Infinite Dendrogram Volume 5 Epilog B

Volume 5
Epilog B – Saudari

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Pinggiran ibukota kekaisaran, markas Triangle of Wisdom, High Pilot, Hugo Lesseps

Ibukota Kekaisaran Dryfe, Vandelheim, memiliki dua wajah.

Salah satunya adalah sebuah kota Eropa abad 19. Saat ini, kau hanya bisa melihat tata kota seperti itu di sebuah foto hitam-putih sederhana yang di ambil pada masa itu. Meskipun itu dianggap kota modern disini di Infinite Dendrogram, itu tak lebih dari sesuatu yang kuno bagi Penduduk Bumi yang hidup pada tahun 2045.

Itulah salah satu wajah yang dimiliki Vandelheim, sementara yang satunya lagi dapat di demonstrasikan dengan pemandangan yang ada di depanku.

“GHAAH!” satu orang terlihat panik. “Model amphibi yang baru telah tenggelam ke dalam kolam! Itu tidak mau naik ke atas lagi!”

“Oh, kehabisan MP, eh?” kata orang lainnya. “Itu menggunakan mesin sihir sebagai sarana pembuatan oksigen dan penghalang anti-tekanan, jadi itu sudah agak bisa diduga.”

“Sepertinya kita harus menggunakan metode kimia biasa untuk suplai oksigennya dan melawan tekanan dengan desain dan material yang lebih baik,” orang ketiga ikut nimbrung. “Kita tidak boleh mencoba untuk memecahkan segalanya dengan sihir. Kita sedang berurusan dengan robot disini.”

“Oi, seriuslah! Bantu aku mengeluarkan Zerbahl Type M dari sana!”

“Glubglubglub…”orang yang berada di dalam robot tenggelam itu menggumamkan sesuatu yang tak dapat dipahami.

“Oh, itu juga tidak benar-benar kedap udara.”

“Sepertinya ada air yang masuk ke dalamnya. Masalah dengan gasket atau rangkanya, kurasa?”

“OI!”

“GLUBGLUB, AKU MATI!”

Orang yang panik di pinggir kolam eksperimen sedalam 10 meter itu adalah Zerbahl, seorang Engineer. Dua orang yang mengamati hasil itu sambil mengumpulkan data dan sedang mengotak-atik sesuatu adalah Flosch dan Roboroman, keduanya adalah Mechanic. Aku tidak terlalu yakin dengan orang yang tenggelam ke dalam air, tapi mungkin dia adalah salah satu Pilot kami, Kuromiki.

“Permisi,” seorang gadis berbicara kepada dua orang anggota kami. “Marshall II buatan khusus yang dipesan oleh militer sepertinya sudah mulai dibuat, tapi cat warna apa yang akan digunakan pada robot-robot itu?”

“Yah, mereka mengatakan sesuatu tentang merah, jadi kurasa warna itulah yang akan kita gunakan pada semuanya,” kata salah satu dari mereka. “Ayo kita tambahkan tanduk juga.”

“Kita tidak memerlukan tanduk,” kata orang lainnya. “Perangkat komunikasi kita tidak memerlukan antena. Dan juga, kita hanya akan mengecat punggungnya.”

“… Hei coba pikir, warna hijau gelap yang menjadi dasar Marshall II di kombinasikan dengan bahu berwarna merah itu terkesan terlalu biasa.”

“Yah, aku juga bisa mengatakan hal yang sama pada Marshall II merah dengan tanduk aneh sialan itu.”

“Itu tidak masalah, kalian berdua, katakan saja—“

“ITU MASALAH!” mereka berdua berteriak secara bersamaan.

“Eek!”

Gadis dengan berkas laporan di tangannya itu adalah Luphia, seorang tian yang bekerja di bagian urusan umum milik kami. Dua orang yang memaksakan kehendak mereka—atau lebih tepatnya, selera mereka—untuk menanggapi pertanyaan itu adalah Painter, MS Geomad dan Assault Tripper.

“Oh iya. Sepertinya, ketua kita pergi untuk melakukan sesuatu, kalah, dan kembali pulang,” kata salah seorang di kelompok lain.

“Sumbernya?” tanya orang lainnya.

“MMO Journal Planter.”

“Oh, iya. Aku telah terlalu sibuk dengan desain dan pengujianku sampai-sampai aku lupa memeriksanya.”

“Sama, aheheheh,” orang ketiga tertawa dengan gaya aneh.

“Kau sudah berapa hari?”

“Lima.”

“Aku menang. Aku sudah tujuh hari.”

“… apakah itu benar-benar bisa disebut kemenangan?”

Mereka bertiga telah begadang secara terus-menerus disini dan di dunia nyata, akan tetapi—meskipun mereka melakukannya dengan seringai gila di wajahnya—mereka masih mampu untuk membuat Magingear. Mereka adalah High Engineer: Boolantan, Draragun, dan Black Company.

Mereka semua membuat apa yang mereka suka, menghadapi berbagai masalah saat melakukannya, mengumpulkan ide mereka, dan kadang-kadang jadi terlalu bersemangat dengan pekerjaan mereka.

“Yah… tempat ini sama seperti biasanya,” kataku pada diriku sendiri.

Setelah death penalty-ku berakhir, aku log in dan mendapati klan-ku sama sekali tak berubah.

Aku sedang berdiri di sebuah fasilitas besar seluas 200,000 meter persegi yang terletak di pinggiran Vandelheim. Ini adalah markas Triangle of Wisdom dan pusat dari teknologi modern kekaisaran.

Pemandangan ini… campuran para eksentrik, orang-orang aneh, dan orang-orang biasa yang bermain-main dengan robot adalah wajah lain milik ibukota kekaisaran.

Pemandangan seperti itu bukanlah hal yang aneh di kota ini, tapi dalam hal skala, tak ada yang bisa menandingi Triangle of Wisdom.

Ini adalah klan yang telah dia buat—sebuah tempat dimana orang-orang bisa berkumpul, mengombinasikan kecerdasan mereka dan membuat apa yang mereka inginkan, sesuka mereka.

“Mh…” Aku melihat pemandangan itu dalam diam dan merenung.

Sama seperti kota, orang-orangnya juga memiliki banyak wajah. Jika rencana di Gideon adalah sisi gelap milik dirinya, maka sudah jelas ini adalah sisi terangnya.

“Baiklah, kalau begitu…” gumamku.

Aku berbalik dari pemandangan sehari-hari itu dan berjalan menuju tempat tertentu di dalam markas: bagian tengah bangunan ini.

Itu adalah ruangan ketua klan… Mr. Franklin… saudariku.

***

“Aku memintamu untuk meninggalkan klan,” katanya tepat saat aku masuk, tanpa sedikitpun sapaan, dan menikmati kenyamanan tempat duduknya.

“Jadi kau memecatku,” kataku, tidak terkejut sama sekali.

Aku sudah bersiap akan hal ini. Bagaimanapun, saat dia mengaktifkan Rencana C—rencana yang dia sembunyikan dariku—aku telah mengkhianatinya. Jika aku tidak menonaktifkan debuff Freeze milik La Porte de l’Enfer, rencananya akan berjalan sedikit lebih baik.

“Veldorbell berkata bahwa dia juga akan meninggalkan klan,” tambahnya. “Yah, dia adalah seorang tamu, jadi itu tidak aneh.”

Nadanya saat dua memecatku dan berbicara tentang Veldorbell sama persis seperti biasanya—nada yang dia gunakan saat berperan sebagai ilmuwan gila bernama “Mr. Franklin.”

“Dia juga meninggalkan kado perpisahan bagus untuk kita, tiga buah soundtrack. Orang itu benar-benar sangat metodis. Sayang sekali kita kehilangan dirinya, tapi… yah… aku tidak benar-benar bisa mendebat hal itu.”

“Kau tak bisa?” tanyaku.

“Ya,” angguknya. “Dia hanya bergabung untuk menemukan ‘pahlawan sungguhan’ atau sejenisnya, tapi ambil bagian dalam rencanaku telah membuatnya melewatkan banyak hal. Aku juga berpikir bahwa dia juga tidak terlalu senang dengan apa yang kulakukan.”

Dia kemudian menutup matanya, seolah-olah sedang mengingat sesuatu.

“Aku bukanlah orang yang terlalu populer. Dia bukanlah yang pertama menjauhkan diri dariku. Tepat sebelum perang, A-RI-CA, sang Ace, meninggalkanku dan pergi untuk menjadi salah satu Superior milik Caldina. Orang-orang berpaling dariku dari waktu ke waktu…”

Dia menunjukkan sebuah senyum kecut dan menatap langsung ke arahku.

“Yu,” katanya, mengubah nada suaranya. Dia berbicara kepadaku sebagai dirinya sendiri saat ini. “Kenapa kau datang untuk menolongku? Kau merasa jijik padaku, bukan?”

“Bukan itu…”

“Kau merasa dikhianati, bukan?” Dia memotong perkataanku, tak membiarkan diriku menyangkalnya.

“Itu…”

Jika aku mencoba menjawab pertanyaan itu dengan “Itu tidak benar,” sudah jelas itu adalah kebohongan. Dia berjanji bahwa dia tidak akan melukai para tian, tapi kemudian malah merancang sebuah rencana dimana dia mengingkari janji itu.

“Itulah sebabnya, sebelum kau pergi, aku ingin tau,” lanjutnya. “Kenapa kau datang untuk menolongku di Pandemonium?”

Dia menginginkan sebuah jawaban. Tapi…

“Aku… Aku juga tidak tau,” gumamku.

Aku mencari ke dalam diriku, tapi tak dapat menemukan jawabannya, tak peduli seberapa keras aku melakukannya. Bagaimanapun, aku bertindak tanpa memikirkannya terlebih dahulu, jadi aku tetap tak akan mengetahuinya sebanyak apapun aku memikirkannya.

“Aku hanya tidak tau…”

Tanpa kusadari, air mata mulai mengalir di wajahku.

Itu adalah reaksi terlambat atas fakta bahwa sekarang aku juga akan berpisah dengan kakakku di dunia ini. Kalimat “sebelum kau pergi” mengingatkanku akan hal ini.

Aku akhirnya paham.

Bahkan jika dia berbohong kepadaku, mengkhianatiku, dan melakukan hal-hal yang menurutku mengerikan… aku tetap sangat mencintai kakakku.

Karena aku tak dapat memberikan jawabanku sendiri dan hanya terus menangis, dia menyimpulkannya sendiri. “Kau tidak bisa memikirkan apa yang harus dilakukan, jadi kau bertindak tanpa berpikir dan berakhir melakukan apa yang kau lakukan.”

Dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arahku.

“Lain kali, luangkanlah waktu untuk membentuk kesimpulan yang dapat kau genggam sampai titik darah penghabisan,” katanya sambil mengeluarkan sapu tangan dan mengusap air mataku.

“Ah,” aku terkesiap dalam diam saat aku menyadari bahwa dia melakukannya dengan kasih sayang yang persis seperti yang biasa dia lakukan.

“Yu.” Dia menatap mataku. “Bepergian dan luaskanlah cakrawala mu. Itulah yang kulakukan di Bumi dulu.”

“Eh…?”

“Untungnya, pengalaman di dunia ini—khususnya yang berkaitan dengan peranmu—tidak akan pernah sia-sia. Ada banyak hal yang bisa kau dapatkan jika kau meninggalkan sisiku dan bepergian ke seluruh dunia, jadi jangan ikat dirimu denganku maupun klan. Nikmatilah Infinite Dendrogram sesukamu. Dan jika kau ingin kembali setelah kau selesai melakukannya, aku akan selalu siap untuk menerimamu.”

“Kak…”

“Oh, dan juga.” Dia merogoh inventory-nya dan mengeluarkan sesuatu. Itu adalah sebuah Garage yang berisi Magingear. “Ini adalah kado perpisahan… serta hadiah ulang tahun. Kau akan berumur lima belas tahun di hari selasa minggu depan, kan?”

“Kau mengingatnya…?” Aku bertanya dan membuatnya menunjukkan seringai kecut.

“Jangan bodoh. Aku tidak mungkin bisa melupakan ulang tahunmu.” Lalu seringai itu berubah menjadi senyuman.

Itu berbeda dengan semua ekspresi yang dia tunjukkan selama insiden di Gideon. Malahan, itu sama seperti senyum lembut yang dia tunjukkan kepadaku dulu sekali, saat kami masih tinggal bersama.

“Francesca…” aku menyebutkan nama aslinya saat air mata yang telah dia usap kembali mengalir lagi.

Aku akhirnya paham.

Pria iblis itu benar—aku selalu berpaling dari sisi buruknya. Sisi itu jelas ada, dan hal itu membuat banyak orang menderita, tapi bukan hanya itu yang dia miliki. Sama seperti saat ini, dia masih bisa sangat lembut kepadaku, dan itu bukanlah khayalan.

“Terima kasih Francesca,” kataku. “Mari bertemu lagi suatu hati nanti.”

“Tentu saja, Yu.” Dia mengangguk. “Sampai jumpa lagi.”

Dengan itu, aku meninggalkan Triangle of Wisdom.

Setelah aku keluar dari ruangan, Cyco keluar dari tangan kiriku.

“Itu ekspresi yang bagus, Hugo,” katanya.

“Mhm…”

“Baguslah kau bisa jujur dengan kakakmu, kan?”

“Cyco…”

Sepertinya, rekan berlidah tajam-ku ini telah menyaksikan percakapanku dan kakakku.

“Terima kasih, Cyc—“

“Tapi, aku tau kalau kalian sebenarnya sama-sama seorang gadis, tapi kalian berdua terlihat seperti pria dewasa. Dan pemandangan dimana dua orang pria dewasa berbicara seperti wanita dan melakukan perpisahan penuh air mata itu agak… kau tau…”

… Cyco, kalimat itu benar-benar merusaknya, pikirku dengan masam.

***

Giga Professor, Mr. Franklin

Masih di ruanganku, aku menatap ke arah monitor dan melihat Yu pergi.

Dia dikelilingi oleh banyak anggota klan-ku. Aku baru saja mengumumkan bahwa dia akan pergi berpetualang, jadi mereka semua datang untuk mengantar kepergiannya.

Meskipun sedih atas kepergiannya, mereka semua menyemangatinya dan berharap yang terbaik untuknya.

Yu beru berada di klan ini selama satu bulan di waktu dunia nyata, tapi dia sudah sangat populer di antara anggota-anggota kami. Dia sangat lembut, dan sejauh yang ku tahu, dia menghabiskan banyak waktunya untuk membantu orang lain. Dia bahkan mengingat nama dari beberapa ratus anggota klan, yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa dia disukai.

Dan bicara soal disukai… sekelompok perempuan sedang menangis. Mereka adalah Yu Fan Club di klan ini.

Itu semua tidak masalah, tapi… Yu sebenarnya adalah seorang perempuan. Aku juga seorang wanita, tapi anehnya, jarang ada orang yang menyadarinya.

Apakah mereka itu mirip seperti fan dari Takarazuka Revue?

Sejujurnya, aku sama sekali tidak bisa dihubungkan dengan hal itu.

“Akan jadi sangat sepi disini,” kata salah satu anggota klan yang mengelilinginya.

“Ya… kita kehilangan seorang pilot penguji yang berbakat.”

“Aku benar-benar ingin dia menguji Supersonic Death Revolver Catapult.”

Oke, apa-apaan perangkat dengan nama menakjubkan itu, dan kenapa aku tidak tau tentang hal itu?

“Oh tidak! Kita kehilangan seorang Master yang tampan luar-dalam.”

“Itu jauh lebih langka dari pada mereka yang hanya tampan di luar.”

“Hanya orang cantik yang mati muda…”

Yu tidak mati, sih.

“Dengan ini pergilah sang pilot dengan seorang Maiden…”

“Mereka juga begitu indah… khususnya untuk hal-hal mesum…”

“Oh, ngomong-ngomong soal itu, aku akan mengirimkan barang ketua x Hugo yang baru setelah itu selesai.”

Baiklah, departemen fanfiction adalah yang selanjutnya akan menjadi makanan monster-monsterku.

“Ketua seharusnya juga datang dan mengantar kepergiannya.”

“Gan, apakah kau tau siapa yang sedang kau bicarakan? Orang itu mungkin sedang menyaksikan hal ini melalui kamera-kamera yang ada disana.”

“Haruskah kita meretas dan mematikan jaringan kamera itu?”

“… Pada akhirnya kitalah yang harus memperbaikinya, kau tau?”

Aku jauh lebih suka jika mereka tidak merusak sistem keamanan milik mereka sendiri. Tapi, mereka sepenuhnya benar tentang diriku yang sedang menyaksikan hal itu.

Perpisahan itu berlangsung lama. Selama satu bulan—tiga bulan dalam waktu Dendro—dirinya berada di Triangle of Wisdom, Yu telah menjadi anggota klan sungguhan.

“Hm…” aku merenung dalam diam.

Aku adalah orang yang mengundangnya ke dalam klan, atau lebih tepatnya, Infinite Dendrogram secara keseluruhan. Sejujurnya, aku bisa saja mengundangnya jauh lebih cepat, dan agak aneh karena aku tidak melakukannya.

Setelah kekaisaran meraih superioritas atas kerajaan, setelah aku membunuh orang yang memberiku death penalty, dan setelah Triangle of Wisdom-ku menjadi lebih berada dari pada sebelumnya, aku tiba-tiba kepikiran untuk mengajaknya.

Aku tidak tau apakah aku hanya ingin menunjukkan apa yang kubuat kepadanya, atau aku hanya tidak memiliki hal lain yang bisa dilakukan, tapi pada saat itulah aku bertekad untuk bertemu dengannya lagi, setelah berpisah selama beberapa tahun.

Dan tak lama kemudian, aku dan dia bertemu di dunia ini.

Sejujurnya, aku benar-benar tak menyangka dia akan sama sepertiku dan menggunakan avatar dari lawan jenis. Hal itu membuat pertemuan kami menjadi lebih merepotkan dari pada yang kuduga.

Pokoknya, meskipun beberapa tahun telah berlalu sejak kami bertatap muka satu sama lain, dia tetaplah seorang gadis yang sangat baik. Meskipun dia memerankan karakter mirip ksatria/pangeran pujangga, dia tetap lembut seperti biasa.

Embryo-nya yang merupakan Type Maiden memastikan bahwa dia juga mempertimbangkan para tian yang menganggap dunia ini sebagai rumah mereka, yang benar-benar mirip dirinya.

Yu memang lembut.

Namun, sepertinya dia salah memahami sesuatu.

“Yah, itu lebih seperti akulah yang membuatnya salah paham,” kataku.

Dia mungkin percaya bahwa aku membuatnya meninggalkan klan dan melakukan perjalanan murni demi kepentingannya. Ya, itu adalah salah satu alasannya, tapi aku juga melakukan hal itu demi diriku sendiri.

Kenapa? Itu sangat sederhana.

“Dengan dirinya berada di sisiku… aku tak dapat melakukan apapun yang benar-benar keji.”

Rencana C dan D telah gagal. Itu berarti bahwa disaat selanjutnya aku merancang sebuah rencana atau bekerja untuk memusnahkan mereka yang mengalahkanku, aku harus melakukan sesuatu yang jauh lebih jahat.

Jika Yu ada disisiku, dia akan menjadi rem mental bagiku.

Sebenarnya, aku bisa jauh lebih kejam pada rencanaku di Gideon. Meskipun kehadirannya memberiku ketenangan pikiran, dia telah menghalangi jalanku untuk mencapai kemenangan.

Dan sekarang, dia sudah pergi.

Adikku tercinta—orang yang ingin kutunjukkan kelembutanku, dan perwujudan dari hati nuraniku—tidak lagi ada disisiku.

Aku sekarang bebas bertindak tanpa kekangan.

Aku tidak perlu pilih-pilih soal metode yang kugunakan, dan aku bisa bertarung dengan orang yang mengalahkanku dengan segala yang kumiliki.

“Jaga kepalamu untukku… Ray Starling,” kataku, saat kekesalan murni menggelegak di tenggorokanku.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

3 Comments Add yours

  1. yu says:

    Lanjutkan min tl nya dan jg lupa jg kshtan.

    Like

  2. ray starling says:

    Haha…awas ad yg pasang dendam sama aku. Kkkk….

    Like

    1. Shu starling says:

      Tenang ada king of destruction!

      Like

Leave a Reply to yu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s