Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 2 B

Volume 2
Chapter 2 – Klise di Gang Belakang Bagian 2

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

“Kita harus mencari cara untuk mendapatkan uang.” Aku kembali log in dan menyatakan tindakan kami selanjutnya.

“Yah, sisa uang yang kita miliki kurang dari 10,000 lir,” Angguk Nemesis. “Kita juga harus tetap mencari uang bahkan jika kita tidak memiliki masalah dengan Silver ini.”

Dia benar. Kami hampir bangkrut, jadi pada akhirnya kami harus tetap melakukannya.

Kelihatannya aku memiliki bakat dalam mendapatkan banyak uang dan segera kehilangan itu semua, pikirku. Aneh, mengingat bahwa aku tidak benar-benar menghambur-hamburkannya.

“Gacha,” kata Nemesis.

Se-sekali lagi, A-Aku tidak benar-benar menghambur-hamburkannya.

“Ngomong-ngomong, tidak seperti Permit yang pertama, yang kau dapatkan tadi belum di tanda tangani, kan?” kata Nemesis. “Kenapa kau malah memberikannya kepada Rook dan tidak menjualnya? Aku tidak yakin apakah kita bisa mendapatkan kembali uang 100,000 lir yang kau habiskan untuk hal itu, tapi setidaknya kau bisa menerima separuhnya, kan?”

“… Ah.” Kataku. Dia benar juga.

“Kau…“ Nemesis tidak bisa menemukan kata-kata untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan.

“Tidak, itu tidak masalah,” kataku. “Aku sudah memberikannya kepada Rook. Seorang pria tidak akan menarik kembali perkataannya. Kita akan menemukan cara lain untuk mendapatkan uang.”

“Itu mudah untuk dikatakan,” kata Nemesis. “Namun, Rook saat ini sedang offline dan tidur, sementara Nona Berkacamata itu sedang sibuk melakukan urusan lain. Ada batasan pada seberapa banyak hal yang bisa kita lakukan sendirian.”

“Yap, itu memang sebuah masalah,” kataku setuju. Aku bisa pergi dan menerima beberapa quest, tapi karena aku solo, pilihanku hanya terbatas pada quest dengan kesulitan rendah dan tentu saja dengan hadiah yang rendah.

Ada juga pertemuan yang kami rencanakan besok siang, jadi aku tidak bisa mengambil quest yang memakan banyak terlalu banyak waktu.

“Mungkin kita harus memburu bounty? Seperti iblis itu?” saran Nemesis.

“Itu akan membuat kita mendapatkan death penalty jika kita gagal, sih,” kataku. “Kita tidak bisa melakukannya karena rencana yang akan dilakukan besok.”

“Aku rasa dunia ini tidak cukup baik untuk memberikan cara mendapatkan 100,000 lir dengan cepat kepada kita,” kata Nemesis.

Waktu bukanlah masalah yang besar—aku masih memiliki banyak waktu setelah kejutan yang akan diberikan Marie besok siang kepada kami. Namun, aku ingin segera menunggangi Silver.

“Kalau begitu, bagaimana dengan arena?” tanya Nemesis. “Tempat itu memungkinkan sebuah pertarungan tanpa bahaya death penalty dan memberikan hadiah kepada pemenangnya, kan?”

“Benar, yah, aku sudah mencari tahu tentang hal itu dan menemukan bahwa kau hanya dapat berpartisipasi disana setelah memiliki total level diatas 51,” jawabku.

Selama pengujian tadi pagi, levelku telah naik menjadi 26. Aku masih memerlukan banyak waktu sampai bisa memasuki arena.

“Oh, iya!” Aku memikirkan sebuah ide. “Aku masih bisa bertaruh pada orang-orang yang bertarung! Aku akan mempertaruhkan uangku pada orang yang menurutku akan menang dan—“

“Jangan,” Nemesis memotong perkataanku. “Keberuntungan mungkin akan datang kepadamu jika kau benar-benar membutuhkannya, tapi pada dasarnya, kau hanyalah orang yang selalu sial.”

… Kau benar tentang hal itu, pikirku.

“Kurasa aku harus menyerah untuk mendapatkan Amulet of the Equestrian Tribe untuk hari ini atau besok dan hanya melakukan beberapa dasar pengumpulan uang,” kataku sambil menghela nafas.

“Ide bagus,” kata Nemesis. “Kalau begitu, ayo kita segera pergi ke Adventurers’ Guild.” Aku dan Nemesis mulai berjalan menuju distrik pertama Gideon, dimana bangunan itu berada.

“Ngomong-ngomong,” Nemesis kembali berbicara. “Aku tau bahwa kita tidak bisa meminjam uang dari Rook, tapi bagaimana dengan Kuma-niisan?”

“Meminjam uang kepadanya membuatku merasa seperti seorang pecundang,” kataku.

“Hmm…” Dia merenung. “Bagaimana dengan equipment lama—“

“Aku sudah menjualnya,” Jawabku sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya. Dan semua uang yang didapat dari hal itu telah menghilang kedalam perutmu, pikirku.

Satu-satunya hal yang kumiliki saat ini hanyalah perlengkapan yang kupakai dan sisa uang kurang dari 10,000 lir.

“Oh, percakapan tentang equipment ini membuatku teringat…” kata Nemesis. “Kenapa kau begitu menghindari kacamata?”

“… Apa?” tanyaku.

“Aku sudah penasaran dengan hal itu sejak pertemuan kita dengan penguin itu,” dia melanjutkan. “Aku mencoba mencarinya di dalam ingatanmu, tapi aku tidak dapat menemukannya karena itu berada di dalam ingatan yang paling dalam dan rahasia milikmu. Sejujurnya, pertahanan yang ada pada hal itu terlalu kuat, dan aku tidak punya pilihan lain selain bertanya kenapa.”

… Kelihatannya itu adalah pertanda kuat bahwa aku tidak ingin membicarakan hal itu dan oleh karenanya kau seharusnya tidak menanyakan hal itu kepadaku, pikirku. Tapi baiklah, aku akan memberitahunya. Aku dan Nemesis pada dasarnya adalah satu, jadi aku tidak akan rugi biarpun mengatakan hal ini kepadanya.

“Dulu saat aku masih kecil,” kataku, “Aku memiliki pandangan yang benar-benar buruk. Saat aku masuk kelas 4 SD, aku kebetulan adalah satu-satunya anak di kelas yang memakai kacamata.”

“Yah, hal seperti itu sering terjadi,” komentar Nemesis.

“Nama panggilanku segera menjadi ‘Nobi’, seperti seorang karakter dari seri Doraemon,” lanjutku.

“… Hm?” Nemesis menaikkan sebelah alisnya.

“Teman sekelasku lebih sering menggunakan ‘Nobi’ ketimbang nama asliku,” aku kembali berbicara. “Mereka sering memaksaku untuk mengatakan kalimat yang sering dia katakan pada seri Doraemon, meskipun aku tidak terlalu menyukai karakter itu. Bukan hanya itu, tapi tema dari festival seni sekolah entah bagaimana menjadi Doraemon, dan, tentu saja, aku mendapatkan peran sebagai Nobi.”

Itu bukan berarti aku sedang dibully. Ataupun aku adalah orang yang dikucilkan. Faktanya, aku memiliki banyak teman. Teman sekelasku pada saat itu benar-benar tidak memiliki biat jahat, dan hanya memberikan julukan itu kepadaku karena kami cukup akrab. Namun, kurangnya pemikiran yang benar telah menciptakan semacam sentimen di dalam diriku.

Pada dasarnya itu dapat dirangkum menjadi kalimat “Siapa yang kau panggil ‘Nobi’?” Atau, “Aku memang menyukai Doraemon, tapi ini dan itu adalah masalah yang benar-benar berbeda.”

Nemesis menatapku dalam diam.

“Ada apa, Nemesis?” tanyaku.

“Alasan itu terlalu sepele sampai-sampai aku tidak tau bagaimana harus menanggapinya,” jawabnya.

“… Yah, bahkan aku juga tau bahwa itu cuma masalah sepele,” kataku. Kakak perempuanku juga memberikan tanggapan seperti itu saat aku mengatakan hal ini kepadanya.

“Kau bilang kau memiliki pandangan yang buruk,” Nemesis kembali berbicara. “Apakah kau masih memakai kacamata di dunia nyata?”

“Tidak,” jawabku. “Pandanganku sudah membaik setelah latihan selama lima tahun penuh setelah festival seni sekolah itu.”

Aku memakan makanan yang bagus untuk mataku dan melatihnya dengan melihat benda-benda jauh dan menggerakkan bola mataku setiap hari. Itu adalah sebuah usaha yang berat.

“Aku mengakui kegigihanmu, tapi bukankah akan lebih baik jika kau membeli lensa kontak?” tanya Nemesis.

“Ide tentang meletakkan sesuatu kedalam mataku selalu membuatku takut,” jawabku.

“Master, kau…” Dia benar-benar tercengang dengan apa yang kukatakan.

“Pastinya, operasi mata menggunakan laser juga membuatku takut, jadi aku harus memperbaiki pandanganku dengan latihan rutin dan… Hm?”

Saat aku dan Nemesis berjalan melalui jalanan sambil bercakap-cakap, aku tiba-tiba mendengar beberapa suara tidak mengenakkan dari gang belakang terdekat.

Hal itu membuatku penasaran, jadi aku pergi menuju arah suara itu.

Agak jauh dari jalan utama, terletak di antara bangunan yang ada, ada sebuah area yang agak luas dimana aku melihat lima orang pria sedang mengelilingi seorang gadis kecil.

Mereka terlihat seperti preman yang biasa muncul di film. Pemandangan itu membuatku teringat dengan apa yang telah Liliana katakan kepadaku tentang tuan putri yang melarikan diri itu, yang membuatku membayangkan skenario klise dimana aku bertemu dengannya saat dia sedang diganggu oleh sekelompok bajingan tengik. Berpikir bahwa tidak mungkin seperti itu kejadiannya, aku kembali memandang ke arah mereka, dan… ternyata benar-benar bukan.

Gadis yang sedang kesulitan itu memiliki penampilan yang rapi, tapi dia memiliki wajah orang biasa. Tidak akan aneh jika aku melihatnya berdiri di luar restoran dan menarik para pelanggan. Gadis itu sudah pasti bukan tuan putri, tapi itu tidak masalah, mengingat seberapa besar masalah yang dia hadapi.

Isi dari pembicaraan mereka dapat diringkas menjadi seperti ini.

Gadis itu memiliki seorang adik laki-laki yang kemarin baru saja diculik.

Para preman itu mengirimkan pesan kepadanya, dan mengatakan bahwa dia harus menyediakan 200,000 lir jika dia ingin adiknya kembali. Mereka juga menambahkan bahwa adiknya akan dibunuh jika dia memberitahukan hal ini kepada para ksatria.

Gadis itu pergi kesana-kemari, meminjam uang dan menjual barang-barang milik keluarganya sampai dia akhirnya berhasil mengumpulkan 200,000 lir. Dia kemudian membawa uang tebusan itu ke tempat yang telah dikatakan oleh para penculik—gang belakang ini—dan menyerahkan uang itu kepada mereka.

Para preman itu telah siap menerima uang itu, tapi mereka sudah jelas tidak berniat mengembalikan adiknya. Bukan hanya itu—mereka juga ingin mengambil gadis itu sebagai bonus.

Dasar sialan, pikirku. Mereka benar-benar bajingan sampai ke intinya.

Mereka adalah tian, bukan monster—setidaknya dalam istilah game—tapi sudah jelas bahwa memberi mereka pelajaran tidak akan membuatku merasa bersalah.

Dan membiarkan hal ini begitu saja akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.

Dengan pemikiran itu, aku berdiri dan menunjukkan diriku didepan para bajingan itu.

“Cukup sampai disitu!” aku berseru dan segera menyadari bahwa suaraku entah bagaimana tersinkron dengan suara lain.

“… Hm?” Aku berkata dengan terkejut, dan suaraku kembali tersinkron dengan suara lain.

Baik, apa-apaan ini? Pikirku.

Aku tidak melakukan hal spesial—aku hanya melompat keluar dan mengatakan sesuatu—tapi suaraku keluar seolah-olah itu tersinkron dengan suara lain.

Beberapa saat kemudian, aku menyadari penyebabnya. Ada orang lain yang berdiri di belakang para bajingan dan gadis itu—disisi lain gang belakang ini.

Dia adalah seorang pria muda yang terlihat seumuran denganku dan mengenakan pakaian dengan desain aneh yang terlihat seperti campuran dari seragam militer dan pakaian geng motor. Sarung tangan yang dia pakai menunjukkan punggung tangannya, dan terdapat tato di punggung tangan kirinya, yang memastikan bahwa dia adalah seorang Master.

“Itu tidak penting,” katanya. “Menjauh dari gadis manis itu, wahai para sampah.”

Kelihatannya, dia hanyalah orang yang kebetulan memiliki pemikiran yang sama dengan pemikiranku disaat bersamaan.

“T-Tolong, selamatkan aku!” kata gadis itu.

“Heh,” pria itu tersenyum. “Tentu saja. Semua bunga yang indah memiliki duri. Dan sudah menjadi misiku untuk hidup sebagai duri bagi para nona secantik dirimu dan menusuk setiap sampah yang mencoba menyakitimu.”

Meskipun kami memang mirip dalam beberapa aspek, tapi aku sama sekali bukan pujangga seperti dirinya. Aura yang ada di sekitarnya hampir membuatku membayangkan mawar dan berbagai cahaya tak masuk akal seperti yang ada di dalam manga sedang ditujukan kepada gadis itu atau singkatnya sebuah pertunjukkan Takarazuka Revue.

“Siapa kalian berdua, hah?” tanya seorang preman.

Preman lainnya merasa bersemangat. “Huh? Situ mau nantang? Maju lu, njinx!”

“Hyahaah!” satunya lagi berteriak dengan cara yang menjijikkan.

“Kami berlima disini, dasar kidz zaman now!” kata preman satunya lagi.

“Kami dua kali lipat lebih banyak dari elu!” tambah preman terakhir.

Itu bukan dua kali lebih banyak, dasar goblok, pikirku. Itu 2.5 kali lipat.

“Heh,” sang Pujangga itu tersenyum. “Jumlah kalian memang lebih banyak, tapi bagaimana dengan level kalian?”

“Huh?!” Salah satu dari mereka mulai ketakutan.

“Dari apa yang kulihat, kalian semua hanya memiliki job level rendah,” kata Pujangga aneh itu. “Ngomong-ngomong, total levelku adalah 126.”

“A-Apa?!” Mereka semua ketakutan secara bersamaan.

“Heh,” dia kembali tersenyum. “Sekarang, terimalah hukuman dariku. Aku hanya harus memanggil garasiku dan…”

“Hajar dia sebelum dia dapat melakukan apapun!” teriak salah satu preman. Keempat preman lain mengeluarkan teriakan perang dan menyerbu ke arahnya.

“Apa?!” pria itu terkejut. “Tunggu, aku harus masuk kedalam Magingear milikku dan… Tapi tidak masalah! Aku akan melakukannya dengan tangan kosong jika kalian memaksa!”

Aku merasa seperti sedang membaca sebuah manga kekerasan. Kelima preman itu berlari ke arah pria berpakaian militer sambil mempersiapkan tinju mereka.

Dan dengan begitu, karena orang aneh itu terlalu mencolok, aku benar-benar diabaikan disini.

“Oh baiklah,” aku menghela nafas. Timing-nya sedang bagus, jadi aku berbicara kepada gadis itu. “Kau harus melarikan diri sekarang.”

“Te-Terima kasih banyak!” Dia berterima kasih kepadaku dengan suara yang masih sedikit ketakutan dan berlari ke jalan yang ada di belakangku.

“Baik, sudah beres,” kataku. “Dan pertarungannya… tunggu, apa?”

Aku menatap ke arah samping dan—dengan terkejut—melihat pria berseragam militer itu sedang dipukuli sampai babak belur. Kelima preman itu bukan tanpa luka atau sejenisnya, tapi bisa dibilang bahwa itu benar-benar pertarungan satu sisi.

Kelihatannya jumlah mereka terlalu banyak untuk dia tangani sendirian, pikirku. Tapi tunggu, level totalnya adalah 126, jadi bagaimana… Oh, aku paham.

“Memiliki level total yang tinggi tidak berarti bahwa kau juga memiliki stats yang tinggi,” kataku dengan keras. Dia mungkin sama seperti Rook, yang—karena merupakan seorang Pimp—hanya memiliki separuh dari sebagian besar stats-ku meskipun levelnya dua kali lipat dari levelku.

Namun meski begitu, 126 adalah level yang lumayan tinggi. Jika kelima preman itu bisa menanganinya dengan begitu mudah, bukan tidak mungkin bahwa aku juga akan berakhir seperti itu.

Saat pemikiran itu memasuki kepalaku, salah satu preman itu mengangkat tinjunya dan berlari ke arahku. “Kau selanjutnya!”

Aku menghindari serangannya dengan panik dan menyerang balik dengan sebuah pukulan yang ku arahkan tepat ke wajahnya.

Sesaat kemudian, pria itu terlempar ke seberang gang.

“… Eh?” Keempat preman lainnya terkejut.

“… Kenapa?” Tanyaku, sama terkejutnya dengan para preman itu.

Menduga bahwa Nemesis telah melakukan sesuatu, aku berbalik dan menatap ke arahnya. Dia menanggapi hal itu dengan sedikit helaan nafas dan menunjuk ke arah punggung tanganku. Hal itu membuatku melihat ke arah punggung tanganku dan mengingatkanku akan fakta tertentu.

Aku sedang memakai Miasmaflame Bracers.

Saat mengujinya tadi pagi, aku hanya berfokus pada kemampuannya dalam mengeluarkan api dan gas, tapi bukan hanya itu yang dimilikinya. Item ini juga dapat digunakan untuk bertahan dan memberikan bonus pada stats-ku. Lebih tepatnya, itu meningkatkan STR-ku sebanyak 100%.

Dulu saat aku masih level 0, STR-ku berada pada kisaran 10. Aku sama sekali tidak kesulitan menggerakkan tubuhku pada saat itu, jadi aku hanya bisa berasumsi bahwa jumlah itu menggambarkan kekuatan seorang pria dewasa. Sejak saat itu, aku sudah naik level dan meningkatkan stats-ku, dan ditambah bonus dari Miasmaflame Bracer, STR-ku sekarang berjumlah lebih dari 400. Itu berarti bahwa aku baru saja memiliki wajah preman itu dengan kekuatan 10 kali lipat rata-rata pria dewasa.

“Apakah dia mati?” Dengan sedikit khawatir, aku memeriksa preman, yang sedang terbaring di seberang gang itu.

Dia mengejang, jadi dapat disimpulkan bahwa dia selamat. Aku menghela nafas lega. Sudah cukup jelas bahwa mereka memiliki job yang berfokus pada pertarungan, jadi mereka mungkin lebih tangguh dari pada orang dewasa pada umumnya.

“Tidak ada masalah kalau begitu,” kataku saat mendekati mereka sambil saling menghantamkan bracer di kedua tanganku.

Hasilnya akan terlalu buruk jika aku menggunakan Nemesis, jadi aku memilih untuk menyelesaikan hal ini dengan kedua anak nakal yang ada di tanganku.

“Siapa selanjutnya?” tanyaku.

“Eee!” salah satu dari mereka berteriak seperti gadis kecil.

Aku mungkin terlihat sedikit terlalu mengintimidasi, karena mereka segera menjadi pucat, berbalik, dan lari seperti kacoak.

“S-Sialan!” Teriak salah satu dari mereka. “Jangan sombong dulu, dasar bangsat! Kami masih menyandera adik gadis itu!” Dengan itu, mereka menghilang ke jalan utama.

Njir, sungguh preman yang klise, pikirku.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanyaku. “First Heal.”

Aku berjalan ke arah pria berseragam militer yang babak belur itu dan mengaktifkan sihir penyembuhku kepadanya.

Lukanya tidak terlalu parah seperti yang kubayangkan, dan sihir penyembuhan dasar milikku bisa dengan cepat menyembuhkannya.

“Heh, terima kasih,” katanya penuh syukur. “Hm? Telinga itu…” Dia menatap ke arah benda yang ada di atas kepalaku—telinga anjing yang disebabkan oleh penguin gila itu.

“Ada apa dengan mereka?” tanyaku.

“… Oh, bukan apa-apa,” jawabnya. “Itu adalah aksesoris yang bagus.”

“Temukan seekor penguin dan kau bisa mendapatkan telinga seperti ini,” kataku.

“Heh.” Dia kembali tersenyum. “Aku akan mengingat hal itu.”

Pria itu berdiri dan membersihkan debu yang ada di pakaiannya. Bahkan tindakan itu terlihat terlalu dibuat-buat.

“Aku merasa bahwa ini adalah pertemuan yang ditakdirkan,” katanya. “Izinkan aku memperkenalkan diriku. Namaku adalah Hugo Lesseps. Aku adalah seorang Master dan job-ku adalah High Pilot.”

“Aku Ray Starling,” jawabku. “Aku adalah seorang Master dan seorang Paladin. Dan ini adalah Embryo milikku, Nemesis.”

“Begitu… Type Maiden adalah Embryo yang cukup sangat langka,” katanya. “Suatu kehormatan dapat bertemu dengan nona yang manis sepertimu.”

“Senang bertemu denganmu juga,” kata Nemesis.

Aku cukup tertarik karena dia dapat mengetahui bahwa Nemesis adalah Maiden dan bukan Guardian hanya dengan sekali lihat.

Tapi njir, caranya berbicara terdengar seperti seorang aktor di dalam drama atau sejenisnya, pikirku. Aku penasaran dari mana dia berasal. Jika namanya ada hubungannya dengan hal itu, maka dia mungkin berasal dari Prancis.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau dapat dikalahkan dengan begitu mudah?” tanyaku. “Apakah job milikmu tidak berfokus pada pertarungan atau sejenisnya?” Mereka sangat lemah saat aku bertarung dengannya, jadi wajar kalau aku berpikir bahwa seseorang dengan level total 126 dapat menangani mereka dengan mudah.

“Heh.” Dia kembali tersenyum. “Aku adalah seorang Pilot level 50. Mechanic level 50, dan High Pilot level 26. Leveling menggunakan job-job itu hanya meningkatkan HP, MP, SP, dan DEX milikku, jadi jumlah stats-ku yang lainnya tidak jauh berbeda dengan saat aku baru mulai bermain!”

Itu sepertinya bukan sesuatu yang bisa kau banggakan. Juga, aku hanya bisa bertanya-tanya, job seperti apa yang memiliki pertumbuhan stats seperti itu.

Apakah dia mengendarai mobil atau sejenisnya? Pikirku. Apakah dia seperti seorang karakter dari Metal Max atau sejenisnya?

“U-Umm…” Kataku.

Saat aku sedang memikirkan job yang dimiliki Hugo, seseorang memanggilku.

Aku berbalik dan melihat gadis yang baru saja kami tolong. Kelihatannya, dia memilih untuk menunggu di dekat sini dari pada melarikan diri.

“Te-Terima kasih banyak karena telah membantuku!” tangisnya.

“Oh, itu tidak perlu,” kataku. “Aku melakukannya karena aku menginginkannya.” Juga, jika aku tidak melakukannya maka hal itu akan meninggalkan rasa pahit dimulutku.

“Heh.” Hugo kembali tersenyum. “Aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak tau apakah aku bisa tidur di malam hari setelah mengabaikan seorang gadis yang sedang kesulitan.”

Bukankah itu sangat mirip dengan pemikiranku tentang situasi ini? Pikirku.

“U-Umm… Apakah kalian berdua adalah Master?” gadis itu memberanikan diri untuk bertanya.

“Ah, benar,” kata Hugo. “Diriku dan Ray adalah Master.”

Gadis itu menjatuhkan diri di depan kami dan menempelkan kepalanya ke tanah.

“Nona…” Hugo tidak yakin bagaimana harus menanggapi hal itu. “Tolong angkat kepalamu.”

“Tolong… Tolong selamatkan adikku!” katanya sambil memohon. “Aku mohon kepada kalian berdua!”

Oh, ya, para preman itu mengatakan sesuatu tentang hal itu sambil melarikan diri, pikirku.

“Menyelamatkannya? Maksudmu, dari para preman itu?” tanyaku.

“Y-Ya!” kata gadis itu. “Mereka adalah Gouz-Maise Gang… Mereka menculik anak-anak, dan jika mereka tidak mendapatkan tebusan, anak-anak itu akan dibunuh dan di-dimaka—ohhh…”

Perkataannya membuatku terdiam.

Membunuh dan memakan anak-anak? Pikirku dengan tercengang. Ohhh, man…

“Mereka menculik adikku, jadi tolong, selamatkan dia!” seru gadis itu. “Aku bisa memberikan uang ini kepada kalian! Dan jika itu tidak cukup, aku akan melakukan apapun yang kalian mau…”

Dia mengulurkan tas berisi uang tebusan ke arah kami dan memohon sambil menangis tersedu-sedu.

Aku mengetahui masalah yang ada setelah menguping pembicaraan mereka sebelum melompat keluar untuk menolongnya. Ditambah, adiknya akan dibunuh dan dimakan cepat atau lambat. Untuk mencegah hal itu menjadi kenyataan, seseorang harus bertindak cepat, dan satu-satunya orang yang dapat melakukan hal itu adalah Aku dan Hugo.

Sejujurnya, aku sudah punya firasat bahwa semuanya akan menjadi seperti ini pada saat aku menunjukkan diriku didepan para preman itu, pikirku. Itulah sebabnya aku sudah siap sepenuhnya untuk menghadapi risiko yang ada.

“Aku akan melakukannya, “ kataku. “Aku tidak memerlukan bayaran itu, sih.”

“T-Tapi…”

“Kau sudah berusaha keras untuk mengumpulkan uang tebusan itu, kan?” kataku. “Aku tidak bisa menerimanya.” Aku merasa bahwa aku akan melakukan sesuatu pada hal ini bahkan jika gadis ini tidak memintanya. Jika aku mengabaikan hal ini, rasa yang tertinggal di dalam mulutku akan menjadi sangat buruk.

“Bagaimana denganmu, Hugo?” tanyaku.

“Heh.” Dia tersenyum. “Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja aku akan melakukannya. Dan aku juga tidak memerlukan uang itu,”

Hugo meletakkan satu lututnya ke tanah, dengan lembut meletakkan tangannya di dagu gadis itu, dan membuatnya menatap ke atas. Dia kemudian dengan lembut mengusap air mata gadis itu menggunakan jempol tangan kanannya.

“Nona,” katanya dengan lembut. “Kami akan menghentikan air matamu.” Dan kemudian—seolah-olah sedang bermain drama—Hugo tersenyum ke arahnya. “Aku berjanji bahwa kau akan menyambut esok pagi dengan senyum di wajahmu.”

[Quest “Selamatkan Roddie Lancarse, Tingkat Kesulitan 8” telah dimulai]

[Silahkan lihat quest window untuk rincian lebih lanjut]

Sebuah pesan yang dikirimkan ke telingaku mengumumkan dimulainya sebuah event quest. Kelihatannya, hal yang sama juga terjadi pada Hugo.

“Ayo kita pergi, Ray,” katanya. “Misi kita sudah menunggu.”

“Ok,” Aku menghela nafas. “Aku bisa menari mengikuti irama mu.” Target quest kami adalah “Selamatkan Roddie Lancarse” dengan tingkat kesulitan 8. Tempat tujuan kami adalah persembunyian penculik dan pemakan manusia—Gouz-Maise Gang.

Tujuan kami adalah… sebuah pagi dengan senyuman.

Dan dengan begitu, kami memulai quest kami.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Makh says:

    Nah iya ntu ,kalo bisa di revisi lagi min, pake bahasa yg baku biar nyaman baca ny 😁

    Like

  2. Masuk says:

    Bahasa yg baku lu..jangan bahasa jaman now..jadi mlas baca ..contoh nya agan, elu, kids jaman now,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s