Infinite Dendrogram Volume 6 Chapter 2 B

Volume 6
Chapter 2 – Pesta Minum Teh Para Maiden (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Markas Lunar Society

“… Sungguh menyedihkan,” gumam Nemesis.

Dia sedang berada di markas Lunar Society, di ruangan yang sama tempat Ray terbangun sebelumnya. Pingsan setelah menerima kekalahan telak melawan Tsukuyo Fuso, sekali lagi dia dibawa dan dibaringkan disini.

Ruangan itu tidak memiliki jeruji, tidak memiliki penjaga—tidak ada satupun hal yang berhubungan dengan keamanan. Dan hal itu hanya membuat Nemesis semakin sadar tentang betapa tak berdaya-nya mereka dihadapan sang musuh.

“Sungguh… aku sangat menyedihkan,” dia kembali bergumam saat dia membelai rambut Ray dengan lembut.

Penilaiannya terhadap dirinya sendiri datang dari hatinya yang terdalam. Bagaimanapun, kekalahan melawan Tsukuyo adalah kekalahan miliknya sendiri. Dia hanya Embryo yang terlalu lemah sehingga Ray tidak memiliki kesempatan untuk menang. Sebanyak apapun strategi, tekad, atau kompatibilitas tidak akan mampu mempersempit jarak antara Nemesis dan Embryo milik Tsukuyo, dan kenyataan itu semakin memberatkan hatinya.

“Ray… kau telah menjadi lebih kuat selama sebulan terakhir ini…”

Melalui kemenangan melawan UBM atau karena keberuntungan belaka, dia telah mendapatkan equipment yang kuat.

Melalui banyak pertarungan, dia menaikan level Paladin-nya dan mendapatkan stats yang cocok dengan high-rank job.

Tapi yang terpenting, melalui semua latih tanding melawan banyak player veteran, dia mendapatkan pengalaman bertarung yang tak dapat dibandingkan dengan newbie manapun.

Secara keseluruhan, dia jauh lebih kuat dibandingkan dengan sebulan lalu.

“Dan kemudian ada diriku… yang tetap diam ditempat,” gumam Nemesis.

Sejak mengalami evolusi pertama selama pertarungan melawan Gardranda, Nemesis tidak pernah sekalipun mengalami peningkatan kekuatan sebagai sebuah Embryo, dan itulah penyebab utama kenapa dia menyalahkan dirinya sendiri.

Embryo milik para Master yang mereka hadapi saat latih tanding sangatlah kuat, bahkan Baby—yang sebelumnya berada di tingkat yang sama dengan Nemesis—sekarang berada satu bentuk di atasnya. Nemesis merasa bahwa hanya dirinya sendiri yang tidak mengalami sedikitpun peningkatan.

Dia tau bahwa, saat dia mengatakan kekhawatirannya kepada Ray, Ray akan langsung menyangkalnya dan mengatakan, tanpa sedikitpun tanda-tanda kebohongan, bahwa Nemesis sudah tumbuh.

Namun, saat ini, Nemesis menginginkan kekuatan yang lebih tampak… lebih bisa dilihat secara langsung. Kekuatan yang dapat dia gunakan untuk membuat Ray tidak pernah lagi mengalami rasa sakit akan kekalahan.

“Aku ingin berevolusi…” katanya dengan rasa paling tulus saat air mata mulai terbentuk di matanya.

Dia menangis, mengharapkan kekuatan baru yang dapat dia gunakan untuk mendukung Ray… Master yang telah dia berikan hatinya kepadanya.

“Evolusi bukanlah sesuatu yang tidak sabar kamu tunggu,” tiba-tiba seseorang berbicara saat dirinya membuka pintu geser dan masuk ke dalam ruangan.

“Ah?!” Nemesis terkejut dan mengubah kedua tangannya menjadi pedang dan berdiri untuk melindungi Ray. “Siapa kau?!”

Orang yang baru saja masuk itu tampak aneh, setidaknya begitu. Dia mengenakan pakaian yang dikenakan oleh tennyo dari mitos Jepang, dan memiliki rambut panjang yang memancarkan cahaya bulan. Tapi, Nemesis merasa bahwa kehadirannya sendiri jauh lebih aneh dari pada setiap detail visual yang ada.

“’Siapa kau,’ tanyamu?” jawab entitas itu. “Haruskah aku memberimu nama ‘Kaguya’? Atau mungkin aku harus memperkenalkan diri sebagai Embryo milik Tsukuyo? Atau mungkin aku hanya harus menyebut diriku sebagai senpai-mu?”

Itu menjelaskan semuanya.

Maiden ini adalah…! Pikir Nemesis dengan terkejut. Dia adalah Superior Embryo yang sama dengan yang mengalahkannya secara telak.

Mengingat kekalahannya membuat Nemesis menjadi tegang. Nemesis mengumpulkan tekadnya dan berdiri di hadapan Kaguya untuk melindungi Ray.

“Eheheheh. Kamu terlihat seperti ibu kucing yang mencoba melindungi anaknya,” Superior Maiden itu terkikik dengan senyum lembut di wajahnya. “Jangan khawatir, aku maupun Tsukuyo sama sekali tidak berniat menyentuh Master-mu saat dia sedang tertidur.”

“Kau kira aku akan mempercayainya!” teriak Nemesis, benar-benar marah pada Kaguya yang memiliki rasa malu untuk mengatakan itu. Bagaimanapun, Lunar Society telah menculik Ray saat dia sedang tidur. “Kau adalah Embryo milik wanita gila itu! Apa yang kau mau?!”

“Eheheh. Tidak perlu begitu antagonistik. Aku hanya ingin melakukan percakapan sebagai sesama Maiden.”

“Aku tidak akan mengatakan apapun padamu!”

“Sudah, sudah, tenanglah,” kata Kaguya saat dia merogoh inventory-nya, mengeluarkan dua buah bantal lantai, meletakkannya di atas lantai, dan duduk di atas salah satu dari bantal itu. “Keberatan untuk menggunakannya?” katanya, sambil menunjuk ke arah bantal yang satunya.

Nemesis merasa seolah-olah Kaguya sedang mengejeknya dan hendak menolaknya secara refleks, tapi kemudian dia memikirkan Ray, dan dengan ragu duduk di atas bantal itu.

Kaguya mengeluarkan sebuah teko teh, sedikit daun teh, sebuah termos sihir penuh air panas, dan mulai mempersiapkan teh.

“… Sekali lagi, kenapa kau datang kemari?” tanya Nemesis.

“Sudah kubilang kalau aku hanya ingin berbincang-bincang,” jawab Kaguya. “Oh, ngomong-ngomong, ini adalah daun teh berkualitas tinggi yang disumbangkan oleh salah satu penganut kami, Teh ini berasal dari Tenchi. Cobalah,” dia menawarkan teh itu kepada Nemesis.

“Ini tidak diracuni, kan?” tanya Nemesis dengan curiga.

“Astaghfitullah, tidak. Tidak seperti seorang gadis china palsu dan ular itu, aku tidak pernah meracuni minuman.”

Gadis china palsu dan ular itu? Nemesis mengangkat alisnya, tapi bukannya menanyakan hal itu, dia memilih untuk mempercayai perkataan Kaguya dan dengan ragu menyeruput teh yang diberikan kepadanya.

“… Ini enak,” kata Nemesis setelah sekali mencoba. Nemesis tidak punya alasan untuk berbohong soal hal itu, jadi dia tidak melakukannya. Bagi pikirannya, teh itu memiliki rasa lembut yang menghangatkan dan merilekskan seluruh tubuhnya.

“Memang benar.” Angguk Kaguya saat dia menyeruput teh nya sendiri dengan puas. “Oh, apakah kamu mau sedikit kue kering untuk menemaninya?”

“… Ya.”

Yang terjadi setelah itu adalah kesunyian sesaat. Satu-satunya suara yang ada di ruangan itu adalah suara Nemesis yang memakan kue kering dan Kaguya yang meminum tehnya.

Akhirnya, Superior Embryo itu kembali berbicara.

“Sudah lama sejak terakhir kali aku menikmati teh bersama Maiden lain.”

“Mh…” Nemesis dalam diam berpikir bagaimana harus menanggapi hal itu, tapi Kaguya kembali berbicara sebelum dia dapat melakukannya.

“Karena asalnya, Lunar Society memiliki lebih banyak Maiden dibandingkan klan lain. Namun, tidak semua Master yang berpikir bahwa dunia ini bukan hanya sekedar game mendapatkan Embryo type Maiden, jadi jumlahnya masih sangat rendah.”

“Mhm…” Nemesis mengangguk saat dia menyadari hal itu, memang, dia tidak merasakan banyak sesamanya di sekitarnya.

Master yang melahirkan Embryo type Maiden memiliki kecenderungan untuk menganggap Infinite Dendrogram lebih dari sekedar game, tapi hal itu tidak berlaku jika sebaliknya. Keadaan mental seperti itu hanya memungkinkan terlahirnya Embryo type Maiden, bukannya membuatnya jadi 100% pasti.

“Dan juga, anehnya, Master Maiden sering meninggalkan klan kami,” tambah Kaguya.

“Mereka melakukannya?”

“Kami bahkan memiliki beberapa Master seperti itu yang Maiden-nya terlahir di saat hampir bersamaan dengan diriku. Secara resmi, mereka masih merupakan bagian dari klan, tapi mereka tinggal jauh dari sini. Apakah kamu tahu alasannya?”

“… Aku sama sekali tidak tau.”

Tidak satupun dari Nemesis maupun Ray memahami pikiran seseorang yang menjadi bagian dari sekte keagamaan dan menjauhkan diri mereka dari sekte tersebut, meskipun tidak keluar.

Namun, jawaban Kaguya membuatnya menjadi agak mudah untuk dibayangkan. “Karena mereka membuat keluarga dengan para tian,” katanya. “Jika seorang Master benar-benar menganggap dunia ini dan dunia satunya sebagai sesuatu yang setara, tidak aneh bagi mereka untuk jatuh cinta dengan para tian.”

“… Benar,” kata Nemesis sambil mengangguk.

Entitas yang seseorang anggap bukan hanya sekedar karakter game, memang, target yang valid untuk percintaan. Bahkan, bisa saja ada Master yang melihat tian layak untuk dicintai meskipun masih menganggap mereka sebagai NPC.

“Jumlah orang seperti itu semakin bertambah, tidak peduli di dalam maupun di luar klan, dan diantara para Master yang memiliki maupun tidak memiliki Embryo type Maiden. Bagaimanapun, hampir lima tahun berlalu sejak dimulainya Infinite Dendrogram.

“Hm?” Nemesis mengangkat alisnya, merasa seolah-olah topik pembicaraan telah berganti, atau seluruh pembicaraan sampai saat ini hanyalah sebuah pembukaan.

“Namaku adalah ‘Kaguya,’” lanjut Superior Embryo itu. “Itu adalah nama seorang heroine di sebuah dongeng dari negara Tsukuyo.”

“Aku tau Kisah sang Penebang Bambu dari ingatan Ray. Itu adalah pengetahuan umum dari tempat asalnya.”

“Oh, jadi Master-mu berasal dari negara yang sama dengan Tsukuyo.” Kaguya menunjukkan sebuah senyum, yang segera memudar. “Kaguya dari cerita itu adalah keberadaan yang bukan berasal dari Bumi mereka. Dia segera tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, dan pada akhirnya kembali ke Bulan. Saat dia berada di Bumi, ada banyak pria yang jatuh cinta kepadanya dan menginginkan balasan, tapi dia menanggapi hal itu dengan memberikan tugas yang mustahil kepada mereka, dan pada akhirnya, dia pergi jauh dari segala yang pernah dia ketahui disana.”

Dia menceritakan Kaguya sebagai semacam kontaminasi asing, pikir Nemesis.

“Kau tidak membuat namamu terdengar layak dipuji,” komentar Nemesis.

“Memang.” Kaguya tersenyum untuk sesaat sebelum kembali menatap Nemesis dengan ekspresi paling serius yang pernah dia tunjukkan sampai saat ini. “’Kaguya’ memang merupakan namaku, tapi aku merasa bahwa, bagi para Master, seluruh Maiden, Embryo, dan juga para tian mirip dengan Kaguya… atau mungkin para Master-lah yang merupakan Kaguya dalam situasi ini?”

Tergantung dari sudut pandang seseorang, itu antara perbandingan samar atau sebuah kenyataan solid tanpa sedikitpun dramatisasi.

“… Apa yang coba kau katakan?” tanya Nemesis.

“Kau mencintai Master-mu, bukan?”

“NHUH?!” seru Nemesis. Pertanyaan itu membuatnya benar-benar lengah dan cukup mengejutkan untuk membuatnya beranjak dari bantalnnya.

“Daya tarik sesama rekan. Perasaan ingin memiliki. Bukankah itu adalah emosi polos yang kita sebut ‘cinta’?”

“J-J-Jangan gila! Itu bukan… aku tidak… Y-Yah, aku tidak akan menyangkal kalau aku merasa bahwa dia menarik, tapi itu hanya…” Nemesis mencoba menyangkalnya, tapi ketidakmampuanya untuk melakukan hal itu membuatnya kebingungan.

“Tapi tidak peduli seberapa besar kita mencintai mereka, kita dan Master kita pada akhirnya akan berpisah,” kata Kaguya.

Perkataan itu membuat ekspresi Nemesis benar-benar membeku. “Candaan maca—“

Dia mencoba untuk mengatakan “Candaan macam apa itu?” tapi Kaguya menyela perkataannya dan melanjutkan perkataannya.

“Pastinya kamu sudah mempertimbangkan hal ini. Dunia nyata mereka berada di sisi lain. Mereka tidak lebih dari sekedar tamu disini. Mereka tidak mati di dunia ini karena hidup mereka disini tidak lebih dari ingatan sesaat.”

Itu adalah sebuah kebenaran. Master disebut sebagai “player” karena sebuah alasan. Bagi mereka, dunia Infinite Dendrogram adalah sebuah game. Bahkan jika mereka mengakui ini sebagai dunia yang ditinggali makhluk berakal, mereka tetap hanyalah seorang pengunjung. Dan meskipun Master Maiden tidak menganggap dunia ini sebagai sebuah game dan mampu menjadikannya sebagai bagian dari hidup mereka, mereka tidak dapat menjadikannya sebagai inti dari keberadaan mereka.”

“Dan oleh karenanya, saat akhir telah tiba, mereka akan kembali ke sisi lain, sementara kita akan tetap tinggal disini,” kata Kaguya, menekankan bahwa akhir sebenarnya milik para Master berbeda dengan akhir mereka datang kemari. “Akhir mungkin akan datang dalam bentuk kematian di sisi lain. Atau mungkin mereka hanya kehilangan niat untuk berada disini. Atau mungkin hal yang mengikat mereka dengan dunia ini akan menghilang.”

Memang, ada banyak cara hal itu dapat berakhir. Hal itu juga dapat terjadi kapan saja. Dan itulah sebabnya…

“Saat itu terjadi, seperti dirimu saat ini, kamu hanya akan merasakan keputusasaan.”

Itu benar. Dengan cintanya kepadanya masih ada di dalam hatinya, Nemesis akan dibuat tidak dapat menemuinya lagi. Dan karena merupakan sebuah Embryo, dia tidak bisa berinteraksi dengan dunia atau siapapun kecuali ada sang Master di sampingnya, yang berarti bahwa dia hanya tinggal memiliki ingatan dari hari-hari yang dia habiskan bersama lelaki itu… dan sebuah akhir tanpa kelanjutan.

Nemesis telah mencoba untuk tidak memikirkan tentang kenyataan yang kejam itu, tapi Kaguya telah membuatnya mau tidak mau menyadari hal itu.

Kenapa kau memberitahukan ini kepadaku?” Nemesis mengatakan hal itu dan menatap Superior Embryo itu dengan sedikit rasa dendam di matanya.

Nemesis tau betul bahwa kemarahannya salah tempat. Kenyataan kejam ini adalah sesuatu yang seharusnya dia hadapi sendiri jauh hari sebelumnya.

Setelah melihat keadaan menyedihkan dari Embryo muda itu, Kaguya dengan lembut mengusap kepalanya. “Eheheheh.”

“Nh?! Apa yang kau lakukan?!” seru Nemesis, terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu.

Tidak memperdulikan reaksinya, Kaguya melembutkan ekspresinya dan menunjukkan senyum kepada Nemesis. “Maafkan aku atas hal itu. Aku datang kemari untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih ke-Maiden-an, tapi permohonan sedihmu untuk mendapatkan kekuatan agar bisa menolong Master-mu membuatku ingin memperingatkanmu.”

“Yah… cukup terpuji.”

“Oh, tapi hanya memberimu peringatan saja akan sangat menyedihkan, jadi izinkan aku memberimu beberapa saran untuk membantumu melawan keputusasaan ketika akhir itu benar-benar tiba,” kata Kaguya saat dia mengulurkan jarinya dan menyentuh dada Nemesis. “Jika bisa… kamu harus mengungkapkan perasaanmu secepat mungkin saat kamu punya kesempatan. Semakin cepat mereka mekar, semakin banyak ingatan yang bisa kamu buat untuk kamu jaga.”

Dengan demikian Maiden berpengalaman itu memberikan saran percintaan paling blak-blakkan kepada Maiden muda itu.

“… Aku akan mengingat hal itu,” kata Nemesis. “Tapi apakah aku akan melakukannya atau tidak adalah masalah yang berbeda.”

Tapi, perkataan Kaguya membuat pipinya sedikit memerah, dan sekarang dia menunjukkan ekspresi lembut, mengusir sedikit kesuraman yang ada beberapa saat lalu.

Setelah melihat itu, sang Superior Embryo menunjukkan sebuah senyum lembut penuh kepuasan.

“Kalau begitu aku akan permisi sekarang,” katanya. “Saat Master-mu bangun, mungkin Tsukuyo akan mencoba mendekatinya lagi.”

“Aku benar-benar berharap dia tidak akan melakukannya,” kata Nemesis sambil menghela nafas.

Sementara Nemesis sama sekali tidak menyukai Tsukuyo Fuso, dia tidak lagi merasakan hal yang sama tentang Embryo milik wanita itu. Mata Kaguya saat menatapnya sangat mirip seperti seorang senpai atau kakak yang khawatir, yang membuat Nemesis sedikit merasa damai.

“Oh, satu lagi,” Kaguya kembali berbicara. “Ini adalah salah satu saran Maiden untukmu… Jika kamu kembali memiliki kesempatan untuk menggunakan ■■■, kamu harus membatalkannya sampai setidaknya kamu mencapai tingkat high-rank. Jika tidak, evolusi-mu menuju high-rank mungkin akan tertunda sampai setahun penuh atau lebih.”

“Aku juga akan mengingat hal itu… tapi lagi pula, apa itu?”

Nemesis bisa memahami apa yang Kaguya maksud, tapi dia tidak dapat mendengar kata yang dia katakan.

■■■, adalah hal yang telah diaktifkan di tengah pertarungan melawan Gardranda, memaksa Nemesis untuk berevolusi, dan memberinya skill Like a Flag Flying the Reversal—skill paling optimal untuk situasi itu.

Dia masih tidak mengetahui apa sebenarnya hal itu, tapi dia bisa memahami bahwa itu adalah alasan kenapa dia begitu lambat berevolusi.

“Itu adalah apa yang membuat para Maiden… tidak… apa yang membuat para Embryo menjadi diri mereka,” kata Kaguya. “Itu adalah fungsi tak berarti yang sebenarnya telah hilang… tapi masih tetap ada pada Maiden dan Apostle.”

“Apostle?” Nemesis mengangkat alisnya. Dia tidak pernah mendengar kategori seperti itu sebelumnya.

Kaguya menggali ingatannya dan berkata. “Sementara kita adalah hasil dari rasa bahaya, Apostle adalah hasil dari rasa kewajiban. Fungsi itu hanya tersisa pada Embryo yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang dengan tekad yang tidak samar.”

“… Aku tidak paham.”

Kaguya tidak lain mengatakan sebuah kebenaran sederhana, tapi Nemesis tidak mampu memahaminya. Atau, lebih tepatnya, dia tidak memiliki dasar yang tepat untuk mampu memahaminya.

“Pada akhirnya kamu akan dapat memahaminya,” kata Kaguya. “Mungkin saat kamu berada di tingkat yang sama denganku… Ara.” Senyum lembutnya langsung menghilang. Dia menunjukkan ekspresi tegang dan melihat ke arah yang tidak jelas.

“Ada apa?” tanya Nemesis.

“Kita memiliki tamu.”

Sesaat kemudian, atap ruangan tempat mereka berada di koyak oleh rantai.

***

Paladin, Ray Starling

Saat kau tertidur di Infinite Dendrogram, kesadaranmu akan tertidur bersama tubuhmu, sama seperti di dunia nyata.

Namun, saat kau dibuat tak sadarkan diri dengan paksa, hal itu agak sedikit berbeda. Tubuh akan berada di bawah efek debuff Faint, sementara kesadaranmu masih akan tetap terjaga di luar tubuhmu, dimana hanya ada pikiranmu yang tersisa.

Disini lagi, huh?” aku menghela nafas. Pertama kali aku memasuki keadaan ini adalah selama pertarunganku melawan Gouz-Maise. Pada saat itu, aku dilemparkan ke dunia yang memutar ulang kenangan masa lalu-ku, dan aku bertemu dengan pembuatnya—sosok merah gelap itu.

Sebulan telah berlalu di dalam Dendro sejak saat itu. Dalam kurun waktu itu, aku pingsan beberapa kali saat menjelajahi Tomb Labyrinth atau saat melakukan hal lain, dan aku mendapati diriku berdiri di ruang gelap gulita, seperti saat ini.

Tidak seperti saat pertama kali, disini tidak ada dunia ingatan, maupun sosok merah gelap itu.

Yang ada hanyalah sebuah papan penanda yang bertuliskan “Coming Soon…”

“… Serius, apa maksud dari ‘coming soon’ itu?” tanyaku.

Papan penanda itu mungkin telah diletakkan oleh sosok merah gelap itu, Miasmaflame Bracers, Gardranda.

Sama seperti mental status effect lainnya, Faint sepenuhnya diterapkan pada tubuh, tapi fungsi player protection mencegahnya untuk benar-benar mempengaruhi pikiran seorang player. Karena itu, saat kita pingsan, bukannya hilang kesadaran, kita hanya dipaksa untuk menunggu di ruang kosong ini sampai efeknya menghilang.

Sepertinya, Gardranda telah belajar untuk memanfaatkan hal itu. Sama seperti dirinya yang membuat ulang ingatanku disini, sekarang dia meletakkan papan penanda itu.

“Yah, jika aku juga tidak dapat bertemu dengannya kali ini… kurasa apa yang bisa kulakukan hanyalah menunggu…”

Aku ingin memastikan beberapa hal dengannya, tapi sayang sekali. Tapi, setidaknya, aku bisa menghabiskan waktu tunggu ini untuk memikirkan hal-hal yang sudah terjadi secara mendalam.

Aku menutup mataku dan mengingat pertarungan—jika kau bisa menyebutnya pertarungan—yang baru saja kulewati.

Kompatibilitas… tidak cukup untuk menang melawan seseorang dengan kekuatan absolut.

Itu adalah perkataan terakhir yang diucapkan Tsukuyo Fuso kepadaku sebelum aku pingsan.

Ini bukanlah pertama kalinya aku menghadapi seorang Superior. Aku beberapa kali bertemu dengan mereka secara kebetulan, latih tanding melawan mereka, dan tentu saja bertarung melawan Franklin.

Aku membandingkan pengalaman itu dengan “pertarungan”ku melawan Tsukuyo Fuso.

Itu benar-benar berbeda dengan saat aku menghadapi Franklin, yang telah mempersiapkan senjata yang dikhususkan untuk mengalahkanku.

Kali ini, aku menang dalam hal kompatibilitas, tapi benar-benar dibuat kewalahan oleh perbedaan kekuatan yang luar biasa besar di antara kami, dan menerima kekalahan telak karena hal itu.

Bukan hanya Tsukuyo Fuso memiliki niat jahat terhadapku… dia juga sangat kuat. Dan entah kenapa, dia ingin menyeretku masuk ke dalam klan-nya.

Sudah jelas bahwa dia akan tetap mengurungku disini saat aku terbangun. Untuk log out, aku hanya bisa menggunakan fungsi bunuh diri atau bertarung melawan mereka sambil mencari cara untuk melarikan diri dari markas ini.

Memikirkan hal itu…

“Sepertinya aku tidak punya pilihan lain.”

… aku mempersiapkan diriku untuk bertarung melawan makhluk menakutkan itu.

Meskipun kesempatan menangku sangatlah kecil—jauh di bawah 1%—aku masih akan tetap berusaha untuk meraih kemungkinan itu. Itulah jati diriku.

“Tapi… ada beberapa masalah,” gumamku. “Setan itu… benar-benar menakutkan gila.”

Bahkan saat ini, aku masih takut dengan Tsukuyo Fuso. Aku kalah darinya bukan hanya dalam hal kekuatan, tapi juga dalam hal mental. Aku sebenarnya merasa bahwa dia jauh lebih menakutkan dari pada semua hal yang pernah kutemui di dunia ini sejauh ini.

Itu mungkin terkesan aneh, mengingat aku telah menghadapi seekor Demi-Dragon Worm saat aku masih level 0 tanpa sebuah Embryo, dan kemudian bertarung dengan dua monster yang mengerikan, Gardranda dan Gouz-Maise,

Tapi meskipun aku sangat takut kepadanya, aku tidak benar-benar bisa mengatakan kenapa aku merasa demikian. Rasa takut ini seharusnya benar-benar baru bagiku, tapi entah kenapa, itu terasa agak familiar.

Apapun itu, mengakui bahwa sesuatu itu menakutkan seharusnya akan membuatnya menjadi sedikit lebih tidak menakutkan dari pada sebelumnya.

“Baiklah, aku sudah memiliki mindset… Sekarang aku hanya perlu mencari cara untuk memenangkan ini.”

Tsukuyo Fuso dapat menggunakan AOE debuff yang dapat menurunkan fungsi dasar dari tubuhku, dan Hellish Miasma maupun Reversal tidak mempan padanya. Oleh karenanya, aku harus menggunakan hal lain. Tapi…

Aku tidak memiliki cukup persediaan MP untuk menggunakan bom Wind Hoof… belum lagi aku memang tidak dapat menggunakannya di kota.

Aku tidak memiliki tangan kiriku, jadi aku tidak bisa menggunakan Purgatorial Flames.

Aku mungkin juga tidak bisa mengumpulkan cukup damage untuk melancar Vengeance yang bagus.

Selain itu, apa yang kupunya hanyalah Purifying Silverlight… tapi tidak peduli seberapa mirip dirinya dengan setan, job Tsukuyo Fuso benar-benar suci, jadi itu sama sekali tidak akan membantu. Aku mendengar bahwa priest grouping memiliki skill pasif yang menurunkan semua damage suci yang mereka terima.

Aku bisa mengabaikan itu semua dan menantangnya secara langsung… tapi entah karena levelku, atau karena beberapa job lain yang dia miliki, dia memiliki stats yang lebih tinggi dariku.

Dari tendangan yang menghilangkan kesadaranku, aku juga bisa bilang kalau dia adalah petarung yang handal. Faktanya, dia mungkin bisa menandingi peserta turnamen Un-Kra yang telah diikuti Shu. Dia mungkin berlatih semacam seni bela diri di dunia nyata.

“Tapi men, keterpojokan diriku membuatku bertanya-tanya… Bagaimana bisa dia lebih menyudutkanku dibandingkan dengan Franklin saat dia memang berniat untuk melakukannya?”

Aku hampir bisa membayangkan Franklin membantah dengan “Jangan salah paham, noob! Aku akan menang jika aku mengarahkan seluruh pasukanku kepadamu!”

Kesampingkan itu, pertemuan ini membuat sadar bahwa, meskipun aku bisa mengungguli seorang Superior dalam satu hal tertentu, mereka tetap saja jauh lebih kuat dariku, sampai-sampai terasa konyol.

Dengan lawan seperti Tsukuyo Fuso dan semua musuh kuat lain yang menunggu di pertarungan yang akan datang, aku jelas harus menjadi lebih kuat. Jika tidak, aku tidak akan mampu meraih kemungkinan yang ada.

“Cara terbaik untuk menjadi lebih kuat adalah… evolusi.”

Evolusi adalah fitur utama yang dimiliki setiap Embryo, dan juga merupakan peningkatan kekuatan terbesar mereka.

Apa yang memisahkan para Superior dengan Master biasa adalah kenyataan bahwa Embryo mereka telah berada di bentuk ketujuh, jadi jika aku ingin mengejar mereka, evolusi adalah taruhan terbaik.

Tapi, sejak saat berevolusi ke bentuk keduanya dalam pertarungan kami melawan Gardranda, Nemesis belum pernah sekalipun berevolusi selama sebulan terakhir disini.

Sebagai perbandingan, meskipun mulai disaat bersamaan denganku, Baby milik Rook telah mencapai bentuk keempat, menjadikannya sebagai sebuah high-rank Embryo.

Menurut Marie, sebulan seharusnya sudah lebih dari cukup bagi sebuah Embryo untuk mencapai bentuk ketiga.

… Yah, aku sepenuhnya memahami kenapa Nemesis begitu lambat berevolusi.

Itu sudah tertulis dalam jendela sistem yang muncul saat dia berevolusi ke bentuk kedua.

Aku ingat bahwa jendela itu mengatakan bahwa itu akan memberikan evolusi paling optimal untuk situasi itu kepada kami dengan ganti memperlambat evolusi selanjutnya.

Aku benar-benar tidak masalah dengan hal itu.

Jika aku tidak mendapatkan Flag Halberd dan skill Reversal-nya pada saat itu, kami tidak akan bisa menang melawan Gardranda dan Gouz-Maise… dan jika aku tidak mendapatkan Grudge-Soaked Greaves, aku juga tidak akan bisa memenangkan Permainan Franklin. Tanpa evolusi itu, aku tidak bisa melalui semua itu, jadi aku merasa bahwa sangat adil jika itu harus dibayar dengan melambatnya evolusi selanjutnya.

Satu-satunya masalah adalah… sampai seberapa lama jeda ini akan terus berlangsung? Tentu saja dia tidak akan terhenti di bentuk kedua selamanya, kan?

“Harus kukatakan bahwa sekarang sudah saatnya kami melihat tanda bahwa evolusi itu akan terjadi,” gumamku.

Itu bukan berarti aku berharap untuk mendapatkan sebuah evolusi yang mengenakkan disini sekarang juga dan sepenuhnya membalikkan keadaan, tapi tetap saja.

“Aku ingin hal itu terjadi… demi dirinya juga.”

Aku sepenuhnya sadar bahwa Nemesis sedang kesusahan dengan fakta bahwa dia tidak berevolusi. Dia jelas berusaha untuk menyembunyikannya, jadi aku tidak pernah mengatakan apapun, tapi demi dirinya sendiri, aku benar-benar ingin membantu dirinya berevolusi.

Saat aku memikirkan masalah evolusi Nemesis, aku mulai mendengar suara yang rasanya berasal dari tempat yang jauh.

“..! …!”

“Hm?”

“…y! … ngun!”

“Nemesis?”

Suara itu milik Embryo-ku. Itu memang samar, seolah-olah berasal dari seberang kaca tebal.

“Ray! Bangun!”

Pada saat suaranya menjadi jelas dan keras, ruang di dalam pikiranku menghilang, dan kesadaranku kembali ke avatarku.

*

“Nngh…” gumamku.

“Kau sudah bangun!” teriak Nemesis.

Setelah terbangun, aku mendapati diriku berada di atas tatami di ruangan yang sama saat aku terakhir kali terbangun. Nemesis ada tepat disampingku.

Semua itu tampak normal, tapi Nemesis terlihat sangat tegang, dan ruangan ini berada dalam keadaan… berantakan.

Dua dinding ruangan ini telah benar-benar hilang, seolah-olah telah diterbangkan oleh ledakan.

Melalui dinding yang telah hilang, aku bisa melihat area lain di tempat ini, dan sejujurnya, itu tampak tidak cantik.

Sebagian besar ubin telah tercabut dari lantai, dan aku bisa melihat langit sore diatasnya. Dinding-dinding dan pilar-pilar juga sama-sama rusak, membuatku bisa melihat lebih banyak kehancuran yang ada, termasuk tak terhitung perabotan yang bertebaran di segala tempat.

Tempat ini seolah-olah baru saja mengalami sebuah gempa besar atau tornado yang kuat, tapi bukan itu penyebabnya disini. Kehancuran ini adalah buatan manusia, dan aku sangat yakin akan hal itu.

Kenapa? Karena aku bisa melihat dua orang yang bertanggung jawab di tengah semua kekacauan ini.

“Ara, ara, jangan memaksakan diri, dasar pangeran sakit-sakitan,” kata Tsukuyo Fuso dengan nada mengejek.

“Bagaimana kalau kau segera mendapatkan death penalty dan mengembalikan Ray?” bentak Figaro.

Kedua Superior itu sedang mencoba saling membunuh satu sama lain.

Insert2

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    Ara, ara, jangan memaksakan diri, dasar pangeran sakit-sakitan,” kata Tsukuyo Fuso dengan nada mengejek.
    maksudnya ‘pangeran sakit-sakitan’ apa mungkin jarang terlibat pertarungan antara kerajaan altea dan kekaisaran dryfe yak?!

    Like

    1. Anonymous says:

      no no, its refer to figaro, maybe in real word mereka pernah bertemu atau gimana, secara mereka trio superior,mungkin mabar apa gimana, toh yg jelas dr chap sebelomnya si ray pernah ketemu sama si fuso dan assasinnya itu kan di kampus , dan juga yg jelas fi fuso tau si figaro emang begitu kondisinya, imho sih, belom baca chapter selanjutnya juga

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s