Infinite Dendrogram Volume 7 Chapter 1 B

Volume 7
Chapter 1 – Black Shield (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

 Akan tetapi, yang kami dapat malah sebuah perisai—bisa dibilang berkebalikan dengan apa yang kami inginkan.

Hal ini membuat kami berdua merasa agak kecewa, tapi kami juga tidak bisa mengeluhkan hal itu. Malahan, fakta bahwa akhirnya kami bisa membayar biaya evolusi pertama dan mencapai bentuk ketiga sebenarnya layak untuk dirayakan.

“Jadi,” aku angkat bicara. “Skill apa yang kau miliki?”

“Counter Absorption bisa digunakan di bentuk ini,” jawabnya.

Hmm, itu berkebalikan dengan dugaanku sebelumnya, tapi kurasa itu cocok. Bagaimanapun, ini adalah sebuah perisai.

“Apakah perisai ini memiliki kegunaan lain?”

“Sayangnya, tidak. Meskipun, aku merasa kalau Counter Absorption menjadi sedikit lebih kuat. Itu… 1.5 kali lebih kuat dari sebelumnya, kurasa.”

Jika itu benar, maka artinya sekarang sebuah Counter Absorption bisa menahan 300,000 poin damage, yang bisa dibilang cukup besar. Sebagai contoh, sekarang skill itu bisa menahan pukulan dari Shu. Tendangannya masih diluar harapan, sih.

“Jadi, apa skill lainnya?” tanyaku. “Itu bukan hanya Counter Absorption, kan?”

“Aku tidak tau,” jawabnya.

…. Apa?

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Sama seperti yang kukatakan: Aku tidak tau skill satunya. Skill itu hampir dapat dipastikan ada, tapi aku tidak tau apa itu.”

Aku tidak paham apa yang dia maksud, jadi aku membuka menu dan melihat bagian “Embryo”. Disana, aku menemukan ini:

 

■■■■■■■■ ■■■■■

Skill:
Counter Absorption LV3
■■■■■■■ ■■■■■■ ■■■ ■■■■■: (Analyzing)

 

“Apa-apaan ini?” seruku.

Nama dan skill unik milik bentuk ini sama-sama tak dapat dibaca, dan efek skillnya masih dianalisa.

“Nemesis, kau tadi menyebutkan ada beberapa ‘kabar buruk…’ apakah ini yang kau maksud?”

“Benar sekali. Aku telah berevolusi dan mendapatkan kekuatan baru, tapi bahkan aku sendiri tidak tau kekuatan apa itu.

“… Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Meskipun aku berkata demikian, aku punya satu pendapat kenapa hal ini bisa terjadi. Evolusi pertama Nemesis telah melibatkan semacam fungsi misterius. Hal itu telah membuat waktu evolusi-nya tertunda cukup lama, dan tidak aneh jika hal ini juga merupakan pengaruh dari hal itu.

Setelah dilihat lebih teliti, aku menyadari bahwa perisai ini berbeda dari bentuk lainnya bukannya hanya dalam hal bentuk dan kegunaannya.

Pertama, tidak adanya aura hitam. Dalam bentuk greatsword, aura itu keluar dari pegangan-nya dan menyelimuti tanganku, sementara dalam bentuk halberd, aura itu berkibar keluar dari bagian belakang mata kapaknya. Namun dibentuk ketiga sama sekali tidak memilikinya, membuatnya terlihat seperti sebuah perisai biasa, kecuali ukurannya yang besar dan agak mewah.

Kedua, perisai itu tidak benar-benar hitam. Di bagian depannya terdapat garis perak yang membentuk lima buah sisi. Hal seperti itu juga tidak terdapat dibentuk pertama dan kedua.

“Disini tertulis ‘analyzing,’” aku kembali angkat bicara. “Kira-kira berapa lama itu akan selesai?”

“Itu bisa saja selesai dalam sehari, tapi mungkin itu adalah perkiraan yang terlalu percaya diri,” jawab Nemesis. “Bayangkan dirimu diberi tugas dalam bahasa yang belum pernah kau lihat maupun kau dengar sebelumnya. Kau juga diberi sebuah kamus dan harus menerjemahkan dan membaca tugas itu. Oh, dan kamus itu juga bukan dalam bahasa Jepang, tapi Inggris. Begitulah kira-kira prosesnya.”

Kau punya PR yang aneh disini, aku mengangkat alisku.

Apapun itu, aku bisa berasumsi bahwa hal itu akan selesai dalam beberapa hari.

Aku hampir saja mau membiarkannya dan menunggu, tapi kemudian B3 berkomentar. “Meskipun proses analisisnya belum selesai, kau mungkin bisa membongkar skill itu dengan cara menggunakannya dengan benar.”

“Apa yang kau maksud?” tanyaku.

“Aku kenal seseorang yang juga harus menunggu sampai skillnya selesai dianalisis, dan proses analisis itu menjadi semakin cepat selesai saat dia mencoba menggunakan bentuk baru Embryo-nya dalam berbagai cara. Setelah selesai, skill yang dihasilkan ternyata memiliki metode aktivasi yang mirip dengan salah satu tindakan yang dia lakukan sebelumnya.”

“Oh, jadi membuat gerakan yang bisa mengaktifkan skill akan membuat proses analisisnya menjadi lebih cepat, huh?”

Meminjam deskripsi Nemesis sebelumnya tentang prosesnya, maka itu bisa diibaratkan seperti menulis romaji (menulis bahasa Jepang dalam bentuk teks). Pokoknya, sekarang aku tau apa yang harus kulakukan.

“Tunggu, Ray, apa yang coba ka—NWAAAAHHHHhhhh…?!”

Mengabaikan perkataannya, aku mengumpulkan kekuatanku dan melempar Nemesis sejauh yang kubisa.

“Dasar bodoh! Kau benar-benar goblok!” teriaknya.

“Maaf! Yang tadi memang salahku!”

Sayangnya, dia kebetulan mendarat di atas lahan milik warga.

Sambil berlumuran lumpur, dia kembali ke bentuk manusia, menyerangku dengan tendangan yang kuat, dan memarahiku habis-habisan. “Kenapa kau melemparku? Memangnya kau pikir kau ini Kapten Amerika?!”

“Yah, bentuk ketigamu mungkin terinspirasi dari B3, jadi kupikir itu pasti ada hubungannya dengan melempar.”

Kemarin, B3 telah membunuh beberapa anggota K&R dengan cara melempar perisainya, jadi tidak aneh jika aku menduga kalau skill itu didasarkan pada hal itu. Selain itu, aku memiliki Counter Absorption sebagai cara bertahan utamaku, jadi aku tidak benar-benar yakin kalau skill baru itu akan bersifat defensif.

Belum lagi aku juga menginginkan beberapa serangan jarak jauh, pikirku. Dan bagaimana kau mengubah perisai menjadi senjata jarak jauh? Yah, kau melemparnya…

“Kalau begitu jangan asal bertindak sesukamu, dasar bodoh! Setidaknya beritahu aku terlebih dahulu dan lempar aku ke tempat yang aman!”

“Sekali lagi, maaf. Aku benar-benar menyesalinya.”

Aku hanya memilih untuk melemparnya ke tempat yang tidak ada orang, dan kebetulan itu adalah lahan berlumpur.

“Jadi, uh… haruskah aku membersihkanmu?” tanyaku. Bahkan bentuk manusianya juga tertutupi lumpur. Aku berharap kalau membersihkannya dalam bentuk pedang juga akan membuat bentuk manusianya bersih.

“Pastikan sampai bersih!” katanya sebelum kembali ke bentuk Black Shield.

Aku memegangnya menggunakan tangan palsuku, merogoh inventory-ku, mengeluarkan peralatan bersih-bersihku, dan mulai membersihkannya.

“Kau kelihatannya sudah terbiasa dengan hal ini,” komentar B3.

“Memang benar. Dia selalu memintaku melakukan hal ini setiap kali kami selesai bertarung melawan undead dan sejenisnya.”

“Itu membuatku sedikit iri. Embryo-ku lebih ke tipe Territory, jadi aku tidak akan pernah bisa menyentuhnya.”

“Oh, iya, kalau dipikir-pikir, itu memang terlihat mirip Territory.”

Itu artinya ketiga anggota CID memiliki Embryo dengan tipe Territory.

“Siapa yang menyuruhmu untuk berhenti?” tanya Nemesis dengan dongkol.

“Baik, baik. Hadeh”

Aku membersihkannya selama 20 menit, dan memastikannya sebersih mungkin.

*

Kami memutuskan untuk berhenti melakukan pengujian bentuk ketiga.

Nemesis bersikeras untuk melakukan analisis skill yang tak terbaca itu sendirian, dan aku punya hak untuk menentangnya—dan sebenarnya aku juga tidak terlalu ngebet untuk melakukannya.

Dengan dikesampingkannya seluruh masalah itu, kami memutuskan untuk fokus pada tujuan kami datang kemari: mengumpulkan informasi demi menemukan keberadaan Shijima-san di dunia nyata. Kami mendekati Farica dengan niat untuk menanyakan beberapa hal, tapi…

“Aku minta maaf,” katanya. “Aku harus menyelesaikan pakaian-pakaian ini sebelum sore.”

Sepertinya, dia mendapat pekerjaan menjahit yang harus diselesaikan hari ini. Dia berencana untuk menyelesaikannya kemarin, tapi menghilangnya Louie telah membuat pekerjaannya terbengkalai.

Kami tidak boleh mengganggunya jika memang begitu.

“Seharusnya aku bisa menyelesaikannya siang nanti,” katanya. “Apakah tidak masalah jika kita berbicara pada saat itu?”

“Oh, ya,” aku mengangguk. “Kami tidak keberatan untuk menunggu.”

Lagipula tinggal tiga sampai empat jam lagi di Dendro sebelum siang. Mengingat quest kami adalah mencari keberadaan seseorang di dunia nyata dan betapa sebentarnya waktu itu di dunia nyata, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menunggu.

“Silahkan nikmati festival sampai siang nanti,” tambahnya. “Acara utamanya adalah pesta kembang api yang akan dilaksanakan malam nanti, tapi kedai-kedai dan arena permainan seharusnya sudah mulai buka.”

“Ohh?” mata Nemesis bersinar.

Oh, ya ampun. Tukang makan paling parah yang kukenal sedang benar-benar tertarik dengan kata ‘kedai.’

Memang, aku tau dia lapar karena tidak ikut makan malam, tapi itu tidak membuatku berhenti merasa takut dengan nasib dompetku nanti.

Tapi wew, dia benar-benar makhluk yang rakus, pikirku.

“Nemesis, apakah kau tau tentang cerita ‘tujuh dosa mematikan?’” tanyaku.

“Tentu saja,” angguknya. “Tapi, itu tidak ada hubungannya denganku.”

“Benarkaaaaah?”

“Apa-apaan nada bicaramu itu?!”

Terus melakukan pertengkaran seperti itu, kami berjalan menuju kedai-kedai yang berjajar dipinggir jalan utama.

Pemandangann kedai festival ini mengingatkanku dengan festival yang pernah diadakan oleh kuil lokal di dekat rumah keluargaku atau kedai yang dibuka di dekat tempat melihat bunga sakura. Kedai yang ada disini tidak jauh berbeda dengan itu. Namun, ada sekitar 400 kedai disini, yang kelihatannya terlalu banyak bagi sebuah desa yang hanya memiliki 2000 penduduk.

Saat aku membeli crepes untuk Nemesis, aku bertanya kepada pemilik toko kenapa ada begitu banyak kedai disini, dan dia berkata bahwa kebanyakan pemilik kedai-kedai ini adalah para pedagang dari Altea yang hanya datang kemari saat ada festival.

Selain itu, wilayah sekitar desa hanya didiami oleh monster-monster yang sedikit lebih kuat dari monster yang dapat kau temukan di wilayah pemula. Kadang-kadang kau akan menemui gerombolan monster yang seperti yang ditemui Louie dan ibunya, tapi itu adalah hal yang hanya terjadi sekali dalam beberapa tahun.

Karena itu, perjalanan kemari juga bukanlah pekerjaan yang sulit bagi para pengawal. Perjalanannya juga hanya memakan waktu setengah hari, jadi bahkan Master saja dapat mengambil pekerjaan itu. Dan jika para Master bisa ikut, maka gerombolan monster seperti itu tidak akan ada artinya.

Para wisatawan juga meminta pengawalan untuk datang kesini, jadi akhirnya aku paham kenapa ada begitu banyak quest pengawalan di guild petualang ibukota.

Melihat sekeliling, aku melihat ada banyak Master yang datang kemari sebagai pengawal sedang menikmati festival yang ada.

Selain itu, ada banyak Master dan tian yang sedang memegang kincir angin bermata lima yang mereka sebut “windstar.” Kami telah melihat ada banyak windstar yang menghiasi jalan menuju Torne. Orang-orang yang tidak memegangnya sering kali menempelkan kincir angin itu di baju mereka.

Nemesis juga memiliki windstar yang dia dapat dari Louie di dadanya. Sepertinya dia sangat menyukainya. Ngomong-ngomong dia tidak dapat memegang windstar itu, karena dia sedang memegang crepes di kedua tangannya.

“Mmm…” dia bersenandung dengan riang. “Makanan enak setelah evolusi adalah hal yang tak terkalahkan.”

“Jika memang itu menurutmu,” kataku dengan datar.

“Apa yang akan kumakan selanjutnya? Aku masih punya banyak ruang tersisa.”

Fakta bahwa dia makan bahkan lebih cepat dari sebelumnya dan jadi lebih susah kenyang membuatku merasa agak merinding. Tolong jangan bilang kalau evolusinya telah membuatnya menjadi semakin rakus.

“Mungkin aku harus mengosongkan seluruh kedai yang ada disini,” katanya.

“…” Aku membeku, dan benar-benar tercengang.

“Cuma bercanda.”

Aku benar-benar sulit mempercayai hal itu. Tidak ada tanda-tanda bercanda di matanya.

“Umm… seharusnya ada sebuah toko es krim disana dan toko waffle disebelah sana,” kata Louie saat dia memandu kami. “Dan jika kamu pergi kesana, ada sebuah panggung kecil dimana mereka memainkan drama tentang asal-muasal festival ini lagi dan lagi.”

“Benarkah?” tanyaku. “Aku tertarik.”

“Baik, aku akan mengantarmu. Ah…”

Saat kami berjalan-jalan, Louie kadang-kadang berhenti di sebuah tempat, kemudian hanya melihat sekeliling dalam diam. Ekspresinya saat melakukan hal itu selalu tampak kesepian, jadi aku hanya bisa berasumsi bahwa dia mengingat festival yang dia lalui bersama ayahnya.

“Hm? Bukannya itu adalah buah Rem?” tanya Nemesis.

Aku mengikuti pandangannya, dan benar saja, aku melihat buah-buahan yang familiar. Kecuali disini, mereka dibekukan di dalam es. Hal itu mengingatkanku pada minuman beku khas mandarin.

Aku membelinya dan membagikannya untuk kami bertiga.

“Terima kasih, Ray-san,” kata Louie sebelum kembali terdiam sebentar. “Gringham juga menyukai buah Rem…”

“Hm? Bukankah dia adalah seekor monster singa?” tanya Nemesis sambil mengangkat alisnya.

“Ya, dia juga menyukai daging, tapi dia juga mau makan buah, dan dia sangat menyukai buah Rem. Dia hanya mau memakannya jika buah itu sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil.”

Jadi, meskipun merupakan seekor singa, Gringham ini ternyata omnivora dan memiliki sisi manja yang aneh.

“Oh, tapi Papa juga sama,” tambah bocah itu. “Dia memang bisa memakan kulit buah, tapi dia selalu mengupasnya. Dia juga membuang bagian putih dari buah citrus. Oh, dan dia tidak pernah memakan biji.”

Ah, jadi Gringham hanya meniru pemiliknya.

Shijime kedengaran seperti orang yang ruwet, pikirku.

“Dia selalu mengatakan, ‘Aku tau kalau disini tidak masalah, tapi aku masih merasa sedikit takut.’”

“Takut?” aku mengangkat alisku. Apa yang harus ditakutkan dari memakan buah? Apakah dia menderita alergi? Tapi jika memang begitu, dia pasti tidak mau makan buah sama sekali.

“Selain itu, Juno tidak bisa makan kecuali ada orang yang menyuapinya. Dia bilang itu adalah ‘gaya makan Maiden’-nya.”

“Sungguh aneh,” komentar Nemesis.

Kau tidak layak mengatakan hal itu. Kapasitas perutmu itu lebih dari cukup untuk menandingi keanehan itu.

“Ah,” Louie berseru dan menunjuk ke depan, menyela pikiranku tentang Shijima-san. “Kamu bisa melihat panggung batu itu? Itu adalah tempat dimana mereka memainkan drama Blacksky setiap tahunnya!”

Aku melihat ke arah yang dia tunjuk dan melihat ada banyak orang sedang mengerumuni sebuah panggung kecil dimana mereka memainkan drama yang Louie katakan.

Meskipun aku dan B3 masih bisa melihat panggungnya, Louie dan Nemesis agak terlalu pendek.

“Baiklah kalau begitu,” kata Nemesis. “Aku ingin agar kau menaikanku ke bahumu.”

“Tentu, aku tidak keberatan,” aku menurunkan bahuku. “Kau juga naiklah, Louie.”

“Eh? Kau kuat mengangkat kami berdua…?”

“Gampang,” aku mengangkat mereka berdua, meletakkan mereka di masing-masing bahuku, Louie di kanan dan Nemesis di kiri, dan memegangi kaki mereka agar mereka tidak terjatuh.

Saat ini, aku memiliki bonus STR dari Nemesis, Miasmaflame Bracer-ku, dan 1.2x STR aksesoris yang kudapatkan dari mesin gacha, membuat STR-ku mencapai angka empat digit. Pada dasarnya aku lebih kuat dari pada 100 pria normal, jadi mengangkat dua anak kecil di bahuku adalah hal yang gampang.

“Ray, izinkan aku mengingatkanmu kalau aku ini seorang nona, bukan anak kecil,” kata Nemesis.

“Tolong jangan berbicara selama pertunjukkan berlangsung.”

“Gnhh…”

Pokoknya, kami sudah siap menonton drama-nya, dan untungnya, drama itu baru akan dimulai.

***

Kisah tentang masa lalu

Dahulu kala, Torne adalah sebuah desa petani yang jauh lebih kecil dan damai dari pada saat ini. Desa itu selalu dibelai oleh angin lembut yang membuat kincir angin di desa itu terus berputar dan berderak, dari waktu ke waktu.

Tapi suatu hari, desa yang damai itu diselimuti oleh kegelapan.

Itu adalah sebuah monster terbang yang datang dari langit timur. Monster itu memakan cahaya matahari, kilauan bintang-bintang, dan segala hal yang memancarkan cahaya, membuat segala sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi hitam legam.

Melihat kegelapan yang ada di langit, para penduduk mulai dipenuhi rasa takut dan berteriak, “Itu adalah langit hitam!” “Blacksky!”

Blacksky memakan semua cahaya, melihat ke arah daratan dari ketinggian, dan tertawa sambil membawa kekacauan dan penderitaan sesuka hatinya.

Setiap manusia dan hewan yang terlihat oleh Blacksky akan diubah menjadi “obor” dan kemudian dimakan.

Para penduduk sangat ketakutan akan hal itu, jadi mereka menutup pintu dan jendela rumah mereka dan mengurung diri di rumah sambil diselimuti kegelapan total.

Dari waktu ke waktu, akan ada ksatria dan pemburu yang cukup berani untuk menantang Blacksky, tapi tidak ada pedang maupun anak panah yang bisa mencapai ketinggian dimana monster itu berada. Beberapa orang bahkan mencoba menantangnya sambil menaiki naga terbang, tapi bahkan makhluk bersayap besar itu tidak bisa membawa mereka cukup tinggi.

Para ksatria, pemburu, naga, dan para penunggangnya—semuanya diubah menjadi obor dan dimakan.

Apakah masih ada harapan jika naga saja tidak bisa melukai monster itu?

Monster itu mengalahkan para penantangnya, dan membiarkan orang-orang yang selamat sembunyi dalam ketakutan. Segala sesuatu yang ada di bawahnya adalah milik Blacksky. Siapa saja yang mencoba melarikan diri akan langsung terlihat dan kemudian diubah menjadi obor.

Para penduduk tidak punya pilihan lain selain sembunyi, ditekan oleh perasaan takut dan lapar. Angin yang berhembus di desa tak dapat lagi terdengar, dan rasanya seolah-olah langit saja telah mati. Satu-satunya hal yang bisa didengar oleh para penduduk adalah tawa jahat yang dikeluarkan monster itu. Semua orang di Torne mulai bersedih saat mereka mulai mereka bahwa itu akhir bagi mereka.

Pada saat itulah langit merasa kasihan pada para penduduk itu dan meneteskan sebuah air mata untuk mereka.

Air mata itu menuruni langit, meninggalkan ekor di belakangnya saat menjadi sebuah bintang jatuh dan menghantam Blacksky dengan begitu kuat sampai-sampai monster itu terkubur di dalam pegunungan.

Di bawah batuan yang dingin, tidak ada benda-benda bercahaya yang sangat disukai Blacksky. Tanpa makanannya, monster itu kehilangan kekuatan, sehingga tidak bisa meloloskan diri dari bawah tanah.

Dan dengan begitu, para penduduk telah diselamatkan oleh air mata langit, dan Blacksky tersegel jauh di bawah bebatuan yang dingin.

Seolah-olah untuk merayakan hal itu, angin kembali berhembus di desa itu dan langit kembali menjadi cerah.

Ancaman dari Blacksky telah usai.

Sejak saat itu, para penduduk mengadakan festival. Setiap tahun, pada hari dimana Blacksky disegel, mereka akan membuat kincir angin mirip bintang dan menerangi langit dengan kembang api yang cerah untuk berterima kasih kepada langit yang telah menyelamatkan mereka.

Dan para penduduk hidup bahagia selamanya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Orang Tua Bijak says:

    yeahh

    Like

  2. ray-san says:

    Wow, mksh tor udh tl. Mhn dlnjtkn.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s