Infinite Dendrogram Volume 5 Chapter 4

Volume 5
Chapter 4 – King of Destruction, Shu Starling

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

???

Shu Starling, sang King of Destruction, adalah salah satu Superior kerajaan, dan dia telah berada di puncak kill ranking negara itu selama lebih dari dua tahun dalam waktu Infinite Dendrogram.

Namanya hanya diketahui sedikit orang, tapi ada banyak perbuatannya yang telah dibicarakan di seluruh dunia.

Perbuatan-perbuatan itu diantaranya adalah mengalahkan Tri-Zenith Dragon, Gloria; Insiden Corpse Stronghold di Laut Selatan; Insiden Kim-un-Kamuy di Tenchi; musnah-nya pegunungan di Caldina, yang merupakan akibat dari pertarungannya melawan The Earth; dan jatuhnya Unidentified Flying Stronghold, Laputa, yang merupakan salah satu Superior Embryo milik Huang He.

Meskipun dia telah meraih reputasi sebagai tokoh utama dalam banyak kejadian serupa, hampir sama sekali tidak ada informasi tentang dirinya.

Penampilannya sama misterius nya dengan namanya, dan banyak orang berpendapat bahwa avatar-nya sebenarnya bukan manusia. Para saksi mendeskripsikannya sebagai “putih,” “hitam,” “selalu terlihat berbeda,” atau “lembut dan halus,” dan meskipun rumor itu tidak salah, tidak ada penyangkalan terhadap ketidakjelasan informasi itu.

Namun, ada dua buah info spesifik yang kebanyakan orang anggap sangat akurat.

Yang pertama adalah pendapat bahwa dia memegang sebuah Superior Job dari crasher grouping. Pertumbuhan stats-nya hanya berfokus pada STR, dan keahliannya adalah menghancurkan material pertahanan dalam kejadian-kejadian seperti pengepungan benteng. Sayangnya, AGI dan END dari crasher grouping sangatlah rendah, membuatnya tidak cocok untuk berperan sebagai vanguard.

Tapi King of Destruction, Shu Starling…

***

Jeand Grassland

Pemandangan itu sangat mirip dengan adegan yang ada di manga aksi beberapa dekade yang lalu.

Pria itu menendang seekor monster. Makhluk menyedihkan itu hancur dan terbang ke arah monster lainnya, yang semuanya ikut hancur karena dampak yang mereka terima.

Monster lain datang dari belakang pria itu.

Sebelum monster itu menyadarinya, pria itu telah menempatkan tinjunya di bawah lehernya dan melakukan pukulan uppercut kepada monster itu, mengirim monster malang itu terbang ke bulan.

Dalam waktu kurang dari satu menit, lebih dari 300 monster telah dikalahkan—tidak, dihancurkan.

Dan semua itu hanya dilakukan oleh seorang pria: King of Destruction.

“Kau pasti bercanda…” gumam Franklin dalam ketidakpercayaan, dan dia sepenuhnya wajar melakukan hal itu.

Bagaimanapun, ratusan monster yang pria itu musnahkan sudah jelas bukanlah monster kelas teri. Mereka semua berada pada kelas Demi-Dragon, dan oleh karenanya mereka cukup kuat untuk menandingi high-rank job petarung. Faktanya, sifat tak kenal lelah dan kurangnya kepedulian pada hidup mereka bahkan membuat mereka lebih kuat dari Demi-Dragon biasa.

Akan tetapi, mereka tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan pria itu.

Pria itu mulai berlari, memusnahkan seekor monster.

Dia mengayunkan tangannya dengan santai, membuat monster lainnya meledak.

Monster lain langsung tewas hanya karena tergores oleh salah satu jarinya.

Ratusan monster telah dihancurkan seolah-olah mereka lebih rapuh dari pada bubur kertas.

Sekarang, Franklin akan benar-benar menerima dan memahami kejadian itu jika pria itu sedang menggunakan sebuah skill yang melakukan sesuatu seperti “Menghancurkan apa yang kau sentuh.”

Tapi sayangnya tidak ada hal semacam itu.

Pria itu tidak menggunakan satu skill-pun.

King of Destruction mampu menciptakan pemandangan itu hanya karena dia kuat.

“Hhhh…” Franklin mendesah, terkejut sampai kehabisan kata-kata. Bagaimanapun, dia adalah orang yang mengetahui rahasia dibalik pemandangan itu lebih baik dari siapapun yang ada di panggung pertempuran. Mata kanan Franklin bersinar biru, mengeluarkan aura pengetahuan dan pemahaman.

Seluruh high-rank dan Superior Job memiliki skill ultimate dan skill unik, dan Giga Professor milik Franklin bukanlah pengecualian. Salah satu skill unik yang dia miliki adalah “The Analyzing Eye of Wisdom.”

Skill itu membuatnya bisa mengetahui stats, skill, pertumbuhan, status effect, dan material yang dijatuhkan oleh targetnya. Bahkan skill-skill seperti Conceal atau Disguise tidak berarti banyak di hadapan skill itu.

Penjelasan skill awalnya akan diselimuti kabut yang perlahan-lahan akan memudar, sementara point stats akan dimulai dari 0 dan perlahan mulai bertambah dengan kecepatan 2000 point per detik sampai mereka sampai di jumlah yang benar.

Contohnya, dia telah melihat seluruh stats milik Marie—Death Shadow yang berfokus pada stealth—hanya dengan 10 detik melihatnya.

Franklin saat ini sedang menggunakan skill itu pada pria itu, dan dia tidak tau bagaimana caranya mengungkapkan apa yang dia lihat.

Job level King of Destruction adalah 1080, sementara STR-nya telah melebihi 100,000 dan masih terus bertambah.

“Njay, gile lu ndro?” teriak Franklin.

Stats yang terlihat oleh The Analyzing Eye of Wisdom akan berhenti setelah mencapai jumlah yang benar, yang artinya STR milik pria itu dengan mudah melewati angka 100,000. Mengingat beberapa Superior Job berfokus stats mendapatkan kesulitan untuk menembus angka 10,000, itu adalah jumlah yang konyol. Tentu saja, jumlah itu termasuk bonus Embryo dan equipment, tapi itu tak berarti banyak untuk menurunkan keheranannya.

The Analyzing Eye of Wisdom juga menampilkan skill yang digunakan oleh target.

Mereka muncul sebagai pop-up sesaat, dan Franklin belum pernah sekalipun melihat mereka sejak King of Destruction masuk ke panggung pertempuran, yang secara efektif membuktikan bahwa pria itu hanya menghancurkan para monster menggunakan kekuatan murni.

Semua kehancuran yang terjadi di sana hanya disebabkan oleh sebuah serangan biasa.

“Jika hanya STR, dia mungkin setara dengan King of Beast,” gumam Franklin, membandingkan pria itu dengan Master terkuat yang dia ketahui.

King of Destruction mungkin sebenarnya adalah Master dengan STR terbesar.

Tapi itu hanya STR. Sisa stats lainnya tidaklah tinggi. Dan itu bukan karena mereka terlihat kecil di hadapan STR yang mencapai enam digit. Semua stats selain STR dan HP yang berjumlah lima digit, hanya berada pada kisaran empat digit angka

Bahkan, AGI miliknya hanya berada tipis di atas 1000. Pada dasarnya stats miliknya sama sekali tidak seimbang.

Jalan yang ditempuh bagi seorang vanguard adalah antara berfokus pada AGI, agar mereka bisa bergerak dengan kecepatan supersonik, atau END, agar mereka bisa menahan banyak serangan. Sebuah Superior Job standar seperti itu setidaknya akan memiliki stats 5000 pada AGI atau END, tapi King of Destruction berbeda.

Dia memiliki build murni STR, sepenuhnya berfokus pada STR dan mengabaikan seluruh stats lainnya.

Tentu saja, itu memberinya kekuatan serangan yang besar. Dengan semua bonus Embryo dan equipment-nya, saat ini dia sedang melakukan serangan yang membuatnya tampak lebih seperti monster dibandingkan para monster itu sendiri.

Namun, seharusnya dia tidak akan dapat bertahan dalam pertempuran ini.

Meskipun para monster itu hanya sekelas Demi-Dragon, monster yang berfokus pada kecepatan memiliki lebih dari lima kali total AGI milik King of Destruction. Seorang build STR sepertinya seharusnya akan mendapatkan hujan serangan dari monster berfokus AGI, dan seharusnya dia akan kehilangan HP-nya sampai dia mati.

Salah satu monster seperti itu berniat untuk menggigit leher pria itu dari salah satu titik buta-nya, hanya untuk diremukkan oleh tinju yang ditempatkan tepat di depan matanya.

“Ini tidak masuk akal,” gumam Franklin. Kejadian itu tampak sesuai dengan stats yang ada dan benar-benar berkebalikan dengan mereka.

Sebagian besar penonton hanya merasa bahwa King of Destruction itu hanyalah kuat. Namun, Franklin bisa melihat stats pria itu, menemukan ketidakkonsistenan, dan menyadari bahwa itu tidak disebabkan oleh semacam skill.

Oleh karenanya, dia mendapatkan sebuah jawaban… tapi dia sama sekali tak dapat memahaminya.

Tidak ada penjelasan lain yang mungkin dapat menjelaskan kejadian itu, tapi itu tampak seperti sebuah lelucon.

Bagaimanapun…

“Apakah aku harus benar-benar percaya bahwa dia menggunakan kemampuan bertarung yang dia bawa dari dunia nyata?

***

Arena pusat, panggung pertandingan

“’Jika musuh sepuluh kali lebih cepat, kau hanya perlu membaca sepuluh pergerakan ke depan,’”

“Apa-apAn iTu?”

“Sepertinya, dia membaca pergerakan mereka dan menempatkan serangannya di posisi dimana mereka tidak bisa mengelak lagi.”

“Huhhh…? Apa-apAn iTu?”

Itu adalah arena pusat, lokasi yang seharusnya menyelenggarakan event utama malam ini, Clash of the Superior. Dua orang Master sedang berdiri di panggung dan melihat siaran yang ada di atas.

Salah satu Master itu adalah Over Gladiator, Figaro, sementara yang satunya lagi adalah Master Jiangshi, Xunyu.

Mereka adalah bintang dari Clash of the Superior dan merupakan orang yang Franklin kunci di barrier penghenti waktu. Sekarang, setelah dibebaskan, mereka berdua hanya berdiri di sana dan menyaksikan pertandingan kedua.

Tentu saja, Master lain yang ada di arena itu—khususnya yang mencoba menyelamatkan mereka—ingin agar keduanya bergabung dalam pertempuran yang terjadi di luar. Namun, Figaro tidak menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dalam pertempuran yang sedang berlangsung, sementara Xunyu sepertinya sudah masuk ke mode penonton. Membuat mereka bertarung adalah hal yang sia-sia saat ini.

Menjadi player terkuat, para Superior sering menjadi player yang paling keras kepala dan eksentrik. Setelah menyadari itu, sisa Master yang ada dengan enggan menyerang untuk meminta bantuan mereka dan pada akhirnya mereka sendirilah yang pergi ke medan pertempuran.

Mereka berpendapat bahwa para Superior akan bergerak saat arena atau para tian yang ada di dalamnya sedang terancam, dan pemikiran mereka itu tidak salah. Tapi, tak dapat disangkal bahwa percakapan santai yang dilakukan keduanya tak terlihat cocok dengan situasi yang ada.

“BaGaimanA bisA kAu mEngetahUi hal iTu?” tanya Xunyu.

“Kami pernah bertarung setelah dia menjadi King of Destruction,” kata Figaro. “Pada saat itulah aku bertanya padanya tentang bagaimana caranya dia bisa menahan setiap seranganku meskipun aku memiliki jauh lebih banyak AGI dibandingkan dirinya, dan itulah jawabannya.”

“Oh iya, bEruang itu jUga menAngkis sErangAnku…” ingat Xunyu. “TaPi aPakah meMbacA sEpuluh pErgerakAn ke dePan adAlah sEsuatu yaNg munGkin?”

“Sepertinya, itu mungkin baginya. Dia bilang dia pernah ‘iseng-iseng’ mempelajari seni bela diri di masa lalu.”

“Whoa, iTu cuKup kerEn. MuNgkin aKu harUs mengAmbil sEni beLa diRi saAt aku mAsuk SMP… MeSkipun, tUnggu, kUpikir piLihan iTu hAnya uNtuk laKi-laKi.”

“Meskipun kau tidak bisa mengambil mata pelajarannya, kau bisa menemukan gym atau dojo di kota-kota besar,” kata Figaro.

“AtAu mUngkin aKu biSa menEmukAn sEbuAh sEni belA diRi gilA di tEmpat tErpencil atAu seJenisnya. BagAimanaPun itUlah yaNg terjAdi diSini.”

“Oh, maksudmu Superior Job yang ditemukan di Huang He itu? ‘The Arts’, bukan? Aku selalu berpikir bahwa job seri ‘The Sesuatu’ hanya terbatas pada tipe senjata dan elemen sihir, jadi aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa ada satu job seri itu yang hanya menggunakan tangan kosong.”

“Man, bAgaimana bIsa oRang iTu menYelesAikan pErsyaratan yAng ada?!” Tambah Xunyu. “PaSti ada yAng sAlah dEngan kePalanya! TaPi bEruang iTu jUga mElakukAn hAl yAng sAma, sIh! MerEka bErdua sUdah giLa!”

“Shu adalah temanku, tapi aku tidak bisa menyangkal hal itu.”

Meskipun baru saja melakukan pertarungan sengit satu jam yang lalu, Figaro dan Xunyu saat ini sedang menonton siaran Jeand Grassland dan bercakap-cakap seperti teman baik.

Banyak preman di masa lalu percaya bahwa siapa saja yang bertarung habis-habisan melawan orang lain akan menjadi sahabat dengan orang tersebut, dan meskipun itu tidak sepenuhnya benar, para duel ranker sepertinya memiliki sesuatu yang mirip. Bagaimanapun, percakapan mereka saat ini membuat mereka terlihat seperti sahabat karib.

“Btw, bUkankah dIa meMAkai kOstum bEruang?” tanya Xunyu. “Apa-apAan deNgan peNampilAn itu? Dia meMang mAsih seEkor beRuang, tApi tetAp saja.”

“Itu adalah sebuah equipment convertible[1],” jawab Figaro. “Penampilan luarnya adalah sebuah ‘Kostum’ kelas Ancient Legendary, tapi sebenarnya itu adalah sebuah ‘Godcloth’ kelas Mythical. Apakah kau tau kalau ada boss yang secara garis besar bertindak, ‘Ini bukan bentuk terakhirku’ dan kemudian berubah? Mereka selalu menjatuhkan item-item convertible seperti itu.”

“… Aku tIdak pErnah bErtemu deNgan rAja iBlis dAri gAme RPG retro seperti itu.”

“Benarkah? Kau memiliki kesempatan sekitar 1% untuk bertemu dengan mereka di stage-stage akhir Tomb Labyrinth.”

“… Eh? KaU suDah mAsuk kEsana lEbih dari 100 kAli?” tanya Xunyu.

“Bukankah itu wajar? Dan lebih tepatnya 214 kali. Masih belum lama sejak aku bisa mencapai titik itu, sih.”

“Itu bAnyak, mAn. TaPi sEkarAng jAdi masuk aKal keNapa kAu memiLiki sEmua itEm itu.”

“Semua barang itu bisa jadi merepotkan, sih,” kata Figaro. “Bahkan jika semua itu masuk ke inventory, aku punya terlalu banyak item sampai-sampai aku tidak tau harus kuapakan semua itu. Pokoknya, item convertible itu menarik, tapi kemampuan mereka bisa jadi sangat aneh. Milik Shu adalah sebuah special reward UBM, jadi sepertinya itu disesuaikan dengannya.”

“Oh?”

“Sebagai sebuah kostum, itu berfokus pada kemampuan stealth, jadi kupikir itu juga berlaku pada bentuknya yang sebenarnya,” kata Figaro. “Dari caranya memasuki pertempuran, kurasa dia memiliki semacam skill yang ‘Menyembunyikan penampilan dan keberadaanmu sampai kau memasuki pertempuran.’ Itu mungkin memiliki persyaratan lain, sih.”

“… Dia biSa meLakukAn sErangan kEjutan deNgan damage sEperti itu? Itu tiDak adiL.”

“Skill ultimate-mu tidak terlalu berbeda, sih.”

“GheaHahAhahaH! Kau beNar sEkali!” Xunyu tertawa.

Percakapan mereka sangat akrab, dan mereka berbicara seperti para gamer sejati. Namun, bagi para penonton yang ada di arena, kedua Superior itu terlihat seperti sedang membicarakan tentang bagaimana cara menangani kekacauan yang mengancam Gideon. Karena itu, perasaan keseluruhan milik para penonton adalah ketegangan dan semangat pada apa yang terjadi di siaran bercampur dengan harapan bagi kedua champion yang ada di panggung.

Tapi sayangnya, kedua orang yang begitu mereka percayai hanya melakukan sebuah percakapan sederhana.

“NgOmong-ngOmong,” kata Xunyu.

“Apa?”

… Atau begitulah kelihatannya.

“KaPan bAjingAn bErjubah laB itu meNggunakan sEsuatu yAng ada di bAwah kiTa?”

“Itu mungkin adalah seekor monster taktikal penghancur diri, jadi mungkin dia akan melakukannya setelah rencana C gagal,” kata Figaro. “Seharusnya itu tak lama lagi.”

Bagaimanapun mereka tidak hanya melakukan percakapan santai.

“KaLau bEgitu aKu akan mEnangani mOnster itu deNgan sKill ultimate-ku. SemEntara kau—“

“Aku akan menghentikan dua orang ‘terkuat’ itu jika mereka melakukan tindakan ofensif. Aku tertarik dengan sesuatu yang ada di bawah, tapi sayangnya, aku adalah solo player murni.”

“GhehAh! TaPi dUa oRang itu jAuh lEbih mErepotkan!” teriak Xunyu.

“Berurusan dengan mereka sepertinya menyenangkan, bukan?”

“SeTuju.”

Menyaksikan pertarungan rekan Superior mereka, keduanya mempersiapkan taring mereka.

***

Arena pusat, bangku penonton

Di sisi timur arena, ada seorang wanita dengan seekor landak di pangkuannya. Sama seperti semua orang lainnya, dia sedang menyaksikan siaran.

Saat melakukan itu, dia menyadari sesuatu. Bukan tentang kejadian yang disiarkan, tetapi tentang Behemot—rekan landak-nya.

Dia dapat dengan mudah mengatakan bahwa penampilan King of Destruction memenuhi makhluk itu dengan perasaan semangat dan kegembiraan.

Sekarang mereka sudah bersama di Infinite Dendrogram selama empat tahun, jadi mudah baginya untuk menyadari perubahan mood milik landak itu.

“Dapat dipastikan itu sama dengan beruang yang sangat kau sukai,” kata wanita itu. Setelah mengingat tentang Behemot yang telah memanjat ke atas kepala kostum beruang itu, dia menunjukkan sebuah senyum samar.

Di saat bersamaan, sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Itu adalah hal yang sama dengan yang dipikirkan oleh seluruh orang yang menyaksikan siaran itu.

Dia kuat.

Sama seperti kebanyakan, dia menganggap Shu Starling sebagai player yang kuat. Namun, perasaan yang dia rasakan setelah melihat kekuatan itu berbeda dengan penonton lainnya.

Bagi kebanyakan, perjuangan pria itu adalah harapan terakhir mereka, sementara apa yang wanita itu rasakan benar-benar berbeda.

Dia juga menggunakan trik, tapi sebagian besar dari hal itu hanyalah kekuatan murni, pikir wanita itu. Aku menyukai itu. Itu membuat hatiku berdebar. Aku ingin dia memukulku, dan aku juga ingin menghancurkannya. Dia pasti akan menjadi musuh yang jauh lebih baik dibandingkan dua orang yang ada di atas panggung.

Wanita itu adalah satu-satunya yang menyaksikannya dan ingin menjadikan pria itu sebagai musuhnya.

Tatapannya mirip seperti binatang yang haus darah, dan jumlah niat membunuh yang dia keluarkan cukup untuk membuat para tian yang ada di sampingnya gemetar ketakutan, tidak menyadari apa penyebabnya. Tapi wanita itu segera menyembunyikan niat bertarungnya, karena Behemot mengirimkan pikiran tertentu kepadanya.

“Dia seperti pahlawan.”

Di dalam siaran, Shu membuyarkan sejumlah monster hanya dengan sekali tendang. Meskipun menghadapi banyak makhluk menjijikkan, dia tetap berdiri tegak dan terus mengalahkan mereka, pukulan demi pukulan.

Pemandangan itu membuat wanita itu mengangguk. “Ya, dia benar-benar seorang pahlawan. Apalagi jika kau mempertimbangkan bahwa dia sedang bertarung melawan Giga Professor, yang sangat mirip penjahat.”

Shu adalah pahlawan sejati yang menghadapi sekumpulan monster menjijikkan seorang diri, sementara Franklin, pemimpin dari kumpulan itu, terlihat tak lain mirip orang jahat yang gila.

“Yah, aku jelas tak akan menyebutnya menyedihkan” tambahnya, memberikan pendapatnya pada situasi itu sambil berbicara dengan Behemot melalui telepati.

“Hei,” kata sang landak.

“Ya, ada apa?” tanya wanita itu.

“Mana yang lebih kuat—queen of beasts atau hero?

“Yah…”

Dia tau maksud tersembunyi dibalik pertanyaan itu dan mengutarakan jawabannya dalam bentuk perkataan.

“Kita harus melihatnya sendiri.”

Itu adalah janji untuk masa depan yang tidak jauh.

“Bagaimanapun, untung saja kita datang kemari,” tambahnya secara telepati. “Aku senang karena kita menemukan orang yang sesuai keinginan kita.”

Dengan itu, wanita itu kembali berkonsentrasi pada siaran.

Dengan demikian, dia dan Behemot—keduanya mewakili kartu joker yang tidak akan menolong Franklin dalam permainan ini—memutuskan untuk duduk manis dan menyaksikan pertempuran itu.

***

Jeand Grassland

Tinju tangan kosong milik King of Destruction telah menghancurkan lebih dari 1000 monster. Bukan hanya itu, tetapi aksinya membuat sepuluh Master lain yang ada di dekatnya kembali berkumpul dan menangani setiap monster yang berhasil lolos dari penghancuran yang dilakukan oleh Superior itu.

Para Master yang tadinya tersegel di arena pusat saat ini juga sedang membanjir melalui gerbang barat dan membantu pertempuran.

Para Master yang ada di luar telah dapat mengulur cukup waktu, dan situasinya sudah berbalik menguntungkan para Master yang mempertahankan kota Gideon.

Meskipun begitu, Franklin masih menunjukkan senyum lebar di wajahnya.

“Yah, sekarang aku sudah mengetahui skill dan stats-nya, dan itu memang sesuatu…” gumamnya.

Stats dan kekuatan tempur milik King of Destruction memang mencengangkan. Setiap pukulannya setara dengan skill ultimate milik sebuah Embryo, dan fakta bahwa mereka dikombinasikan dengan kemampuan bertarung yang luar biasa membuat mereka menjadi sesuatu yang menakutkan.

Itu tidak berakhir di sana. The Analyzing Eye of Wisdom membuat Franklin bisa melihat skill unik milik King of Destruction, dan itu jelas merupakan sesuatu yang perlu ditakuti.

Nama skill itu adalah “Right of Destruction,” dan deskripsi-nya adalah, “Membuatmu bisa menghancurkan target yang tak dapat dihancurkan dengan daya tahan yang lebih rendah dari pada kekuatan seranganmu.”

Franklin yakin bahwa skill itu membuat King of Destruction bisa menghancurkan makhluk yang dapat meniadakan serangan fisik, seperti Slime dan Spirit. Bagaimanapun, skill itu berkelebat di Eye of Wisdom miliknya saat King of Destruction menghancurkan seekor King-Size Oxygen Slime hanya dengan satu pukulan.

Mengingat kekuatan serangan yang diberikan oleh STR super besar-nya, Right of Destruction kemungkinan besar membuatnya bisa meniadakan setiap dan semua skill Destruction Negation yang ada.

“Baik, dia memang mengejutkanku,” kata Franklin. “Tapi dia tak akan jadi masalah.”

Tidak peduli seberapa kuat dan mahir kemampuan bertarungnya, kekuatan King of Destruction hanyalah kekuatan milik satu orang. Dia sama seperti dua Superior lain yang tak terlalu Franklin hiraukan; dia bukanlah sesuatu yang tidak bisa Franklin tangani.

Banyaknya Master yang berkumpul di sini juga bukan masalah baginya. Pandemonium akan segera selesai mengeluarkan sisa monster yang ada.

Meskipun mereka juga bagian dari Seri Bunuh Diri, mereka adalah versi yang berbeda dari 5000 monster yang pertama dilepaskan.

Sekitar sepertiga dari mereka setara dengan Pure-Dragon, tetapi jelas bukan hanya itu. Saat Pandemonium melepaskan monster-monster Franklin ke alam liar, Franklin bisa membuat sedikit perubahan pada mereka, yang termasuk penambahan sebuah perintah sederhana.

Alasan kenapa di awal dia hanya melepaskan 5000 monster adalah untuk membuat kerajaan percaya bahwa semua monster Seri Bunuh Diri hanya akan maju ke depan. Perintah baru yang dia tambahkan kepada 50,000 monster yang tersisa sangatlah sederhana: “Setelah seluruh monster Seri Bunuh Diri dilepaskan, kepung Gideon dan serang kota itu.”

Itu artinya kota Gideon akan diserang oleh 50,000 monster dari berbagai arah.

Para Master kerajaan akan mampu menanganinya jika Franklin melepaskan monster-monster itu secara bertahap. Jika mereka saling bekerja sama dan memusatkan kekuatan mereka untuk memusnahkan monster yang ada, kemungkinan besar mereka dapat melindungi kota tanpa banyak kesulitan.

Namun, jika 50,000 monster itu berpencar dan menyerang dari segala arah secara bersamaan, sisi dengan jumlah yang lebih sedikit tidak akan punya kesempatan menang.

Bahkan jika mereka memiliki King of Destruction dan STR-nya yang luar biasa, dan bahkan dengan datangnya 1000 Master dari arena, sejumlah besar monster pasti akan bisa menerobos ke dalam kota. Dan dengan itu, Franklin akan meraih kemenangan.

Saat Pandemonium melepaskan monster-monster terakhir, Franklin berbicara.

“Baiklah, sekarang mereka akan masuk ke dalam kota dan—“

Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, dunia yang ada di depannya mengalami perubahan drastis.

Bagian dari daratan diterbangkan ke atas, dan serpihan-serpihan serta debu-nya mulai menutupi langit.

Suara ledakan yang memekakkan telinga dan mengoyak daging memenuhi sekelilingnya.

Bau mesiu dan darah menyerang hidungnya.

Dan di antara ledakan-ledakan itu, dia dapat mendengar teriakan kematian dari banyak monster.

Dia menyadari bahwa monster-monster yang dia lepaskan sedang dimusnahkan dengan cepat oleh banyak tembakan meriam dari tempat yang tak diketahui.

“Artileri?! Apa-apaan…?!”

Saat itu, dia mengingat dua rumor paling dapat dipercaya tentang King of Destruction, sang Superior misterius.

Yang pertama adalah ide bahwa dia adalah Superior Job dari crasher grouping. Dan yang lainnya adalah…

“Sebuah kapal perang!” teriak Franklin.

Ledakan di sekitarnya mereda, dan medan perang di hempas oleh badai dadakan. Badai itu menerbangkan awan debu yang menyelimuti daratan di bawahnya, menunjukkan tak ada satupun monster Seri Bunuh Diri yang bisa lolos dari serangan itu tanpa terluka. Dan di seberang makhluk-makhluk malang itu, terdapat sesuatu yang sebelumnya tidak ada di sana.

Sama seperti Pandemonium milik Franklin, hal itu sebelumnya disembunyikan menggunakan Optic Camouflage, tapi hal itu sekarang tak lagi disembunyikan.

Itu lebih besar dari dinding Gideon.

Itu adalah sebuah senjata.

Itu adalah sebuah kendaraan.

Itu adalah sebuah Superior Embryo.

Itu adalah kapal perang darat, menggilas daratan yang ada di bawahnya dengan roda rantai raksasanya.

Itu adalah sepotong informasi lain yang paling bisa dipercaya tentang King of Destruction: “Embryo-nya adalah sebuah kapal perang.”

Itu adalah War God Ship, Baldr.

“Twin Quintuple Cannons, firebomb loaded… Tembak.” Superior Embryo itu berbicara dengan suara robotik saat dia menembakkan empat buah meriam yang terletak di masing-masing sisinya ke arah para monster yang masih hidup.

Tembakan pembakar itu mengeluarkan minyak saat mereka membelah udara dan menabrak para monster, antara mengubah mereka menjadi patung terbakar atau mengubah mereka menjadi debu begitu saja.

“Stardust Genocider,” kata Embryo itu.

Dia tidak hanya memiliki artileri. Embryo mirip kapal mirip tank yang sangat maskulin itu tiba-tiba menunjukkan banyak peluncur pesawat di salah satu bagian anjungan nya.

Mereka semua menyala untuk sesaat dan melepaskan proyektil aneh yang meninggalkan asap di belakang mereka.

Mirip seperti elang yang lapar, objek terbang itu mengejar para monster tanpa henti, meledak setelah tabrakan dan mengubah para monster menjadi debu.

“Bloody Laser Storm.”

Bagian tertentu dari lambung kapal itu tergeser membuka, menunjukkan sejumlah sentry gun[2]. Mereka semua secara otomatis mulai menembakkan laser berwarna crimson ke arah para monster yang ada di dalam jangkauannya, dan membelah mereka dengan rapi.

Jika itu bukan pemusnahan sepihak, maka tak ada lagi istilah yang cocok. Masing-masing dan setiap persenjataan milik Baldr berfokus pada pemusnahan berskala luas

Dalam sekejap, Embryo itu telah menangani lebih dari 10,000 monster milik Franklin. Makhluk mengerikan yang ingin dia gunakan untuk membuat kerajaan menyerah hanya terlihat bagaikan serangga di hadapan kapal perang itu.

“Dia… Apa… Dia juga membunuh sesuatu dalam area luas?!” Untuk pertama kalinya di hari itu, Franklin meninggikan suaranya dalam kemarahan.

Dia mempunyai segala alasan itu melakukan hal itu.

Bagaimanapun, dia sedang menghadapi musuh alaminya.

Pandemonium milik Franklin adalah jenis penekan berskala luas—jenis yang menaklukkan lokasi target hanya menggunakan jumlah belaka.

Baldr milik King of Destruction adalah jenis pemusnah berskala luas—jenis yang membunuh dalam jumlah banyak hanya menggunakan kekuatan belaka.

Sama seperti skill, item, dan job, Embryo juga memiliki kompatibilitas.

Sama seperti Franklin yang yakin bisa mengalahkan Figaro dan Xunyu, yang keduanya sama-sama berfokus pada kekuatan individual, sekarang dia juga yakin tidak bisa menang melawan King of Destruction.

Rentetan serangan itu telah menumpas 10,000 monster-nya dan tak akan lama lagi sebelum monster-nya benar-benar musnah. Monster yang masih hidup mengikuti perintah Franklin dan mencoba berpencar, tapi sudah jelas mereka tidak akan bisa bertahan melawan senjata itu.

King of Destruction, sesuai dengan namanya, akan menghancurkan mereka semua.

Dia adalah yang terkuat di kerajaan. Dia adalah Master terkuat di kerajaan, memiliki Embryo dengan kekuatan persenjataan terbesar. Dia tidak akan pernah bisa dihentikan hanya dengan sejumlah monster berkemampuan setengah matang.

“… Kurasa begitulah,” gumam Franklin saat dia menyadari bahwa Rencana C miliknya telah benar-benar gagal.

Akan butuh sedikit waktu sampai Seri Bunuh Diri itu benar-benar dimusnahkan, tapi sekarang mereka tidak akan pernah bisa mengancam Gideon.

Bahkan jika, karena sebuah keajaiban gila, beberapa monster berhasil bertahan dari pembantaian itu, para Master lain yang juga ada di panggung pertempuran tidak akan kesulitan untuk menangani mereka.

“Aku kalah di Rencana A dari Ray Starling, Rencana B dari Superior Killer, dan Rencana C—rencana yang memerlukan persiapan terlama—dari King of Destruction…” Fakta bahwa saat ini dia sedang terpojok membuat Franklin tertawa mengejek dirinya sendiri. “Ha ha ha… lucu juga melihat mereka menjadi semakin kuat setiap kali aku menggunakan rencana yang lebih licik…”

Pada titik ini, tidak ada cara bagi Franklin untuk menang. King of Orchestra, Veldorbell sudah gugur, Hugo Lesseps sudah meninggalkannya, dan para Master pengkhianat di sisinya sangat tidak bisa diandalkan.

Kami mungkin bisa membalikkan keadaan ini jika dua orang itu memutuskan untuk berpartisipasi, pikir Franklin. Tapi dia tau bahwa itu tak akan terjadi. Kedua gadis yang dia andalkan sebagai Joker-nya telah keluar dari panggung pertempuran setelah mereka mengetahui bahwa tuan putri pertama tidak akan datang ke Gideon.

Njay, jika dia ada di sini, kami dapat… Tidak, itu bodoh. Apa yang kupikirkan? Franklin bahkan sampai memikirkan seseorang tertentu yang sudah tidak berada di sisinya, mengejek dirinya karena berpikir demikian.

“… Cukup.”

Dia menatap ke bawah ke arah Pandemonium, medan pertempuran, dan Gideon dengan tatapan paling dingin di wajahnya.

Insert2

“Baiklah, aku paham. Aku tidak bisa memenangkan ini, tidak peduli apapun yang terjadi.” Seolah-olah untuk meyakinkan dirinya, dia menyuarakan kalimat itu dan merogoh saku di jubah lab-nya. “Jadi aku hanya tinggal menghapus kemenangan kalian dan kekalahanku.”

Dia menekan sebuah tombol untuk mengaktifkan pion terakhirnya.

***

Arena pusat, bawah tanah

Saat banyak orang yang ada di bangku penonton arena pusat menyaksikan siaran dengan perasaan cemas atau khawatir, sesuatu tertentu yang terletak 4000 metel di bawah tanah mulai menggali bebatuan dan bergerak menuju permukaan.

Itu adalah seekor monster yang sangat mirip dengan kelabang.

Menggunakan anggota badan mirip bor yang berputar di kepalanya, dia menerobos bebatuan keras dan bergerak menuju destinasi-nya.

Nama monster itu adalah NDW, kependekan dari Nuclear Dragon Worm, dan itu adalah bagian terakhir yang Franklin persiapkan untuk rencananya.

NDW adalah seekor makhluk yang dikembangkan menggunakan Demi-Dragon Worm sebagai dasarnya, dan hal itu memberinya kemampuan untuk menggali lubang. Namun, sudah jelas itu bukanlah fitur utamanya.

NDW dilengkapi oleh sebuah senjata yang sangat kuat.

Karena itu dibawah tanah, tidak ada seorangpun yang bisa melihat makhluk itu, tapi jika mereka melihatnya, mereka akan menyadari bahwa dada monster itu bersinar merah.

Pada dasarnya itu adalah sebuah bom nuklir.

Franklin telah mengalahkan seekor UBM kelas Ancient Legendary bernama “Nuke-Dragon, Untergang” dan menggunakan special reward-nya untuk menciptakan NDW.

Setelah diaktifkan, monster itu akan membakar segalanya pada radius dua kilometel di dalam badai api dan radiasi. Tentu saja, NDW juga akan mati, tapi monster itu tidak akan memikirkannya. Tepat sejak awal, monster itu telah di desain untuk menjadi senjata super penghancur diri.

NDW adalah komponen utama dari Rencana D untuk “destroy,” rencana yang Franklin putuskan hanya akan dia mulai jika monster-monster Seri Bunuh Diri dari Rencana C gagal entah bagaimana.

Itu adalah spade—kartu as terakhir yang Franklin miliki—dan menggunakannya sama saja dengan menjungkir balikkan seluruh papan permainan.

Jika NDW mencapai permukaan dan meledak, semua orang yang ada di arena akan mati. Itu juga akan termasuk para penonton tian, Count Gideon sendiri, dan para Master yang masih ada di sana.

Tentu saja, arena—yang menjadi simbol kota itu—juga akan hancur.

Kehilangan besar itu akan menimbulkan kekacauan besar dan keputusasaan pada kerajaan, dan negara itu tidak akan bisa menyatakan kemenangannya terhadap Franklin.

Dia mempersiapkan NDW untuk mencegah kerajaan dan penduduknya untuk bangkit kembali, jika saja mereka bisa meraih kemenangan melawan dirinya.

Franklin sebenarnya lebih ingin mempertahankan arena dan fungsi berharganya untuk saat dimana kekaisaran meraih kendali atas kerajaan, tapi hal itu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan menerima kekalahan.

“DRRRRRR…”

NDW mengebor bebatuan keras, membuat jalan pintas melaluinya. Jika dilihat dari kecepatannya, dia akan mencapai permukaan dalam beberapa menit atau lebih. Dia akan memenuhi keinginan Franklin dan membakar kekalahannya bersama dengan Gideon.

Saat dia mendekati permukaan, sensor audio biologis berkualitas tinggi miliknya menangkap suara dari orang-orang yang ada di atas.

“Ayo, KoD!”

“Para Master! Tolong lakukan yang terbaik!”

“Tolong bantu kami…”

Sebagian besar suara itu adalah dukungan terhadap King of Destruction dan para Master lain yang bertarung melawan monster, sementara sisanya khawatir apakah mereka masih bisa melihat hari esok. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang dilanda keputusasaan.

Tentu saja, tak satupun dari mereka yang sadar bahwa mereka akan dimusnahkan dari dunia ini pada saat NDW mencapai permukaan beberapa menit lagi.

Makhluk itu tidak terlalu memikirkannya, sebagian besar karena dia tidak dilengkapi kemampuan untuk berpikir. Satu-satunya tugas NDW adalah untuk “bersiaga di bawah arena, menunggu aba-aba, naik, dan meledak,” jadi dia tidak memerlukan akal sedikitpun.

Bahkan sensor audio biologis-nya tak lain hanyalah sarana untuk mengetahui di bagian mana dia harus naik. Oleh karenanya, NDW sama sekali tidak memperdulikan suara milik para penduduk…

“Magic Range Extension, Magic Power Magnification, Magic Area Designation Magnification, Magic Conceal.”

… bahkan saat seseorang mengatakan kalimat aneh itu.

“Sekarang, untuk MP yang kuberikan pada skill-skill penguatan itu… Baiklah, aku akan memberinya masing-masing 500,000.”

Itu terdengar seperti bualan receh bagi mereka yang tidak memahaminya, dan khayalan tak masuk akal bagi mereka yang memahaminya.

Tentu saja, NDW, yang sejak awal tidak memiliki akal, mengabaikan perkataan itu. Tapi kemudian…

“Mud Clap.”

… beberapa saat kemudian, dia menjadi tak dapat bergerak. Dia bahkan tak dapat menggerakkan satupun kakinya yang banyak.

“DDRRRRRR?!”

Meskipun NDW tak dapat berpikir, kejadian yang sangat tak terduga itu menyebabkan error pada programnya yang membuatnya mengeluarkan suara mirip jeritan.

Dia mencoba menggerakkan bor yang ada di kepalanya, tapi bor itu sama sekali tak dapat berputar. Bahkan, beban dari percobaan untuk menggerakkannya telah membuat bor itu hancur.

Tentu saja, NDW tak dapat memahami apa yang terjadi kepadanya Tapi siapa saja yang melihat situasi itu dari samping pasti akan menyadari bahwa NDW sedang dikelilingi oleh tanah yang dipadatkan sampai menjadi luar biasa keras.

***

Penonton yang ada di arena pusat menjadi ribut.

Hal itu disebabkan oleh tanah di bawah mereka yang sedikit bergoncang.

Meskipun akhir-akhir ini gempa adalah hal yang sering terjadi di kerajaan, goncangan yang tiba-tiba itu membuat orang-orang menjadi sedikit panik.

Tapi, karena tidak ada gempa susulan, sebagian besar orang percaya bahwa itu hanyalah pengaruh dari pertempuran membara yang terjadi di luar, dan mereka segera kembali mengalihkan perhatian mereka ke siaran.

Di antara orang-orang itu, ada seorang pria yang menggumamkan sesuatu yang tak dapat didengar sambil menatap ke bawah. Sorban dan pakaian longgar penutup kulit yang dia pakai membuatnya sangat mirip dengan orang arab.

“Aku menggunakan sama banyak dengan yang dulu… tapi sepertinya itu terlalu banyak,” katanya sambil mendesah. “Seharusnya aku menggunakan sepertiga dari itu.’

Wajah termenungnya membuat pria penonton paruh baya yang ada di sampingnya memanggilnya.

“Hei, ada apa, nak? Kenapa kau bergumam?”

Pria berpenampilan arab itu menatap balik pria paruh baya itu dengan ekspresi kesulitan.

“Oh, bukan apa-apa,” katanya. “Ada seekor serangga di bawah, dan itu menarik perhatianku.”

Perkataannya membuat pria paruh baya itu menatapnya dengan terkejut sebelum tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha! Kau memperdulikan serangga di situasi seperti ini?! Aku tidak tau apakah serangga itu kuat atau lemah! Oh baik, bukan berarti kita bisa melakukan banyak hal dari sini! Mari serahkan saja hal ini kepada King of Destruction dan para Master lainnya!”

“Ahaha, ya. Mari serahkan kepada mereka.” Pria berpenampilan arab itu tertawa dan memilih untuk menonton siaran bersama dengan sesama penonton lainnya.

3000 metel di bawah mereka, pion terakhir milik Franklin, NDW, benar-benar terikat dan tak dapat bergerak.

Hal itu dilakukan oleh sihir tanah dasar, Mud Clap, tapi besarnya jumlah MP yang digunakan telah membuat efek-nya jauh melampaui “dasar.”

Cacing itu dilengkapi dengan kemampuan pengebor yang kuat, akan tetapi dia bahkan tak dapat menggoyangkan kakinya. Seolah-olah dia sedang berada di dalam peti mati yang dibuat khusus untuknya.

NDW telah dibuat tak dapat melakukan apapun.

Untuk mencegahnya secara tak sengaja meledak di bawah tanah, Franklin memastikan untuk mengaturnya agar dia hanya akan meledak setelah dia mencapai targetnya.

Dan saat ini monster itu terjebak di bawah tanah, pion terakhirnya menjadi benar-benar tak berguna, dan beberapa menit kemudian, Xunyu menggunakan skill ultimate-nya untuk mencabut inti monster itu dan membunuhnya.

***

Jeand Grassland

“Tinggal beberapa menit lagi…” Franklin menghela nafas dan bergumam setelah menekan tombol untuk mengaktifkan NDW.

Dalam aksi teror milik Franklin yang terakhir, permainannya hanya menjadi sebuah event dimana dia hanya tinggal menunggu hasilnya. Tak peduli apakah itu berakhir dengan meledaknya NDW atau death penalty-nya sendiri, itu semua sudah berakhir baginya.

“Ada banyak faktor tak terduga,” gumamnya.

Superior Killer, kekalahan RSK, ketidakpuasan Hugo, dan kemudian kemunculan King of Destruction. Meskipun Franklin telah mengambil langkah-langkah untuk menjamin keberhasilannya, jumlah faktor tak terduga itu hanya terlalu banyak baginya.

“Khususnya King of Destruction. Pria itu benar-benar tak adil.”

Artileri milik Embryo King of Destruction telah menghancurkan Seri Bunuh Diri milik Franklin dan juga daratan di bawahnya. Jeand Grassland sudah tidak lagi berumput.

“Yah, setidaknya setiap tembakan yang dilancarkan memerlukan material, sama seperti monster-monsterku, jadi itu mungkin juga membuatnya sakit sama seperti yang diriku,” gumam Franklin.

Dia menduga bahwa rentetan tembakannya telah membuat King of Destruction menghabiskan sekitar 3,000,000,000 lir, yang membuatnya menyeringai dengan sikap puas.

Tapi di saat bersamaan, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.

“Jadi… kenapa dia tidak menyerang Pandemonium?”

Kekuatan dan jangkauan tembakannya dapat dengan mudah menangani Embryo milik Franklin.

Dia memperhitungkan kenapa pria itu tidak melakukannya, dan segera menyadari alasan yang ada di sudut pandangannya.

Tuan putri kedua berada tak jauh darinya, tertidur di atas Pandemonium.

Benar juga, pikir Franklin. Dia bukan satu-satunya yang menaiki Embryo-nya—dia ditemani oleh salah satu tokoh paling penting di negara ini.

King of Destruction tidak dapat menggunakan artileri pembakar nya ketika Franklin masih memiliki sandera seperti itu.

Sekarang Franklin tau kenapa dia tidak menyerang Pandemonium, tapi hal itu memunculkan pertanyaan kedua.

“Kenapa dia tidak menggunakan Embryo-nya sejak awal?”

Kapal perang itu dapat dengan mudah menangani 5,000 monster yang pertama dia lepaskan. Akan tetapi, King of Destruction memancing Franklin dengan pernyataannya dan bersusah payah untuk pamer dan membuang-buang waktu dengan bertarung melawan para monster tanpa menggunakan Embryo-nya. Dia baru mulai menggunakan Embryo-nya saat 50,000 monster yang ada hendak memulai pergerakan mereka.

Itu sama sekali tidak logis.

Hampir seolah-olah…

“Dia merencanakan sesuatu!” Pada saat dia meneriakkan hal itu, sebuah bayangan perak lewat di sudut pandangannya.

Sebelum dia dapat memastikan apa itu, dia mendengar suara sepatu kuda menghantam bagian atas Pandemonium dan merasakan sosok perak itu mendarat di belakangnya.

“Mh…”

Franklin merasakan kehadiran tak menyenangkan, tapi dia sampai harus melakukan sesuatu yang menyedihkan seperti buru-buru berbalik dalam keterkejutan. Hal itu sebagian besar karena dia memiliki Life Link—skill yang memindahkan damage yang dia terima kepada salah satu monster-nya.

DGP, KOS, dan monster-monster lain miliknya telah dihancurkan, tapi dia masih memiliki Pandemonium. Embryo ini pada dasarnya adalah seekor monster raksasa, dan Franklin yakin bahwa, meskipun King of Destruction bisa menanganinya dengan mudah, orang yang berdiri di belakangnya tidak bisa memberikan damage sebanyak itu.

Oleh karenanya, dengan ketenangan sampai batas tertentu, dia berbalik dengan perlahan.

“Yo. Kau memiliki kebiasaan berlari ke garis depan yang menjengkelkan, bukan… Ray?”

“Yah, aku masih memiliki beberapa urusan yang belum selesai,” jawab pria itu.

Pria yang berdiri di sana tak lain adalah orang yang sudah Franklin duga:

Ray Starling.


Catatan Penerjemah

[1] Item Convertible: Item yang dapat berubah bentuk.

[2] Sentry Gun adalah senapan yang secara otomatis membidik musuh yang terdeteksi oleh radar.

28167326_1644523865638603_7042566187334482640_n
War God Ship, Baldr

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. ray starling says:

    Ane kg setuju kalo mc menang melawan superior franklin biatpun statnya rendah, tapi tetap untuk si mc dgn lvl yg blm mncapai 50 bs unggul. Lebih cocoknya ya si mc bisa menyelamatkan sang putri drpd mng.

    Like

  2. Seika Ushizu says:

    Bang Zen itu ada typo ya? Bagian dialog Figaro yang tentang ‘gym dan doko’ Nah ntu harusnya dojo kan?

    Xunyu ngomong nanti masuk SMP, berarti Dia masih SD dah gtu dialog ‘itu hanya untuk keperluan laki-laki’ yang artinya Dia cewek :’v (ngeri dah cewek SD dah sampai level superior :v),
    Diliat gambar Kapal Perang Baldr tapi keliatan kaya bisa jadi robot juga yak?

    Like

    1. Zen Quarta says:

      Ya untuk kedua pertanyaanmu…

      Like

  3. Kefvin says:

    Thanks, kuma

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s