Infinite Dendrogram Volume 6 Chapter 5

Volume 6
Chapter 5 – Quest yang Mustahil

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Paladin, Ray Starling

Aku dan Fujibayashi telah memutuskan untuk bertemu di ibukota, bukannya Gideon, jadi aku memilih untuk log in di tempat dimana terakhir kali aku log out bukannya save point-ku di kota duel.

Memang benar, aku agak was-was untuk muncul di dekar sarang setan itu, AKA markas Lunar Society, tapi untungnya, tidak ada seorangpun yang menunggu untuk menyergapku.

Tunggu dulu, pikirku. King of Assassins bisa saja bersembunyi di dalam bayanganku lagi.

Hanya untuk memastikan, aku menyelimuti salah satu Grudge-Soaked Greaves dengan Purifying Silverlight dan menginjak tanah yang ada di bawahku.

Tidak terjadi apa-apa, yang hanya bisa berarti bahwa bayanganku adalah bayanganku sendiri, dan memastikan kalau aku aman.

“Sepertinya kau tidak kesulitan menyesuaikan diri di kampus,” Nemesis muncul dari dalam tato dan berbicara kepadaku. “Tapi sepertinya itu malah memunculkan masalah yang jauh lebih besar.”

Pasti yang dia maksud adalah fakta kalau aku dan setan itu berada di universitas yang sama.

“Yah, aku lega karena kau bisa melarikan diri dari genggamannya, tapi ini kembali membuatku tidak bisa menolongmu dengan cara apapun.”

“Hm?” Aku mengangkat alisku. Entah kenapa Nemesis tampak sedih. Seolah-olah dia sedang meratapi dirinya sendiri atau sejenisnya.

“Saat kau berada di sisi lain, aku memikirkan hal ini secara mendalam,” katanya dengan nada agak kecewa, mungkin untuk menanggapi pikiranku. “Aku sama sekali tidak berguna dalam pertarungan kemarin. Bahkan saat menyerang King of Assassins, kau bisa saja menggunakan senjata lain, dan hasilnya akan sama. Ketidak berdayaanku pada saat itu membuatku berpikir apakah aku benar-benar sudah berkembang sejak pertarungan melawan Gardranda.”

“Tapi kau memang sudah berkembang,” kataku.

Dan jangan berpikir sebaliknya.

“Aku tau kau akan mengatakan itu,” dia menghela nafas. “Tapi kau tidak bisa mengabaikan kalau aku bahkan belum berevolusi sejak saat itu.”

“Tapi masih ada hal yang kau pelajari, kan?”

“… Oh, maksudmu Itu? Tapi itu adalah teknik yang tidak bisa kita gunakan untuk melawan High Priestess dan King of Assassins.”

“Pada akhirnya kita pasti akan menggunakannya, digabungkan dengan apa yang telah kupelajari. Jadi ya, tidak perlu begitu bersedih. Dan jangan terlalu memikirkan skill dan stats. Aku lebih tau dari pada siapapun kalau kau sudah berkembang dan bekerja keras demi hal itu,” aku menyelesaikan perkataanku dengan tepukan ringan di bahunya.

“Harus kukatakan, kau kadang-kadang kau berbicara dengan penuh semangat,” katanya sambil menunjukkan senyum kecut. “Kau terdengar seperti seorang guru yang terlalu antusias.”

Meskipun mungkin tidak sesuai dengan yang kuharapkan, perkataanku sepertinya berhasil membuatnya kembali bersemangat.

“Jadi,” Nemesis kembali berbicara. “Kita akan bekerja sama dengan salah satu kenalanmu di dunia nyata, kan? Jika kau mengesampingkan Kuma-niisan, ini akan jadi yang pertama kalinya.”

“Itu benar.”

Kami tiba di tempat pertemuan, air mancur yang familiar, dan aku menyadari sebuah masalah.

“Meskipun Fujibayashi mengenaliku, aku sama sekali tidak mengetahui nama maupun penampilan avatar-nya.”

Entah kenapa, dia bersikeras untuk memberitahuku saat kami sudah online. Aku tidak keberatan, tapi itu tetap akan menjadi masalah saat kami mencoba saling bertemu.

Semuanya akan jadi sangat mudah jika dia, bermain sebagai dirinya sendiri, sama seperti setan itu, tapi aku sangat tidak yakin Fujibayashi akan melakukan hal itu.

Jadi bagaimana kami harus bertemu? Pikirku. Aku tidak enak kalau cuma harus berdiri disini dan menunggu kedatangannya.

Suaraku sama seperti di dunia nyata, jadi mungkin aku hanya tinggal menunggu saat yang tepat dan mulai berteriak “Aku Ray! Disini!” atau sejenisnya?

Tidak, jika dia datang terlambat, itu akan jadi sangat memalukan bagiku. Dalam kasus terburuk, aku bahkan bisa menarik perhatian setan itu.

“Apakah aku tidak punya satupun ide bagus untuk memudahkan pertemuan kami?” aku menyuarakan pikiranku.

Tunggu… Pertemuan… Air mancur… Shu…

“Ah!” Aku berseru saat sebuah ide terlintas di kepalaku.

“… Kau benar-benar akan melakukan itu?” tanya Nemesis.

“Apakah ada pilihan lain yang kumiliki di situasi ini?”

Beberapa menit kemudian, aku duduk di sudut air mancur sambil memegang sebuah penanda yang bertuliskan “Selamat datang, KF.”

“Seharusnya ini sudah cukup untuk membuatnya mengetahui kalau aku ada disini.”

Huruf “KF,” tentu saja merupakan kependekan dari “Kozue Fujibayashi.” Semuanya jadi seperti ini karena dia tidak memberitahuku nama avatar-nya.

“… Ini hanya aku, atau apakah kau menarik lebih banyak perhatian dari biasanya?” tanya Nemesis.

“Yah, tentu saja. Orang yang memegang penanda itu tampak mencolok, kau tau?”

Dan harus ada sebanyak mungkin orang yang melihatnya, untuk jaga-jaga kalau salah satu dari mereka adalah Fujibayashi.

“Apakah ini tidak mengganggumu?” tanya Nemesis.

“Akhir-akhir ini aku mendapat banyak tatapan aneh. Sekarang aku kurang-lebih sudah terbiasa dengan hal itu.”

Mungkin itu karena Permainan Franklin. Pertarunganku melawan RSK telah disiarkan di Gideon dan ibukota, jadi aku menjadi sangat terkenal.

Sumpah, tidak ada satupun faedah dari apapun yang dilakukan oleh bajingan berjubah lab itu, pikirku.

“Menurutku, kebanyakan tatapan itu disebabkan oleh penampilanmu saat ini,” komentar Nemesis.

“Hm?”

Apa maksudmu?

“Pokoknya, harus kukatakan kalau kau menjadi semakin dan semakin mirip dengan kuma-niisan.”

“Itu tidak mungkin-kuma.”

“Itu menular?!” serunya dengan nada sangat terkejut.

Whoa santai, aku cuma bercanda. Tidak perlu terkejut seperti itu.

“Nh?” tambahku.

Kami—atau, Nemesis bersikeras, Aku—telah menarik tatapan dari banyak orang yang ada disini, tapi ada satu orang tertentu yang memiliki hawa keberadaan yang aneh.

Sejak memasuki Dendro, aku menjadi sangat sensitif dengan hal semacam ini.

Tatapan tertentu itu berasal dari seseorang yang berada di tengah kerumunan. Lebih tepatnya, dari seorang bertubuh besar yang memakai armor penuh yang besar pula.

Itu tidak melebih-lebihkan. Orang itu terlihat setidaknya memiliki tinggi tiga meter, dan armor-nya benar-benar menutupi seluruh tubuhnya.

Namun, wajahnya di arahkan kepadaku, jadi aku hanya bisa berasumsi kalau dia sedang menatapku.

Seolah-olah mengetahui kalau aku menyadari keberadaannya, raksasa berarmor itu berbalik dan berjalan masuk ke dalam sebuah gang.

“Apa-apaan itu?” tanyaku.

“Seorang penggemar, mungkin?” kata Nemesis.

Meskipun memang benar kalau ada beberapa penggemar yang mendekatiku sejak Permainan Franklin, entah kenapa, kurasa bukan itu kasusnya disini. Aku tidak bisa melihat matanya, tapi aku merasa bahwa orang berarmor itu sedang… mengamatiku. Selain itu, aku hanya bisa merasa kalau aku pernah melihat orang itu sebelumnya…

“Yah, dia mungkin hanya terkejut melihat papan penanda ini,” kata Nemesis.

Itu tidak mustahil. Aku juga terkejut saat melihat Shu menungguku disini sambil memegang papan penanda-nya dan mengenakan pakaian beruang.

Aku tampak jauh lebih normal dari pada dirinya, sih, pikirku.

“Eh?!” Nemesis berseru, seolah-olah menanyakan apakah aku serius.

Tentu saja aku serius, pikirku menanggapinya. Sejarah equipment-ku memang gelap, tapi itu masih jauh lebih normal dibandingkan sebuah kostum beruang.

Nemesis tidak membantahnya. Dia hanya menutup mata, menghela nafas dan bergumam, “Orang ini sudah tak dapat ditolong.” Aku tidak tau apa maksud dari perkataan itu.

Dua puluh menit telah berlalu sejak aku memegang penanda ini.

“Apakah kamu Mukudori?” seseorang bertanya dengan suara yang familiar, dan membuatku berpaling ke arahnya.

Meskipun itu adalah suara yang belum lama ini kudengar di dunia nyata, penampilan orangnya benar-benar baru bagiku.

“Ya, aku Mukudori,” kataku. “Apakah kamu Fujibayashi?”

“Ya.” Dia mengangguk. “Sepertinya kita bisa bertemu tanpa satupun masalah.”

Avatar-nya tampak polos dan normal. Meskipun itu benar-benar berbeda dengan penampilannya di dunia nyata, tapi tingginya hampir sama. Equipment yang dia pakai sepertinya berkualitas tinggi, tapi tidak ada satupun yang mencolok, khususnya jika dibandingkan dengan kostum binatang dan sejenisnya.

Insert4

Jika aku harus mengatakan hal spesial dari penampilannya, maka itu adalah kacamata-nya. Dia juga memakai kacamata di dunia nyata.

Sementara equipment milik para Superior eksentrik dan duel ranker yang pernah latih tanding denganku sering membuatku terkejut atau membuatku kehabisan kata-kata, dia memiliki penampilan yang memberiku kedamaian pikiran.

“Aku senang karena kita dapat bertemu, tapi aku harus bertanya, ada apa dengan equipm—maksudku, penanda itu?” tanyanya.

“Sebelumnya, kakakku pernah melakukan ini kepadaku,” jawabku. “Apakah ini terlalu aneh?”

“… Itu mengejutkanku, tapi hanya sebatas itu.”

Apa maksud dari jeda sebelum jawabannya itu? pikirku.

“Pokoknya… Kamu benar-benar Ray Starling.”

“Yah, benar.”

“Berbicara dengan orang terkenal membuatku sedikit gugup.”

Aku terdiam.

Seperti yang telah Nemesis katakan, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang mendatangiku sebagai penggemar, jadi ini tidak terlalu mengejutkanku. Tapi, mendapati kenalan di dunia nyata menyebutku “terkenal” membuatku merasa agak malu.

“Kalau begitu, ayo pergi ke guild,” katanya. “Kita ada berdua, dan sama-sama memiliki job petarung, jadi kurasa quest membunuh akan jauh lebih baik bagi kita dari pada quest pengumpulan. Aku akan menyerahkan pemilihannya kepadamu, sih.”

“Baiklah,” kataku. “Oh, ngomong-ngomong, apa job mu? Aku adalah seorang Paladin.”

“Job-ku saat ini adalah Shield Giant.”

Aku tidak tau job macam apa itu, dan setelah kutanyakan, dia berkata, “Itu adalah job tingkat tinggi yang berfokus pada skill shield, dan itu memungkinkan dirimu untuk dapat menggunakan segala jenis shield dengan baik tidak peduli seberapa besar ukurannya selama kamu memiliki STR yang dibutuhkan.”

Itu mungkin adalah job tipe defensif, tapi aku hanya bisa berpikir kalau istilah “Giant” itu sama sekali tidak cocok dengan tubuh langsing milik Fujibayashi.

Oh, ada sesuatu yang perlu kutanyakan sebelum kami membentuk sebuah party, pikirku. “Siapa nama avatarmu?”

Bagaimanapun, tidak mungkin itu adalah “Kozue Fujibayashi.” Dia tidak sama seperti setan atau sekretaris super itu.

“Yah…” katanya, sebelum merenung beberapa saat. “Panggil aku ‘B3 (Bitri).’”

“Oke… Hm?” Aku mengangguk, tapi kemudian menyadari kalau dia mengatakan sesuatu yang aneh. Dia memberitahuku untuk memanggil dirinya “B3,” dan benar-benar menandakan bahwa itu bukanlah nama avatar-nya yang sebenarnya.

“Itu bukan nama avatar-ku, tapi ‘B3’ adalah panggilan yang digunakan oleh para sahabatku,” jelasnya sambil mengirimkan ajakan party kepadaku. “Selain itu nama-ku juga agak, uh… terlalu panjang, jadi panggilan itu lebih baik.”

Nama yang kulihat di jendela ajakan party itu memang panjang, dan dapat dengan mudah disingkat menjadi “B3.”

Aku menerima ajakan itu, dan kami membentuk sebuah party.

Sebagai catatan: dia memiliki level total  485, sehingga sudah jelas kalau dia adalah player berpengalaman.

“Sebenarnya aku sudah mencapai level max sebelumnya, tapi saat ini aku sedang mencoba berbagai jenis kombinasi job,” dia memberitahuku.

Oh, iya, Shu pernah mengatakan kepadaku kalau job bisa di-reset dan diganti dengan job lain.

Aku baru mendapatkan job pertama-ku, jadi fitur itu tidak terlalu penting bagiku.

“Sekarang karena kita sudah membentuk party, mari kita memperkenalkan diri lagi,” katanya. “Aku B3. Senang bertemu denganmu.”

“Ah, ok,” jawabku. “Aku Ray Starling. Mari mengakrabkan diri.”

“Haloo!” Nemesis bergabung dengan kami. “Aku adalah Embryo milik Ray, Nemesis. Senang bertemu denganmu, B3.”

“Sama-sama.” Dengan selesainya pembentukan party dan perkenalan itu, kami pergi menuju guild untuk mengambil quest.

*

Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke guild ibukota sejak Aku, Rook, dan Marie mengambil quest pengantaran ke Gideon. Bahkan sebulan belum berlalu sejak saat itu, jadi interior bangunan ini sama sekali belum berubah.

Aku dan B3 duduk di sebuah meja dan melihat-lihat quest di katalog sihir yang besar.

Tidak seperti saat terakhir kali, saat disini ada banyak quest pengawalan dari orang-orang yang pergi menuju Gideon dan negara lain, saat ini ada banyak quest pengawalan menuju sebuah desa di utara, dan aku tidak tau sebabnya. Sepuluh menit kemudian setelah melakukan pencarian quest, kami masih belum menemukan satupun yang cocok.

“… Nh?” aku mengangkat alisku saat aku menyadari bahwa ada sedikit masalah yang terjadi di meja kasir. Hal itu disebabkan oleh seorang bocah laki-laki yang dengan putus asa meminta sesuatu dari para pegawai guild.

“Tolong, minta seseorang untuk mencari ayahku! Dia sudah menghilang selama setengah tahun sekarang!” mohon bocah itu.

“Aku minta maaf, kami tidak bisa menerima permintaanmu karena itu melanggar salah satu aturan khusus di guild petualang,” jawab pegawai itu, terlihat benar-benar kesulitan.

Para petualang yang ada di sekitar mereka juga tampak kebingungan.

Sepertinya, bocah itu membuat sebuah permintaan, tapi karena suatu alasan, guild tidak bisa menerimanya.

“Quest orang hilang, huh?” gumamku.

“Guild petualang menangani quest semacam itu, tapi itu tidak terlalu populer,” kata B3. “Quest itu sering memakan banyak waktu, dan membutuhkan set skill tertentu.”

Begitu, pikirku. Tergantung dari sudut pandangmu, membunuh monster atau hanya mengumpulkan sesuatu jauh lebih mudah dan sederhana dibanding mencari seseorang.

Memang benar, quest pencarian memiliki kelebihan karena mereka tidak mengancam nyawa, tapi itu bukanlah hal yang besar bagi kami para Master. Akan tetapi, quest pertama  yang kuambil adalah quest pencarian yang mengancam nyawa… meskipun itu mungkin tidak dihitung sebagai quest pencarian, karena kami sudah tau dimana Miliane berada.

“Tapi disini ada skill yang dapat membantu pencarian orang, kan?” tanyaku.

“Ya.” B3 mengangguk. “Ada beberapa skill seperti itu di antara skill-skill job dan skill unik milik Embryo. Namun…” Katanya sebelum berhenti sejenak dan melihat ke arah bocah dan pegawai yang ada di meja kasir. “Pegawai itu mengatakan tentang peraturan khusus, dan jika itu berhubungan dengan quest pencarian, maka mungkin saja…”

Tiba-tiba, salah satu petualang tian yang ada di dekat mereka meletakkan tangannya di pundak bocah itu dan berkata.

“Nak, pria itu sudah hilang lebih dari setengah tahun, kan? Maaf kalau ini menyakitkan, tapi papa mu mungkin—“

“Dia tidak mungkin mati!” bocah itu berteriak dengan keras kepala sambil meloloskan diri dari tangan pria itu.

Karena suatu alasan, aku merasa seakan-akan teriakannya bukan hanya sekedar angan-angan belaka… seolah-olah dia benar-benar yakin dengan apa yang dia katakan.

“Maksudku… papa ku adalah…” katanya sebelum melanjutkannya dengan perkataan yang membuatku benar-benar tercengang. “Dia adalah papa tiriku! Dan dia adalah seorang Master!”

“Ap…!” Aku terkesiap.

Bocah tian itu baru saja mengatakan kalau ayahnya adalah seorang Master.

“Dia adalah seorang Master. Jadi dia tidak mungkin mati,” dia mengulangi perkataannya. “Tapi sekarang dia sudah menghilang selama setengah tahun… jadi aku ingin seseorang pergi mencarinya…”

Bocah itu mulai berlinang air mata dan mengatakan alasan kenapa dia membuat permintaan itu.

“Adikku… anak Papa dan Mama akan segera lahir. Aku ingin dirinya ada disana untuk bertemu dengan adikku, dan… dan…”

Dia tiba-tiba berhenti berbicara. Dia menundukkan kepalanya dan mulai sesenggukan.

Melihatnya seperti itu membuat hatiku terasa sakit, tapi disaat bersamaan, aku penasaran dengan beberapa hal.

“B3, aku punya beberapa pertanyaan,” kataku.

“Ya, Player dan NPC bisa menikah,” dia menjawab bahkan sebelum aku bertanya. “Sementara untuk anak antara player dan NPC, secara teori itu bisa saja terjadi.”

Itulah apa yang ingin kuketahui.

“Jika mereka sudah cukup umur di dunia nyata untuk hal itu—18 tahun atau lebih di Jepang—player bisa menikahi NPC atau player lain… dan menciptakan hubungan… yang lebih intim, bisa dibilang begitu.”

Yah, kurasa job seperti “Pimp” dan “Harlot” ada disini bukan tanpa alasan, pikirku. Kurasa sudah jelas kalau Dendro memiliki hubungan semacam itu.

Sebagai catatan yang tak ada hubungannya, dulu saat Rook bertanya apakah Pimp adalah “sejenis job penjinak monster,” yang dia maksud hanyalah makna dari job tersebut di Dendro. Dia sepenuhnya memahami apa arti dari kata itu di dunia nyata.

“Aku tau tentang hal itu. Itu adalah pengetahuan umum,” jelasnya kemudian kepadaku.

Apakah Pimp benar-benar merupakan pengetahuan umum bagi orang-orang seumur dirinya? Pikirku, dan kemudian aku menyadari kalau aku sudah melenceng terlalu jauh, jadi aku kembali mengalihkan perhatianku ke B3.

Mungkin karena aku terlihat benar-benar merenung, B3 juga tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Maaf, kurasa kamu terlalu muda untuk membicarakan hal ini,” katanya dengan tangan menutupi mulutnya. Nadanya terdengar meminta maaf.

“Oh. Tidak, tidak, aku sudah cukup umur untuk hal ini…” Aku menyelesaikan kesalahpahaman itu, dan perkataanku sendiri membuatku menyadari bahwa aku sudah diizinkan untuk memiliki hubungan yang lebih intim dengan seseorang. Aku tidak bisa membayangkan diriku menggunakan fitur itu, sih.

“Begitu. Kalau begitu, aku akan melanjutkannya. Meskipun player bisa melakukan hubungan intim, ada suatu masalah yang membuat hubungan itu hampir tidak mungkin menghasilkan anak.”

“Dan masalah itu adalah…?”

“Lihat ini,” katanya saat dia merogoh inventory-nya dan mengeluarkan sebuah pisau dan sapu tangan, tidak ada satupun dari benda itu yang tampak spesial. Lalu, tanpa mengatakan apapun, B3 menusukkan ujung pisau itu ke telapak tangannya.

“Huh?!” aku berseru saat rasa terkejut memaksaku untuk berdiri.

“Hyah! Hyah!” B3 berteriak, dan melakukan hal itu lagi dan lagi.

Pisau itu tidak bisa menusuk tangannya. Tidak peduli berapa kalipun dia mencobanya, bilahnya tidak dapat menggores kulitnya.

Pada akhirnya, kecepatan serangannya menjadi begitu besar sampai-sampai membuatku merasa khawatir, tapi meski begitu, tangan B3 masih tetap tidak terluka.

Biasanya, telapak tangan itu akan dipenuhi lubang di berbagai tempat, tapi tidak, bahkan tidak ada satupun goresan di telapak tangannya.

Tak lama kemudian, aku mulai merasa kalau dia hanya sedang menunjukkan semacam trik kepadaku, dan pada saat itulah dia mulai berhenti.

“Maaf,” katanya. “Aku mencoba untuk mengeluarkan sedikit darah untuk membuat penjelasanku lebih mudah dipahami, tapi stats END-ku begitu tinggi sampai-sampai pisau ini tak dapat melakukannya.”

“Ohh…” Aku mengekspresikan kepahamanku.

Itu mengingatkanku kalau job B3 adalah “Shield Giant,” dan dia juga merupakan player veteran yang pernah mencapai level max bagi player yang tidak memiliki Job Superior. Sudah wajar kalau dia memiliki stats pertahanan yang tinggi, dan jujur, aku tidak akan terkejut jika telapak tangannya itu lebih keras dari armorku.

“Kita harus lanjut tanpa sebuah contoh,” katanya. “Kamu sudah pernah melihat apa yang akan terjadi pada player saat mereka mendapat death penalty, kan?”

“Yah… iya,” aku mengangguk. Aku sudah banyak melihatnya selama sebulan terakhir.

“Apakah kamu menyadari kalau darah dan cairan tubuh mereka yang tercecer juga akan menghilang bersama dengan tubuhnya?”

“… Aku menyadarinya.”

Hal pertama yang terlintas dipikiranku adalah pertarungan Lei-Lei yang telah Marie tunjukkan kepadaku di kristal-nya. Cairan daging yang meleleh dan lembaran kulit para Master yang dia bunuh, semuanya berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang disaat bersamaan.

“Hal yang sama juga terjadi saat kamu log out,” kata B3.

“Hal yang sama?” aku mengangkat alisku.

“Contohnya, jika aku meletakkan sedikit darahku di sapu tangan ini dan log out, darah itu akan menghilang disaat yang sama dengan diriku.”

“Begitu,” kataku, sepenuhnya paham dengan apa yang dia maksud. “Jadi kamu tidak bisa membuat anak karena cairan tubuh akan menghilang pada saat kamu log out.”

“Tepat sekali.”

Sekarang semuanya jadi masuk akal. Bagaimanapun, kami para Master pada dasarnya harus log out setiap beberapa saat sekali.

“Namun, beberapa orang berpendapat bahwa itu mungkin saja bisa terjadi jika sang Master tetap online dalam waktu cukup lama sampai zigot bisa terbentuk.”

Yah, itu memang teori yang masuk akal. Aku bisa sepenuhnya paham kenapa seseorang berpendapat bahwa zigot tidak akan menghilang jika itu diakui sebagai makhluk hidup terpisah, bukan hanya sekedar telur dengan sedikit sel genetik di dalamnya.

“Tapi itu…”

… setidaknya bisa dibilang, sulit, aku menyelesaikan perkataanku dalam diam.

Kemarin, saat aku diculik oleh Lunar Society hanya selama sepertiga hari dalam waktu dunia nyata, aku menjadi sangat lapar dan benar-benar harus ke kamar mandi.

Bisa online cukup lama sampai zigot bisa terbentuk menjadi makhluk hidup tersendiri—yang bisa saja memakan waktu beberapa hari sampai beberapa minggu—tampaknya hampir mustahil.

“Lalau bagaimana dengan calon saudara bocah itu?” tanyaku.

“Menurut pendapatku, kemungkinan terbesar ibunya selingkuh dengan tian lain,” jawab B3. “Kemungkinan terbesar kedua adalah sebenarnya ayah angkatnya hanyalah seorang tian yang berpura-pura menjadi Master, dan anak itu benar-benar miliknya. Kemungkinan ketiga yang paling kecil adalah teori yang kukatakan sebelumnya terbukti benar. Meskipun, perlu dicatat kalau kemungkinan kedua akan memberikan hukuman berat kepada ayah angkatnya, karena hukum di setiap negara sangat melarang para tian untuk berpura-pura menjadi Master.”

“Kalau begitu, kuharap itu adalah kemungkinan ketiga,” kataku. Dua kemungkinan lainnya sudah pasti akan meninggalkan rasa pahit dimulutku.

“Sebenarnya kemungkinan manapun tidak akan menghasilkan ending yang bagus, sih,” kata B3.

“Kenapa tidak? Jika kemungkinan ketiga yang terjadi, maka seseorang hanya perlu mencari ayah angkatnya yang seorang Master dan… ah.”

“Kau memahami masalahnya?” katanya.

Tentu saja, seseorang hanya perlu mencarinya. Namun, pencarian kemungkinan akan menyebar sampai ke luar Dendro.

“Aku tidak sempat memberitahumu tentang aturan khusus mengenai quest pencarian,” tambahnya. “Guild menolak untuk menerima permintaan seperti itu jika orang yang dicari adalah Master yang tidak online dalam waktu lama. Kamu paham kenapa, bukan?”

Tentu saja aku paham.

Bagi para tian, mencari Master yang sedang offline adalah hal yang benar-benar mustahil, dan bahkan itu juga akan sangat sulit bagi sesama Master. Mereka mungkin harus menyewa detektif, dan meski begitu, kemungkinan keberhasilannya sangat rendah.

Bagaimanapun, Dendro memiliki player dari berbagai belahan dunia, belum lagi kau hanya memiliki informasi tentang diri mereka di dunia ini, bukan di sisi lain.

“Menemukan Master yang sudah tidak online selama beberapa waktu adalah hal yang benar-benar mustahil,” lanjut B3. “Faktanya, saat mereka tidak online di Infinite Dendrogram dalam waktu lama, ada kemungkinan besar kalau mereka sudah berhenti main, jadi meskipun secara ajaib kamu bisa menemukan mereka, meyakinkan mereka untuk kembali memainkan Infinite Dendrogram tentu saja akan menjadi hal yang sulit.”

Dia sepenuhnya benar tentang hal itu.

Para tian dan Master di sekitar bocah itu juga mengetahui hal ini, dan aku bisa dengan mudah menduga kalau mereka menghindari segala jenis keterlibatan.

Itu adalah tindakan yang tepat.

Bagi para tian, pergi ke dunia dimana para Master kembali—dunia nyata—adalah hal yang mustahil, dan meskipun hal itu tidak berlaku bagi para sesama Master, mereka tetap memiliki kesempatan kecil untuk berhasil, belum lagi mereka tidak memiliki kewajiban untuk menghabiskan kehidupan dunia nyata mereka untuk mencari sesuatu karena Dendro. Aku sepenuhnya bisa memahami hal itu, tapi…

“B3,” Kataku.

“Ya?”

“Maaf, tapi bisakah kita menunda quest hari ini?”

“Kenapa?”

“Aku akan menerima quest pencarian yang diajukan bocah itu.”

Meski begitu, aku tidak bisa mengabaikan anak kecil yang sedang menangis.

“Aku baru saja menjelaskan kalau itu adalah quest yang mustahil,” katanya.

“Itu mungkin benar,” setujuku. “Tapi mengabaikan hal ini akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.”

“…” B3 terdiam sambil meletakkan tangannya di depan mulutnya dan memikirkan sesuatu.

Itu adalah reaksi yang wajar. Aku sepenuhnya sadar kalau tindakanku ini tidak masuk akal, dan aku tidak ingin melibatkan seseorang yang berpikiran selogis dirinya ke dalam sesuatu yang tidak masuk akal.

“Kamu bisa—“

“Kalau begitu aku akan bergabung denganmu,” dia menyelaku dengan perkataan yang sama sekali tidak kuduga.

“Benarkah…? Apakah kau yakin?”

“Aku sudah bilang kalau aku akan membiarkanmu memutuskan quest apa yang akan kita ambil, bukan?”

Dia memang bilang begitu. Namun, kupikir itu hanya berlaku jika yang kami bicarakan adalah quest normal.

“Selain itu, aku akan meminjam perkataanmu jika kamu tidak keberatan…” katanya dengan nada lembut sambil menatap langsung ke mataku. “Mundur setelah sampai sejauh ini akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.”

“Terima kasih,” kataku.

Kemudian aku berdiri, berjalan ke arah bocah yang sedang bersedih di meja kasir itu, dan meletakkan tanganku di pundaknya.

“Kami akan menerima permintaanmu,” kataku dengan lembut.

“… Eh?” dia berseru, benar-benar terkejut.

Ada harapan di matanya. Seolah-olah dia bertanya “Benarkah?”

Aku mengangguk, dan meyakinkannya. “Kami akan mencari ayahmu.”

Dengan demikian, aku dan B3 memulai petualangan bersama kami yang pertama.

Kami akan menantang quest yang mustahil—mencari seorang Master.

Tujuan kami adalah… akhir yang bahagia.

Mari kita mulai quest-nya.

*

Kami telah menerima quest dari seorang bocah bernama Louie yang sedang mencari ayahnya. Namun, itu tidak dihitung sebagai sebuah quest. Bukan hanya guild tidak memprosesnya karena adanya aturan khusus, tapi itu juga tidak tampil di jendela-ku sebagai event quest. Aku tidak tau apakah itu sebuah kesalahan, atau apakah control AI yang menentukan tingkat kesulitan quest tidak mengakui ini sebagai sebuah quest.

Tapi, meski tanpa tingkat kesulitan, aku bisa memahami kalau sebuah quest untuk menemukan seseorang di dunia nyata akan, dalam berbagai hal, lebih sulit dari setiap quest lain di dalam Infinite Dendrogram.

Saat ini sedang makan di restoran yang tergabung dengan bangunan guild petualang, dimana kami meminta Louie untuk menceritakan tentang ayahnya.

Kami menanyakan nama, job, dan hal-hal lain milik ayahnya yang mungkin akan menuntun kami ke dirinya di dunia nyata. Hal-hal yang kami dengar tidak banyak membantu, tapi setidaknya, kami bisa mengetahui nama avatar-nya: Ichiro Shijima. Jika, seperti namanya, dia benar-benar orang Jepang, pencarian kami akan menjadi sedikit lebih mudah.

Kesulitannya akan kembali menurun jika itu sebenarnya adalah versi modifikasi dari nama aslinya, karena itu akan membatasi pencarian berdasarkan nama seperti “Ichiro Ishijima” atau “Ichiro Ushijima,” dan lain sebagainya.

Dan, jika kami boleh serakah…

“Akan benar-benar membantu jika itu adalah nama aslinya…” gumamku.

“Kurasa itu tidak mungkin,” kata B3. “Orang yang sedang kita bicarakan bukanlah ketua atau wakil ketua.”

“Benar, kita tidak bisa mengharapkan seseorang akan seperti setan atau KoA itu,” setujuku.

“Benar sekali, orang-orang yang akan bermain menggunakan nama asli mereka hanyalah orang-orang seperti diriku, Tsukuyo-sama, dan para penganut kami.”

“Benar…” kataku, sebelum menyadari dengan siapa aku sedang berbicara dan membalasnya dengan nada sarkastik. “A ha ha… Dan kenapa kamu bisa ada disini, King of Secretaries… nggak, King of Assassins?”

Tanpa kusadari, KoA yang merupakan kakak kelas kami di kampus, Eishiro Tsukikage, sedang duduk di sudut meja kami lengkap dengan secangkir teh di tangannya, sambil tersenyum lebar. Dia mengingatkanku pada Marie.

Mereka bukan hanya mirip dalam hal job, pikirku. Sekarang kalau kupikir-pikir, setan itu juga melakukan hal yang sama kemarin.

“Saya sudah duduk disini sejak pertengahan interogasi, tapi karena tidak ada yang menyadari saya, saya memberi keringanan dan menunjukkan hawa keberadaan saya,” katanya.

“Dan kenapa kau duduk disini?” tanyaku.

“Tsukuyo-sama masih dilarang log in, jadi dia meminta saya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada anda.”

“Dan apa itu?”

“Itu adalah sebuah tawaran. ‘Ok, aku akan menyembuhkan tanganmu meski kau hanya bergabung dengan CID.’”

“Hm…”

Itu… sebenarnya layak untuk dipertimbangkan.

Kau tidak akan pernah melihatku menjadi bagian dari Lunar Society, tapi aku tidak terlalu keberatan untuk bergabung dengan klub kampus milik setan itu. Sekarang aku tau kenapa aku merasa begitu takut padanya, belum lagi di CID juga ada B3, yang akan selalu mengawasiku. Persyaratan itu memang menarik, tapi…

“Aku akan memberikan jawabanku setelah akhir pekan,” kataku.

“Baiklah.”

Ingatan kemarin masih terlalu jelas di pikiranku untuk membuatku menerima tawaran itu dengan santainya.

Karena urusannya sudah selesai, aku menduga Tsukikage akan pergi, tapi dia tidak menunjukkan niat untuk berdiri dari tempat duduknya. Aku melirik ke arahnya dan menyadari bahwa dia sedang menatap Louie.

“Ada apa?” tanyaku.

“Apakah anda bersedia menerima bantuan dari Lunar Society untuk mencari ayah anak ini?” tawarnya.

Aku tidak tau rencana macam apa yang membuatnya memberikan tawaran itu. Tentu, mendapati ada banyak pengikut sekte keagamaan  yang membantu kami akan sangat meningkatkan ruang lingkup jaringan informasi yang kami miliki dan membuat pencarian ini jauh lebih mudah, tapi…

“Kenapa?” tanyaku, tidak menemukan alasan dibalik tawaran itu.

Setan itu tidak ada disini, dan dia mungkin tidak tau kalau aku menerima permintaan Louie, jadi kemungkinan besar dia tidak ada hubungannya dengan tawaran ini. Yang artinya tawaran itu berasal dari Tsukikage sendiri, tapi aku tidak bisa menemukan satupun alasan kenapa dia menawarkan hal itu.

Setan itu jelas akan melakukan hal ini untuk membuatku berhutang kepadanya atau sejenisnya, tapi entah kenapa, kurasa bukan itu alasan yang dimiliki Tsukikage.

Itulah sebabnya aku bertanya.

“Itu rahasia,” jawabnya.

Niat tersembunyi di dalam perkataannya membuat tawaran itu tampak semakin berbahaya.

“Kami akan meminta bantuanmu jika kami mendapati kalau quest ini tidak bisa kami selesaikan sendirian,” kataku.

“Baiklah,” Dia mengangguk. “Kami akan selalu siap membantu kalian.”

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk menjadikan tawarannya sebagai jalan alternatif.

Tsukikage berdiri dari kursinya. Kemudian, sepertinya terpikirkan sesuatu, dia berbalik untuk mengatakan hal lain.

“Oh, ngomong-ngomong… anggap ini sebagai saran kecil, bukannya tawaran, tapi aku menyarankan agar kalian untuk menanyakan informasi dunia nyatanya kepada Ibu Louie—istri Shijima-san. Sama seperti hal-hal yang hanya dibicarakan antara orang tua dan anak, pasti ada juga pembicaraan rahasia antara suami dan istri. Belum lagi kalian mungkin akan menemukan petunjuk di rumah keluarga mereka. Anda hanya boleh bergantung pada detektif dunia nyata, kakakmu, atau temanmu setelah anda kehabisan sumber informasi.”

“… Makasih.”

“Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi.”

Setelah mengatakan nasehat panjang-lebarnya, Tsukikage tenggelam ke dalam bayangannya sendiri.

Pemandangan itu membuat Louie sangat terkejut, tapi Fujibayashi—sepertinya sudah sangat terbiasa dengan hal itu—sama sekali tidak bergeming.

Selain itu, Tsukikage meninggalkan sebuah kantong dengan secarik kertas kecil bertuliskan “Bayaran untuk teh saya.”

… Orang itu aneh gila, tapi dia jelas memiliki sopan santun, pikirku.

Pokoknya, nasihat-nya benar sekali. Jika kami ingin menemukan seseorang di dunia nyata, kami tidak bisa melewatkan satupun petunjuk yang bisa kami temukan disini.

“Dimana kamu tinggal, Louie?” tanyaku kepada bocah itu.

“Desa Torne. Itu terletak di utara, sekitar setengah hari menggunakan kereta dari sini.” Itu lebih dekat dari Gideon, tapi masih cukup jauh.

“Apakah kamu datang sendirian?” tanyaku.

“Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya. “Aku menumpang kereta pos yang melewati desa. Aku menggunakan uang yang kudapat dari Papa untuk membayar biayanya. Aku juga berpikir untuk menggunakan uang itu untuk mengajukan permintaan di guild, tapi…”

Dia kemudian menunjukkan isi dompetnya, dan aku ragu apakah itu cukup untuk biaya pulang ke desanya. Faktanya, itu mungkin bahkan tidak cukup untuk membiayai permintaan guild, tapi di mataku, itu adalah tanda seberapa putus asanya dirinya.

“Kuharap kita bisa menemukan ayahnya,” kata Nemesis secara telepati.

Ya, aku juga sama, pikirku menanggapinya.

“Baiklah, kalau begitu ayo pergi ke Desa Torne,” kataku. “Sementara untuk bagaimana kita akan kesana…”

Silver dapat menerbangkan kami kesana dalam waktu singkat, tapi paling bagus aku hanya bisa membonceng satu orang lagi, jadi…

“Ray, kamu memiliki kuda, bukan?” tanya B3, memotong pemikiranku.

“Ah, iya, aku punya.”

“Bagus. Aku tidak punya kuda, tapi aku punya kereta. Bisakah kita membuat kuda-mu menariknya?”

“Tentu.” Sebuah kereta akan membuat kami semua bisa pergi kesana secara bersamaan.

Dengan telah ditetapkannya tujuan dan sarana transportasi, kami memulai perjalanan kami ke Desa Torne.

Kuakui, aku agak penasaran kenapa B3 memiliki kereta, tapi tidak memiliki kuda, pikirku.

***

???

Setelah kelompok Ray meninggalkan restoran, seorang gadis yang duduk agak jauh dari mereka, di dekat pintu masuk, berdiri dari kursinya.

Dia hanyalah Master lain yang kebetulan ada disana pada saat itu. Namun, karena dia telah melihat sesuatu yang dia, sebagai salah satu anggota klan tertentu, tidak bisa abaikan, dia meninggalkan restoran tepat setelah memastikan kalau kelompok Ray sudah tidak ada di sana lagi.

Dia segera pergi ke sebuah bangunan tertentu di ibukota. Itu adalah markas dari klan-nya, dan bangunan itu bergaya Jepang, meskipun tidak sama dengan markas Lunar Society.

Itu sudah dapat diketahui dari desain luarnya. Bangunan itu terlihat seperti rumah milik guru bela diri, lengkap dengan doko di dalamnya. Hal lain yang mencolok adalah penanda yang bertuliskan nama klan itu di atasnya, karena itu ditulis dengan sangat indah.

“Onee-sama! Ada hal yang perlu kulaporkan! Ini darurat!” gadis yang tadi berada di restoran berteriak saat dia berlari masuk ke dalam dojo dan memanggil seseorang yang ada di dalam.

“Sialan, suaramu terlalu keras,” kata seorang wanita dengan nada berat.

Wanita itu memiliki tinggi lebih dari 180cm, memiliki tubuh yang tertutupi otot-otot kekar, mata yang bersinar, dan taring tajam yang tampak berbahaya.

Semua itu, digabungkan dengan telinga mirip serigala di kepalanya dan ekor di belakangnya, membuatnya terlihat sangat mirip dengan seekor predator karnivora. Dan karena penampilan seperti itu, begitu juga dengan sikapnya, orang-orang yang dekat dengannya sering memanggilnya “one-sama” atau “nee-san” meskipun tidak memiliki hubungan darah.

Wanita kekar itu berdiri di tengah dojo, sambil memegang tombak di tangannya. Di sekitarnya, terdapat Master yang baru saja dikalahkan, yang semuanya tampak hampir mati. Mereka, juga, merupakan Master yang tergabung di klan yang sama dengan gadis yang baru saja meninggalkan restoran dan sampai disini.

Dari pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya, gadis itu menduga kalau dia sempat tepat setelah mereka selesai latihan, dan dia hanya bisa merasa lega karena hari ini dia sedang libur.

“Lalu? Ada apa, Tomika?” tanya wanita kekar itu, membuat gadis itu terkejut. “Bukankah hari ini kau pergi keluar untuk menjalankan quest?”

“I-Ini gawat, nee-san!” teriak gadis yang bernama Tomika itu.

“Katakan saja padaku apa yang gawat,” kata wanita kekar itu. “Apakah darling akhirnya online atau sejenisnya?”

Darling yang dia bicarakan tidak lain adalah ketua klan tersebut. Karena suatu urusan di dunia nyata, sekarang dia tidak bisa log in untuk sementara waktu.

Malang bagi mereka yang ada di klan itu, ketiadaannya telah menyebabkan latihan wanita kekar itu menjadi lebih keras dari hari ke hari. Bagaimanapun, sudah jadi rahasia umum di dalam maupun di luar klan kalau wanita itu benar-benar jatuh hati kepada ketua muda itu.

“Lunar Society mungkin sedang merencanakan sesuatu…”

“Sekte gila itu? Katakan.” Tiba-tiba, wanita itu mulai mengeluarkan aura mengancam.

Itu bukan hanya disebabkan oleh stats milik avatar-nya, tapi juga intensitas emosinya. Semua orang yang ada disana—bahkan anggota klan yang roboh di lantai—bisa merasakannya dengan jelas.

“Ki-King of Assassins tadi ada di restoran guild dan, uh…”

“Oh? Si keparat itu? Sendirian?” wanita kekar itu memotong perkataan Tomika dan bertanya.

“Ya. Dan dia berbicara kepada sebuah party tertentu dengan gembira, dan sebelum menghilang, dia meninggalkan sebuah kantong dengan sesuatu tertulis di atasnya kepada mereka.”

Tsukikage tidak pernah lupa menunjukkan senyum di wajahnya, jadi sulit untuk membantah kalau dia terlihat gembira, dan Tomika berada terlalu jauh dari mereka untuk mengetahui kalau isi dari kantong itu hanyalah bayaran untuk teh-nya.

Hasilnya, kesan yang dia dapat dari percakapan mereka sama seperti yang gadis itu jelaskan.

“Hmm… Apakah kau yakin itu bukan sekedar party milik sekte itu?” tanya wanita kekar itu.

“Yah… dia

Berbicara dengan BBB dan Ray Starling, pria yang menjadi terkenal setelah Permainan Franklin.”

“Ohh…?” Wanita itu tampak tertarik dan menyeringai. Ekspresi itu membuatnya benar-benar tampak seperti seekor predator. “’Unbreakable’ yang dirumorkan itu, eh? Dan B3? Aku penasaran dengan apa yang dia lakukan setelah membubarkan klan-nya, tapi aku tak pernah menyangka dia akan berurusan dengan sekte itu. Kurasa ini artinya rumor itu hanyalah sebuah bualan.”

B3, faktanya, memang “berurusan dengan sekte itu,” tapi hanya sebagai anggota klub dunia nyata yang diketuai oleh mereka, dan sudah jelas tidak seperti yang wanita itu bayangkan.

“Dan? Apa yang sedang mereka rencanakan?” tanya wanita itu.

“Aku tidak tau terlalu banyak… tapi sebelum mereka meninggalkan restoran, aku mendengar kalau mereka berencana pergi ke Torne…” kata Tomika.

“Torne? Yah, Festival Kincir Bintang akan segera dimulai. Mungkin rencana itu ada hubungannya dengan festival itu.” Wanita itu berulang kali menyentil gagang tombaknya menggunakan jempolnya saat dia mencoba menduga rencana antara kelompok Ray dan Lunar Society—yang sebenarnya tidak ada. Meskipun tidak dapat menemukan jawabannya, dia akhirnya mampu membuat suatu keputusan.

“Baiklah,” katanya. “Aku tidak tau apa yang mereka rencanakan, tapi pokoknya kita akan menghancurkan mereka.”

Singkatnya: Aku tidak tau, makanya aku mem-PK mereka.

“Ayo jadikan ini sebagai pertarungan sampingan sebelum pertempuran balas dendam kita yang sebenarnya. Kita akan mengacaukan apapun yang sekte gila itu rencanakan.”

“Tapi nee-san, ketua kita masih belum…”

“Ha! Satu-satunya alasan kenapa kita dikalahkan oleh Lunar Society adalah karena darling tidak bersama kita untuk menangani mereka. Aku tidak mau melibatkannya dalam pertempuran balas dendam saat itu semua adalah salah kita sendiri.”

Wanita itu kemudian terdiam sesaat dan mengambil nafas panjang.

“BANGUN KALIAN SEMUA, BANGSAT!” dia berteriak dengan begitu keras sampai seluruh dojo bergetar.

Suaranya membuat seluruh anggota yang berceceran di lantai segera melompat bangun dan berdiri tegap.

“Kita… K&R, akan pergi berburu! Pergi dan bersiaplah!” teriak Rosa, sang Nobushi Princess.

Mendengar perintah dari wakil ketua mereka, para anggota K&R—klan ketiga di ranking kerajaan dan klan PK terkuat di negara ini—mulai bersiap untuk melakukan serangan.

Dengan demikian, karena kesalahpahaman kecil dan kurangnya pemikiran mendalam, quest pencarian yang Ray lakukan hendak dihancurkan oleh klan PK terkuat di kerajaan.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    Itu mungkin benar,” setujuku. “Tapi mengabaikan hal ini akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.” kalimat ni paling biat gw jengkel sama pemikiran ray. ky kg ad ungkapan lain untuk mengekpresikannya

    Like

    1. Xavenroe says:

      Setuju wkwkwk

      Like

  2. Number says:

    Pria yang malang :v

    Like

  3. Rhea says:

    Thank for the chapter
    Ray “bad luck” starling… 😅

    Like

Leave a Reply to Rhea Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s