Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 6 A

Volume 4
Chapter 6 – Duel di Neraka Beku (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Masa lalu, Lucius Holmes

Aku lahir di Inggris. London, lebih tepatnya. Aku terlahir di keluarga yang tidak kaya, ataupun bangsawan ataupun miskin. Tidak ada yang spesial dalam hal status sosial. Tetapi tentu saja juga tidak normal.

Ayahku adalah seorang detektif yang menjalankan biro yang berfokus menyelesaikan kasus-kasus yang tak terpecahkan, sementara ibuku adalah seorang pencuri yang terspesialisasi dalam pencurian karya seni.

Benar—aku adalah anak dari seorang pencuri dan seorang detektif. Meskipun itu terdengar seperti sebuah lelucon, tapi itu adalah kebenaran.

Ayahku sangat mirip dengan protagonis dari sebuah novel misteri, memecahkan banyak kasus yang tidak bisa dipecahkan orang lain, sementara ibuku adalah pencuri seperti yang ada di film-film yang berkeliling dunia dan mencuri benda bernilai tinggi. Kedua keluarga mereka sudah melakukan hal itu selama beberapa generasi.

Aku bahkan diberitahu bahwa sisi ayahku mengambil nama belakang “Holmes” karena kakek buyutnya telah menggantinya saat memulai pekerjaan detektifnya, mendasarkannya dari detektif paling terkenal di dunia. Sepertinya dia tidak memasalahkan bahwa itu hanyalah karakter fiksi.

Bagaimana orang tuaku bertemu, menikah, dan memiliki anak masih menjadi misteri bagiku.

Aku pernah bertanya kepada ayahku kenapa dia tidak memenjarakan ibuku. Dia menjawab, “Pekerjaan seorang detektif adalah membongkar kebenaran, bukan menangkap penjahat.” Setidaknya, aku merasa hal itu perlu dipertanyakan.

Semuanya juga tidak berakhir disitu, karena ibuku adalah seorang pencuri yang selalu mengembalikan karya yang dia curi setelah beberapa minggu menikmatinya. Faktanya, kebanyakan, dia mencuri objek yang di dapatkan oleh pemiliknya dengan cara ilegal, dan menyerahkan barang-barang itu kepada polisi.

Sepertinya, tujuannya bukanlah uang, tapi proses pencurian itu sendiri. “Pekerjaan seorang pencuri adalah untuk mencuri, bukan menjual,” dia pernah mengatakan itu kepadaku.

Sejujurnya, aku tidak terlalu yakin apakah “pencuri” itu termasuk “pekerjaan.”

Bagaimanapun, mereka berdua menyukai pekerjaannya dan selalu melakukan yang terbaik untuknya, mengakibatkan hanya ada sedikit waktu yang bisa kami habiskan sebagai keluarga. Tapi, tepat karena mereka begitu fokus menggunakan bakat mereka untuk melakukan apa yang mereka suka, mereka segera menyadari sesuatu tertentu pada diriku saat aku masih kecil.

Lucius sangat diberkahi.

Pikiran, kemampuan pengamatan, imajinasi, kecekatan, refleks, penampilan… aku mewarisi bakat milik kedua orang tuaku dan bahkan memiliki potensi untuk melampaui mereka berdua, memberiku bakat untuk menjadi seorang detektif dan pencuri handal. Tentu saja, orang tuaku sangat senang dengan hal itu.

Dengan mereka berdua yang sangat bergairah dengan bisnis keluarga mereka, keduanya memikirkan hal yang sama.

Bakat ini tidak boleh disia-siakan. Aku ingin membesarkannya menjadi detektif/pencuri besar, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan keinginan sayangku.

Oleh karenanya, mereka mencapai sebuah kesepakatan.

Mereka akan bergantian memberikan pelajaran spesial mereka.

Ayahku akan melatih kemampuan pengamatan-ku, mengajariku membaca bibir, bahasa-bahasa di dunia, dan bagaimana pikiran manusia bekerja, sementara ibuku akan melatihku melakukan pelucutan perangkap, menemukan titik buta seseorang, dan cara untuk menggoda dan memanipulasi orang lain.

Saat aku masih kecil, sudah ditetapkan kalau mereka akan melatih pikiran dan tubuhku berdasarkan rencana itu. Tapi mereka tidak pernah memerintahkanku untuk menjadi seorang detektif atau pencuri handal. Melainkan, mereka terus menekankan bahwa mereka akan mengasah bakatku, dan membiarkanku memiliki jalan hidup mana yang ingin kuambil.

Sebagian dari diriku berpikir bahwa mendapatkan satu set skill spesifik seperti itu akan membatasi pilihanku pada detektif atau pencuri, tapi aku merasa puas dengan hal itu.

Saat aku menjadi semakin dewasa dan mulai memikirkan hidupku selama ini, aku menyadari bahwa batasan seperti itu adalah hal yang alami saat seseorang telah diajarkan hal semacam itu sejauh yang dapat mereka ingat, karena pengalaman seperti itu adalah apa yang menjadi dasar seseorang.

Pendidikanku sudah termasuk pengetahuan umum dan sosiologi, yang kemudian kuketahui bahwa standar dan nilaiku sangat jauh berbeda dengan apa yang masyarakat anggap “universal.”

Mengetahui bahwa situasiku sama sekali tidak normal, aku akhirnya menyimpulkan bahwa “Ini normal di dalam keluargaku, dan saat berbicara dengan mereka yang berbeda standar, aku hanya tinggal melakukan penyesuaian,” yang kurasa adalah pemikiran yang benar-benar menyoroti fakta bahwa aku adalah putra orang tuaku.

Pokoknya, setelah sepuluh tahun pendidikan spesial mereka, pada saat aku berumur lima belas tahun, aku sudah mendapatkan hampir semua kemampuan yang dimiliki orang tuaku. Aku juga tidak melupakan belajar sendiri, jadi aku yakin bahwa kemampuan totalku sudah melebihi mereka.

Lalu, ketika aku tinggal beberapa tahun lagi sebelum menjadi orang dewasa dan memikirkan masa depanku, terjadi sesuatu.

Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Saat mereka sedang melakukan perjalanan bersama—yang jarang mereka lakukan—pesawat mereka jatuh. Aku diberitahu soal hal itu tak lama kemudian.

Meskipun aku sedih atas kematian mereka, sebagian dari diriku bertanya-tanya apakah hal itu benar-benar cukup untuk membunuh mereka. Itu bukan penyangkalan kenyataan—aku hanya berasumsi secara rasional bahwa kemampuan dan pengalaman mereka seharusnya cukup untuk membuat mereka selamat dari kecelakaan pesawat biasa.

Hari setelahnya, berita menunjukkan bahwa beberapa anak yang mengenakan parasut dan jaket keselamatan telah di temukan di tengah laut. Mereka semua berasal dari pesawat yang sama dengan yang telah membunuh orang tuaku. Saat media bertanya kepada mereka tentang apa yang telah mereka alami, anak-anak itu berkata, “Seorang pria tinggi dan nona cantik memakaikan parasut pada kami.”

Dengan itu, semuanya jadi masuk akal. Sepertinya, bukannya memikirkan keselamatan mereka sendiri, orang tuaku telah memilih untuk bertaruh pada kemungkinan menyelamatkan anak-anak.

Sebagai seorang yatim-piatu baru, aku berharap agar mereka mempertimbangkan diriku dan memprioritaskan keselamatan mereka sendiri, tapi di saat bersamaan, sebuah perasaan luar biasa bangga memenuhi dadaku. Aku tidak merasakan apapun selain menghormati apa yang mereka lakukan. Meskipun, karena alasan yang tak kuketahui, air mata mengalur di wajahku.

Setelah kematian mereka, aku mengurus semua hal yang harus dilakukan dan istirahat sejenak dari tekanan hidup.

Orang tuaku telah mengajariku bagaimana cara melakukan formalitas seperti itu, jadi aku bisa mewarisi tanah, rumah, dan uang mereka tanpa terlalu banyak masalah. Dengan semua yang kumiliki, aku bisa dengan mudah menjalani sisa hidupku tanpa kesulitan.

Namun, aku tidak bisa berdiam diri saja, jadi Aku… Aku…

“… Ah.”

Pada saat itulah aku menyadari bahwa aku tidak memiliki visi masa depanku sendiri.

Konyol memang, meskipun aku adalah seorang jenius yang telah mempelajari semua yang dapat orang tuaku ajarkan kepadaku, aku tidak menyadarinya sampai saat itu.

Dengan semua cinta yang mereka berikan kepadaku, aku telah nyaman menjalani hidup tanpa melakukan apapun selain mengasah kemampuan yang orang tuaku berikan kepadaku, sehingga aku menjadi orang yang belum pernah membuat satupun pilihan selama hidupku. Aku mengikuti jalan yang telah orang tuaku sediakan untukku dan melakukan sangat sedikit hal selain menyelesaikan tantangan yang mereka berikan kepadaku, sehingga aku tidak memiliki pengalaman dalam memilih bagaimana aku akan menjalani hidupku. Itu adalah sesuatu yang kutinggalkan untuk “suatu hari,” bukan “hari ini.”

Aku bisa dengan samar membayangkan diriku di masa depan membuat pilihan seperti itu, tapi diriku yang saat ini sama sekali tidak memiliki petunjuk untuk melakukannya. Diselimuti oleh cinta orang tuaku, aku telah menjalani kehidupan pasif dimana aku bahkan tidak bisa memberikan gambaran tentang ingin jadi seperti apa aku nantinya.

“Bagaimana aku harus hidup?” Tanyaku pada diri sendiri, merasa seolah-olah aku telah dilemparkan ke gurun yang kosong.

Itu seakan-akan aku memiliki air, makanan, kompas, pengetahuan, dan kemampuan untuk bertahan, tapi aku sama sekali tidak memiliki petunjuk tentang tempat tujuanku. Tidak peduli apakah aku pergi ke utara, selatan, timur, atau barat, aku tidak tau apa yang sedang menungguku, dan bahkan jika aku menemukan sesuatu, aku tidak akan tau apa yang akan kulakukan padanya. Aku benar-benar tersesat, tetapi berpikir sebanyak apapun tidak membawaku menuju sebuah pilihan.

Ok, ini buruk, pikirku. Jika aku tidak menangani hal itu, aku mungkin akan berakhir menjadi seseorang yang tidak melakukan apapun selain hidup.

Dalam kebingungan, aku mulai memikirkan apa yang harus kulakukan.

Pertama, aku memeriksa apakah orang tuaku meninggalkan pesan atau sesuatu untukku di kamar mereka atau tidak. Suara kecil di kepalaku memarahiku karena aku mencari tujuanku sendiri dengan bergantung pada hal-hal milik almarhum orang tuaku, tapi aku memilih untuk mengabaikannya.

Aku memulainya dengan memeriksa kamar ibuku.

Kamar itu memiliki perangkap yang, sekali diaktifkan, akan membakar seluruh ruangan dan setiap barang bukti potensial yang mungkin ada di sana. Aku bisa melucutinya, tapi aku hanya bisa membayangkan fakta bahwa semuanya mungkin bisa berakhir buruk jika rumah ini diberikan kepada orang lain.

Satu-satunya hal penting di kamar ibuku adalah perlengkapan kerjanya, dan tidak ada satupun karya seni curian. Karena itu merupakan ruangan yang bisa terbakar, aku tidak benar-benar mengharapkan apapun, dan sekilas membaca catatan hariannya membuatku yakin bahwa dia tidak memiliki apapun yang belum dia kembalikan. Aku bersyukur atas hal itu, karena jika tidak, aku harus mengembalikan apapun yang dia curi. Tapi, sebagian dari diriku menginginkan tujuan baru, tak peduli sekecil apapun.

Selain perlengkapan kerjanya, satu-satunya hal yang menarik perhatianku adalah sebuah sweeter rajutan yang masih belum selesai.

Aku berpindah ke kamar ayahku.

Tidak seperti kamar ibuku, tidak ada jebakan di sana, dan aku bisa dengan mudah masuk ke dalamnya hanya dengan menggunakan kunci.

Tentu saja, mungkin aneh untuk waspada terhadap jebakan di situasi seperti ini, pikirku.

Setelah masuk, aku segera menyadari sesuatu. Di meja kerja ayahku, terdapat sebuah objek asing—sebuah peralatan elektronik berbentuk mirip penutup kepala.

“Bukankah ini untuk Infinite Dendrogram?” gumamku.

Saat ini game itu sudah menjadi bagian dari pengetahuan umum, jadi aku mengetahui keberadaannya. Itu dikenal baik sebagai VRMMO yang telah mendapatkan popularitas di seluruh dunia. Aku selalu sibuk dengan latihan dan belajarku, jadi aku tidak memilki sedikitpun waktu untuk game, dan aku juga tidak terlalu tertarik padanya. Paling-paling, Aku dan ayahku sering melakukan tanding catur bersama.

“Apakah ayah memainkan ini?” gumamku.

Dia sudah sangat sibuk dengan pekerjaan detektifnya dan pelatihanku, jadi aku merasa aneh jika dia memiliki waktu untuk hal ini.

Setelah meletakkan perangkat itu ke tempatnya semula, aku mulai memeriksa sekeliling dan menemukan sepucuk surat di laci meja.

Awalnya, kupikir itu adalah wasiatnya atau sejenisnya, tapi aku segera menyadari bahwa itu adalah surat yang dia terima dari seseorang. Awalnya aku berpikir untuk tidak membacanya, tapi sekilas melihat isinya telah membuatku menyadari kata Infinite Dendrogram, jadi aku mengalah pada rasa ingin tahuku.

Sepertinya, ayahku telah menerima permintaan anonymous yang berhubungan dengan game itu.

Sang pengirim memintanya untuk membongkar rahasianya. Mereka percaya bahwa Infinite Dendrogram adalah bagian dari konspirasi, dan menawarkan uang dalam jumlah besar kepada ayahku untuk melakukan penyelidikan mendalam.

Beberapa saat kemudian, saat aku melihat kotak surat, aku menemukan surat lain yang sepertinya berasal dari pengirim yang sama. Itu adalah ucapan bela sungkawa atas kematian ayah dan pembatalan permintaannya, tetapi tidak dengan uang mukanya. Sepertinya, sang pengirim adalah orang berintegritas.

Bagaimanapun, aku sedang berdiri di depan mesin game Infinite Dendrogram yang ditinggalkan oleh ayah. Itu adalah sebuah game yang seseorang minta kepadanya, seorang detektif terkenal, untuk diselidiki. Tentu saja, aku merasa tertarik, tapi lebih dari itu, aku memiliki keinginan kuat untuk “memilih.”

Setelah kehilangan arah tujuan, aku merasa seolah-olah itu bisa membuka jalan baru bagiku.

“Jika ingatanku benar, kalimat iklan game ini adalah…”

Infinite Dendrogram akan memberimu dunia baru dan kemampuan unik milikmu sendiri.

Aku merasa seolah-olah kalimat itu ditujukan kepadaku.

Tidak ada kata lain yang bisa lebih menarik minat seseorang yang telah kehilangan arah tujuan selain kalimat itu. Dan saat ini, pada saat ini, orang itu adalah aku.

“Baiklah, kalau begitu, berikan hal itu padaku.”

Berikan kepadaku dunia barumu.

“Kuharap kau bisa mengarahkanku kesana.”

Menuju kemungkinanku.

“Ayo mulai,” kataku saat aku memakai penutup kepala di ruang kerja ayahku dan memasuki dunia Infinite Dendrogram.

***

Duel city Gideon, gerbang barat, Pimp, Rook Holmes

“Motor Slash!”

“MHOOOOOOOOO!”

Pilot Magingear beku itu menggunakan tangan kiri robotnya untuk melancarkan skill yang sama dengan sebelumnya, yang kemudian ditanggapi Marilyn dengan serangan fisik yang bernama “Tri-Horn Upper.”

Selanjutnya dia akan segera mundur dan menembakkan meriam besar itu, jadi… Baby, Little Flare, pikirku.

“Baiiik!” jawabnya.

“Ah!” sang pilot terkejut saat sihir api level rendah yang Baby dapatkan melalui Drain Learning mengenai proyektil tepat sebelum itu keluar dari meriamnya. Ledakan yang dihasilkan menghancurkan moncong meriamnya, membuatnya tidak mungkin lagi menggunakan senjata itu.

Selanjutnya, dia akan menghentakkan kaki kanannya dan menebas ke atas menggunakan pedang di tangan kirinya, jadi…

“(Liz, bergerak,)” kataku, bukan menggunakan suara, melainkan sedikit getaran di tenggorokanku. Karena dia sedang terhubung langsung dengan tubuhku, Liz bisa merasakan getaran itu melalui kerangkaku, membuat kami bisa berkomunikasi tanpa mengharuskanku berbicara.

Tentu saja, Baby lebih unggul dalam hal ini, karena aku bisa berkoordinasi dengannya hanya dengan berpikir.

“…!”

Aku mendengar sang pilot kembali mengungkapkan keterkejutannya saat aku menghindari pedangnya dengan sebuah lompatan belakang.

Aku dapat melakukannya berkat Liz yang dengan lembut memanjangkan dirinya ke kakiku sambil memastikan lawanku tidak menyadarinya, dan kemudian menghentak tanah yang bisa menyebabkan dampaknya mengirimku ke belakang. Dengan itu, sekarang aku berada di jarak dimana dia tidak bisa lagi mengenaiku.

Sebuah celah di bagian kanan belakang. Lama waktu dua detik.

“Marilyn, serang,” perintahku.

“MHOOOOOOOO!”

“Mrrgh… Sungguh menjengkelkan,” Keluh Embryo-nya saat Magingear itu berbalik dan menggunakan kedua pedangnya untuk menghentikan serudukan Marilyn tepat sebelum dia mengenainya. Sejak awal Marilyn tidak memiliki cukup kecepatan, jadi damage-nya tidak terlalu besar.

“Ini memang sulit untuk di tangani,” kata sang pilot. “Seolah-olah kau membaca semua gerakanku… Tidak, kau memang melakukannya, bukan?”

Benar sekali, pikirku.

Magingear adalah benda humanoid dan robotik, jadi jangkauan operasi mereka lebih mudah dipahami daripada manusia atau makhluk hidup lainnya, aku bisa memprediksi pergerakan Magingear itu bahkan lebih baik dari pada yang kulakukan pada Audrey selama pertarungan udara kami.

Teknik ini disebut “pengamatan pergerakan,” dan aku mempelajarinya entah dari ayahku atau ibuku. Aku tidak yakin yang mana.

“Ya,” kataku. “Bagaimanapun, tidak seperti Superior Job yang berfokus pada kecepatan, kau tidak bertarung dengan kecepatan supersonik atau menghilang dari pandangan.”

“Heh,” tawanya. “Kau berbicara seolah-olah kau pernah bertarung melawan Superior Job sebelumnya.”

Ya, aku pernah, pikirku. Aku kalah sepuluh kali berturut-turut, sih.

Tapi, bertarung dengannya, orang yang bergerak dengan kecepatan yang mustahil di dunia nyata, telah meningkatkan ketepatan dari pengamatan pergerakanku.

“Jadi jika ini terus terjadi, kami akan berada dalam kerugian…” kata sang pilot.

“Ya.” Anggukku. “Memang benar kalau Magingear-mu memiliki stats yang besar, dan skill penguatan milik job High Pilot pasti telah membuat mereka menjadi semakin besar. Namun, pada akhirnya, itu hanyalah entitas yang sedikit lebih baik dari kelas Demi-Dragon.”

Dengan kata lain, Marilyn, yang merupakan seekor Demi-Dragon, bisa memberikan perlawanan yang layak kepadanya. Celah yang diciptakan oleh serangan serudukannya dapat dimanfaatkan oleh Baby, yang bisa menggunakan banyak skill yang dia dapatkan melalui Drain Learning selama perburuan yang kami lakukan akhir-akhir ini.

Meskipun skill yang dia pelajari hanya berasal dari monster level rendah yang bisa kami tangani, jumlah skill yang dia kumpulkan sudah lebih dari lima puluh. Dalam hal itu, jumlah skill yang dia miliki bahkan lebih banyak dari Superior Job seperti Marie.

Sementara bagiku… karena lawanku berada di dalam Magingear, Charm menjadi tidak berguna, jadi aku hanya bisa menjadi target yang dapat dia incar. Tapi, menghindari serangannya juga membuatnya membuka celah bagi kami, dan tidak peduli berapa banyak serangan yang kuhindari, dia masih akan tetap mengincarku. Bagaimanapun, Baby adalah Embryo-ku dan Marilyn adalah minion-ku, jadi pertarungan ini akan berakhir jika aku kalah.

Seluruh tubuhku bagaikan titik lemah bagi kami, itulah sebabnya aku menyuruh Liz untuk lebih fokus membantu manuver meghindarku daripada menyerang.

Kami juga melakukannya dengan cara yang tidak mungkin dia sadari, karena aku memiliki sebuah rencana tertentu.

“Jadi, kalau begini, kami akan kehabisan energi…” gumam sang pilot.

Meskipun Magingear memiliki stats yang lebih tinggi dari pada kami semua, pengamatan pergerakanku dan kombinasi kekuatan kami telah memungkinkan kami mengunggulinya. Namun…

“Tapi aku juga penasaran sampai kapan kau bisa tetap tidak membeku saat La Porte de l’Enfer aktif,” tambahnya, mengatakan masalah terbesar yang ada di kepalaku. Tangan kiriku sudah membeku dari siku ke bawah.

Aku yakin bahwa itu sebabkan oleh serangan yang sama dengan yang dia gunakan pada Master veteran yang ada di sekitar kami, mengubah mereka menjadi patung beku seperti saat ini. Lalu ada juga fakta bahwa aku harus mengembalikan Audrey ke dalam Jewel tepat setelah mengeluarkannya karena separuh tubuhnya langsung membeku.

Jumlah es yang ada padaku juga meningkat dengan perlahan, membuatku yakin kalau pada akhirnya aku akan menjadi seperti para Master lain yang ada di sini. Bukannya meningkat secara terus-menerus, sepertinya es ini meningkat dalam interval tertentu, setiap beberapa puluh sampai ratus detik atau lebih.

Pertama, es itu hanya menutupi telapak tangan dan sedikit pergelangan tanganku; kemudian itu telah menyelimuti seluruh lenganku; sekarang itu telah menyebar sampai ke siku-ku. Meskipun jumlah es yang bertambah setiap kalinya selalu sama, intervalnya benar-benar berbeda. Yang kedua kali adalah 39 detik setelah pembekuan pertama, sementara yang ketiga kali terjadi 130 detik setelah pembekuan kedua.

Angka pembagi terbesar untuk angka-angka itu adalah 13, jadi itu mungkin ada hubungannya dengan nama Embryo dan skill-nya: “Cocytus” dan “gerbang neraka.”

“Apa maksudnya itu?” tanya Baby secara telepati.

Baik, Baby, pikirku menanggapinya. Dalam Komedi Ilahi Dante, Cocytus adalah nama Lapisan Neraka Kesembilan, yang merupakan neraka beku dimana para pengkhianat di tempatkan. Itulah dimana rasul ke tiga belas Kristus dan pengkhianat terbesar dalam agama Kristen, Judas, menerima hukuman. Beberapa berpendapat bahwa selama Penjamuan Terakhir, sebelum mengkhianati Kristus, dia duduk di meja ketiga belas. Dan ada juga fakta bahwa tiga belas dianggap sebagai angka bahaya di agama Kristen.

“Ohh, jadi dia adalah sebuah Embryo berbahaya, kan?” tanya Baby.

Bagiku, setidaknya iya.

Jika semuanya berjalan seperti biasa, aku memiliki kesempatan menang yang tinggi, tapi jika aku membeku sebelum hal itu terjadi, aku tidak akan bisa sampai di hasil itu. Oleh karenanya, aku harus menggunakan salah satu kartu as yang kumiliki, tapi aku tidak bisa mengabaikan La Porte de l’Enfer miliknya. Bagaimanapun, tidak ada jaminan bahwa menggunakannya tidak akan membuatku berubah menjadi patung beku, sama seperti Master lain yang ada di sini.

Oleh karenanya, aku akan memulainya dengan memecahkan misteri di balik skill itu.

“(Liz, aku memerlukan waktu sebentar untuk fokus berpikir, jadi kau prioritaskan untuk menghindar dan bertahan. Selama kau memastikan bahwa dia tidak menyadarimu, aku bisa menyerahkannya padamu.)”

Sesaat kemudian, tubuhku mulai digerakkan oleh Liz, mantelku, mulai bergerak dengan sendirinya. Itu memang tidak terasa nyaman, tapi itu tidak mengganggu proses berpikirku.

Dan dengan begitu, aku mulai berpikir.

Aku melihat sekeliling menggunakan pandanganku, dan hal yang paling menonjol adalah es pucat yang menjebak setiap Master.

Salah satu hal dari patung es yang benar-benar menarik perhatianku adalah mereka masih memiliki ekspresi. Berdasarkan ekspresi mereka, aku bisa memahami bahwa mereka telah dibekukan sebelum mereka menyadarinya. Dengan kata lain, seluruh tubuh mereka langsung membeku sejak awal. Dari situ, aku bisa menyimpulkan bahwa ada empat… tidak, tiga cara skill ini mempengaruhi targetnya.

Pertama, sama seperti yang aku dan Audrey alami: mereka yang membeku sebagian dan semakin meluas seiring berjalannya waktu.

Kemudian patung-patung es di sekitar kami: mereka yang membeku secara instant.

Dan terakhir, ada Baby dan Marilyn: mereka yang sama sekali tidak membeku.

Target dan efek skill yang mereka terima didasarkan pada beberapa kriteria, dan sampai aku mengetahui apa itu, aku tidak bisa menggunakan kartu as-ku karena adanya resiko hal itu akan mengubahku menjadi patung es.

Apakah itu membekukan semua orang kecuali orang yang dia pilih? Pikirku.

Negatif. Jika begitu, maka Baby, Marilyn, dan Liz juga akan membeku.

Apakah itu hanya membekukan manusia?

Negatif. Audrey juga terpengaruh oleh skill itu.

Mungkin besar pembekuan tergantung pada besarnya level dan stats?

Negatif. Itu tidak akan menjelaskan perbedaan efek yang diterima oleh Marilyn dan Audrey, yang hampir sama dalam hal itu.

Mungkin itu secara acak?

Negatif. Itu tidak mungkin, karena skill berbasis keberuntungan tidak cukup bisa diandalkan untuk menjaga lokasi penting atau bertarung melawan banyak individu kuat.

Pasti ada aturan dan syarat tertentu yang mempengaruhi hal itu.

“Oaaaaghh!” sang pilot berteriak dan membuat Magingear-nya menerobos Marilyn dan Baby, menyerbu ke arahku sambil mengangkat pedang di tangan kanannya, siap untuk menebasku.

“Oh?” kataku.

Ok, dia mendekatiku, pikirku. Aku tidak benar-benar bisa sepenuhnya membaca gerakannya sampai aku bisa membongkar rahasia di balik skill-nya, jadi…

Liz sepertinya telah memutuskan dan mencoba menahan serangan itu dengan cara memperkuat bagian mantel yang akan terkena serangan, dan berdasarkan perhitunganku didasarkan pada perkiraan damage, defense milik Liz, serta HP dan END milikku sendiri, aku memiliki kesempatan mati sebesar 70%. Tidak ada hal yang benar-benar bisa kulakukan selama dua detik sebelum pedang itu mengenaiku.

Jadi aku akan menghabiskan dua detik itu untuk memikirkan dan mendapatkan jawaban yang kuperlukan agar aku bisa memperoleh kemenangan jika aku bisa selamat dari serangan ini.

“M…” Dia mulai meneriakkan skill-nya saat aku mengganti pendekatan dari misteri yang ingin kupecahkan.

Nama Embryo dan skill yang mereka miliki pasti ada berhubungan.

Contohnya, Nemesis milik Ray didasarkan pada dewi pembalas dendam dan fokus pada serangan balik, sementara Arc-en-Ciel—pelangi—milik Marie menembakkan peluru yang memiliki beberapa warna berbeda.

“…o…”

Jadi, aku berkonsentrasi pada nama Embryo-nya—Cocytus.

Dalam mitologi Yunani, itu adalah sungai penyesalan, sementara dalam Komedi Ilahi Dante, itu adalah lapisan neraka terbawah, danau beku.

“…t…”

Dari situasi saat ini dan nama skill-nya—“gerbang neraka”—aku bisa menyimpulkan bahwa itu didasarkan pada yang terakhir.

Cocytus adalah neraka yang diperuntukkan bagi mereka yang melakukan pengkhianatan, yang dianggap sebagai dosa terbesar. Di sana, Satan, yang membeku sampai pinggangnya, terus menggerogoti Judas dan pengkhianat lainnya.

Sekarang sudah jelas bahwa nama itu ada hubungannya dengan hitungan 13 detik dan pembekuannya, tapi aku merasa kalau tidak sesederhana itu.

“…o…”

Contohnya, mungkin saja skill itu memiliki efek yang lebih besar pada para pengkhianat. Itu akan menjelaskan kenapa Audrey, yang awalnya adalah mount milik Gardranda, menerima efek terbesar, dan… Tidak, bukan itu. Bagaimanapun, kemungkinan besar tidak mungkin kalau para Master beku yang ada di sini adalah para pengkhianat yang bisa membuat Judas bangga.

“…r…”

Kalau begitu mungkin, sama seperti sebagian besar neraka, itu didasarkan pada sistem karma?

Aku tidak melihatnya di window informasi manapun, tapi pasti ada semacam stats tersembunyi yang mencatat kejahatan yang dilakukan seseorang dan… tidak, itu juga tidak mungkin. Jika begitu, perbedaan damage yang diterima akan menjadi tidak masuk akal. Sama seperti pengkhianatan, sulit dipercayai bahwa setiap dan seluruh Master yang ada di sini memiliki karma negatif yang cukup besar untuk dibekukan dalam sekejap.

“…S…”

Aku tidak bisa benar-benar memahaminya, pikirku. Apakah yang menjadikan skill itu sebagai neraka dan apa yang skill itu anggap sebagai “pengkhianatan”?

Akan jauh lebih mudah jika terdapat semacam catatan yang menampilkan pengkhianatan dalam bentuk angka, dan…

… Hm? Dalam bentuk angka?

“…l…”

Aku menyadari sesuatu yang cocok dengan kriteria itu. Hal itu dapat dengan mudah diartikan sebagai pengkhianatan dan bisa dihubungkan dengan perbedaan efek diantara entitas-entitas yang ada di sini.

“…a…”

Aku telah menemukan jawabanku. Angka ini adalah rahasia dibalik skill-nya, dan besar angka itu adalah yang menentukan kekuatan skill itu.

Bagi Baby dan Marilyn, angka itu adalah 0. Aku telah mendapatkan beberapa tadi. Audrey telah mendapatkan beberapa puluh selama perburuan kemarin. Dan para Master veteran yang menjadikan Gideon sebagai markas mereka memiliki angka itu jauh di atas 100.

“…sh…!”

Benar, angka yang menjadi dasar La Porte de l’Enfer adalah—

Dua detik telah berlalu. Sama seperti yang kuduga, Motor Slash yang dia lancarkan mendarat langsung padaku.

Saat beberapa rambut perak ku beterbangan di atas angin, aku terlempar langsung ke dinding luar Gideon.

***

Ini adalah ingatan dari masa lalu yang belum begitu lama.

Setelah masuk ke Infinite Dendrogram menggunakan penutup kepala di ruang kerja ayahku, secara aneh, aku mendapati diriku berada di ruang kerja lainnya, kali ini memiliki model yang cukup kuno.

“Haloooo dan selamat dataaaang!” di ruang kerja itu, terdapat seekor kucing yang dapat berbicara.

“Aku adalah control AI yang bernama ‘Cheshiiire,’” katanya. “Ada apaaa?”

Saat aku menatap kucing itu, aku merasakan sesuatu yang benar-benar aneh.

Karena edukasi spesial yang kuterima, aku melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang normal lain atau bahkan orangtuaku sendiri, orang yang telah mengajariku. Hanya dengan mengamati seseorang, aku bisa membongkar kebenaran tentang kepribadian mereka atau mengetahui apa yang mereka sembunyikan dibalik perkataan mereka, membuatku kurang lebih bisa menduga apa yang mereka pikirkan.

Dengan mereka yang sudah akrab denganku, tingkat kesuksesan pembaca pikiranku mencapai 99%. Tingkat kesuksesannya tidak akan sebesar itu pada orang atau binatang yang baru kutemui, tapi aku tetap dapat membuat dugaan yang lumayan dari apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Namun, makhluk yang ada di depanku—Cheshire—benar-benar tidak terbaca olehku. Aku merasa seolah-olah dia bahkan tidak masuk ke dalam kategori “kucing,” “manusia,” “atau bahkan “makhluk hidup.” Rasanya seperti aku sedang melihat sesuatu di luar pemahaman manusia yang sedang menyamar menjadi seekor kucing.

“Yah… mungkin itu adalah hal yang biasa bagi control AI…?” gumamku.

“Umm… Apakah ada masalaaah?” tanya Cheshire.

“Oh, bukan apa-apa. Namaku adalah Lucius Holmes. Senang bertemu denganmu.”

Dengan begitu tutorialku pun dimulai.

Tak lama kemudian, kami sampai ke tahap pembuatan karakter.

“Apakah kau akan tetap membuat namamu sebagai “Lucius Holmes”? tanya kucing itu.

“Bisakah?” jawabku dengan sebuah pertanyaan.

“Bisa, tapi itu tidak direkomendasiiiikan.”

Saat aku mulai memikirkan nama lain, aku menyadari sesuatu yang ada di ruang kerja itu.

Itu adalah sebuah papan catur. Bidak-bidak yang diletakkan di atasnya dibuat seolah-olah para pemainnya telah menghilang di tengah permainan, dan salah satu bidak—sebuah benteng—sedang men-skak raja lawan.

“Aku memilih ‘Rook Holmes,’” kataku. Aku memiliki kenangan indah saat bermain catur dengan ayahku, jadi itu terasa agak… tepat untuk mendasarkan namaku pada sesuatu yang berasal dari game.

“Baiklaah. Sekarang, untuk penampilanmuuu,” kata kucing itu.

Aku tidak melakukan banyak perubahan pada bagian itu. Aku menghabiskan bertahun-tahun berlatih untuk bergerak dan bertindak menggunakan tubuhku sendiri, jadi aku membuatnya sama untuk mencegah setiap perasaan tidak nyaman yang mungkin muncul. Satu-satunya yang ku ubah adalah warna rambutku. Bukannya membuatnya tetap berwarna pirang yang kuwarisi dari ayahku, aku membuatnya menjadi perak sama seperti ibuku.

Dengan demikian, aku memulai game-nya.

Di akhir tutorial, Cheshire memberitahuku bahwa aku bebas melakukan apapun yang kupilih di dunia ini. Aku bisa membongkar kebenaran dari dunia ini, hanya memainkannya dan tidak lebih, atau bahkan mungkin hidup di dalamnya. Bagiku, itu terasa seperti latihan yang bagus untuk memilih kehidupan seperti apa yang ingin kujalani.

Di hari pertamaku di Infinite Dendrogram, Embryo yang tertanam di punggung telapak kiriku menetas, dan menciptakan Baby.

“Halooo! Mari mengakrabkan diri, Rook!” Saat itu dia sama persis seperti saat ini.

Aku tidak punya pilihan lain selain bertanya-tanya kenapa dia-lah yang terlahir menjadi Embryo-ku. Cheshire telah mengatakan kepadaku bahwa itu akan dibuat dan berevolusi berdasarkan kepribadian dan pengalamanku sendiri. Aku penasaran kenapa hal itu bisa menghasilkan Baby, dan itu adalah pertanyaan yang sampai saat ini belum kutemukan jawabannya.

Di hari keduaku di Infinite Dendrogram, aku menyadari bahwa, meskipun tidak memiliki skill yang relevan, aku bisa menggunakan teknik yang kudapatkan di dunia nyata tanpa masalah. Dunia ini memiliki sense skill seperti “Mental Analysis,” tapi aku merasa bahwa mereka lebih lemah dari kemampuan sejenis yang seseorang bawa dari dunia nyata.

Bagaimanapun, tidak seperti game on-screen, Infinite Dendrogram, memiliki avatar yang memungkinkanku menggunakan teknikku dan menganalisa orang yang mengendalikan mereka.

Di dunia nyata, aku menggunakan kemampuan ini untuk mengetahui wajah sebenarnya dari orang yang ku ajak berbicara dan menentukan apakah mereka layak di percayai. Pikiran seseorang berbeda dengan ekspresi yang mereka tunjukkan. Khususnya sering ditemukan mereka yang terlihat ceria, tapi sebenarnya memiliki hati yang murung. Itu adalah sesuatu yang bisa kumaklumi, karena itu hanyalah bagian alami dari kondisi manusia.

Dan itulah sebabnya pertemuan pertamaku dengan Ray benar-benar mengejutkanku.

Bagaimanapun, tidak ada perbedaan dari bagaimana dia kelihatannya dan bagaimana dirinya yang sebenarnya.

Bahkan Nemesis miliknya tidak memberikan kejutan kepadaku sebesar dirinya.

Apa yang membuat keberadaannya penuh teka-teki adalah fakta bahwa avatar Infinite Dendrogram miliknya sepertinya tidak ada bedanya dengan dirinya sebagai seorang player.

Dunia ini disajikan sebagai sebuah game, jadi ada perbedaan antara player dan peran yang mereka ambil untuk avatar mereka. Tapi Ray tidak menunjukkan tanda-tanda pamer, memainkan beberapa peran, atau menyembunyikan masalah yang dia miliki di dunia nyata.

Awalnya, kupikir Infinite Dendrogram telah mengurangi keefektifan dari kemampuan pengamatan orang milikku, jadi aku menjadikannya sebagai tujuan utamaku untuk membongkar misteri di balik dirinya, dan aku mencapai sebuah kesimpulan lebih cepat dari yang kuduga.

Aku telah berbicara dengannya, bertemu lagi dengannya, bertarung di sisinya saat kami menghadapi gerombolan Goblin dan Gardranda, dan itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk mengetahui bahwa Ray pada dasarnya adalah dirinya sendiri—orang jujur yang tidak menyembunyikan apapun. Di dalam harinya, dia tidak merasakan perbedaan di antara kedua dunia.

Keteguhan hati yang dia tunjukkan selama pertarungan melawan para Goblin dan Gardranda, kesedihan di matanya saat dia menceritakan tentang anak-anak yang hilang selama pertarungannya melawan Gouz-Maise Gang, dan kemarahan yang saat ini dia rasakan terhadap Franklin, semuanya benar-benar nyata.

Ray tidak sedang memerankan seorang karakter bernama “Ray Starling”—dia berdiri di dunia ini tidak lain sebagai dirinya sendiri, dan menempatkan keberadaannya di dunia nyata ke dunia ini.

Dia bisa dengan segera memilih apa yang harus dia lakukan di tempat dan waktu tertentu, dan dia selalu melakukan yang terbaik untuk mencapai tujuannya, tidak peduli kesulitan apa yang menunggunya dan tidak peduli seberapa rendah kemungkinan keberhasilannya.

Ray hidup dengan sebenar-benarnya dan penuh kesungguhan.

Tidak sepertiku, yang selalu ragu-ragu, dia selalu membuat hatinya memberikan jawaban untuk apa yang akan dia berikan segalanya.

“Maksudku, itu akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.”

Ray adalah seseorang yang selalu memiliki tindakan yang tidak akan dia sesali dan selalu bersungguh-sungguh untuk mencapainya, dan itulah sebabnya aku ingin mendukungnya. Aku adalah seseorang yang bahkan tidak bisa memiliki jalan hidupnya sendiri, tapi melihat Ray dan kejujuran yang dia tunjukkan saat memberikan semua yang dia miliki untuk menghadapi tantangan di hadapannya membuatku ingin membantunya.

Demi dirinya dan di sisinya, aku ingin bertarung di Infinite Dendrogram.

Oleh karenanya…

***

“… Aku akan mengalahkanmu di sini dan sekarang juga,” tegasku saat flashback sesaatku berakhir dan aku berdiri dari puing-puing dinding luar, menghadap Magingear yang di piloti oleh Hugo Lesseps dan Embryo-nya, Cocytus.

“Untuk ukuran seorang Pimp, kau benar-benar tangguh,” katanya. “Aku tak menyangka kau bisa bertahan setelah menerima serangan itu.”

Aku sependapat dengan hal itu. Aku telah memperhitungkan kemungkinan selamatku pada kisaran 30%, tapi bahkan aku sendiri terkejut dengan kecilnya damage yang diberikan serangan itu kepadaku.

Kemungkinan besar yang jadi penyebabnya adalah tangan kanan Magingear itu. Hanya dengan melihatnya, aku bisa memahami bahwa kerangka dibawah armor es-nya sudah bengkok.

Itu disebabkan oleh Vengeance is Mine milik Ray, dan efeknya pada tangan itu telah benar-benar menurunkan damage yang kuterima dari serangan itu.

“Aku tidak boleh kalah di sini,” kataku.

“Heh,” tawa Hugo. “Jangan berharap kau akan beruntung di serangan selanjutnya. Dan juga…”

Aku benar-benar mengetahui apa yang ingin dia katakan. Es yang ada padaku telah mencapai bagian atas bahuku.

Fakta bahwa serangan itu tidak menghancurkan lenganku adalah sebuah keberuntungan besar.

“… La Porte de l’Enfer terus mengonsumsimu,” lanjutnya.

“Benar,” jawabku. “Kau mungkin sudah mempersiapkan kemenanganmu.”

Aku terdiam sesaat, menenangkan nafasku dan kembali berbicara.

“Bagaimanapun… aku mengalahkan beberapa manusia di pertarungan alun-alun melawan para player killer.”

Itu adalah bagian dari kesimpulan yang kucapai.

“… Apa maksud dari hal itu?” tanyanya, dan jeda sesaat sebelum jawabannya adalah konfirmasi terakhir yang kuperlukan.

“Itulah dasar dari skill-mu, kan?” tanyaku.

Bahkan lebih banyak konfirmasi tidak akan merugikanku, jadi aku membuka menu-ku—memastikan agar Hugo dapat melihatnya—dan melihat ke arah window tempat terletaknya inti dari skill yang bernama “La Porte de l’Enfer.”

“Window catatan pertarungan, bagian tambahan, penghitung jenis makhluk yang dibunuh,” lanjutku. “Efek La Porte de l’Enfer di dasarkan pada ‘jumlah bunuh dari jenis makhluk yang sama dengan diri kita’, bukan?”

Penghitung jenis makhluk yang dibunuh mencatat total kill yang dipisahkan berdasarkan jenis makhluk-nya, seperti undead, beast, avian, dragon, devil, elemental, demon… atau human—manusia.

“’Pengkhianatan’ yang Cocytus hitung adalah jumlah bunuh dari makhluk yang berjenis sama denganmu, itulah yang menentukan kekuatan La Porte de l’Enfer,” aku terus berbicara.

Dia tidak mengatakan apapun.

“Jumlah ‘manusia’ yang telah kubunuh adalah 7. Dan sungguh kebetulan… sepertinya tubuhku membeku sebanyak 7% setiap kalinya.”

Aku juga telah mengakses jumlah bunuh milik Audrey. Jenis-nya adalah “avian,” dan dia telah membunuh banyak makhluk berjenis seperti itu selama perburuan kemarin. Jumlah tepatnya adalah 58%, jadi masuk akal kalau skill itu telah membekukan lebih dari separuh tubuhnya.

Saat ini kami belum pernah bertarung melawan makhluk berjenis devil atau dragon, jadi jumlah bunuh milik Baby dan Marilyn adalah 0, yang menjelaskan kenapa mereka sama sekali tidak membeku.

Dan, tentu saja…

… itu termasuk pembunuhan yang dilakukan di dalam barrier duel city seperti kota ini, pikirku. Mereka yang sering mendatangi kota ini mungkin telah membunuh ratusan orang.

Para Master veteran yang berkumpul di duel city Gideon kemungkinan besar telah menghabiskan banyak waktu di arena, dan meskipun itu terjadi di dalam barrier, mereka mungkin telah membunuh lebih dari 100 manusia.

“Sebagai tambahan, jumlah itu juga mempengaruhi kesempatan pembekuan terjadi setiap 13 detik, kan?” tanyaku.

Kadang-kadang, aku bisa lolos tanpa membeku, sementara para Master lainnya langsung membeku sepenuhnya sejak awal.

“Deskripsi dari skill La Porte de l’Enfer adalah ‘Memberikan kesempatan X% untuk membekukan X% tubuh sang target setiap 13 detik. X adalah angka dari jumlah bunuh milik target pada jenis makhluk yang sama dengan target.’ Apakah aku benar?”

Itu artinya aku memiliki kesempatan 7% untuk membekukan 7% tubuhku setiap 13 detik, sementara mereka yang memiliki jumlah bunuh 100 atau lebih memiliki kesempatan 100% untuk membeku sepenuhnya. Skill itu juga mengabaikan resistensi sampai batas tertentu, mengingat tidak mungkin setiap Master yang ada di sini tidak memiliki apapun yang menurunkan efek dari debuff Frozen.

“Skill ini adalah alasan kenapa kau berjaga di sini,” lanjutku. “Sebagian besar Master kerajaan yang ada di duel city Gideon ada di sini karena arena, jadi skill-mu tidak lain adalah musuh alami mereka. Masuk akal untuk memintamu memblokir rute pelarian.”

Mereka yang telah bertarung melawan banyak sesama mereka dan menjadi kuat selama prosesnya akan mendapati pengalaman itu berbalik melawan mereka. Setiap dan seluruh pengkhianat, pembunuh sesama mereka, akan terbungkus es dari neraka beku.

“Sebuah tebakan yang menarik, tapi itu hanya didasarkan pada bukti yang ada,” kata Hugo. ”Bagiku, persyaratan yang kau sebutkan sepertinya hanya kebetulan sesuai dengan hasilnya.”

“Ha ha ha,” aku tertawa. “Nadamu barusan baru saja membuktikan kalau aku benar. Kau buruk dalam berbohong dan membodohi orang, bukan?”

Aku bisa mengetahuinya bahkan tanpa melihat wajahnya.

“Dan itulah sebabnya aku membencimu,” tambahku.

“Itu bukan pertama kalinya kau mengatakannya,” jawabnya. “Jika aku boleh bertanya, apa yang kau maksud dengan ‘dan itulah sebabnya’? Apakah kau menyukai orang yang pandai berbohong?”

Perkataannya membuatku menghembuskan nafas panjang.

Dia masih tidak memahaminya, pikirku… Tidak, dia mungkin memahaminya.

“Tentu saja aku tidak menyukai orang yang bisa berbohong dengan baik… tapi aku membenci mereka yang membuat keraguan hati dan ketidakjujuran mereka tampak sangat jelas,” jawabku.

“… Apa?”

Yah, sekarang, haruskah aku mengatakannya? Jika aku terlalu banyak memprovokasinya, waktunya mungkin… kau tau, aku hanya akan membuatnya sedikit kasar dan agak panjang. Dia mungkin adalah tipe yang akan marah setelah mendengarkan seseorang.

“Kau sama seperti Ray, bukan?” tanyaku. “Maksudku, salah satu dari mereka yang menganggap dunia ini sebagai sebuah dunia, bukan sebuah game, kan?” kataku. “Meskipun begitu, tindakamu begitu… menjengkelkan.”

“’Menjengkelkan’?” ulangnya.

Aku mengumpulkan sedikit rasa depresi yang kurasakan darinya dan mengungkapkannya dalam perkataan.

“Aku jengkel karena kau mengambil peran dalam permainan Franklin dan terlibat dalam tragedi ini, tapi kau berbicara dan berperilaku dengan cara mencari-cari alasan seperti ‘Aku harus’ atau ‘Tidak ada pilihan lain.’ Aku jengkel pada bagaimana kau memutar alasanmu untuk mencoba dan membenarkan tindakanmu, tapi kau memberinya kesan “Oh Aku begitu buruk,’ pada dasarnya membuat alasan untuk alasanmu. Lalu ada juga percakapanmu dengan Ray. Aku jengkel pada bagaimana kau, dengan segala keraguanmu, mempunyai hati untuk menghalangi jalannya. Aku jengkel karena kau bahkan mereka bersalah setelah melakukannya, tapi kemudian kau hanya memikirkan sesuatu seperti ‘Dosa lainnya di catatanku,’ pada dasarnya berkubang dalam kesalahanmu sendiri. Berbicara soal berkubang, aku jengkel pada bagaimana kau merasa begitu puas dengan dirimu sendiri sampai-sampai kau berbicara dengan gaya teatrikal itu. Sungguh, rasa jengkelku padamu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”

Saat aku mengatakan hal itu, aku sadar bahwa aku bahkan lebih jengkel dari pada yang kuduga. Tapi, kecerewetan mulutku mengalahkanku, dan aku tidak bisa berhenti.

“Oh, dan aku juga jengkel pada desain mirip gereja itu!” tambah Baby. “Kami benar-benar sudah selesai dengan kalian!”

“K-Kau…!” kata Hugo penuh kemarahan.

“B-Bunuh…!” Embryo-nya ikut-ikutan.

Begitu… “selesai,” huh? Pikirku. Kalau begitu, kurasa itu sudah cukup. Sekarang, untuk sentuhan akhirnya.

“Ya ampun… Kau benar-benar penuh keraguan untuk berbelok kemana, kau tidak bisa jujur dengan dirimu sendiri, kau berkubang di dalam tragedi yang rela kau ikuti… Kau sangat mirip dan bahkan lebih buruk dari seseorang tertentu yang membuatku tidak punya pilihan lain selain menganggapmu menjengkelkan dan menjijikkan.”

Sebagai akhir dari hal itu, aku hanya memiliki satu kata yang ingin kukatakan kepada”nya.

“Berhentilah berkubang di dalam keraguan dan penderitaan yang begitu banyak… nona muda.”

“Kh…!” Perkataan provokasiku menyebabkan sebuah ledakan dari Magingear pucat itu.

Robot itu menyerbu ke arahku dengan seluruh kecepatan yang dia miliki, secepatnya ingin membuatku masuk ke dalam jangkauan pedangnya, dan pedang yang ada di tangan kirinya mungkin akan digunakan untuk mengakhiriku.

Aku memperkirakan ada waktu sekitar tiga detik sebelum pedang itu menancap di kepalaku dan membelahku menjadi dua. Kekuatan yang ada di baliknya bukanlah sesuatu yang dapat ditahan oleh defense milik Liz, dan kemungkinan besar aku tidak dapat menghindarinya. Namun, hal itu tidak diperlukan.

Bagaimanapun, kami telah melakukan persiapan.

“Union Jack,” kataku, jauh sebelum waktu tiga detik ku habis.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    haha..kena provokasi hugo si nona muda

    Like

  2. Terima kasih!
    Terus lanjutkan!

    Like

  3. SA IDUN says:

    tanks min.. lanjutkan..

    Like

  4. Kotoba says:

    Terima lasih atas chapternya 🙂

    Like

Leave a Reply to alone698 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s