Infinite Dendrogram Volume 7 Chapter 2

Volume 7
Chapter 2 – Ichiro Shijima

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Paladin, Ray Starling

Pada saat matahari sudah benar-benar berada di ufuk selatan, kami sudah melakukan semua hal yang dapat dilakukan saat festival, jadi kami memutuskan untuk kembali ke rumah keluarga Shijima. Fakta bahwa matahari berada di ufuk selatan saat sore hari berarti bahwa benua ini berada di belahan planet utara, tapi karena ini juga merupakan satu-satunya benua di game ini, hal itu tidak berarti terlalu banyak.

“Selamat datang kembali,” kata Farica, yang tampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya. “Dimana Louie?”

“Kami kebetulan bertemu dengan teman-temannya, dan mereka pergi bermain bersama.”

“Begitu…” dia menghela nafas. Aku tidak terlalu paham kenapa, tapi ada kesan lega pada nada dan ekspresinya. Apakah dia tidak ingin Louie mendengar pembicaraan kami? “Aku minta maaf, tapi masih ada beberapa pekerjaan yang harus kulakukan. Tinggal menjahit dua pakaian lagi, dan aku akan punya waktu luang untuk membantu kalian…”

“Ah, itu tidak masalah. Tolong jangan pikirkan kami dan selesaikan pekerjaanmu,” kataku.

Dan dengan begitu, aku dan B3 akhirnya harus menunggu sebentar lagi.

Nemesis merasa kalau dia bisa membuat kemajuan dalam proses analisis skill baru kami, jadi dia masuk kembali ke dalam tato dan berkonsentrasi pada hal itu.

Aku berpikir untuk menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang dengan B3, tapi aku melihat dia mengeluarkan sebuah silinder logam dari dalam inventory-nya dan menggenggamnya dengan erat di tangannya. Setelah memperhatikannya dengan lebih teliti, aku menyadari kalau benda itu terlihat agak mirip dengan selongsong peluru.

“Apa itu?” tanyaku kepadanya.

“Ini adalah item tambahan untuk salah satu equipment-ku,” jawabnya. “Mereka harus diisi dengan MP sebelum digunakan, dan aku lupa mengisi yang satu ini. Kurasa aku akan melakukannya sambil menunggu.”

Sebuah item tambahan…? Kenapa aku tidak ingat dia pernah menggunakannya saat bertarung melawan Rosa? Pikirku. Yah, mengingat sifatnya, dia mungkin hanya sedang tidak menggunakan equipment yang dia maksud. Dari apa yang kutahu, dia selalu berganti-ganti perisai, jadi mungkin equipment itu tidak cocok dengan situasi yang ada.

Aku dan B3 terus bercakap-cakap sampai Farica menyelesaikan pekerjaannya dua puluh menit kemudian. Lalu sekarang saatnya kami membicarakan masalah utamanya.

Kami bertiga duduk di sekeliling meja yang ada di ruang tamu, aku dan B3 disisi satu sisi, dan Farica di sisi yang berlawanan.

B3 tidak membuang-buang waktu lagi. “Sekarang, izinkan kami menanyakan beberapa hal. Dua, lebih tepatnya. Pertama, apakah Shijima-san pernah menceritakan tentang kehidupannya di ‘di sisi lain’? Dan kedua, apakah ada hal aneh yang dia lakukan sebelum menghilang?”

“Umm, sebelum itu, bisakah aku memperjelas satu hal?” tanya Farica.

“Tentu saja.”

“Aku… Aku tidak yakin apakah suamiku benar-benar perlu dicari.”

“Eh?” aku menyuarakan kebingunganku.

Apa yang dia maksud? Shijima, suaminya, telah menghilang selama setengah tahun. Kenapa dia menolak ide untuk mencarinya?

“Tapi karena Louie menginginkannya, aku bersedia untuk menceritakan tentang dirinya kepada kalian.”

“Terima kasih,” kataku.

Farica mengangguk, dan kemudian dia mulai menceritakan tentang pria itu kepada kami.

***

Tentang Shijima.

Kesan pertama yang dimiliki Farica terhadap Shijima bisa disimpulkan sebagai “seorang pria yang memberi terlalu banyak.”

Pertemuan pertama mereka adalah sebuah momen dramatis saat dia dan putra-nya Louie sedang diserang oleh monster di Jalur Pegunungan Fadl.

Shijima muncul begitu saja, mengalahkan gerombolan monster itu, dan menyelamatkan mereka berdua, yang sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menjadi seorang sosok penyelamat di mata Farica. Tapi bukan hanya hal itu yang dia lakukan kepada mereka. Shijima tidak menunjukkan rasa ragu saat dia menggunakan item penyembuh miliknya untuk melakukan pertolongan pertama kepada Farica, dan dengan senang hati mengawal mereka menuju Torne.

Setelah mereka sampai, dia membantu mereka pindah ke rumah baru mereka, karena itu adalah hal yang sulit bari Farica mengingat kakinya yang sedang terluka.. Dia bahkan memanggil seorang Bishop berambut hitam untuk memeriksa kakinya dan menyembuhkannya.

Setelah itu, dia terus mengunjungi mereka setidaknya sekali dalam dua minggu, tanpa pernah lupa untuk membawakan oleh-oleh untuk mereka.

Dengan kata lain, perhatian yang dia tunjukkan kepada mereka terlalu “berlebihan.”

Meskipun Louie, yang masih polos, benar-benar menyukai apa yang Shijima berikan kepada mereka, Farica merasa kalau itu agak aneh, atau malah menakutkan.

Bagaimanapun, hubungan mereka tidak lebih dari seorang penyelamat dan orang yang diselamatkan. Tidak ada alasan baginya untuk begitu peduli kepada mereka. Sudah wajar kalau Farica berpikir bahwa Shijima memiliki niat tertentu.

Dia memutuskan untuk menanyakan hal itu saat Shijima mengunjungi mereka lagi, meskipun hal itu akan mengakhiri kebaikannya.

Seperti biasa, dia datang dengan menunggangi Gringham, membawa banyak remberry, yang merupakan buah mewah, sebagai oleh-oleh. Louie sangat senang menerima buah itu, dan ekspresi gembira yang ditunjukkan anak itu membuat Farica menjadi ragu.

Tapi, dia tau kalau dia harus memperjelas situasi yang ada, jadi dia menenangkan diri sebelum mengajak Shijima berbicara secara pribadi.

Meskipun pria itu merasa aneh, dia meninggalkan Gringham dan Juno untuk menjaga Louie dan mengikuti Farica.

Setelah mereka sendirian, Farica langsung berbicara to the point dan bertanya “Kenapa kamu begitu memperhatikan kami? Apa yang kamu inginkan dari kami?”

Setelah mendengar perkataan itu, Farica menyesal telah menggunakan bahasa yang terlalu kasar. Memang, kalimat itu mewakili seluruh pemikirannya, tapi dia merasa kalau sebaiknya dia membuatnya sedikit lebih halus.

Terlalu kasar atau tidak, itu adalah perkataan jujur, dan Shijima langsung memahami pertanyaannya dan kenapa Farica menanyakan hal itu. Karena suatu alasan, pria itu menunjukkan ekspresi menyesal.

“Aku minta maaf,” katanya. “Aku tidak bermaksud membuatmu merasa gelisah.”

Farica tidak mengerti kenapa pria itu meminta maaf.

“Kamu benar,” lanjutnya. “Sepertinya aku sedikit berlebihan. Aku minta maaf. Aku hanya tidak tau batasan jika menyangkut tentang hal ini.”

Permintaan maaf lainnya. Rasanya seolah-olah dia baru saja membuat sebuah kesalahan.

“Menyangkut tentang… apa?” tanya Farica.

“Aku tidak tau seberapa banyak hal yang harus kuberikan saat mengungkapkan rasa terima kasih pada seseorang.”

“Terima kasih?”

Siapa disini yang berhak mendapatkan rasa terima kasih? Dialah yang menyelamatkan kami, pikirnya.

Perkataannya selanjutnya benar-benar menghapuskan pemikiran itu dari kepala Farica.

“Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu karena telan menyelamatkanku.”

Perkataan itu membuat Farica meragukan pendengarannya. Dia dan Louie adalah orang yang telah diselamatkan oleh-nya, bukan sebaliknya.

Namun, perkataannya tidak berhenti sampai disitu.

“Bisa menyelamatkan kalian saat kalian tidak bisa melakukan apapun selain menunggu kematian benar-benar membuatku sangat bahagia. Itu… berarti banyak untuk diriku yang ada di sisi lainnya.”

Perkataannya penuh dengan berbagai perasaan, dan Farica tidak mampu membaca semuanya. Meski begitu, ada satu hal yang dapat dengan mudah dia pahami.

Pada hari itu, Shijima telah menyelamatkan nyawa Farica, tapi tindakan heroik itu juga telah menyelamatkan hati Shijima.

Itu berarti semua hal yang telah dia lakukan untuk mereka benar-benar tulus.

Farica kemudian menyadari kalau Shijima hampir menangis, yang membuat semua kecurigaannya menghilang seolah-olah mereka tidak pernah ada sebelumnya.

“Sekali lagi, aku minta maaf,” kata pria itu, terlihat benar-benar menyadari apa kesalahannya. “Aku tidak ingin merepotkanmu lagi, jadi aku akan…”

Dia bersiap untuk meninggalkan mereka selamanya, tapi Farica menghentikannya.

“Apakah kamu mau makan malam bersama kami?” tanyanya.

“Eh?” Seru Shijima, benar-benar tertegun.

“Aku telah berulang kali mengajakmu makan malam bersama kami, tapi kamu tidak pernah sekalipun menerimanya.”

“T-Tapi aku…”

“Kamu sudah memberikan begitu banyak hal kepada kami… jadi tolong, izinkan aku memberikan sesuatu sebagai balasannya. Faktanya, aku ingin agar kamu mau makan malam bersama kami setiap kali kamu berkunjung.”

“Farica-san…”

“Kamu telah menunjukkan rasa terima kasihmu kepada kami, jadi sekarang giliran kami,” kata Farica sambil tersenyum, membuat Shijima juga tersenyum balik. “Silahkan tunggu sebentar, aku akan memasak sesuatu. Oh, aku harus meminta Louie membantuku.”

“Um! Bolehkan aku juga ikut membantu?” tanya pria itu.

“Tentu saja, silahkan.”

Tak lama kemudian, Louie dan Juno pulang ke rumah dan melihat Farica dan Shijima sedang memasak bersama. Shijima tampak tidak terbiasa dengan hal itu dan melakukan banyak kesalahan, tapi dia dan Farica jelas tampak bersenang-senang.

Meskipun Louie merasa itu adalah pemandangan yang aneh, tapi melihat keduanya tertawa bersama membuatnya senang.

Juno tidak mengatakan apapun, tapi dia tampak bangga, seperti seorang ibu yang senang melihat pertumbuhan anaknya.

Tidak butuh waktu lama sampai Shijima mulai tinggal bersama Farica, dan setahun setelah itu, dia bertukar sumpah pernikahan.

Itu adalah pernikahan antara Master dan tian yang ke-27.

Shijima, Farica, dan Louie telah menjadi keluarga, dan mereka hidup dengan damai dan bahagia.

Meskipun Shijima adalah suami kedua Farica dan ayah tiri Louie, hampir tidak ada jarak di antara mereka. Faktor biologis tidak menghentikan mereka untuk menjadi keluarga yang harmonis.

Sampai sebuah perubahan besar terjadi dalam hidup mereka—Farica hamil.

Butuh beberapa saat sampai Farica menyadari hal itu. Awalnya, dia hanya menduga kalau dia hanya terlalu banyak makan dan itulah akibatnya. Tidak ada satu orangpun yang dapat menyalahkannya. Bagaimanapun, dia berpikir bahwa Master dan tian tidak dapat menghasilkan anak.

Tapi perutnya tumbuh semakin dan semakin besar setiap harinya, dan pada akhirnya dia mengalami mual-mual untuk pertama kalinya. Dia pernah hamil sebelumnya, jadi dia segera menyadari bahwa ya, dia hamil.

Bahkan Dokter mengatakan kalau itu tidak salah lagi—Farica akan mendapatkan anak keduanya.

Hal itu membuatnya sangat senang. Meskipun Farica mencintai Shijima dan tidak menginginkan orang lain menjadi suaminya selain dirinya, dia selalu berpikir bahwa keluarga mereka tidak akan pernah menjadi lebih besar. Dia sudah cukup puas hanya dengan dirinya, Loui, Juno, dan Gringham. Tapi sekarang setelah dia tau kalau ada orang lain yang akan bergabung dengan mereka, dia merasa bahwa hal itu akan membuat mereka jauh lebih bahagia dari sebelumnya.

Selain itu, dia benar-benar ingin melihat wajah senang milik Shijima saat dia mendengar berita itu.

Dia pulang ke rumah dan mengumumkan berita kehamilannya saat mereka semua sedang makan malam.

Louie benar-benar senang. Juno tidak mengatakan apapun, tapi dia mengucapkan selamat kepada mereka dengan bertepuk tangan.

Shijima, disisi lain, sedang menangis.

Itu adalah air mata kegembiraan, tapi disaat bersamaan, Farica merasa seolah-olah Shijima sedang meratapi sesuatu. Setelah menjadi istrinya selama lebih dari dua tahun membuatnya sangat sensitif dengan hal seperti itu.

Malam itu, keduanya berbicara di kamar mereka.

Shijima berulang kali berterima kasih kepada Farica karena telah mengandung anaknya, tapi kemudian, dia mengatakan tekadnya.

“Farica,” katanya. “Ada sesuatu yang harus kulakukan di sisi lainnya.”

“Apakah itu ada hubungannya dengan anak kita?” tanya Farica sambil mengusap perutnya.

Dia mengangguk dengan serius dan berkata, “Jika aku ingin bertemu dengan anak kita, aku harus menjalani semacam cobaan. Dan itu… itu sangat berbahaya sampai-sampai mungkin itu akan mengambil nyawaku…”

“Oh tidak!” Farica terkesiap.

“Sebenarnya aku sudah puas hanya dengan menjalani sisa hidupku seperti saat ini. Tapi aku benar-benar ingin melihat anak kita… Aku ingin hidup dalam keluarga yang termasuk dirinya.”

Dan sepertinya, untuk melakukan itu, dia harus menjalani “cobaan” itu. Farica bisa memahami kalau Shijima benar-benar serius, dan bahwa itu adalah hal yang tak dapat dihindari.

“Jika kamu berhasil bertahan dari cobaan itu, kapan kamu akan kembali?” tanya Farica.

“… Setelah sebulan, paling cepat. Tidak, tunggu, itu sama dengan tiga bulan disini. Yah, itu bisa saja memakan waktu setengah tahun, atau mungkin lebih.”

“Itu sangat lama…”

“Tapi tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan pulang. Percaya padaku.”

Tidak ada cobaan di sisi lainnya yang dapat memisahkan dirinya dari keluarganya. Farica mempercayai hal itu.

Farica mengangguk dan berkata, “Kami akan menunggumu. Aku, Louie, dan anak yang ada di rahimku akan menunggu selama mungkin.”

“… Terima kasih.”

Keduanya bertukar pelukan, penuh dengan cinta antara satu sama lain dan untuk bayi mereka.

Keesokan harinya, Farica bangun dan mendapati Shijima telah menghilang.

Dia bertanya kepada Louie tentang hal itu, dan dia berkata bahwa Shijima telah mengatakan selamat tinggal kepadanya dan pergi ke suatu tempat. Itu sudah cukup bagi Farica untuk menyimpulkan bahwa dia telah pergi untuk menjalani cobaan disisi lainnya.

Farica tidak memberitahu Louie bahwa Shijima bisa saja kehilangan nyawanya, karena itu akan membuatnya merasa khawatir.

Selain itu, dia benar-benar percaya bahwa suaminya akan pulang ke keluarganya.

***

Paladin, Ray Starling

“Dia pasti akan kembali,” Farica menyimpulkan ceritanya. “Jadi kupikir kita tidak perlu mencarinya.”

Aku dan B3 tidak tau bagaimana harus menanggapinya, dan tidak punya pertanyaan lain. Bagaimanapun, dia baru saja memberitahu kami semua informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan misteri yang ada.

Shijima telah meninggalkan keluarganya dan sekarang sedang berada di “sisi lain,” melakukan sesuatu yang memerlukan banyak tekad.

Itu, digabungkan dengan informasi yang telah kami dapatkan sejauh ini, memberikan pemahaman kepada kami tentang lingkungan seperti apa yang dia tempati.

“Maaf,” B3 memecah kesunyian. “Apakah kamu tidak keberatan jika aku dan Ray melakukan pembicaraan pribadi sebentar?”

“Tidak masalah,” jawab Farica.

“Ayo, Ray.”

Tidak mampu mengatakan apapun, aku mengikutinya saat dia meninggalkan rumah dan masuk ke dalam kereta.

“Masalah ini mungkin mustahil untuk dipecahkan,” katanya tepat setelah menutup pintu kereta.

“Tapi…”

“Ray. Kamu juga sudah bisa menduga apa yang terjadi pada Shijima, kan?”

Ya, aku kurang lebih sudah mendapat jawaban dari misteri menghilangnya Shijima… Itu adalah gabungan dari beberapa faktor.

Pertama, untuk seorang Master sepertinya dan seorang tian bisa memiliki bayi, dia harus online lebih lama dari pada yang dapat dilakukan oleh player normal lainnya.

Kedua adalah perasaannya terhadap Farica dan Louie.

Ketiga adalah apa yang disebut “cobaan” yang harus dia lalui di “sisi lain.”

Dan keempat adalah perkataannya sendiri: Aku sudah puas hanya dengan menghabiskan sisa waktuku seperti saat ini.

Aku mempunyai segala yang kubutuhkan untuk membuat sebuah kesimpulan yang dapat diterima.

“Shijima sudah—Hn?”

Sebelum aku bisa menyelesaikan perkataanku, kereta kami tiba-tiba mulai berguncang. Hal itu terus berlanjut selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti.

“Gempa bumi?” gumamku.

Meski begitu, guncangannya tidak terlalu kuat. Jika harus ku ukur, mungkin gempa barusan berada pada tingkat Shindo 3.

Hal itu tidak akan terlalu membahayakan orang-orang, dan meskipun bangunan disini memiliki gaya abad pertengahan, arsitektur di Altar melibatkan penggunaan sihir penguat, jadi gempa bumi sama sekali tidak akan merusaknya. Dan festival tetap bisa berlanjut seperti biasa.

Namun, mungkin saja ada berang-barang kecil atau sesuatu yang akan jatuh dan melukai Farica.

“Ayo kita periksa Farica,” kataku.

“Baiklah.”

Di dalam, kami menemukan sebuah kardus terbuka dengan beberapa isinya yang bertebaran dilantai. Untungnya, Farica kelihatannya tidak terluka.

“Apakah kamu baik-baik saja?” tanyaku.

“Ya, tidak ada barang yang mengenaiku,” jawabku.

“Izinkan kami membantu membereskannya,”

“Tapi…” dia mencoba protes.

“Kamu sedang hamil, jadi tolong jangan membebani dirimu. Ray, apakah kamu memiliki alat bersih-bersih?”

“Aku punya.”

Kami masing-masing mengeluarkan sebuah sapu dan pengki, dan mulai membereskan peralatan makan yang berserakan.

Ngomong-ngomong, sapu dan pengki-ku berasal dari Peralatan Memasak yang kudapatkan dari gacha. Rasanya aneh mendapati sesuatu yang kupikir buruk menjadi sesuatu yang agak berguna.

Aku mengumpulkan pecahan-pecahan kaca ke dalam pengki dan memasukannya ke dalam plastik kosong.

“… Huh?” Aku menyadari sesuatu tercampur diantara pecahan-pecahan kaca itu.

Hal yang jatuh ke lantai bukan hanya piring, jadi tidak ada jika ada barang lain yang tercecer. Namun, benda tertentu itu membuatku tertegun. Itu adalah sebuah barang kecil yang terbuat dari perak, mungkin dibuat menggunakan skill Carving.

Meskipun tidak aneh bagi sebuah keluarga untuk memiliki barang seperti itu, rasanya itu agak aneh, seolah-olah benda itu seharusnya tidak ada disini. Selain itu, aku juga merasa pernah melihat desain benda itu sebelumnya.

“Ah!” Aku terkesiap saat akhirnya aku mengingat hal itu. “Farica, apakah sebelumnya kamu pernah melihat benda ini?”

“Oh, itu adalah sesuatu yang biasa dipakai suamiku sebelum kami menikah,” jawabnya. “Dia berhenti memakainya setelah itu, jadi kami meletakkannya di atas kardus.”

“Begitu.”

Sepertinya, Farica tidak tau apa-apa tentang kelompok yang dilambangkan oleh benda ini. Tidak ada yang bisa menyalahkannya atas hal itu, karena dia pindah kesini dari ibukota sekitar empar tahun yang lalu. Dan dari apa yang kulihat, mereka tidak mendirikan markas di desa ini.

“… Jadi begitu,” gumam B3 saat dia menyadari apa yang sedang kupegang.

Tentu saja, dia tau apa arti dari benda itu.

“Maaf, tapi kami harus permisi sebentar,” katanya sambil menghadap Farica. “Oh, dan kami akan melanjutkan beres-beres saat kami kembali, jadi tolong jangan lakukan apapun.”

“Eh? Baiklah…”

B3 meraih tanganku dan menuntunku keluar dari rumah.

“Ray, apakah kamu menginstal aplikasi chat online di HP mu?”

“Tentu.”

“Kalau begitu tolong log out dan masuk ke grup dengan menggunakan ID ini. Seharusnya dia juga akan segera masuk.”

Dia kemudian memberitahuku ID yang dia maksud, dan mengulanginya untuk membantuku mengingatnya.

Aku mengingat ID itu dan kemudian log out.

***

Setelah offline, aku membuka HP ku, dan mengaktifkan mode speaker, dan membuka aplikasi chat. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara B3—atau lebih tepatnya, suara Fujibayashi.

“Sepertinya berjalan dengan baik,” katanya. “Aku sudah menghubunginya, jadi seharusnya dia akan masuk sebentar lagi.”

Setelah beberapa saat, aku mendengar suara seorang pria.

“Maaf telah membuat kalian menunggu. Aku diberitahu kalau kamu ingin berbicara?” Itu tidak lain adalah tangan kanan Lunar Society, King of Assassin, Eishiro Tsukikage. “Tsukuyo-sama sedang sibuk saat ini, jadi aku akan menggantikannya.”

“Tidak, kau adalah orang yang lebih baik dalam hal ini,” kata B3, dan aku tak punya pilihan lain selain menyetujuinya.

“Tsukikage,” aku angkat bicara. “Sejak awal kau sudah tau semua tentang Shijima, kan?”

“Ya. Aku memang mengetahuinya,” jawabnya seolah-olah itu bukan apa-apa. “Karena kamu sampai pada kesimpulan itu, aku menduga kalau nyonya itu memberitahumu tentang… Tidak, kamu menemukan bukti fisik, bukan?”

“Sebuah aksesoris perak. Benda itu punya sebuah lambang bulan sabit dan mata tertutup di permukaannya,” kataku. Sejauh yang kutahu, hanya ada satu kelompok yang menggunakan lambang itu. “Dia… Shijima adalah anggota Lunar Society, bukan?”

“Benar, dia adalah anggota kami.”

Dan itulah sebabnya Tsukikage menawarkan bantuan kepada kami untuk mencarinya saat di guild. Tentu saja dia dapat menemukan pria itu—dia telah mengetahui jawabannya.

Sekarang kalau kupikir-pikir, itu mungkin adalah satu-satunya alasan kenapa dia menyarankan hal itu, pikirku.

“Jika kau mengetahui itu, kenapa kau bilang kalau itu rahasia?” tanyaku.

“Privasi adalah sesuatu yang harus dihormati, bukan?” jawabnya, dan aku tidak tau apakah dia serius atau hanya sedang bercanda.

“… Ok, baik. Tapi ada sesuatu yang ingin kuketahui, tak peduli apapun alasannya.”

“Silahkan tanyakan saja.”

“Bagaimana… Bagaimana keadaan Shijima?”

“Itu juga merupakan informasi pribadi… Tapi yah, tidak ada alasan untuk menyembunyikannya saat ini…” katanya sebelum terdiam untuk sesaat. “Baiklah. Izinkan aku menjelaskan semuanya dari awal. Setelah ini selesai, kamu akan mengetahui latar belakang Shijima… dan hubungannya dengan kami…”

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. tsukuyo sama says:

    Oh itu toh, anggota lunar society. Mhn d lnjtkn tor.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s