Infinite Dendrogram Volume 5 Chapter 2

Volume 5
Chapter 2 – Mereka yang Mengikat Kemungkinan

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Jeand Grassland

Perkataan Franklin membuat udara di sekitarnya membeku.

Nemesis, Liliana, Sir Lindos, dan anggota Royal Guard lainnya gagal untuk benar-benar memahami apa yang baru saja Franklin katakan.

“L-Lima… eh?”

“Bukankah itu 500..?”

“56,826 monster? Hmph. Bukankah itu jumlah yang terlalu besar untuk dijadikan sebuah gertak sambal?” tanya Nemesis, kekhawatiran pada suaranya tampak sangat jelas. Dia benar-benar memahami apa yang Franklin katakan, tapi sudah jelas bahwa dia tidak percaya Franklin dapat melakukan itu. “Kau berencana hanya melepaskan 500 monster ke kota. Apakah kau benar-benar menduga kami akan percaya bahwa kau bisa meningkatkan jumlahnya seratus kali lipat?”

Nemesis ingin menganggap bahwa dia berbohong, dan kebanyakan orang yang ada di dalam atau di luar kota kemungkinan juga merasakan hal yang sama.

Menanggapi hal itu, Franklin hanya mengangguk dan melebarkan senyumannya. “Aku hanya tidak dapat membuat lebih dari 500 monster dengan ciri ‘hanya menyerang Master dan bangunan’ yang tak berguna. Mereka membuatku mengeluarkan banyak biaya, sih.”

Dengan kata lain, dia bisa menyiapkan lebih banyak monster yang mengincar semua makhluk, dan jumlah itu di atas 50,000. Lima ratus monster yang ada di dalam perangkat-perangkat yang tersebar di Gideon hanya dia buat karena mempertimbangkan salah satu bawahannya: Hugo.

“Tapi sekarang karena Rencana A dan B telah gagal, aku tidak bisa membiarkan diriku memperdulikan tentang penampilan,” lanjutnya.

Perkataan itu membuat Nemesis menyadari sesuatu. “Rencana…!”

Sudah jelas apa yang dia maksud.

Rencana A, B, dan C—semakin banyak Franklin gagal, semakin lama kerajaan bertahan terhadap skema-nya, maka rencananya akan menjadi semakin parah.

Franklin sebenarnya berniat untuk mengakhiri itu dengan Rencana A dan B. Karena seperti yang selalu dia katakan, dia tidak berniat untuk kalah. Namun, dia juga menyusun rencana untuk jaga-jaga jika dia kalah, dan dia melakukan itu semua demi sebuah tujuan.

“Oh man, sayang sekaliii,” ejek Franklin. “Aku tidak akan sampai sejauh ini jika kalian menyerah sejak awal.

Semua itu untuk menghancurkan semangat negara ini.

Semua itu untuk membuat rakyatnya menyadari bahwa usaha mereka yang sia-sia hanya akan meningkatkan korban jiwa.

Itulah sebabnya dia bersusah payah menyusun rencana lain untuk jaga-jaga jika rencana sebelumnya gagal.

“Temukan Franklin! Berikan kematian kepada bajingan itu sebelum dia bisa memanggil monster-monster itu dari Jewel-nya!” Teriak Sir Lindos, membuat Royal Guard memulai pencarian dengan putus asa.

Mengalahkan Franklin sebelum dia dapat memanggil monster-monster-nya akan menandai akhir dari krisis ini. Fakta bahwa dua monster sebelumnya muncul tepat di samping mereka pasti telah membuat Liliana menduga bahwa Franklin ada di dekat mereka.

Namun…

“Heh heh heh. ‘Dari Jewel-nya’? Ayolah, jika aku mengeluarkan mereka dengan cara memanggilnya satu per satu, pagi akan tiba bahkan sebelum jumlah yang kupanggil mencapai 10,000.” Franklin menunjukkan senyum gigih dan menjentikkan jarinya. “Optic Camouflage—cancel.”

Sesaat kemudian, dunia terdistorsi, mirip seperti sisik ikan. Sebuah area di kegelapan malam mulai runtuh, memperlihatkan apapun yang bersembunyi di sana.

Itu adalah sebuah objek yang begitu besar sampai-sampai membuat orang-orang melupakan fakta bahwa objek itu pernah disembunyikan. Sosoknya mirip dengan gabungan dari sebuah kotak, seekor naga, dan seekor laba-laba. Ada banyak cerobong asap yang muncul keluar kotak yang memiliki lebar hampir satu kilometel itu.

Kotak anorganik itu terhubung dengan sebuah kepala naga besar dan memiliki delapan kaki laba-laba yang terpasang di sisi-sisinya. Objek itu terlihat abnormal dalam hal ukuran dan desain.

Semua orang selain Franklin kebingungan kenapa mereka tidak dapat menyadari keberadaan objek tak alami itu. Franklin berdiri di atas struktur tak normal itu dan memperkenalkannya.

“Pertama kali melihatnya? Baik, kalian lebih baik mengingatnya, karena ini adalah Superior Embryo-ku. Type Plant Fortress—Magic Beast Factory, Pandemonium.”

“Superior Embryo” adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Embryo yang telah berevolusi sampai bentuk ke-tujuh, puncak dari sebuah Embryo.

Penduduk Gideon sudah sangat akrab dengan istilah itu berkat champion mereka, Over Gladiator, Figaro. Namun, di hadapan keanehan luar biasa dari Pandemonium milik Franklin, ke akraban itu hanya sedikit membantu menenangkan keadaan pikiran mereka. Itu hanya sangat berbeda dengan Superior Embryo yang digunakan oleh Figaro dan Xunyu dalam pertandingan mereka.

“Anak ini masih belum berevolusi selama perang dulu, tapi ya, ini adalah Superior Embryo-ku,” kata Franklin dengan gembira. “Kemampuan uniknya adalah produksi monster, seperti yang mungkin sudah kalian duga, dan transportasi monster.”

Dengan itu, benteng besar itu membuka mulutnya. Di dalamnya, terdapat banyak cahaya samar. Mereka adalah mata—tatapan mengerikan dari puluhan ribu monster yang hendak dilepaskan.

“Baiklah, mari kita mulai dengan 5000 ekor monster dari Seri Bunuh Diri-ku,” Franklin mengatakan itu dengan santai, membuat sebuah lereng meluncur turun dari mulut naga itu.

5,000 monster berkumpul dan mulai berlari, semuanya bertujuan untuk memusnahkan Gideon.

***

■■■ ■■■■■, ■■■■■■

Superior Embryo adalah pendewaan dari Embryo.

Meskipun itu adalah kebenaran bagi mereka semua, jalan yang mereka ambil pada titik itu dan jadi seperti apa mereka setelah mencapainya berbeda pada masing-masing Master.

Contohnya, Superior Embryo milik Over Gladiator, Figaro: Superior Embryo berbentuk jantung yang namanya masih belum kuketahui. Dia dan Master-nya pada dasarnya adalah satu, dan kemampuan uniknya adalah hal yang sangat sederhana—penguatan item yang Master-nya pakai.

Namun, meskipun sederhana, berkat penguatan yang sejalan dengan lama pertarungan, penguatan berkebalikan dengan jumlah item yang dipakai, dan penguatan jenis ketiga—kartu as yang dia miliki—secara teori dia bisa menguatkan equipment-nya tanpa batas. Dan itu sudah cukup bagi Superior Embryo ini untuk dianggap sebagai puncak diantara Embryo.

Lalu ada Tenaga Ashinaga—Superior Embryo berbentuk lengan dan kaki buatan milik Xunyu, sang Master Jiangshi. Mereka bisa memanjang dengan kecepatan suara dan memiliki kekerasan yang setara dengan special reward kelas Legendary. Meskipun Xunyu memiliki job caster yang berfokus pada END, Embryo ini memberinya potensi untuk menandingi Superior Job yang berfokus pada AGI dalam hal kemampuan pertarungan jarak menengah.

Kemudian skill ultimate milik Embryo-nya—serangan pembelok ruang yang mampu menghancurkan organ dan membunuh target di ujung cakrawala, bahkan jika mereka sedang tidak bertarung.

Oleh karenanya Superior Embryo ini, tak diragukan lagi, merupakan puncak lain di antara Embryo yang ada.

Selanjutnya adalah Superior Embryo milik Giga Professor, Mr. Franklin.

Itu adalah sebuah Plant Fortress: Sebuah Type yang merupakan turunan dari kategori dasar Type Castle, dan sejauh ini baru ada satu di seluruh dunia. Embryo itu memiliki dua kemampuan unik: produksi monster dan penyimpanan.

Produksi monster kemudian kembali terbagi menjadi dua jenis: produksi massal dan penciptaan monster buatan khusus menggunakan skill ultimate.

Yang pertama adalah kemampuan yang bertanggung jawab atas situasi ini, dan skill yang dia gunakan bernama “Monster Mass Production.”

Sejauh yang kutahu, itu adalah sebuah skill yang memperkuat skill Monster Creation milik job dari researcher grouping dan memungkinkan pembuatan beberapa monster di saat bersamaan. Tentu saja, Franklin membutuhkan bahan untuk melakukannya, tapi aku diberitahu bahwa skill itu bisa memproduksi 1000 monster per hari.

Skill itu juga memiliki efek menurunkan biaya tergantung jumlah monster yang dia produksi sekaligus, membuatnya semakin layak mendapatkan nama “Monster Mass Production.”

Bukannya langsung dipindahkan ke dalam Jewel, monster-monster yang diciptakan menggunakan skill ini dapat disimpan di dalam Pandemonium menggunakan skill “Storage”-nya. Meskipun mengeluarkan mereka meskipun hanya sekali akan membuat mereka tidak bisa lagi disimpan, sampai mereka dikeluarkan, mereka bisa disimpan di dalamnya secara semi-permanen.

Pandemonium adalah sebuah pabrik benteng raksasa yang dapat menciptakan sebanyak mungkin monster tergantung sumber data yang ada, kemudian menyimpan dan melepaskan mereka, membuatnya lebih dari layak untuk dianggap sebagai puncak lain dari Embryo yang ada, sebuah Superior Embryo.

Sekarang, bagaimana jika ketiga Embryo ini bertarung dalam pertempuran defensif?

Lebih tepatnya, bagaimana jika Franklin menyerang Gideon dan dua lainnya melindunginya?

Hasil sudah jelas—Franklin akan menang seratus kali dari seratus pertempuran.

Seperti yang ditegaskan oleh kemampuan penguatannya, Superior Embryo milik Figaro adalah sebuah ‘tipe petarung individu,’ yang berfokus pada kekuatan milik satu orang, dan hal yang sama juga berlaku bagi Xunyu.

Franklin, di sisi lain, bisa memanggil banyak monster. Dia memimpin pasukan yang bisa menguasai darat, langit, dan laut. Dalam istilah player, hal itu membuat Franklin menjadi ‘tipe penekan berskala luas.”

Saat tipe itu berada pada sisi ofensif dalam pertempuran defensif, dia akan memiliki keunggulan absolut. Mereka yang fokus pada kekuatan individu benar-benar tidak cocok dengan mereka yang memiliki jumlah di sisi mereka.

Tentunya, mereka tidak akan benar-benar dikalahkan. Bahkan, mereka mungkin bisa menerobos barisan pasukan yang luar biasa banyak itu dan mengalahkan pemimpinnya. Namun, saat mempertahankan sebuah wilayah, mereka akan kekurangan jumlah untuk menahan serangan musuh, dan tempat itu akan dihancurkan oleh para musuh yang berhasil menerobos.

Mungkin mereka bisa mengalahkan pimpinan musuh—Franklin, dalam hal ini—sebelum monster-monster-nya mencapai kota. Namun, karena sebuah trik milik Franklin, ada bukti bahwa monster-monster itu akan terus menyerang bahkan jika dia dikalahkan. Pertempuran—atau, lebih tepatnya, hasil akhir mereka—di kota ini membuatnya jadi sangat jelas.

Karena itu, Figaro dan Xunyu tidak akan bisa melakukan banyak hal kepada Franklin.

Bahkan rekan tipe petarung individu-ku akan kesulitan jika berada dalam situasi seperti ini.

***

Jeand Grassland

“Makan itu, njir. Wew, nyaman rasanya membuat… perasaan ini mengalir keluar.” Saat Franklin menyatakan kesenangannya, Pandemonium terus mengeluarkan banyak monster. Cara mereka menyerbu keluar dari mulut naga itu benar-benar mirip dengan adegan di sebuah anime lama.

Karena itu, pemandangan itu mungkin tampak sedikit komikal. Tapi fakta bahwa mereka semua sedang menuju ke Gideon, yang hanya berada beberapa kilometel jauhnya, membuat hal itu tidak bisa dijadikan lelucon.

“Serang Embryo itu!” teriak Sir Lindos. “Bunuh Franklin! Kita masih sempat!”

Sejumlah ksatria mengikuti perintahnya.

Keputusannya itu tepat. Meskipun mereka tidak bisa menghentikan monster-monster itu, mereka bisa mencegah setiap ancaman terhadap kota dengan mengalahkan Franklin dan membuat monster-monster itu menghilang. Para ksatria itu akan memberikan segala yang mereka miliki demi kemungkinan itu.

“’Sempat’? Maaf, itu tidak mungkin,” kata Franklin, membuat para ksatria terhenti. “Untuk menghormati fakta bahwa kalian telah berhasil menggagalkan dua rencanaku, aku akan mengungkapkan sesuatu kepada kalian, wahai orang-orang kerajaan.”

Dia bukan hanya berbicara kepada para ksatria yang ada di depannya, tetapi juga kepada seluruh Master yang mencoba menghentikan tragedi ini.

“Monster-monster ini tak akan berhenti bahkan jika aku mati, dan aku tidak bisa menghentikan mereka bahkan jika aku mencobanya.”

Perkataannya membuat hampir semua orang yang mendengarkannya kebingungan. Itu hanya tak terdengar seperti sesuatu yang dikatakan seseorang yang telah melepaskan semua monster itu ke Gideon.

“Apa yang kau katakan?” tanya Liliana. “Monster-monster ini adalah buatanmu, kan?”

Dengan pertanyaan itu, dia seperti mewakili hampir semua orang yang menyaksikan hal itu.

Franklin hanya melebarkan seringai nya. “Yap. Aku membuat mereka semua menggunakan Pandemonium-ku. Namun, mereka tidak lagi milikku.” Dia berhenti sejenak. “Maksudku… aku melepaskan mereka.

Sekali lagi, orang-orang yang mendengarkannya kesulitan untuk memproses apa yang dia katakan. Dan bahkan setelah mereka selesai memprosesnya mereka masih kesulitan untuk memahaminya.

“Apa… Apa yang kau katakan?” tanya Liliana, kembali mewakili semua orang.

“Yah, kalian tau tentang minion capacity, kan?” kata Franklin menanggapi hal itu. “Giga Professor mungkin memang sebuah Superior Job, tapi aku masih tidak memiliki minion capacity yang cukup besar untuk menampung monster sebanyak itu. Dan sebuah party juga hanya memiliki lima slot.”

Monster peliharaan bekerja menggunakan minion capacity, yang membuat monster itu bisa bertindak sebagai potensi tempur milik tuannya sendiri.

Meskipun itu bisa dinaikkan dengan cara mengambil job dari tamer, knight, researcher, pimp, atau grouping lainnya, hal itu tetap ada batasnya. Menggunakan monster yang terlalu banyak atau terlalu kuat untuk minion capacity bisa membuat mereka tak bisa digunakan atau menurunkan kekuatan mereka. Oleh karenanya, Franklin memilih untuk tidak terikat dengan hal itu.

“Jika kau ingin membuat monster sebanyak itu bertarung dengan seluruh potensi mereka, membiarkan mereka pergi adalah satu-satunya pilihan,” jelasnya.

Monster yang dibiarkan pergi tidak lagi digunakan oleh mantan pemiliknya, jadi mereka tidak terikat dalam minion capacity. Dia telah benar-benar membuang batasan itu.

“Oh, dan jangan khawatir,” lanjut Franklin. “Mereka sudah diprogram dengan benar, jadi mereka tidak akan menyerangku. Mereka telah diatur untuk ‘maju ke depan’ dan ‘bunuh semua orang selain anggota klan-ku dan monster lain milikku.’ Itulah sebabnya aku menyebut mereka ‘Seri Bunuh Diri!’”

Meskipun Franklin membusungkan dadanya dengan bangga, apa yang dia lakukan tak lain adalah sesuatu yang memuakkan. Dia telah menciptakan sebuah pasukan makhluk hidup, mengaturnya untuk maju ke depan sejak lahir sampai mati sambil tidak melakukan apapun selain membunuh semuanya kecuali beberapa makhluk terpilih.

Itu cukup menjijikkan bahkan bagi mereka yang hanya menganggap Infinite Dendrogram sebagai sebuah game, dan bagi mereka yang menganggap ini adalah dunia lain, tindakannya tak lain adalah sebuah kegilaan murni.

“Menurut kalian kenapa aku lari ke barat?” katanya. “Jika aku menggunakan ini di utara atau selatan, aku bisa saja merusak Dryfe kami tercinta atau Legendaria—pihak ketiga dalam perang ini. Ini adalah sebuah pasukan kematian yang terdiri dari puluhan ribu monster yang terus bergerak dan bisa dengan mudah menerobos perbatasan selama mereka masih hidup… Dan ya, ada Caldina di timur, tapi aku tak peduli. Bagaimanapun, mereka juga musuh kami.”

Belum lagi orang-orang seperti The Earth dan King of Termination mungkin akan melakukan sesuatu pada mereka saat mereka sampai di sana, tambahnya dalam diam.

“Pokoknya, aku tidak bisa melakukan apa-apa kepada monster yang sudah kulepaskan, dan mereka akan terus bergerak bahkan jika entah bagaimana kalian bisa membunuhku. Tu as compris?” Franklin sengaja menggunakan bahasa dunia nyatanya untuk mengejek musuhnya.

Nemesis, Liliana, dan ksatria Royal Guard lainnya tercengang kehabisan kata-kata. Mereka harus mengalahkan setiap monster itu dan kemudian sumbernya—Pandemonium dan Franklin.

Dalam skenario terbaik, mereka akan menangani Pandemonium sebelum dia melepaskan 50,000 monster sisanya. Namun, mereka tidak memiliki potensi tempur untuk melakukan hal itu.

Akan sulit bagi Liliana, Sir Lindos, dan ksatria lain untuk mengalahkan Pandemonium sendirian. Mereka hanya dapat melakukan sedikit hal untuk mengulur waktu menghadapi monster sebanyak itu.

Barrier yang ada di arena pusat sudah dibuat tak berguna, yang artinya para Master yang ada di sana akhirnya bisa menghancurkannya, dan La Porte de l’Enfer milik Cocytus juga telah di matikan. Dalam beberapa menit atau lebih, para Master dari kedua tempat itu akan datang untuk membantu mereka.

Namun sebelum itu, Seri Bunuh Diri akan memporak-porandakan kota Gideon, dan Pandemonium akan melepaskan lebih banyak makhluk pembawa petaka. ‘Beberapa menit’ itu adalah waktu yang terlalu lama.

Franklin mengatakan apa yang semua orang pikirkan. “Heh heh heh, kalian tak akan sempa—“

“Aku akan mengulur waktu.” Seseorang yang benar-benar tak terduga angkat bicara, menghapus senyum dari wajah Franklin.

Tidak ada seorangpun yang menduga dia akan kembali naik ke atas panggung. Bagaimanapun—pertarungannya sudah berakhir. Dia telah tertidur setelah mengorbankan tangan kirinya dan mengerahkan segala yang dia miliki untuk mengalahkan musuh alaminya.

Akan tetapi, dia masih berdiri.

Ray Starling masih memiliki kekuatan untuk berdiri.

Kesadarannya berada dalam kondisi tak pasti. Pertarungan sebelumnya telah benar-benar mengurasnya, dan bahkan pikiran milik player yang mengendalikan avatar itu berada dalam keadaan sangat buruk. Bahkan mungkin dia tidak benar-benar memahami situasi saat ini.

Akan tetapi, dia masih akan tetap menghadapi 5000 pasukan monster yang menyerbu Gideon.

“Ray!”

“Ray?!”

Teriakan khawatir milik Nemesis dan Liliana bukan tanpa alasan. Ray masih memiliki sejumlah luka berbasis debuff, tak dapat menggerakkan tangan kirinya, dan bahkan hanya memiliki separuh dari HP maksimal-nya.

Dan meskipun begitu, dia tetap berdiri.

“Nemesis, Silver… ayo,” katanya saat memanggil kuda kepercayaannya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Embryo-nya.

“… Tentu saja!” Kata Nemesis setelah ragu beberapa saat. Lalu dia meraih tangan Ray dan mengubah dirinya menjadi greatsword hitam.

“Ha ha… ha ha ha hah… Oh gan, kupikir aku akan menangis,” tawa Franklin. “Kau sudah cacat, bro. Cukup serakah bagimu untuk tetap mencoba dan berjuang dalam kondisi seperti itu. Pertarunganmu sudah selesai, jadi kenapa kau tidak saja, yah, pergi tidur?”

“Ini belum berakhir.”

“Hm…?”

“Ini masih belum berakhir,” kata Ray dengan teguh. “Sekarang masih terlalu awal untuk berhenti. Aku akan terus bertarung selama aku bisa berdiri dan mengayunkan pedangku.”

Ada kemungkinan kalau dia mengatakan kalimat itu hanya karena kondisi pikirannya yang tak pasti.

“Selama kau… selama aku dihadapkan dengan tragedi.”

Namun, itu mungkin adalah pikiran sekilas dari hatinya yang paling dalam.

“… Oh, begitu.” Angguk Franklin, seperti telah menyadari sesuatu. “Meskipun kalian berdua adalah Master Maiden, kau benar-benar tidak seperti diri-nya. Malahan, kau mungkin lebih mirip dengan King of Tartarus.”

Mengabaikan perkataan Franklin, Ray menunggangi Silver menuju ke hadapan 5000 makhluk keji.

“Hellish Miasma!” teriaknya, menyebabkan tangan kanannya mengeluarkan gas beracun yang sudah familiar.

Poison, Intoxication, dan Weakness, menyebabkan para monster itu melambat, tetapi hanya itu. Para monster yang tidak terpengaruh oleh gas itu antara menyingkirkan monster yang terpengaruh atau langsung menginjak-injak mereka, melanjutkan serbuan mereka ke arah Gideon. Namun, sebagian dari mereka menganggap Ray sebagai musuh dan bergerak untuk melawannya.

Tidak ada tanda-tanda kerja sama di antara mereka. Mereka secara acak menyerang Ray menggunakan senjata, cakar, taring, proyektil organik, dan sihir ofensif milik mereka. Ray dan Silver gagal menghindari serangan-serangan itu, membuat Ray berakhir jatuh ke atas tanah.

Tidak jelas apakah itu karena dia terluka, karena musuhnya terlalu banyak, atau hanya karena Ray adalah orang lemah yang level-nya bahkan belum menembus angka 50. Apapun alasannya, dia tidak dapat bergerak, dan sejumlah monster sedang mendekat untuk mengakhirinya.

Liliana, Sir Lindos, dan para ksatria lainnya mencoba untuk menolongnya, tapi para monster lain menahan mereka.

“Ray!” Teriak Nemesis saat beberapa cakar mengerikan terjulur untuk mengambil nyawanya.

Dia tidak memiliki waktu untuk mendengarkan peringatan Nemesis maupun berdiri.

Dan dengan begitu, saat Ray hampir mengalami kematian keduanya di Infinite Dendrogram…

“GYAGHGHGHGHGHGHGHGHGH!”

…. hal itu dicegah oleh kematian pertama-nya.

Para monster yang hampir membunuhnya telah dimusnahkan oleh makhluk mirip peluru—makhluk yang sama dengan yang pernah memusnahkan Ray. Mereka berasal dari Embryo bernama “Arc-en-Ciel,” dan Master-nya adalah…

“IziNkan aKu membAntu.”

… Superior Killer—seorang player killer yang diselimuti misteri… dan kabut hitam yang membuat orang-orang tidak bisa menebak umur maupun jenis kelaminnya.

“MerEka memiLiki juMlah,” kata sosok itu dengan suara tak alami, kemungkinan besar dikatakan melalui pengubah suara. “KiTa haRus bekErjasama untUk saAt ini.”

“Gh…”

Itu adalah Master yang sama dengan yang membunuh Ray di Noz Forest dulu dan kemudian datang untuk membantunya dalam pertarungannya melawan Gardranda.

Berhadapan dengan orang itu, Ray berkata:

“Ya. Aku mengandalkanmu… Marie.”

Dia memanggil namanya, seolah-olah itu bukan perkara besar.

“ApP?! EeeEeeEehHhhH?!” teriak Superior Killer.

“Eeeeeehhhhh?!” jerit Nemesis.

Pada saat itu, seekor monster mendekat dari belakang Marie. Ray segera mengubah Nemesis menjadi bentuk halberd dan menusukkannya ke monster itu. Meskipun Nemesis masih berada dalam keadaan terkejut, Ray masih bisa mengubah bentuknya, dan monster itu sekarang sudah benar-benar tertusuk.

“KeNapa?! BagAimana kAu biSa tAu?!” teriak Superior Killer.

“Itu Marie?!” seru Nemesis. “Apa maksudnya ini, Ray?!”

“Aku menyadarinya saat kami pertama kali bertemu, tapi sekarang, kurang lebih aku sudah bisa membongkar kabut itu.” Setelah mengatakan itu, Ray menghela nafas panjang.

Seekor monster menganggap hal itu sebagai sebuah celah dan mencoba menyerangnya, tapi Marie mematahkan pergerakannya menggunakan peluru penembus.

Saat dia melihat monster itu menghilang, Marie mematikan skill Voice Change miliknya dan mulai berbicara dengan suaranya sendiri. “Hadeh, aku merasa bodoh karena mencoba menyembunyikannya dengan Voice Change.”

“Eh? Marie sebenarnya adalah Superior Killer? Kau tak bercanda?” tanya Nemesis, masih terperangah.

“Ini situasi yang agak darurat, jadi aku akan berterima kasih jika kalian bisa mengabaikannya sekarang,” kata Marie.

“Tentu,” jawab Ray saat dia melancarkan Vengeance kepada monster yang menyerangnya sebelumnya. “Tapi hanya jika kau mau melakukan duel denganku setelah kita menyelesaikan ini.”

Dia kemudian mengacungkan Nemesis di satu-satunya tangan yang bisa dia gunakan.

“Baiklah. Aku akan melawanmu dengan segala yang kumiliki,” kata Marie saat dia mengacungkan Arc-en-ciel dan Palsy Stingblade sebelum berdiri saling membelakangi dengan Ray.

Dan dengan begitu, keduanya menghadapi monster yang menyerbu ke arah mereka.

Keduanya belum pernah bertarung di sisi yang sama sebelumnya.

Marie pernah menolong Ray sekali selama pertarungannya melawan Gardranda dan pernah membunuhnya dulu saat di Noz Forest, tapi hanya sampai di situlah catatan pertarungan mereka. Tapi meski begitu, mereka bekerja sama tanpa kesalahan yang berarti dan membunuh monster-monster yang mendekat dengan sangat efisien. Hal itu bisa terjadi karena Marie telah mengamati Ray untuk mencoba dan menemukan apa yang kurang dari dirinya sendiri, dan Ray sudah sering memikirkan tentang tindakan yang diambil oleh orang yang pernah membunuhnya.

Mereka bergerak bersama-sama, membentuk sebuah dinding yang sedikit memperlambat 5000 monster yang menyerbu ke arah Gideon.

“HA!” Teriak Franklin. “Kalian hanya berdua, tau? Apakah kalian benar-benar berpikir bahwa kalian sudah cukup untuk menahan 5000 monster? Jangan ngaco!”

Perkataan Franklin tak lain adalah kebenaran. Bahkan jika salah satunya adalah newbie dengan catatan kemenangan yang ajaib dan yang satunya lagi adalah seorang player killer yang pernah mengalahkan Superior, hanya dua orang sudah jelas tidak akan cukup untuk menghentikan 5000 monster dari gelombang pertama, apalagi 50,000 monster lain yang masih Franklin simpan. Kekalahan mereka adalah hal yang tak dapat dihindari.

“Kalau begitu kami akan menghentikannya dengan dua puluh orang.”

Oleh karenanya, mereka membutuhkan seseorang untuk menghubungkan mereka pada kemungkinan kemenangan.

Suara itu datang dari balik gerbang barat, diikuti oleh banyak serangan yang menelan para monster itu.

Ada serangan api dari seekor avian, sihir ofensif, bola baja raksasa, panah api, dan debuff Charm yang begitu kuat, diantara banyak skill lainnya.

Lima puluh monster yang berdiri di barisan terdepan dari 5000 monster yang ada telah dihancurkan dalam sekejap.

“Ray! M—McBlackJack! Aku membawa bantuan!”

“Rook!” teriak Ray.

“… Apakah ‘McBlackJack’ yang dia maksud adalah aku?” tanya Marie.

“Dia mungkin tidak bisa memanggil namamu secara langsung karena banyaknya orang yang ada di sini,” komentar Nemesis.

Di gerbang barat, terdapat dua puluh Master, bersama dengan monster peliharaan dan summon mereka. Yang berdiri di depan kelompok itu adalah Rook, Kasumi, Io, dan Fujinon, bersama dengan empat newbie lain yang pergi ke arah yang berbeda setelah pertempuran di alun-alun dan telah berhasil bertahan hidup cukup lama untuk sampai kemari. Dua belas lainnya adalah high-rank Master yang dibekukan oleh La Porte de l’Enfer di gerbang barat.

Para Master itu sangat bersemangat.

“Hell yeah! Ayo, gan!”

“Kita tidak boleh membiarkan para newbie mendapatkan semua sorotan!”

“… Aku penasaran apakah ini akan masuk ke dalam MMO Journal Planter besok.”

“Ini sederhana. Kita bunuh Franklin!”

Sepertinya, alasan mereka bergabung ke dalam pertempuran cukup bervariasi, tapi mereka semua adalah Master yang memiliki kekuatan high-rank job dan Embryo.

Meskipun mereka kalah dari Hugo karena masalah kompatibilitas, mereka adalah para player berpengalaman yang menjadikan duel city ini sebagai pusat kegiatan mereka.

Tentu saja, kelompok itu jauh lebih kuat daripada Ray, dan bergabungnya mereka ke dalam pertempuran memiliki efek besar pada hal itu.

“Tidak mungkin,” gumam Franklin, tampak lebih terkejut dari siapapun yang ada di sana.

Bagaimanapun, kejadian ini adalah hal yang mustahil. Franklin lebih mengetahui dari siapapun bahwa debuff Frozen yang disebabkan oleh La Porte de l’Enfer milik Cocytus tidak mudah untuk dihilangkan. Item yang menghapus status effect tidak mempan padanya dan debuff itu dapat bertahan setidaknya selama satu jam, bahkan jika Hugo sendiri terbunuh.

Satu-satunya cara untuk keluar dari aturan itu… adalah membuat Hugo—pengguna skill itu—untuk membatalkan efeknya dengan sukarela.

“Kau membatalkannya, Yu…”

Hal itu juga tidak bisa dilakukan hanya dengan memberikan debuff Charm kepadanya—dia harus melakukannya sendiri. Dan itu berarti bahwa Hugo rela mengkhianati Franklin dan membatalkan skill itu.

Oh tunggu, akulah yang terlebih dahulu mengkhianatinya, pikir Franklin mengejek dirinya sendiri.

“Yah, terserahlah,” katanya dengan nada penuh niat membunuh. “Kalian masih hanya berjumlah dua puluh orang. Jika kalian pikir kalian bisa menghentikan serbuan monster-monster ini, maka maju dan cobalah.”

Hal itu diikuti oleh para Seri Bunuh diri yang meraung dan memamerkan taring mereka.

Mereka telah dilepaskan ke alam liar, jadi itu bukan berarti mereka mengikuti kehendak Franklin. Inti dari keberadaan mereka… setiap sel yang ada di tubuh mereka… sedang berteriak kepada mereka untuk menyerang musuh yang baru saja muncul di hadapan mereka.

“Kita akan mengulur waktu!” teriak salah satu Master berlevel tinggi. “Jangan biarkan satupun dari mereka masuk ke dalam kota sampai orang-orang yang ada di arena sampai kesini!”

“… Apakah kita akan terkenal jika kita melakukannya?”

“BUNUH FRANKLIN!”

Para high-rank Master itu berlari ke arah para monster, menandai awal dari pertempuran 22 vs 5000. Dalam hal skala-nya, sejauh ini itu adalah pertempuran terbesar yang terjadi malam ini.

Namun, itu jelas bukan yang terbesar dari yang akan terjadi.

***

Arena Pusat Gideon, panggung pertarungan

Tidak ada seorangpun yang melihat kejadian itu.

Sebagian besar penonton di arena pusat sedang menonton siaran yang sedang berlangsung, antara dengan perasaan putus asa atau dengan sedikit harapan.

Oleh karenanya, tidak ada seorangpun yang melihat pria itu mendekati pelindung yang menyegel panggung pertarungan.

Dengan langkah santai, dia mendekati pelindung itu.

Ada beberapa Master lain di dekat sana. Setelah menyadari bahwa bahaya pelepasan monster di tengah kota telah hilang, mereka bergerak untuk mencoba dan membebaskan dua orang Superior yang terjebak di dalam panggung pertarungan—Figaro dan Xunyu. Namun pelindung itu bahkan lebih kuat dari pelindung yang mengelilingi seluruh arena, dan ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat menghancurkannya, mereka juga mulai menatap ke arah siaran yang sedang berlangsung.

Pria ini berjalan melewati mereka dan berdiri tepat di depan pelindung panggung pertarungan.

Tiba-tiba, ada sesuatu yang menyerangnya.

Itu adalah seekor slime biru—sisa dari Oxygen Slime yang telah Franklin lepaskan ke dalam arena. Meskipun sebagian besar dari mereka telah dihancurkan oleh para Master yang ada disini, ada satu yang berhasil bertahan karena bersembunyi dibalik reruntuhan.

Karena dia tidak bergantung pada penglihatan untuk mendeteksi area sekelilingnya, Oxygen Slime itu adalah satu-satunya makhluk di sana yang menyadari pria itu. Dan, karena kebetulan pria itu berada tepat di sampingnya, slime itu langsung menyerang sesaat setelah keluar dari balik reruntuhan.

Pada saat slime itu mendekat ke arahnya, pria itu mengubah slime itu menjadi debu hanya dengan sebuah pukulan ringan menggunakan punggung telapak tangannya.

Slime abadi yang sangat beracun dan sangat dingin itu dihancurkan hanya dengan sebuah pukulan.

“Eh?”

“Hah? Sejak kapan…?”

Suara pertarungan—jika kau dapat menyebutnya pertarungan—yang disebabkan oleh penghancuran slime itu membuat para Master yang ada di sekitar pelindung menyadari keberadaan pria itu. Namun, tepat setelah mereka melakukannya, pria itu kembali mengayunkan tinjunya dan—sama seperti slime tadi—menghancurkan pelindung itu dengan sekali pukul.

Dengan hancurnya pelindung itu, dua orang Superior yang ada di atas panggung pertarungan akhirnya terbebas.

Saat hancurnya pelindung itu membuat semua orang yang ada di arena menjadi panik, pria itu berbicara kepada salah seorang Superior: Over Gladiator, Figaro.

“Aku serahkan tempat ini kepadamu. Jika sesuatu yang ada di bawah atau dua penonton itu terlihat ingin melakukan sesuatu, kau hentikan mereka, ok?”

Setelah mengatakan hal itu, pria itu mulai berjalan menuju pintu keluar.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Pria itu sekilas menatap ke arah siaran dan—masih sambil membelakangi Figaro—dia menjawab.

“Aku akan mengikat kemungkinan yang dia genggam.”

Insert1

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. ilo says:

    kyaaa..kuma nii-san gak pake bajuuu nyaaw

    Like

  2. alone698 says:

    woh, si “king of destructiom” telah keluar alias shu…cuma tebakan tetapi jalurnya pas, hehe.

    Like

  3. Shuukuma says:

    … Sang ov and cooler pun keluar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s