikan kepadaku sebelum kami meninggalkan arena. Fakta bahwa aku tidak melihat datangnya sihir itu membuatku tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan Counter Absorption, tapi lagi pula, stok skill itu benar-benar sedang tipis saat ini. Hanya satu stok yang terisi sejak pertarungan melawan Gouz-Maise kemarin, jadi bisa menyimpannya sebenarnya adalah sebuah keuntungan bagiku.

Pertempuran ini dan pertemuanku dengan Xunyu sebelum Clash of the Superior telah membuatku sadar bahwa Counter Absorption bukan tanpa kekurangan. Skill itu tidak efektif dalam situasi dimana aku tidak melihat serangan yang datang atau hanya tidak cukup cepat untuk mengaktifkannya. Cepat atau lambar, aku harus menemukan cara untuk mengatasi kekurangan itu.

Kesampingkan masalah skill, kami telah mengalahkan para player killer yang ada di alun-alun pusat.

Setelah pertarungan itu, kami para newbie berpencar ke segala arah. Aku memilih untuk pergi ke barat, dan Rook serta beberapa newbie lainnya menemaniku.

Menunggangi Silver, aku memimpin kelompok kecil kami maju ke depan. Aku tidak menggunakan mount selama pertarungan di alun-alun karena kebanyakan dari mereka adalah petarung jarak dekat, dan aku puas dengan keputusanku, karena sihir yang mengenaiku pada saat itu mungkin akan melelehkan Silver.

Mengikuti di belakangku, Rook dan Baby sedang mengendarai Marilyn, dan jauh dibelakang kami, terdapat tiga Master wanita. Mereka semua sedang menatap Rook, sehingga tak diragukan lagi bahwa lelaki super tampan ini adalah alasan kenapa mereka mengikuti kami. Yah, bukan berarti aku bisa menyalahkan mereka akan hal itu sih.

“Jadi, Ray,” Rook angkat bicara. “Maaf atas pertanyaan yang terlambat ini, tapi kenapa kita pergi ke barat?”

“Yah…” Memang, akulah orang yang memutuskan untuk pergi ke barat, dan wajar kalau dia berasumsi kalau aku memiliki sebuah alasan. Aku memilih untuk pergi kesana karena perkataan yang menghantui pikiranku.

Di barat.

Hugo telah mengatakan hal itu kepadaku tepat sebelum kami berpisah. Dia adalah seorang Master dari Kekaisaran Dryfe dan anggota dari klan yang bernama “Triangle of Wisdom,” yang dia katakan sebagai klan terbesar di Dryfe, yang artinya itu dimiliki oleh ranking klan teratas Dryfe: Franklin.

Pada saat itu, Hugo telah mencoba berakting seolah-olah itu bukan apa-apa, tapi aku merasa bahwa…

“Sesuatu sedang terjadi di barat,” kataku.

Kecuali dia memprediksi bahwa aku akan berpikir seperti ini dan berbohong untuk menyesatkanku, kami seharusnya akan menemukan sesuatu di sana. Karena aku tidak merasa bahwa Hugo adalah tipe orang yang akan berbohong seperti itu, jadi aku langsung pergi menuju barat.

Tampaknya memahami maksudku, Rook mengangguk dan mulai berpacu disampingku.

Dengan itu, kami pergi menuju gerbang barat.

Jika perkataan Hugo benar dan memang ada sesuatu yang kami temukan disana, aku sangat percaya kalau dirinya sendiri akan menghadang jalan kami.

***

100 metel di atas duel city, di punggung Night Lounge

Night Lounge—monster terbang penyembunyi diri—sedang menyatu dengan kegelapan malam saat dia terbang menuju ke barat. Duduk di punggungnya, Franklin dengan melakukan sesuatu pada perangkat yang sangat mirip dengan tablet dari tahun 2010-an.

“Para pengkhianat di alun-alun pusat sudah mati semua,” gumamnya. “Aku sudah menduga hal ini, tapi ini jelas terjadi lebih cepat dari yang kuduga.”

“Apa yang sedang kamu lihat?” tanya Elizabeth.

“Ini dia,” kata Franklin saat dia merogoh inventory-nya dan memberi Elizabeth perangkat yang sama dengan yang ada di tangannya.

Elizabeth menatap ke bawah dan melihat peta Gideon. Peta itu dipenuhi oleh cahaya penanda yang jelas-jelas melebihi angka empat digit, dan sebagian besar dari mereka terkumpul di arena pusat.

“Cahaya ini… Mereka adalah para Master, bukan?” tanya Elizabeth.

Meskipun berjumlah banyak, penanda itu sama sekali tidak mendekati jumlah total penduduk Gideon, membuatnya berasumsi bahwa penanda itu mewakili para Master yang ada di wilayah ini.

“Benar sekali.” Angguk Franklin. “Jelas, kau bukanlah orang yang bodoh. Aku suka dengan orang yang tidak bodoh. Kau juga mudah di ajak berbicara.”

“Dipuji oleh pembunuh ayahku sama sekali tidak membuatku senang,” jawab Elizabeth.

“HA HA HA! Tentu saja! Itu sudah jelas! GAH HA!” dia tertawa dengan sepenuh hati, seperti telah menemukan hal terlucu sampai saat ini.

Tentu saja, tuan putri merasa bahwa reaksinya itu tidak menyenangkan, tapi lebih dari itu, dia penasaran kenapa Franklin terlihat begitu berlebihan.

“Aku kebetulan mengenal seseorang yang sepertinya tidak memahami hal itu,” lanjut Franklin. “Tapi perlu dicatat, yang sedang kita bicarakan adalah orang yang mengambil takhta secara paksa dengan membunuh semua anggota keluarga kekaisaran yang lebih tua. Jangan terlalu berharap kalau karakter seperti itu dapat dipahami.”

“Aku tidak memahami semua yang kamu katakan,” Elizabeth memberitahunya.

“Itu karena ada perbedaan besar antara informasi yang kau dan aku miliki. Pokoknya, kembali ke laptop… Ya, kau sedang memegang peta lokasi dari seluruh Master yang ada di Gideon. Peta itu juga real-time.”

Benar saja, ada banyak penanda pada peta yang sedang bergerak.

Peta itu adalah hasil dari sebuah perangkat yang dibuat oleh klan Triangle of Wisdom yang mengambil signal data yang dikeluarkan oleh monster kamera mata-mata yang dibuat oleh Franklin, yang dia sebarkan ke seluruh kota beberapa hari sebelum rencana ini dimulai.

Melengkapi monster dengan kemampuan bersembunyi tingkat tinggi dan pembeda Master telah berimbas pada terbatasnya informasi yang mereka berikan dan hanya menunjukkan lokasi dari target dan tidak lebih—mereka bahkan tidak menampilkan nama para Master. Namun, hanya itulah yang Franklin butuhkan. Dia hanya ingin mengetahui dimana para Master berada, dan bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

“Bolehkan aku menanyakan sesuatu?” tanya Elizabeth.

“Silahkan,” jawab Franklin dengan sikap sombong.

“Cahaya ini berwarna merah dan biru. Apakah mereka…?”

“Ya. Kami merah, sementara biru adalah para Master kerajaan. Aku tau bahwa merah sering digunakan sebagai warna ‘musuh,’ tapi aku kebetulan menyukai warna itu, kau tau.”

Penanda itu berwarna antara biru dan merah, dan warna merah mewakili para Master yang sudah Franklin daftarkan sebelum insiden ini dimulai. Meskipun penanda berwarna biru memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dari yang merah, sebagian besar dari mereka terkumpul di arena pusat. Penanda merah dan biru yang ada di kota memiliki jumlah yang hampir sama, tapi ada sesuatu yang perlu dicatat…

“Bahkan tidak lebih dari separuh Master biru yang ada diluar arena dapat bertarung dengan benar,” kata Franklin. “Sebagian besar dari mereka adalah job non-petarung yang tidak tertarik pada duel atau master kelas tiga yang tidak bisa mendapatkan tiket untuk menontonnya.”

Oleh karena itu, penanda biru cenderung menghilang sesaat setelah mereka bertemu penanda merah.

Para pengkhianat selain yang berada di alun-alun pusat telah diberikan perangkat yang sama dengan yang dipegang oleh Franklin dan Elizabeth, yang memungkinkan mereka bisa mencari penanda biru, para Master kerajaan, dan membunuh mereka. Satu-satunya pengecualian adalah saat penanda biru yang keluar dari arena pusat telah membuat penanda merah yang ada di alun-alun pusat menghilang dengan cepat.

Tapi, itu sudah bisa ditebak, karena para pengkhianat yang ditempat di sana adalah yang terlemah. Para pengkhianat yang ditugaskan untuk melakukan pencarian dan penghancuran di kota jauh lebih kuat, jadi mereka tidak akan terlalu kesulitan menangani job non-petarung atau Master kelas tiga.

“Meskipun bukan berarti tidak ada satupun Master tangguh diantara mereka yang tidak pergi menyaksikan event,” komentar Franklin.

Beberapa penanda merah yang mengelilingi penanda biru tengah menghilang.

Franklin bergumam, “Aku mempersiapkan peta ini untuk memudahkanku menemukan pengecualian ini.”

Perangkat yang sedang dia pegang bergetar saat sebuah suara terdengar darinya. “T-Tolong, Franklin! Dia adalah peringkat enam di ranking duel! ‘Kamen Rider’…”

“RIIIISEEEERRRR KIIICK!” Suara itu diikuti oleh suara ledakan besar, yang kemudian, diikuti oleh sebuah kesunyian.

Franklin menekan sesuatu, dan mengakhiri koneksinya. “Keenam, huh? Kurasa ada lebih banyak yang seperti dirinya. Yah, setidaknya ‘mereka’ punya sesuatu untuk dikerjakan,” dia menyeringai saat dia berbicara ke arah perangkatnya. “Club. Bergerak ke C3.”

Elizabeth tidak tau maksud dari hal itu.

Namun, tak lama kemudian, dia mendengar ledakan besar datang dari suatu tempat di kota. Melihat kembali ke arah peta, dia menyadari bahwa penanda biru yang sepertinya telah mengalahkan orang-orang Franklin telah menghilang. Di tempatnya, terdapat sebuah penanda merah mirip lambang club.

“Club?” tanyanya. Itu adalah salah satu suit dalam kartu remi. Kartu remi adalah permainan terkenal bahkan di Infinite Dendrogram, dan permainan kasino seperti poker dan blackjack juga merupakan hiburan yang cukup terkenal. Itulah sebabnya dia langsung tau bahwa dia sedang melihat simbol dari club suit.

“Oh, itu adalah penanda spesial,” jelas Franklin. “Merah lainnya baru saja dipekerjakan, sementara ini adalah penanda untuk orang-orang yang sejak awal telah bekerja untukku.”

Elizabeth terdiam. Melihat ke bawah, dia menyadari bahwa ada tiga buah penanda seperti itu.

Yang pertama adalah club. Dia bergerak kesana-kemari, menyebabkan setiap penanda biru—termasuk “pengecualian” yang dapat membunuh penanda merah—menghilang.

Yang kedua adalah heart. Dia hanya berdiam diri di gerbang barat Gideon. Namun, setiap penanda biru yang mendekatinya langsung menghilang tanpa terkecuali.

Yang ketiga adalah diamond. Dia sedang pergi ke arah bawat secara perlahan, dan sedikit pengamatan para daerah sekitarnya dan posisinya di peta memastikan bahwa itu adalah Franklin.

Elizabeth sekarang sadar bahwa Gideon memiliki tiga buah entitas yang lebih menakutkan dari pada monster dan para pengkhianat.

Club, heart, dan diamond, pikirnya, membuat sebuah pertanyaan tertentu muncul di pikirannya. Dimana spade…?

Suit spade mengandung makna “pedang” atau “kematian,” menjadikannya yang terjahat di antara keempat suit kartu remi, dan karena alasan yang tak diketahui, lambang itu tidak ada dimanapun di peta.

“Apakah kau penasaran dengan spade?” tanya Franklin, seolah-olah baru saja membaca pikiran Elizabeth. “Itu tidak akan muncul di peta ini. Bagaimanapun, itu untuk rencana D, jadi jangan berharap akan digunakan.”

“Rencana D?” ulang Elizabeth.

“Ya. Itulah bagaimana kau menyebutnya jika yang sekarang ini adalah ‘Rencana A.” Dan aku tidak berniat untuk gagal pada rencana ini.” Franklin membuat Night Lounge sedikit berganti arah.

Penasaran kenapa dia melakukan hal itu, Elizabeth menatap peta dan melihat dia buah penanda biru berada di dekat diamond, sehingga tak diragukan lagi bahwa Franklin sedang menghindari mereka.

“Jadi peta ini juga bertujuan untuk mencegahmu bertemu dengan para Master?” tanyanya.

“Ya, benar,” jawab Franklin. “Aku adalah orang lemah, jadi sebisa mungkin aku ingin menghindari pertarungan langsung.”

Meskipun berkata demikian, Franklin tampak sangat percaya diri bahwa tidak ada seorangpun di bawah yang dapat membongkar kemampuan bersembunyi milik Night Lounge.

“Meskipun aku menghindari pertarungan yang tak perlu, jika aku harus bertarung, mereka yang bisa menerobos semua monster yang kumiliki dan mendaratkan pukulan akhir kepadaku hanyalah beberapa Superior sepertiku,” dia tertawa kecil sambil kembali melihat peta.

Gideon masih berada dalam kekacauan saat penanda diamond yang mewakili dirinya dengan santai bergerak ke arena yang kosong.

Semuanya bagus.

Setidaknya, sampai penanda biru muncul tepat di belakang diamond.

Terkejut, Franklin mencoba berbalik, tapi bahkan sebelum dia dapat menggerakkan lehernya, dia merasa arteri karotisnya telah terpotong. Serangan itu diikuti oleh serbuan makhluk peluru, yang bersarang di badannya dan meledak, menyebabkan damage yang besar.

Itu tidak berakhir di sana, karena serangan itu juga mengenai Night Lounge, menyebabkan punggungnya menerima ledakan di banyak tempat. Tidak mampu menahannya, monster itu mulai kehilangan ketinggian dan turun ke kota yang ada di bawah.

Diselimuti oleh kekacauan yang mengejutkan, Franklin menatap sekeliling dan melihat sebuah entitas yang diselimuti kabut hitam sedang mengambil Elizabeth—yang pingsan karena kejutan yang disebabkan oleh ledakan itu—dan melompat ke bawah. Makhluk berkabut itu bukanlah sesuatu yang tidak Franklin ketahui.

… Oh iya, pikirnya. Entah kenapa aku bisa lupa tentang Master yang membunuh Superior meskipun dirinya sendiri bukan Superior.

Setelah mengingat player killer yang dikenal sebagai “Superior Killer,” Franklin menggenggam hidupnya yang berharga saat Night Lounge miliknya jatuh ke atas jalanan Gideon.

***

Duel city Gideon, distrik ke-sembilan

Saat Franklin menculik Elizabeth dan menghilang dari arena, Marie segera meninggalkan tempat duduknya. Tujuannya sederhana—untuk mengejar Franklin dan menyelamatkan Elizabeth.

Menjadi Death Shadow, sebuah Superior Job berfokus AGI, membuatnya bisa bergerak dengan kecepatan supersonik, jadi dia dengan cepat sampai ke lorong arena dan sampai ke pintu keluar. Namun, saat dia mencoba pergi keluar, dia terhalang oleh barrier.

Marie sama sekali tidak terkejut dengan hal itu. Fakta bahwa Franklin bisa menyegel Figaro dan Xunyu di dalam barrier panggung memastikan kalau dia juga bisa menyegel arena.

Dia segera menyimpulkan bahwa dia melakukan ini untuk membuat para Master kerajaan terlihat tak berdaya. Penculikan Elizabeth, juga, jelas ditujukan untuk memperkuat sentimen itu.

Marie tidak bisa membiarkan dirinya membuang-buang waktu yang berharga, jadi keluar dari barrier secara instan.

Dia bisa melakukan hal itu karena dia adalah Death Shadow—sebuah Superior Job. Dia bisa melakukannya karena alasan yang sama dengan Zhenhuo Zhendeng Baolongba milik Xunyu yang telah menghancurkan bagian atas barrier yang menyelimuti pertarungan Clash of the Superior. Itu adalah skill ultimate milik Master Jiangshi—sebuah Superior Job.

Karena itu, Marie berasumsi bahwa skill ultimate milik Superior Job bisa melampaui barrier arena. Dengan pemikiran seperti itu, dia menggunakan skill ultimate milik Death Shadow.

Meskipun itu adalah sebuah job dari onmitsu grouping yang berfokus pada kemampuan bersembunyi dan tidak memiliki kekuatan yang terlalu besar, skill itu kurang lebih cocok dengan situasinya saat ini. Dan dengan begitu, dengan bayaran separuh SP miliknya, Marie keluar dari barrier.

Setelah sampai ke jalanan, dia menggunakan skill Conceal dan Conceal Perception untuk mencari Franklin.

Akhirnya, Marie menyadari Night Lounge yang mirip ikan pari sedang terbang di langit. Dia melompat dari atas sebuah bangunan dan menggunakan tiruannya sendiri sebagai batu lompatan untuk mencapai dan menyerang makhluk itu.

Sama seperti dugaannya, Franklin memang ada di atasnya, jadi dia segera menyayat lehernya dan membuatnya berada dalam keadaan kritis menggunakan peluru penembus dan peledak dari Arc-en-Ciel miliknya. Dia mengikutinya dengan serangan peledak kepada makhluk mirip ikan pari itu sebelum mengambil Elizabeth dan melompat ke bawah.

Dan dengan begitu, Marie saat ini sedang berlari di jalanan Gideon bersama dengan tuan putri kedua yang ada di punggungnya.

*

Goyangan ringan membangunkan Elizabeth.

Dia merasa kalau sensasi itu terasa tidak asing, karena dia baru saja merasakannya kemarin. Itu adalah perasaan sedang digendong di punggung seseorang, dan kelembutan dan aroma yang menemani sensasi itu juga sama dengan saat itu.

“Ma… rie…?” tanya Elizabeth dengan agak linglung.

“Ya,” kata orang yang menggendongnya. “Ini aku, Ellie.”

“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi… Tapi kenapa kamu…?”

“Untuk sekarang, kita akan pergi ke tempat aman dulu. Kita akan bicara lagi nanti!” kata Marie saat dia berlari.

Meskipun Elizabeth tidak menyadarinya karena goncangan itu begitu lembut, kecepatan Marie saat ini dengan mudah melampaui 100 kilometer per jam. Marie adalah seorang Death Shadow, sebuah Superior Job dari onmitsu grouping, dan dia memiliki build yang berfokus pada AGI dan skill bersembunyi. Hal itu memudahkan dirinya berlari dengan kecepatan seperti itu bahkan saat sedang menggendong seseorang di punggungnya.

Tempat aman yang ada dalam pikiran Marie adalah arena pusat. Di sana ada banyak high-rank Master. Belum lagi fakta bahwa orang berlevel di atas 50 tidak bisa memasukinya saat ini.

Tentu saja, saat Marie menggunakan skill ultimate milik Death Shadow untuk kaluar dari arena, masih ada beberapa monster di sana, tapi mempertimbangkan para player yang ada di dalam, bisa disimpulkan bahwa monster-monster itu sudah ditangani. Belum lagi di sana ada seseorang yang bisa melakukan hal itu dengan sangat mudah.

“Marie, jika kita melarikan diri, gunakan ini,” kata Elizabeth saat dia memberikan perangkat yang ada di tangannya kepada Marie.

“Ini… Yah, ini akan berguna,” kata Maria saat dia melihat peta dan mulai berlari sambil menghindari penanda merah.

Sama seperti saat dia menyerang Night Lounge, Marie masih menggunakan beberapa skill jenis penyembunyi yang membuatnya tidak muncul di peta. Tapi meski begitu, mudah baginya untuk mengetahui dimana dirinya berada hanya dengan membandingkan peta dan jalanan yang ada di sekelilingnya.

“Ngomong-ngomong, apakah kamu tau maksud dari penanda berbentuk suit kartu remi ini?” tanya Marie.

“Ya. Diamond adalah Franklin, sementara heart dan club adalah orang kepercayaannya,” jawab Elizabeth.

“Begitu…” kata Marie sambil berusaha menahan hasrat untuk mendecakkan lidahnya. “Jadi dia masih hidup.”

Berdasarkan apa yang dikatakan skill Reveal miliknya, Max HP milik Franklin sepuluh kali lebih rendah dibanding semua serangan yang Marie berikan kepadanya, tapi meskipun tanpa memiliki accessories pengganti padanya, penanda berbentuk diamond itu masih ada di peta, yang berarti bahwa dia berhasil bertahan dari luka fatal itu.

Sepertinya dia juga menggunakan Life Link, bukan hanya Castling, pikirnya. Itu berarti bahwa aku tidak akan bisa membunuhnya sampai aku menangani monster-monster yang ada dalam kapasitasnya.

Life Link membuat penggunanya bisa berbagi HP dengan monster yang mereka miliki. Meskipun itu jelas adalah skill yang berguna yang mungkin bisa membuat pengguna dan pasukan mereka bertahan sampai akhir, skill itu juga memiliki banyak kekurangan.

Kekurangan pertama adalah fakta bahwa skill itu hanya bekerja pada monster yang berada dalam minion capacity dan tidak akan berefek pada monster yang ditempatkan di slot party. Namun, kekurangan terbesarnya adalah perlunya ikatan yang kuat dengan monster yang dimaksud, membuatnya lebih mementingkan pemiliknya dari pada dirinya sendiri.

Menciptakan hubungan dimana monster lebih mementingkan master-nya dari pada dirinya sendiri biasanya adalah proses yang membutuhkan banyak waktu dan usaha. Karena itu, hanya ada sedikit orang yang menggunakan Life Link.

Skill itu memiliki beberapa persyaratan yang sulit, tapi sepertinya itu tidak berarti apa-apa bagi Franklin, pikir Marie.

Karena merupakan seorang pembuat monster, Franklin dapat membuat monster yang memiliki loyalitas tanpa batas sejak awal, sehingga mudah baginya untuk membuat persediaan HP berbasis Life Link. Bukan hanya itu. Jika dia juga mengabaikan kemampuan tempur milik monster itu dan memfokuskan seluruh sumber dayanya pada HP, bahkan minion capacity tidak akan menjadi masalah besar.

Pokoknya, dirinya yang masih hidup benar-benar buruk, pikir Marie. Franklin adalah seorang Superior, yang artinya dia tidak akan tertipu lagi oleh trik yang sama.

Marie juga menjadikan dirinya sebagai target Franklin, membuatnya yakin kalau Franklin akan mengejarnya dengan cara yang tak terduga. Sebagai orang yang pernah bertarung dan mengalahkan Superior, Marie mengetahui hal itu lebih baik dari pada kebanyakan orang.

Aku harus membawa Ellie ke arena pusat secepat mungkin…! Pikirnya. Semua Master yang terjebak di sana menjadikan arena adalah tempat ter-aman di seluruh kota.

Namun, Marie memiliki alasan yang lebih besar untuk datang kesana.

Barrier itu menjebak sebagian besar player di dalamnya… termasuk dirinya. Jika itu adalah dia yang kuduga adalah dirinya, maka bahkan Franklin tidak mungkin bisa mengalahkannya.

Dengan seseorang tertentu di dalam pikirannya, Marie terus berlari menuju arena pusat.

Dia hampir menabrak beberapa monster selama perjalanan, tapi dia segera meledakkan mereka dengan critical hit dari peluru homing dan peledak.

Tak lama kemudian, arena pusat sudah masuk ke dalam pandangannya.

“Baiklah!” kata Marie. “Kita sudah hampir sampai, Ellie!”

“Ya, Ma—“

“Aku akan mengambil tuan putri kembali, terima kasih banyak.”

Sebelum Elizabeth dapat menyelesaikan perkataannya, sebuah suara terdengar dari perangkat yang dipegang Marie, dan sesaat kemudian, Marie merasa berat dan nafas Elizabeth menghilang dari punggungnya.

Marie berbalik dan melihat monster mirip burung sama seperti yang dia lihat di arena. Elizabeth tidak ada di dalam pandangannya.

Setelah menyadari apa yang terjadi, Marie mendecakkan lidahnya karena rasa frustrasi dan menebas burung itu. “Aku cukup yakin kalau kami berada jauh di luar jarak efektif Castling…” katanya.

“Memang benar,” jawab Franklin. “Tapi kebetulan aku memiliki monster pengamat di seluruh kota. Aku mengejarmu dengan cara melakukan Castling diantara mereka. Kau tau, seperti perangkat teleportasi.”

Sedikit terganggu dengan fakta bahwa Franklin dapat melakukan hal itu, Marie menahan keinginannya untuk bertanya kepadanya tentang cooldown dan penggunaan MP selama proses itu, karena dia sadar bahwa Franklin merupakan pencipta monster terhebat. Menanyakan hal itu kepadanya hanya akan buang-buang waktu.

“Tapi njir, kau benar-benar mengenaiku tadi, Superior Killer,” lanjut Franklin. “Aku benar-benar berpikir aku akan mati.”

Meskipun Marie telah menyayat lehernya beberapa saat lalu, luka itu telah hilang tanpa bekas, membuatnya bisa berbicara dengan nada jernih. Fakta itu benar-benar membuat Marie kesal.

“Yah, bertujuan untuk memberikan setidaknya death penalty kepadamu,” kata Marie.

Setidaknya death penalty? Whoa, ngeri gan,” jawab Franklin.

“Aku akan datang untuk membunuhmu lagi,” geramnya. “Dan kembali mengambil Ellie.”

“A ha ha ha, sungguh menakutkan.” Meskipun nadanya benar-benar terdengar ketakutan, dia masih tersenyum lebar. “Hei, aku benar-benar ketakutan di sini… keberatan melakukan sesuatu padanya, club?”

Pada saat itu, skill Danger Perception milik Marie berdering, memperingatkan kepadanya akan ancaman besar. Menggunakan AGI nya yang besar, dia bergerak dengan kecepatan supersonik untuk menjauh dari tempatnya berdiri.

Dia menatap balik dan melihat ruang yang ada di sana mulai runtuh.

Paving, bangunan, dan bahkan tanaman—semua yang memiliki bentuk mulai hancur, jatuh, dan berubah menjadi debu.

“Aku akan meninggalkan bocahku disini,” kata Franklin. “Bagaimanapun, aku memintanya datang untuk menangani ‘pengecualian’ sepertimu.”

Itulah perkataan terakhirnya sebelum perangkat yang ada di tangan Marie hancur. Mungkin itu adalah fungsi yang telah dia pasang jika saja perangkat itu jatuh ke tangan musuh, tapi Marie sedang tidak berada dalam posisi untuk memperdulikan hal itu.

Apa yang sebelumnya merupakan jalanan Gideon telah berubah menjadi mirip padang pasir, dan di seberang pemandangan itu, terdapat sebuah kelompok misterius yang terdiri dari empat makhluk.

Insert2

Yang pertama adalah seorang pria yang memakai topi mirip burung, sedang mengayunkan tongkat konduktor.

Yang kedua adalah seekor centaur yang sedang memainkan biola.

Yang ketiga adalah seekor kucing yang sedang meniup seruling,

Dan yang terakhir adalah seekor kobold yang sedang memukul drum.

Marie segera menyadari bahwa dia pernah melihat kelompok seperti itu sebelumnya, dan setelah mengingat-ingat sebentar, dia ingat kalau itu adalah band yang sama dengan seniman jalanan yang dia lihat kemarin.

Namun, penampilan luar dari centaur, kucing dan kobold itu telah menjadi benar-benar berbeda. Pada saat itu, mereka dikelilingi oleh banyak penonton yang memuji performa dan penampilan imut mereka. Sepertinya itu tidak lebih dari bulu domba.

Sekarang, bulu mereka telah hilang, menunjukkan permukaan yang terbuat dari baja. Itu adalah kelompok pemain mekanik yang tidak hanya bermain, tetapi juga merupakan instrument. Tidak lagi sebuah band yang cantik, sekarang mereka berubah menjadi mesin pembunuh.

Tak perlu dikatakan, para penonton mereka sebelumnya tidak ada di sini.

Semua yang ada di dekat mereka hancur dan runtuh, dan hanya meninggalkan lahan mirip padang pasir.

“Dan aku benar-benar percaya bahwa kalian hanyalah sebuah band yang berbakat,” kata Marie. “Kurasa kehadiranmu di sini berarti bahwa aku bisa menganggapmu sebagai musuh.”

Skill persepsi-nya dan pengalamannya sebagai seorang Master mengatakan kepadanya bahwa lawan yang ada di hadapannya tidak bisa dianggap enteng.

“Dugaanmu benar,” jawab pria itu, bukan dengan perkataan, tetapi dengan suara musik. Musik itu sendiri mendapatkan makna seperti perkataan dan mencapai telinga Marie.

“Bolehkah aku mengetahui namamu?” tanya Marie.

“Club di papan permainan,” jawabnya. “King of Orchestra, Veldorbell.”

“Begitu.”

“Club” adalah julukan yang diberikan Franklin kepada orang-orang kepercayaannya di Gideon. Tidak seperti para pengkhianat, yang Franklin rekrut langsung di sini di kerajaan, club benar-benar merupakan anggota Triangle of Wisdom. Dan King of Orchestra adalah sebuah Superior Job, sama seperti Death Shadow milik Marie.

Dia pasti sangat kuat, pikirnya, menduga kalau Embryo miliknya adalah type Legion sama seperti miliknya. Dia menyadari bahwa mencoba menghindarinya dan mengejar Franklin bukanlah sebuah pilihan.

Bahkan jika entah bagaimana aku bisa mengejar Franklin, aku hanya akan terjepit diantara dirinya dan rekannya, dan itu jelas bukan sesuatu yang bisa kutangani… Wew, dia sungguh menjengkelkan.

Marie menghembuskan nafas panjang dan mengacungkan senjatanya, Arc-en-Ciel. “Kau menghalangi jalan, jadi mati saja sana.”

“Kenapa begitu terburu-buru, pendengar yang manis? Nikmati waktumu untuk mendengarkan musikku. Bagaimanapun, ini adalah musik kematianmu.”

Setelah Veldorbell mengangkat tongkatnya, daerah sekitarnya menjadi dipenuhi oleh pertukaran suara ledakan dan kehancuran yang liar.

Dengan begitu di mulailah salah satu duel sengit di malam itu—Death Shadow, Marie Adler VS King of Orchestra, Veldorbell.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

One Comment Add yours

  1. ray starling says:

    Battle of two superior job will begin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s