Infinite Dendrogram Volume 3 Side Story 1 A

Volume 3
Side Story 1 – Kasus Slime yang Tak Dapat Dijinakkan (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Pimp, Rook Holmes

“Lucius, kau sudah mempelajari pola bahasa Inggris?”

“Ya! Aku juga sudah setengah jalan dalam mempelajari bahasa Jepang dan Jerman!”

“Menakjubkan. Bahkan aku tidak dapat melakukan itu saat masih muda.”

“Aku melakukan yang terbaik, Ayah! Bagaimanapun, aku adalah…”

*

“Sudah pagi,” gumamku saat aku bangun seperti biasa saat fajar menyingsing, di hari pertama setelah kami sampai di Gideon.

Tidur semalam di sini di dalam Infinite Dendrogram membuatku merasa seolah-olah benar-benar tidur sangat lama, yang membuatku penasaran, karena waktu yang berjalan tiga kali lebih cepat di sini berarti aku hanya tidur sepertiga malam di dunia nyata.

“Selamat pagi, Marilyn,” kataku. Dia sudah terbangun di dalam jewel. “Izinkan aku melakukan sesuatu, dan kemudian kita akan sarapan.”

Aku memakai pakaianku dan menjalani rutinitas harianku.

Itu adalah latihan membaca mulut. Sesuatu yang sudah kulakukan selama hampir sepuluh tahun, bahkan sejak aku baru berumur lima tahun. Latihan ini terdiri dari memeriksa bentuk mulut saat mengucapkan berbagai suara dari berbagai bahasa.

Namun, di dalam Infinite Dendrogram, hal itu agak berbeda.

“Sekarang sudah jelas bahwa setiap kata yang bermakna, memiliki bentuk yang sama tidak peduli bahasa apa yang kau gunakan… semua itu diterjemahkan kedalam bahasa yang ada di Infinite Dendrogram,” kataku. “Aku benar-benar memahaminya saat ini, jadi mungkin akan butuh waktu sampai aku bisa membaca mulut di sini.”

Tidak peduli apakah aku menggunakan bahasa Inggris dan mengatakan “hand” atau bahasa Jepang dan mengatakan “te,” bentuk mulut saat mengucapkan kedua kata itu selalu sama. Menurutku setiap kata diterjemahkan ke dalam bahasa Infinite Dendrogram tepat saat kata tersebut memiliki makna. Namun, suara tak bermakna—seperti “h,” “a,” “n,” “d,”—memiliki bentuk mulut seperti seharusnya.

Di dunia nyata, aku bisa dengan mudah membaca mulut pada suatu percakapan dalam beberapa bahasa. Namun di sini, aku kembali di kirim ke garis start dan sekarang harus menghabiskan setiap hari untuk meningkatkan perkataan yang dapat kubaca.

“Maaf membuatmu menunggu, Marilyn,” kataku setelah berlatih selama satu jam. “Ayo kita makan.”

“Pagi, Rook!” kata Baby. “Yay! Makanan!”

“KIEEH…” tambah Audrey. (“Wew, aku lapar…”)

Baby dan Audrey juga sudah bangun, jadi kami semua akan mulai sarapan.

Setelah selesai, aku mengembalikan Marilyn dan Audrey ke dalam Jewel dan berjalan menyusuri jalanan Gideon.

Marilyn dan Audrey mulai bertengkar sejak saat mereka bangun.

“MHOO!” (“Dasar ayam merah sialan!”)

“KIEE! KOOO!” (“Dasar kura-kura jalang! Fak yu!”)

Ini sudah terjadi sejak saat Audrey bergabung dengan kami. Mungkin ini ada hubungannya dengan Marilyn yang tampak seperti gadis rajin dan Audrey yang seperti gadis nakal, tapi aku juga mendengar bahwa naga tanah dan burung pada dasarnya memang tidak terlalu akur.

Kita ini tim, jadi aku benar-benar berharap kalian bisa berteman, pikirku.

“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanya Baby, membuatku merenung.

Berdasarkan friend list-ku, Ray dan Marie sedang offline. Dari intonasi dan gaya bahasa yang mereka gunakan, aku bisa menduga kalau mereka berdua adalah orang Jepang, dan karena saat ini di sana malam hari, kemungkinan besar mereka sedang tidur.

Karena itu, ada baiknya jika aku mengurusi masalah yang sepenuhnya milikku sendiri.

“Pertama kita akan pergi ke Pimp Guild,” kataku. “Ada seseorang yang ingin kutemui di sana. Setelah itu, kita akan melihat-lihat pasar monster peliharaan.”

Aku harus menemui orang tertentu di Guild Pimp dan kemudian membeli satu atau dua monster baru, yang sejak awal merupakan alasanku datang ke Gideon. Namun, prioritas untuk membeli monster baru telah turun jauh saat aku mendapatkan Audrey.

“MHOO.” (“Tuan, tolong jangan beli burung lagi.”)

“KIEE.” (“Kura-kura juga jangan, bos. Satu sudah lebih dari cukup di sini.”)

Mendengar Marilyn dan Audrey mengatakan hal itu dari dalam Jewel yang ada di tangan kananku, aku memikirkan tentang apa yang benar-benar kuperlukan.

“Yah,” kataku. “Kita punya Marilyn untuk darat dan Audrey untuk udara, jadi sekarang kita membutuhkan seseorang untuk air. Kurasa itu bukan seekor burung, tapi ada kemungkinan kalau itu adalah kura-kura.”

Setelah memberikan tanggapan yang berbeda terhadap perkataanku, kedua gadis itu tiba-tiba tampak kebingungan. Dari apa yang kulihat, mereka baru menyadari kalau aku bisa memahami apa yang mereka katakan.

“Siapa yang akan kau temui, Rook?” tanya Baby.

“Seseorang yang dipanggil Catherine,” jawabku. “Dia banyak membantuku di Ibukota saat aku baru saja menjadi Pimp. Dia adalah orang yang memberitahuku kalai aku harus melakukan beberapa kerja paruh waktu dan mengambil skill identifikasi.”

“Apakah kita benar-benar pernah bertemu orang seperti itu?”

“Itu terjadi saat kau sedang tidur.”

Setelah katalog yang dipinjamkan Ray kepadaku memberitahu kalau job yang cocok denganku adalah Pimp, Aku kesulitan menemukan Pimp Guild di Ibukota karena itu adalah tempat yang cukup rahasia dan aku juga merupakan seorang newbie yang belum terlalu mengenal wilayah itu. Catherine, seorang Pimp berpengalaman, telah membantuku menemukan tempat itu.

Dia jugalah yang memberitahuku kalau markas Pimp Guild ada di sini, di Gideon. Catherine sering mengunjungi tempat itu, jadi aku tidak punya alasan untuk tidak datang kesana dan mengucapkan hai.

Setelah mengikuti petaku menuju gang belakang di distrik kedelapan Gideon, aku tiba di sebuah bangunan yang tampak seperti campuran antara bar dan penginapan. Papan nama yang ada di dekat pintu masuk bertuliskan “Markas Pimp Guild,” jadi aku yakin kalau ini adalah bangunan yang benar. Adventurer Guild juga berfungsi sebagai bar, tapi fakta bahwa bangunan ini juga merupakan sebuah penginapan mungkin berarti seperti yang sebagian besar orang bayangkan.

“Aku akan makan di sana!” kata Baby sebelum pergi ke sebuah meja.

Meskipun dia tidak serakus Nemesis milik Ray, tapi Baby termasuk banyak makan. Tentu saja, jumlah yang dia makan tidak berarti terlalu banyak saat seseorang melihat bahwa dia hanya memakan makanan manis yang dicampur makanan pedas.

Pokoknya, mungkin karena diriku yang jelas terlalu muda untuk menjadi seorang Pimp, aku menarik banyak perhatian.

“Permisi,” aku berbicara kepada pria yang tampak berlevel tinggi yang bekerja di belakang meja kasir.

“Selamat datang, nak,” jawabnya. “Ok, kau tampak muda! Oh tidak, itu bukan masalah! Kami tidak memiliki batasan umur di sini! Semua orang bebas menikmati waktu mereka kapan saja!”

Meskipun dia berbicara sambil menunjukkan senyum palsu, sepertinya dia tidak memiliki niat jahat terhadapku. Mungkin begitulah caranya untuk berinteraksi dengan pelanggan biasa.

“Oh, aku bukan pelanggan. Aku anggota guild,” kataku sambil menunjukkan kartuku.

“Yah, kayaknya kau nggak bohong,” katanya sambil melihat kartuku. “Jarang ada Master yang mau jadi Pimp. Kami punya dua atau tiga Master lain, tapi kau pasti adalah yang termuda dari mereka.” Senyum palsunya menghilang saat dia mengubah sikapnya terhadapku.

Sama seperti yang dia katakan, Pimp—meskipun merupakan job yang berguna—tidak terlalu populer di antara para Master. Sejauh yang kutahu, job paling populer di sini di Kerajaan adalah yang berasal dari knight grouping, dan meskipun setelah melihat Ray aku mengetahui alasannya, aku masih penasaran kenapa pimp grouping begitu kecil jika dibandingkan dengan knight grouping.

“Jadi, kau nyari orang yang mau kau layani?” tanya pria itu. “Atau apakah kau butuh beberapa pekerja?”

Pertanyaan pertama mengacu pada guild quest, seperti quest pencarian model seperti yang kuambil di Ibukota sebelumnya. Pertanyaan kedua mengacu pada pembelian monster peliharaan dan sejenisnya. Di Gideon, sama seperti tempat ini, mereka bisa dibeli di distrik ke empat.

“Yang terakhir, plis.” Kataku. “Tapi, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Apa itu?”

“Apakah di sini ada Master yang bernama ‘Catherine’?”

Pada saat aku menyebutkan nama itu, guild itu jatuh dalam kesunyian. Beberapa orang menjatuhkan gelas yang merek pegang, beberapa orang mulai meringkuk ketakutan, sementara yang lainnya segera membayar tagihan mereka dan buru-buru keluar.

Bagaimana aku harus menanggapi reaksi ini? Pikirku.

“Apakah kau mengenalnya?” tanya pria itu.

“Ya,” anggukku. “Dia banyak membantuku di guild cabang Ibukota.”

“Yah, dia memang pandai dalam menangani pemuda tampan,” kata pria itu. “Meskipun kebanyakan dari mereka terkesan menghindarinya… Bagaimanapun, dia seharusnya akan ke sini sebentar lagi.”

Aku memilih untuk menunggunya. Aku pergi dan duduk di meja yang sama dengan Baby dan menunggu waktu berlalu sambil meminum teh gratis yang mereka berikan kepadaku.

Selama waktu itu, aku merasa kalau Marilyn dan Audrey—masih berada di dalam Jewel—sedang meributkan sesuatu lagi. Aku mendengar suara yang sepertinya berhubungan dengan seleraku, Catherine, persaingan cinta, antromorfisasi naga, dan cinta antara burung dan manusia.

Apa yang mereka bicarakan? Pikirku.

Setelah menunggu hampir satu jam, pintu guild terbuka, dan aku mendengar suara nyaring yang familiar.

“Heeiii! Selamat pagi kalian semuaaa!”

“Ah, dia di sini,” kataku.

Pemilik dari suara itu adalah Catherine yang sedang kutunggu.

Dia masuk ke dalam guild sambil ditemani oleh empat maid, menyadari keberadaanku, dan berjalan ke meja kami.

“Ara! Bukankah itu Rookie!” katanya dengan riang. “Aku dengar kalau blokade PK itu sudah selesai, tapi aku tak menyangka kau sudah sampai di Gideon.”

“Seperti yang kau lihat, aku sudah di sini!” jawabku. “Aku datang kemari bersama Baby, anggota party-ku Ray dan Marie, dan gadis-gadis yang ada di sini!” aku mengenalkan Baby dan kedua gadis yang ada di dalam Jewel-ku kepadanya.

“Rook, siapa dia?” tanya Baby.

“Dia adalah orang yang kuceritakan padamu—Catherine Kongou,” jawabku. “Dia adalah Pimp berpengalaman dan orang yang sangat bisa diandalkan.”

“Oh ayolah, Rookie, pujian seperti itu bisa membuatku malu!” teriak Catherine.

Sesaat kemudian, aku menyadari kalau Marilyn dan Audrey tampak sangat terkejut. Karena suatu alasan, seolah-olah mereka terkejut oleh penampilan Catherine. Sambil memikirkan hal itu, aku kembali mengamati penampilan Catherine.

Rambut pirang panjang yang tampak seperti sutra.

Pupil mata berwarna biru tua yang mirip dengan lautan.

Pakaian custom-made dengan desain mewah, yang jelas terbuat dari bahan berkualitas tinggi.

Kuku yang dicat dengan sangat indah yang mungkin dia lakukan sendiri.

Suara indah dan menawan yang mirip dengan putri duyung.

Tubuh dengan tinggi lebih dari dua meter.

Biseps besar, yang sama tebalnya dengan leher kuda.

Bagian dada sedikit terbuka, yang menunjukkan otot dadanya yang tampak seperti baja.

Bentuk wajah yang mirip dengan Jojo.

Benar, itu adalah Catherine yang sama dengan yang kutemui di Ibukota.

Penampilannya memang agak unik, jadi menurutku wajar kalau dia mengejutkan Marilyn dan Audrey.

Sebenarnya cukup menarik karena bahkan para monster juga bisa terkejut dengan apa yang dipakai manusia, pikirku. Aku sudah memikirkan ini sejak dulu, tapi ini benar-benar tampak seperti pikiran mereka mirip dengan pikiran milik manusia.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    catherine-??? ma…

    Like

  2. Number says:

    Wanjir :v

    Like

  3. Albarn says:

    wahai ilustrator-sama ! kumohon jangan menyianyiakan waktu berharga anda untuk menggambarkan Catherine !!!

    Like

Leave a Reply to Number Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s