Infinite Dendrogram Volume 5 Extra 2

Volume 5
Extra – Keseharian Reiji / Keseharian Ray dan Nemesis

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

29 Maret, 2045, Reiji Mukudori

Sekitar dua minggu telah berlalu sejak aku mulai memainkan Infinite Dendrogram.

Aku menghabiskan sebagian besar waktu itu di dalam game, dan berkat fitur percepatan waktu tiga kali lipat miliknya, dua minggu itu terasa lebih panjang dari biasanya. Akan tetapi, seluruh hal yang kualami sejauh ini bahkan akan membuat enam minggu di dalam game itu terasa sebentar.

Aku telah menyelamatkan Milianne selama quest dari Liliana, bertemu dengan Marie di Noz Forest, bertemu Figaro di Tomb Labyrinth, bertarung melawan Gardranda, bertemu Hugo, menyelamatkan anak-anak bersamanya, berjuang melawan Gouz-Maise, dan mengalahkan Franklin, mengakhiri rencananya untuk menghancurkan semangat kerajaan.

Semua itu terjadi hanya dalam kurun waktu empat hari di dunia nyata, dan aku hanya bisa bertanya-tanya bagaimana aku bisa mengalami awal yang berat seperti itu di Infinite Dendrogram.

Hari-hari yang datang setelahnya relatif damai. Aku melakukan quest bersama party-ku, latih tanding melawan Figaro dan rekan-rekan duel ranker-nya, mencoba masakan Shu, dan berburu di Tomb Labyrinth bersama ketiga gadis yang kami temui selama Permainan Franklin—semua itu menciptakan pengalaman MMO yang sangat standar.

Menurut Nemesis, “Ini hanyalah ketenangan sebelum badai. Aku yakin bahwa sebentar lagi kau akan terlibat dalam masalah yang jauh lebih besar,” dan aku hanya bisa berharap bahwa dia salah.

Tapi, aku tak bisa menyangkal bahwa aku memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam insiden semacam itu.

Ada kecelakaan mobil dimana aku diselamatkan oleh Shu. Lalu ada liburan ke luar negeri dimana aku dipaksa ikut oleh kakak perempuanku, yang selama liburan itu aku melalui hal-hal yang membuatku bertanya apakah itu benar-benar nyata atau hanya sebuah mimpi.

Oh… hanya mengingat hal itu sudah membuatku gemetaran, jadi ya, itu sudah pasti sangat nyata.

Kesampingkan hal itu, ada sesuatu yang harus kulakukan tak peduli apakah petualangan baruku di Dendro akan menjadi normal atau tidak.

Aku harus menjalani persiapan masuk universitas.

Mulai bulan depan, aku akan menjadi mahasiswa. Aku telah menghabiskan setengah bulan yang tersisa sebelum kuliah sebagian besar untuk bermain Dendro sampai-sampai aku jarang pergi keluar. Bahkan, aku online lebih lama dibandingkan aku offline, dan tak akan mengejutkan jika aku melupakan betapa pentingnya kehidupanku.

Tapi, aku tidak cukup lalai untuk melewatkan hari-hari dimana aku harus menjalani prosedur-prosedur yang berhubungan dengan kampus, dan aku telah menjalani pengenalan singkat, OSPEK, penjualan buku pelajaran, pemeriksaan fisik, dan sebagainya.

Ini adalah hari terakhir dari hal itu—hari dimana aku harus menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang studty sosiologi yang ingin kuambil.

Karena baru lulus dari SMA, aku hanya bisa bertanya-tanya apakah proses ini harus dibuat begitu rumit dab dibagi menjadi banyak bagian, tapi mungkin ini adalah hal yang biasa di lingkup kampus.

Yah, apartemenku juga tidak terlalu jauh dari tempat ini. Aku bisa sampai ke sini kurang dari setengah jam naik sepeda, jadi aku tak kesulitan untuk datang tepat waktu dan menjalani apapun yang harus kulakukan.

Aku akan pulan di sore hari dan kemudian log in ke Dendro, pikirku saat aku berjalanan menuju elevator bangunan apartemenku.

Dalam perjalanan, aku berpapasan dengan sesama penghuni apartemen.

“Halo,” aku menyapanya.

“Ah, halo,” dia menjawabnya dengan bahasa Jepang yang sedikit canggung. Dia adalah orang luar negeri yang tinggal di lantai yang sama denganku.

Bangunan apartemen ini tergolong mewah dan aman, bahkan jika dilihat dari standar kota ini, jadi tempat ini tidak kekurangan penghuni wanita.

Namun, biaya sewanya yang tinggi mencegah mahasiswa biasa untuk tinggal disini, yang artinya sebagian besar penghuni tempat ini adalah anak-anak dari keluarga yang cukup kaya. Aku adalah pengecualian, karena aku bisa tinggal disini berkat Shu.

“Tunggu, wanita itu…” gumamku pada diri sendiri.

Orang yang baru saja kutemui mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku.

Bahasa Jepang-nya yang tidak terlalu fasih memastikan kalau dia adalah seorang mahasiswa pindahan di sebuah kampus tertentu. Bahkan Shu mengatakan kepadaku kalau ada banyak orang asing yang kaya di apartemen ini. Karena dia mampu hidup disini, dia mungkin adalah seorang anggita keluarga kelas atas.

Tidak ada gunanya memikirkan kehidupan orang asing, pikirku.

“Tapi… siapa lagi namanya?” gumamku.

Saat aku pindah ke tempat ini, aku mengikuti tata-krama yang ada dan menyapa para tetanggaku sambil membawa soba. Kami telah saling berkenalan pada saat itu, dan fakta bahwa aku tak bisa mengingat namanya membuatku sangat terganggu, sampai-sampai aku berhenti memikirkannya.

“Kalau tidak salah namanya tidak jauh dari Fra… Fraa… Franklin? Tidak, tidak ,tidak, tidak.”

Mendengar kata “Fra” langsung membuatku teringat dengan bajingan berjubah lab itu, tapi itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Menyamakan pria itu dengan seorang nona cantik berambut pirang adalah sesuatu yang tidak sopan. Namanya yang sebenarnya adalah…

“Oh, iya,” kataku saat berhasil mengingatnya. “Itu adalah Francesca.”

Lega karena beban berat yang ada di kepalaku akhirnya terangkat, aku meninggalkan bangunan apartemen itu dan pergi ke kampus.

Insert6

*

Selama masa-masa SMA-ku, aku selalu menyangka bahwa semua fasilitas edukasi hampir benar-benar kosong saat libur musim semi, tapi beberapa kali mendatangi kampus telah mengubah pemikiran itu.

Ada banyak orang disini, meskipun sekarang adalah akhir bulan Maret. Beberapa orang pergi menghadiri seminar, beberapa mengunjungi lab, sementara yang lainnya sibuk dengan kegiatan klub. Orang-orang yang paling bersemangat adalah mereka yang bersiap dan menunggu untuk mengundang anggota baru ke dalam klub mereka.

“Klub, ya…?” gumamku pada diri sendiri.

Sebentar lagi aku akan menjadi seorang mahasiswa, jadi mungkin akan jadi ide yang bagus jika aku juga bergabung ke dalam klub.

Di mataku, orang-orang yang mempromosikan klub yang berhubungan dengan olah raga adalah yang paling bersemangat. Contohnya, klub seni bela diri campuran, yang penuh dengan orang-orang yang jauh lebih berotot dari Shu, sedang menunjukkan otot-otot mereka saat mereka memberikan undangan hangat, atau mungkin panas, kepada para mahasiswa baru.

Mereka juga memiliki spanduk yang mengatakan “Incar Hal yang Tinggi! Tinggalkan Jejak pada Turnamen Pankration Bebas Tingkat Universitas!”—tujuan mereka, kemungkinan besar.

Penyebutan Un-Kra itu menarik perhatianku, sebagian besar karena ingatanku tentang Shu dari masa-masa SD-ku.

Namun, tidak seperti kakak laki-laki-ku yang merupakan manusia super atau kakak perempuanku yang sulit untuk digolongkan sebagai manusia, aku benar-benar biasa saja. Njir, bahkan aku tidak se-antusias itu dalam bidang olahraga selama masa-masa SMA-ku, jadi aku benar-benar tidak ada urusan dengan klub itu.

“Ah, masa-masa SMA-ku…” gumamku dan tenggelam kedalam ingatanku.

Meskipun aku tidak bergabung dengan klub manapun selama kelas dua dan tiga, aku telah menjadi anggota aktif dari sebuah klub saat kelas satu. Klub itu bernama “Perkumpulan Penelitian Game Elektronik” atau disingkat “PPGE,” dan aktivitas-nya dimulai dan diakhiri dengan satu hal: bermain video game.

Sekolah-ku pasti tidak terlalu ketat karena mengizinkan klub seperti itu, tapi meski begitu, kami juga aktif mengikuti berbagai e-sport, bahkan kami pernah mengikuti beberapa turnamen tingkat nasional.

Ketua klub itu pernah meraih peringkat satu dalam sebuah event Verseair (game kartu), sementara wakil ketua pernah menjadi orang terakhir yang berhasil bertahan hidup dalam sebuah event battle royal besar di game War Ground (FPS). Aku, juga, telah meninggalkan jejak di sebuah turnamen Stream Fighter (game pertarungan), jadi kami memiliki tiga buah piala di ruang klub kami.

Ketua dan wakil ketua lulus tak lama setelah itu, tapi aku ingat kalau mereka sangat puas dengan kenangan yang telah mereka buat.

Aku penasaran apa yang mereka lakukan saat ini, pikirku saat aku membayangkan mereka—orang yang menjadi mahasiswa dua tahun sebelumku. Mereka mengirim kartu Tahun Baru, tapi mereka tidak mengatakan banyak hal tentang apa yang mereka lakukan. Tapi dilihat dari kepribadiannya, mereka mungkin masih bermain game.

“Aku bisa mencoba bergabung ke sebuah klub yang berhubungan dengan game sama seperti yang kulakukan di SMA, tapi… Oh, terserahlah, aku akan memikirkan hal ini setelah kuliah-ku benar-benar dimulai,” aku memutuskan hal itu.

Lagi pula, aku terlalu sibuk dengan Dendro saat ini.

Tiba-tiba, aku membayangkan kehidupan kampus yang hanya dihabiskan dengan bermain game, aku segera memendam bayangan itu jauh di dalam pikiranku dan bertekad untuk melakukan yang terbaik di sekolah tertinggi-ku dan pencarian kerja-ku dua atau tiga tahun kemudian.

*

Aku selesai melakukan pembuatan kartu mahasiswa dan segala urusan lain yang berhubungan dengan kampus sebelum waktu siang. Faktanya, apa yang harus kulakukan hanyalah memberikan sidik jariku.

Ke-simple-an itu membuatku tercengang, tapi sepertinya, itu adalah hal yang biasa sekarang ini.

Menurut seorang pekerja yang sudah tua, “Hal-Hal sudah semakin terkomputerisasi selama tiga puluh tahun aku bekerja disini, Bahkan prosedurnya telah menjadi se-simple ini.

Sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggalku juga sudah cukup maju, tapi tidak ada yang sampai seperti ini, yang menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan tinggi di kota-kota besar selalu lebih maju.

Sejujurnya, jika itu memang semudah ini, aku hanya bisa bertanya-tanya kenapa hal ini tidak dilakukan bersama dengan pengenalan singkat.

Pokoknya, meskipun hal itu selesai lebih cepat dari dugaan, sekarang sudah jam 11 tepat—agak terlalu cepat, tapi masih merupakan saat yang bagus untuk makan siang. Dengan pemikiran itu, aku berjalan menuju kantin, berharap agar masakan yang kumakan disana untuk empat tahun ke depan akan benar-benar enak.

“Wow… ada beberapa kantin disini,” kataku sambil memasuki salah satunya, terkejut dengan betapa berbedanya hal itu dengan kantin yang ada di SMA.

Aku melihat menu dan menyadari bahwa disini ada beberapa makanan spesial harian dan berbagai macam mie. Sambil melihat hidangan “Lobster Masak Miso Spesial,” yang menarik namun tidak menggugah selera, aku memesan spaghetti dengan saus daging—makanan favoritku.

“Rasanya… agak hambar.”

Makanan itu kekurangan sesuatu yang sudah akrab denganku.

Sekarang kalau kupikir-pikir, akhir-akhir ini aku tidak terlalu sering memasak, pikirku.

Aku sering membantu pekerjaan rumah, jadi aku sudah akrab dengan bersih-bersih dan memasak. Cukup sampai ibuku yakin bahwa aku tidak akan kesusahan saat tinggal sendirian. Namun meski begitu, aku jarang masak sendiri, dan sebagai gantinya memilih untuk memakan onigiri atau sandwich dari minimarket, atau semangkok sup yang dikirim oleh orang tuaku. Tidak butuh waktu lama sampai aku menyadari apa yang menyebabkan perubahan kebiasaan makanku ini.

“Ini semua karena Dendro,” kataku.

Semua makanan yang ada disana lebih baik dari pada yang ada di dunia nyata, seolah-olah itu memiliki kekuatan aneh yang hanya dimiliki oleh dunia fantasi.

Bagi orang-orang yang akrab dengan game-game RPG, makanan adalah hal yang, contohnya, memulihkan atau meningkatkan stats—tapi di Dendro, game yang memiliki rasa, hal itu tidak berakhir disana. Disana adalah makanan dan skill yang sepenuhnya fokus pada rasa, dan restoran yang dibangun menggunakan skill konstruksi tertentu akan memberikan bonus rasa pada semua makanan yang dibuat di dalamnya. Dengan menumpuk efek seperti itu, restoran populer, menurut Shu, dapat “dengan mudah melampaui restoran paling terkenal di dunia nyata.”

Tapi, aku tidak tau harus merasa bagaimana saat mendengar dirinya mengatakan hal itu, mengingat dia dapat dengan mudah melampaui restoran Dendro yang sudah ditingkatkan hanya dengan menggunakan sense skill belaka.

Baru-baru ini, dia memanggilku untuk mencoba permen buatannya, dan permen itu begitu enak sampai-sampai aku mengalami fenomena tak masuk akal bernama “inflasi rasa.”

Kembali ke laptop… Pada dasarnya, makanan yang ada di Dendro begitu enak sampai membuat makanan yang ada di dunia nyata terasa hambar. Aku tidak memasak hanya karena aku merasa bahwa apapun yang kubuat tidak akan sepadan dengan usaha yang kulakukan.

Memakan makanan mewah di Dendro, asupan nutrisi datar di dunia nyata… aku pernah membaca hal itu di internet, pikirku saat aku menyadari bahwa tanpa sadar aku mengikuti sesuatu yang disebut “Diet Dendro,” yang populer dikalangan para wanita.

“Mh…” aku melanjutkan makan siangku dalam diam.

Berdasarkan standar yang masuk akal, ini adalah makanan yang enak, tapi makanan ini seperti kekurangan kekuatan untuk memuaskan indera perasaku.

… Ayo coba tambahkan saus Tobasco dan keju parut ini, pikirku.

“Ahh, akhirnya aku menyelesaikan semua yang harus kulakukan,” kata seorang wanita yang duduk di belakangku. “Itu sungguh merepotkan.”

“Kerja bagus,” kata seorang pria yang menemaninya.

Tidak ada banyak orang di kantin pada jam segini, jadi aku bisa mendengar percakapan mereka dengan cukup jelas.

“Pasti enak karena kau semua tugasmu sudah selesai jauh sebelum deadline, eh. Kage?” lanjut wanita itu. “Seharusnya kau menunjukkan tugasmu padaku, kau tau?”

“Saya menganggap bahwa tugas sekolah adalah sesuatu yang harus anda kerjakan sendiri,” jawab sang pria.

Wanita itu memiliki logat kansai sedikit ke-kyoto-an, sementara sang pria berbicara dengan sangat sopan.

Sepertinya kampus benar-benar tempat bagi semua orang dari seluruh negeri, pikirku.

Setelah selesai melakukan makan siang, aku berjalan menuju pintu keluar kantin dan menyadari sebuah kertas tergantung di dekat madding. Terkejut karena kampus semaju ini masuk menggunakan sesuatu sekuno itu, aku menyempatkan diri untuk melihatnya.

Sementara sebagian kertas lainnya berbicara tentang kontak kampus dan klub, ada juga beberapa selebaran tentang pekerjaan paruh waktu. Sepertinya ada tawaran pekerjaan di bagian kantin, pekerja toko, dan bahkan guru privat.

Saat ini aku bisa hidup lancar hanya dengan bergantung pada uang bulananku, tapi aku mungkin harus mempertimbangkan untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Yah, mungkin aku akan melakukannya saat aku sudah tidak terlalu sibuk dengan Dendro, pikirku saat berjalan menjauh.

*

Setelah selesai dengan urusan kampusku, aku pergi untuk membeli beberapa kebutuhan dan pulang ke rumah di awal sore.

Saat aku menyusun barang-barang yang kubeli, handphone-ku mulai berdering saat seseorang meneleponku. Layarnya menampilkan kalau itu adalah ibuku, jadi aku tak ragu untuk menjawabnya dan mendekatkan handphone itu ke telingaku.

“Halo? Reiji?” benar saja, itu adalah ibuku, berbicara padaku dengan suara yang sama seperti yang kudengar kemarin.

“Hai, bu. Ada apa?” tanyaku.

“Jadwal mengatakan kalau hari ini adalah hari terakhir dari proses pendaftaran, dan aku hanya penasaran apakah kamu melakukannya…”

Ya, aku sudah menduganya, pikirku.

Ibuku sangat mudah khawatir, dan tak ragu untuk meneleponku pada hari dimana aku harus melakukan sesuatu. Dia juga meneleponku kemarin pagi, mengatakan “Hari ini adalah pemeriksaan fisik, bukan? Apakah kamu sudah siap?”

Menurut Shu, ibu sudah seperti itu sejak dulu. Kurasa aku tidak benar-benar bisa menyalahkannya, mengingat dia memiliki kakak perempuanku sebagai anak pertamanya.

Sejak kakak perempuanku masih kecil, bahkan lelucon terkecilnya sudah berada di luar ranah pemahaman. Sama seperti berbagai kesialan yang kuingat pagi ini, kakakku memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam situasi paling absurd dan melalui mereka hanya menggunakan kekerasan belaka, dan karena hal ini, orang tua kami memiliki waktu yang benar-benar buruk dengannya.

Dan yang membuatnya jadi lebih buruk lagi, Shu lahir tak lama setelahnya, dan meskipun dia bukanlah makhluk yang se-absurd kakak perempuanku, sudah jelas dia juga tidak normal.

Di masa kecilnya, dia telah masuk ke dunia hiburan dan menjadi penyanyi dan aktor cilik. Kemudian, selama masa-masa SMP dan SMA-nya, dia mencoba berlatih seni bela diri dan bahkan memenangkan Un-Kra. Dan saat dia mulai menjalani kehidupan kampus, dia belajar memasak begitu saja dan membuat makanan yang begitu enak sampai-sampai itu bisa membuat orang pingsan.

Pada dasarnya, dia bisa melakukan hampir semua yang dia coba.

Sejauh yang kutahu, satu-satunya pengecualian pada hal itu adalah seni. Aku ingat pernah melihat “karya”-nya dan berpikir bahwa aku mungkin harus menjadi alien untuk membuat mereka sedikit lebih masuk akal.

Pokoknya, memiliki dua orang abnormal itu sebagai anak mereka pasti telah membuat orang tuaku sangat kelelahan, dan bisa sepenuhnya memahami kenapa mereka juga begitu mengkhawatirkanku.

Tapi, dibandingkan dengan mereka… tidak, tanpa perbandingan apapun, aku sama normalnya seperti kebanyakan orang, jadi mereka tidak benar-benar perlu terlalu memikirkanku seperti itu.

… Aneh. Sebuah halusinasi audio dari suara Nemesis baru saja bertanya, “Apakah orang biasa bertarung dengan cara memakan daging undead? Bagaimana dengan memukul wajah seseorang menggunakan tangan yang gosong? Apakah itu normal?”

… Hei, aku masih lebih normal dibandingkan kedua saudaraku, jawabku dalam diam.

“Reiji?” Ibu berkata dengan nada khawatir membawaku kembali menuju kenyataan. “Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?”

“Uh, tidak, bukan apa-apa,” kataku untuk menenangkannya. “Aku telah menyelesaikan semuanya sebelum siang hari. Semuanya berjalan lancar. Sekarang, aku hanya perlu menunggu pembukaan yang dilakukan besok lusa.”

Yang merupakan kenyataan. 1 April tahun ini, hari dimana semester biasanya dimulai, adalah hari Sabtu, jadi event itu telah dimajukan menjadi hari Jum’at, 31 Maret. Tapi itu hanya akan menjadi acara pengarahan, dan berdasarkan jadwal, upacara pembukaan yang sebenarnya akan dilakukan beberapa saat setelah kuliah dimulai.

Aku ingat pernah merasa aneh saat mengetahui bahwa upacara pembukaan akan dipisahkan dengan pembukaan yang sebenarnya.

“Yah, baguslah kalau begitu,” kata Ibu. “Aku dan ayahmu akan datang untuk melihatmu di upacara pembukaan. Jika kamu memerlukan sesuatu, kamu bisa meminta bantuan Shu. Dia tidak berada jauh darimu.”

“Ya, aku tau.”

Shu mengatakan hal yang sama, pikirku.

“Tapi wow… Reiji kecil kami sudah jadi seorang mahasiswa. Waktu benar-benar cepat berlalu…” Meskipun kami berbicara melalui telepon, aku bisa dengan mudah menebak bahwa dia sedang tersentuh. “Kamu adalah anak yang begitu mudah dibesarkan… Yah, aku bisa mengatakan hal yang sama pada Shu, tapi dia hanya menyebabkan terlalu sedikit masalah. Dan kakak perempuanmu…”

Aku hampir dapat melihatnya meletakkan tangannya di kepalanya saat dia mengingat sesuatu. Dia mungkin sedang mengingat kejadian yang berhubungan dengan kakak perempuanku sama seperti yang kuingat, atau sesuatu yang terjadi sebelum aku lahir.

Atau mungkin…

“Apakah sesuatu terjadi ‘kepadanya lagi’?” tanyaku.

“Kemarin dia meneleponku dari seberang lautan dan berkata, ‘aku terseret dalam rencana teror bom di Val Verde. Kamu mungkin akan melihat namaku di berita, tapi ketahuilah bahwa aku baik-baik saja. Aku bahkan menangkap salah satu dalang dibalik teror itu.’”

“Ugh…”

Fakta bahwa dia terseret dalam kasus teroris telah memastikan bahwa dia sama sekali tidak berubah.

Tunggu, Val Verde…? Dia ada di Amerika Selatan lagi? pikirku.

“Kadang-kadang aku berpikir apakah dia itu sejenis superman atau terminator,” tambah ibuku.

Mengingat kecintaan kakak perempuanku terhadap film barat, pembandingan itu cukup masuk akal, tapi…

Aku memberitahu ibuku, “Terakhir kali kutanya, dia berkata, ‘Pemeriksaan rumah sakit menunjukkan bahwa aku adalah makhluk bumi. Oh, dan tentu saja tes DNA juga mendukung hal itu.’”

“Gadis itu hanya terlalu…” kata ibuku sambil menghela nafas. “Aku bisa memaklumi Shu, karena dia adalah seorang pria tanpa pekerjaan tetap, tapi aku ingin melihat kakak perempuanmu menikah secepatnya. Kalau seperti ini, dia akan memasuki umur tiga puluh tahun tanpa ada sedikitpun perubahan.”

“Yah, pertama kamu harus menemukan seseorang yang cukup berani untuk membuat ikatan dengannya,” komentarku.

Tentu saja aku tau bahwa aku tidak akan melakukannya, bahkan jika kami bukanlah keluarga, pikirku.

“Bagaimana denganmu, Reiji? Ada cerita manis yang terjadi?” Tanya ibu dengan tiba-tiba.

“… Eh?” Seruku, bingung kenapa topik pembicaraannya beralih kepadaku.

“Apakah sekarang kamu sudah mendapatkan pacar di kampus?”

“Aku baru menjalani pengenalan singkat dan proses pendaftaran,” protesku. “Tidak mungkin aku bisa mendapatkan pacar saat ini.”

Di Dendro, aku berkenalan dengan Liliana, Marie, dan gadis-gadis duel ranker seperti Juliet atau Chelsea, tapi mereka semua hanyalah teman—jauh dari kata “pacar” yang ibuku pikirkan.

“Bagaimana dengan makanan? Apakah sudah ada gadis yang membuatkan makan siang untukmu?”

“… Tidak.”

Tentu, Marie pernah membuatkan camilan malam untuk kami saat kami dalam perjalanan ke Gideon. Namun, menganggap hal yang dia buat sebagai makanan adalah hinaan bagi seluruh makanan yang ada dimana saja, itu tidak dihitung… tentu saja.”

“Apakah kamu setidaknya sudah berkendara dengan seorang gadis?”

“Aku tidak memiliki SIM untuk mengendarai mobil,” balasku. “Aku mempunyai SIM untuk sepeda motor, tapi aku tidak memiliki motor disini.”

Aku dan Nemesis kadang-kadang menunggangi Silver, tapi menunggangi kuda berbeda dengan “berkendara,” jadi, sekali lagi, itu tidak dihitung.

“Begitu,” kata Ibuku. “Aku hanya berpikir bahwa kamu adalah yang paling cocok dengan percintaan diantara kalian bertiga.”

“Apa? Bukankah itu adalah Shu?”

Sejauh yang kutahu, dia sangat populer di antara para gadis. Aku bisa dengan jelas mengingat jumlah cokelat yang dia bawa pulang pada hari Valentine saat dia masih SMA.

“Yah, saat ini dia seorang pengangguran…”

“Ohh…”

Memang benar. Saat ini, dia bermain Dendro sepanjang waktu, jadi dia mungkin tidak sepopuler dirinya pada masa SMA. Atau mungkin dia masih tetap populer dan aku hanya tidak mengetahui hal itu? Sejauh yang kutahu, dia hanya populer diantara anak-anak, dan itupun hanya sebagai sebuah maskot berbentuk beruang.

“Oh, tapi bu,” aku berpendapat. “Shu memang pengangguran, tapi dia memiliki pemasukan, kan? Aku yakin dia akan populer dengan wanita yang menikah untuk uang. Tidak masalah.”

“Sepertinya itu akan jadi masalah tersendiri…”

… Ya, aku menyadari hal itu tepat setelah mengatakannya, pikirku.

“Apakah terlalu berlebihan jika aku menginginkan cucu dalam sepuluh tahun ke depan?” tanyanya.

“Yah, Shu akan menikah sebelum berumur empat puluh tahun,” jawabku. “Mungkin.”

“Dan kakak perempuanmu?”

“…” Sunyi tanpa suara.

Maaf, bu, pikirku. Aku hanya tidak dapat membayangkan dia bisa menikah. Itu mungkin adalah kemungkinan yang harus digenggam jauh dibelakang titik desimal.

***

Duel City Gideon, Paladin, Ray Starling

Setelah menyelesaikan percakapanku dengan ibuku, aku log in ke Infinite Dendrogram.

Pertama-tama: aku memeriksa waktu dan melihat bahwa sekarang suda hampir pukul tiga sore disini.

Saat aku melakukan itu, Nemesis keluar dari tato.

“Apakah kau sudah selesai dengan urusan kampus dan sejenisnya?” tanyanya.

“Ya,” aku mengangguk. “Aku sudah menyelesaikan bagian terakhir dari prosedur itu.”

Yang berarti bahwa, hari ini dan besok, aku bisa sepenuhnya fokus pada Dendro, pikirku.

Akan tetapi, aku akan mulai menjalani aktivitas kuliah tak lama setelah itu… tapi itu adalah sesuatu yang bisa kupikirkan nanti.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan hari ini?” tanya Nemesis. “Pertemuan dengan Rook dan Marie baru akan berlangsung besok dalam waktu dunia ini, bukan?”

Menjadi sebuah party, kami sering melakukan berbagai quest.

Quest yang cukup populer adalah yang berhubungan dengan Jeand Grassland. Perubahan drastis pada wilayah itu telah mempengaruhi ekosistem lokal, menciptakan kondisi yang membuat monster-monster baru datang ke wilayah yang sangat dekat dengan kota. Quest untuk menaklukkan monster-monster berbahaya yang ada disana telah menjadi sesuatu yang biasa saat ini.

Kami berniat untuk menjalankan quest seperti itu hari ini, tapi urusan kampusku selesai lebih cepat dari dugaan, dan memberiku banyak waktu luang.

“Yah… kurasa aku akan berkunjung ke kantor ksatria,” kataku.

“Urusan seperti biasa?” tanya Nemesis.

“Ya.”

Saat aku datang kesana, seorang pekerja menyapaku dan mengantarku ke suatu tempat, tampak jelas sudah terbiasa dengan hal itu saat ini. Kami berdiri di depan sebuah pintu ber-keamanan tinggi saat pekerja itu menggunakan beberapa sihir untuk mematikan sistem keamanan itu.

Setelah berada di balik pintu itu, aku dikelilingi oleh banyak inventory berbentuk peti, yang semuanya hanya berisi item-item terkutuk.

Ada banyak cara dimana senjata dan armor bisa mendapat kutukan. Beberapa mendapat kutukan karena dendam orang mati; beberapa didesain untuk dikutuk oleh Dark Knight yang menggunakan mereka; beberapa ditinggalkan oleh Hexers, sebuah job yang sepenuhnya berfokus untuk mengutuk orang dan objek; beberapa menjadi terkutuk karena skill monster; dan lain sebagainya.

Meskipun beberapa kutukan bisa diangkat oleh pendeta biasa dari priest job grouping, banyak yang terlalu kuat untuk hal itu, membutuhkan kekuatan dari para max level tian—hal yang langka di kerajaan, dan sama halnya dengan di Gideon, karena sebagian besar pendeta hebat ada di ibukota.

Masalah lain dari item terkutuk adalah mereka tidak bisa dibuang—karena seseorang mungkin akan mengambilnya dan menerima kutukan—atau dihancurkan—karena item terkutuk mungkin akan menanggapi hal itu dengan melepaskan kutukannya. Ada juga fakta bahwa sebelumnya mereka adalah item-item yang bagus, jadi orang-orang enggan untuk menyingkirkan mereka.

Karena alasan diatas, kegiatan “penyucian dan penyimpanan” dalam waktu lama telah menciptakan tumpukan item terkutuk ini. Karena game telah dimulai dan para Master memasuki dunia ini, berimbas pada meningkatnya jumlah clergymen berlevel tinggi, situasi itu perlahan mulai membaik, tapi item-item terkutuk yang ada masih berjumlah sangat banyak.

Banyak item yang disimpan disini dulunya merupakan sebuah equipment yang kuat. Membuat mereka dapat digunakan lagi akan memberikan kekuatan yang lebih besar kepada orang-orang saat menghadapi kejadian-kejadian seperti Permainan Franklin atau perang yang akan datang, dan karena hal itu, Count Gideon telah mendesak agar mereka segera disucikan.

Tapi hal itu berjalan terlalu lambat, dan saat mereka bertanya-tanya tentang apa yang harus dilakukan, aku menerima dan menyucikan CBR Armor menggunakan special reward milikku.

Count entah bagaimana mendengar hal itu—mungkin dari Elizabeth, yang mendengar hal itu dari Marie—dan mengirimiku permintaan untuk menghilangkan kutukan pada item-item yang ada disini. Aku menerimanya, mengingat aku tidak terikat dengan jadwal apapun dan dapat melakukannya kapanpun aku memiliki waktu luang.

Oleh karenanya, aku sesekali mengunjungi kantor dan bekerja untuk mengangkat kutukan yang ada pada item-item disini.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk mengangkat kutukan pada sebuah inventory, Itu mungkin terkesan lama, tapi pendeta bahkan lebih parah lagi. Karena batasan MP dan cooldown pada skill mereka, mereka harus memurnikan item itu secara perlahan selama seharian penuh, sementara Grudge-soaked Greaves milik dapat melakukannya dengan lebih cepat dan aku hanya perlu mendekati item yang perlu disucikan. Tapi, akan butuh waktu lama sampai aku bisa menyucikan semua item yang ada disini.

“Kurasa, penyucian equipment ini akan memakan waktu lama?” tanya Nemesis.

“Yah, mereka sudah bertahun-tahun tertimbun disini,” jawabku. “Lihat saja sekeliling.”

“Jadi ini sangat kacau, bahkan untuk penyedot dendam milik Gouz-Maise.”

“… Penyedot dendam? Yah, itu cukup tepat sasaran.”

Apapun itu, aku diizinkan untuk melakukan apapun yang kumau, jadi aku bisa menyucikan semua ini dengan santai.

Yah, melakukan hal ini juga menguntungkan bagiku. Bagaimanapun, MP dan SP yang tersimpan di dalam Grudge-soaked Greaves akan semakin bertambah semakin banyak dendam yang diserapnya, dan mengingat adanya kemungkinan diriku untuk menggunakannya di pertarungan mendatang, memiliki lebih banyak simpanan tentu akan semakin baik.

Ngomong-ngomong, imbalan dari kegiatan ini tidak berbentuk uang. Untuk setiap sepuluh inventory yang kusucikan, mereka mengizinkanku mengambil salah satu senjata yang sudah disucikan. Inventory-inventory yang ada disini berisi senjata suci, pedang mistik, dan gem berkualitan tinggi, dan aku diizinkan mengambil salah satu yang telah kusucikan.

Tapi sayangnya…

“Tidak bagus,” kata Nemesis. “Yang satu ini juga kurang.”

“Cih…”

Saat aku memberitahunya tentang persenjataan cadangan, Nemesis berkata dia tidak akan mengizinkannya kecuali senjata itu lulus penilaiannya.

Dia begitu ketat sampai-sampai tak satupun dari sepuluh senjata yang kusucikan sejauh ini berhasil lolos.

Ada juga pedang yang terlihat sangat kuat, pikirku.

“Aku masih belum melihat satupun pedang yang lulus!” kata Nemesis.

Aku tau dia berkata, “Aku harus memastikan kalau itu benar-benar layak!” tapi aku sama sekali tidak tau dia akan seketat ini.

Apakah sebuah senjata yang lulus penilaiannya benar-benar ada? Pikirku dalam hati.

*

Setelah memurnikan satu inventory, aku meninggalkan ruangan, melihat keluar, dan ternyata sekarang sudah sore. Setelah selesai melaporkan hasil hari ini kepada orang yang bertugas, aku pergi keluar menuju lorong…

“Oh?”

… dan aku melihat seseorang yang familiar—Liliana.

Wajahnya memerah, dan dia berbicara dengan beberapa orang sambil terlihat agak cemas.

“Jadi dia tidak ada lagi di Gideon,” katanya sebelum terbatuk dengan keras. “Kurasa kita tidak mungkin tidak bisa menemukannya jika dia masih ada di dalam kota, jadi kita hanya bisa berpendapat bahwa dia pergi keluar…”

Orang-orang yang dia ajak berbicara mengenakan pakaian shinobi berwarna biru, dan memakai topeng serta pengikat kepala berlempengan besi, membuat mereka terlihat seperti ninja paling mainstream. Saat ini, mereka bukanlah pemandangan aneh di Gideon—kau bisa melihat mereka melompat dari satu atap ke atap lain tak peduli siang ataupun malam hari.

Penyebab utama dari pemandangan itu adalah salah satu anggota party kami: Marie.

Count Gideon benar-benar sedih karena kota ini mengalami hal horor dari Gouz-Maise Gang dan teror dari Permainan Franklin. Karena hal itu, dia memutuskan bahwa dia harus memperkuat kepolisian dan intelijen, dan dia sudah mempersiapkan uangnya untuk membentuk sebuah badan intelijen.

Karena kelompok seperti itu akan menangani informasi-informasi sensitif, Count Gideon ingin agar para anggotanya terdiri dari para tian, bukannya Master, tapi tempat ini kekurangan para tian yang memenuhi syarat.

Selama serangan oleh seekor SUBM bernama, Tri-Zenith Dragon, Gloria, dan perang yang terjadi kemudian, kerajaan telah kehilangan banyak tian petarung, menyisakan pasukan berlevel dan ber-skill rendah di negara ini. Sebagian besar dari sedikit tian yang dapat di andalkan berada di dalam ordo ksatria dan kelompok lain yang bermarkas di ibukota. Oleh karenanya, untuk membentuk sebuah badan intelijen yang dapat berperan ganda sebagai polisi, pertama-tama Count harus menemukan orang-orang yang tepat, dan dia telah memilih Marie untuk menolongnya melakukan hal itu.

Setelah Permainan Franklin, Elizabeth telah mengenalkannya dengan Count Gideon, dan Marie menggunakan kesempatan itu untuk menjual Jewel berisi monster yang hanya menyerang Master kepadanya, yang kemudian digunakan untuk melatih dan menaikkan level para ksatria tian.

Dia juga mengatakan kepada Count bahwa dia adalah Superior Killer dan seorang Death Shadow—Superior Job dari onmitsu grouping di Tenchi. Setelah mendengar hal itu, Count bertanya-tanya apakah dia dapat menggunakan koneksi Marie untuk merekrut beberapa ninja dari Tenchi untuk badan intelijen-nya, karena mereka dikenal sebagai kelompok yang sangat dapat diandalkan.

Marie menerima permintaannya dan menghubungi kelompok ninja Tenchi yang masih berhubungan dengannya, yang sepertinya adalah desa shinobi dimana dia mendapatkan onmitsu job miliknya.

Seolah-olah sudah takdir, sebuah perang saudara telah menghancurkan keluarga tuan mereka dan membuat mereka berkeliaran kesana-kemari, mencari tuan yang baru.

Keinginan Count Gideon dan keinginan kelompok ninja itu sangat cocok, dan tak lama kemudian, seluruh desa telah pindah ke kota ini.

“Tak lama kemudian” itu sedikit itu sebenarnya terkesan meremehkan, mengingat mereka datang kemari dari Tenchi—yang terletak di sisi lain benua—dalam waktu kurang dari seminggu. Itu adalah kecepatan yang mustahil bagi kebanyakan Master, apalagi para tian, dan tentu saja, Count benar-benar tercengang.

Namun, saat dia bertanya tentang hal itu, mereka hanya berkata, “Itu adalah rahasia dagang. Nin-nin,” dengan sikap yang tidak seperti para ninja. Sepertinya, bahkan Marie sendiri juga tidak tau bagaimana mereka bisa melakukannya.

Apapun alasannya, sesuai dengan reputasi mereka, para ninja itu sangat terampil.

Tenchi, negeri tempat asak Pasukan Shinobi Gideon, dikenal sebagai negara dengan tian terkuat. Bagi tian petarung di Tenchi, mencapai level 500 lebih seperti titik awal bagi mereka, karena mereka akan mulai mengasah teknik mereka sampai mereka menjadi ahli bela diri yang layak menyandang nama itu. Karena alasan ini dan alasan lainnya, Tenchi sering disebut sebagai “negeri perselisihan.”

Untungnya atau sialnya, tergantung pada pandanganmu, keadaan negara itu saat ini sangat mirip dengan Jepang pada Masa Sengoku, jadi kekuatan besar yang mereka miliki hampir tidak pernah di arahkan ke negara lain.

Bukan berarti perang saudara yang berkepanjangan itu lebih baik, tapi tetap saja, pikirku.

Pokoknya, para ninja mainstream itu semuanya berlevel max, membuat mereka cocok untuk pekerjaan itu. Count Gideon segera merekrut mereka dan mendirikan Pasukan Shinobi Gideon, sebuah badan informasi yang bekerja langsung di bawahnya. Dan dengan demikian, sekarang kami memiliki kota mirip Roma dimana ninja adalah pemandangan yang biasa.

Dan juga, Marie telah mendapatkan banyak uang dari perannya sebagai mediator, dan dia langsung mentraktir kami makan-makan.

Jadi ya, saat ini ninja adalah bagian yang biasa dari Gideon, tapi ekspresi panik Liliana saat berbicara dengan mereka jelas tidak termasuk.

“Tolong lakukan itu,” jawab Liliana dan kembali terbatuk. “Aku akan segera bergabung dengan kalian.”

“Jangan memaksakan diri.”

Para ninja itu memijak lantai yang ada di bawah mereka, berlari pergi, dan menghilang seperti bayangan di bawah sinar matahari.

“Ah, Ray!” Liliana berteriak saat dia melihat kami ada di dekatnya, kembali terlihat agak cemas.

“Apakah kau baik-baik saja, Liliana?” tanyaku.

Ekspresinya yang pucat menunjukkan bahwa dia sedang tidak enak badan.

“Oh, jangan pikirkan diriku,” katanya dan kembali terbatuk. “Yang Mulia melarikan diri hari ini. Barang kali kamu melihatnya?”

Dia menunjukkan sedikit niat untuk menjawab pertanyaanku, dan malahan mengungkapkan bahwa dia terseret lagi dalam masalah yang berhubungan dengan Elizabeth.

“… Tidak,” kataku, menggelengkan kepala menanggapinya.

Tuan putri kedua kerajaan memiliki karakter yang sangat bebas dan berani, serta merupakan seorang ahli melarikan diri yang hebat. Meskipun dia tidak melakukannya pada hari dimana dia harus melakukan urusan resmi, dirinya yang meninggalkan kediaman Gideon tempat dia menetap telah hampir menjadi keseharian saat ini.

Fakta bahwa dia bisa melarikan diri meskipun sedang diawasi oleh Royal Guard dan beberapa ninja level max semakin meyakinkan sampai sejauh mana kemampuannya. Sulit dipercayai bahwa dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak memiliki satupun job.

… Yah, alasan utama kenapa Elizabeth menjadi begitu bagus dalam melarikan diri adalah pelatihan dari Rook, yang, entah kenapa, telah dilatih hal seperti itu di dunia nyata.

Party kami dipenuhi para eksentrik, pikirku.

“Dan kau bukanlah pengecualian,” komentar Nemesis melalui telepati.

… Aku tidak benar-benar bisa menyangkalnya.

“Yah…aku tau kalau mungkin seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi bukankah itu sudah menjadi hal yang biasa saat ini?” aku bertanya pada Liliana.

“Memang benar.” Dia mengangguk. “Tapi masalah kali ini sedikit berbeda.”

“Apa yang berbeda?”

Elizabeth telah melarikan diri, dan para pejabat sedang berusaha menemukannya. Apa yang bisa jadi perbedaan disini?

“Belum lama ini, sebagai penanggulangan terhadap kebiasaannya, kami memberikan sebuah Jewel kepada Yang Mulia.”

Jewel adalah item yang bisa menyimpan monster peliharaan yang mematuhi pemilik mereka. Bahkan jika mereka tidak bisa memasukan monster itu ke dalam minion capacity milik mereka, anak-anak dan manusia berlevel rendah tetap bisa menggunakan mereka dengan cara mamasukan mereka ke dalam slot party.

“Begitu,” kataku. “Karena kalian tidak bisa mencegahnya melarikan diri, kalian memutuskan untuk memberinya sarana untuk melindungi dirinya sendiri.” Selama keamanan dipertimbangkan, itu adalah hal yang sangat masuk akal.

“Benar,” kata Liliana dan kembali terbatuk. “Count Gideon menggunakan koneksinya untuk memperoleh seekor Pure-Dragon dan menghadiahknnya kepada Yang Mulia.”

“Yah, itu cukup sesuatu…”

Kelangkaan mereka di pasaran membuat Pure-Dragon menjadi sangat mewah. Sementara Demi-Dragon berharga sekitar 1,000,000 lir, Pure-Dragon sering memiliki harga sepuluh kali lipat lebih mahal.

Kupikir Count Gideon tidak ragu mengeluarkan uangnya pada sesuatu yang begitu mahal karena dia merasa bertanggung jawab tentang penculikan Elizabeth selama Permainan Franklin.

Tapi njir, Count Gideon benar-benar kaya, pikirku.

Dia menghadiahi para Master, memberikan santunan kepada keluarga para korban, membiayai perbaikan kota, membuat Pasukan Shinobi Gideon, dan dia masih memiliki uang yang dapat digunakan. Kekayaannya mungkin adalah alasan lain kenapa Franklin memilih Gideon sebagai kota sasarannya.

“Dan, yah…. Nama Pure-Dragon itu adalah ‘Stealth Dragon,’” tambah Liliana.

“Oh, ‘Stealth Dragon,’ ya?” kataku. “Tunggu… Stealth?”

Aku punya firasat buruk tentang hal ini.

“Stealth Dragon memiliki kemampuan untuk menyembunyikan diri mereka dan orang yang menunggangi mereka,” jelas Liliana.

… Kurang lebih aku memahami apa yang terjadi.

Dia melanjutkan, “Count Gideon berpendapat bahwa hal itu akan membuatnya menjadi pengawal yang optimal, karena dia dapat menyembunyikan Yang Mulia dan menjauhkannya dari masalah, tapi…”

“… dia juga optimal sebagai rekan melarikan diri,” aku menyelesaikan perkataannya.

Tuan putri ahli melarikan diri telah mendapatkan rekan yang sempurna: seekor monster yang bisa diumpamakan sebagai Marie raksasa yang dapat terbang. Tentu saja, monster itu tidak memiliki Arc-en-Ciel, tapi hal itu tak dapat menghentikannya untuk menjadi sesuatu yang sangat merepotkan.

“Benar,” Liliana mengangguk. “Kami telah mencari Yang Mulia dan Stealth Dragon itu sejak saat mereka menghilang di pagi hari, tapi kami tidak dapat menemukan mereka dimanapun di Gideon, jadi kami menduga bahwa mereka mungkin meninggalkan kota.”

“Itu… masuk akal,” kataku.

Di antara para ninja, ada banyak orang dari onmitsu grouping, sama seperti Marie. Kelompok itu ahli dalam hal bersembunyi dan menemukan hal-hal yang disembunyikan, jadi jika mereka tidak bisa menemukan Elizabeth di Gideon, kemungkinan besar dia pergi keluar kota.

Berkat Pasukan Shinobi Gideon, sekarang kota menjadi jauh lebih damai dan aman. Namun, hal yang sama tak bisa dikatakan pada pinggiran kota yang dipenuhi monster. Meskipun kau memiliki pengawal Pure-Dragon, ini adalah dunia dimana kau dapat dengan mudah di sergap oleh sesuatu yang lebih kuat.

“Aku telah meminta Pasukan Shinobi Gideon untuk memperluas jangkauan pencarian mereka keluar kota,” kata Liliana saat dia berjalan menuju pintu keluar. “Aku hendak bergabung dengan mereka dan—“

Dia memotong perkataannya dan terbatuk begitu keras sampai-sampai dia terhuyung-huyung.

Itu telah menggangguku sejak saat aku bertemu dengannya hari ini. Wajah merah, batuk itu—sudah jelas bahwa dia sedang sakit.

“Maaf,” kataku. “Apakah kau terkena flu?”

“… Ya, tapi ini hanyalah flu biasa, bukan Epidemik yang terjadi di ibukota.”

Di Dendro, sakit dikategorikan sebagai debuff berbasis penyakit. Namun, tidak seperti racun dan sejenisnya, mereka bisa menjadi jauh lebih merepotkan, karena kebanyakan dari mereka tidak bisa dihilangkan menggunakan Elixir dan Antidote biasa.

Food Poisoning yang pernah kualami langsung menghilang setelah aku meminum sebuah obat, tapi disini ada Epidemik yang hanya bisa disembuhkan oleh skill penyembuhan milik Superior Job. Sayangnya, tidak semua orang memiliki hubungan dengan orang ber-skill seperti itu, jadi kebanyakan harus menyembuhkan diri mereka secara perlahan menggunakan obat yang dibuat oleh orang-orang yang berasal dari doctor grouping, dan menunggu penyakit itu hilang dengan sendirinya, atau…

“Liliana,” kataku dengan perlahan. “Apakah kau bertemu dengan Yang Mulia sebelum dia melarikan diri hari ini?”

“Ya,” dia mengangguk. “Tapi tak lama kemudian dia menghilang…”

Aku mulai memahami apa yang terjadi disini, pikirku.

“Baiklah, aku juga akan mencarinya. Tapi kau harus tinggal di Gideon dan beristirahat.”

“Tapi aku…!”

“Serahkan kepadaku,” kataku sambil menatap matanya. Dia ragu sesaat sebelum memberiku anggukan kecil.

“Baiklah,” katanya. “Aku akan menyerahkan Yang Mulia kepadamu.”

“Jangan khawatir, aku akan menemukannya apapun yang terjadi.” Aku mengangguk dengan percaya diri dan meninggalkan kantor ksatria.

[Quest Diterima: Pencarian—Elizabeth S. Altar, Kesulitan 5]

[Pastikan rincian quest di jendela quest]

Pesan yang kuterima sangat mirip dengan kejadian yang kualami sebulan yang lalu.

*

Setelah meninggalkan kantor, aku mengeluarkan Silver dari dalam inventory dan melompat ke atasnya, dan saat membuat tangan kiri palsu-ku memegang kekang, Nemesis naik di belakangku. Lalu aku mengaktifkan skill Wind Hoof milik Silver dan berpacu di udara menuju tempat tujuanku.

“Kau tau dimana kita bisa menemukan Elizabeth, Ray?” tanya Nemesis.

“Ya,” kataku. “Aku hampir sepenuhnya yakin bahwa dia pergi keluar untuk mencari makanan yang ampuh menyembuhkan flu.”

Dendro memiliki banyak makanan yang bisa menyehatkan seseorang, dan beberapa dari mereka efektif terhadap flu. Salah satu makanan itu adalah Clearberry—sejenis berry yang sering ditemukan di wilayah sekitar Gideon. Namun, Clearberry juga meringankan gejala dari Epidemik yang akhir-akhir ini menyerang ibukota, jadi sebagian besar Clearberry di Gideon telah dikirim kesana. Alejandro mengatakan kepadaku bahwa persediaannya benar-benar kosong.

Pagi ini, saat Tuan Putri melihat Liliana menderita flu, dia jelas ingin melakukan sesuatu tentang hal itu dan memutuskan untuk mendapatkan sedikit Clearberry. Dan jika dia tidak menemukan satupun makanan itu di toko-toko Gideon, sangat mungkin kalau dia menggunakan monster pengawalnya untuk memanennya secara langsung.

“Yah, bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang proaktif,” kata Nemesis.

Berkat quest yang kulakukan belum lama ini, aku tau dimana aku bisa menemukan Clearberry. Mereka tumbuh di wilayah barat daya Gideon, Saudade Woods.

“Monster-monster yang ada disana tidak berlevel terlalu tinggi, jadi itu tidak terlalu berbahaya,” kata Nemesis. “Seorang gadis kecil dengan seekor Pure-Dragon disisinya seharusnya akan baik-baik saja, kan?”

Dulu, monster-monster yang ada disana berada di bawah kelas Demi-Dragon, jadi itu tidak terlalu berbahaya,” jawabku sambil menekankan kata tertentu.

“… Dulu, ya?”

“Ya. Sekarang sudah berbeda.”

Setelah Permainan Franklin, ekosistem yang ada disekitar Gideon perlahan mulai berubah. Perbedaan yang paling tampak adalah monster-monster kuat yang dulunya hidup jauh dari kota mulai datang mendekati kota.

Saat aku mencari quest yang dapat diambil untuk party kami, aku mempelajari bahwa hutan barat daya sekarang merupakan habitat dari monster kelas Pure-Dragon dan di atasnya.

***

Barat Daya Gideon, Saudade Woods

Di tengah-tengah Saudade Woods, terdapat seorang gadis dan seekor Pure-Dragon.

“Fiuh, seharusnya ini sudah lebih dari cukup!” Tuan putri kedua Kerajaan Altar, Elizabeth S. Altar, mengangguk dengan puas sambil menatap ke arah keranjang yang penuh dengan Clearberry.

“KYULULU.” Sang Pure-Dragon berwarna putih dengan bulu mirip kelinci mengeluarkan sebuah suara, seolah-olah setuju dengan pemiliknya. Dia adalah Stealth Dragon bernama “Kyululu”—dinamai begitu oleh Elizabeth karena suara yang dia keluarkan.

“Kalau begitu, ayo kita pulang,” kata Elizabeth. “Sekarang sudah sore. Jika kita tidak pulang sekarang, mereka mungkin akan mulai khawatir.”

Dia tidak mengetahui bahwa mereka sudah khawatir. Standar gadis itu mengenai hal ini sangat berbeda dengan orang-orang yang bertanggung jawab mengawasinya.

Elizabeth naik ke punggung Kyululu dan, sama seperti saat mereka tiba disini, membuat monster itu menggunakan skill Optic Camouflage dan Presence Block untuk menyembunyikan mereka berdua dan meninggalkan Saudade Woods.

Kyululu membentangkan sayapnya, siap untuk terbang.

“Kyu?!”

Dia melompat kesamping dalam keterkejutan. Sesaat kemudian, sesuatu yang besar menembus permukaan dan keluar dari dalam tanah.

“SHAAAAAH…”

Itu adalah seekor monster raksasa yang memiliki kepala mirip ular kobra dan kaki mirip kelabang.

Monster itu menekuk kepalanya dan menatap langsung ke arah Kyululu dan Elizabeth seolah-olah Optic Camouflage itu sama sekali tidak memiliki efek.

“Ap-Apa?!” teriak Elizabeth.

“KYULULULU!”

Saat Elizabeth menjadi ketakutan, Kyululu mulai melompat menjauh dari monster itu, berhati-hati agar tidak membuat gadis yang ada di punggungnya terlempar.

Makhluk berkepala ular itu mengejar Kyululu dengan presisi yang sangat sempurna, sampai terasa menakutkan.

“Kyululu! Tidak bisakah kau terbang?!” teriak Elizabeth dalam keputusasaan.

“KYULULU…!”

Meskipun memiliki sayap yang mampu untuk terbang, Kyululu sedang berlari di atas tanah. Instingnya mengatakan kepadanya bahwa terbang akan langsung membunuh mereka berdua.

Monster yang mengejar mereka adalah seekor Viperhead Dragon Worm. Itu adalah seekor monster kelas Pure-Dragon yang memiliki racun, kemampuan mirip cacing untuk menggali tanah, dan skill mirip ular bernama “Heat Perception.”

“SHAAAAAH!”

Meskipun Kyululu juga merupakan seekor Pure-Dragon, dia berfokus pada kamuflase dan serangan kejutan yang membuatnya memiliki stats yang relatif rendah.

Viperhead Dragon Worm tidak hanya memiliki stats yang lebih besar, tapi dia juga meniadakan keuntungan utama milik Kyululu, Optic Camouflage, menggunakan Heat Perception miliknya.

Makhluk itu pada dasarnya adalah predator alami dari Stealth Dragon.

Satu-satunya cara untuk keluar dari situasi itu adalah dengan terbang, tapi hal itu akan berakhir jika Viperhead menyemburkan racunnya ke arah Kyululu saat dia berhenti untuk bersiap-siap terbang. Kyululu harus memperlebar jarak di antara mereka, tapi makhluk itu semakin mendekatinya dengan presisi yang menakutkan.

Tak lama kemudian, tering beracun milik Viperhead itu mencapai Elizabeth, tapi kemudian…

“Counter Absorption!”

… sebuah barrier cahaya muncul di depan taring itu.

“Eh?” seru gadis itu dalam kebingungan.

“KYULU…?” Stealth Dragon itu berteriak saat dia dan pemiliknya mencoba berbalik untuk melihat apa yang menyebabkan suara tabrakan di belakang mereka.

“Jangan berbalik! Lari saja! Menjauh, terbang, dan pergi dari sini!”

Didesak oleh perintah keras itu, mereka berdua menatap ke depan dan terus berlari.

Kyululu segera menciptakan jarak yang dibutuhkan dan terbang ke atas langit.

Pada saat itulah Elizabeth berbalik untuk pertama kalinya.

Disana, dia melihat seorang ksatria berpakaian merah-hitam yang mengendarai seekor kuda perak sedang bertarung melawan serangga berkepala ular itu.

***

Paladin, Ray Starling

Setelah mendengar suara sayap berkepak di belakangnya, aku menghembuskan nafas lega.

“Itu tadi hampir saja,” kata Nemesis.

“Benar.” Aku hanya bisa setuju dengannya. Aku takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi jika kami terlambat beberapa detik saja, dan aku benar-benar lega kami berhasil melakukannya.

“Sekarang, kita hanya tinggal melakukan sesuatu pada serangga berkepala ular ini,” tambah Nemesis.

“Benar.”

Serangga berkepala ular yang ada didepanku—sepertinya, seekor “Viperhead Dragon Worm—terlihat sangat kesal. Aku hanya bisa menduga bahwa dia marah dengan diriku yang menghalanginya dan membiarkan mangsa Pure-Dragon nya melarikan diri.

Dia mengancamku dengan pergerakan dan suara mirip ular.

“Jadi? Apakah kita harus membiarkannya pergi?” tanya Nemesis.

“Kita menyelamatkan tuan putri, tapi jika monster seperti ini hidup di dekat Gideon, pada akhirnya dia mungkin akan membunuh orang lain,” jawabku.

Dan itu akan meninggalkan rasa pahit di mulutku, jadi…

“… kita akan membunuhnya,” aku menyelesaikan perkataanku dengan keras. “Disini dan sekarang juga.”

“Baiklah.”

Dengan begitu dimulailah pertarungan kami.

“SHAAAAAH!” Mengancam kami sebagai musuh untuk dibunuh, bukannya mangsa untuk dimakan, serangga berkepala ular itu membuka mulutnya, bukan untuk menggigit, tapi untuk mengeluarkan nafas beracun. Asap hijau mengaburkan pandanganku dan membuatku terkena debuff Poison, yang menguras HP ku dengan cepat.

“Form Shift—Flag Halberd!” teriakku.

Dan dengan begitu, damage itu diputar balikkan.

Tepat setelah Nemesis berubah menjadi halberd, aku mengaktifkan Like a Flag Flying the Reversal, skill yang memutar balikkan efek debuff. Dengan itu, debuff Poison itu mulai menyembuhkanku.

Serangga berkepala ular itu terkejut saat melihatku masih berdiri tegak setelah menerima racunnya, dan sedikit mundur dariku.

Tidak menyia-nyiakan celah itu, aku mengangkat tangan kananku ke depan dan membuat Miasmaflame Bracer-ku mengeluarkan Hellish Miasma sambil mengaktifkan barrier Wind Woof milik Silver untuk melindungiku dari tiga debuff yang disebabkan skill itu.

Monster itu terhuyung-huyung. Dia memiliki resistensi terhadap Poison, tapi Weakness dan Intoxication tetap bekerja dengan baik.

“Panggung sudah di atur,” kataku. “Ayo, Nemesis!”

“Tentu saja!”

Strategiku sama dengan saat melawan Gardranda. Aku berulang kali membiarkannya melukaiku dan menyembuhkan diriku menggunakan debuff Poison yang diputar balikkan, mengumpulkan damage yang dibutuhkan untuk mengakhirinya dengan Vengeance is Mine.

Bisa disimpulkan bahwa, tidak seperti iblis itu, monster ini tidak akan berubah menjadi lebih kuat setelah aku mengambil kepalanya.

“Tapi, meskipun dia sudah menerima debuff Weakness, stats-nya jauh lebih tinggi darimu,” kata Nemesis. “Buat satu kesalahan, dan kau mungkin akan mati.”

“Benar,” kataku, mengakui bahwa stats-ku setara atau mungkin lebih rendah dari kelas Demi-Dragon. “Kesempatan menang kita hanya sekitar… empat puluh persen?”

“Ha ha ha! Empat puluh persen, katamu?” dia tertawa. “Itu jauh lebih tinggi dari pada seluruh pertarungan kita sebelumnya!”

“Benar sekali!”

Mengingat pertarungan yang telah kami lalui, kami berlari ke arah monster itu.

Dengan Silver sebagai tungganganku dan Nemesis di tanganku, aku bentrok dengan makhluk yang jauh lebih kuat dari diriku sendiri.

Sama seperti yang kami lakukan sebelumnya, dan sama seperti yang akan kami lakukan kedepannya, kami berjuang melawan kesulitan sambil berusaha meraih kemungkinan yang ingin kami genggam.

Saat taring musuh itu merobek tubuhku, saat pedangku menancap pada musuh, saat aku berhasil menghindari serangan mematikan dengan tipis, dan saat tindakan tak terduganya membuatku lengah, kami terus bertarung sampai akhir.

Dan dengan begitu, setelah bertarung selama satu jam…

“Vengeance is Mine!”

… kami melancarkan serangan yang memusnahkan kepalanya.

*

Setelah pertarungan itu, kami kembali ke Gideon.

“… Wew, aku lelah,” desahku.

“Itu sudah wajar,” kata Nemesis. “Kau sudah bertarung dalam waktu lama.”

Poison yang kuterima telah menghilang hanya dengan sebuah item penyembuh, tapi sayangnya, rasa lelah ini tidak mudah untuk dihilangkan. Aku menyeret tubuhku yang agak berat melalui jalanan Gideon.

“Tapi, aku bersyukur karena Elizabeth baik-baik saja,” kataku.

Setelah membunuh monster itu, aku pergi menuju kantor ksatria untuk melihat apakah dia bisa kembali dengan selamat, dan melihat dirinya sedang dimarahi oleh Liliana.

Mereka memutuskan bahwa Pure-Dragon yang dia gunakan untuk melarikan diri—“Kyululu,” sepertinya—hak kepemilikannya akan dipindahkan ke orang lain. Elizabeth akan tetap diizinkan untuk menjadikannya sebagai hewan peliharaan, tapi hanya itu. Para ksatria yang mengawasinya akan bergantian memiliki Kyululu sampai dapat dipastikan bahwa Elizabeth tidak akan melarikan diri lagi.

Pemandangan itu mengingatkanku pada saat dimana ibuku menyita mainanku saat aku masih kecil.

Meskipun Elizabeth sedih karena dimarahi, dia sepertinya paham kalau dia layak menerimanya karena telah membuat Liliana dan yang lainnya khawatir, jadi sudah jelas dia bukanlah gadis yang buruk.

Dan juga, pada saat Elizabeth dengan takut memberikan sekeranjang penuh Clearberry kepada Liliana, membuat Liliana terlihat hampir menangis, meninggalkan kesan yang mendalam kepadaku.

“Ini adalah akhir yang sangat bahagia,” kata Nemesis.

“Yap. Syukurlah semuanya berjalan lancar.”

Tapi njir, quest dari Liliana selalu berhubungan dengan pencarian gadis kecil dan bertarung melawan seekor cacing…

Itu sama seperti quest pertama yang kulakukan setelah bermain Dendro.

Di pertarungan pertama itu, pertarungan dimana aku dan Nemesis pertama kali bertemu, aku berhadapan dengan seekor Demi-Dragon Worm dan secara tipis berhasil menggenggam kemungkinan yang ada bersama Nemesis di sisiku. Dan hari ini, aku dan Nemesis bertarung melawan monster yang jauh lebih kuat dan tetap berhasil menggenggam kemungkinan yang ada.

Pertarungan itu terasa sedikit lebih mudah dari pada yang pertama, sih, pikirku.

“Itu karena kau sudah tumbuh sejak saat itu,” kata Nemesis.

Aku sudah sedikit berubah selama satu bulan yang kujalani di dunia ini, tapi aku aku tidak berpikir bahwa diriku yang menjadi lebih kuat adalah perbedaan terbesarnya. Perbedaan terbesar adalah sejak awal aku sudah memiliki Nemesis disisiku dalam pertarungan hari ini.

Di hari pertamaku, aku melindungi Milia sampai aku babak belur, harus memohon untuk diberikan kemungkinan, dan mendapat jawaban dari Nemesis. Hari ini, Nemesis telah mendukungku sejak awal, dan jika itu bukanlah perbedaan terbesar, aku tidak tau lagi apa itu.

Hm… aku merenung dalam diam.

Ini rasanya seperti, sama semua yang terjadi sebelum hari ini dan sama seperti hari ini, aku mungkin akan berada di tengah-tengah berbagai insiden. Beberapa mungkin jauh lebih buruk, lebih intens, atau lebih menakutkan dari pada insiden-insiden yang terjadi sebelumnya. Tapi…

“Hm? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Nemesis.

“Bukan apa-apa…”

Tidak peduli apapun yang menghalangi jalanku, aku merasa bahwa aku bisa melewati semua itu selama aku bersama dengan rekanku. Dengan demikian, kehidupan sehari-hariku akan berlalu bersama dengan diriku dan Nemesis menyelesaikan semua masalah yang kami temui.

“Bagaimanapun, ini terlambat,” kataku. “Haruskah kita pergi mencari sesuatu untuk dimakan?”

“Tentu,” kata Nemesis. “Coffer dari serangga berkepala ular itu hanya berisi item yang hanya dapat kau ubah menjadi uang, jadi ayo gunakan uang itu untuk berpesta!”

“… Jangan terlalu berlebihan, sih.”

Dan dengan begitu, aku dan Nemesis berjalan melalui jalanan di kala senja.

 

Tamat

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. reiji says:

    W brasa jengkek yak sm kalimat “itu akan meninggalkan rasa pahit di mulutku” pdhl game tp d anggp nyata dgn klmtnya sndri

    Like

    1. reiji says:

      Jengkel

      Like

  2. kakiindah says:

    yg lagi ngobrol dikantin itu sipendeta bulan?

    Like

  3. Enzy says:

    thanks zen untuk babnya.
    baru juga pindah. udah main tonjok tetangga arpatement aja.. :v
    next.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s