Infinite Dendrogram Volume 7 Chapter 7 A

Volume 7
Chapter 7 – Melesatlah Tinggi, Bintang Jatuh (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Kisah sebuah Bintang

Monochrome tidak tau dari mana dia berasal. Dia bahkan tidak tau apakah dia telah terlahir secara alami atau diciptakan oleh seseorang.

Nama yang ada di atas kepalanya juga merupakan sesuatu yang tidak pernah dia sadari.

Dunia menyebut monster ini “Void of the Black Sky, Monochrome,” tapi makhluk itu tidak pernah menganggap dirinya seperti itu.

Baginya, dunia hanya tercipta dari “ini” (dirinya) dan “semua hal lainnya,” jadi membedakan hal-hal menggunakan nama adalah hal yang tak diperlukan. Yang terpenting adalah dia memiliki kekuatan, dan semuanya selesai sampai disitu.

Sebagai keberadaan yang mendapatkan energi yang dibutuhkan untuk aktivitasnya hanya dengan menyerap cahaya, Monochrome tidak punya alasan untuk melakukan apapun. Dan oleh karenanya, sejak awal kemunculannya, dia sama sekali tidak melakukan apapun. Dia tidak perlu melakukan apapun, jadi dia tidak perlu memikirkan tentang melakukan apapun.

Faktanya, dia sama sekali tidak berpikir — tidak ada hal yang pernah membuat pikiran atau hatinya terbebani.

Itulah keberadaannya jauh sebelum dia disebut sebagai “Void of the Black Sky, Monochrome.”

Dia hanya melayang di langit dan hampir tidak melakukan apapun selain “ada” — atau bisa dibilang, “hanya berada disana.” Dia memakan semua cahaya yang dia butuhkan untuk hidup, dan memancarkan semua cahaya yang tersisa di malam hari.

Mereka yang melihat ke atas langit hanya akan melihatnya sama seperti bintang lainnya. Satu-satunya yang membuatnya berbeda bintang lain adalah fakta bahwa dia sedikit lebih terang dari pada kebanyakan bintang lain dan dia tidak diam ditempat.

Sampai sejauh itulah keberadaannya dan pengaruhnya pada dunia.

Sebenarnya dia bisa saja terus melayang tanpa arah di langit sebagai bintang sebatang kara untuk selamanya, tapi suatu saat, dia berubah menjadi Monochrome.

Hal yang menyebabkan perubahan di dalam dirinya adalah cahaya yang dia lihat di daratan beberapa ratus tahun lalu: sebuah api yang membakar sebuah kota yang ada di bawah.

Monochrome — atau, lebih tepatnya, dirinya sebelum mendapatkan nama — menatap ke arah api membara yang disebabkan oleh peperangan.

Manusia membunuh sesama manusia. Banyak orang yang terluka, rumah mereka dibakar, dan hidup mereka berakhir saat udara menjadi kental dengan penderitaan dan keputusasaan.

Tapi meskipun terkesan menakutkan, ada seseorang yang melihat pemandangan itu sambil tertawa dengan sepenuh hati.

Komandan dari pasukan penyerang tertawa dengan keras saat negara musuh terbakar sampai rata dengan tanah.

Emosi yang begitu intens itu adalah sesuatu yang tidak familiar bagi makhluk mirip tanaman yang melayang di langit itu, dan melihat pemandangan itu membuat sesuatu di dalamnya — sesuatu yang sampai saat ini telah tertidur — tiba-tiba tergugah.

Hati, pikiran, inti — tidak ada yang tau apa itu sebenarnya, tapi faktanya itu telah tergerak, dan dia tidak tau kenapa.

Apapun itu, itu adalah perubahan pertama yang pernah dirasakan oleh makhluk itu sejak awal dari keberadaannya yang hampir mirip batu. Karena hal itu, dia tidak menghiraukan apakah pemandangan mengerikan yang dia lihat itu akan memberikan efek positif atau tidak.

Dia hanya memperdulikan bahwa rasa putus asa telah menyebabkan dirinya berubah, sama seperti perasaan itu mengubah mereka yang sedang menderita dan mereka yang sedang tertawa.

Hal itu sangat baru dan misterius baginya sampai-sampai dia memutuskan untuk membawa rasa putus asa yang baru.

Dia sudah tau bahwa memusatkan cahaya berlebih yang ada di tubuhnya membuatnya bisa menembakkan sebuah cahaya panas dan bisa mencapai daratan, dan itulah yang dia lakukan.

Meniru pertarungan yang ada di peperangan di bawah, dia menggunakan kekuatannya sendiri untuk melukai dan membakar, dimulai dari orang yang menertawakan orang lain yang sedang putus asa.

Hasilnya?

Orang itu menderita — menunjukkan keputusasaan.

“… Kya… ha.”

Melihat pemandangan itu, makhluk itu merasakan intinya kembali tergugah. Bahkan fungsi suaranya, yang sebelumnya tak pernah digunakan, mulai mengeluarkan sebuah suara.

“KyA…ha…Ha.”

Dia menembakkan lebih banyak cahaya, menciptakan lebih banyak orang yang tenggelam dalam penderitaan dan keputusasaan, dan mereka mati tanpa bisa menyadari apa yang terjadi pada mereka.

Saat penderitaan itu semakin meluas, makhluk itu merasakan sesuatu telah terlahir di inti-nya, yang sebelumnya hanya mirip dengan batu.

“K y A h a H A h a h A H a H a h A h!”

Pada akhirnya, fungsi suaranya mulai mengeluarkan tawa keras.

Murni dan polos, dia tertawa seperti bayi yang pernah dia dengar saat sedang melihat daratan, membuat kegembiraannya diketahui oleh banyak orang. Dia merasa senang dengan perubahannya dan membangun ulang kewarasannya.

Ayo bakar lebih banyak lagi. Mereka adalah “obor.” Saat mereka terbakar, mereka mencerahkan hati ini.

Beberapa lama setelah itu, dia diberi nama “Void of the Black Sky, Monochrome,” tapi dia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Monochrome hanya terus melayang di langit dan membakar binatang untuk melihat keputusasaan mereka.

Dari waktu ke waktu, akan ada orang-orang yang menantang makhluk itu, tapi mereka semua berakhir dengan terbakar sampai mati bahkan sebelum bisa mencapai makhluk itu.

Monochrome menyadari bahwa intinya merasa paling tergerak saat wajah penuh tekad milik orang-orang yang menantangnya berubah menjadi wajah keputusasaan, dan karena hal itu, entitas itu memilih untuk diam di satu tempat.

Jika “ini” diam disini dan menunggu, “ini” akan bisa melihat obor-obor dengan wajah penuh tekad yang kemudian akan dipenuhi keputusasaan, kan?

Dengan itu, dia mulai berdiam di langit di atas sebuah tempat yang kemudian akan disebut “Desa Torne.”

Hal itu pada akhirnya menuntun pada kejadian dimana dia dihantam oleh sebuah meteor dan terkubur di bawah tanah selama 300 tahun, tapi ratusan tahun itu sama sekali tidak bisa mengubah sifat dan modus operandi nya.

Monochrome tetap diam disana dan menunggu “obor” penuh tekad untuk menantangnya, dan tidak butuh waktu lama sampai keinginannya terwujud.

Bagaimanapun, saat ini, tepat di bawahnya, ada seorang pria yang berjuang melawannya dengan tekad yang lebih besar dibandingkan orang-orang sebelumnya.

***

Desa Torne

Pria itu, Ray, menggunakan Nemesis dalam bentuk ketiga untuk bertahan dari tembakan cahaya Monochrome.

Perisai itu menahan semua serangan langsung, tapi bagian panas yang dimiliki oleh tembakan cahaya itu mencapai tangan Ray karena efek konduksi dan membuatnya menderita luka bakar parah.

Meski begitu, dia tidak mundur atau berpikir untuk melepaskan perisainya. Dia hanya mengaktifkan sihir penyembuhnya secara terus-menerus sambil berkonsentrasi mendengarkan perkataan Nemesis.

“27,210… 30,635…”

Itu tidak lebih dari sekedar nomor. Nemesis menyuarakan nomor yang lebih besar setiap kali tembakan cahaya itu datang. Itu sangat mirip dengan penghitung damage-nya yang biasa, tapi ada beberapa perbedaan disini.

Ray berasumsi bahwa damage yang telah terkumpul sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Monochrome, tapi meski begitu, dia terus menerima serangan Monochrome.

Meskipun telah dikurangi oleh perisai dan Paladin’s Aegis, hujan tembakan cahaya itu masih memberikan lebih banyak damage daripada yang Ray sembuhkan menggunakan sihir-nya dan Bloody Regeneration milik BR Armor, tapi perbedaannya tidak terlalu besar, jadi HP Ray hanya berkurang secara perlahan.

“Ray-san!” teriak Louie, melihatnya sambil masih dilindungi oleh Gringham.

Ray tidak lagi berada di punggung hewan itu, karena Monochrome telah mengubah sasarannya dari Gringham ke Master yang melawannya. Hal itu sudah jelas karena tembakan cahaya itu tidak mengarah mengarah ke hewan itu, melainkan mengikuti Ray.

Oleh karenanya, dia turun dari punggung Gringham dan menghadapi hujan tembakan cahaya itu sendirian.

Saat ini, Gringham terluka begitu parah sampai-sampai dia hampir tak dapat bergerak, tapi meski begitu, dia terus melindungi Louie tersayangnya, yang sedang melihat Ray yang tengah berjuang melawan Monochrome dan tembakan cahayanya.

“K y a H A h a H a h A h A H!” entitas itu tertawa.

Bidang pandangnya menangkap banyak hal di permukaan.

Dia melihat “obor” berarmor yang sedang berlari ke arah kincir angin.

Dia melihat banyak obor yang bersembunyi di tempat perlindungan.

Dia melihat obor hewan dan obor bocah yang dilindunginya.

Dia melihat obor seorang pria dan wanita yang bersembunyi di kegelapan.

Dia melihat beberapa obor yang bersiap untuk menyerangnya kembali dari permukaan.

Dia melihat obor mohawk yang bersiap untuk terbang ke angkasa, dan kemudian dihentikan oleh obor lainnya.

Tapi obor-obor itu tidak ada artinya lagi baginya.

Monochrome saat ini hanya tertarik dan memperdulikan satu obor: obor yang mengarahkan perasaan terbesar kepadanya.

Benar, obor itu telah memikatnya, dan itu adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sampai saat ini, makhluk itu tidak pernah membeda-bedakan obor yang dia lihat. Bagi Monochrome, dunia hanyalah “ini” (dirinya sendiri) dan “semua hal lainnya,” dimana yang terakhir hanyalah obor yang terbakar dalam penderitaan dan keputusasaan, dan oleh karenanya dia tidak pernah membeda-bedakan mereka.

Obor ini hampir menjadi sebuah pengecualian. Dari daratan, dia menatap Monochrome tanpa sedikitpun tanda-tanda rasa takut maupun keputusasaan — hanya sebuah kemarahan murni.

Makhluk itu membalas tatapan obor itu yang merupakan Ray Starling, dan berpikir.

Ya. Itu adalah dia. Dia adalah satu-satunya yang bisa mengejar paling dekat dengan “ini.” Apa yang berbeda darinya?

Dia menyadari kalau pria itu adalah orang yang mencoba mendekatinya tadi, dan meskipun sudah dikalahkan sekali, pria itu masih menatap Monochrome dengan ekspresi menantang, yang bagi makhluk itu terasa sangat berbeda.

Orang-orang yang berjuang melawannya di masa lalu memiliki sesuatu yang mereka percayai sepenuh hati. Beberapa sangat ahli dalam berpedang, beberapa ahli dalam memanah, sementara beberapa lainnya bertarung bersama para naga.

Sering kali, setelah menyadari bahwa serangan, sihir, dan hewan andalan mereka tidak bisa melukai dirinya, ekspresi berani mereka akan berubah menjadi ekspresi keputusasaan, dan wajah itulah yang menggetarkan inti Monochrome melebihi hal lainnya.

Namun, Ray masih berjuang. Hatinya masih belum menyerah setelah gagal mencapainya dengan cara terbang, setelah dagingnya terpanggang oleh tembakan cahaya itu, dan bahkan setelah mengetahui tidak ada cara yang dia miliki untuk mengalahkannya. Dia hanya tidak hancur.

Oleh karenanya, dia membuat Monochrome berpikir, Kalau begitu aku akan habis-habisan.

Itu akan menjadi pertama kalinya dia menggunakan kekuatan penuhnya sejak kemunculannya ratusan tahun lalu.

Dia mengubah cahaya menjadi MP, mengubah MP menjadi energi tembakan, dan terus-menerus mengumpulkannya di dalam dirinya.

Setelah berulang kali mengubah dan menambah, Monochrome akhirnya memiliki jumlah energi maksimal yang dapat dia tampung, dan memusatkannya di seluruh tubuh kristalnya, bukan hanya ujung tentakel-nya.

Retakan yang ada di kristal mulai mengeluarkan gelombang energi yang memusnahkan awan di sekelilingnya dan menciptakan sebuah ruang dimana hanya ada langit cerah di sekeliling makhluk itu.

Tubuh Monochrome mulai bersinar begitu cerah sampai-sampai sulit untuk dipercayai betapa hitam-nya dirinya beberapa saat lalu.

Dia sedang bersiap untuk melepaskan kartu as-nya — bukan hanya sebuah tembakan kuat yang tidak memiliki nama, tetapi sebuah skill yang memiliki nama unik.

Makhluk itu mengatakan nama skill itu: “SHINING DESPAIR!”

Karena suatu alasan, penyebutan kata “despair” tidak seperti kata itu yang ada di Bumi, akan tetapi lebih mendekati kata “disappear” dalam bahasa Inggris.

Apapun itu, kalimat itu sangat sesuai dengan fakta — skill itu hampir dapat dipastikan merupakan cahaya yang dapat mengakhiri semua harapan, dan memiliki energi yang tak dapat dibandingkan dengan tembakan cahaya yang sebelumnya.

Di hadapan kekuatannya yang luar biasa, bahkan kehilangan kekuatan karena jarak akan bisa diabaikan. Jika skill itu menghantam daratan, itu tidak hanya akan memusnahkan orang-orang, tetapi juga akan menghancurkan dan meluluh-lantakan sebagian besar Desa Torne itu sendiri.

Orang-orang sudah bisa merasakan hal itu hanya dengan melihat ke arah Monochrome, seperti yang dibuktikan oleh wajah-wajah putus asa yang dilihat oleh makhluk itu.

“K y A h a H A h a h A H a H a h A h!” dia tertawa. Getaran di dalam intinya membuatnya merasa sangat bahagia.

Lalu, dia melihat wajah yang paling ingin dia lihat — wajah Ray.

Apakah kau merasa putus asa? Hei, iyakan? Kau merasa… Huh?

Namun, wajah Ray sama sekali tidak menunjukkan kesedihan. Dia hanya menatap ke arah Monochrome bahkan dengan kemarahan yang lebih besar dari sebelumnya.

Meskipun orang-orang di sekitarnya merasa putus asa, kedua matanya tetap memiliki semangat seorang penantang. Jika kedua mata itu bisa berbicara, maka mereka pasti akan mengatakan, “Aku akan mengalahkanmu.”

Menakutkan, pikir Monochrome, pertama kalinya dia merasakan sesuatu yang bukan kegembiraan.

Namun, perasaan itu hanya sesaat, karena Monochrome segera bersiap menembakkan Shining Despair ke arah Ray.

Mungkin makhluk itu dipaksa untuk segera bertindak oleh perasaan takut pertamanya. Meski begitu, Monochrome sama sekali tidak memahaminya. Dia tidak tau kalau pria itu dijuluki “Unbreakable.”

Meskipun dihadapkan pada banyak tragedi dan bencana yang jauh melebihi kekuatannya sendiri, Ray tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Meskipun saat berhadapan dengan kejahatan dan keputusasaan yang bisa membuat hampir semua orang berlutut, dia tetap berdiri tegap hanya dengan menggunakan kekuatan amarah.

Dan dia mampu menggapai keajaiban di setiap bencana yang dia hadapi.

Monochrome sama sekali tidak mengetahui hal itu, tapi sekarang, dia akan merasakannya sendiri.

“Gringham!” teriak Ray sambil menatap ke arah Louie. Dia bisa menduga kalau tembakan cahaya luar biasa besar itu akan segera dilepaskan.

Hanya dengan itu saja, Gringham paham apa yang harus dia lakukan. Dia mengangkat tubuhnya yang terluka, membawa Louie menggunakan mulutnya seperti kucing yang membawa anaknya, dan berlari menjauh dari apa yang sebentar lagi akan menjadi pusat serangan tembakan cahaya super besar itu.

“Gringham! Ray-san!” panggil Louie saat dia dibawa menjauh.

Ray tidak mengatakan apapun dan hanya menanggapinya dengan mengangkat perisainya ke langit.

Dan dengan demikian, hanya tinggal Ray dan Nemesis yang berada di pusat tembakan.

Dia tidak akan lari.

Meskipun dia mencobanya, dia hanya akan tertangkap dalam kehancuran, belum lagi para tian yang ada di tempat perlindungan akan berubah menjadi sasaran tembakan cahaya itu.

Dia tidak akan mundur.

“Itu pasti adalah kartu as milik monster itu,” kata Nemesis. “Aku penasaran seberapa kuat itu.”

“Yah, sudah jelas kalau satu tidak akan cukup,” jawab Ray. “Dua mungkin bisa punya harapan, tapi aku juga tidak yakin.”

“Apakah kita masih memiliki Brooch?”

“Sudah habis. Aku memberikan dua terakhir kepada Louie dan Gringham.”

Lifesaving Brooch mencegah luka fatal, dan sebelum pergi ke Torne, Ray telah membeli tiga buah item itu. Namun, setelah digunakan satu kemarin selama pertarungan melawan Rosa, dan memberikan sisanya kepada Louie dan Gringham, saat ini dia tidak memiliki satupun. Namun meski begitu, dia sama sekali tidak menyesali tindakan itu.

“Jadi… semuanya tergantung pada kita,” kata Ray.

“Baiklah. Kau bisa mengandalkanku.”

“Ya. Aku mempercayaimu.”

Mereka bisa menggunakan Counter Absorption dua kali lagi.

Jika mereka, perisainya, dan skill pertahanan pasif-nya tidak cukup, Ray pasti akan menerima death penalty.

Jika itu terjadi, dia tidak akan bisa melancarkan serangan balasan, dan Monochrome akan mengubah seluruh Torne menjadi abu.

Dibandingkan dengan semua perjudian yang mereka lakukan hari ini, mungkin inilah yang paling besar.

Stats, skill, equipment, Embryo — ini akan menjadi saat penentuan apakah semua yang mereka dapatkan selama mereka berada di Infinite Dendrogram akan cukup untuk menahan keputusasaan yang hendak ditembakkan dari langit itu.

“SHINING DESPAIR!” Monochrome kembali menyebutkan nama skill itu dan melepaskan tembakan cahaya penghancur langsung dari tubuh kristalnya.

Tembakan itu mirip seperti pilar yang menghubungkan langit dan bumi, dan itu memiliki panas yang begitu besar sampai-sampai bisa dengan mudah menghanguskan daratan.

Saat menyentuh daratan, tembakan itu pasti akan memusnahkan area dan mengubah Torne menjadi daratan kematian.

Cahaya itu membuat banyak hidup di desa itu dipenuhi rasa putus asa.

Namun, mereka tidak mundur.

“Counter Absorption!” teriak Nemesis, memanggil sebuah barrier cahaya.

Barrier itu sesaat bisa menghentikan pilar itu, tapi kemudian langsung hancur. Meski begitu, dapat dipastikan kalau itu memiliki efek — diameter pilar itu menjadi lebih kecil.

Lalu tembakan cahaya itu dihentikan oleh barrier cahaya lain yang sama seperti sebelumnya.

Itu adalah aktivasi Counter Absorption berantai — sebuah teknik yang Nemesis dapatkan selama bulan lalu. Teknik yang sudah mereka gunakan saat melawan Rosa.

Barrier kedua itu bisa menahan pilar cahaya itu sedikit lebih lama daripada yang pertama, tapi kemudian itu juga hancur, membuat tembakan cahaya itu mencapai daratan.

Tembakan cahaya yang seharusnya menghanguskan wilayah dalam skala besar di sekitarnya telah kehilangan sebagian besar kekuatannya karena kedua barrier itu. Apa yang bisa berpotensi memusnahkan seluruh desa telah menjadi begitu melemah sampai-sampai hanya bisa menjangkau wilayah yang sangat kecil.

Meski begitu, energi yang berhasil melewati Ray bukanlah sesuatu yang bisa diremehkah.

Pusat ledakan yang disebabkan oleh serangan itu termasuk kincir angin terdekat langsung musnah, sementara wilayah sekitarnya menjadi terselimuti oleh panas yang luar biasa dan berubah menjadi merah terbakar. Itu tampak mirip dengan neraka, dan sulit untuk dibayangkan bahwa seseorang bisa berdiri disana hidup-hidup.

Akan tetapi, disana ada seseorang.

“Kita… berhasil…” gumam Ray, masih hidup meski menerima serangan itu.

Keadaannya adalah kondisi dimana kata “terluka” terdengar terlalu kurang untuk mendeskripsikannya. Bahkan bisa diragukan apakah dia benar-benar masih hidup.

Seseorang tidak memiliki cukup jari untuk menghitung debuff yang dia terima, sementara panas di sana begitu dahsyat sampai-sampai membuat kulitnya berwarna merah dan bahkan hitam.

Beberapa bagian equipment-nya juga hancur dan jatuh ke dalam lava yang ada di bawah. Itu termasuk semua aksesoris dan tangan kiri palsu-nya.

Armor BR-nya meleleh, tapi masih bisa cukup bertahan untuk terus mengaktifkan skill Bloody Regeneration-nya.

Kondisi mengerikan Ray adalah sesuatu yang setidaknya tak dapat dihindari.

“… Heh,” kata Nemesis. “Jalur tembakannya sedikit membelok saat melewati barrier kedua. Sungguh sebuah keberuntungan. Kau mungkin tidak akan berdiri disini sekarang jika serangan itu mengenaimu secara langsung.”

“Ya,” Ray menjawab dengan terpaksa. “Sungguh sebuah keberuntungan.”

Meskipun serangan itu tidak mengenainya secara langsung, Ray masih terkena dampaknya. Dia saat ini sedang dikelilingi oleh neraka membara.

Tentu saja, karena merupakan seorang Master, dia tidak merasakan sakit, tapi dia tetap bisa merasakan panas membara menyentuh kulitnya dan rasa dari udara panas yang memasuki tubuhnya. Neraka panas itu membakar kakinya, tapi meski begitu, lututnya tidak menyerah — begitu juga dengan hatinya.

“Nemesis, kita akan menggunakannya,” katanya, dan kau hampir bisa membayangkan Nemesis membalasnya dengan sebuah anggukan.

“Kita telah mengumpulkan sekitar 650,000…” katanya. “Itu akan jadi 65,000 metel.

“Apakah itu akan mencapainya?”

“Aku akan memastikan itu akan mencapainya.”

“Kalau begitu, aku serahkan padamu.”

Setelah percakapan itu, Ray mulai memegang perisainya dengan cara berbeda.

Bukannya membuat permukaannya menghadap ke arah musuh, dia mengarahkannya ke depan — seperti sebuah senjata.

“Nemesis. Bentuk ketiga β.”

Sesaat kemudian, perisai itu mulai berubah bentuk.

Pegangan yang dia genggam mulai memanjang dan mengubah Nemesis menjadi sebuah senjata panjang dengan perisai di ujungnya.

Perisai itu sendiri juga berubah. Pola lima sisi yang ada di permukaannya mengeluarkan cahaya dan terbuka, sehingga membuat perisai itu membentang.

Itu terlihat mirip seperti kuncup bunga yang mulai mekar — tidak, seperti sebuah kincir angin yang membentangkan bilahnya. Dan karena memiliki total lima bilah, itu terlihat mirip dengan apa yang disebut penduduk Torne sebagai “kincir bintang.”

Benar, itu adalah sebuah senjata konvertibel yang berubah dari sebuah perisai menjadi sebuah kincir mirip bintang.

“Form Shift…”

Dengan demikian, mereka menyebutkan nama dari kekuatan baru mereka — nama dari bentuk ketiga Nemesis.

“… Shooting Wheel!”

Nama itu berasal dari gabungan bintang jatuh dan kincir angin.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

6 Comments Add yours

  1. Nemesis says:

    makasih sdh tl, mhn di lnjtkn.

    Like

  2. ALBARN says:

    makasih bang zen, semoga diberi kelancaran dan reward dari setiap hal yang lu lakuin

    Like

  3. SaidunUsman says:

    Makasih min udah di lanjut.. smoga pekerjaannya lancar biar bisa ada waktu luang buat update ..
    Pertamax dah..

    Like

  4. Highest emperor says:

    Thanks admin loli lover

    Like

  5. Ades says:

    Hebat min akhr nya update,, makasih min THR ny😄😁

    Like

  6. Kefvin says:

    Thx for chaps Bang Zen

    Like

Leave a Reply to Kefvin Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s