Genjitsushugisha no Oukokukaizouki Arc 6 Chapter 5 B

Arc 6
Chapter 5 – Bertarung Bersama B

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English :
J-Novel Club

Di kereta dalam perjalanan kesana, aku menjelaskan sihirku kepada Kuu dan Leporina.

Tentu saja, jika aku memberitahunya tentang batasan atau jangkauan sihirku secara detail itu akan memakan terlalu banyak waktu, jadi aku hanya memberitahunya hal-hal yang penting.

“Sihirku memindahkan kesadaranku ke objek berbentuk makhluk hidup, seperti mannequin, dan membuatku bisa mengendalikannya dengan leluasa. Contohnya, jika aku memindahkan kesadaranku ke dalam tikus kayu ini, aku mendapatkan penglihatan… yah, anggap saja aku bisa melihat apa yang tikus ini lihat.”

“Wow, itu sungguh kemampuan yang hebat!” kata Kuu, kagum melihat tikus kayu itu bergerak kesana-kemari di tanganku hampir seperti tikus asli. “Oookyakya, jika aku memiliki kemampuan seperti itu, aku bisa mengintip pemandian wanita semauku!”

“Kau langsung berpikirkan kesana?!” seruku.

“Tuan muda, anda membuat saya malu sebagai bawahan anda, jadi tolong jaga sikap anda,” protes Leporina dengan mata berbinar.

Tidak seperti ekspresi tegang yang dia tunjukkan saat bergegas masuk ke dalam penginapan, sekarang Kuu sudah kembali ke dirinya yang biasa.

Aku mengabaikan mereka dan melanjutkan penjelasanku, “Itulah sebabnya, jika aku mengirimkan tikus kayu ini untuk melakukan pengintaian, aku bisa mendapatkan gambaran akurat tentang situasi yang ada tanpa di ketahui oleh pihak lain. Masalahnya adalah, jika aku tidak tau musuh ada di arah mana, aku hanya bisa mengirimnya untuk mengawasi area di sekitar kita.”

Mungkin Aisha bisa melakukannya, tapi aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti merasakan keberadaan musuh. Jika aku tau musuh ada di arah mana, aku bisa mengirimkan tikus kayu ini dengan segera, tapi jika tidak, aku harus menyebarkan mereka di area sekitar kami untuk melakukan patroli.

Karena itu, setelah para Kucing Hitam yang kami kirimkan lebih dulu memberikan tanda, aku segera tau arah yang benar. Namun, aku tidak boleh membiarkan Kuu dan Leporina mengetahui tentang unit rahasia yang beroprasi di bawah perintahku.

“Kalau begitu, kita bisa membuat Leporina mencarinya,” kata Kuu seolah-olah itu bukan masalah besar. “Leporina dan ras kelinci putih lainnya memiliki pendengaran yang bagus. Meskipun berada di dalam hutan yang sangat lebat, dia bisa mengetahui arah sesuatu yang bergerak hanya melalui suara yang mereka buat.”

“Aku hanya mengetahui arah suara, dan apakah sumber suara itu ada banyak atau hanya satu, sih,” tambah Leporina.

Oh, itu sangat cocok dengan kemampuanku. Leporina bisa mempersempit arahnya, dan kemudian aku hanya tinggal mengirimkan tikus kayuku.

Lalu aku menerima sebuah pesan.

“Inugami melapor. Target ditemukan.”

Laporan dari Inugami dan anggotanya masuk ke dalam pikiranku melalui kesadaranku yang lain.

“Kami mengonfirmasi lima dari sini. Targetnya adalah ogre. Namun, Yang Mulia… bentuk tubuh mereka agak aneh.”

Aneh? Aku bisa melihat boneka yang kukendalikan dari sudut pandang orang ketiga, tapi itu juga berarti aku hanya bisa melihat area di sekitar mereka. Karena para Kucing Hitam sedang mengawasi target dari kejauhan, aku tidak bisa melihatnya secara langsung, jadi aku hanya bisa membuat gambaran berdasarkan laporan yang mereka berikan.

“Wajah dan ukuran mereka sama dengan ogre, tapi tangan mereka besar dan menyentuh tanah, sehingga membuat mereka berjalan merangkak,” kata Inugami. “Saya mendengar kalau ada banyak monster yang memiliki bentuk aneh jika dibandingkan dengan monster yang diceritakan di legenda. Kemungkinan besar, mereka adalah salah satu sub-spesies.”

Sub-spesies dari ogre… huh. Aku membuat tikus yang dia bawa bergerak untuk mengindikasikan kalau aku paham.

Rencananya adalah Inugami dan anggotanya akan mengintai dungeon tempat ogre itu muncul untuk saat ini. Itu untuk jaga-jaga jika ada lebih banyak monster yang keluar dari sana, dan karena aku tidak bisa membuat unit mata-mata untuk bertindak terlalu mencolok.

Meski begitu… aku tertarik dengan fakta bahwa ada banyak monster yang tinggal di dungeon yang memiliki bentuk aneh.

Monster dan iblis yang muncul dalam jumlah besar setelah kemunculan Wilayah Raja Iblis. Mereka berbeda dengan monster berbentuk aneh yang tinggal di dungeon benua ini. Apa perbedaan di antara mereka? Apakah perbedaan itu memang benar-benar ada?

Dalam rangka untuk mendapat gambaran penuh dari dunia ini, aku mungkin juga harus meneliti hal itu.

Itulah firasat yang kudapatkan, meskipun itu sangat samar.

Saat aku memikirkan hal itu, kami sampai di desa pegunungan yang katanya telah diserang oleh monster itu.

Hanya ada sekitar sepuluh rumah di desa ini, tapi tempat ini seperti baru saja dihantam angin topan. Tidak ada bangunan yang terbakar, tapi hampir mereka semua sudah roboh atau ada lubang di temboknya. Jika aku harus menyebutkan perbedaannya dengan angin topan, itu adalah percikan darah yang bisa dilihat di berbagai tempat.

Jejak darah yang sepertinya bekas orang diseret adalah yang paling mengerikan.

“Sial… Pertama, kita cari apakah masih ada yang selamat disini!” kata Kuu, sambil menggertakkan giginya.

Kami melakukan pencarian untuk mengetahui apakah ada yang selamat. Tapi, kami bahkan tidak menemukan satu tubuh pun.

Mereka yang selamat telah melarikan diri, dan mereka yang tidak pasti telah dimakan atau diseret ke tempat lain.

“Leporina,” kataku. “Apakah kau tau dimana arah para monster itu berada?”

“Aku akan mencobanya.” Leporina mengangkat telinga kelincinya. Beberapa detik kemudian, dia menambahkan, “Ada lima di arah jam dua, tujuh di arah jam tiga, dan suara yang mengindikasikan masih ada beberapa lagi.”

“Saya mendengar kalau ogre bergerak dalam kelompok,” kata Aisha. “Lima dan tujuh itu kemungkinan besar adalah ogre.”

Beberapa lainnya mungkin adalah anggota Kucing Hitam yang ditempatkan di sekitar hutan.

Aku mengirim tikus kayu ke arah yang dikatakan Leporina. Lalu, saat mereka sudah pergi sejauh 800-meter dari desa, aku melihat lima ogre, dan arah satu kilometer lainnya, aku melihat tujuh ogre.

Seperti yang dilaporkan oleh Kucing Hitam, para ogre itu memang memiliki bentuk yang aneh. Tangan mereka sangat gemuk dan besar, membuat tubuh mereka tampak sangat tidak seimbang.

Dari manga dan game, aku membayangkan kalau ogre adalah makhluk macho bertanduk yang mengenakan celana jerami dan mengayunkan gada kesana kemari, tapi meskipun ogre ini jelas memiliki kepala ogre, mereka tidak mengenakan pakaian, tidak membawa senjata, dan tubuh mereka tertutupi oleh bulu yang panjang. Mereka terlihat seperti apa yang akan dapatkan jika menggabungkan oni dan gorila, dan mirip dengan ijuu yang kulihat di ensiklopedi yokai yang kubaca saat masih kecil.

Tikus kayu ku mendekati mereka dan melihat kalau kedua kelompok itu sedang duduk berkeliling dan memakan sesuatu. Aku punya firasat buruk, jadi aku memutuskan untuk tidak melihatnya, tapi aku sekilas melihat salah satu penduduk des… Tidak, lebih baik aku tidak memikirkannya.

Ogre mirip gorila dengan mata haus darah itu sedang memakan makanannya dengan lahap. Satu-satunya yang kupahami dari hal itu adalah mereka sedang sangat lapar.

Untung saja kami tidak mengajak Tomoe…

Jika aku hanya mempertimbangkan tujuanku untuk mempelajari tentang monster, maka kemampuan Tomoe akan berguna. Tapi aku bisa paham hanya dengan melihatnya. Ada yang berbeda pada ogre-ogre ini. Mereka hanya berpikir tentang makan.

Jika bicara soal manusia dan binatang, setelah perut mereka penuh dengan makanan, mereka akan menenang. Namun, para ogre ini memang makan, tapi mereka tidak pernah menunjukkan tanda-tanda puas. Mereka seperti mayat hidup kelaparan yang keluar dari neraka. Jika Tomoe bisa memahami apa yang mereka katakan, dia mungkin akan pingsan karena terkejut. Itu adalah pemandangan yang sangat kejam.

Sambil menekan rasa mual, aku memberitahu semua orang tentang apa yang barusan kulihat.

Mendengar laporanku, Kuu memukulkan tinjunya ke tanah seolah-olah untuk melampiaskan rasa frustrasinya. “Para bajingan itu! Aku tidak akan pernah memaafkan mereka!”

Hal menyedekapkan tangannya dan berkata, “Apakah ada jarak di antara kedua kelompok itu? Akan sulit jika mereka berdekatan.”

“Mengalahkan kekuatan yang terpisah adalah strategi dasar, anda tau,” Kaede, yang merupakan wakil Ludwin di National Defense Force, menyetujuinya. “Jika bisa, saya ingin membereskan kelompok yang lebih kecil dengan cepat.”

Kaede meletakkan lima dan tujuh batu di atas tanah, dan kemudian membuat galian di antaranya menggunakan ranting.

“Saya ingin membuat jebakan di antara kedua kelompok itu. Jebakan yang akan menahan kelompok bertujuh jika mereka menyadari kalau ada yang salah dengan kelompok berlima dan bergegas memberikan bantuan, dan itu mungkin juga akan melukai mereka jika kita beruntung.”

“Apakah kita memiliki waktu untuk membuat jebakan?” tanyaku.

“Saya bisa dengan mudah membuat lubang menggunakan sihir saya, anda tau.” Itulah sebabnya saya ingin absen pada pertarungan melawan kelompok berlima, dan berkonsentrasi untuk memisahkan mereka. Jika bisa, saya ingin memiliki seorang pemanah yang bisa melukai dan melemahkan mereka…”

“Kalau begitu Leporina bisa ikut bersamamu,” kata Kuu. “Dia bertindak seperti orang bodoh, tapi dia adalah seorang pemanah yang hebat.”

“Anda tidak perlu memanggil saya bodoh, kan,” Leporina protes, tapi dia tetap mengikuti perintah Kuu.

Itu kurang lebih merupakan rencana pertarungan kami. Saat Kaede dan Leporina menahan kelompok bertujuh, Aisha, Hal, dan Kuu akan menangani kelompok berlima dengan kekuatan penuh. Aku sendiri hanya akan menjadi hambatan, jadi aku akan membantu mereka dari jauh menggunakan Little Musashibo (Kecil) bersenjatakan Bowgun yang kubawa.

Juna akan bertindak sebagai pengawalku dan memberikan komando.

Saat operasi dimulai, Kuu memberikan sebuah perintah. “Aku minta maaf telah melibatkan orang asing seperti kalian dalam masalah negaraku. Tapi untuk saat ini, tolong, pinjami aku kekuatan kalian! Ayo kita bereskan mereka dengan pasukan gabungan dadakan ini!”

“”””Yeah!””””

Meskipun kami adalah kelompok kecil yang dibentuk dengan terburu-buru, pertempuran gabungan pertama antara Kerajaan Friedonia dan Republik Turgis telah dimulai.

Dalam rangka untuk mengalahkan mereka semua sebelum ketujuh lainnya datang dari tempat lain, kami memutuskan untuk memulai operasi dengan sebuah serangan kejutan dengan kekuatan sebesar mungkin. Tujuannya adalah untuk memastikan setidaknya ada satu ogre yang kalah dalam serangan awal itu.

Dan diantara kami, orang dengan kekuatan terbesar adalah… Aisha.

“Hahhhhhh!”

Dengan sebuah teriakan perang, Aisha mengayunkan greatsword-nya.

Sama sekali tidak menyadari serangan itu, salah satu ogre terbelah dua tanpa bisa melakukan apapun. Keempat ogre lainnya panik saat mereka melihat salah satu temannya telah mati.

Lalu Aisha, Hal, dan Kuu menyerbu mereka.

“Aku yakin kau mengetahui ini, rambut merah, tapi kita tidak punya banyak waktu!” teriak Kuu.

“Aku tau, rambut putih!” Hal berteriak balik.

10

Tunggu, Hal, dia itu putra kepala negara, ok?

Kuu memegang gada berhias kelabang emas yang pernah kami lihat di lokakarya Taru. Hal memegang dua tombak pendek, tapi bagian bawah tombak itu dihubungkan oleh sebuah rantai tipis. Apakah itu adalah senjata baru yang katanya telah dia beli dari lokakarya Taru? Aku yakin itu disebut Tombak Ular Kembar.

“Kalian akan membayar untuk apa yang telah kalian lakukan kepada pendudukku!” Kuu memutar-mutar gada-nya seperti kincir, lalu menghindari serangan yang datang dengan gesit dan memukul dahi, leher, dan titik vital lain milik ogre yang menyerangnya. “Terlalu lambat! Terima ini juga!”

Kemungkinan besar, gada itu telah diperkuat menggunakan sihir. Setiap kali gada itu menyentuh daging, akan terdengar suara dentuman. Ogre itu memegangi tempat yang dipukul oleh gada itu dan mengerang kesakitan.

Dibandingkan dengan gaya bertarung Kuu, Hal bertarung dari jarak menengah.

Dia menyelimuti tombak di tangan kanannya dengan api, dan melemparkannya ke arah ogre. Saat ogre itu menghindarinya, tombak itu menancap di pohon yang ada di belakangnya. Pada saat itu, terjadi ledakan api. Terdengar suara ledakan keras dan pohon itu hancur berkeping-keping.

Ogre itu mendekati Hal, tak terpengaruh oleh ledakan itu, dan mengangkat tangannya yang besar.

“Oh, sial!” teriak Hal.

Sebelum ogre itu mengayunkan tangannya, Hal menarik tombak di tangan kirinya.

Hal itu membuat rantai yang menghubungkan kedua tombaknya ikut tertarik, dan tombak yang tertancap di pohon kembali ke tangannya. Hal menyilangkan kedua tombaknya dan menangkis pukulan ogre itu.

“Urgh… Ya, sepertinya aku terlalu memaksakan diri karena membawa senjata ini ke dalam pertarungan tanpa latihan lebih dulu,” erangnya.

Saat Hal memiringkan kedua tombaknya dan mengarahkan tangan ogre itu ke kanan, Hal memutar tubuhnya, dan mendaratkan tendangan memutar berapi ke pinggang ogre itu. Tubuh ogre itu, yang memiliki tinggi dua meter lebih, terlempar ke belakang sejauh lima meter.

Hal melemaskan lehernya, dan menatap ke arah ogre itu. “Sheesh… Aku harus berlatih agar bisa menggunakannya dengan cepat.”

Hal menyeringai, lalu kali ini melemparkan tombak kirinya ke arah ogre itu.

Saat Kuu dan Hal sepertinya sedang berada di atas angin dalam pertarungan mereka, Aisha sedang bertarung melawan dua ogre sendirian. Meski begitu, sama sekali tidak ada tanda-tanda Aisha sedang kesulitan.

Menangkis semua pukulan ogre itu dengan greatsword-nya, dia kemudian mengirimkan tebasan kepada mereka. Seiring waktu berlalu, jumlah goresan yang tercipta di tubuh kedua ogre itu terus bertambah.

“Sungguh tak berpengalaman. Ini bahkan tak bisa disebut pemanasan,” kata Aisha saat dia memotong lengan salah satu ogre.

Mereka bertiga sedang bertarung dengan sangat baik.

Kebetulan… untuk diriku, saat ini aku sedang melihat mereka dari jauh.

Hal itu agar aku bisa mengawasi kelompok ogre bertujuh yang sedang ditahan, sambil mengamati setiap aktivitas musuh di area terdekat.

Meskipun kadang-kadang aku melihat celah dan membuat Musashibo (Kecil) bersenjata Bowgun menembakkan senjatanya, otot tebal milik para ogre itu selalu menghalangi, jadi tembakan bantuanku hanya bisa menggelitik mereka.

“Semua orang begitu kuat,” gumamku kepada diri sendiri.

“Tentu saja,” kata Juna. Dia berdiri di sampingku sebagai pengawal. “Aisha dan Halberd-dono merupakan petarung terkuat di negara kita. Bisa saya bilang, Kuu-doni juga kuat. Saya tidak yakin apakah bisa mengalahkannya.”

“Oh, iya. Kalau dipikir-pikir, kau juga salah satu dari mereka, huh…”

Sebagai mantan komandan pasukan di angkatan laut, dia adalah seseorang yang memiliki kekuatan tidak kalah dengan yang lain.

“Aku tau kalau aku bisa mengandalkanmu,” tambahku.

“Hee hee,” Dia tampak senang. “Tapi… jangan sampai lengah, ok?”

Juna tiba-tiba menarik beberapa pisau dan melemparkannya ke depan.

Pisau berselimut air itu meninggalkan ekor saat mereka terbang ke depan, lalu tertusuk pada sebuah batu besar yang terbang ke arah kami tanpa kusadari, dan sesaat kemudian, batu itu hancur berkeping-keping. Sepertinya salah satu ogre yang dihadapi Aisha telah terpojok dan mulai melemparkan apapun yang bisa dia pegang. Salah satu benda yang dia lempar pasti telah terbang ke arah kami secara kebetulan.

“Karena hal yang benar-benar perlu ditakuti disaat seperti ini adalah serangan nyasar yang datang kearah anda tanpa niat membunuh,” katanya.

“Oh! Baik…”

Saat dia menyingkap rambutnya dan mengatakan hal itu, aku merasa diriku kembali jatuh cinta lagi kepada Juna.

Saat hanya tersisa satu ogre, kami menyadari ada pergerakan dari tujuh ogre lainnya.

“Ah! Tujuh ogre lainnya sedang menuju kemari! Kaede dan Leporina juga datang!”

Aku melaporkannya kepada semua orang, dan mempersiapkan diriku untuk kembali bertarung.

Leporina dan Kaede sedang berlari kemari. Mereka bergerak sesuai dengan rencana, tapi karena suatu alasan, Leporina tampak kebingungan. Dia langsung bergegas ke arahku.

“A-Ada apa?” tanyaku.

“Hah, hah… K-Kazuma! Selain tujuh ogre itu, ada kelompok lain yang datang dari arah jam delapan! Mereka berjumlah lima!”

Kelompok?! Sebuah bantuan?!

Tapi aku tidak menerima satupun laporan dari Kucing Hitam. Apapun itu, aku mengirimkan sebuah tikus kayu ke arah yang dikatakan Leporina. Lalu, saat aku mengonfirmasi kelompok itu… aku terkejut.

Huh?! Apa yang mereka lakukan disini?!

Aku begitu terkejut sampai kehabisan kata-kata. Saat aku tersadar, aku langsung menyembunyikan Little Musashibo ke dalam semak-semak. Akan buruk jika mereka melihatnya.

“A-Ada apa?! Apakah itu buruk?!”

Leporina menunjukkan ekspresi khawatir di wajahnya, jadi aku segera menggelengkan kepalaku.

“Oh… itu tidak masalah. Mereka bukan musuh kita.”

Dan kemudian mereka keluar dari balik semak-semak.

Kau bisa langsung mengenali kalau mereka adalah para petualang. Seorang swordsman tampan, pencuri tomboi berambut hijau, ahli bela diri berotot, priest santun berwajah lembut, dan seorang wanita cantik yang merupakan seorang mage. Aku… sangat mengenal orang-orang ini.

“Kami datang untuk membantu kalian menanggapi permintaan dari guild petualang!” teriak swordsman tampan yang bernama Dece. “Apakah ada seseorang yang bertanggung jawab disini?”

Setiap kali aku membuat Little Musashibo keluar dan menjadi petualang, ini adalah party yang sering kumasuki.

Nama si swordsman adalah Dece.

Pencuri wanita itu adalah Juno.

Pria santun itu berpakaian priest itu adalah Febral.

Mage perempuan itu bernama Julia.

Pria berotot itu adalah… Tunggu aku agak lupa. Dia tidak ada di dalam party saat aku pertama kali bergabung… Oh! Augus. Dia adalah Augus.

“Hm?”

Lalu Juno datang ke arahku, dan…

“Hei, kau. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” dia bertanya sambil menatap wajahku.

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Juno says:

    huuuuh…tiap kali gw liat ilustrasi Hal selalu mirip ama Souma dari tampang sampai penampilannya. lnjtkan tor.

    Like

    1. ALBARN says:

      wah ga nyangka si pencuri wanita di party ikut baca ni novel wkwkwk

      Like

    2. Alfa says:

      Iya, ya… Klo ngelihat gambarnya, ane kira jg itu Souma.

      Like

  2. Anonymous says:

    Ketahuan kah?!

    Like

  3. Roronoa Zoro says:

    makasih buat updatenya.. semangat terus min..
    selalu seneng kalo baca disini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s