Infinite Dendrogram Volume 5 Chapter 1

Volume 5
Chapter 1 – Rencana C

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Duel city Gideon

Gideon dipenuhi teriakan sukacita—sorakan atas kemenangan Ray dan Royal Guard.

Dengan kalahnya RSK, remot yang mengendalikan alat-alat pelepas monster juga telah dihancurkan. Bahkan setelah batas waktu nya terlewati, tidak ada tanda-tanda monster sedang dilepaskan di Gideon. Oleh karenanya, warga kota dipenuhi dengan kegembiraan dan pujian kepada sang pemenang.

Disisi lain, para pengkhianat yang bekerja untuk Franklin, antara sedang marah karena kegagalan itu atau mengejek Franklin atas kekalahannya.

Meskipun tanggapannya kebanyakan terbagi menjadi dua hal itu, masih terdapat beberapa pengecualian. Salah satunya adalah Hugo. Karena merupakan salah satu bawahan Franklin, dia menyadari rencana Franklin dan mengetahui apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya. Pandangan itu juga berlaku pada beberapa petarung veteran atau orang yang mengamati situasi saat ini.

Mereka tau bahwa ini masih belum berakhir.

***

Jeand Grassland

Menggunakan kamuflase optikal untuk menyembunyikan dirinya, Franklin mengamati apa yang terjadi di Jeand Grassland.

“Yah… bangsat. Beneran,” gumamnya sambil melihat ke bawah ke tempat dimana RSK telah menghilang. Nadanya mengandung kemarahan, kekesalan, dan penghinaan terhadap diri sendiri yang coba dia tekan.

Malam ini, dia memulai rencana yang dia susun sebagai anggota dari faksi perdana menteri Kekaisaran. Meski di saat bersamaan, dia telah menantang Ray Starling dalam sebuah pertarungan balas dendam.

Franklin membenci kekalahan melebihi orang lain, dan dia tidak akan pernah tenang sampai dia bisa membuat orang yang mengalahkannya merasakan kekalahan yang lebih besar. Itulah caranya menghancurkan semangat Master yang telah membunuhnya, dan itulah yang dia rencanakan kepada Ray karena telah menggagalkan rencananya dan mengalahkannya secara tidak langsung.

Dia berniat untuk membuat monster buatannya mengalahkan newbie ini dan membuatnya menyadari ketidakberdayaannya saat seluruh monster mengamuk di Gideon. Namun, hasil sesungguhnya dari pertarungan balas dendam itu sama sekali tidak seperti itu.

RSK, monster kelas Pure-Dragon senilai 100,000,000 lir yang dia desain khusus untuk membunuh Ray Starling, telah berubah menjadi partikel cahaya.

Franklin telah kalah lagi darinya.

Itu adalah hasil yang tak terduga, tapi seharusnya dia bisa memprediksinya jika dia mempertimbangkan beberapa faktor.

Franklin mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menang melawan Ray Starling dengan handicap yang dia atur untuk dirinya sendiri. Hanya itulah yang dipikirkan Franklin sambil menatap tempat dimana RSK menghilang.

Meskipun dia menggagalkan rencanaku dan mengalahkanku, dia masih seorang newbie, pikirnya kemarin. Bertarung sekuat tenaga melawannya akan tampak tak dewasa. Belum lagi itu hanya akan buang-buang sumber daya. Lalu ada juga fakta bahwa dia telah menolong salah satu bawahanku, jadi… Baiklah, aku akan menanganinya dengan satu monster kelas Pure-Dragon.

Franklin perlahan menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. “Aku benar-benar bodoh karena telah berpikir demikian kemarin,” dia mengatakan itu dengan nada yang penuh dengan amarah dan penghinaan diri sendiri. Dia menyesal karena telah mengatur sebuah handicap, dan mencoba memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan, tapi pada akhirnya, dia yakin bahwa hasilnya akan sama saja tidak peduli apapun yang dia lakukan. Itu karena lawannya adalah Ray Starling.

Dia adalah orang yang mengalahkan seekor Demi-Dragon Worm—setara dengan high-rank job—saat masih berada pada level 0.

Lalu, beberapa hari kemudian, dia telah menghadapi dan mengalahkan UBM bernama “Great Miasmic Demon, Gardranda.”

Di hari selanjutnya, dia mengalahkan pemimpin dari Gouz-Maise Gang yang terkenal jahat dan menaklukkan UBM yang terlahir dari dendam milik kelompok itu: Revenant Ox-Horse, Gouz-Maise.

Dan baru saja, dia meraih kemenangan melawan musuh alami-nya, RSK.

Newbie yang telah menciptakan banyak keajaiban, dan Franklin punya firasat bahwa dia dapat melakukannya lagi. Ingatan dari firasat itu bercampur dengan kenyataan kekalahannya membuat pikirannya menjadi kacau.

Aku tidak mau kalah sekalipun, tapi sekarang aku sudah kalah dua kali. Ini bahkan terjadi setelah aku mempersiapkan penanggulangannya. Aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak akan mengizinkan hal ini.

Perlahan-lahan, pikiran verbal-nya berubah menjadi emosi. Kurangnya kata untuk mengungkapkan hal itu membuat kepalanya kewalahan sebelum mengumpulkan dan membentuk sebuah kalimat.

“Aku akan habis-habisan…. dan membunuhnya.

Saat itu, Franklin, Superior dari Kekaisaran Dryfe, mencapai sebuah kesimpulan tertentu. Musuh terbesarnya bukanlah King of Beast dari faksi kaisar, Hell General dari faksi Jenderal Militer, setiap Superior dari kerajaan maupun kesembilan Superior dari kebanggaan Caldina, Sefirot.

Itu adalah dirinya.

Newbie yang bernama Ray Starling ini adalah musuh terkecil, namun terbesar milik Franklin. Oleh karenanya, dia memutuskan untuk mengalahkannya menggunakan segala yang dia miliki.

Lain kali, aku akan menghancurkannya menjadi debu menggunakan monster anti-superior-ku: Mechanic God Dylan, pikirnya dengan marah.

Namun itu adalah sesuatu yang harus dia lakukan di lain waktu. MGD masih belum selesai, dan Franklin memiliki prioritas lain. Pertarungan balas dendamnya terhadap Ray adalah hal yang benar-benar pribadi. Dia masih memiliki peran yang harus dipenuhi sebagai Superior yang didukung oleh perdana menteri.

Dengan pikiran seperti itu, dia mendapatkan kembali ketenangannya dan langsung bertindak, dimulai dengan…

***

Ray telah berhasil mengalahkan RSK secara tipis dan mengumumkan kemenangannya kepada penduduk Gideon.

Setelah itu, dia mencapai batasnya, pingsan dan jatuh terlentang.

“Ray!” Nemesis meneriakkan namanya saat dia kembali ke bentuk manusianya dan memapah tubuhnya. Liliana, Sir Lindos, dan beberapa Paladin lain dari Royal Guard berkumpul di sekitar Ray.

“Ray, apa kau baik-baik saja?! Force Heal!” teriak Liliana saat dia merapalkan sebuah sihir penyembuhan.

“Mereka yang masih memiliki sisa MP, sembuhkan dia dan para ksatria yang terluka secara bergantian!” Sir Lindos memberikan perintah. “Franklin sedang bersembunyi saat ini, jadi sisanya, cari dia, dan Yang Mulia Elizabeth! Jangan biarkan pria itu lolos!”

“Dimengerti!” para ksatria menjawab secara bersamaan sebelum mulai berpencar.

Beberapa dari mereka tinggal bersama Ray. Salah satunya adalah Liliana, yang menyembuhkannya dengan ekspresi sedih di wajahnya.

“Kita dapat memulihkan HP-nya, tapi…” katanya sambil melihat ke arah tangan kiri Ray. Tangan itu menerima debuff Burn yang sangat parah sampai-sampai debuff itu meningkat menjadi Charred. Bahkan sihir penyembuhan tingkat tinggi akan kesulitan untuk menyembuhkan luka parah berbasis debuff seperti itu. Menyebabkan musuh alami dari semua Paladin telah membuatnya membayar dengan harga mahal.

Untungnya, Ray adalah seorang Master dan oleh karenanya bisa kembali pulih sepenuhnya hanya dengan cara mendapatkan death penalty dan login kembali setelah batas waktunya telah selesai. Namun, Apakah dia mau melakukan tindakan itu atau tidak adalah hal yang benar-benar berbeda.

“Untuk saat ini, cukup selamatkan saja nyawanya, tolong,” kata Nemesis. “Ray masih belum mau mundur sekarang.”

“Aku paham,” jawab Liliana saat dia dan para ksatria lainnya menyembuhkan Ray.

Sesaat kemudian, suara tepuk tangan mencapai telinga mereka. Karena terkejut, mereka melihat ke arah sumber suara itu dan menemukan sebuah hologram sedang di proyeksikan ke langit.

Meskipun mereka tidak menyadarinya, hologram itu menampilkan hal yang sama persis dengan yang diproyeksikan di seluruh kota. Saat ini itu menunjukkan Franklin, yang tersenyum sangat lebar sampai-sampai tak terlihat alami.

“Apakah kalian melihatnya, wahai para penonton?” tanyanya. “Monster yang kubuat telah dihancurkan. Betapa sedihnya. Sungguh menyedihkan. Meski begitu, aku percaya bahwa para Paladin yang melakukannya layak mendapatkan tepuk tangan. Jadi ini dia, plokplokplokplok.”

Meskipun dia bertepuk tangan sama seperti yang dia katakan, tidak ada satupun orang yang mengikutinya. Faktanya, para penonton yang sedang bersorak beberapa saat yang lalu langsung terdiam setelah melihatnya.

“Jadi ya,” lanjutnya. “Selamat. 251 detik telah berlalu sejak batas waktu dimulai dan uh, dapat dipastikan kalau remot-nya telah dihancurkan. Bagaimanapun, para monster sepertinya tidak dilepaskan.”

Franklin meletakkan tangannya di dahinya dan menggelengkan kepalanya dengan sikap kecewa. Lalu dia merogoh sakunya dengan ekspresi kosong…

“Ah, tapi aku masih punya remot cadangan!”

Dia mengeluarkan sebuah remot, sama seperti yang telah ditelan oleh RSK.

“Dasar bajingan!” teriak Nemesis, kemarahan di nada suaranya tampak sangat jelas.

“Hahahahahah! Orang-orang di layar kaca menunjukkan ekspresi, ‘Lalu apa gunanya pertarungan tadi?’ Kurasa penonton lain juga merasakan hal yang sama.” Mengabaikan perkataan Nemesis, Franklin terus berbicara dengan nada sombong. “Pertarungan tadi hanyalah sebuah acara sampingan—sebuah pertarungan balas dendam. Ayolah. Barang bisa hancur, kau tau? Membuat cadangan adalah hal yang wajib dilakukan, bukan?”

Seringai kembali terbentuk di wajahnya.

“Ngomong-ngomong, yang satu ini bekerja tanpa timer, jadi… Aku akan langsung menekannya. Bipbipbipbip.” Dengan itu, dia dengan acuh mengaktifkan perangkat, dan melepaskan 500 monster ke Gideon.

“Franklin!” Nemesis meraung dengan marah, tapi sekali lagi, Franklin mengabaikannya.

“Hahahahahah! Kalian adalah acara sampingan yang luar biasa. Tentu saja, aku tidak begitu menyukai hasilnya, tapi melihat keadaan kalian sekarang sudah membuatku cukup puas. Jika saja Ray tidak pingsan. Aku sangat ingin melihat reaksinya.” Franklin tertawa mengejek.

Liliana melotot ke arahnya, mengatakan kepada para bawahannya untuk melanjutkan penyembuhan Ray, dan berdiri.

“Baiklah, halo, paduka nona wakil komandan,” kata Franklin dengan riang. “Kau akan membantu para penduduk? Atau kau berencana mengalahkanku? Kau pikir kau bisa melakukannya saat kau penuh luka seperti itu? Itu adalah tekad yang menakjubkan… Pokoknya, aku tidak mau melakukannya. Call—DGP, KOS.” Franklin mengangkat Jewel yang ada di tangan kanannya dan memanggil dua ekor monster, yang keduanya muncul tepat di samping Nemesis.

Salah satu dari mereka adalah Dino-Earth Giga Phalanx: seekor dinosaurus mirip pachycephalosaurus yang mengeluarkan aura berwarna merah.

Yang satunya adalah King-Size Oxygen Slime: seekor Slime biru sama seperti yang dilepaskan di arena, hanya beberapa kali lebih besar.

“Me-Mereka…” Gumam Nemesis saat firasatnya memberitahu sesuatu kepadanya. Kedua monster yang ada di hadapannya jauh lebih kuat dari RSK, makhluk yang susah payah mereka kalahkan. Bahkan, mereka terlihat lebih mengancam dari pada Gouz-Maise, musuh mereka kemarin.

“Apa? Menurutmu aneh?” tanya Franklin. “Aku memiliki Superior Job Giga Professor, dan aku adalah pemilik dari sebuah Superior Embryo. Kau tidak percaya kalau aku hanya memiliki RSK atau itu adalah monster terkuatku, kan? Faktanya, diantara ciptaan spesialku, dia merupakan salah satu yang terlemah. Sementara dia setara dengan kelas Pure-Dragon, dua monster ini setara dengan para Master yang memiliki Superior Job petarung dan UBM kelas Legendary.”

Nemesis dan para Royal Guard kehabisan kata-kata. Franklin kembali berbicara.

“Tentu kalian mengetahuinya, kan? Satu-satunya alasanku menggunakan RSK adalah karena Ray telah mampu membunuh seekor Demi-Dragon Worm, dan naik satu langkah dalam hal kelas sepertinya adalah hal yang masuk akal untuk dilakukan. Aku menghabiskan cukup banyak uang untuk memastikan semuanya berjalan baik dan berniat untuk benar-benar menghancurkan semangatnya. Tapi hasilnya… yah, aku kalah lagi.” Dia menghembuskan nafas panjang saat senyumnya memudar. “Ray menang dua kali dariku dari dua kali pertarungan. Aku bersumpah akan membalasnya atas penghinaan ini.”

Nemesis tetap diam. Dia menyadari bahwa, dengan RSK, Franklin pada dasarnya hanya bermain-main. Meskipun semua orang yakin bahwa dia terlihat kekanak-kanakan karena mempermainkan seorang newbie, dia masih memberikan sedikit perhatian. Namun, sekarang karena dia sudah kalah dua kali, Franklin tidak lagi memiliki pemikiran seperti itu.

Superior—salah satu dari beberapa player terkuat—sekarang telah melihat Ray sebagai seorang musuh.

“Tapi, aku tidak berniat menggagalkan rencana malam ini,” kata Franklin. “Pokoknya, mari kita lihat bagaimana kabar dari kota Gideon. Monster-monster yang dilepaskan di sana memang lebih lemah dari dua monster ini, tapi aku juga memasukkan beberapa monster yang merepotkan dan… Hm…?”

Setelah melihat ke arah kota, Franklin memiringkan kepalanya dengan sikap kebingungan.

Nemesis bisa memahami apa yang membuatnya begitu kebingungan.

Gideon terlalu sunyi.

Bagi sebuah kota yang diserang oleh 500 monster, kota itu terlalu sunyi.

Dengan memusatkan pendengarannya, mereka bisa mendengar beberapa suara pertarungan, tapi anehnya suara itu hanya terdengar sesekali.

“… Apakah yang tadi hanya melepaskan sebagian dari mereka?” Franklin kembali menekan tombol pada remotnya, tapi Gideon masih tetap sama. “Remot ini berfungsi dengan baik. Yang berarti masalahnya ada di sebelah s…”

Tiba-tiba, dia mengingat sesuatu.

Malam ini, dia bertemu dengan seseorang tertentu yang dapat dengan mudah menangani banyaknya perangkat yang tersembunyi di kota. Dia adalah orang yang terselimuti kabut hitam yang membuatnya sulit untuk mengetahui apakah dia pria atau wanita.

Nama orang itu adalah…

***

Di sebuah tempat tertentu di duel city

“Oh, syukurlah aku berhasil,” seseorang tertentu bergumam sambil melihat proyeksi di langit.

Namanya adalah Marie Adler. Dia duduk di sudut gang untuk memulihkan nafasnya.

Tepat di sampingnya, terdapat sebuah tas yang berisi perangkat-perangkat dengan Jewel tertanam di dalamnya.

Setiap dan masing-masing dari perangkat itu telah rusak.

Mereka adalah perangkat pelepas monster yang telah Franklin letakkan di seluruh kota.

Setelah bertarung melawan King of Orchestra, Veldorbell, Marie telah berlarian ke seluruh kota untuk mengumpulkan mereka. Menjadi inti dari rencana Franklin, perangkat-perangkat ini harus disembunyikan sampai saatnya tiba. Karena itu, selain memiliki fungsi pelepasan monster jarak jauh, mereka juga dilengkapi dengan kemampuan Conceal tingkat tinggi. Itulah alasan kenapa mereka bisa tetap ada di kota selama beberapa hari tanpa ada seorangpun yang menyadarinya. Namun…

“Sayang baginya, aku kebetulan ahli dalam menemukan sesuatu karena aku ahli bersembunyi,” kata Marie.

Menjadi Death Shadow—sebuah Superior Job dari onmitsu grouping—Marie ahli dalam hal bersembunyi. Dia tidak hanya ahli dalam menyembunyikan dirinya sendiri, tetapi juga menemukan sesuatu yang disembunyikan.

Skill Conceal Perception milik Marie sudah berada di level max. Itulah yang membuatnya bisa menyadari skill Conceal milik Night Lounge, monster yang Franklin gunakan untuk melarikan diri.

Namun, selama mencari monster itu, Marie menyadari ada banyak perangkat pelepas monster yang disembunyikan di seluruh kota. Oleh karenanya, setelah pertarungannya, dia memutuskan untuk mengumpulkan dan menghancurkan sebanyak mungkin perangkat-perangkat itu.

Pada akhirnya, dia telah menangani 403 perangkat—lebih dari 80% totalnya.

Mengingat sudah ada beberapa perangkat yang telah aktif sebelumnya, sulit untuk dibayangkan kalau masih ada banyak perangkat yang tersisa.

Hasil itu tentu saja bukan hanya berkat dirinya. Pertarungan para Paladin melawan RSK telah memberinya waktu untuk meminimalisir ancaman yang ada,

Ini juga menjadi tanda berbaliknya situasi yang ada: para high-rank Master atau di atasnya sekarang bisa meninggalkan arena pusat. Satu-satunya hal yang menahan mereka adalah potensi pelepasan monster saat mereka menyerang barrier. Dengan hilangnya hal itu, sekarang mereka bebas untuk menghancurkannya dan membuat perhitungan terhadap Franklin.

Rencananya sudah benar-benar runtuh.

***

Namun, beberapa veteran sangat menyadari bisa jadi se-abnormal apa para Superior itu.

Mereka mengetahui betapa ulet dan telitinya Franklin itu.

Oleh karenanya, mereka sangat yakin akan satu hal:

Ini masih belum berakhir.

***

Duel city Gideon, tak jauh dari gerbang barat

“… Oh, jadi itulah yang terjadi di sini. Hahah. Sekarang ini tak lucu lagi. Kalian terus menghancurkan rencanaku. Sungguh… mengecilkan hati.”

Saat dia mendengar Franklin, Hugo menjadi sedih karena menyadari bahwa rencana mereka sudah gagal.

“… Jadi sudah berakhir,” gumamnya kepada dirinya sendiri.

Hugo saat ini sedang duduk di tanah, dan hampir tidak bisa bergerak. Rook dan yang lain telah mengikatnya saat dia terkena debuff Charm. Debuff itu telah membatalkan penyatuan Cyco dengan Magingear mereka, dan sekarang dia sedang ada di samping Hugo, terkena debuff Charm dan tidak dapat melakukan apapun. Selama dia berada dalam keadaan seperti itu, Hugo tak punya harapan untuk melarikan diri.

Mengalihkan pandangannya dari siaran, dia mengamati situasi di sekelilingnya.

Dia tidak lagi berada di arena tepat di depan gerbang.

Rook dan ketiga gadis yang bersamanya telah pindah ke tempat dimana mereka bisa melihat siaran Franklin, dan mereka juga membawa Hugo. Karena keputusan Rook, Hugo masih belum mendapatkan death penalty saat ini.

“Ray mengalahkan monster itu,” kata Rook. “Perangkat-perangkatnya, juga, sudah ditangani oleh… seseorang.”

Meskipun dia tidak mengatakannya, Rook sangat yakin bahwa pelakunya adalah Marie. Hugo, di sisi lain, benar-benar tidak menyadari keberadaannya, jadi apa yang dia pahami dari situasi ini adalah kenyataan bahwa rencana mereka telah gagal.

“Sepertinya begitu,” kata Hugo. “Heh, Rencana A dan B sama-sama gagal… rencana itu sama saja sudah berakhir.”

Kurasa ini berarti sebuah peperangan habis-habisan antara kerajaan dan kekaisaran, pikirnya dengan sedih.

“Jadi aku gagal mencegah malapetaka itu dan pada akhirnya hanya mendukung tragedi ini,” gumamnya mengejek diri sendiri. “Jika aku tau semuanya akan berakhir seperti ini, aku akan membuat ‘dirinya’ memikirkan ulang hal ini, dan… Apa?”

Hugo menyadari bahwa Rook sedang melihat antara dirinya dan proyeksi Franklin dengan ekspresi bingung di wajahnya.

“Kau baru saja menyebutkan ‘Rencana A dan B,’” kata Rook. “Bisakah aku mendengarkan rinciannya? Mereka sudah gagal, kan?”

“… Baiklah.” Setelah ragu sesaat, Hugo memulai penjelasannya, yang terdengar mirip seperti pengakuan seorang pendosa. “Untuk Rencana A, kami menyegel para Master yang datang untuk melihat Clash of the Superior di arena pusat dan menculik tuan putri. Lalu kami mengancam akan melepaskan monster untuk memaksa para Master itu tetap diam di sana. Para Master berlevel rendah yang dapat meninggalkan barrier dan mereka yang sejak awal tidak ada di dalam sana akan ditangani oleh para player killer, yaitu aku dan Veldorbell… dia adalah seorang master yang memiliki Superior Job di klan kami. Ketua kami lalu bertujuan untuk melarikan diri dari Gideon sambil membawa tuan putri, yang akan membuat para tian kerajaan kehilangan kepercayaan kepada para Master kerajaan. Dan bisa dibilang itulah keseluruhan rencananya.”

“… Tidak benar-benar teliti, jika kau bertanya kepadaku,” kata Rook.

“Memang.”

“Bagian tentang menahan para Master dengan membuatnya sehingga pemberian damage ke barrier akan melepaskan para monster adalah sebuah kecacatan besar. Bagaimanapun, seperti yang kami buktikan, para Master level rendah bisa melewatinya dengan bebas.”

“Itu adalah bagian dari rencana,” kata Hugo. “Sepertinya, kami perlu bertarung melawan Master kerajaan dan mengalahkan mereka dalam pertempuran satu sisi. Para Master level rendah adalah yang paling cocok untuk tujuan itu.”

Semuanya tidak akan cukup untuk berakhir hanya dengan para Master yang tersegel dan tidak dapat melakukan apapun. Untuk menghancurkan semangat kerajaan, pasukan kekaisaran perlu meraih kemenangan mutlak terhadap para Master kerajaan. Oleh karenanya, akan lebih optimal jika musuh kekaisaran menjadi selemah mungkin, dan batasan pada barrier itu sempurna untuk hal ini. Namun, pada akhirnya Rencana A benar-benar gagal karena anomali seperti Ray dan Rook.

“Cara kalian menangani para Master yang tidak berada di dalam barrier juga sangat ceroboh,” kata Rook. “Rencana itu akan benar-benar gagal jika seorang Superior yang tidak tertarik dengan pertandingan itu berkeliaran di kota, kan?”

“Ya, ada juga kemungkinan itu,” jawab Hugo. “Tapi seperti yang kau sadari, hal itu tidak benar-benar terjadi. Belum lagi kami memiliki Cyco—musuh alami dari banyak Master di sini—dan King of Orchestra, Veldorbell.”

Franklin telah menunjukkan banyak kelicikan dengan menempatkan Veldorbell di Gideon beberapa hari sebelum rencana dimulai. Dia memintanya bertindak tidak lain hanya sebagai Master yang melakukan pertunjukkan jalanan di alun-alun pusat, dan tak lama kemudian, sebagian besar orang di kota ini sudah menjadi terbiasa dengan dirinya dan band-nya. Bahkan fakta bahwa Embryo Legion nya selalu dikeluarkan selama waktu itu juga telah diperhitungkan.

Saat rencana dimulai malam ini, banyak Master kerajaan yang tidak menganggapnya sebagai musuh, memberikan kesempatan sempurna baginya untuk melakukan serangan kejutan.

Meskipun stats-nya jauh lebih rendah dari pada job-job petarung, bonus dari skill Superior Job-nya benar-benar meningkatkan kekuatan milik Bremen-nya. Dan karena mereka semua bergerak dengan kecepatan suara, hanya Superior Job berfokus AGI yang memiliki harapan untuk menghindari mereka.

Para Master yang dia kalahkan jauh lebih banyak dari pada yang telah Hugo bekukan, dan sebagian besar dari mereka telah diubah menjadi debu sebelum memiliki kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi kepada mereka.

Jika Superior Killer bukanlah Superior Job berfokus AGI yang memiliki skill Danger Perception, ada kemungkinan besar bahwa dia akan mati pada serangan pertama Veldorbell.

“Jadi,” kata Rook. “Aku berasumsi bahwa Rencana B disimpan jika saja Master yang ada di dalam barrier kehabisan kesabaran dan menghancurkan barrier itu, atau jika seseorang berhasil melewati rintangan yang ada dan mengejar Franklin—seperti yang terjadi saat ini.”

“Ya.” Angguk Hugo. “Rencana B pada dasarnya adalah pelepasan semua monster tanpa memperdulikan batas waktu yang ada. Kekacauan yang disebabkan para monster itu akan memberikan kesempatan bagi ketua kami untuk melarikan diri dengan tuan putri. Ini jugalah yang akan terjadi jika ‘dia’ lengah dan mendapatkan death penalty.”

Pernyataan Franklin bahwa semua ini akan berakhir jika dia mati tak lain hanya sebuah kebohongan. Itu sebenarnya akan menjadi pemicu untuk melepaskan para monster, yang merupakan bukti dari sifat teliti dan merepotkannya.

“Terlepas dari apa yang terjadi…” Kata Hugo sebelum menghentikan perkataanya. Dia tidak bisa menguatkan dirinya untuk menambahkan “… ketua tidak memiliki skenario dimana dia tidak melepaskan para monster.”

Namun, Rook pada dasarnya mampu membaca pikiran, jadi dia dapat menebak perkataan Hugo bahkan jika dia tetap diam.

“Jika dia ingin menghancurkan semangat negara ini, dia bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih efektif dari pada hanya menculik tuan putri,” komentar Rook.

“Kau mungkin benar,” kata Hugo. “Namun, ‘dia’ berjanji kepadaku bahwa dia mendesain para monster itu untuk hanya menyerang para Master. Dia juga ingin membatasi jumlah korban dari para tian.”

“… Oh, aku memahaminya,” Rook menanggapinya dengan desahan singkat.

“Apa maksudmu?” Tanya Hugo, benar-benar kebingungan.

“Aku telah bertanya-tanya tentang hal ini, tapi perkataanmu ‘dia ingin membatasi korban dari para tian’ membuat semuanya menjadi jelas.”

“Apanya yang jelas?” Hugo tidak bisa memahami apa yang membuat Rook bertanya-tanya dan jawaban seperti apa yang dia temukan.

Faktanya, Hugo sebenarnya adalah satu-satunya yang tidak dapat memahami hal ini. Pada dasarnya…

“Sekarang aku tau kenapa kau begitu buta pada hal yang berhubungan dengan Franklin. Kau sebenarnya percaya bahwa dia tidak pernah membantai para tian, bukan?”

… itu adalah pertanyaan terkait pandangan Hugo.

“Kau… k-kau pikir aku buta?” tanya Hugo.

“Ya,” jawab Rook. “Kau mungkin tidak merasa demikian, tapi di mataku, pria itu adalah orang yang dapat dengan mudah memulai pembantaian.”

“Dia tidak akan pernah melakukannya. Dia sama sepertiku! Dia juga memahami kalau para tian bukan hanya sekedar NPC, tetapi keberadaan yang mendekati makhluk hidup… tidak, makhluk hidup sungguhan! Dia tidak akan pernah melakukan sesuatu sekejam itu!”

“Jadi, memangnya kenapa jika dia memang memahami hal itu? Apakah itu menghalanginya untuk memulai pembantaian?” tanya Rook.

Diberitahu bahwa Franklin adalah tipe orang yang dapat melakukan hal sejahat itu bukanlah sesuatu yang dapat Hugo terima. “Dia tidak akan pernah melakukan itu! Aku… Aku sudah lama mengenalnya! Jangan bertindak seolah-olah kau lebih memahaminya dari pada aku!”

Amarahnya tampak jelas, Hugo berteriak kepada Rook, yang menanggapinya dengan tatapan dingin dan perkataannya sendiri.

“Itu benar. Aku hanya mengetahui Franklin melalui informasi dari mulut ke mulut dan insiden ini. Aku bahkan tidak pernah berbicara langsung dengannya. Meski begitu, aku bisa menjamin bahwa dugaanku benar.”

“Kenapa?!”

“Itu karena aku tidak mengenalnya. Hanya dengan menghubungkan apa yang dia lakukan sejauh ini, cukup mudah untuk ditebak bahwa dia telah mempersiapkan sesuatu yang bahkan jauh lebih jahat. Siapapun akan berpikiran seperti itu. Kau mungkin adalah satu-satunya pengecualian.”

“Gh…!” Hugo tersentak dalam menanggapi hal itu.

Kesimpulan Rook berdasarkan tak lain hanya pada kenyataan.

Franklin telah berpartisipasi dalam perang. Dia telah membunuh banyak prajurit dengan cara menjadikan mereka sebagai makanan monster-monster-nya, dan bahkan telah membunuh raja negara ini dengan cara itu. Dan malam ini, dia telah menculik tuan putri dan mencoba untuk menghancurkan kota dengan tujuan membuat Master kerajaan terlihat buruk. Sudah wajar jika seseorang berpikir bahwa seseorang seperti itu akan melakukan sesuatu yang bahkan lebih kejam, dan hanya Hugo yang tidak berpikiran demikian.

“Kau bilang kau sudah ‘lama mengenalnya,’ huh?” lanjut Rook. “Aku yakin akan hal itu. Kau mengamatinya melalui sebuah penyaring, mirip seperti ibu dari seorang penjahat. ‘Anakku tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti itu,’ dan sejenisnya.”

“Gh…!” Jika dia tidak terikat, Hugo kemungkinan besar sudah mencoba memukul Rook. Namun, tidak dapat melakukan hal itu, dia hanya terus duduk saat Rook menatapnya dengan mata terdingin.

Itu adalah komentar yang paling wajar. Bagaimanapun, bocah yang dikenal sebagai Rook umumnya sangat sopan dan dapat akrab dengan hampir semua orang. Namun, tetap ada fakta bahwa menyaksikan Hugo memenuhi dirinya dengan keinginan kuat untuk memastikan Hugo tidak terus jadi seperti ini, jadi dia mengatakan kesalahannya dengan cara yang sangat kasar.

“Kau tau, karena kau begitu mempercayai Franklin… izinkan aku memberimu sebuah prediksi sederhana,” kata Rook.

“Prediksi?”

“Franklin hendak mengatakan sesuatu yang keji,” kata Rook dengan percaya diri saat dia melihat ke arah siaran.

Sesaat kemudian, Franklin—yang sepertinya sudah putus asa atas kegagalan Rencana B—tiba-tiba mengangkat kepalanya. Di wajahnya, terdapat sebuah senyum lebar.

“Hadeh, ini menjengkelkan. Aku tidak percaya Rencana A dan B sama-sama gagal…. Para otak otot menakutkan itu mungkin akan segera meninggalkan arena, jadi… kurasa aku harus memulai Rencana C.”

“… Huh?” Hugo menyuarakan kebingungannya. Hanya itulah yang dapat dia lakukan setelah mendengar perkataan Franklin.

Semua Master yang terlibat dalam rencana Franklin juga sama bingungnya dengan Hugo. Bagaimanapun, tidak ada satupun dari mereka yang diberitahu soal adanya “Rencana C.”

Satu-satunya yang mengetahui isi dari rencana itu adalah Franklin.

“Rencana C untuk ‘Crisis…’ Pemusnahan total Gideon oleh 56,826 monster.

Dan isinya, sama seperti yang diperkirakan Rook, benar-benar keji.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

7 Comments Add yours

  1. ilo says:

    jumlah musuh bener2 pas untuk kumaaaaa niii-san nyaaw

    Like

  2. alone698 says:

    haha makan tuh hugo si naif

    Like

  3. Seika Ushizu says:

    pfft 56rb bener2 pembataian dan penghancuran tuh.. dan juga nih anak detektif dan pencuri emg beda nama Holmes nya bener2 dah :’v

    makasih updatenya dan semangat buat update dan TL kedepannya ya Bang Zen 🙂

    Like

  4. SA IDUN says:

    tanks min… btw di tunggu lanjutannya..

    Like

  5. zozoz says:

    semakin seru

    Like

  6. soraneko07 says:

    makasih min, ga sabar nunggu aksi Kuma nii-san 😀

    Like

  7. Renaldy kristian says:

    Gantung :’v
    But nice makasih dah update min ^°^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s