Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 4.5

Volume 4
Chapter 4.5 – Setting

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Paladin, Ray Starling

“Hh… Apa?!”

Saat aku, Rook, dan tiga gadis newbie yang mengikuti kami menyusuri jalan menuju gerbang barat Gideon, kami kewalahan oleh suara kehancuran yang begitu keras sampai-sampai aku ingin menutup telingaku. Suara itu berasal dari sebelah kiri kami—distrik kesembilan kota.

Itu berasal dari arah yang sama dengan dimana kami mendengar sebuah alunan musik.

Aku merasa heran karena ada orang yang memainkan musik di saat seperti ini, tapi suara ledakan yang baru saja mencapai kami sudah pasti adalah sesuatu yang lebih dari itu.

Apa yang terjadi? Pikirku.

“Apakah itu tempat dimana Franklin berada?” tanyaku pada diri sendiri saat aku ragu apakah kamu harus melanjutkan perjalanan ke gerbang barat atau berganti arah ke distrik kesembilan.

“Sepertinya, dia tak termasuk orang-orang yang bertarung di sana,” kata Rook sebelum aku mulai merenung.

Sepertinya tidak mungkin Rook menyadari sesuatu yang tidak kusadari, tapi aku merasa aneh karena dia menggunakan kata “sepertinya.”

“Oh, itu hanya pendapatku,” tambahnya. “Aku mendapatkan informasi itu dari dirinya.” Mengatakan hal itu, Rook melihat ke arah salah satu gadis yang mengikuti kami.

Untuk sekedar catatan, sementara aku menaiki Silver dan Rook menunggangi Marilyn, ketiga gadis itu menaiki makhluk mirip burung unta berbulu tebal yang bernama “Landwing”—tampaknya, monster yang paling mudah ditunggangi.

Bagaimanapun, gadis yang Rook tatap sedang memegang lempengan mirip nampan di tangannya sambil menunjukkannya kepada kami. Lempengan itu menampilkan peta wilayah dari arena pusat sampai ke gerbang selatan Gideon, dengan angka-angka romawi dari I sampai VI tersebar di atasnya.

“Apa ini, uh…?”

Oh, iya, aku belum menanyakan nama mereka, pikirku.

“N-Namaku adalah Kasumi…” katanya dengan pelan. ‘A-aku adalah seorang Summoner dan i-ini adalah Embryo-ku… Taijitu.”

Taijitu… pikirku, memproses hal itu. Didasarkan pada Pelantikan para Dewa, kurasa.

Ngomong-ngomong, dua gadis lainnya adalah Io dan Fujinon, yang masing-masing merupakan seorang Barbarian Fighter dan Mage.

“Taijitu-ku menunjukkan, uh… lokasi para Master dalam area tertentu beserta bentuk Embryo mereka…” kata Kasumi, menjelaskan kemampuan Embryo-nya.

“Menurut data… a-ada dua orang Master di distrik kesembilan, tapi mereka berdua berada di bentuk keenam… ja-jadi kurasa mereka bukan Franklin.”

“… Sungguh Embryo yang berguna,” kataku.

Melihat ke arah lempengan seperti nampan, aku bisa melihat tanda “VII” yang sedang mengarah ke gerbang barat, dan bisa disimpulkan kalau itu adalah Franklin. Berkat Kasumi, aku bahkan tidak harus mempertimbangkan untuk mengubah arah.

“Ti-Tidak, A-Aku hanya… umm… A-Aku tidak bisa melakukan apa-apa dalam per-pertarungan di alun-alun, jadi… A-Aku… Aku minta maaf…”

“Kenapa kau meminta maaf?” tanyaku.

“Iya, ‘kenapa’.” Nemesis satu pemikiran denganku. Bagaimanapun, Kasumi baru saja banyak membantu kami.

“Uohh…” Dia menyembunyikan wajahnya sambil bergerak untuk bersembunyi di belakang kedua gadis lainnya. Anehnya dia sangat hebat mengendalikan kekangnya.

“Maaf soal itu!” kata Io. “Teman kami Kasumi adalah tipe pemalu, seperti yang kau lihat! Oh, tapi dia adalah orang yang memiliki keberanian untuk memberitahu kami agar pergi bersama kalian berdua! Bagaimanapun, kami mempunyai seorang lelaki tampan berambut putih dan pemuda berambut pirang yang terlibat B-elRGHH[1]!” Sebelum Io dapat menyelesaikan perkataanya, Fujinon—yang terakhir dari mereka bertiga—memotongnya dengan pukulan backhand ke pinggangnya.

Eh? Apa yang hendak dia katakan?

“Maaf soal si bodoh ini,” kata Fujinon. “Oh, kami mengikuti kalian hanya karena kami melihat kalian bertarung di alun-alun dan jadi sangat tertarik.”

“O-Oke?” jawabku.

Aku tidak terlalu yakin, tapi aura yang ada di sekitar Fujinon membuatku merasa kalau menggali hal itu lebih jauh bukanlah ide yang bagus.

“Kalian bertiga terlihat sangat akrab,” kata Rook. “Apakah kalian sudah lama saling kenal?”

“Ya,” angguk Fujinon. “Kami satu sekolah dan sama-sama berada di klub literatur.”

Teman di dunia nyata, huh? Pikirku. Tak heran mereka bersikap begitu akrab.

“Di mataku, orang yang paling akrab adalah kau dan Kuma-niisan,” komentar Nemesis.

Yah, kami sudah menjadi saudara selama delapan belas tahun sekarang… Uh, tapi kurasa itu tidak berlaku pada kakak perempuanku. Dia… Dia hanya terlalu…

“Ray! Ada apa?!” Nemesis berteriak ke dalam pikiranku.

Ah! Sial, kesadaranku hampir lari dari kenyataan.

“Aku sudah penasaran dengan hal ini sejak lama… apa yang terjadi pada kakak perempuanmu?” Tanya Nemesis. “Sama seperti masalah kacamata, aku tidak bisa melihat satupun ingatanmu tentang dirinya.”

Tolong, jangan tanya. Keberadaannya sendiri jauh lebih tidak masuk akal dari pada Shu. Dia bahkan tidak berada di genre yang sama dengan kita.

“Pokoknya, sekarang kita bisa pergi ke gerbang barat tanpa keraguan,” kataku.

Melihat kecepatan kami saat ini, kami akan tiba di sana dalam lima menit atau lebih. Namun, meskipun aku tidak mengatakannya dengan keras, Aku punya dua pertanyaan di dalam hatiku. Keduanya berhubungan degan peta yang ditampilkan oleh Taijitu.

Pertanyaan pertama adalah tentang arena pusat, tempat yang saat ini sedang menjebak Master yang ada di dalamnya.

Di peta itu, terdapat empat tanpa “VII,” yang mewakili Superior. Dua dari mereka kemungkinan besar adalah Figaro dan Xunyu. Meskipun Xunyu mungkin tidak muncul di peta karena barrier panggung telah berhenti tepat setelah dia dikalahkan.

Berdasarkan hal itu, siapa dua—atau tiga—Superior lainnya?

Pertanyaan lainnya adalah tentang daerah sekitar gerbang barat, tempat yang sedang kami tuju.

Berdasarkan Taijitu, terdapat puluhan Master di sana. Mereka terdiri dari berbagai macam bentuk Embryo, dari II sampai VI. Aku menduga bahwa seorang Master dengan Embryo mirip radar seperti Taijitu telah menemukan dimana Franklin berada dan kemudian pergi dan berkumpul dengan tujuan untuk bertarung dengannya di gerbang barat.

Itu adalah kebetulan yang sangat bagus. Bagaimanapun, kami harus menghentikan Franklin, tapi kami kekurangan jumlah anggota.

Namun, pendapatku itu hampir saja musnah saat aku menyadari kalau mereka tidak bergerak sama sekali.

Taijitu sama seperti sebuah radar aktif, tapi para Master yang ada di gerbang barat sama sekali tidak bergerak, seolah-olah mereka hanyalah gambar.

Hanya ada satu pengecualian, yaitu Master yang berada paling dekat dengan gerbang, yang ditandai dengan simbol “III.” Dia melakukan pergerakan kecil.

Karena suatu alasan, tanda itu membuatku merasa agak gelisah.

***

Duel city Gideon, wilayah sekitar gerbang barat

Ini terjadi beberapa menit sebelum Ray melihat peta Taijitu.

Sekitar dua puluh Master kerajaan baru saja sampai di gerbang barat.

Mereka semua adalah para Master yang tidak berada di arena saat tempat itu disegel, dan yang kebetulan tidak bertemu Veldorbell setelah permainan ini dimulai.

“Ini tempatnya, kan?” tanya salah satu dari mereka.

“Ya. Cukup jelas kalau Franklin berencana melarikan diri lewat sini.”

Menggunakan skill job atau Embryo mereka untuk memperkirakan arah mana yang dituju Franklin, mereka berkumpul di gerbang utara dengan tujuan untuk menyergapnya.

Perkiraan dan pilihan mereka benar, karena Franklin lima menit lagi akan sampai di sana.

Mereka baru saja hendak bersiap untuk kedatangannya, tapi…

“… Apa itu?” Mereka melihat sebuah papan penanda aneh. Papan itu diletakkan di tengah jalan dengan posisi yang sangat aneh.

Kalimat yang ada di sana tertulis dalam bahasa benua, dan bagi para Master—yang dilengkapi dengan terjemahan otomatis—kalimat itu berbunyi:

Tidak ada Master yang boleh melewati tanda ini.

“Bukankah itu sebuah peringatan?” tanya salah satu dari mereka sambil memeriksanya. “Apa-apaan in—“

“Tunggu! Ada sesuatu disebelah sana!” Salah satu Master menunjuk ke arah seberang papan peringatan.

Di sana terdapat sebuah sosok besar, berdiri di depan gerbang untuk mencegah siapapun lewat. Sosok itu adalah milik Marshall II—tidak, Marshall II Revised. Itu adalah senjata berbentuk humanoid yang dibuat oleh Triangle of Wisdom dan disesuaikan untuk digunakan oleh seseorang tertentu.

“Itu adalah Magingear dari Dryfe, kan, tetapi itu berbeda dari versi resmi-nya atau yang diselundupkan ke Caldina,” kata Master lainnya. “Kita mungkin sedang berhadapan dengan salah satu anggota Triangle of Wisdom. Setidaknya, dia tidak terlihat seperti para player killer yang ada di kota.”

“Mungkin dia ditempatkan di sini untuk memastikan agar Franklin bisa pergi dengan aman.”

“Robot itu memiliki stats yang lebih tinggi daripada Marshall II rata-rata, tapi paling bagus, dia hanya dua kali lebih kuat dari Demi-Dragon.”

“Kalau begitu, kurasa dia tidak akan terlalu merepotkan kita.”

Para Master mengukur potensi tempur robot itu menggunakan skill Reveal dan Identification. Metode itu bukan tanpa kesalahan. Bagaimanapun, skill tersebut tidak dapat melihat stats atau skill milik pilot Marshall II. Namun, sudah jelas bahwa para Master itu melampauinya dan robotnya dalam hal jumlah dan pengalaman.

“Jumlah kita lebih banyak,” kata salah satu dari mereka. “Kita tidak akan kalah bahkan jika dia menggunakan Embryo-nya.”

“HA HA! Ayo kita pergi ke gerbang dan menunggu Franklin! Aku tak sabar melihat wajahnya saat kita menyergapnya!”

“’Tidak ada Master yang boleh melewati ini…’ Heh. Kau kira kami peduli.”

Dengan demikian, para Master melewati tanda itu dan berlari ke arah Marshall II R. Seolah-olah sudah menunggu hal itu, pilot robot itu berbicara.

“Cyco… ‘La Porte de l’Enfer.’”

“Roger.”

Dalam sekejap, Marshall II R terselimuti armor beku dan wilayah sekitarnya mengalami perubahan drastis. Semua yang berada dalam radius 200 metel—dari papan penanda sampai ke pintu gerbang—langsung membeku. Tentu saja, para Master bukanlah pengecualian.

“La Porte de l’Enfer—musuh mati,” kata sebuah suara feminin dari dalam robot beku itu.

Perkataannya tidak tepat, karena tidak ada seorangpun yang mati. Mereka hanya membeku.

“Eh? Huh? Semuanya? Apa?” teriak seorang Master.

“… itu adalah sebuah skill Embryo!” teriak Master lainnya.

Mereka berdua tidak memiliki sedikitpun es pada tubuh mereka.”

“Begitu, kurang dari 100,” kata sang pilot. “Mereka tidak akan terlalu merepotkan, sih.”

Tiga belas detik kemudian, tubuh bagian bawah milik salah seorang Master yang tersisa langsung membeku.

“Apa-apaan ini?!” teriaknya.

“Hei, apakah kau baik-baik saja?!” Yang satunya tetap tidak membeku.

“Jumlahnya rendah,” kata suara sang gadis. “Dia mungkin seorang job support.”

“Seorang Priest atau sejenisnya, huh?” kata sang pilot. “Baiklah, kalau begitu.” Tiba-tiba, robot itu mengarahkan senjata yang ada di tangan kirinya—LRW03 Huge Grenade Launcher—ke arah kedua Master yang tersisa dan menembakkannya beberapa kali.

Dengan dampak yang kuat, granat-granat itu meledak dan menyelimuti wilayah sekitar dengan api.

Pada saat asapnya memudar, kedua orang itu telah mendapatkan death penalty dan tidak ada lagi di dalam pandangan. Tidak hanya itu, tapi patung beku yang kebetulan terkena ledakan juga hancur berkeping-keping dan berubah menjadi partikel cahaya.

Beberapa patung yang tidak terkena ledakan juga berubah menjadi partikel. Mereka menggunakan fitur bunuh diri untuk secara paksa mendapatkan death penalty. Mereka mungkin tidak ingin menjadi Exp musuh atau mendapati equipment mereka tercuri saat sedang membeku.

Sang pilot tidak punya niat untuk menghancurkan mereka atau mengambil item mereka, tapi mereka tidak mungkin mengetahui hal itu.

Pilot yang ada di kokpit mendesah. Apa yang barusan terjadi lebih terlihat seperti pembantaian dari para pertarungan, tapi sang pilot kurang-lebih sudah yakin kalau itu akan berakhir seperti ini. Itulah alasan kenapa dia ditempatkan di sini.

Sang pilot dan Embryo-nya adalah musuh alami bagi siapa saja yang menjadikan kota ini sebagai tempat tinggal mereka.

“Ini adalah pembeku yang kuat,” kata seseorang yang berdiri di samping papan penanda. “Tapi itu tidak akan berpengaruh padaku.”
Orang itu—yang tidak termasuk di dalam kelompok sebelumnya—benar-benar terbungkus oleh api, membuat sosoknya agak susah dibedakan. Rambut acak-acakan dan tubuh terbakar milik pria itu cukup dikenal oleh mereka yang akrab dengan Gideon.

“Sebuah Embryo yang menjadi semakin kuat saat kau memenuhi kondisi rumit tertentu, huh?” katanya. “Yah, Surt milikku adalah Embryo berbasis api terkuat di kerajaan! Tidak ada hawa dingin yang bisa membekukannya!” Dia adalah peringkat tujuh di duel ranking Kerajaan Altar. Namanya adalah…

“Aku Raging Blaze, Bishmal! Cobalah dan bekukan api ini!”

Seperti sebuah erupsi gunung berapi, Bishmal membuat api menyembur dari seluruh tubuhnya saat dia berlari ke arah Marshall II R. Sekilas pandang saja sudah cukup untuk mengetahui bahwa api itu benar-benar panas.

Tapi sayangnya…

“Kau tidak bisa lewat.”

… pria yang terbungkus api terkuat di kerajaan langsung membeku dalam sekejap. Meski begitu, dia masih berkobar. Ekspresi yang ada di wajahnya adalah sebuah senyum gigih, menunjukkan keyakinan kalau tidak akan meraih kemenangan.

“La Porte de l’Enfer-ku mengabaikan suhu,” kata armor beku milik Marshall II R—sebuah Embryo yang dipanggil Cyco.

Dikelilingi oleh patung beku, sang pilot, Hugo Lesseps, menggelengkan kepalanya. “Para Master Gideon memang tangguh. Mereka semua adalah para veteran yang jauh lebih kuat dariku dan jauh lebih berpengalaman dalam pertarungan melawan orang lain. Dan itulah sebabnya mereka tidak akan pernah bisa menang melawanku.”

Benar sekali, orang yang menyegel gerbang barat tidak lain adalah Hugo Lesseps—Master yang sama dengan yang telah membantu Ray menangani Gouz-Maise Gang.

Saat ini dia sedang berada di atas permainan Franklin, bertindak dibawah codename “heart.”

*

Saat pertarungan antara Marie dan Veldorbell berakhir, Franklin dan gadis yang dia culik, Elizabeth, sedang dalam perjalanan menuju gerbang barat.

Meskipun serangan Marie telah menyebabkan Night Lounge berada di ujung kematian, dia masih mampu untuk terbang, meski dengan susah payah. Elizabeth, yang pingsan, sedang tertidur di atasnya.

“… Sepertinya kita telah kehilangan Veldorbell,” kata Franklin saat dia memeriksa peta pada perangkatnya, yang tidak lagi memiliki penanda klub di atasnya.

Penanda biru yang ada di sebelahnya saat dia menghilang juga sudah tidak ada, tapi Franklin tidak tau apakah itu karena kematiannya atau hanya karena dia menggunakan skill stealth sama seperti yang dia gunakan sebelum menyerangnya.

“Hmm…” Franklin mengepalkan dan membuka tangan kirinya. Tindakan itu terasa agak lambat.

“Racun pelumpuh, huh?” katanya. “Pasti sangat kuat karena masih bisa memiliki efek seperti ini bahkan setelah aku menggunakan Elixir.”

Franklin menduga bahwa belati yang telah menyayat lehernya adalah sebuah special reward yang berfokus pada racun pelumpuh. Dia benar, karena senjata Marie adalah Palsy Stingblade, Belspan: sebuah belati yang spesialis pada racun pelumpuh bereaksi lambat.

“Tapi bukan berarti aku akan berada dalam masalah hanya karena aku tidak bisa mengangkat sebuah jari,” katanya. Baginya, masalah yang diberikan Superior Killer kepadanya hanyalah damage pada Night Lounge dan kekalahan Veldorbell. Dan bicara soal yang terakhir, Franklin tidak percaya bahwa King of Orchestra akan kalah tanpa perlawanan.

“Superior Killer itu mungkin tidak punya kekuatan lagi untuk melawanku,” gumamnya. “Dan kupikir kami tidak akan memiliki pengecualian lain yang selevel dengan dirinya, jadi… kurasa aku hanya perlu waspada pada kemungkinan munculnya satu atau dua Superior, dan…”

Ada juga pengecualian lain. Franklin telah melihat rincian tentang pertarungan yang terjadi di alun-alun, dimana para newbie telah berhasil menang melawan para pengkhianat.

Sambil mendekati gerbang barat, Franklin meneliti bagaimana hal itu bisa terjadi, dan menyadari bahwa dua newbie telah melakukan pencapaian besar yang membuat mereka terlihat lebih menonjol dari newbie lainnya.

Tentu saja, karena merupakan seorang newbie, mereka lebih lemah dari high-rank Master di sekitar kota. Namun, Franklin cukup berpengalaman untuk mengetahui bahwa orang-orang seperti mereka tidak oleh diremehkan. Belum lagi bahwa dia sudah familiar dengan salah satu dari kedua newbie itu.

“Jika aku tau hal ini akan terjadi, aku tidak akan bermain-main dengan telinga anjing itu, dan memberikan racun instadeath dengan dosis tepat kepadanya,” gumam Franklin.

Dia mengacu pada apa yang dia lakukan kemarin. Jika Franklin membunuh Ray saat itu, ada kemungkinan bahwa dia akan memposting hal itu di internet, yang akan membawa kehancuran pada rencananya. Karena itu, ilmuwan itu hanya bermain-main dengannya sambil mendapatkan beberapa informasi selama prosesnya, tapi hal itu malah balik menggigitnya.

Hal ini mungkin akan jadi berbeda jika aku membunuhnya disana saat itu juga, pikirnya. Sejauh yang kutahu, Superior killer tidak akan bergabung ke dalam pesta jika dia melakukannya… tapi kurasa aku terlalu memikirkannya.

“Pertama Old Orchard, sekarang ini… si bangsat itu selalu saja menghalangi jalanku!” gerutu Franklin. “Yah, itu tidak jadi masalah lagi.” Dia menyeringai. “Aku mempunyai data, dan RSK sudah selesai. Kalau begitu, menghancurkannya secara langsung pasti akan sangat memuaskan, dan beberapa kamera akan membuatnya lebih baik.”

Tak lama kemudian, Night Lounge itu tiba di gerbang barat dan jatuh ke tanah. Mengingat parahnya kondisinya, itu adalah hal yang wajar. Tidak bisa kembali ke dalam Jewel, Night Lounge itu menghembuskan nafas terakhir saat dia berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.

“Aku mengeluarkan 70,000,000 lir untuk hal itu… Oh yah, aku hanya perlu membuat yang selanjutnya menjadi sedikit lebih keras.’

Franklin mengambil Elizabeth menggunakan tangan kanannya, yang tidak mati rasa, dan berjalan menuju gerbang. Pada saat itu, papan penanda yang mengatakan “Tidak ada Master yang boleh melewati tanda ini” memasuki pandangannya.

“Kurasa aku ingat hal ini,” kata Franklin. “Ini berasal dari cerita rakyat Jepang. Dan salah satu yang paling cerdas, kurasa. Sungguh nostalgia.”

Franklin dengan santai melewati papan penanda itu dan melihat area di sekitar gerbang. Dia melihat sebuah pejuang robot, berdiri di sana seperti penjaga pintu Neraka.

Deskripsi itu sangat tepat. Bagaimanapun, area yang menjadi es dan banyaknya Master beku yang berserakan di seluruh area sekitar membuat pemandangan itu sangat mirip dengan Neraka Lingkaran Kesembilan.

“Tontonan yang wow,” kata Franklin saat dia berjalan melalui area itu, terlihat benar-benar terhibur.

Dia tidak menunjukkan tanda-tanda membeku seperti Master lainnya.

Faktanya, dia sama sekali tidak merasa dingin, dan hal yang sama juga berlaku pada tian yang sedang dia pegang, Elizabeth.

“Ah, hei, ini Bishmal. Peringkat ketujuh di duel ranking.” Kata Franklin setelah menyadari seorang pria yang membeku sambil mengobarkan api. “Es-nang bertemu denganmu!” katanya dengan nada bercanda sambil menendang patung itu.

Tanpa sedikitpun perlawanan, Bishmal jatuh ke tanah, hancur, dan berubah menjadi partikel cahaya.

Orang yang melihatnya mungkin akan bertanya apakah tindakan seperti itu layak dilakukan begitu sederhana dan santainya.

“Jika kau membekukan mereka, kau seharusnya juga menghancurkan mereka, kau tau?”

“Aku tidak mau membuang-buang peluru-ku, dan bergerak untuk menghancurkan mereka juga membutuhkan MP,” jawab Hugo. “Aku harus menghematnya agar aku bisa mengaktifkan La Porte de l’Enfer lebih lama lagi, kan?”

Terdengar seperti menyia-nyiakan Exp bagiku, pikir Franklin sebelum kembali berbicara.

“Lagi pula, apa setting-nya saat ini?”

“Kami hanya mengincar para Master yang tidak tergabung dengan Triangle of Wisdom,” jawab Hugo. “Sebelum para Master datang, para tian dari Royal Guard sudah lewat. Mereka sudah menunggu di luar.”

“Oh? Royal Guard? Mereka tidak menyerangmu?”

“Aku sudah meletakkan penanda di sana, jadi mereka tau kalau aku tidak memiliki niat untuk bertarung dengan orang selain Master.”

“Itu mungkin adalah yang terbaik,” kata Franklin. “Bagaimanapun, menyerang tian di luar perang akan membuatmu masuk ke dalam daftar pencarian… dan itulah sebabnya kenapa sudah jelas aku masuk ke dalam daftar pencarian Kerajaan Altar.”

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa tidak ada kejahatan dalam perselisihan antar Master. Oleh karenanya, seorang Master yang menghadang jalanan atau membunuh Master lain tidak akan dianggap sebagai tindakan kriminal.

“Pokoknya, jika Royal Guard menungguku di luar, mereka mungkin berencana menghadapiku dalam pertarungan di tempat terbuka,” kata Franklin. “Itu adalah keahlian mereka.”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Hugo.

“Melawan mereka, lah. Tian-tian negara ini lemah semua.”

Di perang sebelumnya, Dryfe telah membunuh semua tian di negara ini yang memiliki Superior Job. Dengan demikian, tian dengan high-rank job belaka bukanlah masalah besar.

“Oh, ngomong-ngomong, setelah aku lewat, ubah sedikit setting-nya,” kata Franklin.

“Dan apa itu?”

“Biarkan Ray Starling lewat.”

“… Ray Starling.”

“Ya, Ray Starling. Dia berambut pirang, memiliki telinga anjing… yah, sekarang sudah tidak lagi. Bagaimanapun, kau mengenalnya dengan baik, Yu. Biarkan dia lewat.”

“… Kenapa?”

Sebelum menjawab pertanyaannya, Franklin menunjukkan senyum jahat mirip iblis. “Karena aku akan menghancurkannya secara langsung, lah. Aku dan dirinya sepertinya memiliki ikatan takdir yang aneh, jadi aku akan menghancurkannya dan memutus ikatan itu. Aku bahkan mempersiapkan monster khusus untuk hal itu.”

“Tu-Tunggu, ma-maksudmu MGD?!” Hugo berbicara dengan suara dipenuhi rasa ketakutan.

Itu bukan tanpa alasan. Bagaimanapun, MGD adalah senjata biologis yang Franklin buat dengan tujuan untuk melawan para Superior.

“Bukankah itu akan bagus? MGD bisa menghancurkan sebuah kota… tidak—seluruh negara! Bagaimanapun, tidak, aku menggunakan monster yang berbeda. MGD masih belum selesai sekarang!” Franklin tertawa dengan puas sebelum kembali berbicara. “Aku akan mengeluarkannya setelah urusan kita dengan Kerajaan selesai, saat kita mulai menyatakan perang dengan Caldina atau Legendaria. Meskipun, jika rencana ini gagal, kita akan bertarung dengan kerajaan secara terbuka, yang artinya mereka juga akan merasakan MGD.”

Hugo terdiam. Franklin melewati lengan Marshall II dan dengan lembut mengetuk armor beku-nya dengan bagian belakang tangannya. “Jadi ya, biarkan dia lewat saat dia sampai.”

“… Baik.”

Dengan itu, percakapan mereka berakhir dan Franklin berjalan menuju gerbang.

Namun, Hugo berbalik untuk melihatnya sebelum mulai berbicara. “Ka—“

“Yu…” Franklin memotong perkataanya. “Di sini, kau harus memanggilku ‘ketua.’ Nada suaramu kembali seperti dulu. Jangan biarkan itu kembali seperti dulu.”

“… Ya, ketua.”

“Jadi, apa yang kau mau?”

“Apa yang ingin kau lakukan pada Royal Guard?”

“Jangan terlalu memikirkan tentang hal itu, manis.” Mengakhirinya dengan perkataan itu, Franklin akhirnya melewati pintu gerbang.

Hugo tidak bisa melakukan apapun selain melihatnya pergi.

“Wow gan,” kata Franklin.

Di luar gerbang, terdapat padang rumput barat yang bernama “Jeand Grassland,” dan sekelompok ksatria yang berjumlah lebih dari lima puluh orang.

“Pemandangan lain,” kata Franklin.

Mereka semua berasal dari Royal Guard Kerajaan Altar, para Paladin yang ditugaskan untuk melindungi Elizabeth, dan mereka semua menunjukkan rasa permusuhan yang besar terhadap Franklin. Yang berdiri di depan mereka adalah Wakil Komandan, Liliana Grandria.

“Franklin, kurasa?” katanya.

“Tepat sekali, sayang,” jawab Franklin.

“Kami akan mengambil Yang Mulia Elizabeth kembali.”

“Aku ingin kalian tidak melakukannya. Yah, kehilangan dirinya sebenarnya tidak terlalu masalah buatku, tapi tetap menyandera nya bukanlah hal yang buruk.” Senyum yang Franklin tunjukkan saat mengatakan hal itu membuat kebencian para ksatria kepadanya menjadi semakin besar.

“Kalau begitu kami akan mengambilnya dengan paksa.”

“Hmm? Kau bisa menyerangku? Aku sedang memegang tuan putri, kau tau.”

“Jangan khawatir,” Liliana memberitahunya. “Kami Royal Guard terikat oleh sihir yang mencegah kami melukai keluarga kerajaan. Kami tidak akan menyebabkan satupun goresan kepadanya.”

“Oh? Friendly fire kalian dimatikan? Tidak adil…”
“Namun, hanya dengan mengarahkan pedangku ke arah Yang Mulia sudah membuatku sangat kesakitan, jadi aku akan berterima kasih jika kau mau melepaskannya.”

“Ah ha ha! Ya, nah.” Franklin menjulurkan lidahnya.

“Grand Cross!”

Sebuah semburan cahaya berbentuk silang muncul dari bawah kakinya.

Grand Cross—skill terkuat milik Paladin—adalah sebuah kemampuan ofensif yang menciptakan pilar cahaya suci berbentuk silang, memberikan salah satu damage terbesar yang bisa dilakukan high-rank job. Cahaya itu menyembur dan membakar bagian kiri Franklin, sisi yang berlawanan dengan dimana dia memegang Elizabeth.

Serangan kejutan itu hampir membuatnya terjatuh, tapi dia mampu menyeimbangkan dirinya.

“Yah, bukankah kalian gegabah,” komplainnya saat dia menatap ke arah dadanya dan melihat sebuah Lifesaving Brooch, accessories yang meniadakan serangan fatal. Serangan itu telah membuatnya benar-benar hancur, yang berarti bahwa semua monster yang dia gunakan untuk Life Link telah mati.

Meskipun kekuatan Grand Cross tidak bisa diremehkan, Franklin dibuat sadar bahwa serangan kejutan dari Superior Killer telah memberikan lebih banyak damage dari pada yang dia duga.

“Gee sialan… hari ini jelas tidak baik untuk dompetku,” gumamnya saat semua Royal Guard menyerbu ke arahnya.

Meskipun dia adalah seorang Superior, stats milik Franklin sangat rendah, dan HP-nya tidak akan bertahan lama menghadapi lebih dari lima puluh high-rank job petarung. Namun…

“Yah, aku telah diberi beberapa subjek percobaan yang bagus untuk bersiap-siap saat dia datang, jadi kurasa aku akan memanfaatkannya.”

… itu hanya berlaki pada skenario dimana Franklin tidak melakukan apapun.

“Call—RSK.”

Dengan demikian, Franklin memanggil makhluk itu.


Catatan Penerjemah

[1] Io mau bilang BL (Boys Love / Homo)

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. ray starling says:

    Kakaknya hugo manggil hugo manis bl yak?! Ato kakaknya berkedok lki2 di game di dunia nyata cewek

    Like

  2. Adestiarini says:

    kirain mau bilang Badass,, ternyata BL,😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s