Infinite Dendrogram Volume 5 Chapter 3

Volume 5
Chapter 3 – Dan Namanya Adalah…

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

■■■■ ■■ ■■■■■■■■■■■, ■■■ ■■■■■■■■

Di dalam permainannya ini, Franklin telah membuat total tiga kesalahan fatal.

Tentu saja, itu hanyalah kesalahan dari sudut pandangku. Pihak ketiga mungkin menganggapnya lebih banyak atau lebih sedikit dariku.

Dan berikut adalah kesalahan-kesalahan itu.

Kesalahan pertamanya adalah memisahkan rencana untuk menghancurkan Gideon dan menculik tuan putri menjadi Rencana A, B, dsb, dan menjalankan mereka satu demi satu.

Mengingat fakta bahwa dia ingin menghancurkan semangat negara ini dengan memulai rencana yang lebih buruk semakin negara ini berusaha, itu mungkin adalah tindakan yang tepat, tapi dalam hal pasukan yang dia kerahkan, rancangan ini sangat tidak efektif. Saat mengeluarkan potensi tempurmu, kau harus selalu melepaskan semua yang kau miliki sekaligus.

Dia seharusnya melepaskan monster-monster yang ada di kota dan 50,000 monster yang ada di Pandemonium tepat setelah menggunakan barrier dan memulai pembantaian PK. Dengan begitu, kerajaan hampir dipastikan tidak memiliki kesempatan untuk melawan balik. Tuan putri akan berhasil di culik, dan Gideon akan mengalami kerusakan parah.

Karena dia memilih untuk melakukannya satu per satu, rencana-rencana itu telah ditangani sesuai urutannya, membawa kami ke dalam situasi saat ini.

Apa? “Hasilnya akan sama jika 50,000 monster itu berhasil,” katamu? Yah, benar, hasilnya akan sama jika mereka berhasil. Aku sepenuhnya menyadari hal itu.

Kesalahan keduanya adalah mencampurkan balas dendamnya terhadap dia kedalam rencananya.

Kau mungkin bertanya-tanya kenapa itu bisa jadi kesalahan? Kau pastinya menyadari bahwa menambahkan segala sesuatu tentang RSK ke dalam rencana telah memperpanjang waktu pelepasan monster, kan? Jadi itulah yang kumaksud.

Ohh, tidak tidak, kau salah. Balas dendam itu sendiri bukanlah sebuah kesalahan.

Yang salah adalah melakukan balas dendam itu bersama dengan rencananya, secara efektif meletakkan sesuatu yang penting di dalam pertarungannya.

Sepertinya kau tidak memahaminya.

Normalnya, monster RSK itu akan mengalahkan Ray. Tapi dengan menciptakan kondisi dimana dia akan kehilangan sesuatu jika dia kalah, Franklin telah membuat Ray menjadi jauh lebih kuat. Dan jika itu bukanlah kesalahan, maka aku tidak tau lagi apa itu.

Faktanya, bahkan bom udara milik Ray hanya mungkin digunakan karena kota ini penuh dengan dendam yang dapat diubah menjadi MP.

Jika Franklin hanya mengincar Ray saja, dia bisa menghancurkannya seperti serangga, bukan? Bagaimanapun, begitulah cara Superior Killer membunuhnya. Tapi Ray benar-benar kuat dalam kasus seperti ini, dan itulah sebabnya RSK kalah.

Bagaimanapun, kita tidak akan menemui banyak kasus dimana nyawa banyak orang dipertaruhkan di dunia nyata.

Sementara untuk kesalahan ketiga… Ah, persetan dengan itu.

Mengatakan itu adalah hal yang memalukan.

Hei, bahkan aku juga bisa merasa malu.

Apa? “Seseorang yang bisa merasa malu tidak akan berjalan ditempat umum seperti itu?” Oh, berisik. Alasan kenapa aku berjalan ditempat umum seperti ini karena kau mengacaukan sesi pembuatan karakterku dan…

Hm? “Katakan saja kesalahan ketiganya?” Ok, ok.

Kesalahan ketiga dan terbesar Franklin adalah…

***

Jeand Grassland

Di Infinite Dendrogram, orang-orang memiliki kecenderungan untuk menggunakan istilah “kelas Demi-Dragon” atau “kelas Pure-Dragon” untuk mendeskripsikan kemampuan tempur milik seekor makhluk.

Makhluk kelas Demi-Dragon setara dengan sebuah party berisi enam low-rank job petarung atau satu high-rank job, sementara makhluk kelas Pure-Dragon setara dengan sebuah party berisi enam high-rank job. Itu artinya seekor Pure-Dragon itu hampir enam kali lebih kuat dari Demi-Dragon.

Yang perlu diingat adalah kekuatan dari pemilik high-rank job sangat bervariasi tergantung pada seberapa tinggi level job lain yang mereka miliki. Berkat bonus Embryo dan kemampuan unik milik mereka, ada banyak high-rank Master yang dapat mengalahkan seekor Pure-Dragon sendirian. Tapi, itu adalah cara yang bagus untuk mengindikasikan kekuatan suatu makhluk.

Setiap monster dari 5000 Seri Bunuh Diri yang dilepaskan oleh Franklin memiliki kelas Demi-Dragon, yang membuat mereka setara dengan 5000 high-rank job.

Bahkan setelah mempertimbangkan satu-satunya Superior Job di antara mereka, jumlah mereka tetap saja hanya dua puluh dua.

Dengan mencoba menambahkan Embryo mereka ke dalam perhitungan, kau dapat berasumsi bahwa para Master itu berada pada kelas Pure-Dragon, tapi meski begitu, perbedaan potensi tempurnya akan menjadi sekitar 5000 vs 132.

Tentu saja, perbedaan itu sangatlah besar.

Namun, meski begitu, bahkan setelah tiga menit berlalu, tidak ada satupun Master yang mati.

“… Yah, mereka benar-benar menahannya dengan baik,” gumam Franklin, tampak jelas tidak senang. Bahkan orang yang melepaskan monster-monster itu tidak menduga hal ini.

Hasil itu karena semua Embryo yang ada di sana.

Jumlah Master-nya sendiri adalah dua puluh dua, dam bahkan jika Franklin mengeluarkan dua Embryo yang sudah dia ketahui, masih ada dua puluh Embryo lagi di sana. Beberapa Embryo meningkatkan kemampuan sekutu, beberapa menciptakan dinding, dan beberapa lainnya bagus dalam membuat pasukan monster itu tetap terkontrol.

Embryo sangat beragam dalam hal variasinya, dan dengan menggunakan kekuatan mereka secara bijak, mereka bisa bertahan melawan 5000 pasukan monster milik Franklin.

Tentu saja, monster-monster Franklin juga sangat bervariasi. Namun, Seri Bunuh Diri telah diprogram untuk tidak melakukan apapun selain maju ke depan dan membunuh sampai mereka mati. Meskipun bervariasi, mereka tidak memiliki kapasitas mental untuk bekerja sama dan memanfaatkan keberagaman mereka.

Karena itu, meskipun memiliki keuntungan jumlah yang sangat besar, mereka sepertinya tidak mampu menembus dua puluh dua Master.

“… Baiklah, kalau begitu,” gumam Franklin.

Sejujurnya, mendapati monster-monster-nya ditahan seperti itu bukanlah sebuah masalah baginya. Pandemonium sudah mulai melepaskan kelompok monster selanjutnya. Berdasarkan perhitungannya, bahkan jika para Master ini mampu mengulur cukup waktu sampai para Master yang ada di arena pusat berkumpul, kota Gideon tetap akan berakhir menerima kerusakan parah.

Dua puluh dua Master yang menahan monster-monster itu sudah melakukannya dengan banyak rasa putus asa. Meskipun belum ada satupun dari mereka yang mati, mereka baru menangani secuil dari 5000 monster yang ada. Dan para Master itu telah menggunakan banyak MP dan SP, membuatnya semakin jelas bahwa mereka akan segera tak dapat lagi berusaha dan kewalahan.

Lalu ada juga fakta bahwa Franklin memiliki sepuluh kali lipat dari jumlah monster itu, belum lagi bahwa dia dilindungi oleh monster-monster seperti DGP dan KOS, dua monster yang setara dengan Superior Job dalam hal kekuatan.

Franklin ingat bahwa para Master yang berada di arena pusat berjumlah sekitar 1000 orang, yang merupakan jumlah yang jelas dapat dia tangani.

Jika dilihat dari kemampuan tempur, Franklin merupakan salah satu Superior terlemah. Dalam pertarungan 1 vs 1 yang adil, dia bahkan dapat dikalahkan oleh low-rank job.

Namun, dia unggul dalam hal strategi.

Setelah perang dengan kerajaan setengah tahun yang lalu dalam standar waktu Infinite Dendrogram, dua menghabiskan cukup waktu dan sumber daya untuk mengumpulkan cukup monster untuk menangani 1000 Master dengan mudah.

“… Ok ok, kalau begitu,” gumam Franklin.

Satu-satunya masalah yang tersisa adalah kedua Superior itu: Over Gladiator, Figaro dan Master Jiangshi, Xunyu. Dengan ikut campur dalam pertarungan mereka dan menyegel mereka menggunakan fungsi penghenti yang dimiliki oleh barrier, Franklin kemungkinan besar telah memancing rasa permusuhan dari mereka. Jika mereka ikut campur, Franklin hampir dapat dipastikan akan menerima death penalty.

Figaro adalah seorang solo player eksklusif, jadi ada kemungkinan kalau dia tidak akan terlibat. Xunyu, di sisi lain, kemungkinan besar dapat menggunakan skill ultimate-nya untuk mencabut jantungnya kapan saja.

Namun, Franklin tidak peduli dengan hal itu.

Bahkan jika dia mati, 10,000 monster yang telah dilepaskan sejauh ini masih akan tetap menyerang Gideon, belum lagi dia masih memiliki kartu as lainnya.

Sementara Franklin adalah diamond, King of Orchestra adalah club, dan Hugo adalah heart, sang spade adalah sesuatu tertentu yang dia letakkan di bawah arena pusat yang dengan sabar sedang menunggu untuk di aktifkan.

Itulah yang akan terjadi jika Franklin menerima death penalty. Itu adalah Rencana D—rencana akhir yang dia sebutkan saat berbicara dengan Elizabeth.

Tapi, Franklin berasumsi bahwa semua ini akan berakhir sebelum dia harus menggunakan rencana itu. Monster-monster Franklin akan segera memenuhi Gideon dan benar-benar menghancurkannya. Sekelompok orang itu tak lain hanyalah sebuah polisi tidur bagi pasukannya.

Jika Gideon jatuh sementara dilindungi oleh para Master, pada akhirnya kerajaan akan hancur, dan tujuannya akan tercapai.

“… Ok ok ok ok, kalau begitu,” gumam Franklin.

Franklin akan tetap menang tak peduli apakah dia memilih untuk bertindak lebih jauh atau tidak.

“Baiklah, mereka membuatku kesal. Ayo kita bunuh mereka.”

Dan karena itulah dia membuat pergerakan.

Franklin menatap ke arah DGP, dinosaurus yang memporak-porandakan Royak Guard yang ada di sekitar Pandemonium. Dia menggunakan special reward kelas Legendary untuk menciptakan monster itu. Hal itu memberikannya kekuatan yang cukup untuk menandingi UBM, dan karena itu, itu adalah monster terkuat yang ada di panggung pertempuran ini, tidak termasuk sang spade.

Saat Ray berlari ke arah Seri Bunuh Diri, Franklin telah berasumsi bahwa monster itu tidak perlu digunakan. Tapi sekarang, dia memerintahkannya untuk membantai seluruh Master yang ada di sana.

“DGP, jadilah anak baik dan injak-injak para perusak pemandangan itu.”

“VRGHAAAAHHHH!” Monster itu mengeluarkan raungan yang mengguncang bumi saat dia berlari dengan kekuatan langkah yang menghancurkan tanah di bawahnya. Dia langsung menuju ke garis depan pertempuran antara 5000 monster dan dua puluh dua Master, dan dia sampai di sana dalam sekejap mata.

Pertama, dua puluh dua Master itu menjadi dua puluh.

DGP, terselimuti aura merah, langsung menuju ke arah dua high-rank job yang ada di garis depan, dengan cepat menghancurkan dan mengubah mereka menjadi debu. Selain itu, sebuah Embryo yang menerima damage yang hendak diterima kedua Master itu mencapai batasnya dan hancur berkeping-keping.

Kemudian dua puluh menjadi sembilan belas.

Aura merah itu menangkis sebuah mantra dari sebuah high-rank job berbasis sihir.

DGP menanggapi hal itu dengan mengayunkan ekornya dan membelah orang itu menjadi dua, dan langsung membuat mereka lenyap.

Lalu sembilan belas menjadi enam belas.

Tiga orang Master menyerangnya secara bersamaan menggunakan skill ultimate mereka, tapi sebelum mereka berhasil, DGP menggigit mereka semua dengan kecepatan yang begitu besar sampai meninggalkan afterimage.

Dalam sekejap, dua puluh dua Master yang berhasil menahan 5000 monster telah berkurang menjadi enam belas hanya karena satu makhluk.

“Cih!” Marie—satu-satunya Superior Job yang ada di sana—mendecakkan lidahnya saat dia menembakkan peluru penembus ke kepala DGP.

Setelah memasuki aura merah itu, pelurunya kehilangan kekuatan dan kecepatan sebelum ditangkis oleh kulit milik monster itu.

“Itu adalah skill defensif dan ofensif, ‘Dragon King Aura!’” dia menyadarinya. “Monster itu pasti dibuat menggunakan bahan yang di dapat dari Dragon King!”

Marie sepenuhnya benar.

“Dragon King” adalah sejenis UBM. Pada dasarnya mereka adalah Pure-Dragon yang memiliki cukup kekuatan untuk menyandang gelar raja dari sub-spesies mereka. Dragon King Aura milik mereka dapat melemahkan setiap serangan yang datang ke arah mereka, dan karena mereka adalah makhluk yang unik di setiap generasinya, mereka semua dianggap sebagai UBM.

Franklin telah mengalahkan banyak Dragon King, dan DGP telah dibuat menggunakan special reward dari salah satu Dragon King bernama “Fangdragon King, Drag-Phalanx.” Karena itu, kekuatannya dapat dengan mudah melampaui monster kelas Pure-Dragon. Dia dapat dengan mudah bertarung secara seimbang dengan UBM karena bahan dasarnya, dan dia bahkan memiliki Dragon King Aura yang merupakan simbol dari jenis mereka.

“VGHAAAAAHHHHH!”

“Khh…!” teriak Marie.

Saat dalam keadaan sempurna, Superior Job seperti Marie hanya memiliki kemungkinan kemenangan sebesar 50% melawan UBM kelas Legendary. Namun, menggunakan skill ultimate-nya saat melawan Veldorbell telah membuatnya tidak bisa menggunakan peluru peledak dan pengejar, dan semakin jauh menurunkan kesempatan menangnya.

Aku bisa mencoba menembakkan “Ulbetia the Piercing Murder” pada organ vital dimana auranya lebih tipis, tapi meski begitu, aku tidak yakin apakah itu akan cukup, pikir Marie.

Meskipun melakukan hal itu akan membuatnya kehilangan Peluru Green Piercing dan Silver Flash, Marie yakin bahwa serangan itu tidak akan mempan pada makhluk yang ada di depannya.

Entitas di atas kelas Pure-Dragon memiliki HP yang besar, dan jarang sekali mereka bisa mati karena sebuah skill ultimate dari sebuah Superior Job. Dikombinasikan bahwa DGP memiliki kekuatan yang menandingi Fangdragon King yang telah digunakan sebagai bahan pembuatannya, ada kemungkinan besar kalau Arc-en-Ciel tidak akan cukup untuk mengalahkannya.

Tapi sekali lagi, mereka tidak dalam posisi untuk melakukan pertempuran panjang. Semakin DGP menghancurkan garis de[an dan semakin lama Marie terhenti, akan ada semakin banyak monster yang masuk ke kota.

Marie mempersiapkan dirinya dan mengisi Arc-en-Ciel dengan peluru spesial untuk skill ultimate.

“Phantasmal Raing—“

Sebelum dia bisa menyelesaikannya, DGP membuat pergerakan.

Sama seperti sebelumnya, dia bergerak dengan kecepatan yang cukup besar untuk meninggalkan afterimage dan berlari ke arah Master yang berada tak jauh darinya—dalam kasus ini, Ray.

“Ray!” Marie dan Rook sama-sama berteriak saat DGP mendekatinya dengan cepat.

Kalau dipikir-pikir, kejadian ini sebenarnya sudah jelas. Franklin ingin menghancurkan Ray melebihi siapapun di panggung pertempuran ini, jadi tak aneh jika DGP mengikuti keinginan pemiliknya.

“Tunggu—kh!” Marie mencoba mengejarnya, tapi kemudian dia dikelilingi oleh sejumlah Seri Bunuh Diri yang berfokus pada AGI.

“Mh…”

Ray dalam diam melihat saat DGP menyerbu ke arahnya, dan sulit untuk mengatakan apakah itu karena pikirannya yang masih berkabut atau dia mengetahui apa yang harus dia lakukan.

Dia menghela nafas.

“Ray…?” Kata Nemesis saat Ray mengacungkannya.

Ray sudah sadar bahwa dia tidak dapat lolos. Dia tidak sedang menunggangi Silver, dan bahkan jika dia melakukannya, dia tetap tidak memiliki kecepatan untuk menghindari serangan yang akan datang.

Oleh karenanya, dia tau bahwa dia akan mengalami kematian keduanya di Infinite Dendrogram.

Namun, dia berniat melakukan sesuatu sebelum meninggalkan panggung pertempuran. Tepatnya, dia ingin mendaratkan sebuah serangan balasan di saat bersamaan DGP memberikan damage kepadanya.

Bahkan jika serangan itu langsung membunuhnya, Ray merasa bahwa dia masih bisa melancarkan sebuah Vengeance sebelum mati, yang mungkin dapat membantu membalikkan keadaan ini.

Saat pemikiran seperti itu terlintas di kepalanya, Nemesis membacanya dan bersiap-siap untuk apa yang akan datang.

“Baiklah,” katanya.

Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengaktifkan skill itu di saat yang tepat.

Saat keduanya mempersiapkan diri mereka, DGP tiba di jarak hanya beberapa metel dari Ray. Monster itu membuka rahangnya, berniat untuk memusnahkan musuh dari penciptanya,

“Majulah!” teriak Ray.

Semua orang melihat kejadian itu.

Marie melihatnya.

Rook melihatnya.

Kasumi, Io, dan Fujinon melihatnya.

Sepuluh Master lain yang masih hidup melihatnya.

Liliana melihatnya.

Sir Lindos melihatnya.

Royal Guard melihatnya.

Penduduk Gideon melihatnya.

Penduduk ibukota melihatnya.

Figaro dan Xunyu, sekarang sudah terbebas dari barrier, melihatnya.

Franklin melihatnya.

Ray menghadapi rahang mematikan yang terbuka di depannya, sepenuhnya bersiap untuk melakukan apa yang diperlukan sebelum dia mati.

Nemesis, juga, menghadapi musuhnya, bersiap untuk memenuhi harapan Master-nya, bahkan jika harapan itu akan mengorbankan nyawanya.

Semua orang melihatnya… tetapi tidak ada seorangpun yang menyadarinya.

Tidak ada seorangpun yang melihat saat-saat pria itu muncul di hadapan Ray.

FrontMatter1

“Simpan harapan putus asa-mu untuk panggung yang lebih keren, kuma!” kata pria itu.

“Eh?” Ray menggumamkan kebingungannya, dan sudah jelas dia tidak sendirian dalam hal itu.

Seolah-olah ada beberapa frame yang terlewat, pria itu muncul seolah-olah dia selalu berada di sana.

Dia mengenakan bulu, yang sudah jelas membuatnya tampak aneh. Bagian atas kepalanya tertutupi oleh kulit beruang, yang memanjang sampai ke punggungnya dan berkibar seperti jubah. Dia tinggi, dan meskipun dia tidak memakai pakaian atas, otot-ototnya yang terpampang tampak seolah-olah terbuat dari baja. Celana hitam yang mirip dengan hakama menutupi kakinya, dan teksturnya tampak sama dengan bulu yang menutupi kepalanya.

Karena suatu alasan, kaki kanannya terangkat ke langit.

Dari fakta bahwa dia tidak kesulitan mempertahankan pose itu, bisa dikatakan bahwa dia selalu melakukan latihan fisik.

“Bro, itu adalah hal yang kau lakukan saat kau tau bahwa kau akan bertahan hidup dan membunuh musuh,” kata pria itu dengan kaki masih terangkat ke langit. “Melakukan hal itu hanya untuk memberikan damage kepada musuh dan mati tak peduli apakah kau berhasil atau tidak itu rasanya… kurang keren-kuma. Ok, ok, untuk saat ini aku akan menghentikan permainan kata ini.”

Penampilan dan perkataan pria itu sudah cukup aneh, tapi ada sesuatu yang bahkan jauh lebih aneh tentang pemandangan itu.

Dinosaurus tadi telah hilang.

DGP, monster yang hampir saja memakan Ray, telah benar-benar menghilang pada saat pria berbulu itu menampakkan diri.

“…. Tidaaaak mungkiiiin,” gumam Marie.

Dia, bersama dengan beberapa Master lainnya, telah menyadari apa yang terjadi di sana. Mereka semua menatap ke arah langit—ke arah DGP, yang terbang beberapa ratus metel di udara. Mereka yang memiliki penglihatan yang baik bisa melihat bahwa kepala monster itu telah hancur dan monster itu perlahan berubah menjadi partikel cahaya.

Daru keadaan buruk milik dinosaurus itu dan kaki kanan pria itu—masih berada dalam posisi menendang—para penonton menduga dua hal.

Pria itu baru saja menendang seekor monster dengan berat setidaknya sepuluh ton ke atas langit, dan dia telah menghancurkan hewan itu hanya dengan sekali tendang, mengabaikan Dragon King Aura dan HP besar yang monster itu miliki.

“Hmm, kadal itu memiliki berat yang lumayan,” kata pria itu.

“… Ah.”

Setelah melihat sikap saat pria itu menurunkan kakinya dan menatap bagian bawah wajahnya yang tidak tersembunyi, Ray menyadari bahwa itu adalah seseorang yang sangat dia kenal.

“Yah, kau pergi dan bertindak berlebihan, seperti biasa, tapi kau masih hidup, jadi semuanya baik-baik saja.” Setelah mengatakan itu, pria itu menepuk kepala Ray dengan lembut. “Membuatmu menunggu, huh?”

“… Jadi kau datang,” kata Ray.

“Hei, aku sudah bilang kalau aku akan datang, kan?” Setelah menarik tangannya, pria berbulu itu merogoh tas yang ada di pinggangnya, inventory-nya, dan mengeluarkan sesuatu. Itu adalah sebuah cincin yang bernama “Voice Amplification Ring”—nama yang menjelaskan kegunaannya. “Uhh… Tes, tes. Kau mendengarku, Franklin?”

“… Uh, ya, aku mendengarnya…” kata Franklin.

“Baiklah, itu bagus. Aku akan langsung membuat sebuah pernyataan kecil, kalau begitu.”

“… Pernyataan?”

“Kau membuat sebuah kesalahan yang sangat besar dalam permainanmu ini,” kata pria yang mengenakan kulit itu sebelum berhenti sejenak. “Kau mempermainkan adikku.”

Meskipun hanya ada beberapa orang yang memahami apa yang dia katakan, semua orang yang ada di panggung pertempuran dan bahkan mereka yang hanya menonton siaran bisa merasakan intensitas semangat bertarung pada perkataannya itu.

“Jadi ya… Franklin. Inilah yang akan terjadi,” kata pria itu. “Aku—King of Destruction—akan memusnahkan seluruh dan setiap monster kesayanganmu.

Shu Starling mengatakan keinginannya.

Dengan demikian di mulailah pertempuran terakhir malam itu.

Pemilik pasukan terbanyak di kekaisaran—Mr. Franklin.

Pemilik pasukan terkuat kerajaan—Shu Starling.

Kuantitas vs kualitas.

Giga Professor vs King of Destruction.

Superior vs Superior.

Dalam sebuah ironi yang besar, event utama di malam itu telah digantikan oleh sesuatu yang pada dasarnya sama.

Clash of the Superior.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. ray starling says:

    Shu starling di Gank Bang. Yang pasti siapa yg jdi pemenangnya?

    Like

  2. Albarn says:

    Scene Kuma-nii-san kurang banyak~

    Like

  3. SA IDUN says:

    wkwkwk.. adik gw lu apain.. gw tabok lu..
    btw tanks min.. and next..

    Like

  4. zozoz says:

    Gercep nih admin nya ngeTL nih novel
    btw makasih lah udh TL nih novel

    Like

  5. Awokwowkkk…
    Lu Sentuh adik gw. lu tamat…

    Like

Leave a Reply to zozoz Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s