Infinite Dendrogram Volume 7 Chapter 6

Volume 7
Chapter 6 – Perisai Keajaiban

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Desa Torne, Kincir Angin

Sulit untuk mengetahui sudah berapa lama Louie bersembunyi di kincir angin. Mungkin jarum menit pada jam masih belum selesai berputar sepenuhnya. Namun, Louie merasa dia telah berada di sana selama beberapa jam.

Apa yang bisa dia lihat hanyalah dinding dan lantai batu, dan apa yang bisa dia dengar hanyalah tawa dari langit.

Apakah itu hanya kebetulan atau karena efek dari pengaruh Monochrome pada lingkungan sekitar, tidak ada angin yang berhembus di desa. Jadi, tentu saja, bocah itu tidak bisa mendengar putaran dari kincir angin tempatnya berada saat ini.

“…?” Louie menjadi bingung saat suara tawa dari langit tiba-tiba berhenti. Suara tawa jahat milik monster itu tak dapat terdengar lagi.

Louie bertanya-tanya apa yang terjadi pada monster itu.

Mungkin dia sudah dikalahkan, atau mungkin dia terbang ke wilayah lain.

Apapun itu, dengan berhentinya suara tawa itu, Louie sekarang duduk sendirian dalam kesunyian.

Satu-satunya hal yang hampir bisa dia dengar adalah detak jantungnya sendiri.

“Ini mengingatkanku dengan waktu itu…” gumamnya, mengingat pagi hari saat Shijima menghilang.

*

Pada hari itu, Louie kebetulan bangun sebelum matahari terbit.

Itu adalah pertama kalinya dia bangun sebelum ayam jantan di desanya berkokok.

Terlalu awal bagi siapa saja untuk bangun, tapi terlalu lambat bagi burung-burung dan serangga nokturnal untuk mengeluarkan suara, saat-saat seperti ini memiliki kesunyian yang membuat dunia seolah-olah sedang tertidur.

Ada dua tempat tidur di kamar anak-anak di rumah itu. Satu ditempati oleh Louie dan satunya lagi oleh Juno, yang masih tidur dengan lelap, sepenuhnya tidak menyadari kalau Louie sudah bangun.

Di luar jendela, dia melihat Gringham sedang tidur, membaringkan tubuh besarnya di atas tanah.

Tidak ada yang aneh dari pemandangan itu, tapi tak jauh dari sana, di atas bukit yang agak tinggi di dekat rumah, ada seseorang yang sangat dia kenal—Shijima.

Dia berdiri mematung, sendirian, saat dia mengamati panorama di Torne sebelum fajar.

Louie merasa agak khawatir, jadi dia berjalan keluar dari rumah, memastikan untuk tidak membangunkan Juno atau ibunya.

Saat dia membuka pintu, Gringham bangun dan mengangkat kepalanya dalam diam seolah-olah bertanya, “Ada apa?”

Louie memberi isyarat kepadanya untuk mengabaikannya dan kembali tidur, lalu berjalan menaiki bukit dimana Shijima sedang berdiri.

Setelah sampai disana, dia memanggilnya, “Ada apa, yah?”

“Oh, Louie,” kata Shijima dengan sedikit terkejut. “Kau bangun cepat. Selamat pagi.”

“Pagi,” jawab Louie. “Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?”

“… Tidak ada hal khusus. Aku hanya merasa ingin melihat pemandangan desa ini.”

“Mh?” Louie memiringkan kepalanya dengan bingung.

“Aku sudah tinggal disini selama dua tahun, tapi aku tak pernah punya kesempatan untuk melihat pemandangan disini dengan baik. Jadi aku merasa ingin mengukirnya di ingatanku sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi disini.” Shijima menatap ke arah Torne, yang masih terselimuti dalam kegelapan.

Apa yang bisa Louie lihat hanyalah bayangan dari desa itu, jadi dia berkata, “Tapi kau tidak bisa melihat apapun. Kenapa kau tidak menunggu sampai pagi tiba?”

“Ha ha,” Shijima tertawa. “Jangan khawatir. Aku bisa melihat dengan baik di kegelapan. Dulu, aku bahkan pernah menunggangi Gringham melewati hutan di malam hari. Itu adalah saat dimana aku bertarung melawan UBM yang berkeliaran di dalam Noz Forest.”

“Benarkah?” tanya Louie.

“Ya, sungguh. Saat itu aku bersama para Master lain, tapi musuhnya sangat kuat. Dia tampak seperti goblin biasa, tapi dia lebih cepat dan kuat dari pada Gringham. Dan jika kau kehilangan pandangan darinya, dia bisa menyerangmu setelah berubah menjadi makhluk lain, seperti serigala atau kelelawar. Itu adalah pertarungan yang sangat berat bagi kami semua, tapi kami bisa mengepungnya dan memberikan kesempatan pada Tsukikage—seorang kenalanku—untuk menyelesaikannya.”

“Wow!” seru Louie. Meskipun singkat, cerita Shijima sudah cukup untuk membuat bocah seperti Louie bersemangat. “Hei! Apakah kau memiliki cerita lain seperti itu?”

“Ha ha. Tentu saja aku punya,” Shijima tertawa. “Sekarang, petualangan mana yang harus kuceritakan selanjutnya…? Ada satu cerita yang bagus. Itu terjadi setelah aku menikah dengan Farica, tapi temanku memanggilku untuk membantunya mengalahkan Tri-Zenith Dragon!”

“EEH?!”

Dengan demikian, Shijima dan Louie bercakap-cakap.

Pria itu menceritakan ingatannya, sementara bocah itu mendengarkannya dengan antusias, terkejut, dan mata berbinar. Itu adalah percakapan yang cocok antara ayah dan anak, dan percakapan itu berlangsung sampai matahari mulai terbit.

“… Oh. Matahari sudah terbit,” kata Shijima. Dia baru saja selesai menceritakan salah satu kisahnya, dan sekarang dia hanya melihat matahari yang mulai terbit di langit timur, tampak takjub… dan juga menyesal.

“Ayah? Ada apa?” tanya Louie, khawatir terhadap ayahnya.

Shijima menatap wajah Louie, tampak sedang memikirkan sesuatu, dan mencoba mengutarakan perkataan. “Louie. Aku…” katanya, tapi kemudian kembali terdiam.

“Ayah?”

“Louie… Aku, Juno, dan Gringham harus pergi ke suatu tempat untuk sementara waktu.”

“Apakah kau akan melawan UBM lainnya?” tanya bocah itu, masih memikirkan kisah yang baru saja dia dengar.

Shijima menggelengkan kepalanya, “Tidak, tapi… ini adalah sebuah petualangan yang lebih besar.”

“Benarkah?! Lakukanlah yang terbaik!” Pada saat itu, Louie hanya merasakan kekaguman kepada ayahnya.

Fakta bahwa Shijima akan pergi berpetualang membuat bocah itu merasa lega. Bagaimanapun, karena merupakan seorang Master, ayahnya itu abadi, jadi dia akan pulang ke rumah, tak peduli apapun yang terjadi.

Dia bahkan mati beberapa kali di dalam kisah yang dia ceritakan, akan tetapi dia masih berdiri di depan bocah itu, sehat walafiat. Tidak alasan bagi Louie untuk merasa khawatir.

Tapi…

“Ya… aku akan melakukan yang terbaik,” Shijima mengatakan itu dengan senyum lemah di wajahnya.

Ekspresi pria itu, ditambah dengan pemandangan Juno yang sedang menunggangi Gringham dan menaiki bukit, membuat Louie merasa ada sesuatu yang aneh.

“Groooaoh,” rang Gringham.

Tidak ada yang aneh pada situasi itu sendiri. Sudah wajar jika Shijima pergi berpetualang bersama dengan tunggangan kepercayaannya dan Embryo-nya.

Akan tetapi, entah kenapa, melihat mereka membuat Louie merasa gelisah.

Di dorong oleh perasaan itu, dia memegangi lengan baji Shijima, menatap wajahnya dan berkata, “Kau akan pulang, kan?!”

Bocah itu tidak tau kenapa dia bersikap sekhawatir itu. Rasa khawatir yang datang kepadanya sungguh terlalu besar.

Saat ditanyai demikian, ekspresi Shijima tampak seperti akan runtuh, tapi kemudian, dia tersenyum dan menepuk kepala Louie. Lalu, dengan suara yang seolah-olah dia buat tidak terdengar sedih, dia berkata, “Tentu saja. Aku pasti… Aku pasti akan pulang kemari. Aku akan kembali kepadamu dan Farica… bagaimanapun caranya.”

Louie bisa mengetahui kalau suaranya penuh dengan emosi.

“Ok… Baiklah,” kata bocah itu sambil melepaskan lengan baju Shijima.

Dia mengantar kepergian pria itu dengan perkataan, “Sampai jumpa lagi, Ayah.”

“Aku pergi.”

Perkataan itu tidak bisa dibilang spesial.

Itu adalah kalimat yang sering orang-orang katakan saat seorang anggota keluarga akan pergi ke suatu tempat.

Namun, perkataan itu memberikan kesan kepada Louie, seolah-olah itu adalah perkataan terakhir yang akan keduanya saling sampaikan.

*

Berada di kincir angin yang sunyi itu mengingatkan Louie pada saat sebelum fajar itu.

Tidak ada cahaya yang menerobos ke dalam, dam tidak ada suara yang dapat terdengar.

Tapi saat itu Louie tidak merasa putus asa seperti saat ini, yang tentu saja karena kali ini tidak ada keluarga yang menemaninya.

Saat Louie memikirkan tentang hal seperti itu…

“Seseoraaaaang! Siapa sajaaa! Aku datang untuk membantuuu!” terdengar sebuah suara dari luar. “Heiii! Siapa sajaaa! Apakah kau ada disiniii? Keluarlah jika kau mendengarkuuu!”

Itu adalah panggilan keras untuk orang-orang yang selamat di sekitar sini.

“Sekarang sudah amaaan! Monster itu sudah pergiii! Larilah saat kau bisaaa!”

Mendengar hal itu membuat Louie merasa lega, seolah-olah memastikan bahwa suara tawa dari langit itu telah berhenti karena monster itu telah pergi.

“Aku selamat… Oh iya, jika monster itu pergi, aku harus mencari ibu!” teriak bocah itu. Setelah merasa lega karena dia selamat, dia merasa lebih penting untuk mencari ibunya sekarang dan menunjukkan kalau dia baik-baik saja. “Aku yakin mereka bisa menjaganya…”

Louie yakin kalau ibunya baik-baik saja. Bagaimanapun, dia sedang bersama Ray, Nemesis, dan B3. Ketiga orang itu telah menerima permintaan pencarian miliknya saat tidak ada seorangpun yang mau menerimanya. Belum lagi mereka telah menangani semua masalah yang mereka temui selama perjalanan ke Torne. Bagi Louie, mereka adalah para pahlawan yang hampir setara dengan Shijima.

“Heiii! Seseoraaang! Apakah kau disiniiii? Katakan sesuatu jika kau mendengarkuuu!”

“Ah, ya! Aku ada disini!” Louie menjawab suara itu dan meninggalkan kincir angin.

Bocah itu gagal menyadari bahwa, meskipun suara tawa itu sudah berhenti, langit masih tampak gelap gulita.

“Eh?” Bocah itu pergi keluar dan menyuarakan kebingungannya. Dia menduga akan melihat orang yang mencari para warga yang bersembunyi, tapi dia tidak melihat siapapun.

Disana tidak ada seorangpun, langit masih gelap, dan…

“Seseoraaang! S ia p a Sa ja! Si A pa Sa jA…!” suara yang memanggil orang-orang itu mulai terdistorsi dan kental dengan kejahatan yang familiar. “K E T E M U K A U… K y A H a h A h a H a h A h A H a H A h A h a h!”

Tak lama kemudian suara itu berubah menjadi tawa seperti sebelumnya.

Tawa Void of the Black Sky, Monochrome bisa mengabaikan jarak dan perbedaan kecepatan sehingga bisa mencapai makhluk terjauh sekalipun. Hanya itulah yang dapat suara itu lakukan—suara itu tidak bisa memberikan damage, ataupun melindungi monster itu.

Namun, itu bisa digunakan selain untuk mengejek orang-orang yang ada di bawah.

300 tahun yang lalu, Monochrome telah mengembangkan sebuah skill untuk memancing keluar orang-orang yang bersembunyi, hanya agar dia bisa membakar mereka.

“Ah…” Kata Louie saat dia mendongak ke langit dan melihat sebuah tembakan cahaya sedang datang melewati awan dan menuju langsung ke arahnya.

Sesaat kemudian, dia merasakan sebuah dampak, rasa panas yang tiba-tiba, dan bau seperti daging dan darah yang terbakar.

***

Paladin, Ray Starling

“Louie! Dimana kamu?! Aku datang mencarimu!” Aku berteriak saat aku berlari di sekitar desa untuk mencari bocah itu.

Jawaban yang kudapat hanyalah suara berderak, yang berasal dari bangunan yang terbakar di sekitarku. Entah kenapa, sesaat yang lalu, tawa Monochrome yang menjengkelkan itu berhenti.

Tidak peduli seberapa kuat aku memanggil, aku tidak bisa mendengar siapapun.

“Sialan!” umpatku. “Aku bisa menjangkau lebih banyak tempat jika Silver baik-baik saja.”

Sergapan Sol Crisis telah mematikan kuda kepercayaanku, dan dia masih berada dalam keadaan seperti itu. Aku melakukan yang terbaik untuk berlari menggunakan kaki-ku sendiri, tapi dengan level dan AGI-ku, hal itu jelas tidak terlalu efektif.

“Makhluk itu sudah hampir bisa menyerang lagi, sialan!” seruku.

Monochrome sudah hampir berada di ketinggian dimana dia bisa melakukan tembakan cahaya itu.

Pada dasarnya sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Setiap detik sangat berharga. Aku harus menemukan Louie secepat mungkin.

“Ray!” Nemesis muncul dari tato-ku. Dia telah berada di dalam karena dia sedang berkonsentrasi untuk menganalisa skill dari bentuk ketiga, dan fakta bahwa dia keluar sekarang hanya bisa berarti satu hal.

“Nemesis! Kau sudah selesai menganalisanya?!” tanyaku.

“Tepat sekali! Aku sudah menyelesaikannya!”

Kami berharap agar skill itu bisa melakukan sesuatu pada Monochrome, dan sekarang, hasilnya sudah muncul.

Saat kami masih berlari di sekitar desa dan mencari Louie, Nemesis memberikan laporannya.

“Aku akan mulai dengan kesimpulannya,” katanya. “Skill bentuk ketiga memberi kita kesempatan untuk menang melawan Monochrome.

“… Benarkah?!”

“Ya. Tapi bersiaplah untuk perjudian selanjutnya. Apa yang skill itu lakukan adalah…”

Nemesis kemudian menjelaskan rincian dari skill bentuk ketiga.

Benar saja, itu mampu mencapai Monochrome, tapi Nemesis sangat benar kalau itu akan menjadi sebuah perjudian lagi. Itu akan menjadi sebuah pertarungan yang akan menguji batasku dan Monochrome.

“Skill itu mungkin akan mencapainya, atau mungkin tidak,” kata Nemesis. “Semua itu tergantung dari seberapa lama kita bisa—” perkataanya terpotong oleh kilatan cahaya dilangit.

Fenomena seperti itu hanya bisa berarti satu hal.

Aku menjadi begitu familiar dengan itu dan sangat jengkel dengannya saat kami terbang ke langit tadi.

Itu adalah tanda kalau Monochrome sedang menyerang, yang berarti bahwa daratan pada akhirnya sudah berada di dalam jangkauannya.

“Ray!” teriak Nemesis saat dia berubah menjadi perisai dan mencoba melindungiku.

Tapi tembakan cahaya itu tidak mengarah ke sini—mereka mengarah ke sebuah kincir angin sekitar satu kilometer dari sini.

“Tidak mungkin!” teriakku. Pemandangan itu membuat keringat dingin mengalir di punggungku, dan aku tanpa ragu bergegas menuju bangunan itu, berharap agar Louie bukanlah orang yang ada disana.

***

Desa Torne, Kincir Angin

Louie tidak bisa memahami apa yang terjadi kepadanya.

Sebuah suara telah memancingnya keluar, sebuah kilatan cahaya muncul dilangit, dia merasakan sebuah dampak, dan rasa panas yang tiba-tiba, dan kemudian mencium bau daging gosong.

Perubahan itu terjadi begitu tiba-tiba dan mengejutkan sampai-sampai dia tidak bisa memahami situasinya saat ini.

Apa yang dia tau sejauh ini adalah dia sedang terbaring di tanah.

Dia tidak bisa membuka matanya karena tertutup tanah, tapi dia merasakan permukaan dingin di punggungnya, dan hawa panas yang membelai pipinya.

Louie tidak pernah menerima luka bakar sebelumnya, jadi pikirannya yang berkabut hanya bisa menduga bahwa seperti itulah rasanya menerima luka bakar.

Tapi… dia berpikir saat dia menyadari bahwa dia tidak hanya sekedar merasakan panas, tapi juga hangat.

Louie sedang terbaring di tanah, dan hal hangat itu menutupinya.

Hal itu memiliki tekstur dan bau yang familiar.

Apa ini…?

Dia memutar otaknya yang masih berkabut, mencoba yang terbaik untuk mengingatnya, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk mencapai sebuah kesimpulan.

“Groaoh…”

“Ah!” Hal yang menutupinya itu mengeluarkan sebuah suara, yang sudah lebih dari cukup bagi Louie untuk menyadari apa itu.

Kabut yang ada di pikirannya tiba-tiba menghilang, dan dia segera mengusap matanya untuk membersihkan tanah yang menutupinya, lalu membukanya dan melihat hal itu.

“Gringham…” dia menyebutkan nama dari salah satu anggota keluarganya yang seharusnya telah hilang.

Monster mirip singa itu menutupi Louie, menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi nyawa bocah itu dari tembakan cahaya Monochrome. Tembakan cahaya itu menghujaninya dalam jumlah besar, akan tetapi, Gringham terus melindungi Louie tanpa menyuarakan satupun rasa sakit.

Satu-satunya alasan Louie bisa selamat meskipun di incar oleh seekor UBM adalah karena keluarga tercintanya ada disini untuk melindunginya.

Itu adalah sebuah kejadian yang seharusnya mustahil terjadi.

Tentu, salah satu peraturan game menjadikan agar monster yang tersimpan di dalam sebuah Jewel milik Master akan dilepaskan jika sang Master tidak online selama setengah tahun di waktu Dendro, tapi siapa yang bisa menyangka kalau itu akan terjadi sekarang dan disini?

Lalu ada fakta bahwa monster yang dilepaskan—atau dibebaskan— itu malah dikembalikan ke tempat dimana biasanya dia tinggal bersama Master-nya, bukan dilepaskan ke alam liar seperti biasanya.

Terakhir, seekor monster liar yang mau membahayakan hidupnya untuk melindungi seseorang adalah sebuah hal yang absurd.

Semua itu tampak seperti hal yang tidak akan pernah terjadi.

Akan tetapi, mereka benar-benar terjadi dan menyelamatkan nyawa Louie.

Satu-satunya kata yang cocok untuk mendeskripsikan kejadian itu adalah “keajaiban,” dan satu-satunya kata yang cocok untuk menjelaskan hal itu adalah “ikatan.”

Shijima telah menghilang dari Infinite Dendrogram setengah tahun lalu, membawa Embryo dan mount-nya, Juno dan Gringham, bersamanya. Namun, menghilangnya mereka tidak cukup untuk memutus ikatan keluarga antara mereka berdua.

“Grin… gham…” bocah itu menitikkan air mata saat dia memanggil nama salah satu keluarganya. Wajahnya jadi berantakan, dan dia menangis seperti baru saja menemukan sebuah harta tak ternilai yang dia pikir sudah hilang.

“Grooaoh…” Gringham menanggapinya dengan sebuah raungan lemah.

Tembakan cahaya dari atas sedang membakar punggungnya dan memberikan rasa sakit yang luar biasa kepadanya, tapi dia ingin menjadi Gringham yang sama dengan yang Louie selalu kenal, jadi dia bertindak seakan-akan itu bukanlah apa-apa.

Dua anggota keluarga, yang pernah terpisah, sekarang kembali bertemu.

“K y A H a H a h A H a h A h a H!”

Sayangnya, meskipun Gringham menyelamatkan Louie, situasi mereka sama sekali tidak membaik.

Monochrome kembali tertawa, seolah-olah mengejek “obor” besar yang tidak menghindari satupun serangannya dan hanya membiarkan dirinya terbakar.

Jika tawa itu bisa menjadi sebuah kalimat, maka itu akan menjadi, “Aku ingin obor besar dan kecil itu terbakar dan menunjukkan rasa putus asa kepadaku.”

“Grrrr…” Aries Loe itu menggeram.

Dia tidak memiliki satupun cara untuk melawan monster yang mencoba mengambil nyawa Louie itu. Meskipun kuat, Gringham hanyalah seekor makhluk darat.

Cakar dan taringnya dimaksudkan untuk digunakan di daratan, dan mareka tidak akan pernah mencapai langit. Karena merupakan seekor binatang, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan Monochrome.

Apa yang bisa dia lakukan pada situasi ini hanyalah menggunakan tubuh besarnya untuk menutupi Louie dan melindunginya menggunakan HP-nya.

Mereka tidak memiliki kartu yang bisa dimainkan disini. Gringham pada akhirnya akan mati dan menjadi partikel cahaya, dan kemudian tembakan cahaya itu akan membakar Louie.

Mereka hanya bisa menunggu kematian mereka, dan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan mereka saat ini.

Oleh karenanya, meskipun telah mendatangkan keajaiban, Gringham mengharapkan satu hal lagi.

Ah, tolong… kau bisa menggunakan nyawaku jika perlu… kumohon padamu… Siapa saja… Berikan aku sebuah keajaiban yang bisa melindungi keluarga kecilku…

Seolah-olah menyingkirkan permohonannya, Monochrome kembali menembakkan cahaya ke punggung Gringham. Energi yang dia gunakan lebih besar dari pada tembakan sebelumnya, yang membuat daya tembusnya meningkat drastis.

Itu sudah cukup untuk menembus tubuh besar Gringham dan membakar Louie.

“GROOAAAAOH…!” dia meraung saat dia merasakan energi dari atas dan menyadari bahwa serangan yang akan datang tidak bisa dibandingkan dengan serangan sebelumnya.

Dia membulatkan tekadnya dengan harapan bahwa tembakan cahaya itu akan berhenti setelah mengenainya, tapi itu sepenuhnya tiada artinya.

Sebuah perisai daging tidak akan cukup untuk menghentikan tembakan cahaya itu. Gringham dan Louie sama-sama akan mati.

Namun, tepat sebelum tembakan itu mengenainya…

“Pinjamkan punggungmu sebentar.”

… seorang pria tertentu mengatakan hal itu dan melompat ke punggung Gringham.

Dia kemudian mengangkat perisai hitam yang ada di tangannya ke langit dan menghentikan tembakan cahaya mematikan itu.

Insert5

Tidak mampu menembus perisai itu, tembakan itu terpencar dan menghujani bangunan sekitar, yang kemudian membakar mereka atau langsung melelehkan mereka.

Namun, panas dari tembakan cahaya itu meningkatkan suhu perisai yang pria itu pegang, membuat tangannya gosong.

Meskipun terbakar oleh konduksi dan radiasi panas, dia terus memegang perisai itu untuk melindungi Gringham dan Louie.

Pada akhirnya, tembakan cahaya itu berhenti.

Setelah melindungi nyawa mereka, terdapat interval dimana Monochrome tidak menembakkan satupun cahaya, kemungkinan karena dia sedang mempersiapkan tembakan cahaya kuat lainnya.

Pria itu menggunakan kesempatan itu untuk berbicara. “Apakah kau mendengarku, Monochrome?!”

Tawa UBM itu masih mencapai telinganya, tapi pria itu tidak tau apakah suaranya akan mencapai Monochrome.

“Matamu menatap ke bawah ke arah kami semua, tapi apakah mereka bahkan dapat melihat?” dia terus melanjutkan perkataannya, memberikan monster itu pertanyaan yang datang dari hatinya… dan sebuah deklarasi penuh perasaan. “Tidak ada satupun hal yang bisa kau hancurkan disini.”

Mungkin dia membicarakan tentang tempat dia berada saat ini, desa yang terbakar, keajaiban yang didatangkan oleh sebuah keluarga tertentu, atau mungkin semuanya disaat bersamaan.

“Aku tidak akan membiarkanmu mengambil nyawa orang lagi.”

Waktu yang menyenangkan di Torne telah berakhir karena pembawa tragedi yang ada di atas. Dia telah memberikan rasa sakit kepada banyak orang dan saat ini tengah membahayakan nyawa Louie dan Gringham.

Pria itu mengatakan kalau dia akan mengakhiri semua itu—bahwa tidak akan ada lagi yang hilang sekarang.

Pria ini, Ray Starling, menarik nafas dalam-dalam dan memberikan seluruh hatinya ke dalam perkataan yang dia ucapkan selanjutnya.

“Majulah, monster! Ini adalah sang perisai keajaiban!”

Itu adalah perkataan yang sama dengan yang Louie sebutkan saat menceritakan tentang Shijima.

Saat Louie dan Farica sedang diserang oleh rasa putus asa, pria itu telah mengatakannya sebelum melawan gerombolan monster dalam rangka untuk menyelamatkan ibu dan anak itu.

Tak diragukan lagi kalau dia adalah seorang pembawa keajaiban, dan Ray merasa kalau meminjam perkataan itu sepertinya adalah hal yang tepat untuk mengawali pertarungannya melawan Monochrome.

Sama seperti Shijima sebelumnya, dia bertekad untuk menghancurkan pembawa tragedi yang ada di langit itu sebelum dia bisa mengambil nyawa Louie.

Deklarasi itu adalah pemicu yang memulai pertarungan terakhir antara Ray Starling sang Unbreakable dan Monochrome, sang Void of the Black Sky.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements