Infinite Dendrogram Volume 6 Chapter 3 A

Volume 6
Chapter 3 – Singa dan Rubah, Cahaya dan Kegelapan (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Markas Lunar Society

Figaro tiba di markas Lunar Society sekitar sepuluh menit sebelum Ray dibangunkan oleh Nemesis.

Belum lama sejak dia meninggalkan Gideon. Superior itu tau jalan tercepat menuju pusat ibukota, dan dia menempuh jarak itu sambil mengenakan equipment berbasis AGI terbaik yang dia miliki, jadi dengan kecepatannya yang menakjubkan itu, hal itu jelas bukanlah hal yang aneh.

Berdiri di depan pintu gerbang Lunar Society, Figaro menghabiskan beberapa saat untuk mengganti equipment yang sesuai dengan situasi saat itu, seperti armor anti-debuff untuk mengatasi musuh utamanya, sebuah kapak batu yang begitu besar sampai-sampai bisa membelah sebuah mansion menjadi dua, dan sebuah aksesoris mirip kacamata tunggal.

Yang terakhir bukanlah item yang terlalu langka atau mahal. Item itu hanya memiliki efek Kewaskitaan yang lemah, yang sering digunakan untuk mencari jebakan dan sejenisnya. Namun, Figaro berencana untuk menggunakannya dengan tujuan yang benar-benar berbeda—hanya untuk melihat punggung tangan kiri milik setiap orang.

Keberadaan tato di sana akan menandakan bahwa seseorang adalah Master.

“Jika aku menghabisi seluruh Master yang ada disini, mereka tidak akan punya pilihan lain selain melepaskan Ray,” gumamnya.

Dan kacamata tunggal itu dia pakai untuk membantunya membedakan siapa yang bisa dibunuh dan siapa yang akan dibiarkan hidup.

Benar sekali, pria yang sama dengan yang telah menjebol blokade di sebelah selatan ibukota dengan cara memusnahkan klan Mad Castle hendak menyelamatkan Ray dengan membantai klan Lunar Society. Dan sayangnya, tidak ada seorangpun disana yang bisa memberitahunya tentang bertapa absurd dan cerobohnya rencana itu.

Modus operasi Superior itu benar-benar berbeda dengan gaya bangsawan yang kalian harapkan.

“Ayo mulai,” kata otak udang berwajah tampan itu saat memulai serangannya dengan melemparkan kapak raksasanya ke arah gerbang utama.

Tak perlu dikatakan lagi bahwa gerbang itu roboh hanya dengan sekali serang, dan Figaro tidak ragu untuk melangkahi reruntuhan itu dan memasuki bangunan itu.

Dengan demikian dimulailah tarian kehancuran milik singa itu.

Dinding-dinding runtuh, bangunan-bangunan roboh, Master-Master menghilang, dan para tian lari pontang-panting menyelamatkan diri.

Tidak butuh banyak kekacauan seperti itu sampai Tsukuyo sendiri berdiri di depan Figaro. Kaguya juga dipaksa untuk mengakhiri perbincangannya dengan Nemesis dan bergabung dengan Master-nya dalam pertarungan itu.

Pada saat itulah Ray terbangun dan melihat kedua Superior itu saling berhadapan satu sama lain, sama-sama berniat untuk membunuh.

Dengan markas Lunar Society sebagai panggungnya, kedua Big Three itu sedang bertarung sampai mati—situasi yang jelas bisa disebut sebagai Clash of Superior.

*

Paladin, Ray Starling

Aku dan Nemesis berdiri di ruangan yang hancur berantakan dan mengamati pertarungan itu.

Kedua tangan Figaro terjalin dalam Crimson Dead Keeper yang sudah menjadi ciri khasnya, dan dia memegang sebuah busur di tangannya—senjata yang jarang kulihat dia pakai.

Dari perkataannya, aku bisa menduga bahwa dia datang kemari untuk menyelamatkanku, tapi niat membunuhnya terasa terlalu besar.

Apakah sesuatu terjadi antara dirinya dan setan itu? pikirku.

Bicara soal Tsukuyo Fuso, dia memegang sebuah tongkat yang sama mengancamnya seperti Gloria ɑ milik Figaro atau Yinglong Fang’s milik Xunyu, dan dia juga terlihat sangat ingin membunuh, kemungkinan besar karena keadaan tragis yang dialami markasnya. Bahkan pihak ketiga sepertiku bisa merasakan rasa permusuhan di antara mereka.

Mungkin hanya karena intensitas itu saja, atau karena skill mereka yang menakjubkan, pertarungan antara Over Gladiator dan High Priestess itu benar-benar di atas normal.

Figaro tidak memakai equipment berbasis AGI, jadi aku bahkan bisa mengikuti pergerakannya, dan mereka sangat menakjubkan. Keempat rantai yang ada di tangannya menyerang secara otomatis, dan dia memasangkan serangan itu dengan tembakan dari busurnya.

Bukan hanya itu, tapi dia melakukan hal itu sambil bergerak kesana-kemari dengan memijak dinding dan pilar, dan semua anak panah yang dia tembakkan terlihat melanggar hukum fisika, meninggalkan bekas lingkaran sempurna seukuran pohon setiap kali mereka mengenai sasaran.

Disisi lain, Tsukuyo Fuso benar-benar berbeda dengan dirinya saat melawan melawanku.

Dia mengenakan gaun biru gelap yang sangat mirip dengan malam yang kulihat sebelumnya, hanya lebih pekat, dan dia melepaskan gelombang hitam yang sangat mirip dengan burung walet atau bulan sabit setiap kali dia mengayunkan tongkatnya. Jujur, dia terlihat seperti boss akhir yang muncul di game RPG.

“Apakah gaun biru gelap itu adalah bentuk lain dari Lunar Reduction Field?” tanyaku.

“Ya.” Angguk Nemesis. “Kaguya… Maiden milik Tsukuyo… berubah menjadi hal itu beberapa saat yang lalu.”

“Maiden…? Oh, jadi kita memiliki kategori yang sama.”

Kesan yang mereka berikan kepadaku benar-benar berbeda dengan yang kudapatkan dari Hugo dan Cyco, sih. Dan juga, gaun yang dia kenakan tampak seperti versi padat dari malam yang dia gunakan untuk mengalahkanku.

Hal itu didukung dengan fakta bahwa Figaro, meskipun unggul dalam pertarungan jarak dekat, malah melawannya dari jarak jauh, yang berarti bahwa pakaian Embryo itu mungkin adalah Lunar Reduction Field yang jauh lebih efektif atau lebih sulit di tahan.

Gelombang mirip burung walet/bulan sabit itu kemungkinan besar memiliki sifat yang sama.

Hal lain yang perlu dicatat adalah malam berskala luas yang dia gunakan untuk menekanku sedang tidak aktif. Tsukuyo Fuso sendiri mengatakan bahwa malam itu tidak efektif pada lawan berlevel tinggi, jadi saat menghadapi musuh seperti Figaro, dia mungkin tidak punya pilihan lain selain meng-“compress”-nya.

Juga, buff tanpa henti milik Figaro adalah sebuah perlawanan yang bagus untuk debuff milik Tsukuyo. Figaro menjadi semakin kuat setiap detiknya. Pergerakannya secara perlahan menjadi terlalu cepat untuk kuikuti, dan anak panahnya menyebabkan semakin dan semakin banyak kehancuran.

Keduanya kurang lebih berada di posisi yang setara saat ini, tapi itu berarti pada akhirnya Figaro akan unggul.

“Dilihat dari keadaannya, sepertinya otak udang itu akan menang,” komentar Nemesis.

“Ya,” aku mengangguk, tapi kemudian menyadari sesuatu. “Hm?”

Alur pertarungan ini sendiri bergerak ke arah yang menguntungkan Figaro, tapi ada dua hal yang kupikir aneh dan mengherankan.

Pertama adalah fakta bahwa Figaro sama sekali tidak melihat ke arahku. Aku menyadari alasan yang tepat untuk hal itu, sih. Dia sendiri yang mengatakan tentang hal itu kepadaku.

Suatu hari, setelah kami melakukan latih tanding kecil, kami berbincang-bincang sebentar. Aku menggunakan kesempatan itu untuk bertanya kenapa dia begitu bersikeras untuk bermain solo, baik di dalam Tomb Labyrinth maupun di luar.

Figaro jelas tidak memiliki kesulitan untuk berkomunikasi. Saat sedang latih tanding, duel, atau saat makan siang, dia jelas tidak kesulitan untuk membuat percakapan yang nyaman denganku, Shu, atau para duel ranker kerajaan, jadi hal itu membuatku semakin penasaran tentang kebiasaan solo-nya.

Sebagian dari diriku berpikir bahwa itu mungkin adalah topik yang sensitif, tapi Figaro tidak ragu untuk menjawabnya, “Karena aku tidak bisa bekerja sama dengan siapapun.”

Aku tidak tau rinciannya, tapi sepertinya, saat berpartisipasi dalam pertarungan yang melibatkan seseorang yang dia anggap sebagai sekutu, kemampuan bertarungnya akan langsung menurun, dan itulah sebabnya dia tidak pernah bergabung dengan satupun party, dan selalu bergerak solo.

Itu bukanlah efek dari sebuah skill Dendro atau debuff atau sejenisnya. Itu ada hubungannya dengan kehidupan nyata-nya, jadi aku memutuskan untuk tidak menggalinya lebih dalam lagi.

Karena itu, saat ini, Figaro dengan sengaja mengabaikanku karena jika aku memasuki pandangannya, pergerakannya akan menjadi lebih tumpul.

Meski begitu, gaya bertarungnya sedikit kehilangan kecemerlangannya yang biasa, yang membuktikan bahwa dia tidak berbohong dan bahwa keberadaanku disini membebani dirinya.

Hal aneh lain yang kusadari adalah Figaro sepertinya sedang sangat terburu-buru sampai-sampai membuatnya tampak seperti sedang panik. Sesekali, dia berpaling dari Tsukuyo Fuso dan, karena suatu alasan, menatap ke arah langit.

Karena Tsukuyo tidak menggunakan efek malam berskala luas, itu tidak lebih dari sekedar langit normal yang biasa kau lihat saat sore hari.

Hal lain yang menurutku aneh bukanlah sesuatu pada Figaro, tapi pada Tsukuyo.

“Dia tampak percaya diri,” gumamku.

Meskipun dia terselimuti tabir malam, sesekali aku bisa melihat ekspresinya secara sekilas—sebuah senyum tenang.

Itu sama sekali tidak cocok dengan situasinya saat ini. Figaro tumbuh semakin kuat dari waktu ke waktu, dan serangannya mulai menembus malam yang menyelimuti Tsukuyo Fuso.

“Ah…” dia terkesiap saat salah satu anak panah Figaro menggoresnya dan menghilangkan seluruh tangan kirinya. Hanya dalam sekejap, dia menjadi buntung sama sepertiku.

“Marcy of the Holy,” kata Tsukuyo, mengatakan sebuah nama skill. Cahaya berkumpul dimana tangan kirinya sebelumnya berada, dan membentuknya ulang seolah-olah tangan tersebut tidak pernah hilang.

Luka separah itu, disembuhkan hanya dalam beberapa detik.

“Jadi itu adalah sihir penyembuh milik High Priestess…” gumamku. Meskipun dia mungkin dapat menyembuhkanku dengan mudah, aku masih sama sekali tidak berniat untuk meminta bantuannya. “Meski begitu, sepertinya Figaro tidak mungkin kalah dalam pertarungan ini.”

Serangan Figaro, damage yang serangan itu berikan, dan cara Tsukuyo Fuso bereaksi membuatku semakin yakin.

Tsukuyo menggunakan kemampuan penyembuh-nya yang luar biasa dan pengurang damage dari Lunar Reduction Field untuk dapat mengulur pertarungan itu, yang berarti bahwa Figaro—seorang petarung yang menjadi semakin kuat seiring berjalannya waktu—tidak mungkin akan kalah dalam pertarungan ini.

Tapi…

“Ya ampun, orang bodoh sepertimu terlalu berlebihan untuk kuhadapi sendirian,” gumam Tsukuyo sambil mengusap alisnya menggunakan tangan kiri yang baru saja disembuhkan.

Dia sepenuhnya benar tentang hal itu. Figaro berada di puncak duel ranking dan hampir tak tertandingi dalam pertarungan solo. Sebaliknya, Tsukuyo Fuso memiliki sebuah job support yang berfokus untuk membantu anggota klan-nya saat mereka melakukan tindakan licik.

Yang satunya adalah yang terkuat dalam pertarungan tunggal, sementara yang satunya lagi adalah puncak dari kepemimpinan. Hasil dari pertarungan satu lawan satu diantara mereka sudah dapat dipastikan sejak awal.

“Tidak apa-apa kan kalau aku menggunakan satu atau dua sekutu…” gumam Tsukuyo.

Kami sedang berada di markas klan-nya, jadi sudah jelas ada banyak pengikutnya disini. Tapi, aku tidak melihat satupun dari mereka setelah memandang daerah sekitar secara sekilas. Disini hanya ada Figaro, Tsukuyo Fuso, dan kami.

“Dia sendirilah yang menyuruh para pengikut, Master dan juga tian, untuk menjauhkan diri dari pertarungan,” kata Nemesis.

Setan itu mungkin menyadari bahwa lawan seperti Figaro itu terlalu berlebihan untuk mereka, dan mereka tidak akan banyak membantu dalam pertarungan melawannya.

Tapi, dia pasti sepenuhnya memahami bahwa build support seperti dirinya tidak akan punya kesempatan menang dalam pertarungan melawan build petarung murni seperti Figaro, dan… tunggu.

“Apakah dia benar-benar sendirian?” aku menyuarakan pikiranku. Kami hanya berbicara sebentar, tapi aku sudah bisa memahami bahwa Tsukuyo bukanlah orang yang cukup baik untuk membuat seluruh bawahannya mundur dan menghadapi ancaman yang ada sendirian untuk mengurangi korban.

Dan kemudian, seolah-olah untuk menjawab dugaanku…

“Kau bisa bergabung dengan kami sekarang, Kage.”

“Sesuai keinginan anda.”

Benar. Dia berbicara dengan sesuatu, dan “sesuatu” itu menjawabnya.

Sepertinya itu memiliki suara seorang pria, tapi aku tidak yakin akan hal itu. Bagaimanapun, suara itu berasal dari bayangan sore hari yang memanjang, dan mencapai telingaku seperti sebuah gema.

“The Shades and Death, They Beckon—Erlkönig.” Suara dari bayang-bayang itu mengatakan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai kalimat berkekuatan tinggi—sebuah skill.

Tiba-tiba, seluruh bayangan berubah dari warna hitam menjadi warna crimson dan terbangun menjadi sebuah tangan dengan cakar yang sangat menakutkan. Aku rasanya seperti sedang melihat mimpi buruk milik seorang anak kecil yang masih takut dengan kegelapan. Bayangan besar dan kecil… kegelapan dari setiap sudut berubah menjadi monster yang penuh dengan kedengkian murni.

“King of Assassins,” gumam Figaro dengan terkejut saat dia mulai menghindari monster itu.

Bayangan pohon yang ada di taman, bayangan reruntuhan bangunan, dan bayangan yang ada di bawah lentera yang rusak, dan bahkan bayangan milik Figaro berubah menjadi crimson, mendapatkan dimensi ekstra, dan mengarahkan cakarnya ke arahnya. Namun, meskipun cakar itu menakutkan, bayangan itu sendiri jauh lebih menakutkan, karena semua yang disentuhnya akan langsung hancur.

Pohon yang ada di taman, reruntuhan bangunan, lentera rusak—semuanya di mangsa oleh bayangan milik mereka sendiri, dan hancur berkeping-keping.

Rasanya seperti sedang menonton para orang mati yang menyeret para makhluk hidup ke alam baka—panggilan langsung dari neraka.

Bayangan itu mengejar Figaro seperti gelombang yang mengamuk.

“Bayangan ini adalah skill ultimate milik sebuah Embryo!” teriakku, sangat yakin.

Sebelum suara itu menghilang, aku mendengar kata “Erlkönig.” Itu adalah nama dari sebuah puisi ciptaan Goethe dan diadaptasi menjadi nyanyian oleh Schulbert.

Puisi itu bercerita tentang Erlking yang memanggil seorang anak menuju kematiannya dari bayangan hutan malam, dan itu sangat cocok untuk apa yang sedang kulihat saat ini.

Hal lain yang perlu dicatat adalah keberadaan mereka yang menakutkan, karena itu setara dengan keberadaan yang kurasakan dari para ranker kuat yang banyak kuhadapi dalam latih tanding sebulan terakhir ini.

Figaro telah mengatakan bahwa bayangan itu dibuat oleh King of Assassins—sebuah job yang pernah Marie ceritakan padaku. Itu adalah versi barat dari Death Shadow miliknya, yang berarti pemilik job itu bisa saja setara dengan Superior Killer. Skill ultimate ini saja sudah cukup untuk memastikan bahwa King of Assassins adalah salah satu anggota terkuat di Lunar Society.

Namun…

“Ada yang aneh,” gumamku.

Bayangan itu menyerang Figaro, tapi tidak se sengit yang kau bayangkan. Rasanya seolah-olah bayangan itu hanya bertugas untuk menahan Figaro dan mencegahnya melakukan sesuatu, bukannya untuk membunuhnya. Sebagian dari bayangan itu juga ditempatkan disekitar Tsukuyo Fuso.

Untuk sesaat aku menduga bahwa mereka berniat untuk membatasi pergerakan Figaro dan memudahkan bulan sabit milik Tsukuyo untuk mengenainya, tapi karena suatu alasan, Tsukuyo malah menciptakan semacam barrier disekitar dirinya.

Itu mungkin adalah salah satu skill lain milik High Priestess. Setelah dia menciptakan barrier itu, sepertinya dia tidak lagi memiliki niat untuk menyerang.

Hanya bayangan itu saja tidak akan cukup untuk mengalahkan Figaro, dan Tsukuyo Fuso fokus sepenuhnya untuk bertahan, membuatnya terlihat seolah-olah mereka sedang mengulur waktu.

“Apa faedahnya melakukan hal itu?” aku menyuarakan pikiranku.

Hal pertama yang terpikirkan olehku adalah mereka sedang menunggu bala bantuan. Namun, tidak peduli seberapa besar pun klan Lunar Society, aku hanya bisa meragukan bahwa mereka memiliki begitu banyak Master yang bisa mengubah arah pertarungan ini, khususnya karena Figaro hanya menjadi semakin kuat seiring berjalannya waktu.

Akankah terjadi sesuatu jika mereka mengulur cukup banyak waktu?

“Ah…?” aku terkejut dalam diam saat menyadari bahwa bayangan yang ada di bawah kakiku menjadi cukup panjang.

Untuk sesaat, aku menduga bahwa bayangan itu juga akan menyerangku, tapi kemudian aku menyadari bahwa itu adalah hal yang alami—efek yang disebabkan oleh matahari yang perlahan tenggelam ke cakrawala.

Yah, sebentar lagi malam akan tiba, pikirku. Tunggu… malam?

“Apakah itu yang mereka incar…?” gumamku

Beberapa saat yang lalu, Figaro telah menatap ke arah langit dengan ekspresi panik. Apakah jangan-jangan dia tidak melihat langit itu sendiri, melainkan keadaannya langit yang menjadi semakin menggelap? Bagaimanapun, malam adalah Superior Embryo milik Tsukuyo Fuso.

Dari hal itu, aku dapat berasumsi bahwa…

“… Superior Embryo itu akan menjadi semakin kuat saat malam hari?”

Dalam video pembantaian klan PK yang Marie tunjukkan kepadaku, dalam pertarungan Tsukuyo Fuso melawanku, dan bahkan saat ini, dia hanya pernah menggunakan malamnya pada saat hari tidak benar-benar malam.

Jadi, apakah akan ada yang berubah jika dia menggunakannya di malam hari? Apakah itu akan membuatnya bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan selama siang hari? Seperti, katakanlah, skill ultimate milik Superior Embryo-nya?

“Kemungkinan besar itu benar,” kata Nemesis secara telepati. “Dengan semakin gelapnya hari, aku bisa merasakan bahwa Kaguya… Embryo miliknya… juga menjadi semakin kuat.”

Perkataannya mendukung pemikiranku.

Jika itu benar dan mereka benar-benar mengulur waktu sampai malam tiba, itu berarti bahwa Tsukuyo Fuso sangat yakin bisa mengalahkan Figaro jika dia bisa menggunakan skill ultimate-nya, dan itulah yang menyebabkan kepanikan Figaro.

Karena hal ini, Figaro harus mengalahkannya dalam selang waktu singkat yang kami miliki sebelum malam tiba, tapi bayangan itu mencegah hal itu.

Aku melihat dan menyadari bahwa, sambil berlindung di dalam barrier, setan itu sedang mengaktifkan semacam sihir—kemungkinan besar adalah sihir pendukung untuk membantu King of Assassins dan bayangannya.

Aku juga menyadari bahwa bayangan yang melindungi Tsukuyo tidak hanya menghalau Figaro, tapi juga mencegah Figaro untuk bergerak ke atas Tsukuyo Fuso.

“Mereka tidak membiarkannya menggunakan kartu as yang dia simpan,” kataku.

Tidak peduli seberapa kuat barrier itu dan seberapa tangguh bayangan itu melindunginya, mereka semua tetap bisa dihancurkan oleh kekuatan yang melampauinya.

Figaro memiliki hal semacam itu— skill item milik Superior special reward, Gloria ɑ, “Fang of Gloria: Overdrive.”

Selama Clash of Superior, skill itu telah mengeluarkan panas yang benar-benar memusnahkan Xunyu dan bahkan menghancurkan bagian atas barrier arena. Skill itu dapat memusnahkan bayangan itu dalam sekejap dan tidak akan kesulitan menghancurkan barrier milik setan itu.

Pertarungan ini sudah berlangsung cukup lama sehingga dia bisa melakukan hal itu dengan mudah.

Tapi, sayangnya, saat ini dia tidak dapat menggunakannya.

Kenapa? Karena kami sedang berada di ibukota.

Benar, markas Lunar Society terletak di salah satu distrik pemukiman di Altea.

Jika dia melancarkan Fang of Gloria, serangan itu akan dengan mudah menembus bangunan dan membakar rumah-rumah yang berada di luar kompleks bangunan ini. Untuk menghindari hal itu, Figaro harus melakukan hal yang sama seperti saat sedang melawan Xunyu dan menebas ke atas dari jarak dekat, atau menebas ke bawah dari atas.

Musuh sepenuhnya menyadari hal itu, dan mereka memastikan bahwa skenario itu tidak akan terjadi.

Bayangan yang mengelilingi Tsukuyo Fuso dan mencegah Figaro untuk mendekat, mengganggu pergerakannya sehingga dia tidak dapat bergerak ke atas Tsukuyo Fuso. Itu artinya selama bayangan itu ada disana, Figaro tidak dapat menggunakan kartu as yang dia miliki… dan tidak memiliki kesempatan menang. Namun, sampai saat ini Figaro masih belum menemukan lokasi King of Assassins, sehingga dia tidak dapat berbuat banyak melawan bayangan itu.

Untuk memecahkan kebuntuan ini, kami harus…

Nemesis menghela nafas. “Aku bahkan tidak perlu membaca pikiranmu untuk memahami apa yang sedang kau pikirkan.”

Benar, pikirku. Kami harus melakukan hal ini tanpa menjadi beban bagi Figaro, tapi aku sudah memutuskan apa yang harus kulakukan.

Hanya ada satu cara untuk membalikkan situasi ini—kami harus menangani King of Assassins dan membuat bayangannya menghilang.

Mungkin terkesan terlalu berani untuk menyatakan bahwa aku dapat melakukan hal itu, tapi aku harus membunuhnya dan membuat Figaro bisa bergerak bebas jika aku ingin agar dia menang melawan Tsukuyo Fuso.

Pertama, aku melihat ke sekeliling, tapi aku tidak melihat King of Assassins dimanapun.

Memang benar, bayangan yang bergerak dan langit yang semakin menggelap mengurangi jarak pandangku. Belum lagi bahwa…

“Meskipun aku bisa bergerak bebas, sudah jelas bahwa mereka tidak berniat untuk membiarkanku melarikan diri,” kataku.

Bayangan crimson itu menyelimuti area pertarungan seperti sebuah dinding. Satu-satunya bayangan yang tidak berubah menjadi crimson adalah bayangan yang ada di sekitarku dan setan itu. Itu untuk melindungi Tsukuyo Fuso… dan menjagaku tetap hidup. Apakah itu dengan cara melarikan diri maupun dengan kematian, mereka tidak berniat untuk melepaskanku.

Bukan berarti aku mau melarikan diri, tapi tetap saja.

Jujur, aku mungkin bisa menembus bayangan yang mengelilingi kami dengan cara menyelimuti Silver dengan Purifying Silverlight dan menerobosnya, tapi kemungkinan besar KoA akan langsung menahanku.

Aku sudah diberitahu bahwa itu adalah sebuah job yang sangat mirip dengan Death Shadow, jadi aku bisa menyimulasikan skenario itu sambil membayangkan Marie menggantikan tempat KoA. Dia akan menyerangku dari titik buta pada saat aku mencoba untuk bergerak, dan King of Assassins tentu saja dapat melakukan hal yang sama. Tentu saja, karena mereka tidak berniat untuk membiarkanku kabur atau mati, dia hanya akan membuatku pingsan lagi.

“Hm?” gumamku.

Tunggu dulu, pikirku. Ada sesuatu yang salah disini.

Jika mereka benar-benar tidak berniat untuk membiarkanku kabur, kenapa mereka tidak membuatku kembali pingsan pada saat aku terbangun? Sejak awal, kenapa mereka tidak…?

“Gh…” Pikiranku terpotong oleh erangan Figaro, disebabkan oleh salah satu bayangan crimson yang menyentuh bagian tubuhnya.

Dari titik sentuhan itu, bayangan itu mulai menggerogoti kulit Figaro, dan memberikan damage kepadanya.

Hal itu mempengaruhi kecepatannya, menyebabkan banyak bayangan menyerbu dan berniat untuk memangsanya.

Dia tidak dapat melarikan diri, dan bayangan crimson itu menyelimutinya, tapi kemudian…

“■■■!”

… Figaro mengeluarkan teriakan buas yang sudah familiar saat dia mengambil Gloria ɑ miliknya dan memusnahkan bayangan yang ada di sekitarnya.

Dia menggunakan versi standar dari skill milik Gloria ɑ, bukan versi Overdrive. Bukannya melepaskan hembusan cahaya pemusnah, skill itu hanya menyelimuti pedang itu dengan cahaya pemusnah tersebut. Meski begitu, damage yang diberikan tetap luar biasa, dan serangan itu dengan mudah memusnahkan bayangan yang ada di sekelilingnya.

Aku bahkan bisa membayangkan Figaro berlari menerobos seluruh bayangan itu dan mendekati Tsukuyo Fuso, tapi Tsukuyo dan King of Assassins sama-sama menyadari hal itu dan sudah bersiap untuk mengatasinya. Saat dia berada terlalu dekat dengan Tsukuyo, Figaro akan benar-benar dikelilingi oleh bayangan itu dan juga Lunar Reduction Field. Tidak peduli seberapa kuat dirinya, dia tidak akan dapat melakukan banyak hal menghadapi bayangan sebanyak itu saat sedang melemah.

“Kalau begitu dia mungkin harus berhenti menggunakan pedang, dan berganti menggunakan senjata jarak jauh?” komentar Nemesis. “Bagaimanapun, sampai sekarang dia menggunakan panah dan rantai itu.”

Itu masuk akal, tapi kurasa itu tidak akan berhasil, pikirku menanggapinya.

Tidak peduli seberapa cocoknya itu dengan situasi saat ini, kurasa tidak ada satupun senjata jarak jauh yang dapat memberikan damage fatal kepada Tsukuyo Fuso saat dia sedang berada di bawah efek Lunar Reduction Field, dan damage fatal adalah satu-satunya hal yang dapat membunuh High Priestess.

Sekali lagi, satu-satunya cara yang masuk akal adalah menerobosnya menggunakan Fang of Gloria: Overdrive, yang dapat membunuh Tsukuyo Fuso dalam sekejap meskipun dengan semua defense dan damage reduction yang dia miliki, dan…

“… Tunggu.” Aku menghentikan renunganku.

Nemesis, apa yang baru saja kau katakan?” tanyaku.

“’Senjata jarak jauh’?” katanya. “Atau apakah yang kau maksud adalah hal-hal tentang anak panah dan rantai itu?”

Rantai… Itu benar, rantai-rantai itu, pikirku.

Crimson Dead Keeper kesayangan Figaro memiliki skill “Range Extend” dan “Auto Enemy Detect.”

Sebelumnya aku pernah melihat Figaro melakukan latih tanding melawan Marie. Saat diperkuat oleh Superior Embryo-nya, Auto Enemy Detect menjadi begitu kuat sampai-sampai skill itu dapat menemukan Marie saat dia menggunakan skill Conceal level max-nya. Satu-satunya saat dimana rantai itu tidak dapat mendeteksinya adalah saat Marie menggunakan ultimate skill milik job Death Shadow: Art of Vanishing.

Karena hal itu, situasi saat ini benar-benar membingungkanku.

Meskipun King of Assassins bersembunyi di ruang sekitar sini, rantai yang Figaro gunakan hanya mengejar Tsukuyo Fuso, yang hanya bisa berarti bahwa King of Assassins sebenarnya tidak berada di ruang ini. Tapi, meskipun dia menghilang menggunakan skill yang mirip dengan Art of Vanishing milik Marie, sudah jelas dia tidak bisa mengaktifkannya dalam waktu terlalu lama. Seharusnya akan terlalu menguras MP dan SP untuk menghilang dan juga menggunakan bayangan untuk menyerang di saat bersamaan.

Dari apa yang dapat kupahami, Erlkönig kemungkinan besar adalah Embryo Type Territory. Ada banyak dari jenis itu yang hanya dapat mempengaruhi lingkungan didekat Master-nya, jadi sulit untuk membayangkan bahwa dia mengendalikan semua bayangan ini dari jarak yang tidak dapat dicapai oleh rantai Figaro, meskipun rantai tersebut dilengkapi Range Extend.

Semua itu menjelaskan bahwa KoA ada di dekat sini, tapi disebuah tempat yang tidak dapat ditemukan oleh Figaro dan juga rantai-rantainya.

“Apakah tempat seperti itu benar-benar ada?” tanya Nemesis.

Biasanya, tidak ada, pikirku menanggapinya. Tapi jika kau mengabaikan cara agar dia dapat sampai ditempat itu, dan berasumsi berdasarkan apa yang telah terjadi… kau bisa menemukan sebuah tempat.

“Ah!” dia terkesiap setelah membaca pikiranku, saat pertanyaan tertentu terlintas di dalam pikiranku.

Kenapa rantai-rantai milik Figaro tidak dapat menemukan King of Assassins?

Kenapa mereka tidak menugaskan seseorang untuk menjagaku?

Kenapa aku tidak dapat log out?

Kenapa mereka tidak membuatku pingsan untuk mencegahku melarikan diri?

Kenapa mereka setengah mengabaikanku?

Saat semua itu dihubungkan, aku sampai pada sebuah kesimpulan.

“Ray!” Nemesis berseru secara telepati.

Nemesis! Aku membalasnya di dalam pikiranku, dan memberinya perintah.

“Baiklah!”

Dia segera berubah ke bentuk Flag Halberd, dan aku segera menyelimuti mata tombaknya dengan Purifying Silverlight. Lalu, secara diam-diam, tapi pasti, aku menusukkannya kedalam bayanganku sendiri.

Bukannnya menancap di tanah, tombak berselimut cahaya itu tenggelam ke dalam bayangan dan mengeluarkan suara koyakan dan benturan logam saat ujungnya mengenai sesuatu. Setelah sunyi beberapa saat, sesuatu mulai mendorong balik tombak halberd-ku.

“Betapa pandainya dirimu,” kata sebuah suara dari dalam saat dua buah pedang muncul dari bayanganku. Kedua pedang itu menahan halberd-ku.

Kemudian muncul tangan, kepala, dan sisa tubuh lainnya. King of Assassins saat ini keluar dari bayanganku dan berdiri di depanku, dalam bentuk manusia.

“Saya harus memuji anda karena telah menyadarinya,” katanya saat darah mengalir dari bahunya—kemungkinan besar adalah luka yang kusebabkan. “Sebagai referensi, maukah anda menceritakan bagaimana anda bisa sampai pada kesimpulan ini?”

Aku berharap bisa menyerangnya saat dia sedang lengah, tapi sepertinya dia berhasil menghentikan seranganku menggunakan kedua pedangnya sebelum tombakku bisa menusuk lebih dalam lagi.

Itu adalah tindakan yang menakjubkan, mengingat betapa fokusnya dirinya dalam mengendalikan bayangannya. Sudah jelas, dia sama hebatnya dengan para ranker yang telah kuhadapi. Tapi…

“Bukankah kau mempunyai sesuatu yang lebih penting dibanding memeriksa kertas jawabanku?” tanyaku.

Saat ini, konsentrasinya telah teralihkan dari bayangannya. Pergerakan bayangan crimson yang ada di belakangnya menjadi sedikit lebih tumpul.

Sangat mengesankan karena seranganku dan percakapan kami hanya memiliki efek sekecil itu terhadap pengendaliannya. Tapi, lawan mereka tidak cukup baik untuk mengabaikan kesalahan itu, tidak peduli sekecil apapun.

“■■■■HHHH!” Over Gladiator itu meraung saat dia menerobos bayangan yang melambat untuk beberapa saat.

Figaro melepaskan kebanyakan equipment-nya dan hanya menyisakan equipment berbasis AGI kesayangannya, bersama dengan pedang terkuat yang dia miliki.

Dia berlari menerobos bayangan itu, memotong mereka, mendaki ke atas atap, meloncat, dan membawa dirinya berada di atas Tsukuyo Fuso—tempat dimana dia bisa menggunakan serangan terkuatnya. Kemudian dia mulai memanggil seluruh cahaya cemerlang yang tersimpan di dalam Gloria ɑ.

“Ah…!” Tsukuyo Fuso terkejut saat dia segera melepaskan tongkat yang ada di tangan kanannya dan mengangkat kedua tangannya ke udara, seolah-olah untuk memuja bulan sungguhan yang sudah muncul di malam yang masih muda. “Return to a Life Most Rightful—Kagu—“ Dia mengatakan nama dari skill ultimate-nya, tapi sayangnya, dia terlalu lambat. Sebelum dia dapat menyelesaikannya, Figaro telah menyelesaikan ayunan pedangnya.

Mereka berdua memulai tindakan mereka disaat bersamaan, jadi sudah jelas bagi Figaro—orang yang memiliki AGI lebih besar—untuk selesai lebih dulu.

Benar, saat-saat kemenangan ini…

“Fang of Gloria: OVERDRIVE!”

… dimiliki oleh yang tercepat dan terkuat.

Pilar cahaya yang datang dari atas membakar bayangan crimson, barrier yang masih aktif, Superior Embryo berbentuk malam, dan memusnahkan Tsukuyo Fuso.

Dengan demikian, pertarungan antara Over Gladiator dan High Priestess—dua Big Three Kerajaan Altar—berakhir dengan kemenangan Figaro.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    makin seru tuh kali yang menang tsuyokuso!!!

    Like

  2. figaro says:

    Eee…penentu arah kemenangan ya si mc

    Like

  3. Nai says:

    Next cuy

    Like

  4. Mirza says:

    Tak sabar untuk ke lanjutannya.

    Like

Leave a Reply to Mirza Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s