Infinite Dendrogram Volume 6 Chapter 4 A

Volume 6
Chapter 4 – Pertemuan Dunia Nyata (bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Reiji Mukudori

Sekarang adalah hari setelah aku diculik oleh Tsukuyo Fuso dan Lunar Society-nya.

Sejujurnya saat itu aku khawatir tentang apa yang akan terjadi kemudian, tapi berkat Figaro, aku tidak kesulitan untuk log out, melakukan istirahat yang cukup, dan pergi ke kampus.

Hari pertama bukanlah upacara masuk atau awal perkuliahan atau sejenisnya. Itu hanyalah sesi bimbingan tentang perkuliahan.

Kegiatan disini akan berbeda dengan di SMA atau apapun yang kita harapkan sebelumnya, jadi sudah jelas bimbingan itu diperlukan. Kami membaca materi yang mereka berikan kepada kami, mendengarkan penjelasan mereka, melakukan persiapan untuk awal kuliah minggu depan, dan mendapatkan penjelasan tentang jadwal kami ke depannya, tapi tidak satupun yang aneh tentang hal itu.

Aku menduga akan dilakukan OSPEK untuk membuat kami akrab dengan sesama mahasiswa, tapi sepertinya, mereka tidak melakukan hal itu lagi.

Bagus, itu artinya sekarang aku punya lebih banyak waktu untuk Dendro, pikirku dalam sekejap, sebelum menyadari bahwa itu mungkin bukanlah sesuatu yang seharusnya dipikirkan oleh mahasiswa teladan.

Tapi, kami tetap diberi sedikit waktu untuk memperkenalkan diri kepada sesama mahasiswa yang akan jadi teman sekelas kami sampai kami pindah ke jurusan yang berbeda dua tahun kemudian.

Karena aku berasal dari pedesaan yang jauh, tentu saja aku tidak mengenal seorangpun disini, tapi perkenalan itu sudah cukup bagiku untuk mengingat nama dan wajah dari sekitar 70% mahasiswa baru yang ada.

Dan juga, aku dan empat mahasiswa lain mengungkapkan bahwa hobi kami adalah bermain Infinite Dendrogram, jadi, saat jam istirahat, kami berkumpul dan membicarakan hal itu.

Seperti yang diharapkan dari mahasiswa yang seumuran denganku, mereka juga tidak bisa bermain terlalu banyak karena ujian atau, sama sepertiku, baru bisa mulai bermain setelah ujian selesai.

Aku merasa bahwa lima pemain adalah jumlah yang kecil, tapi itu masuk akal, mengingat kami adalah generasi mahasiswa malang yang persiapan ujiannya bersamaan dengan rilisnya Infinite Dendrogram.

Pokoknya, aku bersemangat tentang kemungkinan untuk menjalankan quest bersama dengan teman baruku, tapi sayangnya, mereka berempat bergabung dengan Tenchi.

Ada tujuh negara yang bisa dipilih! Apakah kebetulan seperti itu bisa terjadi?! Pikirku, benar-benar terkejut. Keempatnya sepertinya berpikiran sama denganku, jadi sepertinya itu memang benar-benar terjadi.

Tentu saja, menjalankan quest dengan orang dari sisi lain benua adalah hal yang sulit. Meskipun game RPG lain memiliki fitur teleport untuk mengatasi masalah seperti itu, di Dendro, teleportasi hanya bisa dilakukan menggunakan skill unik sebuah Embryo, metode untuk meninggalkan dungeon buatan, atau karena suatu kecelakaan aneh. Karena itu, kami harus menunda rencana kami sampai… suatu saat kami memiliki kesempatan.

Hal menarik yang perlu dicatat: meskipun keempatnya adalah pemain yang tergabung dengan Tenchi, mereka semua melayani pemimpin yang berbeda, yang menjadikan mereka sebagai rival, bukannya sekutu. Negara mereka sangat mirip dengan Periode Sengoku di Jepang, jadi bisa dikatakan bahwa mereka seperti bawahan Oda, Takeda, Chosokabe, dan Shimazu.

Jika diberi pilihan, aku mungkin akan berada di sisi Uesugi, pikirku.

Jadi, setelah jam bimbingan dan orientasi selesai, kami para mahasiswa baru dihadang oleh banyak bangunan tenda di lapangan kampus—wilayah ajakan klub.

Ada banyak partisipan dari berbagai klub, dan mereka semua sedang penuh semangat untuk mengumpulkan mahasiswa baru sebanyak mungkin. Kami para newbie banyak sudah terbiasa dengan hal itu, sementara bagi sebagian lainnya, itu masih agak terlalu berat.

Aku termasuk kelompok yang terakhir.

Bersusah payah melewati gerombolan orang yang mencoba mengajakku bergabung dengan klub mereka, aku bergerak menuju kantin untuk mengambil nafas.

“Yah, sepertinya perbedaan budaya antara kehidupan SMA dan kampus memang lebih besar dari yang kubayangkan,” gumamku pada diriku sendiri.

Meskipun tidak sama dengan yang kualami pada budaya asing di Dendro, itu masih cukup membuat kewalahan.

Kelelahan tubuh dan juga pikiran, aku meminum teh sambil dengan lesu menatap ke arah mading, yang tentu saja, memiliki poster ajakan untuk bergabung dengan klub.

“Klub, ya…?” gumamku.

Banyak orang menganggap bahwa mahasiswa masih belum lengkap jika mereka tidak bergabung dengan sebuah klub dan menghabiskan sebagian besar masa muda-nya untuk membentuk ikatan dengan sesama anggota klub. Tapi, melakukan hal itu akan memberikan dampak negatif pada waktu bermain Dendro ku.

Aku sepenuhnya sadar bahwa seorang mahasiswa seharusnya tidak lebih mementingkan MMO dibandingkan komunikasi dan hubungan yang dibuat di kampus, tapi aku ingin mengamankan waktu online ku sebanyak mungkin.

“Jika saja disini adalah klub Dendro atau sejenisnya…”

Jika memang ada, aku bisa mendapatkan pengalaman sosial di kampus tanpa perlu mengurangi waktu online-ku.

Tapi, meskipun klub untuk semua game mungkin memang ada, sebuah kampus tidak akan pernah memiliki sebuah klub yang hanya berfokus pada sebuah game. Tidak akan. Setidaknya, itulah yang kupikirkan sampai aku melihat ke ujung mading itu.

“… Ternyata ada?”

Benar saja, ada sebuah disana yang bertuliskan “Club Infinite Dendrogram” dalam bahasa Inggris, yang mana judulnya sudah menjelaskan segalanya. Aku penasaran kenapa mereka tidak menggunakan nama Jepang, tapi aku hanya bisa berpendapat bahwa hubungannya dengan singkatannya. “CID” adalah singkatan yang mudah diingat.

Pokoknya, aku tidak akan mengabaikan penemuan penuh berkah ini.

Sebuah klub Dendro bagaikan sambil menyelam minum air. Itu akan membuatku bisa menjalani kehidupan kampus dan bisa mengenal sesama pemain Dendro disini.

Yah, suasana bisa jadi canggung jika ada orang yang tergabung dengan Dryfe, tapi itu tetap akan menarik kan.

Aku mengikuti peta yang disediakan, dan berjalan menuju ruangan CID. Itu adalah pertama kalinya aku datang ke bagian kampus ini, jadi aku merasa sedikit tersesat dari waktu ke waktu, tapi pada akhirnya aku tiba di tempat tujuanku.

Pintu ruangannya memiliki papan kayu yang tampak agak mewah, yang bertuliskan “Club Infinite Dendrogram.”

Dengan sedikit gugup, aku mengulurkan tangan dan mulai mengetuk.

“Masuuuk,” kata seseorang yang ada di dalam.

“Baik,” kataku sambil membuka pintu itu.

Pada saat itu, suatu sensor bahaya di dalam otakku mengirimkan reaksi terlambat terhadap suara yang berasal dari dalam ruangan itu dan mendesakku untuk berhenti. Tapi sayangnya, aku sudah membuka pintu, dan sekarang melihat apa yang sedang menunggu di baliknya.

 “Mahasiswa baru, kurasa? Haloo! Selamat datang di Club Infinite Dendr—“

Pada saat itulah aku menutup pintu ruangan itu.

Aku punya segala alasan untuk melakukannya.

Bagaimanapun, wajah yang kulihat disana adalah wajah yang mau tak mau terukir di dalam otakku. Itu adalah wajah yang baru kemarin kulihat… wajah milik Tsukuyo Fuso.

Aku mungkin salah lihat, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk membuka pintu itu dan memastikannya. Tidak berlebihan untuk mempercayai bahwa setan itu, sama seperti Shu, bermain sebagai diri aslinya. Hell, mengingat latar belakang sekte agama-nya, sudah wajar jika dia memakai wajah aslinya.

Tidak, persetan dengan alasan kenapa dia memakai wajah aslinya, yang jadi masalah terbesar disini adalah orangnya sendiri.

“Sialan! Seharusnya aku lebih berhati-hati!”

Aku benar-benar mengabaikan kemungkinan bahwa dirinya berada di kampus yang sama denganku! Aku pernah diberitahu bahwa sekte agama sering menggunakan klub untuk mengumpulkan anggota baru, jadi kenapa aku tidak menghubungkan titik-titik itu?! Sial! Aku baru saja keluar dari wajan penggorengan dan malah masuk ke dalam api! Kehidupan kampusku kemungkinan akan hancur tepat di hari pertama!

Aku segera berbalik dan bersiap untuk berlari…

“Kenapa kau lari?”

… tapi sebelum aku bisa cabut, pintu ruangan terbuka, dan sebuah tangan ramping terulur dari dalam dan memegang tengkuk leherku. Aku tetap berusaha untuk bergerak, tapi itu semua sia-sia belaka.

Itu terasa mustahil secara mekanis, tapi setelah aku menoleh ke belakang, aku melihat wanita monster itu berpegangan pada kusen pintu menggunakan tangannya yang satunya.

Yah, Aku… rasa satu tangan sudah cukup untuk membuatku sama sekali tak dapat bergerak… MATAMU! Apa-apaan kekuatan tubuh bagian atas itu?! Memangnya kau ini kakak perempuanku?!

“Wow, nggak tau kenapa, tapi kau terlihat sangat ketakutan,” katanya, mungkin tidak menyadari penyebab sebenarnya dari kepanikanku. “Ayolah, nggak ada yang perlu di takutkan. Ayo masuk dan minum sedikit teh.”

Setan itu menyeretku ke dalam ruangan dengan kekuatan diluar batas manusia, membuatku merasa seperti seekor hamster yang sedang ditelan bulat-bulat oleh seekor ular. Lalu dia mendorongku ke atas tempat tidur yang kemungkinan besar mereka gunakan untuk bermain Dendro.

“Kau datang kemari untuk bergabung dengan klub, kan? Kenapa kau malah lari?”

Apakah itu perlu ditanyakan? Pada dasarnya aku bertemu dengan setan alas tepat setelah mengalami mimpi buruk tentang dirinya. Tentu saja aku akan lari.

“Ya ampun, sungguh ekspresi yang buruk. Kenapa kau begitu…?” katanya sebelum melihat kartu mahasiswa-ku. “Umm, namamu adalah…”

“Ah?!” Aku terkejut saat menyadari bahwa dia telah mengambil kartu itu dari saku-ku tanpa kusadari. Dia kuat gila dan punya jari yang lengket!

“Ok, jadi namamu adalah ‘Reiji Mukudori’… Oh?” Dia sedikit memiringkan kepalanya kesamping, jelas menyadari sesuatu.

Oh, sial.

“Tatapan di matamu itu, suaramu, dan… ‘Reiji Mukudori’? Ray Starling?”

Sialan! Inilah yang kudapat karena hanya menerjemahkan nama keluargaku ke dalam bahasa Inggris! Seharusnya aku membuatnya lebih sulit untuk ditebak!

“Oh, begitu. Jadi itu penyebabnya,” katanya sambil menyeringai.

Bagiku, ekspresi itu benar-benar horor.

“Sudah, sudah… kau tidak bisa lari disini, kan?”

Oh tidak. Ini sangat buruk.

Dia hendak memaksaku untuk bergabung dengan sekte-nya, dan aku tidak punya cara untuk kabur. Bagaimana aku harus menangani hal ini…?

“Baik,” katanya saat dia mulai menggerakkan tangannya dengan perlahan. “Mari mulai dengan rasa terima kasihku untuk yang kemarin.”

Dan kemudian…

“Permisi.” Pintu ruang klub terbuka, dan pihak ketiga masuk ke dalam ruangan.

Sebagian dari diriku mengira bahwa itu adalah King of Assassins, tapi sebenarnya itu adalah orang yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Itu adalah seorang gadis dengan rambut ikat kepang, mata yang agak sipit, dan memakai kacamata, yang semuanya membuatnya terlihat seperti orang yang rajin.

“Wakil Ketua Tsukikage memintaku untuk membawakan beberapa dokumen ke tenda ajakan klub, dan…”

Dia menghentikan perkataannya dan menyadari situasi di dalam ruangan itu. Si setan—tersenyum lebar—sedang menahanku di atas tempat tidur, sementara aku—ketakutan setengah mati—berusaha kabur dengan putus asa. Pemandangan itu membuat gadis itu menghela nafas.

“Ketua, bisakah kau menahan diri untuk tidak menekan laki-laki di lingkungan kampus?” tanyanya, berbicara dengan nada yang begitu normal sampai-sampai hampir tidak cocok dengan keadaan saat ini. Hal itu memunculkan setitik harapan di dalam diriku.

Gadis ini mungkin… pikirku sambil menanti apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Lebih penting lagi, dia sepertinya tidak menginginkan apapun yang akan kau lakukan. Pelecehan seksual terhadap pria itu juga merupakan kejahatan sama seperti sebaliknya. Cepat lepaskan dia.”

Ternyata benar. My Gosh, dia benar-benar orang normal.

Dia bukan seorang setan, maupun sekretaris super.

“Oh, ayolaaah, aku baru saja menangkapnya, kau tau?” kata si setan.

Aku bukanlah sejenis pokemon yang bisa kau tangkap, kampret!

“Aku baru saja mau mengundangnya ke klub… dan tentu saja menjadikannya salah satu dari kitaaaa,” lanjut setan itu.

“Bukankah menurutmu kau agak terlalu memaksa?” tanya gadis normal itu. “Lepaskan dia.”

“Tidaaaak, aku mau menjadikannya milikkuuuu!”

Aku jauh lebih suka jika kau tidak melakukannya!

“Ketua, jika kau tidak mendengarkanku, aku akan keluar dari klub.”

“Eh?”

“Itu akan menyisakan dirimu dan wakil ketua, dan dua orang saja tidak cukup untuk menjaga klub tetap aktif, kan? Apakah kau menginginkan itu?”

Perkataan gadis normal itu membuat setan ini gentar. “Itu… akan jadi masalah…”

“Kalau begitu tolong berhenti mendekatinya dengan tidak benar dan mengajaknya dengan paksa. Aku akan mengatakannya lagi. Lepaskan dia.”

Pada saat itu, di mataku, gadis itu terlihat seperti seorang dewi.

“Tapi…” gumam setan itu.

“’Tapi’ apa?” tanya gadis normal itu.

“Baiiiiik…”

Dan kemudian, meskipun dengan enggan, wanita itu akhirnya melepaskanku.

Bebas! pikirku sambil melompat dari tempat tidur dan menjauhkan diri dari setan itu, begitu jauh sampai punggungku menyentuh dinding.

“Dia begitu ketakutan,” kata sang gadis normal. “Apakah kau melakukan hal lain selain tindakan seksual yang tak diharapkan?”

“Tidaaak. Aku tidak berbuat banyak. Aku hanya menculi—mengajaknya di Dendro.

Menanggapi hal itu, gadis normal itu hanya menatapnya dalam diam.

Setan ini jelas terlalu bersalah untuk mengatakan “Aku tidak berbuat banyak.”

Gadis normal itu kemudian menghela nafas dan berkata, “Ketua, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu. Tolong duduk di tempat kau berdiri. Dengan benar. Sambil berlutut.”

“Um… tapi ini lantai.”

“Jangan khawatir. Aku yakin kakimu bisa menahannya dengan baik.”

“Bukan itu masalahnya disini…” setan itu benar-benar sedang dibuat kewalahan.

Siapa sebenarnya gadis ini…? Pikirku dengan heran.

“Kau bisa melarikan diri sekarang,” kata gadis normal itu kepadaku. “Kau tidak boleh membiarkan dirimu ditangkap oleh orang seperti… ini…”

“Seperti apaaaa…?” keluh setan itu.

Aku merasa seperti ditarik ke atas kapal saat aku hampir saja tenggelam.

“Terima kasih,” kataku, secara tulus mengucapkan rasa terima kasihku. Kemudian aku meninggalkan makhluk jahat itu. Setelah berada di luar, aku berhenti sejenak untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

“Ketua,” kata gadis normal itu. “Aku tau kalau Infinite Dendrogram memberikan kebebasan yang sangat besar kepada kita, tapi seharusnya kau tidak membawa pemikiran itu ke dunia nyata. Kau mungkin dapat menculiknya tanpa masalah di dalam game, tapi disini, pelecehan seksual adalah pelanggaran hukum dan moral. Apakah kau menjadi seorang penjahat?”

“Eeh? Tapi kau salah paham. Kali ini dia datang sendiri kemari. Dan kedua, saat kau online, kau juga…”

“Aku memisahkan kehidupan game dan dunia nyataku, terima kasih banyak.” Gadis normal itu benar-benar memarahinya karena hal ini.

Pokoknya, berkat campur tangannya, aku berhasil lolos dari taring beracun milik setan itu.

Oh, aku lupa untuk menanyakan namanya, pikirku saat aku berjalan menjauh.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

 

 

7 Comments Add yours

  1. figaro says:

    Bukan rambut pirang, ternyata rambut item.

    Like

  2. gon says:

    Keliatannya mustahil ray berteman dgn orang normal

    Like

  3. Tamatlah riwat hiidupmu di kampus Nak. alamat di gangguin Nek Lampir tiap hari. xixixixixi… XD
    tinggal tunggu Meet up Offline temen separty si Ray…

    Liked by 1 person

  4. Seika Ushizu says:

    hmm berarti tuh ‘cewe normal’ adalah cewe yg muncul di cover ya? dan ane wiki ‘dia’ bakal jadi anggota guildnya/klannya si Ray nanti pas peperangan,, btw thanks selalu buat update infinite dendrogramnya 🙂

    Like

    1. Seika Ushizu says:

      eh atau yg di cover beneran si Tsukuyo Fuso?

      Like

      1. gon says:

        No spoiler please

        Like

  5. Nai says:

    Njir beneran satu kampus btw thx kuma

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s