Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 7 A

Volume 4
Chapter 7 – Tangan Kanan sang Pemenang (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

???

Ksatria Kerajaan Altar, Royal Guard.

Itu adalah nama pasukan yang paling dekat dengan keluarga kerajaan—ksatria yang melayani dan melindungi mereka menggunakan nyawanya sendiri.

Syarat minimal untuk bisa bergabung dengan mereka adalah menjadi seorang Paladin, sebuah high-rank job dari knight grouping, sementara komandan mereka memiliki Superior Job yang bernama “Celestial Knight.” Hal itu sudah berlangsung sejak pasukan itu di bentuk.

Menjadi ksatria terkuat di generasinya, sang komandan telah diberikan kepercayaan untuk memegang salah satu harta nasional kerajaan, Prism Steed, dan dia menungganginya saat dia memimpin pasukan kerajaan ke medan perang.

Sebagai ksatria terkuat yang memimpin pasukan paling dihormati, Royal Guard Kerajaan Altar pernah menjadi simbol bagi negara mereka, yang sering disebut “negeri para ksatria.”

Sekali lagi, “pernah.”

Saat ini, Royal Guard secara umum ditujukan pada hal di masa lalu. Ksatria terkuat bangsa Altar telah dimusnahkan sekitar setengah tahun yang lalu, di waktu Dendro.

Selama kejadian yang disebut “Perang Ksatria-Robot Pertama,” salah satu bagian tertentu dari pasukan Kekaisaran Dryfe telah membunuh sekitar 60% dari anggota Royal Guard. Itu sendiri sudah buruk, tapi hal itu akan menjadi semakin buruk saat kau memperhitungkan fakta bahwa, pada dasarnya, hal itu hanya dilakukan oleh satu orang: Hell General, Logan Goddhart.

Dia adalah satu dari tiga—dua pada saat itu—Superior milik Dryfe.

Hell General adalah sebuah Superior Job yang menggabungkan kualitas pertarungan garis depan dengan kepemimpinan pasukan. Namun, ciri yang paling terkenal dari job itu adalah job itu berfokus pada pemanggilan iblis dengan bayaran pengorbanan.

“Di sini dan sekarang juga, aku mengorbankan banyak nyawa yang kumiliki sebagai bayarannya. Lepaskan penutup neraka dan berkumpullah, pasukanku,” lantunnya. “Call Devil Regiment.”

Selama perang, Hell General telah memanggil lebih dari tiga ribu iblis. Pasukan pemakan manusia itu tampak seperti makhluk yang rakus, dan mereka dengan mudah menangani ribuan pasukan kerajaan. Bahkan Royal Guard yang berisi para Paladin kehilangan lebih dari seribu anggota nya saat menghadang mereka.

Saat korban terus bertambah, komandan Royal Guard—Celestial Knight, Langley Grandria—berhasil menembus barisan iblis itu sendirian dan mencapai pemimpin dan sumber mereka, sang Hell General.

Benar, mungkin ada banyak orang yang berpendapat bahwa Langley tidak sendirian dalam serbuannya. Dia hanya satu-satunya yang bertahan hidup saat mencoba mendekati Logan.

Tidak satupun dari wakil komandan saat itu, maupun anggota Royal Guard lain yang telah mencapai level max, bisa bertahan dari pembantaian para iblis itu, yang kemudian membuat Celestial Knight harus menghadapi Hell General sendirian.

Pertarungan mereka dipenuhi dengan intensitas.

Celestial Knight dianggap sebagai salah satu tian petarung garis depan terkuat, dan dia membuktikan seberapa layaknya dia menerima gelar itu dengan bertarung secara seimbang melawan Hell General, seorang Master yang memiliki bonus dari Embryo-nya.

Para iblis yang berada di bawah perintah Logan telah mencoba menyerbunya, tapi bahkan mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi summoner-nya.

“Aku tidak akan membiarkanmu menodai tanah kerajaan dengan darah para rekan-rekanku lagi!” kata Langley. “Logan Goddhart, aku akan mengalahkanmu dan memusnahkan iblis-iblismu!”

“Gh! Bangsat…!”

Dalam pertarungan satu lawan satu, Celestial Knight berada di atas Hell General. Langley kelihatannya memiliki kesempatan untuk meraih kemenangan dan membuat pasukan iblis itu menghilang. Namun…

“Umm, halo halo? Paduka Jenderal? Kau baik-baik saja? King of Beast telah menangani Archsage kau tau? Tunggu, apa? Kau masih belum selesai? Apakah sebenarnya kau hendak kalah? Yah, bukannya itu hanya menyulitkan, paduka jenderal. (lol)”… sebuah suara provokasi yang terdengar di telinga Hell General telah mengubah situasi yang ada dengan mengacaukan pikirannya.

“JANGAN MENGEJEKKU, FRANKLIN!” Tiba-tiba, Hell General melepaskan salah satu equipment yang dia pakai. Itu adalah special reward yang dia dapat setelah mengalahkan UBM kelas Epic. “’Di sini dan sekarang juga, aku mempersembahkan harta unik ini! Sebagai ganti nilainya yang tak terhingga, berikan kekuatan sesaat kepadaku! Datanglah dari zaman kuno, Wahai iblis tak berhingga!’ Call Devil Zero Exceed!”

Dengan begitu, Hell General telah mengorbankan sebuah special reward untuk memanggil seekor iblis dengan kekuatan setara UBM kelas Mythical.

Tambahan makhluk seperti itu langsung mengubah alur pertarungan, membuatnya berakhir dengan kematian Celestial Knight. Ada juga kehancuran dari Prism Steed kesayangannya, harta karun nasional milik kerajaan. Sehingga negara itu telah kehilangan simbol manusia dan hartanya.

Mengikuti akhir itu, Giga Professor, Mr. Franklin, telah melakukan serangan akhir dan menggunakan monster modifikasinya untuk menyerang pasukan yang dipimpin oleh Raja Eldor Zeo Altar sendiri.

Pada akhirnya, sang raja dan seluruh bawahannya telah menjadi makanan bagi monster-monster milik Franklin.

Dengan demikian, Royal Guard telah kehilangan rekan dan pemimpin mereka pada Hell General, dan penguasa mereka pada Giga Professor.

Setelah perang ditunda, Royal Guard telah disusun ulang, memberikan putri pemimpin mereka sebelumnya dan yang terkuat kelima di pasukan mereka, Liliana Grandria, posisi wakil komandan. Dengan itu, dia telah naik ke puncak para Ksatria Royal Guard.

Dia dijadikan wakil komandan bukannya komandan karena dia adalah yang terkuat diantara para ksatria yang selamat, tetapi dia masih belum mewarisi gelar Celestial Knight. Setiap komandan dalam sejarah Royal Guard selalu memiliki Superior Job itu, jadi negara percaya bahwa seorang Paladin yang tidak mampu mendapatkan job Celestial Knight tidak layak mendapatkan posisi itu.

Meskipun Liliana tidak lemah, dia jelas tidak berada di level Superior Job. Jumlah level total dari para anggota Royal Guard juga jauh lebih rendah dari sebelumnya. Dan jumlah mereka yang bisa menggunakan skill ultimate job, Grand Cross, atau skill tersembunyi, Purifying Silverlight, bisa dihitung dengan jari. Oleh karenanya, posisi komandan dan takhta Celestial Knight masih tetap kosong sampai saat ini.

Kegagalan pasukan itu dalam melindungi tuan mereka telah merusak citra mereka di kerajaan. Banyak orang telah memandang rendah mereka, dan para ksatria yang bertahan hidup sendiri sudah sangat malu dengan aib mereka. Banyak yang telah berhenti menjadi ksatria, melarikan diri, atau pindah ke pasukan lain, dan semakin mengecilkan ukuran Royal Guard. Apa yang dulunya pernah menjadi pasukan elite beranggotakan lebih dari tiga ribu orang menjadi sebuah kelompok yang hanya beranggotakan lima puluh orang.

Tapi, mereka yang tersisa memiliki tekad yang kuat dan sebuah tujuan bersamanya.

Apakah itu adalah keinginan untuk balas dendam kepada Hell General dan Giga Professor? Apakah mereka ingin membalas kematian penguasa dan rekan-rekan mereka?

Salah.

Pikiran seperti itu memang ada, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang ada di hati terdalam mereka. Apa yang benar-benar mereka inginkan hanyalah “untuk melindungi.”

Mereka ingin berhasil dimana sebelumnya mereka telah gagal, untuk menjamin keselamatan tiga tuan putri yang ditinggalkan oleh penguasa mereka dan melindungi rakyat Kerajaan Altar.

Memikul banyak kesulitan, para anggota pasukan itu masih berusaha sebaik mungkin dalam peran mereka sebagai ksatria.

*

Dan dengan begitu, mereka berlari.

Mencapai dan menghancurkan batasan kekuatan mereka, pasukan itu berjuang melawan monster yang ada di hadapan mereka, RSK. Mereka memberikan segala yang mereka punya untuk mengalahkan lawan mereka dan menyelamatkan tuan putri mereka, dan usaha mereka membuat mereka bersinar seperti protagonis dari dongeng ksatria.

“Oh, mereka bersinar, ok,” kataku sambil menyeringai. “Seperti lilin di tengah angin.

Melihat sekeliling, Aku—Giga Professor, Mr. Franklin—melihat para anggota Royal Guard bergeletakan di atas tanah di bawah kami. Jumlah mereka telah berkurang dari jumlah awal mereka yang memang sudah sedikit, dan sisanya yang masih dapat bergerak sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka telah dikalahkan oleh RSK.

Dia adalah monster modifikasi buatan khusus, sebuah bola daging penuh retakan yang disangga oleh sepuluh tentakel. Makhluk itu didasarkan pada Evil Offspring dan Roper, dan memiliki potensi untuk diklasifikasikan sebagai yang terkuat dari mereka.

Selain tentakel, mereka tidak memiliki… hal menarik lainnya. Itu bukan berarti aku tidak bisa menambahkan hal lainnya, tapi mengingat target utamanya, melakukan hal itu akan jadi sia-sia.

Susunan skill dan otot biologisnya begitu rumit sampai-sampai dia tidak bisa dibuat hanya dengan menggunakan skill Monster Creation biasa. Aku hanya mampu melakukannya karena skill ultimate milik Superior Embryo-ku, “Playing God—Pandemonium.”

Meskipun buatan khusus dan sangat rumit, RSK adalah monster yang buru-buru kubuat dalam kurun waktu semalam. Aku tidak punya waktu untuk menguji apakah dia bisa hidup atau berfungsi dengan benar, jadi kehadiran Royal Guard disini adalah hal yang sangat menguntungkan. Banyaknya ksatria tak bernyawa yang tergeletak di sekelilingnya telah membuktikan bahwa RSK adalah sebuah kesuksesan.

“Semuanya tampak baik-baik saja,” kataku dengan puas. “Serangannya berada di sisi yang terlemah, tapi itu bisa diduga.”

Kurangnya damage yang monster itu miliki memberikan kemungkinan kalau anggota Royal Guard malang yang ada di sekitarnya hanya “sekarat,” bukannya “mati.”

Tentu saja, aku berniat untuk mengakhiri mereka, pikirku.

Satu-satunya yang masih bisa bergerak adalah Wakil Komandan Liliana dan Lin-apapunitu—peringkat ketiga di pasukan mereka.

“Sir Lindos! Mari kita serang bersamaan!” teriaknya.

“Baiklah!”

Memiliki semacam rencana, mereka berpencar dan memposisikan diri mereka di arah jam dua belas dan jam tiga di sekeliling RSK, jelas sedang mempersiapkan diri mereka untuk melakukan serangan terpusat dari kedua sisi itu.

“Grand Cross!” teriak mereka, menyebabkan pilar cahaya pencakar langit meledak dari bawah RSK.

Grand Cross adalah skill ultimate dari job Paladin. Skill itu menciptakan arus energi cahaya suci berbentuk salib yang membakar apapun yang mereka lewati, menjadikannya sebagai sebuah kemampuan yang tak bisa diremehkan. Dan kedua ksatria itu mengeluarkannya di saat bersamaan, membuat damage-nya menjadi dua kali lipat.

Tentu saja, itu adalah teknik yang kuat, dan jika kondisinya sesuai, serangan itu bahkan mungkin bisa mengalahkan Pure-Dragon dengan sekali serang. RSK itu sebenarnya berada di kelas Pure-Dragon jika dilihat dari stats-nya, jadi serangan itu bisa saja sangat berbahaya baginya.

“Sayangnya, itu salah,” kataku saat aku melihat ke arah RSK yang sama sekali tidak terluka oleh Grand Cross ganda itu.

Dia bahkan tidak terbakar sedikitpun. Serangan dahsyat itu hanya terasa seperti gigitan nyamuk, jika tidak lebih rendah.

Mungkin karena kesal, RSK itu menyerang balik kedua penyerangnya dengan cara mengayunkan tentakel nya atau membuka retakan yang ada di tubuhnya dan menembakkan proyektil cahaya darinya.

“Mustahil…! Bagaimana serangan itu sama sekali tidak melukainya?!” teriak Sir Lin-apapunitu.

“Sir Lindos, masih belum! Masih terlalu awal untuk menyerah!”

“Mh…! Baiklah!”

Dan dengan begitu, mereka berdua mulai menyerang RSK lagi.

Sepertinya mereka masih memiliki biat untuk berjuang, pikirku. Tidak tau kenapa. Lagipula, itu sia-sia.

Monster itu dilengkapi dengan Material Barrier pengurang damage fisik dan Holy Negation.

Selain kedua skill itu, dia juga memiliki Fire Negation, Poison Negation, Weakness Negation, dan Intoxication Negation, yang hanya merupakan tambahan dari “fitur utamanya”—fitur yang kupersiapkan khusus untuk orang itu.

“Kheheheheheh,” tawaku. “Ah, kuharap dia tidak terlalu lama.”

Aku tidak tau ataupun peduli apakah itu dikarenakan oleh tangan sang takdir yang langsung mengabulkan permintaanku, tapi RSK tiba-tiba tertelan oleh hembusan api yang sangat besar. Hembusan api itu tidak lain disebabkan oleh Purgatorial Flames—sebuah skill equipment dari Miasmaflame Bracer, Gardranda.

Tentu saja, Fire Negation milik RSK membuatnya sama sekali tidak terluka.

Tapi yang terpenting saat ini adalah penggunaan Purgatorial Flames itu sendiri, karena itu artinya dia akhirnya telah sampai.

“Dia di sini… dia di sini dia di sini DIA DISINI!” teriakku. Meskipun lebih lambat dari dugaanku, bintang dari pertunjukkan ini akhirnya telah sampai di panggung.

“Apakah kalian baik-baik saja?!” Ray Starling bertanya kepada dua ksatria itu, setelah bergabung di dalam pertarungan Royal Guard. Dengan Prism Steed miliknya, kemunculannya benar-benar mirip pangeran, membuat kedatangannya terlihat mirip dengan chapter lain di dalam dongeng ksatria.

Dan holy shit, itu sangat menghibur.

“Ray?! Kenapa kau ada di sini?” teriak Liliana.

Sungguh pertanyaan bodoh, pikirku. Melalui pengamatanku, aku menyadari kalau dia adalah seorang pria yang bertindak seperti pahlawan. Jika siapa saja yang ada di hadapannya sedang dalam kesusahan, dia akan langsung menolong mereka sambil mengabaikan semua batasan dan resiko yang ada.

“Aku bukanlah penggemar skenario penculikan seorang anak-anak. Itu akan meninggalkan rasa pahit dimulutku,” katanya, membuktikan pendapatku. Dia hanya tidak bisa membuat dirinya berhenti terlibat dalam event malam ini.

“… Aku juga kesini untuk menghajar orang itu,” tambahnya sambil menatap ke arahku.

“Oh? Kau berpikir sejauh itu?” kataku. “Wew, itu sungguh sesuatu.”

Sekali lagi, aku benar-benar sadar kalau dia mengabaikan segala batasan dan resikonya. Tapi sebenarnya aku tidak menduga kalau dia datang kemari dengan niat untuk menang melawanku—seorang Superior.

Dia juga menatap langsung ke arahku. Apakah matanya penuh dengan rasa permusuhan? Kebencian? Kekesalan? Tidak… dia hanya marah.

“KheHAH!” Tidak mampu menahannya, aku tertawa dengan cara aneh.

Dia benar-benar serius. Aku mengetahui sangat sedikit orang yang begitu bersungguh-sungguh tentang Infinite Dendrogram sama seperti dirinya. Aku hanya bisa menghitung dia, dan kemudian ada juga King of Tartarus dan tentu saja diriku sendiri. Seperti yang diharapkan dari Master Maiden.

… Atau mungkin dia menjadi Master Maiden karena dia adalah orang semacam ini?

Apapun itu, aku sangat menyukainya dan sangat puas dengan kehadirannya di sini. Bagaimanapun… Menghancurkannya akan terasa sangat enak, pikirku dengan kepuasan.

“Flamingo, kau akan mendapat balasan dari apa yang kau lakukan hari ini dan kemarin,” kata Ray dengan geram.

“Ahahah! Kalau begitu aku akan membalas perbuatanmu seminggu yang lalu, telinga anjing,” aku menyeringai.

Selamat datang, Ray Starling, pikirku sambil menyeringai. RSK, nemesis mu sudah menunggu.

***

Sebelah barat duel city, Jeand Grassland, Paladin, Ray Starling

“Panggungnya telah diatur dan pemerannya sudah ada di sini. Heheh!” Karena alasan yang tak kuketahui, Franklin tertawa, tampak jelas tidak bisa menahan kegembiraannya.

Saat ini, dia sedang berdiri diatas monster mirip podium yang sedang melayang di udara sambil dikelilingi oleh barrier. Tuan Putri Elizabeth tampak tergeletak di dekatnya.

“Baiklah, kalau begitu, Ray sayangku!” katanya sambil menunjuk ke arah langit malam. “Manjakan mata kalian pada hal ini!”

Menatap ke atas, aku melihat seekor monster yang terlihat seperti mata raksasa dengan sayap kelelawar.

“Itu adalah Broadcast Eye,” lanjut Franklin. “Semua yang dia lihat dan dengar akan dikirim ke monster penerima yang kemudian akan memproyeksikan datanya dalam bentuk film 3D.”

Jadi pada dasarnya itu kamera hidup, pikirku.

“Tepat saat kita bicara sekarang, semua yang dia lihat dan dengar sedang diubah menjadi hologram dan disiarkan ke seluruh Gideon. Jika semuanya bekerja sesuai yang diinginkan, apapun yang terjadi di sini seharusnya bisa dilihat oleh semua orang yang ada di arena pusat, semua orang yang ada di distrik Gideon, dan bahkan di ibukota.”

“Untuk apa kau melakukan hal itu?” tanyaku.

Untuk menanggapinya, Franklin tersenyum dan mengangkat salah satu jari di tangan kanannya. “Alasan pertama adalah agar penduduk kerajaan menyaksikan kejadian yang terjadi di sini. Tanpa siaran langsung, mereka tidak akan mengetahui prosesnya, dan hanya akan mengeluarkan pendapat mereka masing-masing mengenai hasilnya, yang tentu saja tidak bagus bagiku.” Dia berhenti sejenak, dan kemudian kembali berbicara. “Bagaimanapun, aku ingin menghancurkan semangat negara ini.”

Cibiran geli yang muncul di wajahnya terlihat memuakkan.

“Ini semua akan sia-sia jika penduduk Altar tidak melihat orang-orang yang begitu mereka andalkan menunjukkan kondisi menyedihkan saat mereka jatuh di hadapan ciptaanku, dan tidak melihat ketidakberdayaan duel city. Kau pasti memahaminya, kan? Mati selama kau tidur tidak akan terasa menakutkan, jadi aku akan membuka mata mereka dan menunjukkan jari yang sedang tenggelam ke dalam leher mereka.”

“… Masuk akal, tapi njir, itu adalah mentalitas yang cukup kacau.”

“Khah!” dia tertawa. “Yah, bukan berarti akulah yang membutuhkan hal ini… bagaimanapun, untuk alasan kedua.” Franklin kemudian mengangkat jari di tangan kirinya. “Aku ingin mempermalukan orang yang mengejarku di depan publik.”

“… Kau apa?”

“hahahah! Man, jika semuanya berjalan sesuai rencana, sejak awal tidak ada seorangpun yang perlu datang kemarin. Tapi sekarang kita memiliki Royal Guard dan dirimu, dan oh astaga, kalian semua sungguh memuakkan! Kalian menunda rencana A kesayanganku! Dan karena kalian menghalangi jalan, aku memutuskan untuk menyingkirkan kalian semua sambil menjadikan kalian sebagai bahan lelucon di kerajaan.”

“Sejak awal aku sudah punya firasat, tapi kau benar-benar seorang bajingan, bukan?” kataku. “Dan apa-apaan pendapat bahwa tidak ada orang yang menghalangi jalanmu jika kau pergi ke gerbang barat itu? Tampak cukup naif, jika kau bertanya kepadaku.”

Belum lagi ada banyak orang yang akan menghalangi jalannya bahkan jika rencananya berhasil.

“Meskipun papan penanda itu adalah sebuah peringatan, dia tetap membiarkan para tian lewat, kan?” lanjutku. “Itu artinya Liliana dan orang-orangnya akan datang kemari bahkan jika aku tidak.”

“… Salah,” kata Franklin saat senyum menghilang dari wajahnya. “Jika kau tidak ada di sini, dia juga tidak akan datang kesini.”

Setelah perkataan itu, entah kenapa, dia melotot ke arahku dengan mata paling tajam yang bisa kau bayangkan.

Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama, dan ekspresinya segera kembali ke senyum maniak-nya. “Bagaimanapun, ayo kita mulai,” katanya. “RSK… pengujiannya sudah selesai.”

Tiba-tiba, monster yang Liliana dan para ksatria-nya hadapi berbalik ke arahku.

Semakin aku melihat ke arah makhluk itu, dia semakin terlihat menakutkan. Meskipun ukurannya hampir sama dengan Gardranda, penampilannya benar-benar berbeda dari setiap monster yang pernah kuhadapi sejauh ini. Itu adalah sebuah bola berwarna mirip daging dengan banyak retakan di permukaannya dan sepuluh tentakel tebal yang muncul dari tubuhnya. Tentakel itu sangat mirip dengan kulit yang berubah warna menjadi biru gelap akibat kehilangan darah.

“Kemarin kami baru saja melawan sesuatu yang biasanya muncul di film horor,” gumamku. “Dan sekarang hal ini seperti sebuah mimpi buruk.”

Monster itu adalah jenis yang membuat orang merasa gelisah dan takut hanya karena sebagaimana susahnya menjelaskannya.

“Benar,” kata Nemesis. “Meskipun aku merasa yang satu ini jauh lebih mudah di tangani daripada para undead. Tapi Ray, kau juga memahaminya, kan?”

Ya, pikirku. Aku tau aku bertindak seperti seorang pemberani, tapi situasi yang ada di sini benar-benar buruk.

“Jika bukan karena pertarungan di gerbang, kita bisa mencoba kombo Counter Absorption dan Vengeance is Mine, tapi sekarang karena kita tidak memiliki sesuatu yang mewah seperti itu, kita hanya bisa berharap bahwa makhluk ini tidak memberikan pukulan sekeras Gardranda atau Gouz-Maise.”

Benar, pikirku. Bagaimanapun, serangan awal Purgatorial Flames-ku sepertinya juga tidak berhasil.

Dengan semua Royal Guard yang tergeletak di sekitar sini, Hellish Miasma bukanlah sebuah pilihan. Lalu ada juga fakta bahwa Liliana dan para ksatria-nya—yang sudah pasti berada di atasku dalam hal kemampuan Paladin murni—telah benar-benar kewalahan, yang berarti bahwa serangan biasaku tidak akan terlalu berguna. Situasi tidak menguntungkan ini juga mencegahku menggunakan itu, membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain Vengeance is Mine, tapi…

“Mh…”

Apakah aku benar-benar bisa menggunakannya? Pikirku.

“Ray?” tanya Nemesis.

Sama seperti pertarungan melawan musuh yang lebih kuat dariku sebelumnya, intuisiku mencoba mengatakan sesuatu kepadaku.

Perasaan tidak nyaman yang diberikan RSK kepadaku diiringi oleh kengerian yang sulit untuk dijelaskan, mirip—tapi cukup berbeda—dengan perasan yang kurasakan dari musuh terburukku sejauh ini, Gouz-Maise.

Jika kumpulan undead itu membenci semua makhluk hidup, maka kemungkinan besar monster satu ini hanya membenci satu hal…

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya!” Franklin meninggikan suaranya, menyela pikiranku. Dia menatap langsung ke arah Broadcast Eye dan bertindak seolah-olah dia sedang siaran langsung di cara TV. “Ini adalah siaran bagi penduduk Gideon dan penduduk kerajaan lainnya! Halo lagi untuk pertama kalinya! Aku adalah Giga Professor, Mr. Franklin, dan aku ada di sini untuk menunjukkan puncak dari permainanku kepada kalian!”

Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan perangkat yang terlihat sangat mirip dengan mobile terminal dari sekitar tiga dekade yang lalu: smartphone.

“Benda ini adalah tombol untuk melepaskan monster yang telah kutempatkan di duel city!”

“… Gh!” aku menyuarakan rasa frustrasiku.

“Tombol ini memiliki fungsi timer, dan telah diatur untuk melepaskan sebuah sinyal untuk melepaskan semua monster setelah 652 detik!” lanjutnya. “Meskipun, kita memiliki hidangan awal berkat sekelompok idiot berdarah panas yang mencoba keluar dari arena dengan cara menyerang barrier.”

“Melepaskan semua monster?! Tapi tunggu, itu…!” Kata Liliana dengan ekspresi tegang, yang membuat senyum Franklin melebar.

“Oh, benaaar, 500 monster yang lebih kuat daripada Demi-Dragon akan dilepaskan ke kota sekaligus. Yah, kebetulan mereka hanya diatur untuk menyerang para Master, tapi mereka juga tidak sabaran dan tidak aka ragu untuk menghancurkan bangunan.”

Perkataannya dan situasi kami di sini sedang disiarkan kepada semua orang yang ada di Gideon. Franklin menggunakan ini untuk meningkatkan ketakutan mereka degan cara menunjukkan waktu yang tersisa sebelum bom waktu itu meledak.

“Yah, untuk apa yang akan kulakukan pada tombol ini… Wuuush!” katanya, melemparkan perangkat itu ke arah RSK.

Monster itu merespons tindakan itu dengan cara membuka retakan di permukaannya dan memasukannya tombol itu ke dalam tubuhnya sebelum menutupnya kembali, yang merupakan pemandangan yang sangat mirip dengan pemberian makan lumba-lumba di kebun binatang.

“Jadi ya, ada sekitar 600 detik tersisa sampai sinyal itu keluar, dan satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah mengalahkan RSK kesayanganku yang ada di sini.” Franklin terdiam untuk beberapa saat sebelum menunjuk ke arah Liliana dengan sikap berlebihan dan kembali berbicara. “Orang yang akan menjalani pertarungan ini adalah para Paladin mulia ini, wakil komandan dan ksatria peringkat ketiga dari Royal Guard—Nona Grandria dan Sir Lindos!”

Setelah menunjuk mereka…

“Dan jangan lupakan satu-satunya Master yang ada di sini! Paladin lainnya, Ray Starling!”

… jarinya diarahkan kepadaku.

“Bisakah ketiga Paladin ini melindungi duel city? Semuanya ada di tangan mereka!”

Dengan pengenalan yang terlalu berlebihan itu, dia menyiapkan panggung untuk “penghinaan di depan umum” yang dia bicarakan.

“Jadi, uh…”

Akhirnya dia sampai di perkataan terakhirnya.

“Salahkan mereka saat kota itu hilang, okeee?”

Yang dia katakan dengan kebencian dan kegembiraan.

“Dasar bajingan akut!” seru Nemesis.

Dia memang seperti itu, tapi komentar tentang dirinya harus ditunda, pikirku.

Bola berwarna daging itu sudah melakukan pergerakan, Semua retakan yang ada di permukaannya terbuka seperti luka dan mengeluarkan aliran cahaya menyilaukan yang menusuk mata.

Merasa seolah-olah sedang dihujani oleh banyak lampu kamera, aku hampir tidak bisa terus menatap monster itu.

“Sebuah aksi pembutaan?!” seruku.

“Ray! Cahaya ini diikuti oleh sebuah serangan!” Liliana memperingatkan kami, tapi Silver sudah berlari duluan.

“Kh!” Tiba-tiba, sesuatu menghantam tempatku berada dan meledak.

Mereka adalah proyektil cahaya yang RSK tembakkan selama kilatan menyilaukan itu, dan kekuatan mereka sekitar tiga kali lebih besar dari pada Gem White Lance yang pernah kugunakan.

Namun, hanya sebatas itu.

Aku gagal menghindari salah satu dari mereka. Dampak serangan itu tidak terlalu luar biasa, sementara damage yang kuterima hanya membuatku kehilangan sekitar sepersepuluh HP-ku.

“Ini masih bisa kita atasi!” teriak Nemesis.

Benar. Kami bisa melakukan ini, tidak masalah. Aku hanya harus menerima serangannya, menyembuhkan diriku sendiri, dan mendaratkan Vengeance is Mine setelah mendapat cukup banyak damage.

Dari apa yang kulihat saat Royal Guard bertarung melawannya, RSK memiliki barrier yang selalu aktif terhadap damage fisik dan resistensi yang sangat tinggi terhadap serangan beratribut suci dan api. Namun, Vengeance is Mine memiliki damage tetap dan dua kali lipat, membuatnya sangat bisa diandalkan dalam mengurangi HP makhluk itu dalam jumlah besar.

Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi, pikirku. Tapi… kenapa aku merasa begitu gelisah?

“Intuisimu jarang salah saat kita sedang berada di situasi terjepit,” kata Nemesis. “Mungkin monster ini memilih lebih banyak hal selain yang oleh mata. Namun…”

… Vengeance adalah satu-satunya pilihan kami untuk melawannya, jadi itulah yang akan kami lakukan, setujuku.

“Oh, ngomong-ngomong,” kata Franklin. “Barrier pada sayang yang sedang ku naiki saat ini terhubung langsung dengan RSK, jadi kau harus mengalahkan dia bahkan jika kau memprioritaskan penyelamatan tuan putri.”

… Kalau begitu, ada lebih banyak alasan untuk menggunakannya.

“Sepertinya ini akan menjadi situasi lakukan atau mati,” kata Nemesis.

“Ya.” Anggukku. “… Ayo!”

“Tentu saja!” Dengan ditetapkannya hal itu, aku membuat Silver berlari ke arah RSK.

Memastikan untuk tidak berhenti satu detikpun, aku menghindari—atau sengaja menerima—serangan cahaya RSK sambil sesekali melakukan serangan ofensif.

Seluruh tebasan pedangku ditiadakan oleh barrier yang ada di permukaannya, dan hal yang sama juga terjadi pada Purgatorial Flame milikku. Namun, karena makhluk ini begitu abnormal, aku tidak menghentikan serangan sia-siaku, berharap bahwa aku mungkin bisa menemukan sumber dari kekuatannya atau sejenisnya.

Tentu saja, aku tidak bisa mengabaikan penggunaan sihir atau item penyembuh untuk memulihkan HP-ku. Berkat HP-ku yang berjumlah 5,000+, Paladin’s Aegis, stats END-ku, dan kemampuan ofensif milik RSK yang tidak terlalu besar, aku bisa mengumpulkan jumlah damage yang cukup besar. Semuanya sepertinya berjalan lancar… tapi rasa gelisahku tetap tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang.

“Tunggu, jumlah damage yang terkumpul… apa?” kata Nemesis. “Tidak, sangat jelas bahwa damage-nya berasal dari monster itu, tapi…”

“Nemesis?”

“O-Oh, maaf. Hanya saja… aku merasakan sesuatu yang aneh.”

Tentang jumlah damage yang terkumpul, kan? Pikirku. Nemesis sepertinya memiliki kemampuan untuk “merasakan” musuh yang telah memberikan damage kepada kami. Dia juga menggunakannya selama pertarungan melawan Gouz-Maise.

“’Aneh’? Seperti apa?” tanyaku.

“Damage-nya jelas berasal dari monster RSK ini, tapi rasanya damage itu seperti… tersebar ke segala arah.”

Tersebar?

“Jika aku harus mengumpamakannya dengan sesuatu dari duniamu, aku akan mengatakan bahwa itu terasa sama dengan melihat X-ray yang menampilkan penyebaran sel kanker di dalam tubuh.”

“… Tunggu.” Bukankah itu berarti RSK masih merupakan hal yang memberikan damage itu?

“Ya, itu benar…” jawabnya, dan meskipun itu melalui telepati, aku bisa dengan mudah mengatakan kalau dia merasa gelisah tentang sensasi aneh itu.

“… Ayo kita coba menggunakannya sekali,” kataku.

“Aku tidak yakin kalau kita memiliki cukup damage untuk membunuhnya, sih>”

“Dan itulah sebabnya kita harus mencobanya. Nyali dan perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah. Dari pada menghadapi sesuatu yang tak terduga saat kita hendak melakukan serangan penghabisan, kita harus membuktikan kecurigaan kita saat ini.”

“… Baiklah!”

“Silver!” teriakku sambil menendang sisi kudaku dan menarik kekangnya, membuat dirinya berlari ke arah RSK.

Melewati serbuan serangan cahayanya, kami menutup jarak dengan monster itu. Setelah dia berada di dalam jangkauan, aku mengayunkan Nemesis ke salah satu tentakelnya, penuh dengan niat untuk memotongnya. Lalu kami menggunakan kartu as yang kami simpan, satu-satunya cara kami untuk melawannya.

“Vengeance is Mine!” kami berteriak secara bersamaan, mengaktifkan skill yang telah mengalahkan banyak musuh kami.

Lawan pertama kami—Demi-Dragon Worm.

Iblis api dan racun berwajah tiga—Great Miasmic Demon, Gardranda.

Kumpulan kematian dan kebencian manusia—Revenant Ox-Horse, Gouz-Maise.

Dengan semua musuh kuat yang telah kami kalahkan dengan bantuan skill itu, tidak heran kalau itu adalah skill paling terpercaya milik kami.

Sekarang, kami telah menggunakannya pada makhluk misterius bernama “RSK.”

“Kenapa…?” Kata Nemesis dengan bingung, dan bukan tanpa alasan, karena Vengeance sama sekali tidak melukai monster itu. Greatsword-ku hanya melewati permukaannya, tanpa menghancurkan sedikitpun bagian tubuhnya.

Serangan itu membuat pertahanan kami terbuka, dan sebuah proyektil cahaya yang berasal dari salah satu retakan milik monster itu mendarat langsung kepadaku. Serangan itu mengambil sekitar sepertiga HP-ku, tapi aku tidak bisa memperdulikan hal itu.

“Kenapa…?” Gumamku. Satu-satunya hal yang ada di dalam pikiranku adalah skill-ku—Vengeance is Mine. Skill itu melipat gandakan damage yang kuterima dari musuhku dan mengembalikannya kepada mereka, benar-benar mengabaikan setiap pertahanan.

Itu selalu berhasil setiap kali aku melakukannya pada apapun yang telah memberikan damage kepadaku.

Namun, itu sama sekali tidak berefek pada RSK.

“Ohhh wooow, sungguh ekspresi yang sempurna.” Aku mendengar suara yang penuh dengan kepuasan.

“Franklin!” Teriakku.

Wajahnya masih tersenyum, tapi tidak seperti senyum sebelumnya, itu telah berubah menjadi seringai puas. “Ahahah! Kau tampak begitu kebingungan. Tidak memahami apa yang terjadi, huh? ‘Kenapa? Bagaimana? Bukankah Vengeance milik kami tidak ada tandingannya, dsb dsb?!” Lol. Pasti berat mendapatkan julukan Nobuta karena kacamatamu, eh, Ray-boy?”

“Ap…!”

“Oh, sekarang kau tampak lebih terkejut. Wow, aku sangat menyukai hal ini.”

Hal yang baru saja dia katakan adalah sesuatu yang hanya kuberitahu kepada Nemesis… dan hal itu terjadi setelah Flamingo meninggalkan kami. Fakta bahwa dia mengetahui hal itu hanya bisa berarti satu hal…

“Obat yang kau berikan kepadaku itu bukan hanya sekedar penumbuh telinga anjing, huh?” sergahku.

“Ohhh, ya itu benar,” jawabnya sambil merogoh saku nya dan mengeluarkan botol obat yang berisi cairan yang sama dengan yang dia berikan padaku kemarin. “Obat yang kuberikan padamu adalah campuran Lesser Elixir dan Animal Ear Drug…” Dia kemudian membuka botol itu dan menuangkan isinya ke tangannya.

“… tapi ada lebih dari sekedar obat di dalamnya,” katanya saat cairan itu mengalir melewati tangannya, meninggalkan sebuah objek seukuran kelereng. “Gadis kecil ini adalah PSS—Peeping Spy Slime. Mereka selalu berada dalam keadaan cair, tidak memiliki cara untuk bertarung, dan akan dicerna oleh manusia dalam waktu sekitar 24 jam… Tapi sebagai ganti dirinya yang begitu tak berdaya, selama mereka masih hidup, mereka mengirimkan stats, informasi skill, dan perkataan orang yang menelan mereka kepadaku.” Senyumnya semakin melebar. “Membuat seseorang tidak mencurigainya atau membuatnya tetap online bisa jadi agak sulit, aku beritahu kau.”

Bisakah kau melakukannya dengan sesuatu yang lain? Pikirku saat aku meletakkan tanganku ke mulutku karena rasa jijik. Aku tidak percaya kalau aku sudah meminum slime sialan itu!

“Aku mengetahui semua yang ada di tanganmu,” lanjutnya. “Tiga skill Embryo milik Nemesis, Miasmaflame Bracers, Greaves pf Grudge, Prism Steed asli milikmu, dan skill milikmu sendiri—termasuk Purifying Silverlight—dan bahkan berbagai taktik yang kau gunakan dalam pertarunganmu melawan Lich Maise dan Gouz-Maise.”

Itu adalah semua yang kumiliki. Semua yang bisa kulakukan telah bocor kepadanya.

“Dan RSK sayangku ini dibuat untuk meng-counter semua yang kau miliki,” dia menyelesaikan perkataannya dengan bangga.

“… Maksudmu?”

“Vengeance is Mine tidak bekerja padanya, dia tidak memberikan satupun debuff, dia meniadakan Purgatorial Flames, Hellish Miasma, Purifying Silverlight, dan bahkan Grand Cross, jika kau memilikinya. Serangan standar di levelmu juga tidak akan melukainya. Melawanmu, RSK benar-benar tak terkalahkan. Bagaimanapun…”

Franklin berhenti berbicara untuk sesaat dan menunjukkan senyum paling menyilaukan sebelum melanjutkan.

“Dia adalah Ray Starling Killer. Buatan khusus hanya untuk mengalahkanmu.”

“… Dibuat untuk… apa?”

Itu benar-benar bernama “Ray Starling Killer”? Pikirku. Franklin benar-benar membuat seekor monster dengan tujuan satu-satunya untuk mengalahkanku?

“Jadi ya, kau akan kalah apapun yang terjadi. RSK sayangku membuatku mengeluarkan 100,000,000 lir, tapi hei, uang yang dihabiskan untuk kemenangan bukanlah buang-buang uang, kan?”

“Kenapa…?” Aku berteriak.

Kenapa Franklin—seorang Superior—melakukan sejauh itu terhadapku? Bukankah kami baru bertemu kemarin? Apakah itu ada hubungannya dengan Hugo?

“’Kenapa,’ tanyamu? Ya, aku rasa itu pasti aneh buatmu. Kenapa seorang Superior sepertiku menghabiskan uang sebanyak itu untuk menangani orang yang bukan siapa-siapa?” katanya saat senyum menghilang dari wajahnya. “Itu karena aku pernah kalah sekali darimu.” Matanya berubah menjadi serius, membuatku merasa seolah-olah mereka bisa menembusku.

“Kau kalah dariku?” Tanyaku. “Kapan itu terjadi?”

Saat kebingunganku memuncak, Franklin menunjuk ke bawah ke arah Liliana yang sedang bertarung melawan RSK.

“Aku telah berencana untuk membunuh Liliana Grandria, kau tau,” katanya. “Kau benar-benar menghancurkan rencana itu, jadi aku memutuskan untuk balas dendam padamu.”

Rencana untuk membunuh Liliana…? Apakah yang dia maksud adalah saat aku…?

“Jika kau tidak ikut campur, pria beruang itu juga tidak akan ada di sana, dan lima puluh Demi-Dragon Worm pasti sudah cukup untuk menangani Liliana. Kau menghancurkan rencanaku dan membuatku kalah, Ray Starling.”

Pria beruang—kakakku.

Lima puluh Demi-Dragon Worm—Old Reve Orchard.

“Dan kemudian, seorang pria berkacamata memberitahuku, ‘Jika kau memiliki dupa ini, kau bisa mendapatkan beberapa buah dari kebun yang ada di luar.’” Aku mengingat perkataan Milianne saat itu, dan sekarang semuanya menjadi masuk akal.

“Aku tidak bisa mengabaikan siapapun yang membuatku kalah atau mundur,” lanjut Franklin. “Setiap kali orang seperti itu muncul, aku mengatur sebuah tanding ulang, dan memastikan mereka kalah begitu parah sampai terlihat menyedihkan. Lalu mereka tidak akan pernah menghalangi jalanku lagi, dan kau tidak akan ada bedanya. Sekarang kalahlah dan jadi bahan tertawaan di kerajaan, ok?” Ekspresi dan suaranya saat mengatakan itu penuh dengan kegilaan.

Meskipun itu bukan berarti dia tidak masuk akal. Aku bisa memahami kenapa dia begitu membenciku. Faktanya, aku bisa memahaminya dengan sangat baik.

“Baiklah, sekarang aku paham kenapa kau sampai membuat sesuatu anti-diriku,” kataku.

Jadi dia adalah orang yang bertanggung jawab atas situasi itu, huh? Pikirku.

“Hahahah! Baguslah karena kau memahaminya.”

“Oh, memang,” aku meyakinkannya. “Dan aku juga paham… bahwa sekarang aku harus menonjokmu.”

“… Apa?” Tanya Franklin, tampak jelas kebingungan.

Apa? Apakah aku tergagap? Karena aku beneran yakin tidak mengatakan sesuatu yang aneh.

“Kau tau, kau membuat seorang anak-anak… Milianne… terlibat dalam insiden itu, dan saat dia memberitahuku tentang pria berkacamata, sebuah pikiran tertentu memasuki kepalaku.” Aku mengingat tepat apa yang kupikirkan pada saat itu dan mengungkapkannya ke dalam perkataan. “Aku ingin menonjok idiot itu karena sudah mengirim seorang anak kecil ke tempat seberbahaya ini.”

Aku tidak mengetahui tersangkanya, dan Milianne dan Liliana sama-sama baik-baik saja. Karena itu, aku menahan perasaan itu, tapi aku beneran yakin tidak melupakan bajingan itu.

“Jadi ya, sekarang setelah aku tau bahwa kaulah orang yang bertanggung jawab atas hal itu, aku akan menyelesaikan hal ini.”

“Kh…”

“Aku akan mengatakannya lagi…” Aku mengangkat tanganku yang tertutupi bracer dan mengarahkan jari telunjukku tepat ke arahnya sebelum membuat sebuah pernyataan. “Tinju akan melesat langsung ke wajahmu. Jagalah agar itu tetap bersih untukku, Superior.”

“Lakukanlah yang terburuk… newbie!”

Setelah percakapan itu, RSK bergerak untuk berdiri di antara aku dan Franklin.

Hal ini adalah monster yang dibuat oleh seorang Superior dengan tujuan untuk mengalahkanku. Oleh karenanya, sangat masuk akal kalau Liliana dan para ksatria-nya kesulitan untuk melawannya.

“Itu karena mereka adalah Paladin…” Gumamku. Penanggulangan yang dibuat untuk melawanku juga sangat bekerja baik pada mereka.

Sial, pikirku.

Tapi, jika mereka bukan Paladin, Franklin mungkin akan melepaskan beberapa monster lain.

Dia sebenarnya bisa melakukan hal itu sekarang, kalau dia mau, tapi dia tidak melakukannya karena dia ingin menghancurkan semangatku dengan membuatku kalah sepenuhnya dan menciptakan sebuah pertunjukkan dimana mereka yang melindungi kota dikalahkan oleh seekor monster tanpa ada seorangpun yang bisa memberikan luka pada monster itu.

Franklin mungkin akan memanggil monster lain jika kami mengalahkan RSK.

Namun, dengan hilangnya RSK, kami akan menghentikan pelepasan monster di Gideon, dan hilangnya barrier itu akan memberi kami kesempatan untuk menyelamatkan tuan putri.

“Kalau begitu, tidak ada perubahan dari apa yang harus kami lakukan,” kataku. “Kita akan membunuh Ray Starling Killer… Njir, sungguh nama sangat bodoh.”

“Untuk itu, kita harus membongkar kenapa Vengeance is Mine tidak bekerja padanya,” tambah Nemesis.

“Kurasa aku tau alasannya.”

“Eh?”

“Biarkan aku melihat apakah dugaanku benar,” aku berkata sambil menarik kekang Silver, membuatnya berhenti.

“Ray?!”

Aku menutup mata kananku dan membuat mata kiriku terbuka lebar sebelum meletakkan tangan kiriku di wajahku dan melihat ke arah RSK melalui celah yang kubuat.

Monster itu masih melepaskan kilatan dan serangan cahaya melalui retakan di permukaannya. Tentu saja, melihatnya secara langsung akan membakar mataku sama seperti melihat matahari melalui teleskop. Namun, aku mengabaikan sensasi menyengat di retina mata kiriku dan menyipitkannya untuk melihat sumber cahaya itu—retakan yang ada ditubuhnya.

Kecerahan itu pada dasarnya membutakan, dan melihat apa yang ada di sana adalah sebuah tantangan besar, tapi aku terus membuka mataku dengan niat untuk melihat apa yang kuyakin ada di sana.

Dan dengan begitu…

“Sepertinya aku benar.”

… sebuah proyektil cahaya mengenaiku tepat pada saat aku melihatnya.

Digabungkan dengan damage dari serangan sebelumnya, HP-ku sekarang tersisa kurang dari separuh.

“Ray! Force Heal!” Liliana merapalkan sihir penyembuhan kepadaku dari jarak cukup jauh. Sihir itu lebih kuat dari yang kumiliki, dan itu langsung membuat HP-ku naik menjadi 90%.

“Ray… dasar bodoh! Yang tadi itu hanya bunuh diri!” teriak Nemesis.

“Ray! Apa yang kau lakukan barusan sangat ceroboh!” bentak Liliana.

Nemesis dan Liliana memarahiku di saat bersamaan dan menciptakan efek stereo.

“Ya, maaf soal itu,” kataku. “Itu tidak sia-sia, sih, karena aku melihatnya.

Bahkan setelah menerima efek dari sihir penyembuhan milik Liliana, mata kiriku masih agak terluka. Namun, aku mendapatkan sesuatu yang sangat bagus sebagai gantinya.

Aku melihat nama di dalam cahaya itu,” kataku.

“Nama?” tanya Nemesis.

“Di dalam salah satu retakan bercahaya itu, aku bisa melihat tampilan nama dari monster yang berbeda dengan RSK.”

“Apakah itu maksudnya…?”

“Ya,” anggukku. “RSK tidak sendirian. Kita sedang diserang oleh monster lainnya.”

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. ray starling says:

    Lebih cocok rook sih jd mc nya selalu punya rencana dan perhitungan yg angt berhti2.

    Like

    1. Monarch says:

      yap bener banget si RAY GOBLOK, POLOS , slalu ngambil tindakan yg konyol dan tidak sadar bahwa dirinya goblok

      Like

  2. Terima kasih!
    Terus lanjut!

    Like

  3. SA IDUN says:

    lanjut min.. lagi seru seru nya ini..yang semangat TL nya.. tanks

    Like

Leave a Reply to Monarch Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s