Infinite Dendrogram Volume 7 Chapter 4

Volume 7
Chapter 4 – Void of the Blacksky, Monochrome

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Paladin, Ray Starling

Saat tawa aneh itu bergema, sebuah objek hitam misterius meloloskan diri dari gunung dan terbang ke angkasa dengan kecepatan luar biasa. Seperti sebuah roket, objek itu menembus awan yang ada di atas dan berhenti saat benda itu hanya tampak seperti sebuah titik hitam di langit.

Sesaat kemudian, langit yang ada di sekitarnya diselimuti kegelapan dalam sekejap.

Meskipun sekarang masih siang, tiba-tiba rasanya seperti matahari sudah terbenam.

Itu mengingatkanku akan kegelapan yang dipanggil oleh setan itu, tapi mungkin ini memiliki sebab yang berkebalikan. Jika Superior Embryo miliknya bisa menciptakan malam, maka titik di langit itu menyerap semua cahaya dan merampas siang hari dari dunia.

B3 mengambil sebuah item sihir mirip teropong dan menggunakannya untuk melihat titik hitam itu. Ekspresinya berubah menjadi pahit.

“B3… apa itu sebenarnya?” tanyaku.

“Seekor UBM.” Dia memberikan teropong itu kepadaku.

Aku melihat titik itu dan melihat seekor monster yang memiliki penampilan seperti sebuah bola kristal penuh retakan dengan sepasang sayap hitam. Di atasnya, terdapat nama “Void of the Blacksky, Monochrome.”

“’Black Sky?’” gumamku. “Tunggu, itu…!”

Itu pasti adalah “Blacksky,” UBM yang diceritakan di dalam drama itu. Monster dari sejarah yang menjadi asal dari Festival Kincir Bintang.

Makhluk itu telah dihantam meteor dan terkubur di bawah tanah selama 300 tahun. Apakah makhluk itu benar-benar bisa bertahan selama berabad-abad tanpa makanan dan minuman?

“Jadi dia adalah makhluk hidup pemakan energi cahaya… seekor elemental,” kata B3. “Kalau begitu, tidak terlalu aneh kalau dia bisa bertahan hidup, tapi bukan itu masalahnya sekarang. Yang jadi masalah adalah apa yang akan dia lakukan—”

Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, Monochrome mulai beraksi.

Masih berada tinggi di atas langit, dia mulai menembakkan tembakan cahaya. Beberapa tembakan pertama mendarat di gunung tempat dia terkubur sebelumnya, tapi kemudian mereka mulai menghujani kerumunan festival. Tembakan itu menyebabkan ledakan api berkobar ditempat mereka mendarat. Kedai, rumah, dan orang-orang langsung terbakar.

Dan seolah-olah itu belum cukup, tembakan cahaya itu tidak berhenti. Mereka terus berjatuhan seperti hujan.

“K y a H A h A h a h A H a a H! ♪” hal itu membuatnya tertawa. Aku bisa mendengarnya dengan jelas meskipun dia berada jauh di atas langit.

Suara itu penuh dengan niat jahat. Rasanya seolah-olah itu adalah caranya untuk memberitahu para korban tentang betapa gembiranya dia saat ini. Kota yang terbakar, orang-orang yang ketakutan, dan anak-anak yang menangis mencari orang tuanya—semua itu memberikan kegembiraan besar kepadanya.

Dia menonton rasa takut dan tragedi tiada akhir itu dan tidak merasakan apapun selain kesenangan.

“Dasar bajingan…” geramku.

Monster itu membuatku merasa seperti saat menemukan kejahatan Maise, saat aku berhadapan dengan Gouz-Maise, dan saat aku menantang Franklin. Hatiku meratap kepadaku, dan mengatakan, Jangan hanya diam saja.

“SILVEEEEEER!” Mendengar raunganku, kuda kepercayaanku keluar dari dalam inventory-ku.

Aku melompat ke punggungnya, mengunci tangan buatanku di tali kekangnya, dan menggunakan MP yang tersimpan di Grudge-Soaked Greaves-ku untuk mengaktifkan Wind Hoof.

“Ray!” teriak B3.

“Kau tolong Farica dan para tian lainnya untuk menemukan tempat berlindung!” teriakku. “Aku akan menangani makhluk itu.”

Bahkan tanpa menunggu jawabannya, aku mengayunkan tali kekang Silver dan membuatnya berlari ke atas langit. Sesaat kemudian, tato yang ada di tangan kiriku mulai bersinar.

“Ray!” teriak Nemesis saat dia muncul dari dalamnya, berubah ke dalam bentuk greatsword, dan menyelimuti tangan kananku.

“Kau paham dengan situasinya?” tanyaku.

“Tentu saja! Kita akan menghancurkan kristal sialan itu, kan?”

Ya! Tepat sekali!”

Silver berlari ke arah langit dengan sudut hampir 90 derajat saat aku melawan gravitasi dengan cara mengalirkan sihir ke dalam tangan buatanku dan menambah kekuatan ke kaki-ku yang ada di pijakan.

“Apa?” aku berteriak saat menyadari sesuatu.

Sudut pandang vertikal itu memberiku pandangan yang bagus dari desa Torne. Menatap ke arahnya, aku melihat bayangan empat mount terbang lain; seekor gryphon, hippogryph, wyvern, dan seekor naga langit besar—mungkin kelas Pure-Dragon.

Mereka semua sedang ditunggangi oleh Master yang kemungkinan datang kemari untuk menikmati Festival Kincir Bintang.

Dan sekarang, sama sepertiku, mereka terbang ke langit untuk membunuh Monochrome.

“Hei!” pria yang menaiki hippogryph memanggilku. “Hei! Bukankah kau adalah Ray Starling sang Unbreakable?!”

“Benar! Kau siapa?”

“Aku Lang, hanya seorang Gale Rider tanpa nama julukan! Riser sudah bercerita tentang dirimu! Dia adalah anggota lama di klan kami!”

“Kau kenal Riser?!”

“Ya! Pokoknya, semuanya jadi kacau, ya? Ayo kita bekerja sama dan—” Tiba-tiba, kepala Lang lenyap sepenuhnya.

“Ap…?!” aku terkesiap.

Hanya dalam sekejap dan tanpa suara, sebuah tembakan cahaya dari atas telah melenyapkan kepalanya. Tubuhnya yang tersisa langsung berubah menjadi partikel cahaya, sementara hippogryph miliknya langsung kembali ke dalam jewel secara otomatis.

“Dia menghalangi kita!” teriak Master berarmor berat yang menunggangi Pure-Dragon.

Mendongak ke atas, aku melihat tentakel milik monster itu berputar saat ujungnya di arahkan kepada kami.

“Hah!” kekeh Master berarmor ringan yang menunggangi Gryphon. “Rasanya kita seperti sasaran permainan menembak! Mendekatinya akan jadi sulit!”

“HyaHAH! Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan!” teriak penunggang wyvern berambut mohawk. “Aku akan membalaskan dendam teman-teman klan-ku dan para tian! Kami tidak pernah lari dari pertarungan!”

Mereka mempercepat tunggangan mereka.

“Cahaya itu menembak lurus!” teriak Master penunggang Pure-Dragon. “Menghindarinya tidak akan terlalu sulit! Tinggal lihat saja kapan tentakel itu bersinar!” Dia benar sekali. Meskipun makhluk itu memiliki jangkauan serangan yang luar biasa, menghindari serangannya bukanlah hal yang sulit, dan jika kami bisa terus bertahan seperti ini, tidak akan butuh waktu lama sampai kami bisa mencapainya dan membunuhnya.

“Whoa, gan, hati-hati!” kata pria berambut mohawk. Suaranya terdengar keras, mungkin karena semacam item pengeras suara. “Aku ada disana saat makhluk itu keluar! Saat itu, dia melelehkan bebatuan dan teman klan-ku dengan sekali serang, tapi saat dia menembak dari atas langit, serangan itu hanya membuat targetnya terbakar! Itu artinya kekuatan tembakan itu berbanding terbalik dengan jarak targetnya.”

“Ah, jadi jarak efektifnya lebih rendah dari 10,000 meter!” teriak Master Pure-Dragon.

Pada dasarnya, bahaya yang sebenarnya baru akan muncul saat kami sudah berada di dekatnya.

Jika kekuatan tembakan itu masih rendah, itu artinya instant kill yang di alami Lang hanya terjadi karena tembakan itu tepat mengenai kepalanya… Wew, sungguh pria yang malang.

Aku mendengar suara di belakangku dan menoleh untuk melihat apa yang menyebabkannya. “Hm?”

Ada kobaran api yang melayang diantara tempat kami dan permukaan. Itu tampak seperti ledakan sebuah misil.

“Benar sekali,” kata Nemesis setelah membaca pikiranku. “Seseorang di permukaan menembakkan sebuah misil—kemungkinan besar sebuah skill Embryo—tapi misil itu ditembak jatuh oleh serangan makhluk itu.”

Karena saat berada dalam bentuk senjata bidang pandangnya meningkat, jadi Nemesis bisa melihat apa yang terjadi di atas dan di bawah kami.

Meskipun hanya kami yang terbang ke atas langit, seseorang yang tinggal di permukaan sepertinya juga mencoba melakukan sesuatu.

“Asal kau tau, misil itu bukan satu-satunya serangan yang datang dari permukaan,” tambahnya. “Tapi semua serangan lain juga sudah digagalkan oleh tembakan cahaya milik makhluk itu.”

“Semuanya, huh?”

Akan tetapi, meski begitu, kami bisa terbang mendekatinya tanpa masalah. Itu mungkin karena kami bisa menghindari seluruh tembakan cahayanya, tapi aku masih merasa kalau itu agak aneh.

Rasanya monster itu seperti memprioritaskan menghentikan serangan dari permukaan, seolah-olah dia tidak perlu mengurusi kami.

“Geez… Seberapa jauh lagi makhluk itu berada?!” keluh Master gryphon, dan aku juga sepemikiran dengannya.

Monochrome awalnya berada di ketinggian 10,000 meter di atas langit, dan meskipun saat ini kami sudah hampir mencapai ketinggian itu, jarak antara kami dan monster itu sepertinya tidak berkurang. Makhluk itu sebenarnya masih terus terbang lebih tinggi lagi.

“Keh! Apa-apaan jangkauan yang dia miliki?! Itu gila!” keluh pria berambut mohawk, tapi sepertinya dia salah memahami situasinya.

“Benar,” Nemesis setuju dengan pemikiranku. “Ketinggian awalnya sepertinya adalah batas dari jangkauan serangannya. Sekarang tembakan cahayanya sudah tidak bisa mencapai daratan lagi.”

Tepat sekali. 10,000-meter kurang lebih adalah jarak maksimal dari tembakan cahaya itu sebelum kehilangan seluruh kekuatannya dan menghilang. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan ketinggian maksimal yang dapat dicapai Monochrome. Dia bisa terus terbang melampaui batas itu, dan dia tidak ragu untuk melakukannya agar bisa menghindari kami.

Mungkin ada ketinggian maksimal yang bisa dia capai. Setidaknya, aku berharap dia tidak bisa pergi ke luar angkasa, tapi meskipun dia bisa melakukannya, kami memiliki masalah yang lebih besar.

“Ah…! Si… al!” seru Master penunggang gryphon. Suaranya mulai terdengar jauh dan lemah.

Tentu saja begitu. Kami berada di ketinggian 12.000 meter di atas daratan. Udara disini jauh lebih tipis dari pada yang ada di permukaan.

“He… I, ini bu… ruk! Tubuh… ku… tidak… bis… a menaha…n ini…”

Disini bukanlah lingkungan yang bisa mendukung kehidupan. Bahkan jet jumbo di dunia nyata tidak bisa terbang di ketinggian melebihi 10,000 meter. Udara di ketinggian itu terlalu tipis untuk mendukung penerbangan jangka panjang. Kepadatan udara, suhu, dan tekanan disini terlalu rendah bagi makhluk hidup manapun untuk bertahan hidup, dan bahkan makhluk terbang agung seperti gryphon dan wyvern tidak bisa bertahan disini. Kecuali kita didukung oleh stats yang tinggi, kami pasti akan pingsan atau mati membeku.

Tapi, Monochrome masih berjarak 10,000 meter di atas kami, dan dia masih tetap terbang lebih tinggi lagi.

Sekali lagi, mungkin ada batasan seberapa tinggi dia bisa terbang. Tapi meskipun dia tidak bisa meninggalkan atmosfer dan melarikan diri keluar angkasa, batas dari ketinggian yang bisa dicapai makhluk hidup jauh lebih rendah.

Itulah sebabnya dia hanya fokus menangani serangan dari daratan—dia sudah tau kalau tidak ada dari kami yang bisa mencapainya.

“Khh…! Ma… af, ak… u har… us mundur…!”

“Si… al…!”

Master gryphon dan mohawk penunggang wyvern tidak punya pilihan lain selain menyerah. Pure-Dragon masih bisa bertahan, tapi pergerakannya telah menjadi terlalu tumpul untuk bisa menghindari hujan tembakan cahaya dari makhluk itu. Naga itu meraung kesakitan saat serangan itu membakar tubuhnya, dan pada akhirnya menembus sayapnya dan membuatnya terjatuh.

“Khh! Reca…ll!”

Master dari Pure-Dragon itu memprioritaskan keselamatan mount-nya dan mengembalikannya ke dalam jewel. Tanpa apapun yang bisa membuatnya tetap berada di udara, Master itu mulai jatuh ke daratan.

Jatuh dari ketinggian ini sudah pasti akan memberinya death penalty, tapi mungkin dia sudah menyadari hal itu. Bagaimanapun, tatapan matanya pada dasarnya mengatakan, “Aku menyerahkan semuanya kepadamu.”

“Jadi hanya kita yang tersisa,” keluh Nemesis.

“… Ya.”

Silver adalah sebuah Prims Steed, bukan makhluk hidup, jadi dia bisa terbang lebih tinggi dibanding mount lainnya. Bahkan aku juga bisa bertahan berkat Wind Hoof-nya. Skill itu menciptakan lapisan udara tipis yang melindungiku dari atmosfer yang dingin dan minim oksigen. Tapi sayangnya, meski begitu, batas kami sudah dekat.

“Ah!” Aku terkesiap saat Silver tiba-tiba tersandung.

Atau, lebih tepatnya, lapisan udara yang ada di bawah kakinya hancur saat menahan berat kami.

Aku tau kalau pada akhirnya ini akan terjadi. Bagaimanapun, Silver sebenarnya bukan “terbang”, melainkan “berjalan di atas udara yang dikeraskan.”

Saat kami berada di stratosfer seperti ini, 15,000 meter dari daratan, udara disini terlalu tipis bagi Wind Hoof untuk menciptakan pijakan yang cukup kuat untuk menahan kami, dan memberikan sedikit lebih banyak MP juga tidak dapat menyelesaikan masalah itu.

Bahkan barrier yang melindungi hidupku juga sudah hampir hancur akibat tembakan cahaya yang menggoresnya. Udara di sekitar kami semakin mengandung sedikit oksigen dan menjadi semakin berbahaya. Terbang lebih tinggi lagi hanya akan membuatku berada dalam bahaya akan kematian instant jika barrier ini hancur.

“Cih!” aku mendongak ke atas dan melihat bahwa jarak antara kami dan Monochrome masih sama jauhnya seperti sebelumnya.

“K y A H a h A h a H a H!” Dia tertawa mengejek, dan aku merasa kalau tawa itu ditujukan kepada kami. Meskipun jarak kami sangat jauh dan hampir tidak ada udara di sekitar kami, aku bisa mendengar suara tawanya dengan sangat jelas.

“Kemungkinan besar itu adalah sebuah skill,” kata Nemesis. “Skill yang sepenuhnya dibuat untuk mengejek.”

“…”

Tembakan cahaya yang bisa menjangkau jarak 10,000 meter, kemampuan untuk terbang sampai ke stratosfer, sebuah skill untuk mengejek korbannya… Semua kekuatannya berfokus untuk memandang rendah makhluk lain dan memusnahkan mereka sepenuhnya.

“Ray! Kita sudah mencapai batas!” teriak Nemesis. “Kita tidak bisa terbang lebih tinggi lagi!”

Silver mulai melambat. Dia tidak bisa lagi menciptakan cukup udara terkompresi untuk terus berlari.

Bukan hanya itu, tapi sekarang Monochrome sedang memfokuskan seluruh tembakan cahayanya kepada kami, dan kuda-ku tidak bisa menghindari semua serangan itu.

Kami tidak punya cara untuk terbang lebih tinggi lagi dan mencapai monster itu.

“Gh! Kita mundur!” geramku, mencoba untuk menenangkan rasa marah di dalam diriku, dan memerintahkan Silver untuk kembali ke daratan.

Dia segera berbalik dan mulai berlari setengah jatuh ke bawah.

Tentu saja, hal itu tidak serta-merta membuat Monochrome menghentikan serangannya.

“K y A H a A a a A a!” dia tertawa, membuatku menoleh untuk melihatnya.

Aku melihat keempat tentakelnya bersinar dan menembakkan cahaya langsung ke arah kami. Dia jelas tidak berniat untuk membiarkan kami melarikan diri.

Aku sedikit terkesiap, lalu mengambil tindakan dan berteriak, “Bentuk Ketiga!”

“Sesuai keinginanmu!” Nemesis langsung berubah ke bentuk perisai bundar, dan aku menggunakannya untuk menangkis tembakan cahaya itu.

Saat menyentuh permukaannya, cahaya mematikan itu terpencar ke samping.

Sisa panasnya menggoresku dan Silver, tapi itu hanya memberikan damage kecil.

Seperi yang diharapkan, kemampuan defense dari perisai ini berada di level yang berbeda dengan bentuk pedang dan halberd. Meskipun tembakan cahaya itu telah melemah karena jarak hampir 10,000-meter yang dia lalui, menghentikan mereka semua tanpa menggunakan Counter Absorption adalah sebuah pencapaian yang bagus.

“… Apa? Itu terisi? Karena sesuatu selain damage biasa…?” gumam Nemesis, tapi aku jelas terlalu sibuk untuk mendengarkannya.

Kami turun dengan gerakan hampir vertikal, jadi aku menggenggam tali kekang Silver dengan sekuat tenaga dan mengapitkan kakiku ke tubuh Silver untuk mencegah diriku jatuh.

Tak lama kemudian, kami berada di jarak lebih dari 10,000-meter dari Monochrome dan berhasil lolos dari jarak tembakan cahayanya.

Beberapa menit kemudian, kami kembali memijak daratan.

“… Gh,” aku menyuarakan rasa frustrasiku. Tentu saja, untungnya kami bisa kembali hidup-hidup, tapi itu sama dengan melarikan diri dari makhluk sialan itu. Setidaknya, hal itu membuatku merasa pahit.

“Pencarian tempat perlindungannya… berjalan lancar, sepertinya,” gumamku.

Tidak ada satu orangpun di tempat kami mendarat, tapi di desa, aku melihat sekelompok Master sedang melindungi banyak turis, menolong mereka menemukan tempat untuk bersembunyi. Para Master lainnya mendongak ke langit, sepenuhnya waspada dan bersiap untuk menerima tembakan cahaya lainnya.

Saat ini hal itu tak ada gunanya sih, karena daratan masih berada di luar jangkauan Monochrome.

“K y A H a k Y a h a K y a H a H!” Suara tawanya bergema meskipun berada di jarak yang sangat jauh, menciptakan rasa takut di dalam hati orang-orang.

Aku lebih memahami hal itu dari pada orang lain, karena Grudge-Soaked Greaves milikku sedang menyerap emosi negatif yang ada di sekitar kami dan mengubahnya menjadi MP.

Monster itu kembali tertawa untuk menciptakan teror sambil bersiap untuk menyerang saat desa ini kembali berada di dalam jangkauannya.

“Setidaknya dia turun dengan lambat,” kataku.

Dalam perjalanan kami ke daratan, aku menyadari kalau dia tidak bisa turun secepat dirinya terbang ke atas. Kecepatan turunnya tidak dapat dibandingkan dengan kecepatan terbangnya yang mirip roket. Bahkan, kecepatan turunnya lebih lambat dari pada terjun bebas.

Dari apa yang bisa kulihat, akan butuh waktu sekitar 30 menit sampai desa ini kembali ke dalam jangkauan serangannya.

Itu bagus. Mengingat bahwa sekarang kami memiliki lebih banyak waktu untuk menolong orang-orang menemukan tempat berlindung, sepertinya usaha kami tadi tidak sia-sia.

“Itu memang tidak sia-sia, tapi kita masih tidak memiliki cara untuk menghancurkan kristal itu,” kata Nemesis setelah kembali ke bentuk manusia.

Dalam nada suaranya, aku merasakan perasaan kesal… dan semangat tarung tak tergoyahkan.

Kami bahkan tidak dapat mencapai Monochrome, apalagi melukainya, akan tetapi dia masih belum menyerah. Tentu saja, aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

“Ada hal lain yang kusadari tentang makhluk itu,” kataku. “Monster itu kemungkinan tidak terlalu tangguh.”

Dia telah menangkis semua serangan anti-udara yang menuju ke arahnya. Itu mungkin adalah caranya untuk menunjukkan superioritasnya, tapi bagaimana kalau sebenarnya dia tidak boleh membiarkan satupun serangan mengenai dirinya?

“Apa dasarmu berpikir demikian?” tanya Nemesis.

“Ada luka pada kristal yang membentuk tubuhnya.”

Dilihat dari teropong milik B3, aku melihat retakan yang cukup besar, dan karena tidak ada seorang Master pun disini yang berhasil mendaratkan serangan padanya sejak dia muncul…

“Itu pasti adalah sebuah luka lama,” kataku. “Itu mungkin adalah luka yang dia dapat saat dia dihantam oleh meteor itu.”

Berdasarkan drama itu, dia telah dihantam jatuh dari langit dan terkubur jauh di dalam tanah selama beberapa abad. Namun, meteor yang melakukan hal itu mungkin tidak terlalu besar dan kuat.

Jika meteor itu berukuran besar, maka itu akan memusnahkan Monochrome dan desa di sekitarnya, membuat tidak ada seorangpun yang bisa mengisahkan hal itu. Oleh karenanya, meteor itu pasti cukup kecil untuk hampir tidak menyebabkan kerusakan pada daratan di sekitarnya.

Gouz-Maise ataupun setiap UBM kuat yang diceritakan Shu kepadaku bisa menahan meteor itu hanya dengan stats mereka saja atau dengan mudah memulihkan diri dari luka yang disebabkan meteor itu. Monochrome, disisi lain, telah menerima luka parah dan belum bisa memulihkan diri sampai saat ini.

Dari apa yang bisa kupahami, kecepatan terbangnya yang luar biasa, jangkauan serangannya yang gila, dan kemampuannya untuk menyerap cahaya pasti telah berdampak pada rendahnya HP, END, dan kemampuan regenerasi yang dia miliki.

“Ini hanyalah intuisi-ku, tapi kurasa sebuah Vengeance is Mine dengan damage yang sama dengan saat melawan Gouz-Maise sudah cukup untuk menghancurkannya. Tidak, bahkan separuhnya saja mungkin sudah cukup.”

Dan aku bisa dengan mudah mendapatkan damage sebanyak itu dengan cara membiarkan tembakan cahaya itu mengenaiku dan menyembuhkan diri menggunakan item penyembuh dan kemampuan BR Armor-ku.

“Yang jadi masalah adalah kita tidak punya cara untuk menyerangnya,” kata Nemesis.

Itu masih menjadi masalah terbesar dari monster ini. Meskipun dia adalah salah satu UBM dengan fisik paling lemah, itu tidak akan ada artinya jika kami tidak bisa mendaratkan satupun serangan padanya.

“Makhluk hidup tidak bisa mencapainya karena dia berada jauh di stratosfer, sementara serangan dari daratan bisa dia tangkis. Berdasarkan hal itu, aku hanya bisa memikirkan dua cara untuk mengalahkannya.”

“Dan apa itu?” tanya Nemesis.

“Antara kita menggunakan serangan yang mengabaikan jarak, seperti skill ultimate milik Xunyu… atau menggunakan serangan anti-udara yang tidak bisa dihentikan oleh tembakan cahayanya.”

Saat ini Xunyu tidak ada bersama kami, jadi cara pertama bukanlah sebuah pilihan, dan berdasarkan fakta bahwa semua serangan anti-udara telah berhasil dia tangkis, tidak ada seorangpun disini yang memiliki skill untuk melakukan cara kedua. Dan tentu saja, kami bukanlah pengecualian untuk hal itu.

Karena itu, kupikir cara kedua tidak bisa diterapkan, tapi…

Nemesis terdiam. Sepertinya ada hal lain yang sedang dia pikirkan. Pada akhirnya, dia berkata, “Ray, bolehkah aku kembali ke dalam tato sebentar?”

“Apa?”

Kenapa malah sekarang? Pikirku.

“Aku sudah separuh jalan dalam menganalisis bentuk ketiga.”

Tunggu, apakah maksudmu… “… skill milik bentuk ketiga bisa mengalahkan makhluk itu?”

“Itu bukan tidak mungkin. Meskipun harus kuakui bahwa apa yang ku analisa sejauh ini memiliki lebih banyak lubang dibandingkan keju swiss. Tapi aku berhasil membuat kemajuan setelah kita menahan serangannya.”

Saat kita menahan serangannya? B3 memberitahu kami kalau kecepatan analisis skill akan meningkat saat melakukan tindakan yang ada hubungannya dengan skill tersebut. Apakah itulah yang terjadi?

“Skill milik bentuk ketiga kemungkinan besar mirip dengan Vengeance is Mine dan Counter Absorption,” tambahnya.

“Tunggu, jadi…”

“Apa yang bisa kupastikan saat ini adalah itu merupakan sebuah skill serangan yang menjumlahkan damage dari musuh dan hanya bisa digunakan sekali per hari.”

Jadi pada dasarnya skill itu menggabungkan batasan dari Vengeance is Mine dan Counter Absorption, yang membuatku bisa menyimpulkan kalau itu lebih kuat dari pada Vengeance is Mine. Kami masih belum tau apakah skill itu bisa mencapai Monochrome, sih.

“Ini akan menjadi perjudian ganda,” lanjut Nemesis. “Kita harus berdoa agar skill yang di analisa ini bisa melukai monster itu… dan berharap agar kita bisa menggunakannya dengan baik. Jika salah satu dari hal itu tidak membuahkan hasil, maka kita tidak akan bisa berbuat apa-apa.

“Tapi kemungkinannya masih ada, kan?” tanyaku.

“Tentu saja.”

Jawabannya membuatku menunjukkan senyum samar. “Kalau begitu…”

“… Kau sudah memutuskan jawabanmu, kan?” dia membalasku dengan sebuah seringai.

Wew, ini selalu terjadi kepada kami, huh? Pikirku, sambil menghubungkan antara situasi saat ini dengan pertarungan kami melawan Gardranda dan Gouz-Maise.

Terlepas dari semua yang dipertaruhkan, saat-saat dimana aku dan Nemesis berjudi pada masa depan yang kami percayai sepenuh hati dan meyakinkanku kalau tidak ada cara lain lagi.

“Kalau begitu, lanjutkanlah proses analisa mu” kataku. “Aku mengandalkanmu.”

“Tentu saja. Berharaplah yang terbaik, Ray,” jawabnya saat dia kembali ke dalam tato ku.

Aku mengusap lambang itu dengan lembut sebelum mendongak ke langit, dimana aku melihat butiran pasir hitam jahat yang merupakan Monochrome sedang turun dengan perlahan menuju daratan.

Masih ada waktu dibawah 30 menit sampai Torne berada di dalam jangkauannya. Aku hanya bisa berharap bahwa proses analisis itu akan selesai sebelum waktu itu habis.

“K y a H A h a H a h A h a H!” Monster itu tertawa, seolah-olah mengumumkan kedatangannya.

Aku merasa berkewajiban untuk menjawabnya, dan berkata, “Aku akan mendiamkanmu… untuk selamanya.

Pertarungan tadi baru sebuah permulaan.

*

“Apakah ini tempat perlindungan dari serangan udara?” gumamku saat aku menatap sebuah bangunan setengah bola yang sebelumnya tidak ada disini.

Aku juga bisa melihat dua bangunan lain yang berbentuk sama dengan yang ini. Mereka mungkin dibuat dengan kerja sama antara orang-orang dengan skill sihir tanah atau Master dengan Embryo yang bisa memanipulasi tanah. Material mereka adalah bumi itu sendiri, jadi mereka tampak seperti terkubur di tanah.

Selain itu, permukaan bangunan itu mengeluarkan cahaya samar. Itu mungkin adalah hasil dari semacam skill barrier yang mereka persiapkan untuk menerima serangan selanjutnya.

Aku tidak tau apakah bangunan itu bisa bertahan dari tembakan cahaya jarak dekat milik Monochrome, tapi mereka mungkin bisa bertahan dari tembakan cahaya berjarak 10,000 untuk sesaat.

Aku memasuki salah satu tempat perlindungan itu dan berjalan menerobos kerumunan turis dan penduduk desa, untuk mencari B3, Louie, dan Farica.

Kami memiliki waktu sekitar 20 menit sampai Monochrome bisa menyerang kami lagi, dan Nemesis masih menganalisa skill itu, jadi kupikir aku akan menghabiskan waktu ini untuk menemui B3 dan menjelaskan situasinya.

Aku tidak butuh waktu lama untuk menemukannya.

“Tolong! Biarkan aku pergi!”

Dia sedang bersama dengan Farica.

“Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu memaksakan dirimu dan beresiko melukai bayimu…” kata B3.

Wanita itu bersikeras untuk meninggalkan tempat perlindungan, sementara B3 berusaha mencegahnya. Saat aku mencoba memahami apa yang terjadi disini, aku menyadari bahwa Louie tidak ada bersama mereka.

Firasat buruk menghampiriku saat aku berjalan ke arah mereka dan memanggilnya, “B3!”

“Ray, bagaimana hasilnya dengan Monochro—”

Terdengar suara tawa menakutkan dari luar.

“Oh, begitu.” Dia langsung menyadari kalau masalahnya masih belum terselesaikan.

“Dan apa yang terjadi disini?” tanyaku.

“Louie!” teriak Farica. “Kami tidak bisa menemukannya dimanapun!”

“Dia tidak berada di dalam tempat perlindungan?!”

“Benar,” angguk B3. “Kami juga sudah mencarinya di bangunan lain, tapi dia juga tidak ada disana. Menurut salah satu temannya, tepat sebelum Monochrome muncul, Louie pergi untuk mengajak Farica-san menari.”

“Ah!” aku terkesiap. Itu artinya Louie sedang sendirian saat monster itu mengamuk. Aku membayangkan skenario terburuk, dan itu membuat keringat dingin mengalir dipunggungku.

“Aku akan mencarinya!” seruku.

“Biarkan aku ikut denganmu,” kata B3. “Tolong tunggu disini, Farica-san.”

“Tapi Louie…”

“Demi dirinya, tolong jangan pergi kemanapun!”

Setelah memastikan dia tidak akan pergi, kami segera meninggalkan tempat perlindungan.

Nyawa Louie sedang dalam bahaya, jadi kami harus menemukannya secepat mungkin.

Tidak banyak waktu tersisa sampai serangan Monochrome dimulai lagi.

Tolong jangan terluka, Pikirku saat aku dan B3 naik ke punggung Silver dan mulai mencari ke seluruh bagian desa dengan panik.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. monochrom says:

    Kapan ray merasa putus asa yak dibuat ama authornya. Mksh udh tk, mhn d lnjtkn tor.

    Like

  2. Muhamad Saidun Usman says:

    lanjut min.. the best lah..

    Like

  3. Sheard says:

    Lanjut bang zen

    Like

Leave a Reply to A Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s