Infinite Dendrogram Volume 4 Chapter 1

Volume 4
Chapter 1 – Superior “Terlemah dan Terburuk”

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Journalist/Death Shadow, Marie Adler

Aku mengetahui tiga ranking teratas di Kekaisaran Dryfe bahkan sebelum perang terjadi. Karena merupakan seorang Journalist dan player killer, aku harus benar-benar mengetahui tentang para Master terkuat.

Masing-masing ranking teratas dalam hal Duel, Kill, dan Klan di Kekaisaran Dryfe memiliki latar belakang yang berbeda.

Komandan pasukan iblis, Hell General, Logan Goddhart, sang “Contradictory Equation.”

Orang yang memiliki stats terbesar, King of Beast, sang “Physically Strongest.”

Terakhir, ketua dari klan terbesar di Kekaisaran, Triangle of Wisdom, Giga Professor, Mr. Franklin.

Satu-satunya orang di antara ketiganya yang belum menjadi seorang Superior pada saat perang berlangsung adalah Franklin. Bukan hanya itu, dia hanya memiliki non-battle job, dan memiliki stats yang bahkan berada di bawah low-rank job. Membandingkannya dengan King of Beast sang “Physically Strongest” atau The Earth sang “Magically Strongest” membuat dirinya sama sekali tak berarti.

Tentu saja, tidak seperti ranking lainnya, ranking klan hanya berfokus pada besar sebuah klan.

Meskipun klan peringkat atas yang ketuanya lemah adalah hal yang aneh, itu sama sekali tidak berdampak terhadap posisi klan.

Kebanyakan berpikir bahwa, dalam perang, orang yang berada di peringkat atas ranking klan seharusnya menunjukkan kemampuannya menggunakan klan secara keseluruhan, bukannya sebagai seorang individu. Tapi semua orang terkejut karena hasilnya benar-benar berbeda. Apa yang ditunjukkan dalam perang itu bukanlah kengerian klan Triangle of Wisdom, tapi Franklin itu sendiri.

Meskipun pada saat itu bukan seorang Superior, dia jelas-jelas tidak kalah dengan dua orang lainnya.

Superior Job Giga Professor terspesialisasi dalam penelitian monster, sementara Embryo milik Franklin, Pandemonium, terspesialisasi dalam pembuatan monster.

Meskipun berfokus pada subjek yang sama, penelitian dan pembuatan adalah hal yang benar-benar berbeda, dan Franklin mengkombinasikan mereka untuk menciptakan monster dengan berbagai kualitas.

Beberapa monster kebal terhadap serangan fisik, beberapa bisa memantulkan sihir, beberapa akan meledak saat hampir mati, beberapa menempel pada makhluk hidup dan mengambil alih tubuhnya, dsb, dsb…

Orang-orang yang menghadapi pasukan jahat milik Franklin adalah beberapa Master kerajaan yang berpartisipasi dalam perang dan pasukan kerajaan. Saat kedua sisi saling bentrok, hasilnya benar-benar tragis.

Fakta bahwa semua monster merupakan wild card dengan kemampuan yang tak dapat di tebak dengan cepat mengacaukan pasukan kerajaan, yang membuat mereka terbuka bagi monster buatan spesial yang memiliki kekuatan setara dengan Superior Job. Tentu saja, mereka mengalahkan para Master kerajaan dengan mudah dan bahkan melahap sang Raja.

Biaya untuk membuat pasukan monster itu pastilah setinggi langit, karena dana yang dibutuhkan untuk mendapatkan material yang digunakan untuk membuat monster sangatlah besar. Namun, bagi Franklin, yang merupakan ketua klan terbesar di Dryfe dan dukungan dari Kekaisaran sendiri, uang bukanlah masalah. Hal itu membuat dirinya dan klan-nya bisa berpartisipasi dalam peperangan dengan kekuatan penuh dan menunjukkan betapa menakutkannya dirinya itu.

Setelah perang, Aku, sebagai seorang player killer… sebagai Superior Killer… telah menerima banyak permintaan untuk membunuh Franklin.

Orang-orang yang mengajukan permintaan itu adalah para Master yang dikirim menuju kematian oleh dirinya, atau teman dan keluarga prajurit tian yang telah mati. Dan aku menolak semua permintaan itu.

Tentu saja, bukan berarti aku tidak memperhitungkannya. Jika dia adalah lawan yang bisa kubunuh, maka aku akan melakukannya. Tapi masalahnya bukan itu.

Dengan sekilas pandang, aku tau kalau aku bisa membunuhnya dengan mudah, tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku tau bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku melakukannya.

Beberapa waktu telah berlalu sejak aku menolak permintaan-permintaan itu. Orang yang memintanya bukanlah satu-satunya yang memiliki dendam terhadapnya. Ada banyak orang yang mencoba menyerangnya sendiri, dan meskipun sebagian besar dari mereka telah dihancurkan oleh monster buatan Franklin, ada satu orang yang sebenarnya berhasil mengalahkannya.

Mengingat rendahnya stats milik Franklin, itu bukanlah hal yang aneh. Namun, lain cerita dengan apa yang terjadi setelahnya. Setelah kembali dari death penalty-nya, Franklin memburu orang yang telah membunuhnya, bertarung dengannya, dan berhasil meraih kemenangan.

Lalu, dia melakukannya lagi.

Dan lagi, dan lagi, dan lagi.

Dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dam lagi, dan lagi, dan lagi…

Franklin membuat monster yang memiliki kompatiblitas terbaik dengan player tersebut dan menghabiskan sebulan penuh di waktu dunia nyata untuk tanpa henti membunuh orang yang telah mengalahkannya. Pada akhirnya, orang tersebut berhenti log in ke dalam Infinite Dendrogram.

Meskipun lemah, dia membuat monster terburuk.

Meskipun lemah, dia memiliki watak terburuk.

“Terlemah dan Terburuk” adalah penilaian yang paling tepat untuk dirinya, dan julukannya yang paling populer.

Sejujurnya, aku mengetahui kontestan lain yang layak menyandang julukan “Terburuk,” tapi itu tidak relevan di sini.

Bagaimanapun, kemunculannya yang tiba-tiba pasti tidak hanya berarti “salah satu musuh terburuk kerajaan telah muncul.”

Tak diragukan lagi bahwa dia hendak melakukan sesuatu yang buruk.

***

Paladin, Ray Starling

Pada saat Franklin memperkenalkan dirinya, ada banyak orang di arena yang menghujaninya dengan anak panah, peluru, dan sihir serangan.

Karena dirinya berdiri di atas barrier, ada banyak sihir yang dihentikan oleh barrier tersebut. Namun, itu tetaplah rentetan serangan yang mengerikan. Aku bahkan bisa melihat beberapa serangan kelas tinggi sama seperti yang kulihat saat pertandingan tadi, serangan yang kemungkinan dilakukan oleh pemilik Superior Job. Barrier yang ada di bawah Franklin bergetar dengan hebat saat ledakan mengenainya dan menutupi bagian atas barrier dengan asap tebal.

Meskipun menerima serangan seperti itu, Franklin berhasil bertahan hidup.

“Kalian sudah puas. Penduduk Duel City. Berdarah panas seperti biasa dan selalu bereaksi dengan cepat,” sindirnya.

Jas lab-nya yang hangus di sana-sini membuktikan bahwa dia telah terkena serangan, tapi karena suatu alasan, serangan itu tidak membunuhnya.

“Kenapa dia masih hidup?” tanyaku.

“Tidak ada hal khusus yang dia lakukan sejauh ini,” kata Marie.

“Ya.” Angguk Shu.

Aku tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi sepertinya mereka benar-benar memahaminya.

“Dia bertahan dari serangan pertama menggunakan accessories pengganti dan skill equipment,” lanjut Marie.

“Lalu, dia menggunakan Castling untuk melindungi dirinya dari sisa serangan itu,” tambah Shu.

“Apa itu Castling?” tanya Rook.

“Itu adalah skill yang memungkinkan penggunanya untuk berganti tempat dengan salah satu monster-nya, Rook,” jelas Marie. “Itu adalah skill kelas tinggi, tapi jangkauan efektifnya sangat kecil sehingga jarang ada orang yang menggunakannya sebagai skill teleport. Tapi, hanya dengan menjadi salah satu dari sedikit skill teleport yang ada sudah cukup untuk membuatnya patut dipertimbangkan.”

Begitu, pikirku. Jadi dia bertahan dari serangan pertama menggunakan item yang sama dengan yang kugunakan saat melawan Demi-Dragon Worm dan sisanya dia hanya berpindah tempat dari sana.

“Oh, tapi tolong jangan serang aku lagi! Kalian tidak mau berakhir di dalam gaol, kan?” Ejek Franklin.

Gaol?

Bingung dengan apa yang dia katakan, aku memfokuskan tatapanku padanya. Saat aku melihatnya, seekor burung muncul di tangannya.

“Karena tempat itulah yang akan kalian tuju jika kalian kebetulan mengenai nona kecil ini,” kata Franklin, dan sesaat kemudian, burung itu digantikan oleh sesuatu yang lain—lebih tepatnya, seorang gadis.

“Ellie!” Teriak Marie, dengan nada penuh keterkejutan.

Itu adalah Elizabeth S. Altar—orang yang ada di foto yang kulihat kemarin dan hari ini sedang berada di tempat duduk bangsawan. Aku segera melihat ke tribun tamu kehormatan dan, benar saja, dia sudah tidak ada di sana.

“Jadi… orang itu benar-benar membuat monster yang bisa melakukan Castling dengan orang ketiga,” kata Shu.

Apa? Apakah hal seperti itu benar-benar bisa dibuat? Tanyaku pada diri sendiri, tapi jawabannya sudah jelas hanya dengan melihat pada hasil yang ada—tuan putri kedua sudah tidak ada di tempat duduknya dan berpindah ke tangan Franklin.

Gadis itu tampak tidak melawan karena sepertinya sedang pingsan.

“Apakah kalian paham sekarang, dasar orang-orang bodoh?” Franklin menyeringai. “Pembunuh keluarga kerajaan akan langsung di kirim menuju gaol, kau tau?” Berhati-hatilah untuk tidak melakukannya… Meskipun aku tak layak mengatakannya! Ayyyy… HAHAHAHAH!”

Pria yang telah membunuh ayah gadis yang ada di tangannya itu tertawa seolah-olah dia baru saja mengatakan lelucon terlucu di dunia.

“Baiiiiklah kalau begitu,” lanjutnya. “Karena tangan kalian sekarang sudah terikat, izinkan aku memberikan sebuah sar—“

Sebelum Franklin dapat menyelesaikan perkataannya, seseorang dari tribun penonton meluncurkan sebuah sihir serangan yang meledak tepat di sampingnya.

“Heh?!” seruku dan melihat ke arah sumber sihir itu, dimana aku melihat seorang Master sedang mengangkat tinjunya.

“Apakah dia bodoh?!” Marie meneriakkan pikiranku sebelum aku dapat melakukannya.

Pria itu memiliki tuan putri di tangannya! Kau tidak bisa begitu ceroboh tentang hal ini!

“Okkkeeee,” kata Franklin saat dia muncul dari balik asap yang disebabkan oleh ledakan itu. Dia dan tuan putri sama-sama tidak terluka, yang artinya dia telah melakukan sesuatu yang meniadakan efek dari serangan itu.

“Apakah kau gagal memahami situasinya?” tanya kepada sang penyerang. “Aku telah menjadikan tuan putri sebagai sandera. Aku juga berbicara… mencoba berbicara… dan kemudian ada kauuuu! Kenapa kau menyerangku?! Kenapa? Aku hanya tidak dapat memahaminya! Apakah kau bodoh? Atau gampang emosian? Atau mungkin keduanya?”

Franklin menggaruk kepalanya dengan keras, tampak jelas tidak senang dengan situasi barusan.

“Orang emosian sepertimu lebih baik mendinginkan diri,” kata Franklin, membuat sebuah cairan biru muncul dari bawah Master yang baru saja menyerangnya.

Cairan biru itu, seekor Slime, segera mengelilingi Master itu. “Hhh—————“

Slime itu menciptakan sebuah pemandangan yang mengerikan.

Sesaat setelah Master itu ditelan, kulit dan equipment-nya meleleh, dan menjadi bentuk yang tak dapat dibedakan satu sama lain. Master itu berteriak, tapi tubuh Slime biru itu mengubah suaranya menjadi gelembung dan bahkan tidak mengizinkannya keluar. Jika hanya sampai disitu, Slime itu tidak akan jauh beda dengan slime karnivora dari film horor. Namun, slime itu memiliki hal lain.

Khususnya, tempat yang ada di sekelilingnya membeku.

Dia bukan hanya melelehkan apapun yang ada di dalam tubuhnya—dia juga menyebarkan frost damage ke sekitarnya.

“Katakan hai kepada Oxygen Slime kecilku, yang memiliki julukan: Destroyer,” kata Franklin. “Dibuat oleh idola kalian, dia adalah salah satu yang terbaik dari yang telah kubuat akhir-akhir ini, asal kalian tau.”

Nada yang dia miliki saat memperkenalkan Oxygen Slime benar-benar mirip seperti seseorang yang sedang memperkenalkan masakannya di lomba memasak. Tapi, tentu saja, perkataan itu sama sekali tidak hangat. Oxygen Slime itu memakan, melelehkan, dan membekukan penonton malang yang ada di dekatnya. Tak lama kemudian, salah seorang dari mereka mengeluarkan semburan api ke arahnya.

“Kerja bagus, dum-dum,” gumam Franklin saat api itu mengenai Slime dan menyebabkan sebuah ledakan besar.

Pertama es, sekarang api—tribun penonton tertelan api biru dalam jangkauan yang cukup besar.

“Ayolah. Aku tau kalau respon kalian terhadap Slime adalah api, tapi aku tak menduga ada orang tolol di antara kalian yang benar-benar melakukannya. Apakah kalian tidak mendengarkanku? Aku menamainya ‘Oxygen Slime.’ Apakah kalian bahkan tau apa itu ‘Oxygen’? Aku mendoakan keselamatan orang-orang bodoh sepertimu, orang tolol yang tidak mengetahui apa itu Oksigen dilarang mengikuti percobaan selama pelajaran sains.”

Oksigen cair—sebuah zat yang didapat dengan cara mengkondensasi gas oksigen dalam suhu yang sangat rendah sampai minus 182.96 celcius. Itu adalah zat yang sangat berbahaya dan mudah menguap yang memiliki oksidasi cukup besar untuk membuatnya digunakan sebagai bahan bakar roket.

“Semua cairan biru sebenarnya adalah oksigen cair…” gumamku.

“Aku ingat pernah membuat kekacauan dengan zat itu saat pelajaran kimia,” kata Shu.

Aku memiliki ingatan yang sama. Kami melakukan percobaan dimana kami harus mendinginkan plastik penuh berisi oksigen menggunakan nitrogen cair.

“Ngomong-ngomong, tidak ada artinya kau membakarnya bahkan jika untuk menerima ledakan,” tambah Franklin. “Ledakan dia, dan Destroyer tersayangku akan segera beregenerasi menggunakan oksigen yang ada di udara.” Benar saja, di pusat ledakan, terdapat Oxygen Slime, dengan cepat memulihkan dirinya sampai dia kembali ke ukuran awalnya.”

Seekor makhluk yang korosif, tak dapat dihancurkan, dan meledak… Mungkin merupakan salah satu monster terburuk yang bisa kau hadapi, pikirku saat aku menyadari sesuatu.

Para Master yang telah mati karena slime itu telah berubah menjadi partikel dan menghilang. Tidak ada satupun mayat yang bisa kulihat di area ledakan.

Sepertinya, tidak ada tian yang terkena ledakan itu. Sungguh sebuah keberuntungan.

“Pokoknya, gangguan orang tolol itu telah sedikit memperlambat kita, tapi kurasa sekarang aku bebas menyampaikan tuntutanku, kan? Kecuali ada orang lain yang mencoba bermain pahlawan,” kata Franklin sambil berdiri di atas barrier, terlihat sangat yakin kalau tidak ada orang yang akan menghalanginya.

“Ayo kita mainkan sebuah game!” teriaknya sambil mengeluarkan saklar aneh dan memegangnya di tangannya.

“BEEP,” katanya sambil menekan saklar itu, membuat Oxygen Slime lainnya muncul di tribun penonton.

Untungnya, tidak seperti yang pertama, tidak ada seorangpun yang tertangkap olehnya, tapi kemunculannya saja sudah cukup untuk membuat para penonton panik dan mulai melarikan diri dari slime itu.

“Seharusnya itu sudah cukup untuk membuat kalian paham, tapi saklar ini terhubung dengan perangkat yang telah kupasang. Sementara untuk apa yang perangkat itu lakukan… mereka mengeluarkan monster-monster yang telah kupersiapkan, sama seperti Destroyer yang ada di sana. Satu kali tekan akan melepaskan satu monster secara acak,” katanya, membuat sebagian besar penonton segera berdiri dan mencoba untuk pergi, tapi perkataannya tidak berhenti di sana. “Ngomong-ngomong, bahkan jika aku tidak menekannya, mereka semua akan dilepaskan sekitar satu jam lagi, dan aku meletakkan perangkat-perangkat itu di seluruh Gideon.

“Apa?!” Aku mendengar Count Gideon menyuarakan keterkejutannya dari tribun bangsawan. Itu sudah wajar, karena kota yang dia kuasai telah menjadi target teror monster.

Bukan hanya itu, mengingat kemauannya untuk menakut-nakuti para penonton sampai titik kegilaan dan melakukan terorisme seperti itu, cukup jelas bahwa Franklin tidak peduli dengan korban tian yang mungkin akan berjatuhan.

“Ada dua cara untuk menghentikan ini,” kata Franklin sambil menunjukkan senyum puas di wajahnya. “Yaitu menghancurkan saklar ini atau memberiku death penalty. Hal itu akan menghentikan seluruh perangkat dan membuat semua monster yang telah dilepaskan menghilang. Sederhana, kan?”

Mengalahkannya di sini dan sekarang akan mengakhiri segalanya, tapi…

“… Aneh,” gumamku. “Kenapa dia…?”

Sebelum aku bisa mengutarakan pertanyaanku…

“Oh ya, ini tidak ada hubungannya dengan para monster itu, tapi aku akan meminjam tuan putri kecil kalian, oke? Makasih.” Franklin mengambil tuan putri yang sedang pingsan itu ke tangannya. “Hentikan monster itu dan selamatkan tuan putri!” teriaknya. “Cukup mudah, kan? Lakukanlah yang terbaik, Wahai para Master kerajaan! Kalau begitu, mungkin itu saja! Adieu!”

Lalu Franklin kembali menggunakan Castling dan menghilang ke suatu tempat, sambil membawa tuan putri.

Sesaat kemudian, arena itu dipenuhi dengan kekacauan dan teriakan kemarahan.

Beberapa orang ada yang panik, ada yang berteriak, dan yang lainnya bergerak tanpa tujuan dalam kebingungan. Aku bisa melihat beberapa Master berlari keluar dari arena dengan tujuan untuk mengejar Franklin, sementara beberapa lainnya mencoba mengalahkan dua Oxygen Slime yang ada di sini.

Orang-orang yang melakukan hal itu memiliki satu pemikiran—kemarahan terhadap Franklin, yang memulai kejadian ini dan menghancurkan event malam ini. Dalam hal itu, aku juga sama.

“Bajingan sialan itu…!” kataku.

Di mata Franklin, mungkin ini tidak lebih dari sebuah game. Yah, ya, Infinite Dendrogram memang benar begitu—sebuah game.

Namun, bahkan di sini, seharusnya ada batas yang tidak boleh dilewati, dan dia sudah hampir melakukannya.

“Ya, aku benar-benar paham apa maksudmu,” kata Shu sambil mengangguk. “Ada yang membuatku penasaran, sih: kenapa dia merasa perlu mengumumkan game kecilnya ini?”

Aku juga penasaran dengan hal itu. Dia menyatakan kalau sudah memasang perangkat berisi Oxygen Slime dan monster lainnya di seluruh arena dan kota.”

Itu berarti bahwa dia pasti telah mempersiapkan tindakan teroris ini dan dia bisa memulainya kapan saja, tapi…

“Terorisme dan penculikan biasanya dilakukan tanpa pemberitahuan awal,” kata Shu. “Tapi dia melakukan hal itu sendiri di hadapan banyak penonton di arena ini. Apakah kau tau apa maksudnya?”

“Yah…” kataku. Dari perilakunya, sudah jelas bahwa Franklin menikmati hal ini. Namun, aku merasa ada sesuatu yang aneh… dan ada hal lain selain kelihatannya.

Pengumumannya terlihat mirip dengan apa yang Xunyu lakukan di awal Clash of the Superior. Pengumuman itu seperti memiliki niat tersembunyi, tapi aku tidak tau apa itu.

“Ini hanyalah dugaanku.” Rook bergabung dengan percakapan kami. “Tapi kupikir tujuan dari pengumumannya adalah untuk membuat kita berpikir bisa menghentikan hal ini dan kemudian ternyata kita gagal.

“Tapi kenapa?” tanyaku.

“Kemungkinan besar dia—“

Sebelum Rook bisa menyelesaikan perkataannya, kami mendengar suara kebingungan datang bukan dari tribun penonton, tapi dari luar tribun—dari lobi. Jika didengar dengan seksama, aku bisa mendengar orang-orang mengatakan sesuatu seperti “barrier” dan bahwa mereka “tidak bisa pergi.”

“Ayo pergi ke lobi,” kata Shu.

“… Ya!” anggukku. Aku, Rook, Nemesis, dan Baby meninggalkan tempat duduk kami. Pada saat itulah aku menyadari kalau Maria, yang beberapa saat lalu masih bersama kami, telah menghilang entah kemana.

Di lobi, kami melihat hampir seratus Master sedang mencoba keluar dari arena. Mereka jelas bukan masalah utamanya di sini, karena terdapat sebuah barrier yang memisahkan arena dan kota, membuat mereka semua tidak bisa meninggalkan arena.

“Bukankah itu sama dengan barrier yang digunakan di arena?” tanyaku. “Apakah dia benar-benar…?”

“Sepertinya dia melakukannya,” angguk Nemesis.

Jadi, selain barrier yang mengelilingi panggung, ada juga barrier yang mengelilingi seluruh arena.

Franklin telah mengambil alih hal itu, dan dia menggunakannya untuk mencegah kami, para Master, untuk meninggalkan arena dan menghalangi game-nya.

“Sialan! Apa-apaan ini?!” teriak seseorang.

“Bagaimana mungkin satu orang player bisa bermain-main dengan sistem?!” teriak orang lainnya.

“Ayo keluar!”

Para Master yang berkumpul di sini mencoba untuk keluar, tapi sayangnya, usaha mereka sia-sia.

“Aku punya firasat buruk saat dia mengunci Figaro dan Xunyu, tapi sepertinya Franklin mendapatkan kendali penuh atas barrier yang ada di sini,” kata Shu.

Bisakah seorang player benar-benar…? Oh, tunggu, aku menyadari sesuatu.

“Bagaimanapun, sistem barrier tidak lain hanya dijalankan oleh teknologi kuno,” lanjut Shu. “Biasanya sistem itu juga selalu aktif secara otomatis. Jadi bisa saja para Master seperti kita bisa mempengaruhinya dan memaksanya melakukan hal seperti ini, mungkin.”

“Sepertinya begitu,” kata Rook. “Dan dia memulai game ini karena dia bisa melakukan hal ini. Ini akan memastikan kemenangannya dan kekalahan para Master kerajaan tak dapat dihindari.”

Jika kami tidak bisa menghentikan aksi teroris yang dia umumkan dengan keras, itu artinya semua Master yang ada di sini di Gideon telah kalah dalam game-nya.

… Baiklah, ini benar-benar buruk, pikirku.

“Ayo gunakan cara paksa!” teriak salah seorang Master. “Skill tingkat tinggi dalam jumlah besar seharusnya sudah cukup untuk menghancurkannya!”

Ada banyak orang yang segera bergabung dengannya. Dia tidak salah. Bagaimanapun, Xunyu dan Figaro telah mampu melubangi langit-langit barrier yang menyelimuti pertarungan mereka. Jika terdapat kekuatan yang cukup, seharusnya menghancurkan barrier ini bukanlah hal yang mustahil.

Sesaat kemudian, serangan dari puluhan Master mengenai barrier.

Meskipun itu jelas lebih kuat dari pada langit-langit yang dihancurkan Xunyu dan Figaro, barrier itu jelas menjadi lebih tipis. Jika serangan seperti ini dilanjutkan, barrier itu pada akhirnya akan hancur dan membuat kami bisa keluar.

Saat sebagian besar orang di lobi mendapatkan harapan, suara sebuah ledakan yang berasal dari suatu tempat di arena mencapai telinga kami. Bukan hanya itu, tapi ada juga suara kehancuran yang terdengar dari bagian kota tertentu.

Saat para Master kebingungan dengan apa yang mereka dengar, sebuah suara tawa menjijikkan terdengar di sekeliling kami.

“AH HA HA! Sepertinya kita mendapat beberapa orang tolol yang mencoba menghancurkan barrier!”

Sesaat setelah kami melihat sekeliling dan mencoba menemukan sumber suara itu, kami melihat Franklin yang tampak transparan—hologram-nya.

“Halo, tuan dan nyonya. Belum cukup lama, bukan?” katanya. “Oh, apa yang kalian lihat adalah produk terbaru milik klan kami. Tampak berguna, kan? Ini berharga 8,000,000 lir. Sedikit menguras dompet, tapi kami akan menjual hal ini setelah perang selesai. Mampir dan belilah jika kalian menyukainya.”

Dia menjelaskan produknya dan harganya dengan cara sopan dan mengejek.

“Pokoknya, tentang barrier itu… mendapati kalian bersemangat dan menghancurkannya akan jadi masalah buatku, jadi aku memasang sedikit batasan padanya. Sebuah serangan akan membuat satu perangkat acak akan melepaskan monster di dalamnya, dan jika kalian berhasil menghancurkannya, seluruh monster akan dilepaskan sebelum batas waktu habis. Oh, ngomong-ngomong, hal yang sama juga berlaku pada barrier yang ada di panggung.”

Perkataannya membuat para Master yang ada di lobi membeku di tempat.

“Oh ya, lakukan saja apa yang kalian mau,” kata Franklin. “Meskipun aku tidak bisa membayangkan jumlah korban yang disebabkan oleh hal itu! Lol!”

“Sialan!” teriak salah satu Master saat dia melepaskan sebuah skill serangan ke arah hologram Franklin.

Tentu saja, karena Franklin yang itu hanya sebuah hologram, dia lolos tanpa terluka sedikitkpun. Namun, serangan itu sepertinya telah menghancurkan perangkat yang memproyeksikannya, membuat senyum sombongnya menghilang dari pandangan kami. Tapi, tidak peduli apakah hologram itu ada di sini atau tidak, kami tidak bisa bergantung pada cara paksa, membuat kami tidak bisa melakukan apapun.

“Ini buruk,” kata Rook. “Jika seperti ini, Master kerajaan akan benar-benar dikalahkan.”

“Terus kenapa?” tanya Baby. “Jika dia menang, dia hanya akan membualkan hal itu, kan?”

“Tidak, Baby.” Rook menggelengkan kepalanya. “Yah, memang benar, bagi kami para Master, itu hanya akan menjadi kekalahan yang tidak ada artinya. Namun, Infinite Dendrogram juga memiliki makhluk hidup lain.”

Para tian.

Bagi mereka, hasil dari peristiwa ini mungkin memiliki makna yang benar-benar berbeda.

“Aku paham akan hal itu,” kata Nemesis dengan nada muram, memahami dengan jelas apa yang ingin Rook katakan. “Jika seperti ini, kerajaan akan kalah bahkan sebelum perang kedua dimulai.”

“Benar,” Angguk Rook.

***

Duel City, Gideon

Ada sesuatu yang terbang di atas Gideon, hanya beberapa ratus meter dari atas tanah. Itu adalah seekor monster.

Anehnya, perut dan bagian samping tubuhnya tampak menyatu dengan langit malam, membuatnya sangat sulit dilihat dengan mata telanjang. Namun, punggungnya ditutupi oleh bulu dengan tekstur yang mirip karpet Persia, dan ada dua orang yang duduk di atasnya.

Salah satu dari mereka adalah Giga Professor Mr. Franklin, orang yang membuat monster itu dan menamainya “Night Lounge.” Orang satunya adalah gadis yang dia culik: Elizabeth S. Altar, tuan putri kedua Kerajaan Altar.

Tersadar tepat setelah dinaikkan ke atas Night Lounge, gadis itu sedang menatap Franklin. Itu bukanlah tatapan kebencian, tapi sebuah tatapan kebingungan.

“Kenapa kamu menculikku?” dia menyuarakan kebingungannya.

“Oh? Apakah orang yang tergabung dengan Kekaisaran, seperti idolamu ini, benar-benar membutuhkan alasan untuk menculik keluarga kerajaan negara ini?” tanyanya menanggapi pertanyaan Elizabeth.

“Bukan itu yang kumaksud.” Elizabeth menggelengkan kepalanya dan menatap wajah Franklin sebelum kembali bertanya. “Kenapa kamu tidak membunuhku, sama seperti yang kamu lakukan pada ayahku?”

“Hmm. Bagi seseorang yang menyadari hal itu, kau sungguh tenang, huh.”

“Bisakah aku mendapatkan jawabanku?”

“Oh, benar. Itu karena aku diperintahkan untuk tidak membunuhmu. Bukan berarti aku akan melakukannya biarpun tidak diperintahkan. Pokoknya, aku akan baik denganmu, jadi tenanglah. Mau sedikit permen?”

“Tidak.”

“Psh, tentu saja.” Tampak tidak terganggu oleh jawaban kasar Elizabeth terhadap tawarannya, Franklin mulai mengelap kacamata-nya dan kembali berbicara. “Jika negara kita bisa bersatu dengan damai, kau bisa kembali ke ibukota dalam keadaan sehat walafiat. Jadi, sekali lagi, kau tidak perlu khawatir.”

“Dan bagaimana perdamaian itu tidak terjadi?” tanyanya.

“Kau akan dikembalikan di tengah tanah tandus. Bagaimanapun, jika perdamaian tidak terjadi, kita akan melakukan perang habis-habisan,” katanya sambil memasang kacamata-nya kembali. “Yah, jika semuanya berjalan sesuai rencana orang gila itu… rencana Yang Mulia, kau akan baik-baik saja. Kurasa dia tidak mau dibenci oleh calon adik iparnya atau orang yang mungkin akan menjadi permaisurinya.”

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“’Apa’, ya? Yah, anggap saja ayahmu menghalangi jalan, sementara kau tidak. Anggap saja seperti itu.” Dia menghentikan pembicaraan itu, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menjelaskannya.

“Kalau begitu, izinkan aku menanyakan hal lain,” kata tuan putri. “Kenapa kamu menyerang Gideon?”

Meskipun udara kosong di sekitar mereka benar-benar sunyi, teriakan dan suara kehancuran bisa didengar dari daratan yang ada di bawah. Pion dan monster milik Franklin yang telah dilepaskan sedang menyebabkan kekacauan di kota. Dia bertanya hanya karena ingin tau alasan dibalik pembantaian dan keputusasaan itu.

Sebagai tanggapannya, Franklin menunjukkan senyum menjijikkan.

“Ini adalah acara sampingan untuk menyelenggarakan akhir dari event yang kita kenal sebagai ‘perang’!” dia berteriak sambil berputar di sekitar Night Lounge dan menggerakkan tangannya secara berlebihan. “Ini adalah sebuah game dan persiapan di saat bersamaan!”

“’Persiapan’?” ulangnya.

“Ksatria terkuat, sage terbesar, dan raja yang ramah dan baik hati semuanya telah mati. Penduduk mulai pergi. Keputusasaan ada dimana-mana. Tidak ada masa depan yang bisa dimiliki di sini, bagi kerajaan ini sudah seperti skak mat—semua orang mengetahui hal ini.” Franklin membawa wajahnya begitu dekat dengan wajah Elizabeth sampai-sampai dia terlihat seperti ingin menyentuh matanya menggunakan lidahnya. “Kalau begitu, katakan padaku. Menurutmu kenapa saat ini kerajaan belum menyerah?”

Terkejut, Elizabeth sedikit mundur ke belakang dan Franklin menunjukkan senyum puas.

“Itu karena kalian memiliki para Master kalian.”

Dia menepuk punggung Night Lounge dengan ringan menggunakan ujung kukunya.

“Semua orang berpikir bahwa kerajaan kalah perang karena para ranker tidak berpartisipasi.”

Perlahan, tapi pasti, kesenangan di nadanya menghilang sampai dia berbicara tanda emosi sedikitpun di suaranya.

“Itu tidak sepenuhnya salah. Kami menang begitu mudah karena mereka tidak ada di sana untuk menghentikan kami.”

Dia menghela nafas, menggelengkan kepalanya, dan berbalik membelakangi Elizabeth.

“Tapi, kalian harus tau kapan saatnya untuk menyerah. ‘Kami akan menang jika para Master berpartisipasi di perang selanjutnya,’ kata mereka. ‘Kerajaan masih belum kalah,’ tegas mereka. Itu benar-benar menjengkelkan. Perang itu tidak gratis, kau tau?”

Suaranya kini dipenuhi dengan kekesalan.

“Clash of the Superior ini adalah contoh nyata untuk hal itu. Ini hanyalah proklamasi ‘Kita dapat melakukannya’ megah dengan cara menunjukkan kekuatan Superior kerajaan! Itu hanyalah kontes pamer sialan dan itu MEMBUATKU! MARAH!”

Dia mengatakan hal itu sambil menatap ke ara arena pusat, yang menjadi semakin jauh seiring berjalannya waktu.

“Jika, karena sebuah peristiwa gila, semua Superior kerajaan ini berpartisipasi dalam perang, bukannya tidak mungkin kalai situasinya akan berbalik 180 derajat. Fak, bahkan mungkin kami akan kalah total.”

Fakta tidak menyenangkan itu membuat ekspresi-nya menjadi pahit, tapi ekspresi itu segera digantikan oleh seringai gila.

“Itulah sebabnya, sebelum ada hal merepotkan yang terjadi, aku datang kemari untuk menghancurkan semangat negara ini.”

Ekspresi Franklin terlihat seperti badut menakutkan, dan tampak seperti menguras kewarasan siapa saja yang kebetulan melihatnya.

“Katakan padaku, jika para Master kerajaan hanya duduk-duduk dan bermalas-malasan saat sebuah kota dihancurkan dan seorang tuan putri diculik,” katanya saat senyumnya menjadi semakin lebar, “akankah para tian negara ini masih memiliki harapan yang tersisa kepada para Master mereka? Apakah mereka masih memiliki tekad untuk melawan?”

Ekspresi-nya masih sama, dia menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

“Kota paling ramai di negara ini… Kota dengan kekuatan tempur terbesar di kerajaan… Over Gladiator terkuat milik kerajaan…”

Lalu, seakan-akan sedang memuja sesuatu, dia mengangkat tangannya ke langit dan tertawa dengan keras.

“Ini adalah malam keputusasaan! Ini adalah saat dimana mitos yang menyelimuti kota ini akan mati!”

Suara tawa milik orang yang menempatkan Gideon dalam situasi genting bergema dilangit kota.

“Benarkah?” kata seorang gadis kecil dengan suara yang dapat dengan mudah tertelan suara tawa itu. “Aku tidak yakin kalau kamu benar.”

Elizabeth, yang memiliki ingatan kuat tentang Master yang telah menghabiskan hari sebelumnya bersamanya, masih penuh dengan harapan.

Dia berkata dengan pelan, “Aku percaya bahwa para Master kerajaan… adalah orang-orang yang bisa kami andalkan.”

***

Paladin, Ray Starling

“Kuma-niisan,” kata Nemesis. “Menurutmu, seberapa kuat pasukan kerajaan yang ada di luar arena?”

“Pasukan itu akan terdiri dari Royal Guard yang bertugas melindungi Tuan Putri, divisi ksatria milik Gideon, dan Master aneh yang tidak datang untuk menyaksikan Clash of the Superior.”

Bukan semua Master yang ada di Gideon sedang berada di sini di dalam arena. Orang-orang yang ada di luar seharusnya juga bisa melakukan sesuatu terhadap hal ini, tapi…

“Tapi setiap Master petarung yang kuat datang untuk melihat pertarungan hari ini,” lanjut Shu. “Para Master yang tidak ada di sini hanyalah mereka yang tidak kebagian tiket. Namun, hal itu kebanyakan terjadi karena masalah keuangan atau kurangnya koneksi dengan orang yang tepat, yang keduanya akan terselesaikan jika kau kuat. Yang artinya bahwa para Master yang ada di luar arena malam ini tidak bisa dibilang yang terkuat.”

Kemungkinan besar itulah alasan kenapa Franklin memiliki malam ini—malan berlangsungnya Clash of the Superior—untuk menyegel para Master kerajaan yang ada di dalam arena.

“Mungkin ada beberapa orang tangguh yang tidak datang untuk menyaksikan pertarungan ini tanpa alasan tertentu, tapi aku yakin kalau Franklin juga memikirkan sesuatu untuk mengatasi hal itu,” tambah Shu saat dia menggunakan dagu beruangnya untuk menunjuk alun-alun yang ada di luar arena pusat.

Aku tidak tau sejak kapan mereka ada di sana, tapi ada banyak Master dan monster di alun-alun. Mereka jelas tidak berniat melakukan apapun terhadap kekacauan yang terjadi di kota, sehingga tak diragukan lagi kalau mereka sedang bersiap untuk menyerang siapapun yang keluar dari arena.

“Pasti orang-orang Franklin,” kata Shu. “Dengan adanya orang-orang itu di sini dan monster yang mengacaukan kota, mengejar dan mengalahkan Franklin itu sendiri bukanlah hal yang mudah.”

“Gh…” gerutuku. Sudah jelas tidak ada yang bisa kami lakukan terhadap situasi ini. Yang lebih penting… dengan barrier yang menyegel kami di sini, aku sendiri bahkan tidak bisa melakukan apapun. “Jika saja…”

Jika saja kami… para Master yang ada di dalam arena… bisa keluar dan berpartisipasi dalam pertarungan, kesempatan kami akan meningkat.

“Jika saja barrier ini tidak ada di sini, Aku…”

Aku dengan perlahan menjulurkan tanganku ke arahnya, menahan desakan untuk memukulnya.

Karena setiap serangan akan menjadi pemicu pelepasan monster-monster itu, menyerang barrier ini bukanlah sebuah pilihan. Namun, tidak bisa menahan rasa frustrasiku, aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh barrier itu… dan jariku menembusnya.

“… Eh?” aku menyuarakan kebingunganku saat ratusan Master yang ada di lobi mulai meributkan hal itu.

“Dia… Dia bisa menembusnya!”

“Apa-apaan ini! Aku tidak bisa melakukannya!”

“Apakah barrier-nya menghilang…? OW! Ternyata tidak!”

“H-Hei! Apakah Embryo-mu memiliki skill yang berhubungan dengan barrier?!”

“A-Aku juga tidak tau…” Akulah yang lebih kebingungan dibandingkan siapapun di sini. Tidak mungkin aku bisa menjawab hal itu.

“Ray,” kakakku memanggilku.

Dan anehnya, suaranya membuat seluruh orang yang ada di lobi langsung terdiam.

Aku mendengar seseorang membisikkan sesuatu seperti “Oh, itu pria berkostum itu,” “Jadi anak gunung juga datang untuk menyaksikan pertarungan,” dan “Beruang itu bukan seorang NPC?” Anehnya, sepertinya kakakku cukup terkenal di sini.

Namun, sekarang bukan itu masalahnya. Apa yang jadi masalah adalah, meskipun memakai kostum, aku bisa merasakan kalau dia sedang menatap langsung ke arahku.

“Berapa total level-mu saat ini?” tanyanya.

“Total level?” Kebingungan, aku mengulangi kalimat itu sebelum menjawabnya. “Itu 41.” Jawabanku membuat para Master yang ada di lobi menyadari sesuatu dan berbicara sendiri-sendiri. Sementara itu, kakakku…

“Khah… HAHAHAH!”

… tertawa dengan keras.

“Tentu saja!” Teriaknya. “Bagaimanapun, ini adalah barrier arena! Tentu saja kau bisa melewatinya!”

“Kak, aku benar-benar tidak paham di sini.”

“Oh, itu sangat sederhana. Barrier arena mencegah orang untuk keluar masuk arena. Jika tidak, arena akan menjadi tidak berarti dan menonton dual akan menjadi hal yang membahayakan. Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi orang-orang dengan level 50 atau di bawahnya, yang tidak dapat berpartisipasi dalam duel karena mereka bisa melewati barrier.

“… Oh!”

Ya, benar, aku mencarinya dan menemukan kalau kau hanya bisa berpartisipasi saat total level-mu berada di atas 50.

Itu adalah apa yang kukatakan kemarin. Orang dengan total level 50 atau di bawahnya tidak bisa berpartisipasi dalam duel karena mereka bisa dengan bebas melewati barrier.

“Begitu. Itu artinya…!” Aku, Rook, dan beberapa Master level rendah lainnya bisa meninggalkan arena dan pergi menolong orang-orang yang ada di luar.

“Cari di dalam arena dan temukan semua Master dengan level 50 atau di bawahnya!” teriak kakakku.

“Tukang support dengan level di atas 50, berikan buff dan autoheal kepada para newbie! Sisanya, pergi dan tangani monster yang mengacaukan arena!”

“Baiklah! Sekarang kita memiliki cara untuk memukul wajah jas lab sialan itu secara tidak langsung!”

Setelah kami menyadari kesempatan ini, para Master veteran segera bertindak, dan langsung masuk mode tempur dalam sekejap.

“Kau tau apa maksudnya ini, kan?” tanya Rook kepada Shu.

“Ya,” Shu mengangguk. “Sebagai orang yang bisa mengendalikan barrier, Franklin pasti menyadari celah ini. Namun, dia tidak mengatakan sesuatu seperti ‘Aku akan melepaskan monster jika kau meninggalkan arena,’ yang artinya dia sengaja membiarkan celah itu terbuka.”

Tak diragukan lagi bahwa Franklin memang seorang bajingan dan sangat teliti dengan rencananya, yang berarti bahwa celah ini dia biarkan karena sebuah alasan.

Meski begitu…

“Ray.”

“… Kak.”

Sebelum aku menyadarinya, dia telah berdiri tepat di sampingku. Dia menatapku dengan keseriusan yang tampak jelas meskipun dia memakai kostum beruang.

“Kita memiliki sebuah celah. Tapi, kemungkinan besar ini adalah salah satu jebakannya, dan bahkan jik tidak, apa yang menunggumu di luar adalah para player kuat, pasukan monster, dan dirinya sendiri—seorang Superior.”

“Mh…”

Franklin adalah seorang Superior—sama dengan Figaro dan Xunyu, yang telah menunjukkan kekuatan yang luar biasa dalam duel mereka. Itu berarti bahwa aku hendak masuk ke dalam keadaan yang akan melampaui pertarungan mematikanku melawan UBM, dan bahkan saat Superior Killer memberikan death penalty kepadaku. Aku mungkin sedang berjalan langsung menuju death penalty keduaku. Faktanya, itu adalah hasil yang wajar.

Tapi tetap saja, aku…

“Tak diragukan lagi kalau kau akan mati… Apakah kau tetap akan pergi?” tanya kakakku.

“Biarkan aku menanyakan sesuatu kepadamu, kak. Tepat di depan mataku, seorang gadis diculik dan sebuah kota sedang dihancurkan. Membiarkan hal itu terjadi akan meninggalkan rasa pahit di mulutku. Apakah menurutmu aku adalah orang yang lebih mengikuti akal sehat dan tidak melakukan apa-apa?”

Aku kebetulan adalah seseorang yang tidak tau kapan harus berhenti. Aku terus meraih cahaya selama yang kubisa.

“Aku tau kau akan mengatakan hal itu.” Shu terkekeh dan memberikan sesuatu kepadaku. Itu adalah item yang sama dengan sebelumnya—sebuah Dragonscale Ward. “Aku kehabisan Brooch. Hanya inilah yang bisa kuberikan padamu… Ambil itu.”

“Tentu. Terima kasih.”

“Aku akan bergabung denganmu ketika barrier ini telah diurus,” katanya. “Kau bisa bertindak berlebihan semaumu, tapi pastikan kau masih hidup saat aku datang. Dan aku akan datang—kau bisa memegang perkataan itu.”

“Ya. Aku akan mengandalkanmu… Shu.”

Tak lama setelah itu, persiapan sudah selesai. Aku dan Rook sedang dikelilingi oleh Master lain yang belum mencapai level 51. Mereka semua berjumlah 22 orang. Meskipun relatif tak berdaya dan menyadari hal itu, mereka semua adalah Master yang menawarkan diri untuk membantu mengakhiri rencana Franklin. Kebulatan tekad itu saja sudah membuat mereka terlihat bisa diandalkan.

Dan tepat di sampingku, aku memiliki rekan yang lebih bisa diandalkan dibanding siapapun.

“Ayo, Ray,” kata Nemesis.

“Ya,” jawabku sambil menggenggam tangannya, yang diikuti dengan perubahannya ke bentuk pedang yang familiar.

“Waktunya untuk pembalasan!”

Kemudian kami ke-dua puluh empat newbie semuanya berlari ke arah papan permainan yang telah dipersiapkan oleh Superior jahat.

Ayo kita mulai quest-nya!

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    wah”’wah’ keberuntungan apa lagi yg menunggu ray dan para newbie??!!

    Like

  2. Albarn says:

    Gw masih penasaran apa maksudnya “…itu ada di barat” ada yang tau ?

    Like

  3. Uyhaw says:

    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    LANJUT MIN SERU ABIS
    Gua selalu nunggu dengan sabar dari elu baru ambil proyek ini SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Like

  4. Newwebies189 says:

    Lanjut admin !!! Ceritanya makin keren gak sabar nunggu bagian akhirnya :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s