Infinite Dendrogram Volume 3 Chapter 3 C

Volume 3
Chapter 3 – Xunyu sang Yinglong (Bagian 3)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

“Kami kembali,” kataku.

“Maaf mengganggu-kuma,” tambah kakakku.

Pada saat aku, Nemesis, Shu kembali ke tempat duduk kami, Marie telah selesai mempersiapkan perlengkapannya. Rook dan Baby juga sudah bangun, dan mereka menatap ke arah kakakku dengan bingung.

Yah, kemunculan tiba-tiba dari orang asing yang memakai kostum beruang membuatnya menjadi skenario yang sangat aneh, pikirku. Tunggu… hanya perasaanku, atau Marie malah lebih terlihat terkejut dari pada bingung?

“Umm… R-Ray? Si-Siapa… pria… beruang ini…?” Tanyanya sambil menunjukkan ekspresi kaku.

Kurasa kostum itu membuatnya ketakutan.

“Ini adalah kakakku,” jawabku. “Kita kebetulan berada di tempat duduk yang sama.”

“Wow, itu kebetulan yang sangat menarik,” komentar Rook. “Oh? Ada apa, Marie?”

“T-Tidak… bukan apa-apa, sungguh.”

Meskipun dia berkata demikian, sudah jelas ini ada apa-apanya. Ekspresi wajahnya terlihat gugup dengan jelas. Juga, dia menggumamkan sesuatu seperti “Mereka sangat, sangat mirip… Itu adalah kostum, bukan bulu, tapi teksturnya sama… Suaranya juga sama…. Dan itu adalah beruang…”

“Marie,” kataku. “Kau…”

“Eh?!” serunya. “A-Aku apa?”

Nada suaranya membuatku benar-benar yakin kalau Marie…

“Kau takut beruang, bukan?” tanyaku.

Untuk sesaat, pertanyaanku membuatnya tertegun. Lalu, dia mengangguk dengan sikap yang sedikit berlebihan.

“Y-Y-Y-Ya! It-Itu benar sekali! Aku kurang suka dengan beruang! Ya, bukan berarti aku takut dengan King — Ma-Maksudku, kakakmu!”

Karena suatu alasan, dia tidak berbicara dengan lancar seperti biasanya.

Kurasa dia begitu takut dengan beruang melebihi dugaanku.

“Kalau begitu, kurasa aku tidak boleh berpenampilan seperti ini,” kata Shu. “Tolong tunggu sebentar-kuma.” Tiba-tiba, beruang itu menghilang dan — karena suatu alasan — digantikan oleh seekor paus berkaki dua.

Tapi yang jadi pertanyaan, apakah paus berkaki itu bisa disebut sebagai paus, pikirku.

“Jika kau takut dengan beruang, maka mungkin ini tidak masalah? Whale?” tanya Shu.

“Apakah kau mengganti kata ‘Well’ dengan ‘Whale’? Masyaallah, itu terlalu dipaksakan! Dan kenapa kau tiba-tiba memakai bahasa Inggris?” kataku.

“Whale, apakah kau punya permainan kata yang lebih bagus, wahai anak muda?!”

“Tidak, aku tidak punya!”

Serius, aku tidak pernah melihat karakter paus yang mencoba menonjolkan ke-pausan-nya menggunakan permainan kata paus, pikirku.

“U-Umm,” Marie mulai berbicara. “Itu tidak masalah. Aku sudah agak tenang. Kau bisa kembali menjadi beruang.”

“Benarkah? Whale, baiklah kalau begitu,” kata kakakku sebelum diselimuti oleh cahaya dan kembali berubah menjadi beruang.

Njir, sekarang kalau aku membandingkannya, penampilan beruang-nya begitu menenangkan, pikirku. Beneran, ada semacam perasaan aman saat aku melihat penampilan itu.

Tentu saja, patut dipertanyakan apakah kau akan merasa benar-benar aman saat berada di dekat pria berumur hampir 30 tahun yang memakai kostum beruang dan berbicara dengan permainan kata beruang, tapi lebih baik aku mengesampingkannya untuk saat ini.

“Baiklah,” kataku. “Izinkan aku memperkenalkanmu lagi. Orang yang ada di dalam kostum ini adalah kakakku.”

“Senang beruangtemu dengan kalian. Aku adalah kakak Ray di IRL, Shu.”

Sapaan macam apa yang menggunakan kata ‘beruangtemu’ itu? pikirku. Oh, terserahlah.

“Dan ini adalah anggota party-ku…”

“Aku Rook, dan ini adalah Embryo-ku, Baby.”

“Heii, aku Baby!”

“A-Aku Marie Adler. Senang bertemu denganmu.”

“Marie Adler?” Shu mengulangi namanya dan memiringkan kepalanya kesamping.

Gerakan itu membuat Marie sedikit terguncang.

Apakah kau yakin tidak takut dengan kostum beruang? Pikirku.

“Apakah job-mu adalah ‘Journalist’?” tanya kakakku.

“Y-Ya benar.” Jawab Marie.

Bagaimana dia bisa tau job-nya hanya dengan mendengar namanya? Apakah itu karena semua perlengkapan yang ada disini?

“Aku juga membaca manga itu.” kata Shu.

“Manga apa?” tanyaku.

Into the Shadow. ‘Marie Adler’ adalah nama protagonist di manga itu, dan dia bekerja sebagai seorang jurnalis.”

“Begitu,” kataku. “Kau menyukai manga itu, Marie?”

“Ya, aku menyukainya.” Jawabnya. “Itulah alasan kenapa aku memilih nama dan job ini.”

Yah, itu jelas bukan hal yang aneh bagi player MMO untuk menggunakan nama dan penampilan dari karakter yang mereka sukai.

“Apakah itu juga alasan kenapa gaya bicaramu seperti itu? tanya Shu.

“Tentu saja, ini hanya sebuah akting.” Jawabnya. “Tidak ada teman sepantaranku yang berbicara dengan gaya seperti ini saat mereka berumur lebih dari 20 tahun.”

Dia sungguh serius, pikirku. Juga, ini pertama kalinya aku mengetahui bahwa dia lebih tua dariku.

Into the Shadow, kan?” kataku. “Mungkin aku harus membacanya juga.”

“Asal kau tau, manga itu tidak dilanjutkan oleh majalahnya,” kata kakakku. “bagian pertama dari ceritanya telah selesai dan serialisasinya dihentikan begitu saja.”

Well, damn…

“Manga itu cukup populer, sih,” tambahnya. “Aku juga sangat menyukainya, dan aku berharap agar manga itu kembali berlanjut suatu saat nanti.”

“Terima kasih. Aku menghargai hal itu,” kata Marie. Sepertinya dia adalah penggemar berat manga itu.

Aku benar-benar harus membelinya saat punya kesempatan, pikirku. Jika mereka merasa bahwa manga itu bagus, maka mungkin aku juga akan menikmatinya.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Waktu menunggu telah selesai! Event utama hari ini — Clash of the Superior — sebentar lagi akan dimulai!” kata sebuah suara, mengumumkan bahwa pertandingan sudah dimulai. Suara itu bergema di seluruh arena, diiringi oleh alunan musik.

Aku sudah diberitahu bahwa, sama seperti toilet di dunia ini, pengumuman itu juga dilakukan menggunakan sihir.

“Oh, pertarungannya sudah mau dimulai,” kata Shu. “Lebih baik kalian mempersiapkan mental kalian-kuma.”

“Benar,” kata Marie. “Aku juga harus merekamnya.”

Kami semua duduk dan mulai bersiap-siap menyambut event itu.

Njir, sekarang kalau dipikir-pikir, event yang disebut “Clash of the Superior” ini benar-benar sesuai dengan namanya, pikirku. Figaro dan Xunyu — dua orang Superior yang memiliki Superior Job — sebentar lagi akan bertarung.

Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang berbeda dengan yang pernah kulihat sampai saat ini. Bagaimanapun, orang yang akan bertarung adalah makhluk terkuat dan tertinggi di Infinite Dendrogram.

“Pertama, di gerbang timur! Pintu masuk bagi tamu kehormatan kita!” panggil pembawa acara itu.

Sebuah lampu sorot tertuju pada sebuah pintu masuk.

“Seorang Superior yang berasal dari negeri Huang He! Ahli bela diri luar biasa yang menyandang gelar ‘Yinglong’! Hewan buas dari timur! Master Jiangshi! XUN… YUUUUUU!”

Terdengar sebuah ledakan musik crescendo, dan bahkan terdapat asap yang keluar di sana, Sesaat kemudian, makhluk itu menembus tabir tipis itu dan menunjukkan dirinya.

Sosoknya memiliki tinggi lebih dari empat meter, membuat para penonton berteriak karena terkejut. Sekilas pandang pada lengannya yang panjang sudah cukup untuk membuat keringat dingin mengalir di punggungmu.

Bagi mereka yang tinggal di negara ini, yang memiliki latar Barat, bahkan pakaian makhluk itu seperti berasal dari dunia antah-berantah.

Menyebarkan ketakutan dan kejutan dengan setiap langkahnya, Master Jiangshi, Xunyu, memasuki panggung. Makhluk itu mengangkat tangannya dan mengeluarkan teriakan pertarungan, yang kemudian diikuti oleh ledakan di kedua sisi pintu masuk.

Penampilan itu membuat para penonton bersorak dan berteriak.

“Mereka benar-benar tau bagaimana dunia hiburan itu bekerja,” kataku.

“Gideon sebenarnya merupakan kota showbiz-kuma,” jelas Shu. “Juga, para Master memberikan saran kepada para tian tentang bagaimana cara menyusun pembawaan acara ini.

Seperti yang kuduga. Hal itu terlihat sama persis dengan sesuatu dari event pertarungan di TV.

Namun, aku merasa kalau pembawa acara yang ada di TV lebih bagus. Pembawa acara yang ada di sini sepertinya tidak terbiasa dengan hal itu.

“Ngomong-ngomong, Xunyu menduduki peringkat dua duel ranking di Huang He,” tambah Shu. “Kau akan terbiasa dengan hal ini jika kau sudah banyak melakukan duel sepertinya.”

Nomor dua? Jadi ada orang lain yang berada di puncak, huh?

“Ngomong-ngomong, ‘Master Jiangshi’ itu job seperti apa, sih?” tanya Rook.

“Huang He memiliki job yang disebut ‘Daoshi’, dan kudengar ‘Master Jiangshi’ adalah Superior Job dari kelompok itu.” jawab Marie. “Jika di negara ini, mungkin job itu akan disebut sebagai Mage.”

“Ciri utama dari Daoshi adalah mereka membuat dan memakai item tertentu — jimat yang disebut sebagai ‘Fu’.” Tambah Shi. “Keuntungan terbesar mereka adalah, mereka bisa melancarkan sihir dengan cepat dan terus-menerus, sementara kekurangannya adalah biaya pembuatan item tersebut.”

“Dan jangan lupa bahwa skill yang semakin kuat memerlukan banyak waktu untuk menempatkan Fu.” Tambah Marie.

Shu mengangguk. “Aku juga mendengar hal itu, sementara berada di dalam daoshi grouping, Master Jiangshi adalah upgrade langsung dari job yang dikenal sebagai ‘Jiangshi’, yang berfokus pada endurance. Karena itu, bisa diduga bahwa gaya bertarung Xunyu tidak hanya murni sihir, tapi juga melibatkan pertarungan jarak dekat.”

“Oh, itu benar. Bagaimanapun, daoshi grouping adalah jenis yang membuka Superior Job yang berbeda tergantung dengan job yang kau kombinasikan dengannya. Faktanya, mungkin akan lebih tepat untuk menganggap Master Jiangshi sebagai Superior Job dari jiangshi grouping.”

Sepertinya kami memiliki dua orang narasumber di sini. Dan karena Rook-lah yang mendengarkan mereka, pada dasarnya aku hanya menjadi bagian dari latar belakang. Bukan berarti aku memikirkannya, sih.

“Tunggu, job itu juga disebut sebagai ‘Shi Jie Xian’, kan?” tanyaku. “Hal itu sama sekali tidak berarti ‘Jiangshi’, bukan? Jadi kenapa itu dibaca sebagai ‘Master Jiangshi’?”

“Yah, tidak semua job bisa diterjemahkan dengan baik seperti ‘King of Destruction’, contohnya,” jawab Shu.

“Penamaan Superior Job bisa saja menjadi sangat sesuatu,” tambah Marie. “Misalkan saja ‘Death Shadow’.”

Kurasa keunikan mereka berasal dari penamaan yang unik itu, pikirku.

“Lalu bagaimana sebenarnya player ini bertarung?” tanya Rook.

Aku juga penasaran dengan hal itu. Aku sudah berhadapan dengan Xunyu di meja kasir dan melihat jiangshi itu bertarung melawan Shu, tapi aku sama sekali tidak memahami apa yang terjadi pada saat itu.

“Julukan ‘Yinglong’ mungkin akan membuatmu berpikir sebaliknya, tapi itu bukan nama Embryo milik Xunyu,” kata Marie. “Juga, kadang-kadang Xunyu juga disebut sebagai ‘Landmine’ atau ‘Divine Speed,’”

Kedua julukan itu memberikan kesan yang benar-benar berbeda. Yang pertama memberikan kesan berdiam diri ditempat, sementara yang kedua memberikan kesan bergerak kesana-kemari. Tentu saja, itu membuatku penasaran mana yang lebih cocok untuk petarung misterius ini.

“Dan di gerbang barat! Kita memiliki kebanggaan Gideon! Juara bertahan di kota kita!” panggil pembawa acara itu.

Musik berganti dan lampu sorot di arahkan ke gerbang yang berlawanan.

“Raja! Penjelajah solo! Orang yang memiliki julukan ‘Endless Chain’ dan menyandang gelar ‘Over Gladiator’! Pria terkuat di kerajaan! FIIIIIGAAAROOOOO!”

Seperti yang telah diperkenalkan, orang yang berjalan keluar dari gerbang barat tidak lain adalah Figaro. Meski menunjukkan senyum lembut di wajahnya, matanya memberikan tekanan yang tak dapat diukur, dan mereka tidak memberikan satupun petunjuk tentang apa yang sedang dia pikirkan.

Tentu saja, dia tidak memakai kostum singa. Melainkan, dia memakai equipment yang sama anehnya dengan sebelumnya.

Kemunculan Figaro membuat sorakan bergema di arena.

“FI-GA-RO! FI-GA-RO!” para penonton meneriakkan hal itu saat dia berjalan dengan perlahan ke arah penggung. Seperti yang sudah kudengar, dia sangat populer di bidang ini.

Yah, aku paham kenapa dia harus memakai kostum itu, pikirku.

“Baiklah! Mari kita bersiap untuk pertarungan paling besar di abad ini!” kata sang pembawa acara.

Sekarang karena kedua partisipan sudah berada di atas panggung, mereka membuka setting window. Aku juga melihatnya sebelum event pembuka berlangsung. Window itu digunakan untuk mengatur barrier. Sama seperti saat event pembuka, kedua sisi melihat peraturan yang ditampilkan dan mengonfirmasi jika mereka menyetujuinya sebelum memulai pertarungan.

Sebagian besar duel yang berlangsung di sini di Gideon adalah 1v1 dan tidak memiliki banyak peraturan. Semua serangan dan taktik di izinkan. Apa yang tidak diizinkan adalah accessories yang mencegah instant death — seperti Lifesaving Brooch dan Dragonscale Ward yang sudah akrab denganku — dan item penyembuh. Penyembuhan yang berasal dari skill equipment tidak dilarang, dan aku masih terlalu noob untuk memahami kenapa mereka diperlakukan secara berbeda.

“Figgy akan memiliki keberuntungan yang sangat besat jika mereka mengizinkan penggunaan accessories seperti itu,” kata Shu.

“Eh? Tapi peraturannya sama bagi kedua petarung, jadi apakah itu akan menciptakan perbedaan yang begitu besar?” tanyaku.

“Percaya padaku. Jika itu Figgy, maka itulah yang terjadi.”

Jadi Figaro memiliki sesuatu yang memberikan keuntungan besar melalui accessories itu? pikirku.

“Kedua duelist sudah selesai memeriksa peraturan! Sekarang, mari kita aktifkan barrier-nya… oh?” Pembawa acara itu baru saja hendak memberikan aba-aba untuk memulai pertarungan, tapi berhenti saat dia melihat Xunyu mengangkat salah satu tangan panjangnya.

Apakah dia keberatan dengan peraturannya atau sejenisnya?

“Satu dua, tes tEs. KaliAn mendengArku?” kata Xunyu, suaranya bergema di seluruh arena.

“Jadi ya, Aku akAn bertarUng melaWan agAn Figaro iNi, tapi iziNkan aku mengatakan sesuatu untuk membuat pertarungan ini meknjadi lebih menarik.”

“Aku tidak akAn bergerak selAngkahpuN samPai Figaro jaTuh berLutut.”

Perktaannya Xunyu adalah sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Untuk sesaat, semua orang yang ada di arena tertegun. Seakan-akan setiap penonton memiliki pemikiran yang sama, dan hanya memikirkan Apa yang baru saja mereka dengar?

“ApakAh adA diAntara kaliAn yang mendEngarku? Aku mengAtakan kalAu aKu tidAk akAn berGerak selangkAhpun, dan aku akAn membuat aGan Figaro ini jaTuh berLutut.”

Setelah beberapa saat berlalu dalam kesunyian, para penonton menyadari bahwa perkataan Xunyu adalah hinaan provokatif terhadap Figaro — dan duel city Gideon, yang menganggapnya sebagai juara mereka. Tiba-tiba, seluruh arena diselimuti oleh kemarahan dan cemoohan.

Namun, hal itu hanya membuat Xunyu tertawa. “BagUs! SekArang aku meNjadi orAng jahAt sungGuhan! Oh, tAwa yAng akAn kUkeluArkan sAat aku mengalAhkanmU di siTuasi ini!”

Bukannya menanggapinya, Figaro hanya menatap lawannya dalam diam. Aku tidak tau apakah dia diam karena rasa percaya diri atau karena alasan lain.

Namun, aku hampir sepenuhnya yakin bahwa skenario yang Xunyu katakan bukanlah hal yang mustahil. Setidaknya, jika aku berada di posisi Figaro, aku pasti akan terbunuh bahkan sebelum jiangshi itu bergerak selangkahpun. Situasi seperti itu hampir saja terjadi beberapa saat yang lalu. Tapi, aku merasa bahwa perkataan Xunyu bukan hanya sekedar provokasi.

“Itu sungguh perkataan yang kasar,” kata Nemesis. “Apakah menurutmu ada maksud dibalik hal itu?”

“Jika kau bertanya apakah menurutku itu hanyalah provokasi belaka atau sebuah persiapan untuk suatu hal… sudah jelas itu adalah yang kedua,” jawabku.

Pernah sekali menghadapi Xunyu sudah cukup untuk membuatku mengetahui seberapa kejam dan tak kenal ampunnya jiangshi itu. Tapi jelas itu bukan semuanya, sih. Ada lebih banyak hal tentang Superior ini yang tak bisa dipandang oleh mata.

Dari kejadian di meja kasir dan pintu masuk, dan perkataan barusan. Aku dapat dengan mudah menduga bahwa Xunyu memiliki cukup kecerdikan untuk memperhitungkan dan mengendalikan kesan milik orang lain. Taktik dan persiapan pertarungan milik jiangshi itu bahkan mencakup suasana yang ada di sekitarnya.

“Kami akan menghidupkan barrier-nya!” kata sang pembawa acara.

Cemoohan ke arah Xunyu menurun dan barrier menjadi aktif, membuat panggung itu siap untuk digunakan.

“Dan dengan demikian! Mari kita sambut event utama hari ini, Clash of the Superior… DIMULAI!”

Sesaat kemudian, terdengar sebuah suara ledakan saat sesuatu berwarna emas bersinar di atas panggung. Itu hanya sekilas. Namun, dalam waktu sekilas itu ada terlalu banyak hal yang terjadi.

Setidaknya, menurutku seperti itu. Bagaimanapun, aku hanya bisa melihat hasil yang diakibatkan oleh hal itu.

Tanpa kusadari, Figaro sudah memegang dua buah pedang dan meluncurkan empat buah rantai, yang mana tiga diantaranya sudah hancur.

Dia mengayunkan kedua pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa, menggunakan mereka untuk menangkis “sesuatu.” Sesuatu itu sepertinya sudah memenuhi seluruh panggung saat ini.

Saat akhirnya benda itu menyebar seluas itu, aku akhirnya dapat melihatnya menggunakan mataku.

Benda itu sangat panjang dan bergerak dengan kecepatan yang sangat besar. Saking cepatnya benda itu hanya terlihat seperti sesuatu yang samar. Aku mungkin tidak akan bisa menyadarinya jika bukan karena panjang yang dimilikinya. Ujung dari “sesuatu” itu benar-benar tidak dapat kulihat. Namun, dengan mengikuti sosok panjangnya, aku menyadari bahwa benda itu terhubung dengan lengan baju milik Xunyu.

Awalnya, aku mengira bahwa sesuatu itu adalah sebuah rantai, sama seperti yang digunakan Figaro. Hanya butuh sesaat sampai aku menyadari kalau itu salah. Tidak ada satupun tangan dibalik lengan baju Xunyu yang dapat memegang sesuatu seperti itu.

Hanya ada sebuah “sesuatu” yang terhubung dengan lengan baju itu — Lengan Xunyu.

Mencapai kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mataku, lengan itu memanjang dan menyerang Figaro seperti dua ekor ular naga.

“Itu terlalu cepat,” gumamku.

“Mereka salah mengatur barrier-nya,” Nemesis berkata kepadaku menggunakan telepati. “Kecepatan di dalam sana diperlambat, tapi kecepatan mereka begitu besar sampai pengaturan itu tidak berarti apa-apa.”

Dia mengatakan persis seperti yang kupikirkan. Aku melihat ke arah kakakku yang duduk di sebelahku, dan bertanya-tanya apakah dia dapat melihatnya.

Tiba-tiba, rantai terakhir milik Figaro terbang ke arah Xunyu. Kecepatannya sangat luar biasa, tapi sebelum benda itu dapat mencapai targetnya, rantai itu terpotong menjadi lima bagian dalam sekejap.

Rantai yang hampir membunuhku dulu saat di Tomb Labyrinth itu terlalu lambat bila dibandingkan dengan lengan Xunyu.

“Supersonik, extension-based attack… mereka lebih cepat dari…”

Mungkin Marie yang mengatakan hal itu, tapi aku juga tidak begitu yakin.

Sedikit terlambat. Aku akhirnya menyadari bahwa suara ledakan yang terdengar di awal pertarungan tadi sebenarnya adalah sebuah sonic boom. Juga, aku mulai memahami bahwa, meskipun memiliki kecepatan yang gila, lengan milik jiangshi itu dikendalikan dengan baik.

Sambil menyadari seberapa pantasnya Xunyu menyandang gelar “Divine Speed”, aku hanya bisa menyadari bahwa tangan yang memanjang itu terlihat seperti ular naga yang ada di mitos China.

Itu membuatku semakin yakin bahwa, jika pertarungan kami di meja kasir berlanjut, aku pasti akan terbunuh bahkan sebelum aku dapat menggunakan Counter Absorption. Bahkan jika entah bagaimana aku berhasil menggunakannya, Xunyu mungkin akan membunuhku dengan cara menggerakkan lengan itu mengelilingi barrier yang tercipta dan memenggal kepalaku dari belakang.

Meskipun aku dapat melihat jejak lengan yang memanjang itu, bagian ujungnya — telapak tangannya — sama sekali tidak dapat kulihat. Fakta bahwa ini adalah kecepatan mereka setelah diperlambat oleh barrier membuat keringat dingin mengalir di punggungku.

Namun, Figaro juga menakjubkan. Meskipun dia dihadapkan pada serangan supersonik beruntun, sepertinya tidak ada satupun dari serangan itu yang mengenainya sampai saat ini. Dia melihat, menghindari, dan menangkis mereka semua.

Juga, sedikit demi sedikit, aku juga semakin kesulitan untuk melihat pergerakannya.

“Sebuah manga tertentu memiliki istilah untuk apa yang kurasakan saat ini,” gumamku. Kupikir itu disebut sebagai “Yamcha Vision,” pikirku.

Nemesis, Rook, dan Baby sepertinya berada pada kondisi yang sama denganku. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Shu dan Marie. Dilihat dari sikap dan pergerakan matanya, aku bisa mengetahui bahwa mereka dapat melihat dan mengikuti pergerakan lengan Xunyu.

“Kalian berdua benar-benar bisa melihatnya?” tanyaku untuk memastikan.

“Sampai batas tertentu,” jawab Shu. “Aku bukan build AGI, jadi kadang aku bisa, kadang aku tidak bisa.”

AGI yang tinggi membuatmu bisa melihat hal semacam ini? Pikirku.

Dari pertarungan di meja kasir dan fakta bahwa dia berada di daftar ranking, aku sangat yakin bahwa level Shu sangat tinggi. Namun, aku tidak paham kenapa Marie juga bisa melihatnya.

“Aku bisa mengikuti pergerakannya karena kami para Journalist memiliki skill passive yang dapat meningkatkan kemampuan pandangan kami,” dia menjawab pertanyaanku bahkan sebelum aku sempat menanyakannya.

Begitu. Jadi ada job non-petarung dengan skill seperti itu, huh?

“Aku hampir sama sekali tidak bisa melihatnya,” kataku. Ini adalah pertama kalinya aku melihat pertarungan antara player kelas atas, dan pertama kalinya aku melihat seberapa cepat mereka dapat bergerak. Aku tidak yakin apakah aku benar-benar bisa berkata demikian, bagaimanapun, faktanya kecepatan mereka sudah diperlambat oleh barrier.

“Kami sekarang akan lebih memperlambat kecepatan bertarung yang ada di dalam barrier!” kata sang pembawa acara, dan — benar saja — pergerakan kedua petarung itu menurun drastis.

Tapi, mereka masih lebih cepat dari pada kedua petarung di event pembukaan, pikirku.

“Jadi mereka mengatur pelambatnya sampai max, huh?” kata Shu. “Yah, akan ada terlalu banyak penonton yang tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi jika mereka tidak melakukannya.”

“Ya, sejujurnya, aku salah satu dari mereka,” kataku.

Sekarang, aku entah bagaimana bisa melihat detail pertarungan itu. Sebuah tangan kanan berwarna emas datang mengincar kepala Figaro dari sisi kiri. Dia menghindarinya dengan cara menekuk tubuhnya ke belakang.

Tangan yang melewatinya membuat belokan berbentuk U dan kembali mengincar kepalanya. Kali ini, Figaro menangkis serangan itu menggunakan pedang yang ada di tangan kanannya.

FrontMatter2

Pertarungan yang sebelumnya benar-benar tak terlihat, sekarang sudah cukup diperlambat untuk bisa dilihat oleh mataku, tapi aku masih mereka seperti melihat video dalam mode fast-forward.

Serius, seberapa cepat kedua orang itu bertarung?

“Kau bahkan tidak akan bisa melancarkan serangan jika kau tidak bisa mengikuti kecepatan ini, huh?” tanyaku.

“Yah, kau bisa mencoba melakukan serangan kejutan saat mereka sedang tidak berada dalam mode bertarung,” kata Marie. “Hal itu tidak mungkin bisa dilakukan dalam duel, sih.”

Tentu saja. Duel dimulai saat kedua sisi menyetujui peraturan yang dibuat dan sudah siap untuk bertarung. Tidak ada kesempatan untuk melakukan serangan kejutan. Itu adalah pertarungan 1v1 dimana kedua sisi bertarung dengan semua yang mereka miliki sampai orang yang lebih kuat meraih kemenangan.

Figaro adalah orang yang menduduki peringkat teratas di Gideon. Itu artinya dia adalah petarung 1v1 terkuat yang bisa ditawarkan kerajaan. Tapi, Xunyu cukup cepat untuk memaksanya berada dalam posisi defensif.

Aku hampir saja berpendapat bahwa Master Jiangshi adalah Superior Job yang berfokus pada AGI, tapi kemudian aku ingat apa yang Maria katakan tentang job itu: Jika di kerajaan maka itu bisa disebut… Mage.

“Tunggu, sihir!” teriakku. “Xunyu masih belum serius!”

Sesaat kemudian, panggung itu dipenuhi oleh suara raungan yang keras dan cahaya crimson yang mendominasi seluruh wilayah di dalam barrier.

Aku menatap ke arah panggung dan melihat lengan yang memanjang itu mengeluarkan banyak sinar panas berwarna crimson. Mereka menari dengan liar saat mereka membakar udara dan menghanguskan lantai panggung yang terbuat dari batu.

Asal dari sinar itu adalah lembaran kertas yang menutupi seluruh lengan Xunyu.

“Apakah itu…?”

“Fu milik daoshi,” kata Shu.

“Xunyu membungkus lengannya dengan Fu yang berisi sihir ofensif dan sekarang menggunakannya untuk memenuhi panggung dengan sinar panas,” jelas Marie.

“Itu gila,” gumamku.

Tentu saja, dengan sinar panas sebanyak itu, beberapa dari mereka mengenai lengan panjang milik Xunyu. Tapi lengan itu terlihat sangat kuat, dan sama sekali tidak menerima damage. Sinar itu memang membuat beberapa Fu lepas dan perlahan jatuh ke atas lantai panggung, tapi lengan itu melanjutkan serangannya secara terus-menerus.

Seberapa kuat kedua lengan itu, sih? Pikirku bertanya-tanya.

“Jika mereka tidak kuat, teman bermata sipit kita pasti sudah menghancurkannya saat ini,” kata Nemesis.

Lengan yang tidak terpengaruh oleh sinar panas dan memiliki kekerasan yang bahkan membuat Figaro kesulitan untuk menembusnya. Dari fakta bahwa Xunyu dapat bertarung dengan kecepatan supersonik meskipun merupakan Master Jiangshi, job yang berfokus pada sihir, aku hanya bisa berpendapat bahwa.

“… Lengan itu adalah Superior Embryo milik Xunyu,” kataku.

Lengan palsu yang memancarkan sinar emas dan menyerang musuh dengan kecepatan yang melebihi suara. Kemampuan karakteristik Embryo ini dapat dideskripsikan sebagai “lengan kuat yang bisa memanjang dengan kecepatan luar biasa.” Meskipun itu terdengar biasa, melihat aksinya dalam pertarungan yang ada di depanku membuatku terkesan dan merasa takut.

Kekuatan, kecepatan, jangkauan — lengan itu memiliki semuanya. Itu sederhana, tapi itulah yang membuatnya hampir tidak mungkin untuk dilawan.

“Jika adalah sebuah kekuatan yang dapat melawannya, maka…”

“… itu pasti adalah sesuatu yang sederhana, juga.” Kata Nemesis menyelesaikan perkataanku.

Saat perkataan Nemesis mencapai telingaku, ada sesuatu lain yang masuk ke pandanganku.

Sinar crimson dan Fu dalam jumlah besar yang terlepas dari lengannya menari di sekeliling penggung saat Figaro menerobos penghancur berkecepatan supersonik itu tanpa terluka sedikitpun.

Dia tidak melakukan hal khusus. Figaro hanya menghindar, menangkis dan berlari.

Menghindari sinar panas dan menangkis lengan itu, dia secara perlahan memperpendek jarak antara dirinya dan lawannya.

Pertarungan itu sendiri sebenarnya sederhana, tapi level dari pertarungan itu membuatnya tampak luar biasa.

“Menakjubkan,” kataku, tidak mengetahui kalimat yang lebih bagus untuk mendeskripsikan hal itu.

Awalnya, kupikir Figaro benar-benar berada dalam posisi defensif, tapi aku salah. Dia mendekati Xunyu, menjadi semakin cepat dari waktu ke waktu, dan menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh jiangshi itu.

Hanya masalah waktu sampai Xunyu berada di dalam jangkauan serangannya. Itu cukup untuk memastikan perkataannya sebelumnya, dan Figaro pasti akan menang.

Namun, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Bukan tentang kedua orang yang sedang bertarung, tetapi dua orang yang duduk di sampingku — Shu dan Marie.

Aura yang ada di sekitar mereka terasa berbeda.

Ini bukan pertama kalinya aku melihat aura seperti itu. Aku sudah merasakannya saat bertarung melawan Demi-Dragon Worm, saat dibunuh oleh Superior Killer, dan saat menghadapi Gardranda dan Gouz-Maise. Melihat mereka membuatku merasa sama gugupnya dengan saat aku melalui pengalaman mengerikan itu.

Tak lama kemudian, aku menyadari bahwa tatapan mereka berdua di arahkan pada hal yang sama.

Itu bukan sesuatu yang ada di panggung, tapi salah satu monitor yang terpasang di tempat duduk kami — khususnya, monitor yang menunjukkan wajah Xunyu dalam jarak dekat.

Wajah itu masih tersembunyi di balik jimat jiangshi itu. Namun, kadang-kadang jimat itu terangkat karena angin pertarungan, dan mengungkap sebuah seringai penuh percaya diri.

“Call — Baolei!”

Tepat setelah jiangshi itu mengatakan kalimat yang berarti “petir yang mengamuk”, terjadi sebuah perkembangan baru. Punggung telapak tangan Xunyu tiba-tiba terbuka, menunjukkan sebuah jewel yang digunakan untuk menyimpan monster. Dari jewel itu keluar seekor makhluk yang seolah-olah terbuat dari petir.

Dilepaskan pada jarak yang hampir merupakan titik buta dari Figaro, makhluk itu segera mengarahkan taring listriknya ke arahnya.

“Seekor elemental,” kata Shu. “Dan lagi, sebuah jenis yang langka.”

“Kelihatannya itu adalah sejenis Lightning Elemental yang berfokus pada kecepatan dan kemampuan ofensif,” tambah Marie. “Itu hanya sebuah pengalih perhatian, sih.”

Sebelum aku dapat menanyakan apa yang dia maksud. Figaro mengayunkan pedang yang ada di kedua tangannya secara menyilang dan memotong monster itu.

Hal itu terjadi dalam sekejap. Sama seperti yang Marie katakan, elemental itu hanya berakhir sebagai pengalih perhatian sesaat. Namun, waktu sesaat itu sudah cukup bagi Xunyu untuk dengan aman menarik mundur salah satu lengan emas-nya.

Lengan itu kembali ke bentuk aslinya, dan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, terdapat selembar Fu. Fu itu terlihat sangat detail dan rumit, membuatnya terlihat mirip seperti lukisan, tapi bukannya merasa bahwa benda itu indah, aku malah merasa lebih ketakutan padanya.

Lalu, ratusan… tidak, ribuan… Fu yang berjatuhan di atas panggung selama pertarungan berlangsung mulai mengeluarkan cahaya crimson.

Karakteristik utama dari Daoshi adalah mereka membuat dan memakai item tertentu — jimat yang dikenal sebagai “Fu,” pikirku, mengingat apa yang dikatakan oleh Shu dan Marie. Dan jangan lupa kalau semakin besar skill yang dipakai, maka semakin lama juga waktu yang diperlukan untuk menempatkan Fu.

“Zhenhuo Zhendeng — Baolongba!” teriak Xunyu.

Perkataan itu — yang berarti “True Flame True Light, Explosive Dragon Dominance” — menyebabkan sebagian besar arena duel terselimuti oleh sebuah pilar api.

Pemandangan itu membuatku teringat akan salah satu julukan jiangshi itu: “Landmine.”

Pilar api itu dengan mudah menghancurkan bagian atas barrier yang memisahkan antara petarung dan penonton.

Faktanya, pilar itu sangat tinggi sampai-sampai terlihat seperti membakar langit itu sendiri. Meskipun tidak cukup kuat untuk menyebabkan damage, panas yang disebabkan oleh pilar itu mencapai kami dan hampir semua penonton lain, menyebabkan banyak orang berteriak ketakutan.

Kepanikan itu mungkin memang terkesan sebaliknya, tapi tidak ada satupun bahaya yang mengancam mereka. Jika ada orang yang terluka karena hal itu, maka itu adalah kedua petarung yang ada di atas panggung.

Tapi pilar itu tidak menyebar ke arah pembuatnya-nya, Xunyu. Tanpa kusadari, lengan kanan jiangshi itu sudah mundur kembali ke panjang aslinya, sama seperti lengan kirinya, dan terhindar dari api itu.

Hal yang sama tidak bisa dikatakan pada Figaro. Berurusan dengan elemental telah membuatnya tidak bisa menghindari serangan itu, dan tentu saja itu bukanlah sesuatu yang dapat ditangkis menggunakan pedang.

Hampir semua penonton menahan nafas mereka pada saat pilar itu mulai menghilang dan membuat mereka melihat apa yang terjadi di atas panggung yang terbakar itu.

Apa yang kami lihat adalah Figaro, benar-benar dikelilingi oleh kabut panas dan sebuah barrier berbentuk bola yang melindunginya dari serangan itu.

“Dia bertahan dari hal itu tanpa terluka sedikitpun?!” teriak Marie dalam keterkejutan, dan aku hanya bisa menyetujuinya.

“Apakah itu adalah skill milik Embryo Figaro?” tanyaku. “Atau apakah itu kemampuan dari Over Gladiator?”

“Bukan keduanya,” jawab Shu. “Itu adalah skill item. Mantel panjang yang dia pakai itu adalah sebuah special reward. Skill aktif-nya membuatnya bisa meniadakan semua dan seluruh pengaruh dari luar dalam waktu singkat.”

Jadi itu sebuah skill milik special reward. Sama seperti skill yang ada pada Miasmaflame Bracer dan Grudge-soaked Greaves milikku, pikirku.

“Oh, tapi skill itu memiliki cooldown selama 10 menit.” Tambah Shu. “Yang artinya serangan barusan membuatnya kehilangan cara bertahan andalannya.”

“Kupikir Xunyu itu juga kehabisan taktik, sih.” Kata Marie. “Elemental itu tidak bisa bertarung lagi, dan aku tidak yakin dia bisa dengan mudah mengaktifkan kembali sihir yang memakai Fu sebanyak itu, yang artinya dia tidak bisa mengulangi trik yang sama, dan dengan demikian…”

“… Figaro akan menang!” teriakku dengan yakin.

“Yang tersisa adalah memikirkan efek dari skill terakhir yang digunakan oleh Xunyu,” kata Rook.

Aku, Nemesis, dan bahkan Baby, tidak memahami apa yang dia katakan.

Shu — jelas menyadari sesuatu — sedang melihat ke arah Xunyu. Dan meski sedikit terlambat, Marie juga bergabung dengannya.

“Apa yang kau maksud dengan ‘skill terakhir’, Rook?” tanya Baby.

“Xunyu menggunakan skill lain selain skill yang menciptakan pilar itu, bukan?” tanya Rook.

“Yah, aku… benarkah?” tanyaku. Aku sama sekali tidak melihat hal itu.

“Skill defensif milik Figaro hampir berakhir,” kata Shu, dan memang benar, pelindung yang melindungi Figaro dari pengaruh luar mulai menghilang.

Aku sepenuhnya menduga bahwa kedua duelist itu akan kembali bertarung dengan kecepatan supersonik, tapi apa yang terjadi benar-benar berkebalikan dengan hal itu.

Tidak ada satupun dari Xunyu — yang menggunakan skill menakutkan itu — maupun Figaro — orang yang menahannya — yang menggerakkan satu ototpun.

Tentu saja, itu aneh, karena itu merupakan waktu bagi Xunyu untuk dapat memperbaiki posisinya dan bagi Figaro untuk maju menyerang. Namun, meski begitu, Xunyu masih menyeringai.

“’Arms and Legs Reach for the Horizon — Tenaga Ashinaga.’” Kata Rook memecah kesunyian itu.

 

“Rook?”

“Itulah yang Xunyu katakan tepat setelah menciptakan pilar api itu,” kata Rook.

Aku sama sekali tidak mendengar hal itu, pikirku. Suara yang terdengar pada saat itu didominasi oleh deru api, dan Xunyu tidak memiliki mic atau sejenisnya.

“Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?” tanyaku.

“Aku melihat bibirnya bergerak,” jawabnya. “Pergerakan mulut yang digunakan untuk berbicara di sini sama dengan yang ada di dunia nyata.”

Dia membaca pergerakan mulut? Kapan dia mendapatkan skill itu? Atau tunggu, apakah itu sama seperti kemampuan menggambar milik Marie? Apakah dia membawanya dari dunia nyata? Yang lebih penting, apakah “Tenaga Ashinaga” adalah nama dari Superior Embryo milik Xunyu?

Nama itu mengacu pada sejenis yokai dari mitos Jepang — yokai yang sangat cocok dengan sosok abnormal milik jiangshi itu.

Sebuah skill yang memiliki nama seperti itu hanya bisa berarti.

“… Xunyu menggunakan skill ultimate milik Embryo-nya — skill yang dinamai berdasarkan nama Embryo itu sendiri!” teriakku.

Tiba-tiba, jiangshi itu mengangkat kaki kirinya, yang tersembunyi dibalik pakaiannya. Kaki yang tidak bergerak satu inchi-pun sejak pertarungan dimulai.

Sama seperti lengannya, kaki itu adalah sebuah kaki palsu berwarna emas — sebuah Superior Embryo.

Telapak kakinya sama tajamnya dengan kuku yang ada di tangannya, dan ada sesuatu di antara mereka. Tidak seperti Fu yang sebelumnya, itu memiliki bentuk yang tidak jelas.

Hal yang sama juga berlaku untuk warnanya. Benda itu berwarna putih, merah muda, dan merah di saat bersamaan, yang — digabungkan dengan kelembutannya yang terlihat jelas — membuatnya terlihat sangat mirip dengan organ dalam manusia.

“AkU gagAL mendapAtkan jAntunGmu,” kata Xunyu. “Ini haNya sebuah Paru-pAru.”

Sesaat kemudian, darah keluar dari mulut Figaro saat dia jatuh berlutut.

Insert4

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

7 Comments Add yours

  1. shu starling says:

    Wahaha…Ray kok Kya norak ya, kagetnya pake teriak2. Plng mrsa tertekan dg kakaknya sma marie

    Like

  2. Nunggu chapter si Xunyun kalah bertarung dari Figaro karena melama2kan pertarungan…

    Like

  3. Manusia says:

    Lanjut

    Like

  4. ivanalfikri says:

    Makasih minnn😁😁 updatenya cepetan kaya biasa😍😍

    Like

  5. Jossi Hatmo says:

    Terima kasih untuk chapternya!

    Like

  6. tnks min.. moga tl.nya tambah semangat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s