The Faraway Paladin Volume 1 Chapter 2 D

Volume 1
Chapter 2 (Bagian 4)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Berdasarkan “episode”-ku dengan Blood dan Gus mungkin memberimu kesan bahwa aku adalah seorang bocah pembuat onar. Tapi pada dasarnya aku adalah anak yang baik. Setidaknya… begitulah menurutku. Mungkin. Kemungkinan besar.

“Mary, aku sudah mencabut rumput yang ada di kebun. Dan juga, aku sudah menjemur cuciannya.”

“Terima kasih, Will.”

“Dan juga, aku sudah membersihkan patung para dewa dan meletakkan sedikit bunga di bawahnya.”

“Oh, masyaallah.”

Buktinya, akhir-akhir ini, aku sampai pada titik dimana aku hanya membantu Mary melakukan pekerjaan sehari-hari, aku akan mengalahkannya dalam hal itu. Anehnya, itu jauh lebih sulit dari pada kedengarannya. Aku tidak bisa hanya menunggu perintah. Aku harus benar-benar memahami prosedur Mary, memikirkan tentang apa yang diperlukan, dan menanganinya sebelum dia dapat melakukannya.

Mary begitu cepat. Dia memberitahuku bahwa trik untuk membuat pekerjaan sehari-hari menumpuk adalah kau harus segera menanganinya tepat pada saat kau menyadari mereka. Alat-alat pembersih dan berkebun di letakkan di tempat yang mudah dijangkau kapan saja, dan saat dia menyadari ada sedikit debu atau rumput, dia menanganinya di sana-sini, dan menyingkirkan mereka dari pandangannya.

Untuk melakukan sesuatu sebelum dia bisa melakukannya, aku harus terus-menerus melakukan pengawasan, dan aku juga tidak boleh membiarkan diriku malas-malasan. Selalu berpikir untuk mengurangi beban kerja Mary saat aku sedang menjalankan aktifitasku sendiri telah lebih banyak memberiku pelajaran, bahkan melebihi pelajaran yang diberikan oleh Blood dan Gus kepadaku. Setidaknya dalam hal bagaimana hal itu berdampak pada kehidupan biasaku, itu jauh lebih penting dari pada memperkuat ototku.

Jika aku setidaknya melakukan sedikit pekerjaan rumah dui kehidupanku sebelumnya, aku pasti bisa sedikit mengurangi beban yang kuberikan kepada keluargaku. Sekarang saat aku hidup di dunia ini, aku tidak pernah ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.

“Terima kasih banyak, Will. Yah, sekarang aku punya sedikit waktu luang. Aku tau, kenapa kita tidak memotong rambutmu hari ini?”

“Ah, ide bagus.”

Rambutku sudah tumbuh cukup panjang tanpa kusadari. Kapan terakhir kali Mary memotong rambutku?

Dia bagus dalam memotong rambut. Gus, kebetulan, tidak pernah menawarkan diri, dan pada saat aku meminta Blood melakukannya, hasilnya dapat disimpulkan dengan kata “mengerikan.”

“Ok, siap. Terima kasih, Mary.”

Akhirnya suaraku mulai berhenti berubah baru-baru ini. Aku sudah tumbuh jauh lebih tinggi, dan bahuku juga jadi semakin lebar. Aku sudah melewati Mary dan Gus dalam hal tinggi, dan meskipun aku masih belum bisa disejajarkan dengan Blood, perbedaan fisik kami sudah sedikit mengecil. Sekarang aku bisa berlatih pertarungan tangan kosong dengannya.

Ini adalah pagi musim gugur yang menyegarkan. Mary memotong rambutku tanpa menunjukkan keraguan menggunakan sebuah gunting yang tajam.

“Aku bisa melihat kalau jakun-mu sudah muncul sekarang. Tak lama lagi kau mungkin akan memiliki jenggot.”

“Ya. Mungkin aku akan meminta Blood mengajarikui bagaimana cara menggunakan pisau cukur. Aku penasaran apakah dia masih mengingatnya.”

Mary mengeluarkan sebuah tawa kecil. “Aku juga penasaran. Aku menduga kalau dia sudah tidak menggunakannya dalam waktu lama.”

Pisau cukur listrik sudah menjadi hal yang umum di duniaku sebelumnya. Aku penasaran ada berapa banyak pemuda yang pernah memotong jenggot mereka menggunakan pisau cukur biasa. Tentu saja, aku juga tidak bisa melakukannya. Aku harus belajar.

Dan lagi, memotong dirimu sendiri menggunakan pisau cukur terlihat menyakitkan. Jika budaya di dunia luar mengizinkannya, mungkin tidak akan terlalu buruk untuk membiarkannya tumbuh begitu saja…

“Kalau dipikir-pikir, seperti apa rupa Blood dulu?”

Gus sepertinya memiliki wajah seperti dulu. Mary hanya kekurangan kelembaban, dan masih memiliki rambut pirang yang lebat dan mata lembutnya, jadi setidaknya aku bisa membayangkan bagaimana wajahnya dulu. Blood adalah yang tersulit.

Mary berhenti menggunting dan melihat ke kejauhan penuh kesenduan.

“Blood tampak sangat berbeda denganmu. Aku yakin kau bisa mengetahuinya dari struktur kerangkanya. Tangan dan lehernya begitu tebal, dan dia memiliki bahu yang lebar. Dia memiliki wajah liar… sebuah wajah gigih, penuh rasa percaya diri. Rambutnya yang beterbangan di tengah angin terlihat seperti surai singa. Dia memiliki mata yang tajam menusuk. Mungkin tampak sedikit terlalu sulit untuk menyebutnya tampan?”

Aku membayangkan otot-otot kekar bertumpukan di atas kerangka Blood. Aku menambahkan kulit di atasnya, dan menambahkan rambut. Tatapan menusuk, liar dan berotot, singa dari para pria

“Whoa, aku bisa melihatnya.”

“Benar, kan? Dia cukup keren,” Mary tertawa dengan agak malu-malu. Mungkin mereka benar-benar memiliki hubungan tertentu.

Aku tidak benar-benar mengetahuinya, karena keduanya tidak pernah menghilangkan sikap dewasa mereka di depanku. Bahkan dengan ingatan hidupku sebelumnya, aku tentu saja tidak tau tentang hal-hal seperti ini.

Mary kembali menggunting, dan helaian rambutku kembali berjatuhan ke atas lantai.

Tangannya bergerak seolah-olah dia sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Kadang-kadang, dia akan melihatku dari berbagai sudut untuk memeriksa bagaimana kelihatannya.

“Selesai,” katanya setelah beberapa saat, dan memberikan sebuah cermin tangan kepadaku.

Seorang pemuda dengan rambut rapi dan ceria menatapku balik dari dalam cermin. Dia memiliki rambut cokelat chestnut yang agak berantakan, dan aku mendapatkan kesan lembut dari matanya yang berwarna hijau tua. Dilihat dari wajahnya dia mirip seperti anak kaya yang di manja, tapi dengan tubuh berotot, dia lebih terlihat seperti warrior muda dari keluarga berada.

Marie tertawa kecil. “Kupikir kau cukup tampan, kan?”

“Kupikir tidak begitu. Aku lebih suka wajah seperti Blood.” Dunia ini sepertinya berbahaya, jadi kupikir wajah yang tampak kuat dan mengintimidasi mungkin akan berguna. Sementara untuk alasan pribadi, aku hanya ingin terlihat sepertinya. “Sayang sekali kami tidak terlalu mirip.”

“Dua Blood mungkin akan terlalu banyak,” kata Mary sambil tertawa. “Tapi kupikir kau sudah benar-benar tampak lebih dewasa—oh, iya.”

“Hm?”

“Sebentar lagi akan tiba waktunya untuk ritual kedewasaanmu, ingat,” Katanya, saat dia melepaskan kain dari leherku dan membersihkan rambut yang ada di atas lantai. “Kau harus memikirkan dewa penjagamu dengan sungguh-sungguh, dan memutuskan sumpahmu.

Sial. Aku benar-benar lupa.

*

Dunia ini memiliki banyak dewa. Dewa besar, dewa kecil—semua berbeda, dan semua dihormati oleh seseorang.

Masing-masing orang memiliki “dewa penjaga,” dewa yang paling dipercayai oleh orang tersebut. Aku diberitahu bahwa sampai anak-anak menjadi dewasa, dia dianggap berada di bawah perlindungan dewa penjaga milik orang tuanya. Ritual kedewasaan dilakukan untuk melepaskan diri dari perlindungan itu: menentukan dewa penjagamu sendiri, membuat sebuah sumpah, dan mengharapkan perlindunganmu sendiri.

Hal itu dilakukan agar orang-orang bisa hidup dan mati dengan cara yang bisa membuat dewa pelindung mereka merasa puas. Itu terdengar penuh batasan, tapi sepertinya kau bisa melakukan ritual itu lagi untuk mengganti dewa pelindungmu, jika sikap dan keadaanmu berubah.

Dan juga, sudah biasa bagi orang-orang untuk memuja dewa lain selain dewa penjaga mereka ketika memang diperlukan. Contohnya, hampir setiap orang akan memberikan persembahan kepada Whirl, dewa angin, sebelum mereka melakukan perjalanan. Sepertinya itu bukanlah jenis polytheist yang ketat.

Pandangan mereka tentang kehidupan dan kematian di dasarkan pada reinkarnasi.

Saat seseorang mati, mereka akan dipanggil keluar dari dimensi ini, ke tempat dewa yang mereka percayai, dimana tindakan mereka selama masih hidup akan diperhitungkan. Jika sang dewa merasa puas dengan hal itu, peristirahatan seseorang akan berlangsung di tempat yang nyaman. Jika tidak, penyesalan akan menghantuinya di tengah siksaan yang pedih. Dan setelah jangka waktu tertentu, mereka akan dilahirkan kembali. Setelah kelahiran yang berulang kali seperti itu, setelah jiwa telah dipoles sampai derajat tertinggi, orang tersebut akan menaiki tangga menuju kedewaan. Pahlawan dan orang-orang suci tertinggi akan melampaui dimensi manusia, dan menjadi dewa.

Aku merasa kalau itu sulit dipahami secara konkret. Di negara-negara polytheist seperti Jepang dan Roma, individu yang benar-benar luar biasa akan disembah sebagai dewa setelah kematian mereka. Apakah tujuannya untuk menjadi sesuatu seperti itu?

Lorong kuil itu terlihat agung seperti biasa. Sudah banyak waktu berlalu sejak aku pertama kali terbangun di sini pada hari itu. Melalui tahapan pertumbuhan dan pembelajaran tentang dunia ini, aku sudah mengetahui nama masing-masing dan setiap dewa yang digambarkan dalam patung-patung itu. Mereka adalah dewa-dewa yang paling terkenal, yang sudah ada di dunia ini sejak dahulu kala.

Pria mengesankan dengan aura luar biasa, di masa-masa primanya, memegang sebuah pedang berbentuk petir di tangan kanannya, dan satu set timbangan di tangan kirinya—

Dia adalah dewa keadilan dan petir, Volt. Dia adalah pemimpin para dewa baik. Dewa para dea dan pelindung manusia, dia mengendalikan hujan penuh berkah, begitu juga petir yang merupakan hukuman ilahinya. Banyak orang menaruh kepercayaan kepadanya, dari para penguasa sampai orang biasa. Kakak laki-lakinya, dewa jahat Illtreat, memerintah dalam tirani, dan keduanya sering terlibat dalam pertarungan sengit.

Wanita dengan senyum menawan, yang menggendong bayi di tangannya, dan berdiri di depan latar belakang tanaman padi yang tumbuh dari bumi—

Mater sang Dewi Bumi. Dia adalah dewi yang dipercayai Mary, dan mengendalikan karunia bumi dan perawatan anak-anak. Dia juga dikatakan sebagai istri Volt. Berkah yang dibuat olehnya secara umum berhubungan dengan pertanian dan pertumbuhan anak, dan orang-orang di wilayah pedesaan khususnya mengimaninya secara mendalam, bersama dengan Volt.

Pria berkumis dengan tubuh pendek dan gemuk, dengan api yang menggelora di belakangnya serta tangan yang memegang palu dan tong—

Dia adalah dewa api dan teknologi, Blaze. Dia juga dikatakan sebagai nenek moyang para dwarf, dan aku sering melihat ukiran dirinya di kota bawah tanah para dwarf. Selain menerima kepercayaan dari para pengrajin, sepertinya dia juga populer di kalangan para warrior, sama seperti Volt, karena wataknya yang membara dan pelatihan tanpa hentinya. Kebetulan, Blood memilih Blaze sebagai dewa penjaganya.

Seorang pemuda yang tersenyum ramah, memegang segelas wine dan sejumlah koin, dan dikelilingi oleh apa yang terlihat seperti piktograf yang mewakili hembusan angin—

Dewa angin dan pertukaran, Whirl. Nenek moyang para Halfling, ras yang berisi orang-orang kerdil dan ceria, Whirl adalah seorang penipu yang mengendalikan perdagangan, pertukaran, kebebasan, keberuntungan, dan hal-hal sejenisnya, dan dipuja oleh para pedagang, penjudi, dan musafir. Kuil kecil yang dibuat untuk Whirl sering ditemukan di pinggir jalan.

Seorang wanita muda cantik dengan pakaian tipis, menenggelamkan separuh tubuhnya di sungai yang jernih, memegang panah di satu tangan, dan menggunakan tangannya yang lainnya untuk menggapai makhluk yang mungkin adalah seorang peri—

Dewi air dan hutan, Rhea Silvia. Dia adalah seorang dewi yang plin-plan, yang juga dikatakan sebagai nenek moyang para elf. Dia memerintah lautan, sungai, hutan, dan segala berkah mereka, dan juga wilayah perburuan dan elemental. Pemburu, nelayan, penebang pohon—kebanyakan pengikutnya terikat dengan alam. Pendapat bahwa dirinya adalah dewi plin-plan mungkin muncul karena hubungannya dengan bencana alam. Kebetulan, meskipun aku tidak pernah melihat mereka, elemental dan peri juga ada di dunia ini, ada sebuah teknik mistis untuk meminjam kekuatan mereka.

Pria tua bermata satu yang mengeluarkan aura kepandaian, berdiri didepan semacam prasasti, memegang sebuah tongkat dan buku terbuka di tangannya—

Dia adalah dewa yang pernah dibicarakan Gus kepadaku tentang siapa yang membuat huruf di dunia ini. Dewa ilmu pengetahuan, Enlight. Dia adalah dewa yang memiliki banyak pengikut di antara para kaum intelektual. Dikatakan bahwa mata tunggalnya melambangkan apa yang dapat dilihat, sementara matanya yang hilang melambangkan apa yang tak dapat dilihat. Faktanya dewa penjaga milik Gus bukanlah Enlight, dewa ilmu pengetahuan, melainkan Whirl, dewa angin. Menurut Gus, “Jauh lebih baik untuk bepergian dengan uang daripada dikelilingi oleh buku di menara yang tinggi.”

Keenam dewa itulah yang disembah oleh banyak orang. Legenda mengatakan bahwa dewa-dewa itu pernah melakukan pertempuran mirip Ragnarok degan para dewa jahat, yang berakhir dengan kekalahan bersama, dan saat ini kedua sisi sedang menyembuhkan luka mereka, diluar dimensi ini. Namun, aku juga diberitahu bahwa kadang-kadang, mereka akan mengirim sesuatu yang disebut Echo ke dunia ini, sama seperti belahan dari tubuh mereka sendiri, untuk membantu memandu orang-orang. Echo milik para dewa itu, baik maupun jahat, sering muncul dalam epos yang kuketahui dari cerita dan puisi.

Skala dari segala sesuatu yang telah kudengar berada pada level yang berbeda. Aku berencana untuk menjalani hidupku dengan normal. Aku ragu kalau aku akan berurusan dengan hal-hal semacam itu. Saat pemikiran ini memasuki kepalaku, aku melihat ke arah patung yang membawa lentera yang entah kenapa pernah membuatku terpesona.

Dewa dengan jenis kelamin tak diketahui, berdiri tanpa latar belakang, dengan lentera bergagang panjang di tangannya. Anak dari dewa petir, Volt, dan dewi bumi, Mater. Dewa Kobaran Api, yang memiliki kekuasaan pada siklus transmigrasi tanpa henti, Gracefeel.

Gracefeel adalah dewa yang mirip dengan Grim Reaper, yang mengendalikan jiwa dan reinkarnasi. Dikatakan kalau dia muncul di hadapan jiwa milik orang mati, dan menunjukkan jalan kepada mereka menggunakan lentera-nya, memandu mereka menuju dunia para dewa, dan menuju ke kehidupan selanjutnya. Hanya ada sedikit cerita yang kudengar tentang Gracefeel. Jenis kelaminnya tidak diketahui, penampilannya tidak bisa dideskripsikan, dan seni unik yang dia berikan melalui berkah juga tidak terlalu berguna.

Seorang priest Mater sang Dewi Bumi, contohnya, dapat menggunakan berkah untuk membuat tanah menjadi subur, untuk melihat proses persalinan yang aman bagi sang ibu dan sang anak, atau untuk memberikan kesehatan kepada anak-anak yang sedang tumbuh. Dewa petir, Volt, memberikan berkah untuk menilai kebenaran dari perkataan target. Priest tingkat tinggi bisa berdoa agar hujan bisa turun di wilayah yang kekeringan.

Di sisi lain, berkah milik Gracefeel, tidak terlalu berguna dalam praktik langsung, dan mencakup hal-hal seperti mengistirahatkan dan memberi petunjuk kepada jiwa-jiwa orang mati.

Di dunia ini, para dewa mampu memberikan pengaruh nyata pada kenyataan. Aku secara pribadi telah tumbuh dengan memakan bubur dan roti yang sebenarnya telah dibuat melalui berkah, jadi aku tidak meragukannya. Jika suatu hari tiba-tiba ada berkah yang bangkit di dalam dirimu, itu akan menjadi kejadian yang mengubah hidupmu. Kau tiba-tiba akan bisa menyembuhkan luka dan melakukan tindakan ajaib lainnya, dan akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitarmu. Itu akan mirip seperti memenangkan sebuah lotre. Karena itu, banyak orang yang mempertimbangkan faktor praktikal, seperti berkah yang akan mereka terima, dalam pemilihan dewa penjaganya. Hasilnya, Gracefeel tidak begitu populer.

Sangat wajar orang-orang berpikir demikian. Jika kau hanya bisa mendapatkan satu buah tiket lotre, tentu saja kau ingin agar tiket itu berasal dari lotre dengan hadiah terbesar. Kepercayaan para dewa yang dikumpulkan dengan cara seperti itu berhubungan langsung dengan kekuatan mereka, semakin besar kekuatan yang diperoleh seorang dewa, semakin banyak orang yang akan mengikuti mereka. Ini mulai terdengar seperti ceramah tentang perbedaan nasib si kaya dan si miskin, kan?

Bagaimanapun, itulah Gracefeel: dewa kelas dua, yang namanya akan selalu berada di belakang enam besar. Mungkin alasan kenapa Gracefeel begitu menarikku untukku adalah karena aku masih memiliki ingatan dari kehidupanku sebelumnya. Aku tak punya pilihan lain selain merasakan hubungan diantara mereka, mengingat wilayah kekuasaannya adalah samsara dan perputaran abadi dari segala hal.

Aku melihat ke sekeliling kuil. Aku akan berumur lima belas tahun di musim dingin tahun ini. Aku akan bersumpah kepada salah satu dewa-dewa ini, menjadikan mereka sebagai dewa penjagaku… dan kemudian, di musim semi, aku mungkin akan meninggalkan kuil ini. Yang hidup harus kembali ke yang hidup. Ketiganya berpikir demikian, seolah-olah itu adalah hal yang sudah jelas.

Aku menatap tanganku dalam diam. Sekarang tangan ini sudah berbeda. Bekas dari luka bakar itu masih ada. Terdapat goresan kecil dan tanah di telapak tanganku, karena aku membantu Mary melakukan tugas sehari-hari dan berkebun. Bekas tinta, dari pelajaranku dengan Gus. Kapalan, dari latihanku dengan Blood. Mereka bukanlah tangan yang kumiliki saat aku masih kecil. Mereka bukanlah tangan tak sehat yang kumiliki di kehidupan sebelumnya. Mereka adalah tangan yang telah melakukan sesuatu.

Aku benar-benar telah belajar banyak hal, Begitu banyak hal yang berbeda. Mary telah memberitahuku sebelumnya kalau dia tidak mengetahui seperti apa dunia luar itu, jadi kemungkinan besar itu sangat berbahaya. Gus dan Blood, juga tidak mengatakan apapun tentang peradaban luar. Aku masih tidak tau kenapa aku bisa ada di sini. Tapi setidaknya ada satu hal yang dapat kukatakan dengan pasti.

Tangan ini, yang telah dibentuk oleh banyak pelajaran, dipenuhi oleh kasih sayang yang mereka bertiga tunjukkan kepadaku. Tidak peduli seberapa berbahaya nya di luar sana, tidak peduli seberapa kejamnya tempat itu bagi orang luar yang tidak diketahui asal-usulnya, mereka bertiga telah mengajarkan cukup hal kepadaku agar aku dapat bertahan hidup.

Suatu hari… Aku ingin kembali kemari. Jika mungkin, dengan teman-teman, atau keluarga. Dan aku akan mengenalkan mereka kepada Blood, Mary dan Gus. Aku akan mengatakan, ini adalah tempatku di besarkan, dan ini adalah ayah, ibu, dan kakekku.

Apa yang akan mereka bertiga katakan ketika mereka melihat aku pulang? Apakah mereka akan puas melihat teman-teman dan keluargaku? Apa yang bisa kubawakan sebagai hadiah untuk mereka?

Imajinasiku dipenuhi dengan kebahagiaan sederhana itu.

*

“Dewa mana yang akan kalian rekomendasikan, jika kalian harus mengatakan salah satu?” aku memutuskan kalau aku layak menanyakan pendapat mereka tentang dewa pelindung.

Blood adalah yang pertama menjawab. “Kecuali kau sudah mengetahui akan jadi apa kau kedepannya, aku akan membuat sumpah tak berbahaya kepada Volt.”

“Oh, itu saran yang bagus,” setuju Mary. “Ada banyak kalangan yang mempercayai Volt, dan dia juga yang paling dipercayai oleh umum.”

“Hmm, benar,” Gus bahkan ikut-ikutan. “Sebuah keputusan yang bijak… jarang sekali bagimu, Blood.”

“Berisik.”

Gus mengeluarkan dengus mengejek menanggapi hal itu.

“Sudah, sudah, kalian berdua. Hentikan itu.”

Blood menggerutu, tampak tidak senang.

Terbatuk untuk membersihkan suasana, Gus kembali berbicara. “Whirl juga bukan pilihan yang buruk sebagai dewa penjaga, tapi kebanyakan pengikut Whirl adalah para penjudi dan pencuri. Aku tentu setuju kalau Volt lebih unggul dalam hal kepercayaan publik. Dia sepertinya adalah pilihan yang lebih baik.”

Mereka bertiga dengan cepat memutuskan pada Volt, dewa pada dewa, dan penguasa keadilan dan petir.

“Aku terkejut kalian semua bisa setuju dengan mudah.”

“Kemungkinan besar kau tidak akan kecewa dengan Volt.” Kata Gus dengan jelas. “Itu adalah kebenaran yang sederhana Dan bukan berarti kau tidak bisa menggantinya lagi nanti.”

Blood mengangguk. “Akan beda ceritanya jika kau bercita-cita menjadi, entahlah, pengrajin atau cendekiawan, tapi bagaimana kau bisa bercita-cita seperti itu saat kau bahkan tidak mengetahui seperti apa dunia di luar sana?”

“Yang terbaik bagimu adalah jangan membatasi pilihanmu,” kata Mary dengan penuh perhatian, “jadi aku akan mengatakan kalai Volt adalah pilihan terbaik, mungkin diikuti oleh Mater sang Dewi Bumi kami.”

Semua percakapan yang kurang lebih “tidak perlu membatasi pilihanmu di tahap ini” dan “pilih sesuatu agar kau siap, tidak peduli apapun yang kau pilih di masa depan” ini membuatku merasa seperti sedang memilih jalan karier.

Pilih SMA dengan kurikulum biasa—itu tidak akan merugikanmu. Seperti itu.

“Ok, aku akan mengingatnya. Dan hal-hal apa yang bagus untuk dijadikan sumpah? Dalam ‘Kisah Pemberani Barkeley’ yang kau ceritakan sebelumnya, dia bersumpah kepada pedang petir milik Volt untuk membasmi semua kejahatan.”

“Yea…” Blood terdengar khawatir. “Itu adalah epos legenda. Jangan terlalu bersemangat dan membuat sumpah seperti itu, kau dengar? Sumpah yang kuat membuatmu semakin mudah mendapatkan perlindungan, tapi kau akan berakhir memasukkan dirimu ke dalam nasib yang berat. Pada dasarnya, menjadi pahlawan atau mati.”

“Aku yakin para dewa menganggap para idiot seperti itu akan jauh lebih mudah untuk melibatkan diri mereka sendiri ke dalam masalah,” kata Gus.

Jadi ada juga keyakinan seperti itu yang terhubung dengan sumpah. Aku tetap harus memikirkan berapa banyak kebenaran dari “nasib berat” itu, tapi lagi pula aku tidak mau membuat sumpah yang sulit seperti itu. Aku tidak akan membanggakan diriku sendiri dan berpikir bahwa aku spesial karena aku memiliki ingatan dari kehidupanku sebelumnya, dan aku tidak memiliki niat untuk menjadi seorang “pahlawan.”

“Ya, sumpah milik orang biasa biasanya seperti…” Mary merenung untuk sesaat. “’Aku bersumpah untuk menjalani hidupku dengan melakukan kejahatan sesedikit mungkin,’ bisa jadi.”

Gus mengatakan beberapa lagi. “’Aku akan menghargai tetanggaku,’ ‘aku tidak akan berbohong,’ ‘aku akan menyayangi keluargaku’… dan sejenisnya.”

Menyayangi keluargaku… itu kedengaran bagus. Menyimpulkan contoh-contoh yang kudengar sejauh ini, aku berkata, “Jadi pada dasarnya, aku hanya harus bersumpah akan sesuatu seperti ‘aku akan hidup dengan benar dan tidak melakukan kejahatan apapun’?”

“Secara kasar, iya” kata Gus. “Sebagai catatan, kadang-kadang seseorang membuat sebuah sumpah yang cocok dengan kepribadian dewa pribadinya.”

“Umm, contohnya?”

“Uhh, jadi apa yang kulakukan adalah,” kata Blood, “Aku bersumpah kepada Blaze untuk berlatih setiap hari dan menjadi lebih kuat. Blaze menyukai kedisiplinan dan ketekunan.”

“Sumpahku kepada Mater sedikit lebih abstrak,” kata Mary. “Aku bersumpah akan hidup sesuai keinginannya.”

Ya, itu sangat cocok dengan mereka berdua.

“Sementara aku,” kata Gus, “semua tentang dewa pelindung dan sumpah dan sejenisnya tampak merepotkan. Aku memilih Whirl karena sepertinya itu adalah pilihan yang paling santai, dan aku bersumpah untuk melakukan apa yang kumau dan bersenang-senang dengan kehidupanku.”

Pak tua Gus benar-benar urak-urakkan.

Setelah itu diskusi kami selesai. Mary pergi ke danau untuk mencuci, dan Blood ke hutan untuk mencari kayu bakar. Musim gugur sudah berakhir. Bukan untuk memoralisasikannya seperti sebuah dongeng tua, tapi bersiap untuk musim dingin adalah hal yang penting.

Sementara untukku, aku sedang belajar dengan Gus. Aku berlatih double casting lagi dan lagi, untuk meningkatkan kemahiranku. Pelajaran Gus saat ini sudah menjadi sangat ringan.

“Dengar, sekarang, ini penting. Saat berniat menggunakan sihir dalam situasi dimana musuhmu bisa menyerangmu sebelum hitungan kelima, jangan pernah membuang-buang waktu untuk berpikir. Rapal mantra secara refleks, sesuatu yang sudah kau latih tubuhmu untuk mengingatnya sejak awal. Kau akan mengetahui bahwa sebagian besar penyihir di dunia ini terlalu teoritis. Mereka selalu berpikir terlebih dahulu. Ada banyak dari mereka yang tidak mampu melakukan apa yang barusan kukatakan padamu.”

Gus mengatakan kepadaku bahwa ada banyak orang yang mati dengan cara itu, tertembak atau tertebas saat sedang memikirkan apa yang harus digunakan. Beberapa bahkan menghancurkan dirinya sendiri dengan memilih untuk menggunakan Word yang tidak terlalu mereka kuasai dan mengacaukannya.

Meski begitu, itu tidak terlalu mengejutkan. Sebagian besar penyihir adalah para pelajar kota atau ahli. Orang-orang sepertiku dan Gus, yang mempelajari sihir sambil meneliti bagaimana hal itu akan berguna dalam pertarungan, memiliki jumlah yang sangat sedikit.

“Strategi cerdik diperuntukkan saat kau memiliki waktu untuk memikirkannya. Dalam pertemuan tiba-tiba, jangan buang-buang waktu untuk memikirkan rencana yang buruk. Tekan musuhmu menggunakan sihir yang kau kuasai. Sihir berantai yang rumit akan gagal total jika ada satu saja sambungan yang rusak. Semakin sederhana sebuah mantra, maka akan semakin tangguh.”

Pemikiran Gus dalam taktik bertarung sangat mirip dengan ajaran Blood. Mungkin itulah yang terjadi saat kemampuanmu terbentuk oleh pertarungan sungguhan.

“Dan Will, kau akan mendapat keuntungan jika kau bisa menentukan kapan saat yang tepat untuk bergantung pada Word dan kapan saat yang tidak tepat. Karena kau memiliki pilihan untuk bertarung menggunakan teknik yang sudah Blood ajarkan kepadamu.”

Aku tidak tau apakah itu karena adanya mana, atau dunia ini memang dibuat seperti itu, tapi kau bisa mencapai hasil yang lebih besar dengan berlatih di dunia ini daripada di duniaku sebelumnya. Kemampuan fisik seorang warrior dalam performa terbaiknya terasa sedikit gila.

Maksudku, contohnya saja Blood. Saat dia tidak menurunkan persnelingnya demi latihanku, dia dapat dengan mudah membengkokkan tongkat baja tebal yang kugunakan untuk latihan mengayun, dan dia dapat berlari dengan kecepatan dan kelincahan seperti seekor walet yang sedang terbang. Sedikit menakutkan jika aku memikirkan bahwa kemampuan fisikku sendiri mulai mengikuti hal itu. Sedikit lebih jauh lagi dan aku akan menjadi manusia super.

Sihir, di sisi lain, memiliki resiko penghancur diri sendiri jika kau melakukan kesalahan dalam penulisan atau pelafalan. Karna hal ini, area dalam radius 10 meter dari musuh adalah wilayah eksklusif bagi para warrior.

Namun, Gus mengetahui beberapa “trik kotor” untuk situasi seperti itu. Aku penasaran ada berapa banyak orang yang sudah dia kalahkan dari dalam jangkauan warrior.

Aku mengangguk.

“Oh, sebagai tambahan,” kata Gus. “Aku sudah mendalami astronomi selama beberapa tahun terakhir, dan aku menemukan kapan musim dingin selanjutnya mungkin akan tiba.”

Aku membuka mata lebar-lebar setelah mendengar hal itu. Apakah dia melakukan hal itu untuk ulang tahun kelimabelasku?

“Ngomong-ngomong… Will. Aku punya satu permintaan.”

“Permintaan?”

“Mm,” angguknya. “Blood mungkin akan memintamu melakukan pertarungan satu lawan satu, yang akan diadakan sehari sebelum musim dingin, atau sekitar itu. Sebuah pertarungan habis-habisan, tanpa menahan diri, dan Mary akan mengawasi pertarungan itu untuk memberikan penyembuhan dan regenerasi melalui berkah”

Perkataannya tidak mengejutkanku. Aku akhir-akhir ini sudah berpikir kalau kemungkinan besar Blood akan melakukan sesuatu seperti itu. Dan aku sudah siap untuk menerimanya.

“Will…” ekspresi Gus terlihat berat. “Bisakah kau… mengalah dalam pertarungan itu, dengan cara yang tidak akan diketahui Blood?” Perkataan yang keluar dari mulutnya penuh dengan penderitaan.

“Kenapa?”

Waktu saat aku hampir dibunuh oleh Gus melintas di pikiranku. Pada saat itu, juga, ada beberapa pemikiran tak diketahui dibalik tindakan Gus. Bahkan tanpa memberitahuku, dia telah memikirkan beberapa masalah yang tidak kuketahui, dan sampai pada kesimpulan yang menyebabkan dia mencoba membunuhku. Dan kemudian, karena suatu alasan, dia berhenti.

“Kenapa melakukan ini?”

“Itu penting.”

“Tidak.” Bukan itu.

“Bukan aku, kau! Kenapa kau selalu mengesampingkanku?!” Tanpa sadar, aku berteriak kepadanya dalam kemarahan.

“Aku tau kalau kau bukan orang bodoh! Aku tau kau tidak akan menginjak-injak perasaan seseorang tanpa alasan!” Aku mencoba menggenggam kerah bajunya, tapi tanganku hanya menggapai udara.

Aku melotot ke arahnya saat dia melayang di atasku. “Aku bisa melakukan apa yang kau minta jika kau benar-benar menjelaskannya kepadaku! Aku akan sengaja mengalah untukmu! Aku akan mempersembahkan hidupku untukmu, sama seperti yang kulakukan saat itu! Jadi kenapa kau tidak memberitahuku apapun?! Apakah aku tidak bisa kau percayai?! Apakah aku begitu tidak layak bagimu?!” Perkataan yang terus kusimpan di dalam hatiku meledak seolah-olah bendungan telah jebol.

Gus masih menunjukkan ekspresi pahit di wajahnya, dan itu tetap tidak berubah saat dia berbicara. “Maaf, Will… aku tidak bisa. Maaf.”

Aku menundukkan kepalaku dan mengepalkan tinjuku. Aku harus memeras perkataan selanjutnya dariku.

“Begitu.” Jadi seperti itu.

“Kalau begitu… kalau begitu jangan harap aku akan membantumu.” Aku mendorongnya secara lisan. Aku tidak bisa kalah dengan sengaja dalam pertarungan penting seperti itu bahkan tanpa mengetahui kenapa. “Apa yang barusan kau katakan… aku akan berpura-pura tidak mendengarnya.”

Ini akan menjadi kesempatan terakhirku melawan Blood dalam kemampuan penuhnya, tanpa ada batasan yang menghalangi. Sebagai seorang warrior, aku ingin memberikan segala yang kumiliki, dan aku yakin kalau Blood juga berpikir demikian. Untuk kalah dengan sengaja, bahkan tanpa tahu kenapa… itu adalah hal yang mustahil.

Tapi aku tidak akan membeberkan hal ini kepada siapapun. Aku tidak mendengar apapun. Sesederhana itu.

Itu adalah perkataan terakhirku, dan aku serta Gus tidak mengatakan apapun lagi.

Beberapa hari kemudian, Blood memberitahuku tentang ujian terakhirku.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. :vos says:

    Udh gk lanjut kah?

    Like

  2. ivanalfikri says:

    Makasih ommm lanjut yaaa😀😀😀

    Like

  3. Manusia says:

    Lnjut min..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s