The Faraway Paladin Volume 1 Chapter 2 B

Volume 1
Chapter 2 (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Doa sunyi adalah pelajaran terburuk yang pernah diberikan Mary sejauh ini. Biasanya, pelajaran yang dia berikan jauh lebih ringan seperti, bagaimana cara membuat sepatu, bagaimana cara menjahit pakaian, bagaimana cara menanam sayuran, bagaimana cara bersikap dengan sopan, dan sebagainya. Pelajaran-pelajaran itu… kau tau, santai. Biasa saja.

Di sisi lain, pelajaran Gus, akhir-akhir ini telah berada di luar kendali.

Aku bersyukur karena dia mau mengajariku, meskipun wajahnya mengatakan lebih keras dari pada perkataannya bahwa dia benar-benar tidak mau repot. Masalahnya adalah isinya, yang menjadi jauh lebih rumit. Pelajarannya juga menjadi semakin padat dalam hal banyaknya istilah yang dia ajarkan kepadaku sekaligus.

Aku benar-benar kewalahan.

Dia membuat mengingat banyak Word, dan menggabungkan Word itu untuk membuat frase dan kalimat. Dia menyuruhku berlatih penyuaraan dan pengucapan, agar aku bisa mengatakan dan melafalkan mereka dengan benar. Dia akan mengajarkan semuanya kepadaku sekaligus, dari geometri dan aritmetika sampai retorika dan argumentasi. Ada juga sejarah geografis, hukum, astronomi, teknik sipil, konstruksi, obat-obatan, ekonomi, dan manajemen bisnis…. Dan setelah mengajariku semua itu, dia akan menyuruhku untuk mengingatnya di hari berikutnya.

Hari berikutnya akan menjadi sebuah ujian, diikuti oleh penjejalan yang lain, diikuti oleh ujian yang lain, dan setiap sepuluh hari sekali, akan ada review dari apa yang telah kami pelajari. “Penjejalan” adalah kata yang terlalu lembut untuk jumlah bentakan yang telah dia katakan padaku.

Sejujurnya, aku mulai bertanya-tanya apakah dia diam-diam berharap agar aku menyerah.

Tentu saja, ingatan masa laluku berguna dalam hal geometri dan aritmetika. Aku cukup bagus dalam matematika, jadi untuk sementara, aku menggunakan hal itu untuk bernafas sejenak. Namun, bahkan pelajaran itu sekarang menjadi sulit, karena saat Gus menilai bahwa aku sudah memahami sesuatu, dia akan melewati bagian itu seolah-olah aku dinaikkan satu kelas, dan juga mencari suatu tambahan untuk diajarkan kepadaku.

Sebagian dari diriku berharap agar dia terus tertipu sedikit lebih lama. Tapi, aku telah memutuskan untuk menjalani kehidupan ini dengan serius. Aku ingin menghilangkan semua perhentian. Untungnya bagiku, tubuh ini masih muda, dan memiliki ingatan yang bagus, jadi entah bagaimana aku masih bisa menahan hal ini.

Dan setelah diajari sebanyak itu, akhirnya aku mulai mengakui bahwa pengetahuan Gus tidak hanya sangat luas, tetapi juga sangat dalam.

Blood telah mengatakan kepadaku kalau Gus dulunya disebut sebagai “Sage Pengembara.” Aku bisa membayangkan kalau dia benar-benar mengembara ke seluruh dunia dan telah datang ke berbagai tempat, dan telah belajar dari pengalaman dan juga pengetahuan faktual.

Peradaban di dunia ini agak tertinggal dibandingkan duniaku sebelumnya—dengan catatan kau mengabaikan unsur sihir yang ada. Tapi saat Gus berbicara tentang anatomi binatang maupun prosedur untuk membangun bangunan, dia berbicara dengan singkat dan jelas. Tidak ada sedikitpun waktu yang dihabiskan untuk menjelaskan ide-ide gila seperti yang dilakukan ilmuwan abad pertengahan di duniaku sebelumnya.

Bahkan saat Gus berbicara tentang demi-human dan binatang mistis, yang di dalam kehidupanku sebelumnya tidak lebih dari potongan-potongan imajinasi, tidak terdapat sedikitpun keraguan dalam perkataannya. Saat aku mendengarnya menceritakan hal ini setelah dia sepertinya benar-benar bertemu dengan mereka, aku mulai menyadari bahwa aku akan tampak bodoh jika aku terus meragukan keberadaan mereka. Pengetahuan dari kehidupanku yang sebelumnya tidak dapat diterapkan di sini, dan aku mulai merasa bodoh karena kupikir aku bisa melakukannya. Bagaimanapun, orang yang ada di hadapanku tak diragukan lagi adalah sebuah hantu.

Bagaimanapun, pelajaran Gus berjalan dengan jadwal yang sangat padat. Aku dengan putus aja mencoba untuk mengikutinya, tapi patut dipertanyakan sampai kapan aku akan bertahan. Gus, emosian seperti biasa, tidak akan ragu untuk menghentikan pelajaran jika aku mulai protes dengan hal itu, jadi aku bahkan tidak diperbolehkan untuk menggerutu. Aku hanya harus bekerja keras dan menunjukkan kalau aku bisa memikul tugas dalam jumlah besar yang dia siapkan di hadapanku.

Itu melelahkan. Aku bisa dimaafkan karena menyebutnya sedikit diluar kendali. Tapi pelajaran Gus, mengingat komplain yang sudah kukatakan, masih berada pada peringkat kedua dalam hal terburuk.

Pelajaran Blood benar-benar berada di luar kendali bahkan saat dibandingkan dengan pelajaran Gus. Bukan “sedikit” diluar kendali—tapi sangat diluar kendali.

Kami telah berganti dari pertarungan pura-pura kami, dan aku telah belajar dengan pedang kayu dan tombak kayu yang lebih terasa asli, dan belajar tentang teknik bertarung. Sejauh itu masih baik-baik saja. Sebagai lanjutan dari perburuan kami, aku belajar bagaimana cara memasang jebakan, bagaimana cara menggiring mangsa, bagaimana cara mengalahkan binatang besar, dan bagaimana cara bertahan hidup selama berhari-hari di dalam hutan. Ini, juga, masuk akal. Dan latihan lari yang ketat serta latihan otot yang mulai Blood terapkan padaku saat tubuhku mulai berbentuk juga tidak terlalu mengejutkan, dan tentu saja sejalan dengan pendekatannya.

Perlengkapan sungguhan mulai keluar: pedang sungguhan, tombak sungguhan, dan armor kulit sungguhan. Aku tidak tau dari mana dia mendapatkan hal itu, tapi sudah wajar jika kau menyembunyikannya dari jangkauan anak-anak. Dia membuatku berlari kesana-kemari sambil memakai benda-benda itu, dan mempraktekkan teknik ayunanku menggunakannya. Semua itu kuanggap sebagai bagian biasa dari edukasi prajurit.

Tapi setelah itu, pelajarannya mulai menggila. Sangat gila.

“Oke. Jadi, mulai hari ini, aku akan mulai melemparkanmu ke pertarungan yang sebenarnya.”

Apa?

“Biarkan aku memperingatkanmu, yang akan kau lawan tidak akan memikirkan hal lain selain membunuhmu.”

Apa?

“Oke, ayo. Tentu saja aku akan mengawasimu, tapi jika terjadi sebuah kecelakaan, kau benar-benar akan mati. Jadi, uh, cobalah untuk tidak mati.”

APA?!

*

Aku akan langsung kebagian akhir. Aku menjalani masa-masa yang mengerikan.

Lebih jelasnya, Blood memberiku sebuah pedang panjang dan perisai bundar, dan membuatku bertarung mati-matian melawan seekor undead lemah yang dia tangkap entah dari mana.

Itu adalah sebuah mayat monster berwarna hitam dan kering. Dia tidak memiliki hidung atau telinga, bermata satu seperti cyclops, dan sebuah mulut yang terbuka lebar membentuk senyum yang mirip bulan sabit. Besar tubuhnya tidak terlalu berbeda denganku. Saat Blood melepaskannya, Aku segera menerima serangan, saat dia mengayunkan cakarnya yang terkelupas dan retak-retak.

Oh, ya. Aku ketakutan.

Itu mungkin mengejutkanmu setelah mendengar semua latihanku. Namun, latihan dan sungguhan adalah hal yang sangat berbeda.

Sangat menakutkan saat kau harus menghadapi lawan yang berniat membunuhmu. Bagaimana aku bisa mendeskripsikan situasi horror itu?

Ada perasaan aman saat aku sedang latihan. Itu memiliki batasan, yang disetujui oleh semua orang yang ambil bagian, jadi resiko kecelakaan atau luka benar-benar dikurangi sebanyak mungkin. Jika lawanmu mengambil resiko dan mengejutkanmu dengan sebuah gerakan yang tidak dapat kau tangani, kau tidak akan terluka parah, dan kau tidak akan mati. Hal yang sama juga berlaku jika kau sendirilah mencoba mengambil resiko dan bertindak berani.

Biaya yang harus dibayar saat mengambil resiko benar-benar rendah. Itulah yang membuatmu bisa mencoba berbagai jenis teknik, meneliti kelebihan dan kekurangannya, dan mengurangi teknik yang kau gunakan menjadi satu atau dua yang benar-benar efektif. Di duniaku sebelumnya, juga, para ahli bela diri menikmati popularitas besar dan kemajuan teknis sebagai hasil dari pembentukan format pertarungan yang aman.

Tapi dalam pertarungan sungguhan, semua tindakan memiliki resiko. Jika kau menerima sebuah serangan serius, jika kau terpeleset meski hanya sekali, hal itu saja sudah cukup untuk mengakhirimu. Kematian: akhir yang sesungguhnya.

Sekarang aku sedang melakukan pertarungan sungguhan, dan setiap tindakan yang kuambil memiliki kemungkinan untuk menuntunku pada beberapa tingkatan resiko. Pikiranku menjadi blank, dan aku mulai kehilangan rasa percaya diri pada apa yang harus kulakukan.

Tentu saja, aku ingin memiliki kehidupan sebelumnya, tapi aku merasa kalau itu adalah hal yang sangat langka, dan aku tidak yakin kalau aku bisa mendapatkannya lagi. Bahkan jika aku mendapatkannya, itu tidak akan memberikan perbedaan besar pada keengganan untuk mati yang bergejolak di dalam diriku.

Dan luka parah bukanlah satu-satunya hal yang kutakutkan. Jika aku mendapati mataku tercangkel, maka aku tidak akan bisa melihat lagi. Jika ada sebuah tendon yang terpotong, aku tidak bisa menggerakkan lenganku. Kerongkonganku bisa saja hancur. Aku bisa kehilangan jari. Aku penasaran apakah rumor yang kudengar di duniaku sebelumnya adalah kenyataan, bahwa saat hidungmu terpotong, lendir akan mengalir keluar dari lubang yang ada di wajahmu.

Niat membunuh milik lawanku memaksaku membayangkan semua kemungkinan mengerikan itu sekaligus.

Pandanganku jadi menyempit. Jantungku berdegup kencang. Nafasku jadi terengah-engah, tubuhku mulai gemetar, semua pikiran terhenti—dan seolah-olah semua itu tidaklah penting, aku bergerak untuk memotong musuhku dengan tebasan tunggal.

Saat monster undead itu mengayunkan cakarnya kepadaku, aku menangkisnya menggunakan perisaiku dan melangkah ke depan secara diagonal. Saat kami berpapasan, aku menebaskan pedangku secara horizontal ke arah tubuhnya. Dibantu oleh inersia putaran dari tubuhku yang terlatih dengan baik, otot bahu dan lenganku mendorong maju pedangku.

Aku merasakan hambatan kecil saat pedangku mengenainya.

Aku kembali memperlebar jarak di antara kami. Pada saat aku melihatnya, tubuh kurus milik undead itu telah terbelah menjadi dua, dan sedang berubah menjadi abu.

Bertarung dalam pertarungan sungguhan benar-benar menakutkan. Aku tanpa ragu bisa mengatakan bahwa aku barusan ketakutan setengah mati. Namun, ototku, yang telah dilatih sejak kecil, terasa setia dan berani. Mereka bergerak sendiri, meninggalkan pikiran pengecutku. Tanggapan terbaik terhadap setiap serangan yang diberikan telah tertanam pada mereka sebagai tindakan refleks.

Di duniaku sebelumnya, prajurit dan petarung yang telah melalui banyak latihan untuk bertarung kadang-kadang dianggap sebagai “mesin pembunuh.” Sekarang aku memahami betapa tepatnya deskripsi itu. Prajurit yang berlatih dengan benar dapat membunuh musuh mereka sebagai tanggapan mekanis, mengesampingkan seluruh perasaan takut dan jijik mereka, sama seperti yang pernah Blood katakan padaku.

“Fiuh…”

Monster yang baru saja kutebas mungkin adalah seekor iblis, salah satu minion dewa jahat dimensi, Dyrhygma. Kalau tidak salah, iblis yang baru saja kulawan adalah salah satu yang terlemah dan memiliki pangkat terendah. Aku mendapatkan pengetahuan itu dari pelajaran sejarah umum milik Gus, jadi aku yakin kalau itu benar.

Aku sedikit terkejut, sih. Iblis adalah makhluk dari dimensi lain, dan aku dengar bahwa saat dikalahkan, mereka hanya akan menghilang begitu saja. Aku tidak tau kalau mereka juga bisa menjadi undead. Mungkin yang satu ini spesial, pikirku, saat aku berdiri di atas monster yang baru saja kutebas dan melihatnya berubah menjadi debu.

Aku baru saja membunuh sesuatu yang terlihat mirip manusia. Tentu saja, itu adalah seekor monster undead, tapi aku tetap merasa aneh karena aku sama sekali tidak merasakan apapun. Aku tidak merasa bersemangat, panik, atau bingung. Jika ada musuh yang sama menyerbu ke arahku, aku yakin kalau aku akan menebasnya dengan cara yang sama. Kurangnya rasa raguku dalam mencabut sebuah nyawa mungkin adalah hasil dari kemahiran yang disebabkan oleh latihan yang kulakukan sampai saat ini.

Setelah aku memastikan bahwa monster itu telah benar-benar berubah menjadi debu, aku menatap ke arah Blood, yang sedang menunjukkan wajah tertegun. Tentu saja, ekspresi tulang-belulangnya sama seperti biasa, tapi mulutnya setengah terbuka, dan dia menatap langsung ke arahku.

“Blood, aku menang. Ada apa?”

“Uh… Benar. Ya, kerja bagus. Uh, itu oke, mengingat itu adalah pertarungan pertamamu.” Dia mencoba mengatakannya seolah-olah itu bukan apa-apa, tapi suaranya agak tidak meyakinkan. Dia terlihat puas.

Kesan yang kudapat adalah Blood secara pribadi berpikir apa yang kutunjukkan di sini sangatlah bagus, tapi dia tidak mau aku besar kepala, jadi dia memberitahuku untuk tidak membesar-besarkannya.

Ya, ya, ya. Aku tertawa ringan melalui hidungku. Mengetahui hal itu telah membuatku senang. Aku telah mempraktekkan apa yang Blood ajarkan kepadaku. Aku merasa sangat bangga pada diriku sendiri. Ok, baiklah…

Awalnya aku mengatakan kalau aku mengalami masa-masa mengerikan. Kau berpikir “itu tidak begitu buruk,” kan? Ya, tidak. Dari sinilah semuanya mulai salah.

“H-Hei! Jangan sombong. Itu oke. Aku bilang, hanya oke.”

“Ayo, menyerahlah. katakan saja, Aku seorang jenius!” Tentu saja, aku hanya bercanda. Aku mencoba membuatnya bercanda dengan pencapaianku. Tapi bukan itu yang kudapat, sih.

“Jenius, huh. Ya… Mungkin kau memang jenius.” Karena suatu alasan, Blood menanggapi candaanku dengan nada yang cukup serius. Dan kemudian, berganti ke nada ceria, dia mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan. “Baiklah jenius, kenapa kita tidak melewati jadwal yang ada dan mencoba sesuatu yang lebih sulit?!”

Serius?

*

Kota reruntuhan adalah sesuatu yang selalu kupandangi dari atas, dari kuil bukit. Aku tidak pernah diizinkan mendekatinya karena itu terlalu berbahaya, jadi aku tidak tau kalau tempat itu juga memiliki bagian bawah tanah yang rumit.

Sebelum kami masuk ke dalam, Blood mengatakan kepadaku bahwa kota ini pernah ditinggali oleh manusia dan ras dwarf.

Para dwarf memiliki tubuh yang pendek, tapi kekar dan unggul dalam bidang penempaan logam, teknik, dan konstruksi. Sama seperti yang diceritakan di bumi, mereka lebih suka tinggal di gua bawah tanah, dan tempat ini bukanlah pengecualian. Mereka telah membangun kota besar milik mereka sendiri di bawah kota ini.

Saat ini, kota bawah tanah yang ada di bawah reruntuhan ini adalah sebuah tempat yang berbahaya, di penuhi oleh undead liar dan tak berakal seperti yang Blood tangkap sebelumnya. Alasan kenapa aku dilarang mendekati kota reruntuhan ini karena makhluk undead seperti itu sering berkeliaran keluar dari bawah tanah.

Dan di bawah tanah itulah aku berada sekarang.

Perlengkapan yang diberikan kepadaku adalah pakaian, sepatu, armor kulit, sebuah pedang panjang, sebuah belati, sebuah perisai bundar, dan terakhir, bungkusan yang ada di punggungku, yang berisi roti, daging kering, dan satu botol air. Blood telah meninggalkanku di sini, jauh di dalam kota bawah tanah. Aku harus berhasil keluar dari sini sendirian menggunakan barang-barang yang telah diberikan kepadaku.

Kegelapan pekat menyebar di hadapanku. Itu tidak hanya gelap. Aku tidak bisa melihat tangan yang kubawa ke depan wajahku. Ini adalah kegelapan yang sesungguhnya, tanpa sedikitpun cahaya, bahkan membuat inderaku hilang keseimbangan.

Seperti yang mungkin sudah kau sadari, sumber cahaya tidak termasuk dalam perlengkapan yang diberikan padaku. Blood telah membawaku kemari menerobos kegelapan ini. Tentu saja dia tidak lagi memiliki bola mata manusia, dan sepertinya menggunakan beberapa metode gaib lainnya untuk melihat sekelilingnya. Tentu saja, aku tidak bisa mengingat jalan yang kami lalui untuk bisa sampai kemari. Lalu, dia pergi begitu saja, bahkan tanpa memberiku cahaya, meninggalkanku di tengah sarang undead ini. Jadi di sinilah aku sekarang.

Setidaknya aku akan mengakan kalau ini sepertinya buruk, dan sekarang bahkan aku belum mulai. Tapi, kepanikan tidak akan menyelesaikan semuanya. Pada dasarnya, ini adalah sebuah ujian praktek. Ini, mungkin saja, dimaksudkan sebagai situasi yang dapat kuselesaikan, jika aku menggunakan semua yang diberikan kepadaku dengan baik.

Aku menarik nafas dalam-dalam, dan seolah-olah memperluas indra perabaku melewati batas dari kulitku, aku merasakan mana di sekitar sini, dan menyatu dengannya. Menarik belatiku, aku kemudian menuliskan Word Lumen, yang berarti “cahaya,” pada perisaiku.

Perisa itu menyala, dan dengan cahaya magis-nya aku bisa melihat area di sekitarku, sampai jarak sepuluh meter, dengan jelas. Cahaya itu tidak bergoyang seperti cahaya yang berasal dari api, dan juga lebih terang, hampir sama terangnya dengan lampu neon dari dunia lamaku. Cahaya ini akan mati dalam beberapa jam, tapi saat hal itu terjadi, cahaya itu bisa dihidupkan kembali dengan cara menyalurkan mana yang ada di sekitarku ke dalam Word yang tertulis.

Aku memeriksa sekelilingku dengan cahaya itu. Sepertinya aku sedang berada di sebuah ruangan kecil. Ada sebuah pintu masuk, dan semua tempat yang tidak terjangkau oleh cahayaku merupakan kegelapan yang sesungguhnya. Aku bisa mendengar suara angin yang bertiup dari suatu tempat.

Aku tidak tau akan butuh berapa lama untuk lolos dari sini. Yang jadi masalah adalah istirahat, pikirku. Aku tidak punya seorangpun di sini yang bisa berjaga saat aku perlu beristirahat. Beristirahat dalam situasi seperti ini memerlukan keberanian yang besar dan sejumlah persiapan.

Kau tidak kesulitan saat aku sendirian di kamarmu sebelumnya, pikirku dengan pahit. Dalam sepuluh tahun terakhir, Blood selalu ada di sana, bersama Mary dan juga Gus.

“Mendapati dirimu sendirian akan membuat merasa begitu kesepian dan… cemas,” gumamku. Aku telah melupakan hal itu.

Blood mungkin sedang menguji semua kemampuan praktek milikku: kekuatan fisik besar yang dibutuhkan untuk menahan keadaan instens dari pertempuran sungguhan, fleksibilitas untuk menemukan teknik yang tepat untuk menangani berbagai jenis situasi, dan ketahanan mental untuk tetap merasa tenang saat menghadapi kesendirian dan bahaya.

Memastikan bahwa aku bisa menggunakan semua yang diajarkan dari ketiga hal itu, bahkan ketika mereka tidak ada di sekitarku—itulah tujuan dari latihan ini.

Sekarang umurku tiga belas tahun, dan sebentar lagi akan naik ke empat belas. Kedewasaan dimulai pada umur lima belas tahun di dunia ini, jadi waktuku untuk mulai berdiri dengan kedua kakiku sendiri sudah sangat dekat.

Aku ingin agar mereka melihat performa terbaikku. Aku ingin agar mereka bertiga tau bahwa hal-hal yang mereka ajarkan telah membuahkan hasil, bahwa mereka tidak buang-buang waktu untuk mengajariku. Jika mungkin, aku ingin agar mereka merasa bangga karena aku menjadi murid mereka.

Dengan tekad unruk menggunakan seluruh kemampuanku, aku berjalan menuju labirin.

*

Menggunakan periasiku, aku menangkis ekor berdiri yang diayunkan kearahku dari sudut pandanganku.

“Tacere, os!” Tanpa gentar aku mengatakan Word untuk mendiamkan sesuatu. Rahang milik monster tulang yang ada di depanku langsung terkunci, dan Word yang coba dia ucapkan langsung terhenti.

Tidak berniat untuk menyia-nyiakan kesempatanku, aku melangkah ke arahnya, tapi hujan ayunan liar dari tombak pendeknya memaksaku untuk segera berhenti, dan setelah itu mulai mundur. Aku menatap ke arah kegelapan dingin di dalam lubang matanya, dan sepertinya dia menatap balik ke arahku.

Aku sedang berada di area terbuka dan luas di kota bawah tanah. Hal yang ada di depanku adalah seekor skeleton yang dulunya merupakan iblis. Untuk mendeskripsikan penampilannya dalam beberapa kata, itu adalah gabungan antara manusia dan buaya.

Dia memiliki tinggi sekitar 2 meter, dan tengkoraknya mengingatkanku pada dinosaurus. Dia memiliki tulang yang tebal cocok dengan fisiknya, dengan banyak tulang-tulang lancip yang mencuat dari lengannya, dan ekor panjang miliknya yang memiliki duri di bagian ujungnya. Dia memegang sebuah tombak logam pendek tidak berkarat, di tangannya yang mirip tangan manusia.

Aku ingat pernah mendengar iblis ini dari Gus. Dia disebut vraskus.

Aku diberitahu kalau gigitan rahangnya bisa menghancurkan armor logam, sementara serangan ekornya sama seperti serangan milik assassin, datang dari sudut yang tak terduga. Dia memiliki peringkat cukup tinggi, karena mampu menggunakan semua jenis senjata, dan bahkan mampu menggunakan Word of Creation.

Sisiknya yang keras, kulitnya yang elastis, dan ototnya yang tebal dikatakan bisa membuat kesal lawannya sama seperti sedang melawan warrior yang memakai armor lengkap. Untungnya, karena sekarang dia tinggal tulang-belulang, perlindungan itu telah hilang. Aku merasa agak beruntung.

Gus telah mengatakan kepadaku selama pelajarannya bahwa jika kau mengirim sepuluh warrior untuk melawan iblis ini, kau tidak akan mendapat hal lain selain sepuluh mayat. Dia mungkin melebih-lebihkannya, sih. Bagaimanapun, makhluk ini benar-benar lamban jika dibandingkan dengan Blood.

Aku menunggu saat yang tepat, dan mendekat secepat yang kubisa. Saat dia menusukkan tombaknya ke depan, aku menangkisnya menggunakan perisaiku. Aku mendengar perisai dan tombak itu saling bergesekkan. Aku bergerak semakin mendekat. Vraskus itu menyambutku dengan rahang yang tidak bisa lagi menggunakan sihir, dan sebagai gantinya mencoba mengigitku. Aku juga sudah menduga hal itu. Aku menunduk rendah dan berguling ke depan untuk menghindarinya, meloncat ke atas, dan menghujamkan ujung pedangku ke sekitar tulang ekornya. Aku segera memutarnya dengan kuat. Ekor itu kembali mengayun ke arahku dari titik buta. Aku menghancurkan bagian yang menghubungkan ekor itu dengan tubuhnya, dan merasa kalau ekor itu kehilangan kekuatan dan terjatuh ke tanah.

Vraskus itu terdiam sesaat karena terkejut.

Aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku mengangkat perisai bundarku, dan berniat melakukan hantaman perisai.

Mungkin tidak perlu dikatakan kalau seorang bocah biasa dengan tinggi 160 cm tidak akan pernah bisa menggoyahkan binatang dengan tinggi dua meter hanya dengan menghantamnya. Tapi lawanku tidak lebih dari tulang-belulang, dan kehilangan ekornya telah membuatnya hilang keseimbangan. Aku meghantamkan tubuh dan perisaiku dengan seluruh tenaga yang dapat kukumpulkan. Terjadi sebuah tabrakan keras, dan sesaat kemudian, vraskus itu jatuh ke tanah.

Aku menginjak pegangan tombaknya.

Tapi vraskus itu segera berpikir dan bertindak. Dia segera melepas tombaknya dan menyerangku dengan tangan terbentang, mencoba untuk menggigitku.

Sama seperti yang sudah kuperkirakan.

Aku telah menggenggam pedangku dengan dua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalaku, menunggu untuk mencegat serangannya.

“Y-yaaaaghhh!” Saat vraskus itu merunduk untuk mengincar kerongkonganku, aku mengayunkan pedangku ke arah tengkoraknya dengan sekuat tenaga. Pecahan tulang beterbangan ke segala arah, dan skeleton besar itu roboh ke atas tanah dalam posisi tengkurap.

Ujung pedangku yang patah berputar dengan cepat di udara. Ujung itu menghantam lantai dan kemudian berhenti berputar di ujung ruangan.

“Ah…”

Vraskus itu mulai berubah menjadi debu, tapi aku lebih khawatir dengan keadaan pedang panjang kepercayaanku yang belum pernah kuberi nama. Seolah-olah sebagai ganti untuk mengalahkan lawan yang kuat itu, sekarang pedangku benar-benar rusak parah.

Aku merasa darahku menjadi dingin.

Ini… buruk.

Banyak undead yang berkeliaran di tempat ini, dan aku ada di sini tanpa senjata utama. Ini sangat buruk.

Aku benar-benar terguncang, tapi sesaat kemudian ada sesuatu yang mengalihkan perhatianku. Mataku menangkap tombak pendek yang dipegang vraskus. Senjata itu tidak berubah menjadi debu. Aku mengambilnya dan memeriksanya. Penampilannya tidak terlihat jahat. Atau lebih tepatnya, itu adalah sebuah tombak buatan dwarf.

Aku merenung dalam-dalam. Mungkin ini adalah buatan para dwarf yang dulu tinggal disini?

Tapi kalau begitu, bagaimana senjata ini bisa bertahan bertahun-tahun tanpa berkarat sedikitpun? Penasaran dengan hal itu, aku memeriksanya dengan lebih teliti, dan menyadari bahwa Word of Creation telah dituliskan di berbagai tempat di tombak ini. Menurut Gus, pada masa peperangan para dewa, mereka menuliskan berbagai jenis Sign pada berbagai jenis item, dan menciptakan banyak senjata suci dan harta karun legendaris. Dwarf mewarisi sebagian kemampuan itu, dan memiliki teknik rahasia untuk memperkuat senjata dengan Word.

Kalau begitu tombak tak berkarat ini adalah sebuah senjata sihir, dibuat oleh para dwarf yang pernah menghuni tempat ini.

Secara umum, senjata-senjata seperti ini memiliki ketahanan yang sangat tinggi, dan bahkan berefek pada hantu seperti Gus, yang tidak dapat disentuh dengan serangan fisik biasa. Bahkan ada beberapa yang memiliki efek tambahan kuat seperti mengeluarkan api atau melumpuhkan lawan dengan gelombang kejut. Satu-satunya masalah adalah, aku tidak mungkin memastikannya di sini. Aku takut mengayunkan tombak yang tidak kuketahui apa efek sihir yang dia miliki.

Tapi tetap saja, menjelajahi tempat ini tanpa senjata utama jauh lebih menakutkan.

Mengingat vraskus itu bisa mengayunkannya dengan mudah, aku menduga bahwa apapun Word yang ada pada tombak ini, mereka mungkin tidak berbahaya bagi penggunanya. Aku memutuskan untuk meminta Gus memeriksanya nanti, dan meminjam kekuatannya untuk saat ini.

Aku meraih pegangannya, dan mencoba beberapa ayunan dan tusukan agar terbiasa dengannya. Tombak ini sangat mudah digunakan, seolah-olah menempel di tanganku.

“Baik.”

Ayo lihat apakah aku bisa melakukan sesuatu dengan ini, pikirku, dan tak lama setelah aku melangkahkan kakiku ke depan, punggungku terasa merinding.

Aku berbalik. Gus ada di sana. Dia menatap ke arahku, dan ada niat membunuh di matanya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. Newwebies189 says:

    Lanjutkan min !!!

    Like

  2. Novanto says:

    Aku berterima kasih karena dia mau mengajariku.

    Aku bersyukur, cuma saran sih.

    Like

  3. ntabss !! njut min

    Like

  4. Manusia says:

    Lnjut min..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s