Infinite Dendrogram Volume 7 Chapter 3 B

Volume 7
Chapter 3 – Ichiro Shijima Yang Sebenarnya (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

 Paladin, Ray Starling

Tepat setelah perbincangan kami dengan Tsukikage, kami kembali login ke Infinite Dendrogram.

Kami berbicara selama 30 menit, yang sama dengan satu setengah jam di dalam game. Matahari masih tinggi dilangit, dan festival masih berlangsung meriah. Tapi Aku dan B3 sama-sama sedang tidak mood untuk menikmatinya lagi.

“…”

Kami berdua diam sepenuhnya. Apa yang kami dengar dari Tsukikage benar-benar mengejutkan.

Louie sedang mencari ayahnya, sementara Farica sedang menunggu kepulangan suaminya. Tapi karena takdir yang kejam, mereka tidak akan pernah bisa bertemu dengan Shijima lagi.

“… Ini meninggalkan rasa pahit dimulutku,” gumamku.

“Kalau dipikir-pikir, kita bisa menebak hal ini saat Farica menyarankan bahwa kita tidak perlu mencari Shijima,” komentar B3. “Dia sudah tau bahwa Shijima-san sedang membahayakan nyawanya untuk suatu hal di ‘sisi lain.’ Dan fakta bahwa dia belum kembali sampai saat ini… berarti Farica mungkin menyadari apa yang terjadi kepadanya.”

“… Kurasa begitu.”

Di Infinite Dendrogram, Master adalah makhluk yang abadi. Tapi di dunia nyata, kami hanya manusia biasa, sama-sama bisa mati seperti makhluk hidup lainnya.

Itu adalah salah satu kebenaran hidup yang kejam.

“Meskipun Farica memiliki firasat kalau Shijima sudah mati,” lanjut B3, “dia masih bisa mempercayai kalau Shijima masih hidup di suatu tempat selama dia tidak mengetahui kebenarannya. Farica sepertinya memilih untuk menunggu karena dia ingin menjaga harapan itu tetap hidup.”

Dan itulah sebabnya dia merasa keberatan karena kami menerima permintaan Louie untuk mencari Shijima.

Perasaan Farica hampir sama seperti seseorang yang kehilangan orang yang dia cintai dalam suatu bencana alam. Selama tubuh orang itu tidak ditemukan, dia bisa terus berharap bahwa orang orang yang dia cinta masih hidup.

Itu mengingatkanku tentang saat kapal yang ditumpangi kakak perempuanku tenggelam di Samudera Pasifik. Saat aku diberitahu kalau dia kemungkinan besar sudah mati, aku menangis keras.

Lalu, setelah menerima banyak kesedihan dari keluarga kami, dia pulang ke rumah sambil mengatakan “Halooo!” dengan riang, seolah-olah itu bukanlah hal yang besar.

Saat kami meminta dirinya untuk menceritakan bagaimana dia bisa selamat, sambil terkejut…

“Oh, aku menjebol lambung kapal yang tenggelam itu dan berenang menyusuri Samudera Pasifik sampai aku menemukan kapal lainnya.”

Aku tidak tau harus berkata apa tentang dirinya. Keberadaannya adalah sebuah enigma.

Hal itu hampir tidak ada hubungannya dengan masalah saat ini, tapi mengingat kakak perempuanku bisa sedikit meningkatkan semangatku.

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Ray?” tanya B3.

“Yah, kita harus memutuskan apakah kita akan memberitahu hal ini kepada mereka atau tidak…” kataku, kemudian mendesah. Tidak peduli apakah aku membongkar nasib Shijima-san kepada mereka atau tidak, itu tetap sama meninggalkan rasa yang tidak enak dimulutku.

Mengatakan berita menyedihkan ini kepada mereka maupun menyembunyikan kebenaran dari mereka adalah pilihan yang membuatku merasa pahit, tapi…

Aku membulatkan tekadku. “Aku akan memberitahu mereka.”

“Apakah kau yakin?” tanya B3.

“… Ya. Jika kita tidak memberitahu mereka, mereka tidak akan pernah mengetahui kebenarannya. Nasib Shijima-san akan terus terselimuti kegelapan selama sisa hidup mereka.”

Jika kami tidak mengatakannya, mereka tidak akan bisa sepenuhnya berpisah dengannya. Mereka akan selalu terikat oleh pertanyaan tentang dimana keberadaannya.

“Itu akan meninggalkan rasa pahit dimulutku, itu kejam, dan mereka mungkin akan marah kepadaku karena hal itu, tapi… tapi tetap saja, itu adalah sesuatu yang harus dilakukan.”

Meskipun aku sudah membulatkan tekadku, fakta bahwa aku akan memberitahu mereka tentang kematian Shijima-san membuat tubuhku gemetaran.

Itu membuatku takut. Pemikiran tentang memberi rasa putus asa kepada mereka memberiku rasa takut tanpa henti.

“Jika itu yang kau pilih, maka itu mungkin adalah yang terbaik,” kata B3.

“B3?” aku mengangkat alisku.

“Kaulah yang harus memutuskan hal ini. Aku tidak terlalu memperdulikan para NPC… para tian… tidak seperti dirimu.” Dia menatap festival yang ada di kejauhan. Para tian dan Master sama-sama menikmati festival itu. “Aku adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘ludo.’ Bagiku, dunia ini tidak lain hanyalah sebuah game.”

Aku terdiam.

“Hal yang sama juga berlaku pada para tian,” katanya. “Dimataku, mereka hanyalah para AI yang sangat maju. Jika hanya sendirian, aku bahkan tidak akan menerima permintaan itu. Setelah mengetahui kebenarannya, kemungkinan besar aku akan menghilang dari pandangan mereka, tanpa pernah memutuskan apakah akan memberitahu mereka atau tidak. Tapi sekarang…”

Dia terdiam sesaat dan menatap langsung ke mataku.

“Tapi sekarang, disini, aku melihat seseorang yang melampaui setiap player yang kukenal dalam hal perasaannya terhadap para tian. Kau menganggap mereka sama seperti kita, mengasihani mereka, dan bersimpati kepada mereka.”

Dia berjalan ke arahku dan dengan lembut memegang tanganku yang gemetaran.

“Jadi tolong, jangan takut dengan keputusanmu. Tidak ada Master yang lebih memperdulikan mereka selain dirimu.”

Kalimat dorongannya membuat rasa gemetarku menghilang.

“B3,” gumamku. “Terima kasih.”

“Senior yang baik akan selalu membantu junior-nya,” dia tersenyum menanggapi hal itu.

Berkat dirinya, sekarang aku sudah siap. Ini adalah saatnya aku pergi dan memberitahu mereka. Untuk menceritakan kebenaran kepada mereka tentang—

“K y a H a h A h a h A H a h A h a H!”

Sebuah suara tawa gila tiba-tiba bergema di sekitar kami. Itu mirip seperti suara gelas yang bergesekan, tapi itu terdengar seperti tawa yang berisi kegilaan murni.

“Apa?!” Seruku dan melihat ke arah datangnya suara itu—langit di atas pegunungan terdekat.

Disana, aku melihat—

***

Pinggiran Desa Torne

Beberapa menit sebelumnya…

“Bangsat! Para bajingan SolCri itu menguras uang kita! Kita harus menemukan sesuatu untuk menggantinya!”

Sepuluh Master aneh sedang berada di dalam sebuah gunung tidak jauh dari Torne.

Kelompok mereka tampak mencolok, karena mereka semua memiliki rambut bergaya mohawk. Mereka adalah anggota Mohawk League yang sama dengan yang berhadap dengan Sol Crisis di festival. Salah satu dari mereka sedang mengayunkan sebuah pangkur dengan bersemangat, sementara yang satunya lagi menghela nafas lelah dan berbicara.

“Hhhhaaa… tapi bukan berarti kita akan menemukan UBM, kan? Cerita itu sudah berumur ratusan tahun, dan orang-orang bilang kalau tidak ada seorangpun yang menemukan sesuatu selama dua tahun terakhir. Dan juga, bukan berarti kita bisa menang melawan seekor UBM.”

Menanggapi hal itu, mohawk yang mengayunkan pangkur dengan bersemangat menunjukkan senyum tak kenal takut. “Heh heh heh, aku tidak mengincar sesuatu sebesar itu. Aku hanya menginginkan meteor itu!”

“Meteor?”

“Bukankah kau tau? Di manga dan LN, logam meteoroid yang kau dapat dari meteor adalah sebuah bahan pembuatan senjata yang sangat kuat. Hal yang sama pasti juga berlaku di Dendro.

“Ahh, begitu. Meskipun UBM itu sudah hilang, meteor yang menghantam makhluk itu seharusnya masih ada disini.”

“Tepat! Jadi ayo terus menggali!”

“Baik, baik.”

Dengan demikian, mereka melanjutkan aktivitas menambang mereka.

Apa yang gagal mereka sadari adalah bahwa, jika meteor itu memang besar, seluruh desa yang ada di sekitar sini pasti sudah musnah, yang berarti bahwa meteor yang ada di dalam cerita itu pasti berukuran kecil. Meskipun mereka terus menggali, mereka akan berakhir dengan tangan kosong dan kembali ke festival untuk meningkatkan semangat mereka.

Atau itulah yang seharusnya terjadi, kecuali… mereka membuat sebuah pendapat yang salah.

Hal yang mereka kira sudah menghilang masih ada disana.

Hal yang terkubur di bawah tanah, sekarang sudah terbangun oleh sejumlah kecil cahaya, telah menyadari bahwa ada beberapa “obor” di atasnya.

Bukan hanya itu, tapi “obor” yang telah berkurang drastis 300 tahun yang lalu telah meningkat dalam jumlah besar.

Setelah bangkit, dia tidak memiliki kekuatan untuk meloloskan diri ke permukaan. Sejak saat itu, dia hanya terus menunggu sambil memakan sejumlah kecil cahaya yang mencapainya.

Tapi sekarang penantian itu telah usai.

Setelah menyerap cukup cahaya untuk mendapatkan sedikit kekuatannya kembali, dia memulihkan cukup kekuatan untuk meloloskan diri ke permukaan.

“K y A h a H!”

Dia menjulurkan tentakelnya ke atas—ke arah retakan yang membuat cahaya masuk ke kuburannya.

Setelah mengubah seluruh cahaya yang dia kumpulkan menjadi MP, dia menggunakan tonjolan kristal di ujung tentakelnya untuk menembakkan sinar panas yang memiliki temperatur mencapai ribuan derajat.

Tembakan cahaya itu tepat sasaran, melelehkan bebatuan dan memperlebar lubang ke permukaan.

Tidak hanya itu. Dalam perjalanannya, tembakan cahaya itu mengenai salah satu Master mohawk yang ada di atas, menembusnya dari bagian selangkangan sampai ke kepalanya, yang langsung memusnahkannya dan memberikan death penalty kepadanya.

Master itu bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi, dan bahkan teman-temannya juga tidak cukup cepat untuk menyadarinya, apalagi menolongnya. Apa yang dia lihat adalah temannya yang lenyap dan bebatuan yang meleleh.

Sesaat kemudian, dia terbang keluar melalui lubang itu.

Itu adalah bola crystal buram yang memiliki retakan di permukaannya dengan diameter tiga metel. Bola itu memiliki sayap hitam dengan bentuk tak beraturan. Dia juga memiliki empat buat tentakel dengan sebuah tonjolan kristal di masing-masing ujungnya.

Insert2

Dia tidak memiliki organ yang bisa digunakan untuk menunjukkan emosi… akan tetapi dia tertawa.

Dia tidak memiliki mulut atau apapun yang bisa membentuk sebuah wajah, akan tetap tubuh kristalnya mengeluarkan tawa penuh kegilaan.

“K y H a h A H a h A h a H a H a A h K y a K Y a H!”

Dia membentangkan sayap hitamnya dan menyerap seluruh cahaya yang mencapainya, dan memulihkan persediaan MP nya dalam sekejap.

Dia menjadi pulih dan gembira disaat bersamaan.

Bagaimanapun, ada begitu banyak “obor” disini.

Dia sama senang dan polosnya seperti seorang anak yang hendak meniup lilin di kue ulang tahunnya.

“Serang!” teriak salah satu Master yang ada di dekatnya.

Mereka masih belum menyadari apa dia sebenarnya, tapi mereka memiliki lebih dari cukup alasan untuk mempercayai kalau dia adalah sebuah bahaya dan mencoba menghentikannya dengan skill dan Embryo mereka.

“K y a H a h A h a h A H a h A h a H!”

Tapi sebelum mereka dapat melakukan sesuatu, dia terbang ke atas. Ke atas dan terus ke atas, tinggi dan semakin tinggi…

Mengabaikan semua yang ada di bawah, dia terbang di ketinggian yang sepertinya berjarak ribuan metel dari daratan, jika tidak lebih. Pada akhirnya, dia melewati troposfer dan tiba di stratosfer.

Bagi mereka yang ada di bawah, saat ini dia hanya tampak seperti sebuah titik hitam.

“Apakah dia… melarikan diri?” tanya salah seorang Master.

Sisanya juga memikirkan hal yang sama.

Dari sana, monster itu tidak dapat melukai mereka, dan mereka juga tidak dapat menyerangnya. Mereka berpikir bahwa monster itu merasa terpojok dan lari setinggi yang dia bisa.

Tapi itu sangat jauh dari kenyataan.

Tiba-tiba, muncul sebuah kilatan cahaya dari ketinggian, dan beberapa detik kemudian, salah satu Master yang ada di darat langsung terbakar. Rambutnya, minyak di kulitnya, pakaian di tubuhnya, semuanya tertelan dalam kobaran api yang sangat panas.

Dia berhenti, jatuh, dan berguling-guling untuk mencoba memadamkan api itu, tapi karena equipment dan dagingnya sama-sama sudah meleleh, tindakan itu jauh dari kata cukup, dan tak lama kemudian dia menerima death penalty.

Pemandangan itu membuat para Master lainnya gemetaran dan melihat ke langit.

“Eh?”

“Tidak mungkin… Dari sana?!”

Hal itu mengingatkan mereka tentang apa yang mereka dengar di dalam drama festival.

Tapi tidak ada pedang ataupun anak panah yang bisa mencapai ketinggian tempatnya berada. Beberapa bahkan mencoba menantangnya sambil menaiki naga terbang, tapi bahkan makhluk bersayap besar itu juga tidak dapat mencapai ketinggian yang cukup.

Drama itu adalah alasan utama kenapa mereka ada disini. Kalimat yang mereka dengar di drama itu telah menginspirasi mereka untuk menggali gunung ini.

Namun, mereka telah sedikit meremehkan ketinggian yang bisa di capai Blacksky.

Tapi, tidak ada seorangpun yang bisa menyalahkan mereka akan hal itu, karena itu tak lain adalah sebuah kegilaan. Bagaimanapun, orang gila mana yang bisa membayangkan seekor UBM yang memiliki kemampuan serangan dengan jangkauan 10,000 metel dan menggunakannya untuk melakukan serangan secara sepihak dari ketinggian di atas atmosfer?

“K Y a h A h a h A H a H a h A h h A H!”

Aman dari segala ancaman, makhluk itu membentangkan sayap hitamnya semakin lebar dan memakan semua sinar matahari yang mencapai planet itu, dan mengubah siang menjadi malam.

Saat dia memakan cahaya itu, dia menggunakan kemampuan pandangannya yang luar biasa untuk melihat ke permukaan dan cahaya “obor” yang ada di bawah.

Sinar panas yang dia tembakkan mendistorsi udara di sekitarnya saat sinar itu mencapai daratan dan membakar Master lainnya.

Pemandangan itu memberikan kegembiraan besar padanya.

Tentu dia gembira.

Bagaimanapun, dia senang melihat “obor” terbakar.

Memang, ada satu hal yang salah dalam drama itu. Dia tidak memakan cahaya dari “obor.” Sinar matahari dan bintang sudah lebih dari cukup untuk memberikan energi yang dia butuhkan.

Sebagai sebuah entitas yang hanya memakan cahaya dan bisa bertahan hidup hanya dengan itu, dia tidak perlu menyerang setiap makhluk hidup yang ada di bawah.

Tapi dia senang membakar “obor.”

Pemandangan saat mereka terbakar, menggeliat, dan mati selalu memberikan kegembiraan besar kepadanya.

Bagaimanapun, itulah satu-satunya hobi yang dia miliki.

“K y a H a H?”

Tiba-tiba, dia mulai bertanya-tanya.

Jika makhluk itu adalah manusia, pikiran itu mungkin akan jadi sesuatu seperti ini:

“Aku” telah membakar begitu banyak mereka. Tapi mereka tidak terbakar seperti “obor” yang “aku” sukai. Mereka tidak menunjukkan cukup rasa sakit dan putus asa. Hei, tapi kenapa? Kenapa?

Para Master telah mematikan rasa sakit mereka, jadi mereka tidak merasakan penderitaan terbakar hidup-hidup. Dan bukan berarti mereka benar-benar mati, jadi rasa putus asa mereka juga tidak terlalu besar.

Dia sama sekali tidak menyukai hal itu.

Obor dengan pola lucu di tangan kiri mereka sungguh membosankan, pikirnya. “Aku” harus membakar obor yang tidak memiliki pola itu.

Dia menatap daratan yang ada di bawah dan segera menemukan apa yang dia cari.

Festival yang sedang berlangsung di Torne, yang penuh dengan para tian.

*

Bencana yang pernah menyerang Torne telah terbangun dari tidur panjangnya dan sekali lagi mengincar desa itu.

Namanya adalah “Void of the Black Sky, Monochrome.”

Dia adalah seekor UBM kelas Ancient Legendary… dan seekor makhluk yang menempatkan dirinya di wilayah yang tak dapat dijangkau makhluk lain.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. B3 says:

    Jadi tameng ray bs berguna dong buat berlindung, trus tamengnya bisa menembakan peluru sejauh 10k metel jg. Trus dapat equipment tingkat ancient legendary namum levelnya blm mencukupi. Mksh udh d tl, mhn dlntjkn tor.

    Like

    1. Zhafran Ismail says:

      Reward spesial MVP udah dikonfirmasi kok, kagak membutuhkan spesifikasi lvl equipment pada umum nya

      Like

  2. Muhamad Saidun Usman says:

    di tunggu battle.nya.. gak sabar min..

    Like

  3. Sheard says:

    Thanks bang zen

    Like

Leave a Reply to Zhafran Ismail Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s