The Faraway Paladin Volume 1 Chapter 2 A

Volume 1
Chapter 2 (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Sebuah keheningan mendalam yang seolah-olah menolak semua suara telah menyebar ke seluruh aula yang dingin.

Aku melipat kakiku dalam posisi bersila, dan meletakkan punggung telapak tanganku di lututku. Aku sedikit mengguncangkan tubuhku untuk menyesuaikan postur-ku. Lalu aku duduk sangat tegak, seolah-olah punggungku adalah poros yang menghubungkan bumi dan langit, dan menundukkan kepalaku.

Secara perlahan aku menutup mataku di aula kuil yang besar.

Pandanganku telah menjadi gelap. Indera pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa ku juga menerima sangat sedikit rangsangan.

Aku menghembuskan nafas dengan perlahan, dan menarik nafas dengan tidak terlalu dalam. Aku menganggap seluruh siklus itu sebagai “satu” bagian.

Satu, dua, tiga, empat, lima… Aku berkonsentrasi sepenuhnya untuk berhitung. Setiap kali sebuah pikiran tidak penting masuk ke dalam otakku, aku mengulangi semuanya dari awal.

— Kondisi kekosongan pikiran bukanlah tentang tidak memikirkan apapun. Hal itu akan menuntunmu ke dalam siklus berpikir tentang bagaimana caranya untuk tidak berpikir, yang sia-sia. Kau tidak bisa mencapainya dengan bermain kata atau memikirkan hal yang abstrak.

— Untuk mencapai kekosongan pikiran, sampai benar-benar tidak memikirkan apapun, kau harus fokus sepenuhnya pada “masa sekarang”. Buang semua kenanganmu tentang masa lalu dan imajinasimu tentang masa depan. Hanya pikirkan tentang masa sekarang yang ada di hadapanmu.

— Serahkan dirimu kepada Dewa. Bukan dirimu di masa lalu, maupun dirimu di masa depan. Dirimu yang saat ini, kecil dan tidak berarti apa-apa, yang ada tepat pada saat ini. Tidak ada trik tersembunyi pada hal itu. Lakukan saja itu dan hanya itu, dengan sungguh-sungguh. Pikirkan tentang saat ini, fokus pada hal itu, dan rendah serahkan dirimu. Itulah yang kau perlukan untuk “berdoa tanpa pikiran.”

Perkataan Mary terlintas di pikiranku. Aku menghitung nafasku, dan sesaat kemudian bahkan hal itu juga menghilang.

Satu, dua, tiga, empat, lima… Lagi dan lagi, aku hanya berkonsentrasi untuk menghitung.

Aku tidak memikirkan hal lain.

Aku mendengar hembusan angin. Kicauan burung di kejauhan.

Aku bisa merasakan sensasi pada kulitku saat aku duduk di atas lantai.

Aku menghitung, lagi dan lagi.

Aku merasakan udara yang kuhirup, udara yang kuhembuskan, suara nafasku, dan detak jantungku.

Aku menghitung, lagi dan lagi.

Aku menghitung.

Menghitung.

Lebih dalam.

Terus lebih dalam.

Aku merasa seperti sedang menyelam ke kedalaman lautan.

Dalam.

Dalam.

Semakin dalam.

Berapa lama aku sudah “menyelam”?

Suara lonceng yang jernih dan nyaring membawa diriku kembali ke kenyataan.

Aku membuka kelopak mataku setelah sekian lama tertutup. Pemandangan kuil kembali memasuki pandanganku. Pemandangan itu terlihat sangat jelas.

Malam telah lama datang, dan sekelilingku diterangi oleh cahaya lentera. Patung para dewa, disinari oleh api yang bergoyang di kegelapan yang dingin, benar-benar terlihat fantastis dan mempesona.

Kita para manusia bisa dengan mudah terbiasa dengan sesuatu. Setelah kita terbiasa melihat sesuatu, kita tidak akan terlalu memperhatikannya pada saat kita melihatnya lagi. Terbiasa mendengarkan sesuatu, dan kita tidak akan terlalu memperhatikannya saat kita mendengarnya lagi. Sentuhan, bau, dan rasa juga sama.

Itulah cara kita belajar untuk menanggapi rangsangan dengan efisien. Tapi di sisi lain, itu juga bisa menumpulkan kepekaan dan membuat kita melupakan perasaan kita.

Itulah sebabnya aku menyukai momen ketika terbangun dari doa yang khusyuk. Semua yang kulihat dan kudengar terasa segar, seolah-olah itu semua baru saja terlahir kembali. Itu adalah perasaan yang menyenangkan, seolah-olah aku baru saja membersihkan tubuhku dari kotoran yang melekat di seluruh inderaku.

Aku menikmati perasaan itu untuk sesaat, dan kemudian menggerakkan tubuhku secara perlahan dari posisi bersila. Aku telah cukup lama melakukan pose itu, dan seluruh tubuhku terasa nyeri.

“Kerja bagus, Will.” Mary menungguku bergerak sebelum mulai berbicara. Dia sedang memegang lonceng yang dia gunakan untuk mengakhiri sesi berdoa.

“Ini mengakhiri lima hari ritual doa hening.”

“Te-Terima kasih…”

Sekarang aku berusia tiga belas tahun berdasarkan perhitungan mereka. Sudah lima tahu berlalu sejak aku membakar tanganku.

Faktanya, aku bisa saja menyembuhkannya tanpa bekas dengan menggunakan lebih banyak berkah, selama aku siap melihat Mary terbakar menjadi arang lagi. Dia telah menawarkan hal itu kepadaku, tapi aku menolaknya. Itu sebagian karena kurasa aku tidak layak meminta hal itu darinya hanya karena luka bakar seperti ini, dan sebagian lagi karena Blood telah mengatakan kepadaku bahwa luka ini adalah simbol kehormatan.

Aku menerima perawatan untuk luka itu, termasuk sihir dari Gus, dan setelah penderitaan yang lama, yang tersisa saat ini hanyalah warna gelap mulai dari telapak tanganku sampai sekitar bagian atas tanganku, hampir seperti yang diharapkan. Mereka bilang kepadaku kalau aku sangat beruntung. Aku sebenarnya sudah mempersiapkan diriku untuk melihat luka bakar itu berubah menjadi luka bengkak bernanah, jadi pada akhirnya aku agak merasa, “Oh, hanya ini?” Tapi bahkan saat ini, simbol itu masih membungkus kedua tanganku.

Sejak saat itu, aku telah bertambah tinggi. Sekarang aku sudah setinggi mata Mary, dan juga semakin dekat dengan Gus. Aku masih harus mendongak untuk melihat Blood, tapi dia pernah memuji tentang betapa perkasanya diriku.

Setelah aku terlahir kembali di dunia ini setelah kehidupanku sebelumnya, aku tidak membawa penggaris ke dunia ini. Aku hanya bisa mengira-ira tinggiku berdasarkan “sosok lamaku,” tapi kurasa sekarang ini tinggiku sudah lebih dari 160 cm.

Dunia ini biasanya menggunakan pengukuran dengan besaran antropik. Contohnya, jika aku meniru bentuk pistol menggunakan jempol dan jari telunjukku, maka jarak keduanya sekitar 15 centimeter, aku tak punya pilihan lain selain mengubahnya ke meter, sih. Ini pasti adalah pengaruh dari ingatan masa laluku.

Mari kembali ke situasi saat ini.

Selama lima hari terakhir, aku telah mengambil libur latihan dengan Gus dan Blood untuk melakukan ritual doa hening. Itu adalah ritual keagamaan ketat yang dilakukan pada musim dingin di kuil-kuil milik Mater sang Dewi Bumi. Mary sudah beberapa kali melakukan hal ini selama dia masih hidup.

Ritual itu… sungguh sesuatu.

Dari matahari terbit sampai matahari terbenam lima hari kemudian, kau dilarang untuk mengucapkan satu katapun, kecuali dalam keadaan darurat. Komunikasi hanya dapat dilakukan melalui lonceng, dan selain waktu yang digunakan untuk tidur dan lainnya, yang harus dijaga dalam jumlah minimum, hampir seluruh dari sisa waktu itu harus dihabiskan untuk berdoa dengan khusyuk.

Berdiri, berdoa. Duduk, berdoa. Saat tubuhmu mulai terasa kaku dan nyeri, berdiri dan berjalan, dan sambil berjalan itu kau tetap harus berdoa. Setelah kau merasa baikan, duduk kembali dan berdoa. Saat waktunya untuk tidur, sebelum tidur, berdoa. Ada doa untuk ucapan syukur saat makan, doa percakapan sambil melihat dirimu sendiri, doa mohon perlindungan, doa pujian untuk Dewa.

Dan setelah melakukan perulangan berbagai jenis doa itu dibawah sinar matahari, ritual itu akan selesai dengan mengosongkan pikiran selama beberapa jam.

Saat pertama kali aku mendengar apa yang akan kulakukan, Aku, juga, merasa tercengang. Tapi cukup menakutkan dan mengejutkan saat mengetahui apa yang dapat manusia lakukan saat mereka benar-benar berusaha melakukannya.

Mary, kebetulan, memberitahuku kalau dia secara fisik tidak mampu melakukan doa dalam waktu lama tanpa mengubah dirinya menjadi abu. Jadi sebagai gantinya dia membantuku. Tentu saja, aku memaklumi hal itu.

Aku sesaat memang bertanya-tanya, apakah aku akan diberi berkah setelah melakukan semua doa ini, tapi tidak ada tanda-tanda akan terjadi apapun. Dilihat dari hal itu, sepertinya berkah benar-benar memerlukan afinitas yang besar dengan dewa mu. Mary telah mengatakan kepadaku bahwa ada banyak orang yang sangat taat tapi tidak pernah menerima berkah. Aku berpikir kalau memang begitulah adanya.

Dalam banyak hal, ajaran Mary tentang doa memang merupakan sebuah ujian, tapi…

Ada yang lebih buruk lagi.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. reader says:

    👍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s