Infinite Dendrogram Volume 3 Side Story 1 C

Volume 3
Side Story 1 – Kasus Slime yang Tak Dapat Dijinakkan (Bagian 3)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Mithril Arms Slime.

Menurut pemilik toko, mereka tergolong langka bahkan di antara metal slime yang memang sudah langka.

Bukan karnivora, herbivora, maupun omnivora, makanan mereka terdiri dari air dan logam, khususnya mithril.

Semua slime miliki tubuh cair dan yang satu ini bukanlah pengecualian. Namun, Mithril Arms Slime memiliki kemampuan spesial untuk dalam sekejap mengeraskan dan mengubah bagian tubuh mereka menjadi senjata. Ketika diserang, mereka akan mengubah tubuh mereka menjadi perisai mithril atau menggunakan bentuk cair mereka untuk bermanuver melarikan diri dari ancaman itu.

Jumlah slime ini yang telah di temukan umat manusia baru mencapai angka dua digit, sementara jumlah yang dibunuh bahkan tidak mencapai angka dua puluh. Dan sejauh ini, tidak satupun dari mereka yang berhasil dijinakkan.

Sekali lagi—Mithril Arms Slime, sebagai sebuah spesies, sampai saat ini belum pernah berhasil dijinakkan.

Aku diberitahu bahwa beberapa Tamer telah membuat mereka berada dalam keadaan bisa dijinakkan, tapi mendapati tangan mereka terpotong saat mereka mencoba melakukan kontak.

Biasanya, ketika monster berada dalam keadaan bisa dijinakkan, apa yang harus dilakukan seseorang hanyalah menyentuh mereka dan membuat sebuah kontrak untuk menyelesaikan penjinakan. Aku sudah mengalami hal itu dengan Audrey, dan dia sama sekali tidak melawan.

Namun, Mithril Arms Slime berbeda dalam hal itu. Selama mereka berada dalam keadaan siaga, mereka tidak akan ragu untuk menyerang para Tamer bahkan setelah mereka berada dalam keadaan bisa dijinakkan.

Karena itu, mereka dianggap lebih sulit dijinakkan dari pada Pure-Dragon.

“Kami telah mendapat beberapa pelanggan yang ingin mencoba dan menjinakkannya, tapi mereka semua gagal,” kata penjaga toko. “Bahkan ada orang yang telah memaksimalkan high-rank job dari tamer grouping, tapi mereka tetap tidak berhasil.”

Pada dasarnya, itu adalah hal yang mustahil bahkan untuk para Tamer terbaik.

Beberapa orang mungkin tertawa mendengar seorang newbie sepertiku mencoba tantangan sebesar itu, tapi itu bukan berarti aku tidak bisa mencobanya.

Aku kenal dengan orang-orang yang tidak akan pernah menyerah tidak peduli seberapa besar tantangan yang dia hadapi, jadi aku ingin mengikuti contoh mereka.

Dan sekarang… aku sudah melakukannya lebih dari empat jam.

Berhadapan dengan pot tempat Mithril Arms Slime itu berada, aku diam-diam mengulurkan benda yang ada di tangan kananku. Itu adalah sebuah tali tipis dengan panjang kurang dari satu meter—sebuah kawat mithril. Mithril adalah makanan pokok mereka, dan aku merasa kalau tidak ada salahnya untuk mencoba memberi makan mereka.

Aku mendapatkan kawat ini dengan meminta Rubiella untuk pergi ke bazaar dan membelinya.

Saat ini, dia sedang berada di meja kasir, membicarakan sesuatu dengan pemilik toko.

“Saya telah mendengar kalau cucu dari presiden Perusahaan Luor telah diculik oleh Gouz-Maise Gang,” aku dengan Rubiella mengatakan hal itu.

“Para bajingan itu masih melakukannya?” jawab penjaga toko. “Sampai sekarang, sudah berapa kali hal ini terjadi? Itu sudah lebih dari seratus kali, kan?”

Aku telah beberapa kali mendengar nama “Gouz-Maise Gang” di kota ini. Dari apa yang kudengar, mereka adalah kelompok penjahat yang menyusahkan Gideon dan sekitarnya dengan cara menculik anak-anak.

Orang macam apa yang mau menculik anak-anak? Pikirku, dengan rasa jijik memenuhi diriku.

“Ah…”

Sesaat kemudian, ujung dari kawat yang ku-ulurkan terpotong dan jatuh ke lantai. Aku segera menyimpulkan bahwa slime itu menyerangnya menanggapi kejijikan atau niat untuk memberinya makan. Meskipun kawat dan slime itu sama-sama terbuat dari mithril, potongan itu tampak sangat rapi, membuat ujung kawat itu menjadi datar dan tajam seperti cermin.

Aku secara perlahan mendekatkan kawat yang tersisa ke arahnya, membuatnya berulang kali memotongnya lagi dan lagi. Cara kawat itu menjadi semakin dan semakin kecil mengingatkanku pada sebuah manisan batangan tertentu. Tidak butuh waktu laman bagi kawat itu untuk berubah menjadi potongan-potongan mithril yang bertebaran di lantai.

“Benda ini berharga 2000 lir,” Aku menghela nafas sebelum melempar ujung kawat yang kupegang ke arah slime itu. Ujung itu juga terpotong menjadi dua pada saat memasuki “wilayah pribadi”, atau apapun namanya, milik slime itu.

“Sepertinya kau sedang kesulitan,” kata pemilik toko.

“Aku tidak bisa menyangkalnya,” jawabku. “Sama seperti yang kau katakan, semuanya akan menjadi sangat sulit setelah kau membuatnya berada dalam keadaan bisa dijinakkan.”

“Hm? Kau sudah sampai di sana?”

“Bagaimanapun, semua slime itu betina. Male Temptation bekerja dengan baik pada mereka, jadi aku tidak memiliki banyak kesulitan untuk membuatnya berada dalam keadaan bisa dijinakkan.”

Memang benar, tidak ada masalah dalam hal itu. Namun…

“Tapi saat aku mendekatkan tanganku untuk membuat kontrak… dia mengirisku.” Aku melihat ke arah mithril yang bertebaran di lantai dan bekas irisan di tanganku yang tak terhitung jumlahnya.

“Di antara para Tamer yang mencoba menjinakkannya, ada satu orang yang mencobanya sambil memakai sarung tangan mithril,” kata penjaga toko. “Dan dia masih mendapati tangannya terpotong.”

Jadi, bahkan armor yang terbuat dari mithril tidak bisa menahan serangan itu, huh? Pikirku.

“Armor yang terbuat dari logam Mythical… hihi’irokane… mungkin bisa menahan serangan itu, sih.” Tambah penjaga toko. “Haruskah kita mencarinya?”

“Tidak, terima kasih,” aku menggelengkan kepalaku. “Aku ragu apakah level-ku cukup tinggi untuk memakai benda seperti itu. Selain itu, kurasa itu bukanlah jawaban yang benar di sini.” Bergantung pada kekerasan dan stats rasanya tidak sesuai di sini. Jika memang begitu, para Tamer yang datang sebelum diriku pasti sudah melakukannya karena mereka memiliki stats dan equipment yang lebih baik. Cara yang benar untuk menjinakkan Mithril Arms Slime tidak ada hubungannya dengan hal semacam itu.

“Tapi sepertinya kau menemui jalan buntu,” kata penjaga toko.

“Sejauh ini, aku menyadari dua hal,” jawabku sambil menunjuk ke arah pot. “Pertama, kewaspadaannya. Dari pada menyerang secara otomatis, dia mempertimbangkan dengan hati-hati setiap dan semua benda yang dia potong. Setelah lebih dari empat jam melakukan hal ini, aku menyadari kalau jarak antara dia mulai menyerang memiliki perbedaan beberapa centimeter, yang artinya dia tidak melakukannya dengan presisi yang mirip mesin.”

Aku menunjuk ke arah potongan mithril yang ada di atas lantai. Meskipun mereka dipotong oleh slime yang sama, panjang mereka tidaklah sama, yang merupakan bukti dari apa yang barusan kukatakan.

“Begitu. Lalu, apa hal yang kedua?” tanya penjaga toko.

“Dia ingin dijinakkan.” Jawabku.

“Kenapa kau berpikir begitu?”

Aku menunjukkan telapak tanganku, yang dipenuhi banyak luka irisan kecil, kepadanya. “Semua luka ini dangkal.”

“Yah, aku juga bisa melihatnya.”

“Kawat dan jariku sama-sama memasuki zona waspada-nya. Namun, meskipun kawat itu terpotong, jari-jariku masih terpasang di tempatnya.”

“Oh!”

Dia dengan mudah memotong kawat mithril, akan tetapi tanganku—yang jauh lebih lemah—hampir tidak berada dalam bahaya.

“Luka-luka ini tidak lebih dari goresan, dan luka yang paling parah adalah apa yang kudapat setelah menunjuk ke arahnya dengan ceroboh ketika aku pertama kali melihat pot itu,” kataku. “Dengan kata lain, luka yang kudapat sebelum dia berada dalam keadaan bisa dijinakkan.”

Aku mengangkat jari telunjuk tangan kiriku, dan benar saja, goresan yang ada di sana adalah yang terdalam, meskipun cuma beda beberapa milimeter. Itulah sebabnya aku dapat menyimpulkan bahwa…

“Dia menahan diri pada manusia. Dan dia sangat berhati-hati pada mereka yang berhasil membuatnya berada dalam keadaan bisa dijinakkan, dan melemahkan serangannya hanya sekedar untuk peringatan. Sudah jelas bahwa dia memperlakukan kita berbeda dengan benda anorganik.”

“Tapi para Tamer yang datang sebelum dirimu…”

“Ya, mereka mendapat tangannya terpotong sepenuhnya. Kupikir hal itu juga akan terjadi padaku jika aku mengulurkan tanganku sedikit lebih jauh lagi,” kataku sambil mengulurkan tanganku ke arah zona waspada milik slime itu.

Meskipun serangannya menyebabkan lebih banyak goresan kecil di jariku, aku tidak menarik tanganku. Tentu saja, dia terus menyerang. Setelah memastikan kalau semua luka itu dangkal, aku menarik tanganku keluar dari zona waspadanya.

“Lihat?” kataku. “Jika kau memperhitungkan tentang perbedaan perlakuannya kepada kawat mithril dan tanganku, sudah jelas ada hal lain selain jarak dalam hal ini. Dia mungkin bertindak berdasarkan semacam aturan.”

“Jadi menurutmu kau bisa menjinakkannya saat kau berhasil menebak hal itu, eh?” tanya pemilik toko.

“Ya, tapi menebaknya akan menjadi hal yang merepotkan. Aku butuh petunjuk, dan…” Aku berhenti berbicara sebelum dapat menyelesaikan perkataanku.

Penjaga toko melihatku dengan ekspresi kebingungan, tapi aku tidak bisa memperdulikan hal itu. Bagaimanapun, sesuatu yang kuharap merupakan sebuah kebohongan masuk ke sudut pandanganku. Di sebelah pot, ada sebuah binatang kecil—seekor tikus.

“Oh, seekor tikus,” kata penjaga toko. “Kurasa penghalang yang menghalau mereka telah rusak.”

Pada saat aku melihatnya, pikiran yang mengendalikan tubuhku langsung membeku.

Tikus adalah makhluk yang sangat lemah sampai-sampai mereka tidak dihitung sebagai monster. Terdapat sebuah lubang di salah satu dinding, yang mungkin merupakan tempat dia masuk.

Tikus itu menyadari keberadaan kami dan melarikan diri melewati pot.

Semua itu memasuki pandanganku, dan aku memprosesnya dengan benar. Namun, di saat bersamaan, tubuhku berteriak secara refleks. “Tikus tikus tikus tikus tikus TIKUS!”
Aku masuk dalam keadaan super panik. Saat otakku berusaha memahami situasinya, pikiranku sedang dibanjiri oleh kenangan dari sebuah kejadian tertentu. Latihan, sebuah rumah tua, lantai yang rusak, jatuh ke sebuah ruangan yang dipenuhi tiku—

“TIIIIKUUUUUUUSSSS!” Kehilangan kendali pada tubuhku sendiri, aku menjadi semakin panik.

“Tidak apa-apa. Jangan takut.”

Insert6

… Aku dipeluk oleh Baby.

“Cup cup, Rook. Tidak ada yang perlu ditakutkan,” katanya, menenangkanku dan menepuk punggungku.

Dan anehnya, itu sudah cukup untuk membuatku secara perlahan menenangkan pikiran dan tubuhku yang panik. Itu sama seperti yang dilakukan ibuku kepadaku.

Setelah sekitar lima menit, aku sudah benar-benar tenang, dan rasa panik itu sudah hilang seolah-olah tidak pernah ada sebelumnya.

“Maaf telah membuat kalian melihatnya,” aku minta maaf kepada penjaga toko dan Rubiella.

Aku tau kalau perilaku ku tidak pantas. Tapi meskipun aku panik, pikiran masih bisa berfungsi dengan baik. Namun, aku hampir bisa merasakan sebuah gelombang pikiran lain membanjiriku.

Sekarang saat aku masih linglung, aku menyimpulkan bahwa inilah yang bisa disebut “trauma.”

“Tidak perlu minta maaf,” kata Rubiella.

“Bagaimanapun, semua orang memiliki hal yang tidak dapat mereka tangani,” tambah penjaga toko. “Tapi kenapa tikus membuatmu begitu… Oh, aku tidak akan bertanya.”

Dia pasti menyadari reaksiku tepat saat dia menyebut nama makhluk itu dan–karena rasa maklum—tidak jadi menanyakan alasannya.

Baguslah karena dia melakukannya, karena aku tidak terlalu yakin bagaimana harus menjawab hal itu. Aku sudah berusaha menghilangkan phobia tikus ku sejak kecil, tapi itu masih belum menunjukkan tanda-tanda berhasil.

Baiklah, cukup dengan tikus, pikirku.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting.

“Aku menemukan aturan slime itu, jadi aku akan menjinakkannya sekarang,” kataku. Hal yang kulihat saat sedang panik telah memberikan petunjuk terakhir yang kubutuhkan. Yang tersisa tinggal menguji teoriku.

“Benarkah? Apa itu, kenapa begitu tiba-tiba?” tanya penjaga toko.

“Kejadian ini tidak semuanya buruk,” kataku. “Berkatnya, aku menyadari kenapa aku tidak bisa menjinakkannya.”

“… Jadi kau bisa melakukannya dalam kondisi seperti itu?”

Yah, aku sudah memutuskan unruk mengamati sekelilingku tidak peduli seberapa bingungnya diriku, pikirku.

Bagaimanapun, akan butuh beberapa persiapan untuk menguji teoriku.

“Maaf, penjaga toko, tapi bisakah aku meminjam sebuah Jewel kosong?” tanyaku.

“Tidak masalah,” katanya sambil mengambil sebuah Jewel dari meja kasir. Itu memiliki jenis yang sama dengan milikku, hanya saja itu masih kosong.

Selama pemiliknya mengizinkannya, kita bisa memindahkan monster dari satu Jewel ke Jewel lainnya hanya dengan cara menyentuhkan keduanya.

“Baiklah, kalau begitu…” Mengambil Jewel kosong menggunakan tangan kiriku, aku mendekatkannya ke Jewel yang ada di tangan kananku. Dan setelah itu, aku memindahkan Marilyn dan Audrey ke Jewel kosong tadi.

“KIEEE?!” (“BOSS?! APAKAH KAU MAU MENJUAL KAMI?! WAT DE FAK!”)

“MHOOO!” (“T-T-T-T-Tenang! A-Aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu!”)

Oh… sepertinya mereka benar-benar terkejut, pikirku. Sekarang aku merasa agak bersalah. Aku seharusnya memberitahu mereka…

“Tri-Horn Demi-Dragon itu 2,400,000 lir, sementara Crimson Roc Bird itu 3,200,000 lir,” kata penjaga toko.

“KIEEE!” (“Makan tuh, njing! Aku lebih mahal!”)

“MHOO!” (“Sekarang bukan saatnya untuk senang, dasar otak burung! Dan juga, alasan kenapa kau lebih mahal adalah karena sudah ada spesiesku yang dijual di sini!”)

Apakah perbedaan harga benar-benar sebegitu berartinya buat mereka? Tunggu, sekarang bukan itu masalahnya, pikirku.

“Tidak, aku tidak menjual mereka. Aku hanya harus memindahkan mereka untuk sementara. Baby, tolong pegang ini sebentar,” kataku dan memberikan Jewel yang berisi Marylin dan Audrey kepada Baby.

“Baiiik.”

“Baiklah, kalau begitu,” aku bergumam dan mulai melepas pakaianku.

Aku melepas semua yang dihitung sebagai equipment.

“Hmm, seharusnya ini sudah cukup,” kataku, hanya tinggal memakai tank top dan celana dalam, pakaian dalam yang tidak memberikan bonus stats atau sejenisnya. “Kurasa sekarang aku sudah siap.”

“Rook, apa yang kau lakukan?” tanya penjaga toko, dan aku hanya menanggapinya dengan senyuman, menunda jawabannya setelah aku membuktikan teoriku.

Sambil menjauhkan tangan kiriku—yang memiliki tato Embryo di atasnya—dari slime itu, aku mengulurkan tangan kananku—yang memiliki Jewel di atasnya—ke arahnya.

Tidak seperti sebelumnya, caraku mengulurkan tanganku sama sekali tidak memiliki keraguan. Sesaat kemudian, tangan kananku melewati sisi zona bahaya tanpa terkena satupun serangan peringatan.

Aku terus mengulurkan tanganku semakin jauh, melewati area yang telah menyebabkan tangan banyak Tamer terpotong. Namun, tanganku memasukinya tanpa menerima satupun goresan, dan aku mencapai tepi pot.

Saat aku mendengar orang yang ada dibelakangku terkesiap, Mithril Arms Slime itu merayap keluar dan menyentuh telapak tanganku.

Sulit untuk mengatakan butuh waktu berapa lama, tapi pada akhirnya, sihir mulai mengalir di antara kami dan proses penjinakkan pun selesai.

“Namamu adalah Liz… Liz si Mithril Arms Slime,” Aku tersenyum sambil mengusap tubuh perak berkilaunya. “Mari berteman, Liz.”

Menanggapi hal itu, Mithril Arms Slime, Liz, bergoyang dengan bahagia.

Dengan demikian, teoriku terbukti benar.

Aku berbalik dan menghadap penjaga toko.

“Aku menjinakkannya,” kataku.

“… Bagaimana kau melakukannya?”

“Sama seperti yang kau lihat. Aku memindahkan Marilyn dan Audrey ke Jewel lain untuk sementara dan melepaskan equipment-ku.”

“Apa hubungannya hal itu dengan bisa menjinakkan slime itu?” tanyanya.

Mungkin penjelasanku masih kurang jelas, tapi sebenarnya itu benar-benar sederhana.

“Liz… atau, tepatnya, Mithril Arms Slime secara umum… sebenarnya sangat pengecut,” kataku sambil mengusap Liz, yang merayap ke seluruh tubuhku. “Bahkan jika kau berhasil membuat mereka masuk dalam keadaan bisa dijinakkan, dengan kata lain mereka telah mengakui kelayakanmu, tapi mereka masih takut dengan hal-hal lainnya.”

“Contohnya?”

“Monster lain di tangan kanan yang diulurkan kepada mereka.”

“Ah!”

Setiap orang yang menjinakkan dan menggunakan monster memasukkan mereka ke dalam Jewel di tangan kanannya sepanjang waktu, bahkan saat menjinakkan monster baru. Dan juga, tidak ada seorang Tamer pun yang mengenakan Jewel yang tidak memiliki monster di dalamnya. Itulah alasan kenapa para Tamer yang datang sebelum diriku tidak bisa menjinakkan Liz.

“Dan juga, pertama dia menyerang tangan kiriku,” lanjutku. “Itu mungkin terjadi karena dia takut dengan tato ini—hal yang menyalurkan kekuatan Embryo. Dan fakta bahwa dia menyerang sarung tangan dan kawat mithril membuatnya bisa disimpulkan bahwa equipment juga membuatnya takut. Itulah sebabnya aku menjinakkannya setelah melepaskan semua hal yang membuatnya ketakutan.”

Itulah alasan sederhana kenapa aku harus melepaskan equipment-ku dan menjauhkan tangan kiriku darinya.

“Bukankah itu hanyalah bukti tidak langsung?” tanya penjaga toko.

“Ya. Namun, aku menjadi benar-benar yakin pada hal itu saat aku melihat ti-tikus tadi,” jawabku. Hanya mengatakan namanya sudah membuatku merasa tidak enak, tapi aku masih melanjutkan penjelasanku. “Tikus itu hanyalah seekor tikus—yang bahkan tidak dihitung sebagai monster. Dan dia tidak diserang bahkan saat dia berada tepat di samping pot dan melewatinya saat aku sedang panik.”

Meskipun aku sedang panik, aku dengan jelas melihat bagaimana tikus itu bertindak. Meskipun berada sangat dekat dengan Liz, dia tidak sekalipun diserang. Itu karena tikus tidak dihitung sebagai monster.

“Jadi terpikir olehku kalau mungkin aku akan berhasil jika aku tidak mengenakan apapun dan tidak menakutinya. Bagaimanapun, luka yang dia berikan kepadaku tidak dalam, membuatnya tampak seperti dia tidak serius menyerangku.”

Serangannya hanyalah semacam tembakan peringatan. Tapi serangan itu tidak ditujukan kepadaku; mereka ditujukan kepada monster yang ada di dalam Jewel di tangan kananku dan tato Embryo yang ada di tangan kiriku.

“Apakah kau mempertimbangkan apa yang akan terjadi tebakanmu salah?” tanya penjaga toko. “Tanganmu mungkin sudah terpotong, kau tau?”

“Aku punya rasa percaya diri,” kataku sebelum berhenti sejenak. Aku menambahkan secara jujur, “Dan juga… jika aku salah, tidak masalah jika aku mati.”

Ayahku sering mengatakan kalimat yang dia dengar dari ayahnya sendiri: “Saat membuat deduksi yang mungkin bisa mengubah hidup orang lain, selalu pikul tanggung jawab dari apa yang kau katakan. Pertaruhkan hidupmu padanya dan lakukan terbaik untuk tidak pernah salah.”

Saat orang lain terlibat dengan deduksi-mu, kau harus yakin bahwa kau sudah siap untuk menanggung beban yang ada.

Tiba-tiba, aku menyadari kalau penjaga toko sedang menatapku dengan tatapan terkejut.

Kurasa itu wajar, mengingat apa yang baru saja kukatakan, pikirku.

“Oh, tapi aku adalah seorang Master, jadi aku tidak bisa benar-benar mati disini,” kataku dengan bercanda saat menyelesaikan penjelasanku.

“…” (“Apakah kamu baik-baik saja?”) Pada saat itu, Liz—yang sedang merayap di seluruh tubuhku—bertanya kepadaku dengan khawatir sambil melihat luka yang ada di tanganku.

“Ya, aku baik-baik saja, Liz,” jawabku. “Lukanya tidak dalam, dan irisanmu begitu rapi sampai-sampai tidak terasa sakit. Aku tidak marah sama sekali.”

Secara default, Infinite Dendrogram tidak memiliki rasa sakit, tapi aku yakin kalau itu tetap tidak akan sakit biarpun ada rasa sakit di sini.

“Rook,” panggil penjaga toko. “Kau bisa berbicara dengan slime?”

“Aku bisa memahaminya dengan melihatnya,” anggukku. “Bagaimanapun, komunikasi binatang itu lebih dari sekedar perkataan.” Faktanya, aku merasa kalau binatang itu lebih mudah dipahami dari pada manusia.

“Apakah itu sebuah skill?” tanya penjaga toko.

“Tidak,” aku menggelengkan kepalaku dan terdiam untuk sesaat. “Itu adalah teknik yang diajarkan orang tua ku kepadaku.”

Setelah mengatakan hal itu, aku menghabiskan beberapa saat untuk mengingat kenangan itu.

*

Setelah itu, aku membeli Liz dengan harga 5,130,000 lir, dibayar dengan cara cicilan.

Menurut pemilik toko, metode penjinakan Mithril Arms Slime yang kutemukan memiliki nilai lebih dari 10,000,000 lir. Karena hal itu, dia ingin memberikan Liz secara gratis, tapi aku tidak enak dengan hal itu, jadi aku memilih untuk membayar setidaknya separuh dari harga aslinya.

Ibuku selalu mengatakan kepadaku bahwa “Terlalu banyak menerima hal-hal gratis itu sama saja dengan mencuri,” dan itu bukan berarti aku mau mencuri dari penjaga toko, jadi aku puas dengan hal ini.

Dan juga, bukannya bergabung dengan monster lain di dalam Jewel, aku membuat Liz menggunakan skill Camouflage—skill umum milik slime—untuk berubah menjadi pakaian yang bisa kupakai. Penampilan pakaian itu masih terkesan metalik, tapi di dunia ini sudah ada equipment yang disebut “Mithril Coat,” jadi aku tidak akan terlalu mencolok. Dan juga, saat orang dengan skill Identification yang rendah melihat ke arahnya, mereka hanya akan melihat “Mithril Coat (Custom-Made).”

Satu-satunya masalah yang kumiliki dengan jaket ini adalah fakta bahwa Liz takut dengan tato menyebabkan lengan baju sebelah kiri menjadi lebih pendek dari sebelah kanan, tapi itu bukan masalah besar. Dia sesekali juga melakukan gerakan tidak alami, tapi sebagian besar orang hanya akan menduga kalau itu karena angin.

Bagaimanapun, sekarang kami sedang berkumpul di luar gerbang utara Gideon untuk mengantar Rubiella.

Sepertinya, saat aku sedang sibuk menjinakkan Liz, Catherine telah kembali ke Ibukota, dan Rubiella hendak menyusulnya.

“Terima kasih atas bantuanmu, Rubiella,” kataku.

“Saya merasa terhormat menerima rasa terima kasih dari anda, Tuan Rook. Saya, juga, berterima kasih karena anda telah memberikan sesuatu yang menarik untuk diceritakan kepada Milady.”

“Bicara soal Catherine, aku benar-benar ingin berterima kasih kepadanya sebelum dia pergi.” Bagaimanapun, berkat bantuannya lah aku bisa bertemu dengan Liz.

Dia benar-benar banyak membantuku, pikirku.

“Saya pasti akan menyampaikan rasa terima kasih anda,” kata Rubiella.

“Terima kasih.”

“Baiklah, kalau begitu, Tuan Rook, Babylon, Marilyn, Audrey, dan Liz.” Katanya. “Saya harap kita bisa bertemu lagi.”

“Bagaimana caramu kembali ke Ibukota? Kereta Naga?” tanya Baby, membuat Rubiella tertawa kecil.

“Tubuh saya sudah lebih dari cukup,” katanya, dan sesaat kemudian, dua buah sayap besar muncul dari punggungnya.

Sesaat setelah aku menyadari bahwa itu mirip saya naga, dia mengepakkan mereka dan terbang ke atas awan, dimana penampilannya tiba-tiba berubah. Sekarang dia adalah seekor naga besar yang mengeluarkan cahaya crimson yang dapat dengan mudah kulihat dari darat.

Rubiella, seekor naga crimson yang bisa menggunakan Anthromorphization, mengucapkan sampai jumpa kepada kami dengan cara berputar di udara dan kemudian terbang menuju Ibukota, dia terlihat sangat agung saat melakukan hal itu.

“KIEEE!” (“Hei, kura-kura, aku juga akan mencoba dan mendapatkan Anthromorphization.”)

“VAHMOO!” (“Kebetulan sekali. Aku juga memikirkan hal yang sama.”)

Audrey dan Marilyn sepertinya sangat takjub dengan apa yang Rubiella tunjukkan kepada kami.

“Nah, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku. “Pertemuan dengan Marie masih besok lusa, Ray sepertinya juga sedang offline, dan aku tidak memiliki satupun rencana.”

Satu-satunya urusan pribadiku hari ini adalah mengatakan halo kepada Catherine dan mendapatkan monster baru. Tak perlu dikatakan, aku sudah melakukan keduanya, membuatku tidak memiliki hal lain yang harus dilakukan.

“Kalau begitu kenapa kita tidak pergi leveling?” tanya Baby, yang kemudian kujawab dengan sebuah anggukan.

Saat ini kami belum pernah bertarung bersama Audrey dan Liz, jadi itu adalah ide yang benar-benar bagus.

Dan juga, aku merasa kalau party kami akan melawan musuh yang sangat tangguh di masa depan, jadi aku ingin agar kami bisa berguna saat waktunya tiba.

“Ide bagus,” kataku. “Aku ingin menjadi lebih kuat, jadi ayo kita pergi leveling.”

Audrey berteriak, “KIEE” (“Boss! Aku tau dimana kita bisa menemukan musuh di wilayah ini!”)

Audrey awalnya adalah mount milik Gardranda, makhluk yang hidup di sekitar Nex Plain, jadi sudah wajar kalau dia akrab dengan wilayah sekitar sini.

“Kalau begitu, bisakah kau menunjukkannya kepada kami, Audrey?” tanyaku.

“KIEEEE!” (“Tentu saja, Boss! Naiklah!”)

“Jadi, Marilyn, untuk sekarang kau harus masuk ke dalam Jewel,” kataku. “Kita akan berburu setelah sampai di sana.”

“MHOOO.” (“Baiklah.”)

“Maukah kau melindungiku, Liz?” tanyaku.

“…” (“Tentu saja. Jangan khawatir.”)

“Baby, apakah kau siap?” tanyaku.

“Selalu!”

Dan, tentu saja, aku juga sudah benar-benar siap.

“Kalau begitu, ayo berangkat.”

“Baik, Master!” mereka semua menjawab serentak saat kami mulai terbang.

 

[CERITA ROOK, SELESAI.] Bersambung ke volume berikutnya…

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Number says:

    Awalnya sih kesel juga kenapa harus cerita sampingan saat cerita utama lagi seru serunya, tapi mayan lah

    Like

  2. SA IDUN says:

    sipppp,, ternyata menarik juga,, tanks min..LANJUTKAN

    Like

  3. Kefvin says:

    Thanks untuk Chapternya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s