The Faraway Paladin Volume 1 Chapter 2 C

Volume 1
Chapter 2 (Bagian 3)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

“Gus? Itu… kau, kan?”Aku tak punya pilihan lain selain memastikan, karena aura yang dimilikinya benar-benar berbeda.

Aku tau Gus kalau Gus adalah hantu tua keras kepala dan agak eksentrik yang pintar dan mengetahui segalanya, serta memiliki hidung bengkok dan mata tak ramah. Tidak seperti Blood dan Mary, dia sedikit menjaga jaraknya dariku, tapi jika aku berulang kali memintanya untuk mengajariku, dan bersikap serius tentang hal itu, dia cukup murah hati untuk tidak menolakku begitu saja.

Itulah Gus yang biasanya. Aku percaya bahwa jauh di dalam hatinya, dia adalah orang yang sangat baik hati. Tapi saat ini dia tidak seperti itu. Terdapat niat membunuh yang jelas di matanya yang menusuk, dan tangannya, sedang membentuk kuda-kuda yang kokoh, terasa penuh dengan mana, yang sepertinya cukup untuk menggunakan sihir dengan kekuatan yang cukup besar.

Tengkukku merinding, seolah-olah seseorang telah menghembuskan udara dingin di atasnya.

Gus tidak mengatakan apapun.

Insert4

Dia terlihat benar-benar seperti orang yang berbeda. Hanya dengan tatapan dan pose mengancam itu bisa membuatnya semenakutkan ini?

Aku tidak merasa kalau itu adalah semacam ilusi atau penyamaran. Itu benar-benar Gus. Tapi apa yang membuatnya begitu marah? Lagipula kenapa dia bisa ada di sini?

“Ah…”

— Tentu saja aku akan mengawasimu, tapi jika terjadi kecelakaan, kau benar-benar akan mati. Jadi, uh, cobalah untuk tidak mati.

Aku teringat perkataan Blood.

Mengatakan, “Aku akan mengawasimu, tapi tetap ada bahaya kematian tak terduga,” yang artinya aku tidak akan mati kecuali kecelakaan yang dia maksud benar-benar terjadi. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa beratnya pelajaran ini, ini masihlah sebuah pelajaran. Kecuali jika aku bertemu dengan musuh dalam keadaan tak siap, mati tiba-tiba karena suatu alasan, atau melakukan sebuah kesalahan besar, aku bisa mengharapkan bantuan jika situasinya menjadi terlalu berat untuk kutangani.

Bagaimana mereka bisa datang membantuku? Jika ada seseorang yang ditugaskan untuk membantuku di sini, di kota bawah tanah ini, tentu saja itu adalah Gus, yang karena merupakan seorang hantu, dia bisa menembus dinding. Tugas untuk membuntutiku akan mustahil bagi Mary, dan tak diragukan lagi akan sulit bagi Blood. Hampir dapat dipastikan kalau Gus telah terus-menerus mengawasiku saat aku berkeliaran di kota bawah tanah ini, bertarung melawan monster, dan mencari jalan keluar. Yang artinya…

“Ini… bagian dari pelajaran?” tanyaku, dengan suara sedikit gemetar. Mungkin ini adalah bagian lain dari pelajaran, dimana Gus akan menjadi musuhku. Aku ingin mempercayai kalau itu memang benar.

Instingku sedang membunyikan seluruh alarm bahayanya dengan volume penuh, berteriak kepadaku bahwa aku salah.

“Benar, kan? Apakah kau akan mengatakan kepadaku kal—“

Dia mulai menggambar sebuah Word di udara sebagai ganti jawaban. Aku bisa tau hanya dengan melihatnya. Itu adalah sebuah Word serangan.

Sihir untuk membunuh seseorang.

Segera setelah aku menyadarinya, aku berbalik dan memilih untuk lari. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Tapi aku bisa merasakannya. Aku harus lari, secepat mungkin! Sambil khawatir dengan apa yang ada di belakangku, aku berlari secepat yang kubisa menuju pintu keluar.

Expergisci,” kata Gus, menyuarakan Word dari bibirnya dengan nada sedingin es.

Di dekat pintu keluar yang hendak kutuju, tumpukan puing-puing mulai bergerak dan berdiri, membentuk sebuah raksasa setinggi hampir 3 meter yang menyentuh langit-langit tempat ini.

“Ap—?!” Itu adalah sebuah golem, dibuat menggunakan kekuatan sihir! Gus telah menuliskan Sign rumit pada reruntuhan itu sebelumnya, dan sekarang melantunkan Word untuk membangunkannya.

Karakter yang dia gambar menggunakan tangannya hanyalah sebuah pengalih perhatian. Dia menggambarnya untuk membuatku memilih untuk kabur. Yang artinya… Gus telah menguasai tempat ini, dan mengubahnya menjadi zona pembunuh yang sudah dia persiapkan dengan cermat.

Pada saat aku menyadari hal itu, tinju golem itu sudah mendekatiku. Tidak mungkin aku bisa sepenuhnya menahan tinju berukuran besar itu menggunakan perisai bulat kecilku.

Menunggu sampai saat terakhir, aku menggeser tubuhku dan menghindari pukulan itu. Lalu, seolah-olah untuk memberikan serangan balik, aku menusuknya menggunakan tombak sihir yang baru saja kudapatkan. Aku mengincar perutnya—khususnya, Sign yang menopangnya.

Ujung tombakku menancap pada golem itu seperti tusuk sate. Aku mengayunkannya kesamping, dan menggores Sign-nya. Golem itu kembali berubah menjadi puing bebatuan mati dan roboh ke tanah—tapi sesaat kemudian, sesuatu menggores sisi wajahku dan menembak melewatinya, membuat hantaman keras dengan dinding dan hancur di sana.

Aku segera melompat kesamping. Niat untuk keluar di batalkan.

Hampir sesaat telah aku bertanya-tanya apa yang barusan di tembakkan ke arahku, ada lebih banyak potongan yang terbang ke arahku. Puing! Aku menatap ke belakang Gus dan melihat sebuah Word besar tergambar di tengah udara, dan di sekelilingnya beterbangan banyak potongan bebatuan.

Dia menembakkan batu-batu itu satu per satu ke arahku, sama seperti peluru dari sebuah pistol. Sihir ini adalah Stone Blast, dan terlebih lagi, versi yang sangat maju!

“Uhh—Wahh—Ahh—?!” Aku berguling di atas tanah, mencoba untuk menghindari mereka.

Aku tidak bisa menangkis semua puing-puing itu menggunakan perisaiku. Mereka mengenaiku di beberapa tempat dan menyebabkan rasa nyeri seperti api. Berusaha untuk mengendalikan pernafasanku, aku bersiap untuk mengatakan Word of Negation untuk puing selanjutnya yang telah ditembakkan ke arahku, tapi kemudian—

Cadere Areneum.

Aku mengeluarkan keringat dingin. Aku mengetahui sihir itu. Itu adalah Word pembuatan jaring. Aku telah menggunakannya selama latihan dengan Blood, jadi aku mengetahui bisa jadi semenakutkan apa sihir itu.

Aku segera mengarahkan Word of Negation ke atas. Jaring itu menghilang. Aku mengangkat perisaiku dan mencoba berlari ke arah pintu keluar, tetapi terpeleset minyak yang muncul begitu saja di bawah kakiku.

Apa—Apa yang terjadi? Dia terlalu cepat merapalkan sihirnya. Bahkan Gus tidak bisa menggunakan sihir secara terus-menerus secepat ini! Aku membalikkan kepalaku ke arahnya, dan menyadari alasannya. Dia melakukan perapalan verbal dan perapalan tulisan secara bersamaan.

“Double Castling!” Aku tau kalau secara teori hal itu bisa dilakukan, tapi membuat sedikit saja kesalahan saat menggunakan Word bisa membawa petakan kepada perapalnya. Bisa mengatakan dan menulis Word yang berbeda di saat bersamaan, sambil mengalokasikan mana ke masing-masing Word dengan benar—aku bisa mengetahuinya tanpa harus mencobanya. Itu tidaklah mudah.

“Khhh—!” Aku buru-buru berguling kesamping, menghindari rentetan tembakan puing-puing lainnya. Aku mencoba keluar dari area berminyak, tapi kemudian muncul jaring lainnya.

Pelumpuh, Pelemah. Pelambat. Awan Penidur. Dan banyak teknik licik lainnya membuatku kewalahan.

Jika aku berhenti sedetik saja, aku akan menjadi korban dari rentetan tembakan puing. Menggunakan Word of Negation dan pergerakanku sendiri, aku entah bagaimana bisa menghindari luka fatal. Aku melakukan berbagai upaya pelarian yang buruk, tapi semuanya gagal. Aku dengan putus asa mencoba untuk berhasil, namun perlahan tapi pasti aku mulai terpojok…

Tanpa ekspresi, tapi jelas merasa lelah dengan perlawananku, Gus membentangkan tangannya.

“Apa?”

Sign yang sudah digambar di udara berkilauan dengan mana. Dua Sign—berbeda di masing-masing tangan.

Dia masih terus-menerus merapalkan Word dari mulutnya.

Triple Castling.

“Tidak… Mungkin…”

Tidak ada harapan lagi. Perhitungan mental sederhana memberitahuku kalau Gus kekuatan tempur Gus setara dengan dua orang penyihir. Mustahil bisa kabur. Aku tidak bisa melarikan diri. Aku akan terbunuh.

Gus menatapku tanpa belas kasih, bersiap untuk mengaktifkan sihirnya tanpa keraguan sedikitpun. Dia serius. Dia benar-benar akan membunuhku.

Kenapa? Kenapa?

“Gus…” Aku akan dibunuh oleh orang tua yang telah membesarkanku, tanpa mengetahui alasannya.

Tidak, pikirku.

Tidak, tidak tidak tidak.

Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati! Mataku berlinang air mata. Kepalaku dipenuhi dengan pikiran.

Aku tidak ingin mati. Aku harus lari. Tapi aku tidak bisa lari. Aku tidak akan pernah bisa melarikan diri.

Aku tidak ingin mati.

Aku tidak ingin mati.

Jika aku tidak ingin mati…

Apa yang harus kulakukan agar aku tidak mati?

Tombak ini memiliki Word yang tertulis padanya. Ini mempan pada hantu.

Gunakan ini seperti javelin. Lemparkan ke arahnya. Tusuk dia. Suaraku membisikkan hal itu dengan tenang di kepalaku.

Aku mungkin bisa sesaat lebih cepat saat ini. Jika aku menusuk Gus… Jika aku bisa mengenainya… Jika aku membunuhnya, Aku bisa hidup.

Dia adalah orang yang mencoba membunuhku. Dia mendapatkan balasan untuknya. Jadi—

Tusuk dia. Tusuk saja dia. Tusuk dia. Tusuk dia.

BUNUH DIA!

Saat aku mendengarkan teriakan gila di dalam kepalaku, aku memaksakan sebuah senyuman, dengan tangan gugup… aku melemparkan tombak yang kupegang.

Suaranya terjatuh ke tanah bergema dengan keras. Terkejut, Gus menghentikan pengaktifan sihirnya.

“Gus? Hei, Gus?” Apa yang ingin kukatakan? Aku tidak tau. Tapi ada satu hal yang kutahu. “Jika kau harus membunuhku, itu berarti… kau pasti punya alasan untuk melakukannya, kan?”

Jika tidak, dia tidak akan pernah melakukannya. Bahkan saat situasinya jadi seperti ini, aku masih mempercayai hal itu.

Aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya.

“Gus? Pak tua Gus?” Aku membentangkan tanganku. Aku menengadahkan kepalaku, dan menunjukkan tenggorokanku, untuk menjadikannya target yang mudah. “Itu tidak masalah. Kau tidak perlu memberiku ‘kesempatan untuk melawan balik.’”

Dia menelan ludah, dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi menelan kembali perkataannya. Kapan terakhir kali aku melihat Gus terkejut? Mungkin bukan sejak saat aku menjawab pertanyaan tentang Word ketika aku masih kecil.

“Aku paham,” kataku.

Jika Gus benar-benar serius, seluruh sandiwara ini akan menjadi benar-benar tidak diperlukan. Aku adalah satu-satunya makhluk hidup di ruang bawah tanah ini. Apa yang harus dia lakukan hanyalah menembakkan Ignis[1] ke seluruh tempat ini, dan dia akan bisa membunuhku, dan hanya diriku, dengan cara mengurangi oksigen yang dapat kuhirup dan meracuniku dengan karbon monoksida. Bahkan lebih sederhana lagi, dia tinggal menggunakan sihir pengguncang untuk meruntuhkan langit-langit ruangan besar ini. Karena Gus adalah seorang hantu dan bisa menembus dinding, dia juga bisa menembus langit-langit yang runtuh. Dan lagi, hanya akulah yang akan menjadi korban.

Tetapi Gus telah mencoba membunuhku dengan metode berputar-putar seperti Stone Blast. Seolah-olah memberiku kesempatan untuk melawan balik.

“Aku paham… Aku mengerti apa yang kau lakukan, tapi…”

Aku tau kalau ini adalah kemudahan terbesar yang bisa Gus berikan kepadaku. Tapi meski begitu—

“Aku tidak mau membunuhmu, Gus…”

Air mata mengalir dari mataku. Tentu saja, aku tidak ingin mati. Aku ketakutan—sangat ketakutan. Ingatan pernah mati sekali sama sekali tidak mengubah hal itu. Tapi meski begitu—

“Aku lebih baik mati dari pada melukaimu, Gus…”

Sesuatu memenuhi diriku, meluas seperti sebuah balon, dan aku mulai sesenggukan tak terkendali. Aku merasa begitu tidak keren.

Aku ingin menerima kematian. Itu bukan berarti aku tidak pernah melaluinya sebelumnya.

“Jika ini penting untukmu,” aku kembali sesenggukan, “maka hanya itulah yang kupedulikan.”
Gus masih melayang di sana dalam diam, tidak merapalkan apapun. Aku tersenyum canggung kepadanya.

“Kau bisa membunuhku. Aku tidak takut mati.” Memaksakan bibirku membentuk senyum rapat, aku mencoba bertindak setabah yang kubisa. Aku tidak boleh membiarkan kematianku terlihat jelek. Aku adalah murid Gus.

“Ha-Hanya saja, cobalah untuk membuatnya tidak terlalu sakit… kumohon…”

Dengan perlahan… Gus mendekatiku. Aku mengepalkan tanganku yang gemetar. Dia mengulurkan tangan, dan menggenggam kepalaku. Aku menutup mataku dengan erat, dan apa yang kudengar selanjutnya adalah—

“Ahh, maaf, nak! Aku sudah terlalu berlebihan, bukan?! Hah hah hah!” Gus berbicara dan tertawa dengan suara keras dan dilebih-lebihkan, dan berpura-pura mengusap kepalaku dengan tangannya yang transparan.

“Huh…?” Aku terkejut.

“Sepertinya aku menang! Meski medan ini menguntungkanku, sih. Ayo, bangkitlah. Aku tau, aku menakutimu, tapi sebenarnya tidak seburuk itu. Kau jadi bisa tau bagaimana rasanya bertarung melawan mage, kan?”

Ini sudah pasti bukan pelajaran, dan bukan itulah yang membuatku terkejut. Tidak—itu karena Gus mencoba berpura-pura kalau semua ini adalah pelajaran.

Suaranya adalah buktinya. Biasanya dia tidak berbicara sekeras ini. Kenapa? Apakah dia terbawa suasana? Apakah itu mungkin, bagi orang se kaliber Gus? Tidak mungkin. Tapi kalau begitu… kenapa?

“Gus…”

“Sudah, sudah, kita bisa bicara nanti! Kau mengalahkan seekor vraskus dan bahkan mendapatkan sebuah tombak. Blood pasti akan kelimpungan! Sekarang mari tidak buang-buang waktu ditempat gelap seperti ini. Ayo ikuti aku, Will!” Gus menjadi sangat leler.

“Oh, aku tau!” katanya dengan terlalu riang. “Aku yakin kau terkesan dengan double dan triple castling itu kan! Nah, trik seperti itu adalah adab yang buruk, tapi dalam panasnya pertarungan, akan lebih baik jika kau mengetahuinya. Aku juga akan mengajarimu hal-hal seperti itu mulai sekarang. Bagaimana? Ayolah, bersemangatlah, ok? Tolong?”

Wajahku pasti terlihat sangat buruk saat ini itu, tapi sekarang, bahkan Gus terlihat seperti hampir menangis.

Sudah jelas ada banyak misteri yang menyelimuti kota ini, ketiga orang ini, dan latar belakangku. Blood mungkin akan memberitahukan segalanya kepadaku sebelum aku berumur lima belas tahun.

Hari dimana cahaya akan menyinari semua misteri itu mendekat dengan cepat.

*

Hari yang mengikuti insiden dengan Gus tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bahkan setelah aku berhasil keluar bersama Gus dan bertemu dengan Blood, aku tidak membocorkan satu katapun kepadanya tentang pertarungan kami. Aku mempercayai Gus, dan jika dia tidak mau mengatakannya kepada Blood, maka pasti dia punya alasan yang bagus.

Tentu saja, itu berarti aku menyembunyikan sesuatu, jadi aku mungkin bertindak agak aneh. Tapi aku telah dilemparkan ke dalam sarang undead, dan baru bisa kembali dari latihan gila itu setelah menghabiskan setengah hari di sana. Perilaku yang sedikit aneh bisa dengan mudah di salah artikan oleh Blood dan Mary sebagai efek dari ketakutan dan ketegangan yang masih belum hilang dariku.

Sebagai tambahan, sepertinya, seekor vraskus skeleton sebenarnya adalah musuh yang sedikit merepotkan. Saat Gus melaporkan kepada Blood tentang bagaimana latihanku berjalan, dan sampai pada bagian dimana aku bertarung melawan vraskus itu, Blood memberikan gumaman kepahaman dan mencoba menyemangatiku, mengatakan kalau tidak aneh Gus harus melompat dan menolongku. Dia bahkan terdengar seperti sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa aku telah mengalahkan vraskus itu seorang diri.

Gus mengatakan kepadanya kalau aku mengalahkannya sendirian, dan rahang Blood terjatuh. Lebih jelasnya, seluruh rahang bawahnya terlepas dan jatuh ke tanah. Melihat Blood yang mencoba memasang kembali rahangnya dengan gelagapan benar-benar terasa tidak nyata.

Apakah vraskus benar-benar se-merepotkan itu? Bagiku dia tampak beberapa kali lebih lemah dari Blood, tapi mungkin saja karena suatu alasan vraskus yang kulawan lebih lemah dari pada vraskus pada umumnya. Tapi sejauh dari apa yang diajarkan kepadaku, kemampuan dan skill milik undead tidak pernah berubah dari mereka saat masih hidup.

“Umm, bagimu sebara sulit melawan vraskus itu, Blood?”

“Hm? Aku?” jawabnya, sambil menyilangkan tangannya di belakang kepalanya. “Aku tinggal langsung mendekatinya dan memenggal kepalanya.”

Huh. Kalau begitu vraskus memang tidak terlalu kuat. Blood mungkin sedikit meremehkanku, atau mengira kalau aku tidak bisa mengeluarkan yang terbaik dalam pertarungan sungguhan.

“Kalau begitu, jalan yang kutempuh masih panjang. Aku tidak bisa bersantai hanya karena aku mengalahkan seekor vraskus.” Jika kau merasa sombong setiap kali kau menjadi sedikit kuat, kau hanya akan membuat dirimu terjatuh kembali. Aku harus mengendalikan hal itu.

Blood dan Gus sama-sama menunjukkan wajah yang aneh setelah mendengar komentar itu dan menggumamkan, “Ya,” dan “Benar,” dan beberapa hal yang tak dapat kupahami.

Hm. Aku merasa seperti sedang berada dalam kesalahpahaman yang besar.

Dengan kebingunganku tetap tidak terpecahkan, percakapan itu berlanjut ke hasil dari pertarungan itu. Aku telah melihat koin dan ornamen lama di bawah tanah, membawa mereka akan merepotkan, satu-satunya benda yang kubawa adalah tombak pendek itu. Itu adalah piala pertarungan pertamaku, dan mereka bertiga menunjukkan ketertarikan besar pada tombak itu. Kami sama-sama memperhatikannya, dan menghabiskan beberapa waktu untuk mendiskusikan berbagai aspek tombak itu.

Bilang tombak itu lurus, bermata dua, dan cukup panjang. Bersama dengan pegangannya, panjang totalnya melebihi tinggi badanku.

Bagian lancip dari bilahnya cukup panjang, dan terdapat sebuah garis ukir yang memisahkan bilahnya dari sisa logam lainnya. Logam itu bersinar dengan cahaya yang dingin dan cerah. Ujung dari bilahnya, tempatnya tersambung dengan pegangannya, berbentuk melengkung ke dalam di kedua sisi. Blood menyukai penampilannya, dan menyebutnya cukup menggoda.

Pegangannya adalah sebuah kayu berwarna cokelat gelap. Menurut Mary, itu terbuat dari walnut. Sebuah cincin perunggu yang berukirkan Word dipasang di penghubung bilahnya.

Secara keseluruhan, itu adalah tombak yang bagus, sepertinya buatan para dwarf. Namun, fakta bahwa semua elemen tak penting telah dibuang memberinya kecantikan dan dampaknya sendiri.

Warna gelap pada pegangannya benar-benar kontras dengan bilang logam, yang bersinar putih cerah saat bilah itu memantulkan cahaya. Saat aku berpikir kalau ini adalah senjataku, aku mulai menjadi sedikit bersemangat, yang merupakan hal aneh bagiku. Begitu bersemangat sampai-sampai aku tidak tahan untuk memegangnya dan membawanya ke taman untuk berlatih mengayun.

Sudah jadi rahasia umum, meskipun memalukan untuk diakui, bahwa semua pria memiliki sesuatu yang sangat mereka cintai, apakah itu senjata, mobil, atau apapun lainnya. Aku yakin kalau setiap laki-laki bisa memahami perasaan ini.

Gus mengamati bilah itu secara seksama bersamaku, sambil menjelaskan ulang apa yang harus diperhatikan. Setelah pengamatan seksama, kami mengetahui bahwa tombak ini bernama Pale Moon. Bilah dan pegangannya sama-sama diberikan efek sihir melalui Word of Creation.

Pada bilahnya, terdapat Word untuk mempertahankan kemampuannya dalam menusuk dan mengiris, dan Word untuk melindungi dari karat dan kehancuran. Selain itu, Word yang didasarkan pada Lumen juga terukir di sana, membuat bilah itu juga bisa berfungsi sebagai penerangan dengan jangkauan dan kecerahan yang dapat diatur. Sepertinya itu tidak bisa bersinar cukup terang untuk membutakan musuh, tapi itu sudah cukup untuk menerangi jalanku di kegelapan. Kalau begitu, aku tidak memerlukan obor.

Sementara itu, pegangannya, selain Word yang sama untuk mempertahankan kekuatan dan kualitasnya, juga diukiri dengan Word yang berkaitan dengan penyusutan dan perluasan materi. Sepertinya panjangnya bisa diatur, sampai batas tertentu, selama beberapa menit, sambil tetap mempertahankan kekerasan dan ketangguhan bahannya. Tombak itu tidak bisa tiba-tiba dipanjangkan di tengah pertarungan, tapi itu bisa digunakan sebagai tombak panjang jika situasi membutuhkan. Sebagai sebuah tombak pendek, itu bisa dibawa tanpa memakan banyak tempat.

Tombak itu tidak memiliki efek mencolok seperti api atau gelombang kejut, tapi tak diragukan lagi kalau masing-masing efeknya sangat berguna. Aku bisa memikirkan banyak cara untuk menggunakannya.

Ini menakjubkan. Tombak ini benar-benar menakjubkan. Ini adalah senjata sihir sungguhan! Dan itu adalah milikku! Aku menjadi semakin terbawa suasana, mengujinya dengan panjang yang berbeda, merasakan bagaimana ayunan nya, dan berkali-kali mengusap tombak itu meskipun itu tidak kotor. Ketiganya—khususnya Blood dan Gus—memandangku dengan tatapan yang sangat hangat.

*

Hari-hari setelah itu berlalu dengan damai.

Sekarang pelajaran Blood kadang-kadang melibatkan pergi ke kota bawah tanah, tapi aku sudah terbiasa dengan hal itu. Kadang-kadang menggunakan Pale Moon dan kadang-kadang menggunakan pedang panjang, aku menjalani pertarungan demi pertarungan melawan iblis undead. Bahkan saat aku bertemu dengan iblis yang se-level dengan vraskus, mereka tetap tidak memberiku banyak kesulitan seperti pertarungan pertama.

Akhirnya, tidak hanya aku bisa mengingat struktur kota bawah tanah itu, tapi apa yang ada di bawah sana tidak ada lagi yang bisa menandingiku, jadi Blood mulai memberiku handicap. Contohnya: Aku harus memasuki kota bawah tanah hanya dengan belati dan pakaian, mendapatkan senjata dan armor ketika berada di sana dengan cara mencurinya dari para undead, dan kembali setelah mengalahkan undead dalam jumlah tertentu. Itu sangat sulit, tapi tidak butuh waktu lama sampai aku terbiasa dengan hal itu juga.

Sayangnya, meskipun aku mengambil banyak senjata dan ornamen, tidak ada dari mereka yang melebihi Pale Moon. Tapi meski begitu, kupikir itu adalah pengalaman yang sangat berguna karena aku bisa mencoba berbagai jenis perlengkapan yang berbeda. Ada senjata kualitas rendah yang lebih kupentingkan kuantitas-nya, perlengkapan bernama, senjata panjang, senjata pendek, dan semua yang ada diantaranya.

Sama seperti yang Gus janjikan, dia mengajariku trik rahasia untuk menggunakan sihir secara bersamaan.

Bahkan di duniaku sebelumnya, menulis tulisan yang berbeda dengan yangan kiri dan kananmu adalah sebuah trik yang menakjubkan, dan aku juga ingat pernah melihat seniman jalanan dimana sang seniman memainkan sebuah instrumen sambil melakukan hal lain di saat bersamaan. Sihir multitasking sama dengan trik itu. Sama seperti beli diri milik Blood, trik itu mungkin bertujuan melatih tubuhmu untuk mengingat kombinasi yang berguna sehingga kau bisa mengeluarkan mereka tanpa perlu berpikir.

Aku dan Gus melakukan beberapa latihan kombinasi bersama. Aku melatih mereka untuk membangun otot ingatanku. Tapi kesampingkan double castling, triple castling adalah hal yang terlalu sulit, dan aku belum benar-benar bisa melakukannya saat ini. Pasti butuh waktu sangat lama bagi Gus untuk bisa sebagus itu. Aku ingin bisa mengejarnya suatu hari nanti.

Pelajaran Gus juga berubah. Tidak ada lagi penjejalan tiada henti.

“Itu sudah cukup untuk pendidikan sekolahmu.” Di dalam kelas kami yang biasa, Gus mengangguk kepadaku sambil menunjukkan senyum di wajahnya. “Ini saatnya bagimu untuk mempelajari sesuatu yang berbeda.”

“Sesuatu yang berbeda?” tanyaku, dan Gus mengangguk.

“Masuklah ke kota bawah tanah bersama Blood dan kumpulkan beberapa koin,” katanya, dengan nada serius. “Aku akan mengajarkan sesuatu yang penting kepadamu.” Aku duduk tegap dan mengangguk.

Aku tidak tau mau Gus pakai untuk apa koin-koin itu, tapi jika dia bicara begitu serius tentang hal itu, aku tidak ragu bahwa itu benar-benar sesuatu yang penting.

Setelah beberapa saat, Aku dan Blood kembali sambil membawa koin.

“Ah, bagus. Aku sudah menunggu kalian.” Gus membawa sebuah dadu, mangkuk, dan… apa yang terlihat seperti bidak permainan dan sebuah papan.

“Oh! Sudah cukup lama. Mau bermain, pak tua?!” kata Blood, dengan suara yang sangat riang. “Hei, Will, kau tidak pernah bermain sebelumnya, kan?!”

Aku tidak menjawab.

“Bukan masalah besar, kurasa, hanya perlu main sekali untuk mengetahuinya… Will?”

“Um. Gus?” kataku.

“Ya?” jawab Gus.

“Bukankah ini… kau tau… judi?”

“’Judi’ adalah istilah yang kasar. Katakan dengan lebih elegan. Mari kita sebut ini permainan intelektual.”

“Ini judi!”

“Ok, ok, kau tidak perlu nge-gas.”

“Ya, benar! Kupikir kau memiliki sesuatu yang benar-benar penting untuk diajarkan kepadaku! Kenapa judi?!

“Oh, aku yakin kau akan terkejut dengan apa yang ditawarkan oleh permainan intelektual.” Dan akhirnya Gus memulai ceramah menyesatkannya. “Saat kau menjadi penyihir elite, keahlian yang cukup pada permainan intelektual adalah hal yang wajib. Permainan seperti ini sering digunakan sebagai duel antar penyihir. Bagaimanapun, sihir itu berbahaya dalam banyak hal. Jika kau berselisih denga penyihir yang kau benci, dan melakukan pertarungan fisik, tidak jarang bagi kedua belah pihak saling menghancurkan satu sama lain, yang tidak menghasilkan keuntungan bagi siapapun. Itulah sebabnya, jika terjadi perselisihan, seseorang lebih sering menulis sebuah kontrak, dan menyelesaikan masalah itu melalui permainan intelektual, jadi untuk…”

Ingatan sebuah manga permainan kartu dari duniaku sebelumnya melintas di pikiranku. Tapi kalau dipikir-pikir, permainan yang digunakan sebagai format untuk menyelesaikan duel tidak hanya ada di dalam manga. Ada juga contoh sejarah yang nyata. Jadi mungkin, bahkan di dunia ini, mempelajari hal itu adalah sebuah ide yang—

“Tidak tidak, aku tidak akan terseret kesana!” Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“Oho… Will, anakku…” Gus menyeringai. “Aku tau, kau takut.”

“Apa?”

“Tidak, tidak, tidak. Kau tak perlu menyembunyikannya. Sudah wajar jika kau merasa terintimidasi oleh kemungkinan bertarung secara langsung melawanku, Wandering Sage yang terhormat, dalam sebuah permainan intelektual.” Senyum yang dia tunjukkan tampak mengejek. “Ya, dan bagaimanapun, Mary akan marah. Tidak ada orang yang bisa menyalahkanmu karena melarikan diri! Karena kabur! Ya, larilah, nak, lari. Aku akan bersenang-senang bersama Blood.” Dia bahkan menambahkan tawa kecil di ujung kalimatnya.

“Oh, ok kalau begitu.” Aku tidak punya pilihan lain selain menanggapi provokasinya.

Jadi, aku ikut bermain karena provokasinya.

Seperti yang kau tau, judi adalah hal yang membuat ketagihan. Begitu parahnya sampai kecanduan judi benar-benar dianggap sebagai sebuah penyakit di duniaku sebelumnya.

Judi merangsang otak. Panik dan marah jika kau kalah, tapi senang dan puas jika kau menang. Akhirnya, otak akan terbiasa dengan rangsangan itu, dan orang tersebut akan menginginkan rangsangan yang lebih besar, menjadi semakin dan semakin ketagihan. Ada banyak literatur tentang hal itu yang ditulis di duniaku sebelumnya, dan aku tak perlu kutipan untuk mengatakan bahwa ada banyak orang yang telah terjatuh ke dalam daya tarik permainan iblis itu.

Kenapa aku mengatakan semua itu? Untuk menggambarkan sebuah contoh:

“Enam ganda! Sepertinya aku akan mengambil yang ini, Pak Tua Gus!”

“Cih! Kau selalu punya insting yang bagus…”

“Ok, permainan selanjutnya! Ayo main lagi!”

Iblis itu tidak mudah untuk dihindari.

Permainan ini dilakukan dengan cara menggerakkan bidak di sepanjang papan menggunakan dadu, dengan cara yang mirip backgammon.

“Ok, ayo lakukan lagi. Tapi tunggu dulu, sebelum kita mulai. Will, ada sebuah trik untuk hal ini. Biarkan aku mengajarimu. Lihat, ada hal yang disebut kesialan beruntun.”

“Tidak masuk akal!” ejek Gus. “Di sini hanya ada hasil dan probabilitas. Bermain dengan logis dalam waktu cukup lama, dan akhirnya—“

“Ya? Dan siapa yang perlahan mulai mengering di sini?”

Blood saat ini memiliki tumpukan besar koin emas di depannya. Dia telah mengalami banyak kekalahan kecil, tapi tidak pernah melewatkan kesempatan yang ada. Melihatnya membuatku ingin percaya pada insting dan keberuntungan beruntun.”

Aku tetap diam, menatap gunungan koin perak yang telah kukumpulkan dengan cara membuat keputusan yang aman dan menghindari pertarungan besar dengan Blood. Aku saat ini berada di peringkat dua.

Gus mengeluarkan suara frustrasi parau. Dia, tentu saja, terakhir. Meskipun dia berbicara tentang pentingnya teori dan probabilitas, setiap kali pertarungan besar terjadi antara dirinya dan Blood, kepribadiannya yang keras kepala membuatnya membuang itu semua dan mencoba mengalahkan Blood.

Aku ingin bermain bagus dan mempertahankan posisi kedua, dan jika mungkin, menemukan kesempatan yang tepat untuk mencuri posisi pertama. Jadi, dari sisi strategi, pergerakanku selanjutnya—

Suara hantaman keras menyela pikiranku. Pintu terbuka, dan Mary sedang berdiri di sana.

Kami bertiga membuka mulut kami dan mengeluarkan suara “ah” di saat bersamaan.

Untuk sementara waktu Mary tidak mengatakan apapun. Dia menurunkan pandangannya, dan menunjukkan senyum lembut di wajahnya. Itu terlihat sama dengan ekspresi yang selalu dia tunjukkan, tapi karena suatu alasan, aku tidak bisa berhenti gemetaran.

“Kalian bertiga, duduk sini.” Suara tenangnya membuat kami banjir keringat dingin.

“Aku, ah, yah,” Gus angkat bicara.

“Mary, aku bisa menjelask—“

“Ini adalah ide Gu—“

Kami bertiga melambaikan tangan kami sebelum mulai membuat alasan.

“Duduk sini.”

Tidak ada diantara kami yang bisa melawan senyum Mary. Ceramahnya berlangsung lama dan berat, dan mengajarkan hal yang sangat penting kepadaku: ketagihan berjudi adalah hal yang buruk!

*

Meskipun operasi perjudian milik Gus tidak akan diulangi, hal itu menunjukkan seberapa besar pelajarannya bisa berubah. Sebagai perbandingan, Blood tidak terlalu banyak berubah.

“Hfff!” Aku menarik nafas. Aku sedang telanjang dada, menggenggam sebuah cabang pohon, dan melakukan pull-up. Perlahan, untuk membuat otot punggungku memanas, aku menarik tubuhku ke atas.

Dengan satu tangan.

“Hfff!”

“Wow, punggung menjadi cukup tebal.”

Pelatihan Blood sama seperti biasa. Melatih tubuhmu, melatih teknikmu, praktekkan skill-mu—berburu, memanjat pohon, memanjar batu, berenang, mengumpulkan makanan—dan sambil melakukan hal itu, perlahan-lahan membangun pengetahuanmu tentang bagaimana cara mengidentifikasi ikan dan tumbuhan berbeda yang kau temui.

Latihan itu tidak pernah berubah. Tapi, tubuhku berubah secara perlahan untuk menyesuaikan dengan hal itu. Awalnya aku melakukan pull-up menggunakan dua tangan, lalu ditambah beban, dan kemudian menggunakan satu tangan. Push-up, juga, aku melakukannya dengan tambahan beban di punggungku, atau sambil melakukan handstand.

Aku membangun otot yang tampak, aku membangun dada yang kekar, dan lengan dan pahaku menjadi semakin tebal dan kuat. Sedikit demi sedikit, aku berubah menjadi pejuang berotot sama seperti Blood dulu.

“Ok, itu sudah cukup,” kata Blood, setelah aku selesai menjalani latihan dasar untuk hari ini.

“Jadi apa yang kita lakukan hari ini?” tanyaku. “Latih tanding?”

“Nah, aku punya rencana kecil hari ini. Kita akan mencari sarang lebah. Siram dirimu menggunakan air dan basuh keringat itu, pakai beberapa lapis pakaian, dan kembali kemari sambil membawa sebuah kain.”

Aku mengangguk. Aku menyiram tubuhku dengan air dingin, membasuh keringatku, memakai banyak pakaian, dan kembali ke Blood.

Saat aku kembali, Blood sedang mengintip ke dalam sebuah kendi kecil. Dia terlihat seperti sedang menyeringai.

“Hm? Apa itu?”

“Lihatlah.”

Aku mengintip ke dalam. Terdapat aroma anggur hutan yang kaya dan di saat bersamaan, hidungku dipenuhi oleh aroma khas kedua. Aku bisa melihat gelembung bermunculan dari cairan yang ada di dalam kendi itu.

“Oke, dengar, Will. Apa yang kulakukan adalah, aku memanaskan kendi ini sampai titik didih, dan aku memasukkan jus yang berasal dari perasan anggur…”

“Kau membuat alkohol?”

“Oh, kau mengetahuinya!”

“Jadi alasan kenapa kau mencari sarang lebah—“

“Yap. Kita akan mengambil madu yang ada di sana dan memaniskan cairan ini.”

Jika sebuah jamur tertentu tumbuh di dalam cairan yang mengandung gula, jamur itu akan mulai memecah glukosa dan menghasilkan alkohol. Tentu saja, semakin banyak gula yang kau masukan, semakin tinggi kadar alkohol nya, dan semakin sulit untuk diminum.

“Seorang pria haris bisa menangani bir-nya,” kata Blood.

“Apakah kau yakin Mary tidak akan marah?”

“Ayolah. Dia tidak perlu tau, kan? Ini akan menjadi rahasia kita!” Bola cahaya yang ada di rongga matanya berkelap-kelip, dan dia tampak benar-benar bersenang-senang. Sulit bagiku untuk menolaknya.

Aku ikut tanpa banyak keyakinan, dan kami berdua sedang berlari di dalam hutan mencari sarang lebah. Kami tertawa keras bersama saat kami mengasapi lebah yang ada. Kami tidak kesulitan mendapatkan madu, dan kami menambahkannya kepada kendi.

Aku mencoba sedikit larva lebah berdasarkan saran Blood. Dan anehnya mereka terasa enak. Aku menjadi semakin sadar bertapa liar dan barbar-nya diriku, jika dibandingkan dengan kehidupanku sebelumnya.

Kami membiarkannya selama beberapa hari, dan setelah memastikan kalau itu sudah terfermentasi dengan baik dan menjadi alkohol, kami duduk berhadapan di tempat tersembunyi, dan menikmatinya bersama. Meski aku berkata demikian, tentu saja Blood tidak memiliki tenggorokan dan lidah. Tak lama setelah dia menuangkannya ke dalam mulutnya, cairan itu langsung jatuh ke tanah.

“Oh, ini enak. Ini sangat enak,” katanya dengan senang. Aku yakin dia tidak dapat merasakannya, dan juga tidak bisa mabuk. Tapi Blood tampak seperti menyukainya, dan terlihat bersenang-senang.

“Ya.” Minuman ini, berbagi dengan Blood, juga terasa nikmat bagiku.

Dengan tidak banyak hal yang bisa dimakan, kami mengisi cangkir demi cangkir, dan mulai mabuk sambil menatap bulan. Tidak butuh waktu lama sampai perasaan mengambang yang sangat nyaman memenuhi kepalaku, dan kami tertawa seperti orang bodoh saat mendengar lelucon receh. Kami menjadi semakin dan semakin bersemangat, dan pada saat itu sampai pada titik dimana kami bertindak seperti sepasang pemabuk…

“Kau mau tunjukkan padaku kalau kau punya nyali?” lantur Blood.

“Ya?”

“Ayo kita intip Mary ganti baju.”

“Ohh, bernyali!”

“Aku bernyali, bukan?”

“Hahaha!” kami berdua tertawa tanpa arah. Bagaimana ini bisa terjadi?

Tentu saja, aku tau di dalam kepalaku kalau itu adalah sesuatu yang tidak boleh kami lakukan. Aku merasa yakin bahwa bahkan meskipun otakku menjadi begitu tumpul, otak itu masih bertanya kepadaku, Sejak awal apa yang menyenangkan dari hal ini?!

“Ahahahah!”

“Ahahahah!”

Tidak ada gunanya menanyakan hal itu kepada orang mabuk.

Kami bergerak dengan cepat. Lorong kuil terasa bergoyang. Tidak, tunggu, pikirankulah yang bergoyang.

Kami menilai timing kami, dan dengan cepat bergerak menuju pintu ruangan Mary. Aku bisa mendengar suara gemerisik kain. Aku dan Blood mengintip melalui celah pintu, dan melihat bahwa Mary baru saja melepas jubahnya yang longgar.

Aku dan Blood bisa bergerak kesana-kemari dengan sangat senyap dan ahli jika kami mau. Mengintip seseorang adalah hal yang mudah bagi kami… atau begitulah jika kami tidak mabuk.

“Ah—“

“Kau—goblok!”

Aku goyah, sempoyongan, dan akhirnya membuat kami berdua jatuh ke lantai.

Mary menjerit. “Si-Siapa di sana?!”

Kami mencoba kabur, tapi tidak cukup cepat. Dia mampu menemukan sesuatu di dekat tangannya yang dapat dia pakai, dan tak butuh waktu lama, dia memakainya, berlari keluar, dan menangkap kami berdua.

“Will?! Blood?! Apa-apaan ini—ugh, kalian bau alkohol!”

Aku jarang sekali melihat Mary se-bingung ini.

“Um, Aku… ini bukan…!”

“Heheh, kami ingin mengintipmu saat ganti pakaian.”

“Ap—Ap—Ap—?!”

Jika dia masih hidup, wajahnya pasti sudah merah cerah. Cara Mary hilang ketenangan karena malu sebenarnya tampak manis, dan aku merasa jantungku seperti melompat untuk sesaat.

“Apa yang kalian berdua lakukan?!”

Bekas tangan berwarna merah tercetak di pipiku. Sementara untuk pelaku utamanya, Blood, Mary menamparnya dengan sangat keras sampai-sampai tengkoraknya berputar ditempat. Lalu dia menaiki Blood, menekannya ke bawah, dan memukulnya berkali-kali.

Bukan hanya kami benar-benar ketahuan, kami telah mengintip seorang gadis yang sedang ganti baju. Hukuman itu sesuai dengan kejahatannya. Terus terang, itu masih terlalu ringan.

Dan saat aku terbangun keesokan harinya, karena suatu alasan, aku mengalami mimpi basah. Ya, untuk pertama kalinya.

Suaraku mulai memberat saat in, jadi itu tidak terlalu mengejutkan, tapi tak kusangka yang membangkitkan hasrat seksualku adalah Mary yang sedang ganti baju. Yang membangkitkan hasrat seksualku adalah May yang sedang ganti baju. Dan yang membuatnya semakin buruk, Blood memergoki hal itu, dan dia tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arahku. Aku menendangnya.

Dan, saat aku mencuci celana dalamku yang kotor, Aku membuatnya berjanji kepadaku kalau kami akan menjaga rahasia ini sampai ke liang kubur.

Tidak ada lagi alkohol. Serius jangan lagi.


Catatan Penerjemah

[1] Bahasa latin dari Api.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Nero says:

    Mimpi basah :’v

    Like

  2. Manusia says:

    Hahaha.. Seru njir.. Lanjut min

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s