Infinite Dendrogram Volume 5 Epilog C

Volume 5
Epilog C – Ray, sang Unbreakable

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Duel city Gideon, distrik pertama, Paladin, Liliana Grandria

Lonceng berdentang.

Tiga hari telah berlalu sejak malam penuh mimpi buruk itu. Dentangan lonceng yang jelas namun sedih itu bergema di seluruh kota, saat seluruh Gereja di Gideon menyuarakan requiem.

Itu adalah suara untuk hari kedua dari pemakaman massal selama tiga hari berturut-turut di sini di kantor ksatria di distrik pertama, berkabung terhadap para ksatria dan penjaga yang telah mengorbankan nyawa mereka dalam insiden itu.

Royal Guard kami telah kehilangan 18 orang, ksatria Gideon telah kehilangan 15 orang, penjaga kehilangan 28 orang, sehingga ada total 61 orang yang menjadi korban.

“… Enam puluh satu,” aku menyuarakan jumlah itu dengan pelan.

Satu-satunya anugerah adalah jumlah nyawa yang hilang disini relatif lebih sedikit dibandingkan kekalahan total yang kami alami selama perang. Dan yang terpenting, karena suatu keajaiban, insiden itu tidak membunuh satupun rakyak jelata. Meskipun, sedih memang, aku tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah hasil dari pengorbanan para prajurit yang telah meninggal.

Tanpa mengatakan satu katapun, aku menatap ke arah para pelayat.

Seorang bocah laki-laki sedang berdiri di depan peti mati dan memanggil ayahnya.

Seorang wanita jatuh berlutut, menangis tak terkendali.

Seorang pria tua menatap ke arah altar bunga, benar-benar mematung, seolah-olah sedang mengalami syok.

Sudah jelas, mereka adalah keluarga para ksatria dan penjaga yang tak akan pernah kembali lagi.

Aku bisa mengetahuinya karena mereka sama persis seperti diriku dan Milia saat kami menghadiri pemakaman massal bagi mereka yang kehilangan nyawa dalam perang… termasuk ayah kami.

“… Hhaah,” aku menghembuskan nafas sedih. Sebagai orang yang bertugas melindungi kerajaan, para ksatria dan penjaga sudah siap untuk mati.

Namun, aku yakin bahwa tidak ada satupun dari mereka yang menyangka bahwa mereka akan mati pada malam itu.

Kematian bisa datang tiba-tiba dan tanpa peringatan.

Ksatria dan penjaga Gideon telah dibunuh oleh para monster yang telah menyerang jalanan kota, atau para Master yang Master lain sebut sebagai “player killer,” sementara rekan-rekanku telah mati dalam pertarungan melawan Franklin. Beberapa telah dikalahkan oleh monster tentakel itu, sementara yang lainnya telah dimakan oleh naga super kuat yang terbungkus oleh aura merah itu.

Kami semua benar-benar tidak berdaya melawan mereka.

Tapi Ray dan kakaknya—King of Destruction, Shu Starling—dan banyak Master lainnya telah membalaskan dendam mereka yang telah kehilangan nyawa. Mereka telah menyelamatkan bawahanku dan juga tuan putri kedua kerajaan, sambil mengirim para “player killer” pembunuh tian ke gaol.

Berkat usaha mereka, banyaknya nyawa yang hilang telah terbayar, dan mereka yang mati di malam itu tidak mati sia-sia.

Aku terdiam.

Orang yang memulai insiden ini dan orang yang mengakhirinya sama-sama adalah Master.

Mereka hanya bisa menghentikan Franklin karena mereka sama seperti dirinya.

“Meski begitu, Master… mereka yang dipilih oleh Embryo… tidaklah spesial,” bisikku.

Mereka sama-sama manusia seperti kami.

Mereka hanya memiliki cara untuk lolos dari kematian dan diberkahi dengan kekuatan yang besar.

Meskipun mereka bisa mendapatkan kekuatan dengan cepat, kekuatan mereka bukanlah identitas mereka.

Itulah sebabnya ada beberapa Master yang menghancurkan Master lainnya, seperti Hell General dan Franklin, serta Master lain yang menghentikan mereka, seperti Ray dan King of Destruction. Hal itu juga berlaku bagi kami para tian.

Ada perbedaan kekuatan yang sangat besar antara tian dan Master, tapi mereka hanyalah manusia sama seperti kami.

Perbedaan kekuatan itulah yang menyebabkan hanya Master yang mampu menghentikan amukan Master lain. Itulah yang terjadi di malam itu… dan yang tidak terjadi pada perang setengah tahun yang lalu.

“Untuk melindungi Kerajaan kita memerlukan bantuan mereka… Nona Altimia,” aku bergumam dan membayangkan orang yang kulayani, tuan putri pertama dan yang bertindak sebagai penguasa negara, Altimia A. Altar.

Sayangnya, aku ragu kalau Yang Mulia Altimia berniat untuk meminjam kekuatan para Master.

Dia tidak menganggap mereka sebagai manusia yang sama seperti kami.

“Tapi…”

Insert5

Aku menatap ke arah altar bunga dan menyadari bahwa tangan kiri milik mereka yang meletakkan bunga disana bervariasi.

Mereka yang memiliki dan tidak memiliki tato sama-sama berkabung kepada nyawa-nyawa yang hilang dan menambahkan karangan bunga ke altar.

Ada yang dengan lembut menepuk kepala anak yang sedang menangis, ada juga yang menghibur anak lainnya dengan sebuah pelukan ringan.

Ada yang memapah seorang wanita yang hendak jatuh karena rasa putus asa yang terlalu besar.

Ada yang menggapai tangan seorang pria tua yang mematung karena syok, dan membantunya meletakkan bunga ke altar.

“Mereka benar-benar sama seperti kita… Nona Altimia,” bisikku.

Bicara soal Master, aku penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan, pikirku.

Kemarin, dia telah datang kemari untuk meletakkan bunganya pada saat pemakaman massal dibuka.

Dia baru saja kehilangan tangan kirinya, jadi kuharap dia tidak melakukan tindakan yang sembrono. Dengan apa yang telah dia lakukan selama masalah dengan Milia, Gouz-Maise Gang, dan Permainan Franklin, dapat dipastikan bahwa dia tak akan ragu melakukan hal-hal absurd demi kepentingan orang lain.

“Tapi hal itu mungkin adalah bagian yang kepribadiannya yang baik,” kataku pada diri sendiri dan merenung saat tiba-tiba, Sir Lindos berlari ke arahku dengan ekspresi panik.

“Nona Grandria! Kita punya masalah!” teriaknya.

“Oh? Apa masalah itu?”

“Yang Mulia Elizabeth, beliau…”

“Hari ini dia tidak memiliki urusan resmi, kan? Hari ini adalah hari libur baginya.”

Kemarin dia menghabiskan seluruh harinya untuk menghadiri pemakaman massal, dan menghabiskan hari-harinya sebelumnya untuk melakukan persiapan yang diperlukan untuk Clash of the Superior. Karena hal itu dan karena penculikan yang dilakukan Franklin, hari ini dia mendapatkan libur agar dia bisa beristirahat dengan benar.

“Apakah Yang Mulia mengatakan sesuatu?” tanyaku. “Jika dia ingin jalan-jalan, tugaskan saja beberapa Royal Guard untuk menemaninya, dan—“

“Dia meninggalkan catatan dan melarikan diri dari kediaman Count! Lagi!”

“… Augh.” Aku mengeluarkan suara aneh saat kepalaku menjadi pusing.

***

Duel city Gideon, arena di distrik keenam, Paladin, Ray Starling

Saat menggunakan Nemesis dalam bentuk greatsword atau halberd-nya, aku tak pernah merasakan sedikitpun beratnya. Keduanya bisa diklasifikasikan sebagai senjata super berat, tapi aku bisa mengayunkan mereka dengan mudah berkat hal itu.

Aku selalu bersyukur atas hal itu, tapi saya syukurku tidak pernah sebesar saat ini setelah aku kehilangan tangan kiriku.

Aku mencoba mengayunkan greatsword, kemudian membuatnya berubah ke bentuk halberd dan melakukan hal yang sama.

Meskipun aku tidak bisa memutar flag halberd karena adanya resiko menjatuhkannya, aku masih bisa menusuk, menebas, dan membelah tanpa banyak kesulitan.

“Sepertinya aku bisa melakukannya tanpa tangan kiriku,” kataku.

“Benar,” jawab Nemesis. “Hilangnya satu tangan tidak ada apa-apanya bagi kita.”

Yah, aku tak akan berpikir sejauh itu. Kehilangan sebuah tangan adalah hal yang cukup merepotkan. Namun, dia benar bahwa itu tidak memberikan banyak masalah saat bertarung dengan dirinya sebagai senjataku.

Namun, masalah yang sangat jelas adalah Gardranda.

Tanpa tangan kiriku, aku tidak bisa mengenakan bracer sebelah kiri, yang artinya aku tak dapat menggunakan Purgatorial Flame, yang merupakan salah satu skill andalanku. Saat meninju Franklin, sepertinya aku juga telah menemukan cara baru untuk menggunakan skill itu, tapi sepertinya saat ini pengujian hal itu harus ditunda.

Kupikir kehilangan tangan kiri akan membuatku tidak bisa menyimpan Nemesis, tapi tidak ada masalah soal hal itu. Tato yang awalnya ada di punggung tangan kiri telah berpindah ke lengan kiri atas—bagian yang masih tersisa.

Tentu saja, kehilangan sebuah lengan tidaklah cukup untuk membuatku kehilangan tanda bahwa aku adalah seorang Master.

“Tapi, memegangmu dengan satu tangan akan membuatnya cukup sulit untuk bertarung sambil menunggangi Silver,” kataku.

Maksudku, aku tidak benar-benar bisa memegang tali kekang Silver menggunakan gigiku.

“Mhm,” Nemesis setuju. “Tapi aku yakin itu adalah hal yang bagus disini.”

“Alasannya?”

“Kita hendak bertarung melawannya lagi, dan aku ingin menghadapinya sama seperti yang terakhir kali—hanya dengan kita berdua”

“Ara, bukankah kau cukup antusias,” ‘dia’ yang Nemesis maksud, Marie, menjawab dengan bercanda.

Sama seperti pertemuan kami di Noz Forest, dia diselimuti oleh kabut hitam yang sama dan memegang Embryo mirip pistolnya, Arc-en-Ciel, di tangan kanannya. Aku dan dia sedang berada di arena untuk melakukan tanding ulang yang telah kami janjikan saat bertarung melawan monster-monster milik Franklin.

Kami berhadapan satu sama lain di sebuah kotak yang dikelilingi oleh barrier transparan.

Selain kami, barrier itu berisi beberapa penonton—Rook, Baby, Shu, Figaro, dan satu orang lain.

Sebagai catatan sampingan, Rook telah mengetahui bahwa Marie adalah Superior Killer. Njay, Shu juga sudah mengetahuinya.

Pada dasarnya, Shu… King of Destruction telah mencoba membunuh Superior Killer meskipun itu menyebabkan terbakarnya seluruh Noz Forest, jadi tidak mengejutkan jika dia mengetahui identitasnya.

Bicara soal kejadian itu, sepertinya Shu melakukannya untuk membalaskan dendamku.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan tentang hal itu, termasuk tapi tak terbatas pada, “Oi gan, apa-apaan itu,” “Tidak ada yang memintanya,” dan “Kau menghanguskan sebuah hutan sialan,” tapi aku memutuskan untuk memberitahunya nanti.

Bagaimanapun, kami ditemani oleh seseorang yang jauh lebih merepotkan dari Shu.

“Marie, lakukan yang terbaik!”

Karena suatu alasan, tua putri yang telah susah payah kami selamatkan berada diantara para penonton.

“… Bisakah aku akhirnya mengetahui kenapa kamu ada disini, tuan putri?” tanyaku.

“Hm? Baiklah,” katanya.

Sepertinya, dia terbangun tepat sebelum pertarunganku di atas Pandemonium. Karena hal itu, dia dengan jelas mengingat bagaimana aku menghadapi Franklin dan bagaimana Marie menyelamatkannya.

Ingin berterima kasih kepada kami, dia menyelinap keluar dari kediaman count lagi dan berkeliling kota untuk mencari kami.

Selama pencariannya, dia menemukan Shu dan Figaro, keduanya mengenakan kostum yang benar-benar mencolok di kerumunan. Merasa bahwa dia bisa menemukanku dengan mengikuti kakakku, dia melakukan hal itu dan pada akhirnya sampai kesini.

Sepertinya, hari ini dia libur, tapi bukan itu masalahnya disini…

“Liliana!” teriakku, tak mampu menahannya. “Kau benar-benar perlu melakukan sesuatu terhadap keamananmu!”

“Kurang lebih itulah yang kurasakan. ‘Apa? Lagi?’ dan sejenisnya,” kata Marie. “Tapi, dari pada keamanan yang buruk, aku mulai berpikir bahwa Ellie lah yang benar-benar hebat dalam menyelinap. Bagaimanapun, ini kedua kalinya dia melakukannya.”

“Tuan putri mungkin memiliki bakat dalam hal itu,” tambah Rook. “Dia mungkin akan jadi pencuri yang hebat.”

Tuan putri yang merupakan seorang pencuri…? Apa?

“Pokoknya,” kata Marie. “Ellie sedang menonton, jadi kemenangan akan jadi milikku! Jangan harap akan ada keringanan maupun ampunan!”

“Yah, aku juga tidak mengharapkannya, tapi…”

Ini tidak seperti pertandingan balas dendam yang kubayangkan, pikirku.

Setelah Marie memberikan death penalty pertama kepadaku, aku membayangkan tanding ulang habis-habisan antara dua musuh. Tapi saat ini kami diselimuti oleh udara persahabatan yang damai.

“… Dan itu tidak masalah, sungguh,” kataku.

“Benar sekali,” setuju Nemesis.

Meskipun Marie pernah membunuh kami, sekarang dia tak lain adalah seorang teman, dan tidak mungkin itu adalah hal yang buruk.

“Tetap sama, aku menginginkan tanding ulang,” lanjutku.

“Heh heh,” Marie terkekeh. “Kau cukup bersemangat… Tapi apakah kau benar-benar merasa bisa menang?”

Yah, itu patut dipertanyakan…

“Mari kita lihat… kau jauh di atasku dalam hal level dan stats,” kataku.

Total level-nya berada di atas cap untuk low-rank dan high-rank job, sementara AGI-nya setidaknya puluhan kali lebih besar dari pada punyaku.

“Teknikku tak dapat dibandingkan dengan milikmu.”

Dia telah bertarung di Infinite Dendrogram jauh lebih lama dariku. Pengalamannya berada di level yang benar-benar berbeda.

“Dan aku disini tanpa tangan kiriku—keringanan yang cukup besar. Cukup jelas bahwa aku hampir tak memiliki kesempatan untuk menang.”

Pertarungan ini akan tetap sulit bahkan jika aku berada dalam kondisi sempurna, jadi sudah jelas ini tidak menaikan kesempatanku.

“Tapi… aku tak akan mengatakan bahwa aku tak bisa menang.”

Tidak peduli seberapa parahpun situasinya, aku tidak akan pernah menyerah tanpa mencoba terlebih dahulu.

“Jika ada kemungkinan yang kuinginkan, aku tidak akan pernah menyerah untuk meraihnya.”

Itulah yang diajarkan kakakku kepadaku.

“Itulah yang dimaksud merebut kemungkinan.”

Perkataanmu membuat Shu tertawa terbahak-bahak dan memberiku jempol.

“Itulah sebabnya aku melakukan ini untuk memenangkannya,” aku menyelesaikan pidatoku.

“Dan itulah sebabnya kau adalah Ray sang “Unbreakable.’”

“Unbre… Huh?” Apa?

“Oh? Kau tidak sadar?” katanya. “Itu adalah julukanmu.

“Aku punya julukan?”

“Benar sekali. ‘Adik King of Destruction, orang yang tidak menyerah di hadapan Superior.’”

“Yah, itu memang sesuatu…”

Sungguh julukan yang canggung, pikirku.

“Ada juga ‘Dark Paladin,’ ‘Pangeran Penunggang Kuda Perak,’ dan ‘Pahlawan Pengendali Cahaya dan Kegelapan Berpakaian Violet dan Crimson.’ Suka yang mana?”

“Unbreakable, plis.”

Itu bahkan tak bisa disebut pilihan.

“Aku cukup sukan dengan ‘Pangeran,’ sih,” komentar Nemesis.

“… Tidak, terima kasih.”

Bagaimanapun, “Unbreakable,” eh…? Aku sebenarnya agak menyukainya.

“Baiklah kalau begitu,” kata Marie. “Aku datang, Unbreakable!”

“Ya! Majulah, Superior Killer!”

Kami bersiap untuk bertarung.

Marie segera menarik pelatuk Arc-en-Ciel, membuatnya menembakkan puluhan peluru sama seperti saat dia pertama kali membunuhku. Ini adalah perulangan dari hari itu.

Kalau begitu, saatnya untuk quest, pikirku.

Targetku adalah PK terkuat, sang Superior Killer.

Destinasiku di seberang tabir peluru yang sudah akrab itu.

Dan tujuanku adalah… kemenangan.

“Ayo kita mulai…”

“… quest-nya!” Nemesis menyelesaikan perkataanku.

Aku memijak tanah yang ada di bawah kakiku dan berlari ke depan.

 

Bersambung ke episode selanjutnya…

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. Bambang Ariwibowo says:

    dan Ray tak pernah menang satu kalipun melawan Marie. agak kesel juga sih klo itu gw. ga peduli dia pernah baik (hahahahaha)

    Like

  2. figaro says:

    Jancuk lngsng duel, lngsng dpt kemungkinan untuk menang plng kg enk lht gini alurnya terlalu cepat di buay sma penulisnya sndri

    Like

  3. Rakha Kun says:

    Arigato minna-san telah mentranslatekan novel ini dan terima kasih atas kerja kerasnya

    Like

  4. Rakha Kun says:

    Arigato minna-san telah mentranslatekan novel ini dan terima kasih atas kerja kerasnya

    Like

  5. Kefvin says:

    Thanks, kuma

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s