Infinite Dendrogram Volume 3 Chapter 3 B

Volume 3
Chapter 3 – Xunyu sang Yinglong (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor: –
Sumber English: J-Novel Club

Kerajaan Altar memiliki empat Master dengan Superior Embryo.

Aku sudah melihat mereka bertarung—tidak, membantai sepenuhnya—para klan PK yang mengelilingi ibukota, jadi aku sudah menyadari bahwa kakuatan mereka sangatlah besar.

Menurut Marie, low-rank, high-rank, dan Superior Embryo semuanya berada di level yang benar-benar berbeda.

“Kalau dibandingkan, low-rank adalah anjing, high-rank adalah macan, dan Superior-rank adalah naga,” katanya.

Tentu saja, itu menunjukkan perbedaan yang sangat besar, sampai-sampai makhluk rendahan sama sekali tidak memiliki harapan. Tidak ada satupun player biasa yang bisa menandingi Superior dan kekuatan absolute mereka, jadi tidak dapat dihindari kalau mereka mulai meneliti dan mengumpulkan sebanyak mungkin info tentang para Superior.

Oleh karenanya, karena kedua Master yang akan melakukan duel adalah Superior, sebagian besar kumpulan orang-orang yang penasaran ini akan berfokus pada Superior Embryo mereka.

Terdapat terlalu sedikit informasi tentang Superior Embryo Kerajaan Altar yang bahkan DIN saja tidak terlalu tau banyak tentang mereka. Bahkan nama tiga dari empat Embryo itu masih menjadi misteri, sementara kemampuan mereka bahkan belum keluar dari ranah spekulasi.

Satu-satunya Embryo yang cukup dikenal adalah milik High Priestess Tsukuyo Fuso, tetapi hal tersebut tentu saja tidak dapat dikatakan pada ketiga Embryo lainnya. Sebelumnya, Marie telah menduga bahwa Embryo milik King of Destruction adalah sebuah kapal perang, tapi sekali lagi, itu hanyalah spekulasi. Orang-orang hanya mengatakan hal itu berdasarkan penampakan sekilas dari sebuah sosok raksasa yang berjalan di sekitar tempat yang dia musnahkan pada saat kebangkitannya.

Karena kurangnya informasi yang ada, para player akan terus mencari tau tentang kemampuan yang mereka miliki. Dan tentu saja, sebuah pertandingan yang melibatkan Figaro tidak lain adalah sebuah kesempatan yang sempurna.

“Jadi itulah yang membuatmu begitu sibuk, huh?” Aku bertanya kepada Marie.

“Ya.”

Setelah event pembuka berakhir, ada waktu jeda selama tiga puluh menit sampai event utama dimulai. Hal itu digunakan untuk melakukan perbaikan panggung dan barrier. Marie menghabiskan sebagian besar waktu itu untuk mengeluarkan berbagai macam perlengkapan dari dalam inventory-nya dan menyusun mereka. Dia hendak merekam pertandingan ini demi pekerjaan Journalist-nya.

Rook dan Baby yang sepertinya kelelahan karena suatu hal yang mereka lakukan sore tadi, sedang berbaring di kursi mereka dan tertidur.

Lebih baik aku membangunkan mereka saat pertandingan dimulai, pikirku.

Nemesis, sama seperti biasa, sedang menghabiskan makanan yang dia beli di salah satu kedai yang ada di sini.

Setelah melihat para anggota party-ku, aku mulai melihat sekeliling arena, ketika…

“… Huh?” kataku.

“Hm?” tambah Nemesis.

Aku dan Nemesis melihat sesuatu.

Kami melihat sosok berwarna hitam menghilang ke dalam lorong yang ada dibawah, dan itu sangat mirip dengan kostum beruang hitam yang dipakai kakakku.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Nemesis.

“Shu bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang memakai kostum, tapi yang tadi itu terlihat sangat mirip.”

Namun, kalau itu memang dia, aku hanya bisa bertanya-tanya kenapa dia ada di sana dan tidak di sini bersama kami.

“Aku akan pergi untuk memeriksanya,” kataku sambil berdiri.

“Aku akan ikut bersamamu,” kata Nemesis.

Setelah mengatakan kepada Marie kalau kami akan kembali sebelum event dimulai, aku pergi untuk mencari kakakku.

Lorong bagian dalam arena terbuat dari batu dan memiliki desain seperti yang ada pada stadion olahraga.

Tentu, tidak ada satupun mesin penjual otomatis di sini, tapi ada banyak orang yang menjual makanan dan minuman di sana-sini. Dengan event utama yang semakin dekat, banyak orang yang bergegas untuk membeli makanan ringan atau untuk menjawab panggilan alam, membuat lorong ini cukup ramai.

Meskipun hal itu tidak masalah bagi para player—yang harus log out dan melakukan urusan mereka di dunia nyata—dunia ini memiliki toilet. Mereka dibuat menggunakan sihir dan merupakan hal yang sangat biasa terdapat di rumah menengah ke atas.

Di sini juga ada kamar mandi. Namun, mereka jarang terdapat di rumah-rumah masyarakat biasa, jadi sebagian besar lebih suka pergi ke pemandian umum. Aku bahkan diberitahu kalau salah satu dari dua belas distrik yang ada di Gideon disebut sebagai distrik pemandian.

Pertama sebuah Colosseum, kemudian pemandian… kota ini benar-benar mirip dengan Romawi kuno, pikirku.

“Aku tidak melihat kuma-niisan dimanapun,” kata Nemesis.

“Aneh, mengingat betapa mencoloknya dirinya,” komentarku.

Aku tidak yakin apakah itu memang dirinya atau bukan, tapi aku cukup yakin kalau yang aku lihat tadi adalah sebuah kostum beruang…

“Hm? Bukankah ini terlihat mencurigakan bagimu?” tanya Nemesis, berhenti di luar sebuah koridor.

“Disana tertulis ‘Hanya Staff’, sih,” kataku”

“Kita hanya perlu berpura-pura tersesat. Aku bahkan bisa berakting seperti anak yang hilang.”

“… Boleh aku tanyakan bagaimana caranya?”

“Meow meow meow meow, meow meow meow meow.”

“Itu hanyalah suara kucing dari lagu anak-anak.”

“Aku tidak suka karena pada akhirnya anak kucing itu tetap tersesat.”

Yah, dia menanyakan arah kepada burung gagak dan burung pipit, jadi sudah pasti dia tidak akan menemukan jalan keluar.

Sekarang, kembali ke laptop…

Aku dan Nemesis memasuki lorong yang hanya boleh dimasuki oleh staff. Aku menduga kami akan segera dihadang, tetapi sepertinya para staff sedang terlalu sibuk bersiap-siap untuk event yang sebentar lagi akan dimulai di tempat lain, membuat lorong ini terlihat kosong.

Setelah masuk sedikit lebih dalam, aku mendengar suara familiar dari balik sebuah belokan. Dengan diam-diam, aku mengintip dua orang yang sedang berbicara itu.

“Begitu. Aku benar-benar mendapat banyak perhatian, bukan?”

“Yah, ini adalah pertama kalinya kau berada di atas panggung untuk bertarung dengan Superior lain. Mereka mungkin berpikir bahwa mereka akhirnya akan mendapatkan info tentangmu.”

“Aku sebenarnya tidak menyembunyikan apapun, sih.”

“Ya, hanya saja efek dari Embryo-mu sama sekali tidak mencolok.”

“Kau mungkin benar.”

“Juga… secara keseluruhan, kota ini terlihat antusias, tapi aku mencium sesuatu yang benar-benar busuk. Aku melihat orang-orang kerajaan yang tampak mencurigakan. Mereka mungkin merencanakan sesuatu, jadi kau harus waspada. Aku memperingatkanmu karena biasanya kau tidak peka pada hal semacam ini.”

“Baiklah… Tetapi, apakah aku benar-benar tidak peka?”

“Kau adalah orang yang tenang tapi berdarah panas, Figgy kawanku.”

“Benarkah? Aku tidak yakin apakah bisa menyetujui hal itu.”

“Apa yang akan kau lakukan jika kau melihat sosok aneh di dalam dungeon?”

“Meluncurkan satu Crimson Dead Keeper dari jarak menengah.”

“Apa yang akan kau lakukan jika sebuah klan PK menduduki sebuah wilayah?”

“Bunuh semua anggotanya, menemui pemimpinnya, dan meminta mereka untuk pergi.”

“Apa yang akan kau lakukan jika muncul monster dalam jumlah besar dan kau hanya memiliki sebuah pentungan?”

“Langsung menyerang mereka.”

“Ya, kau benar-benar berdarah panas.”

“… Kau mungkin benar.”

Dibalik sebuah belokan, sebuah kostum beruang hitam sedang berbicara dengan sebuah kostum singa emas.

“Kenapa kau berdiri mematung seperti itu? Apa yang kau lih—PFFT…?!” pemandangan itu membuat Nemesis tertawa terbahak-bahak, yang menarik perhatian kedua orang itu.

“Ayy, lama tak jumpa-kuma… meski belum begitu lama sejak waktu minum teh tadi,” kata beruang hitam itu. Seperti yang kuduga, dia adalah kakakku.

“Ara, bukankah itu adalah Ray dan Nemesis,” tambah singa emas itu. “Sepertinya kalian berhasil datang ke kota ini.

Singa emas itu berbicara kepadaku dengan suara milik Figaro. Faktanya, itu adalah Figaro.

“Umm…”

Baiklah, Figaro juga cukup aneh, pikirku. Dengan ini sudah tiga, jadi bisa disimpulkan bahwa kostum adalah ciri-ciri orang aneh.

Kami berempat pindah dari lorong menuju ruang tunggu milik Figaro.

“Jadi, kenapa kau memakai kostum singa?” tanyaku.

“Aku sangat terkenal di kota ini,” katanya. “Berjalan kesana-kemari seperti biasa bisa jadi akan merepotkan.”

Oh, jadi itu sama seperti kombo topi dan kaca mata hitam yang dipakai oleh para selebritis.

“Ini hanyalah sebuah perlengkapan lelucon yang kubeli di bazaar, sih,” tambahnya. “Aku tidak keberatan mendapatkan special reward dari UBM sama seperti milik Shu, tapi MVP hanya mendapatkan apa yang benar-benar mereka butuhkan.”

Benar. Miasmaflame Bracer dan Grudge-soaked Greaves milikku memang sesuatu yang benar-benar kubutuhkan.

“Aku sudah mengalahkan banyak UBM, dan belum pernah mendapatkan satupun kostum,” kata Figaro dan berbalik ke arah kakakku. “Bagaimana caramu bisa mendapatkan mereka, Shu?”

“Dengar Figgy kawanku, kau sama sekali tidak akan senang jika semua hadiah UBM yang kau dapatkan, kecuali satu, adalah sebuah kostum, bukan?” kata Shu. “Bagaimanapun kau tidak bisa memakai lebih dari satu kostum.”

Aku sangat penasaran dengan pengecualian itu. Pikirku. Hal seperti apa yang bisa dia dapatkan selain kostum? Sebuah papan pengumuman portabel?

“Tidak sepertiku, mendapatkan special reward equipment tidak berarti terlalu banyak buatmu,” kata Figaro. “Sistem mungkin berpikir kalau lebih baik mereka hanya memberimu kostum lainnya.”

“Sialan kau, Humpty… Kau benar-benar tidak bisa dimaafkan!” komplain Shu.

“Apakah control AI benar-benar bertanggung jawab akan hal itu?” tanya Figaro.

“Kau kira aku peduli!” teriak Shu.

Hal ini dan kejadian saat dia pertama kali login… Apakah Shu sebenarnya tidak disukai oleh control AI? Pikirku.

“Harus kukatakan, kalian berdua benar-benar akrab.” Kata Nemesis. “Kuma-niisan sudah mengatakan kepada kami kalau kalian adalah teman, tapi tetap saja.”

“Teman… yah, kami memang teman,” kata Figaro menjawab Nemesis. “Kau mungkin sudah mengetahui hal ini, tapi Shu adalah salah satu Sup—“

“Super Cute Suit Club!” Potong Shu. “Untuk saat ini hanya ada dua anggota-kuma.”

… Hanya kalian berdua? Juga, aku bisa menduga kalau Figaro dipaksa bergabung kedalam klub itu.

“U-Umm…” Figaro tampak ragu untuk berbicara. “Oh, bicara soal hadiah, bracer dan sepatumu tampaknya adalah equipment yang bagus.”

“Oh, benar.” Jawabku. “Aku sudah mengalahkan dua UBM sejauh ini.”

“Oho… Hmm… ‘Miasmaflame Bracer, Gardranda’ dan ‘Grudge-soaked Greaves, Gouz-Maise.’ Oh, jadi kau adalah orang yang berhasil mengalahkan gang yang dibicarakan semua orang itu.”

“Ya,” kataku.

Sejujurnya, aku ingin berbicara dengannya. Jika Figaro melakukan sesuatu tentang Gouz-Maise Gang, mereka pasti sudah dikalahkan lebih awal dan korban yang ada juga akan semakin sedikit.

Namun, aku sadar kalau tidak ada gunanya mengatakan hal itu saat ini. Figaro mungkin memiliki alasan tersendiri untuk tidak melakukan hal itu. Juga, pemikiran untuk memaksa seseorang harus melakukan sesuatu hanya karena mereka mampu untuk melakukannya sepertinya akan sangat lancang.

“Bagaimanapun, dirimu sendiri adalah tipe orang yang akan melakukan sesuatu tidak peduli apakah kau memiliki kekuatan untuk melakukannya atau tidak,” kata Nemesis.

Kau mungkin benar, pikirku.

Berbagai macam hal yang terjadi selama quest itu saat ini sudah menjadi bagian dari diriku. Mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika orang lain selain diriku yang melakukannya adalah sebuah kesalahan.

“Keduanya memiliki skill yang bagus… dan juga perasaanmu,’ kata Figaro. “Kau harus merawat mereka dengan baik.”

“Pasti,” anggukku. Tapi njir, dia baru saja mengidentifikasi equipment-ku seolah-olah itu bukan apa-apa.

“Saat mengidentifikasi equipment milik seseorang, informasi yang kau dapat sering kali sangat terbatas-kuma, tapi skill identifikasi milik Figgy sudah hampir max, jadi rincian dari sebuah equipment tidak tersembunyi baginya,” kata Shu. “Tapi, hal itu tidak bekerja pada sesuatu seperti special reward yang memiliki efek penyembunyi.”

“Sama seperti benda ini,” kata Figaro sambil menunjuk ke arah kostum milik Shu.

Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa kostum milik kakakku, karena memiliki grade Ancient Legendary, ternyata itu jauh lebih hebat dari pada yang kukira. Tidak ada seorangpun yang bisa menyalahkan ku untuk hal itu, sih. Itu hanya terlihat seperti sebuah perlengkapan lelucon. Tapi sekarang, aku tau bahwa itu adalah sebuah perlengkapan lelucon dengan stats yang sangat bagus.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada di lorong khusus staff?” tanya Shu.

Aku menjelaskan bahwa aku melihatnya dari tempat duduk kami dan pergi untuk memastikannya.

“Kenapa kau tidak datang ke tempat duduk?” tanyaku. “Kau punya tiket, bukan?”

“Oh, aku hanya harus melakukan sebuah urusan yang tidak terlalu penting-kuma. Oleh karenanya aku harus berjalan kesana-kemari.”

“Begitu,” aku mengangguk. “Tapi, aku ingin agar kau bisa datang kesana sebelum pertandingan dimulai. Aku ingin memperkenalkan anggota party-ku kepadamu.”

“Ya, aku akan segera kesana. Oh, iya, Aku lupa memberikan ini kepadamu pada saat di café tadi.” Shu merogoh inventory-nya dan mengeluarkan sesuatu yang mirip dengan penutup telinga.

“Apa ini?” tanyaku.

“Telepathy Cuff,” jawab Shu. “Benda ini memiliki kemampuan untuk membuatmu bisa melakukan pembicaraan telepati dengan teman yang juga memakai benda ini.”

“Benarkah?” Aku menerima benda itu darinya dan memasangnya ke telingaku. Benda ini menggunakan satu slot accessory yang kumiliki.

[Apakah kau bisa mendengarku?] suara Shu terdengar di kepalaku.

Aku sudah terbiasa menggunakan telepati dengan Nemesis, tapi suara Shu terdengar berbeda dari hal itu.

[Ya, aku bisa mendengarnya.] jawabku.

[Kalau begitu pengujiannya berjalan lancar.]

Sangat lancar, sebenarnya. Pikirku.

Dari apa yang kulihat, telinga beruangnya sama sekali tidak memiliki Cuff. Yah, tentu saja itu tidak akan berfungsi kecuali kau memasangnya di telinga asli-mu. Dia mungkin memakainya di dalam kostum itu.

“Item ini sangat berguna,” kataku.

“Memang sangat berguna-kuma, tapi item ini memiliki batas jangkauan. Jangkauan itu cukup untuk menutupi Gideon dan sekitarnya, sih,” jelas Shu. “Aku sebenarnya berencana memberikan ini saat kita berpisah di ibukota.”

“Begitu. Harus kubilang kalau sekarang ada saat yang lebih baik, sih. Jika kau memberikan benda ini saat aku baru mulai bermain, kurasa aku malah akan terlalu bergantung kepadamu.”

“Baguslah kalau kau memiliki rasa antusias seperti itu-kuma. Tapi, kau harus memanggilku saat ada suatu hal yang tidak bisa kau hadapi sendirian.”

“Ya. Tolong bantu aku saat aku benar-benar membutuhkannya.”

“Tentu,” dia mengatakan hal itu sambil membusungkan dadanya. Ada semacam kebanggaan pada tindakan itu, tapi penampilannya juga membuat itu tampak sedikit lucu.

“Oh, ini sudah hampir waktunya,” kata Figaro.

Aku melihat ke arah jam dan, memang benar, tinggal 15 menit sebelum event utama dimulai. Figaro mungkin harus melakukan beberapa persiapan, jadi sudah saatnya kami pergi.

“Figaro, lakukanlah yang terbaik dalam duel ini,” kataku.

“Saat ini kita adalah kenalan, jadi kami akan menyemangatimu!” tambah Nemesis.

“Terima kasih,” jawabnya. “Oh, ngomong-ngomong, kasir seharusnya masih buka saat ini, jadi kau bisa kesana dan bertaruh kepadaku.”

Figaro menggunakan semacam skill untuk dalam sekejap mengganti kostum singa itu dengan equipment yang dia dia pakai saat kami bertemu di Tomb Labyrinth. Lalu, dia menunjukkan senyum lembut dan kuat.

“Aku akan menang, jadi kau pasti akan mendapat keuntungan.”

Dia mengatakan hal itu seolah-olah itu adalah hal yang sudah pasti.

Aku merasa bahwa perkataan itu mengandung kebanggaan dari seorang raja tanpa tanding dan memiliki berat dari seluruh sejarah yang telah menuntunnya menjadi yang terkuat di duel city.

“Baiklah,” kataku.

Jika dia mengatakannya dengan begitu percaya diri, aku tidak punya alasan untuk tidak melakukannya, pikirku.

“Aku akan datang setelah berbicara sebentar dengan Figgy,” kata kakakku. “Tunggu saja aku di tempat duduk-kuma.”

“Yah, ok,” kataku.

Dengan itu, Aku dan Nemesis pergi meninggalkan ruang tunggu itu.

***

“Ngomong-ngomong, apa-apaan ‘Super Cute Suit Club’ itu, Shu?” tanya Figaro.

“Hanya itulah yang terpikirkan olehku pada saat itu.”

“Apakah kau benar-benar tidak mengatakan kepadanya tentang siapa kau sebenarnya?”

“Kesampingkan hal itu untuk saat ini-kuma,” kata Shu. “Yang terpenting saat ini adalah event yang akan berlangsung sebentar lagi.”

“Benar.”

“Kau dengan percaya diri mengatakan bahwa kau pasti akan menang, tapi musuhnya tidak semudah itu, kan? Jika kau bertanya kepadaku, kemungkinan menangmu hanya 50%, atau mungkin lebih rendah.”

“Aku juga merasakan hal yang sama. Aku menghadapi salah satu Huang He Si Ling—empat orang terkuat di negara itu.”

“Dan kau adalah solo player tertangguh di Kerajaan Altar—Figaro sang Endless Chain.”

“Aku mungkin tidak layak untuk mengatakan hal ini, tapi kedua sisi benar-benar sesuatu,” kata Figaro. “Aku tidak keberatan jika harus menyaksikan pertandingan seperti ini.”

“Ok, sekarang apa yang kau maksud.”

“Jangan khawatir. Pertarungan seperti ini, sesuatu yang membakar jiawaku, adalah alasan kenapa aku ada di sini di Infinite Dendrogram. Itulah sebabnya… aku akan menang dengan semua yang kumiliki.”

***

Meja kasir di arena ini terbagi menjadi dua—satu untuk mendaftar dalam pertarungan dan satu lagi untuk judi. Jendela untuk pendaftaran sudah di tutup untuk hari ini. Juga, karena semua orang sudah memasang taruhan mereka dan pertandingan yang sebentar lagi akan dimulai, lorong di sini sudah hampir benar-benar kosong.

Papan yang terdapat di atas meja kasir—yang lebih terlihat seperti barang elektronik karena sihir yang digunakan padanya—menampilkan selisih untuk event utama. Papan itu bertuliskan “1.2x” disebelah nama Figaro dan “5.6x” di sebelah nama musuhnya. Perbedaannya memang cukup besar, tapi itu adalah bukti seberapa besar orang-orang mempercayai kekuatan Figaro.

Aku berbicara kepada resepsionis dan melakukan proses yang diperlukan untuk memasang taruhan.

“Berapa banyak yang kau pertaruhkan?” tanya Nemesis.

“Yah, itu hanya 1.2x, jadi aku tidak akan untung terlalu banyak jika tidak mempertaruhkan banyak uang,” kataku. “Jadi aku memasang sebanyak ini.”

Aku mempertaruhkan 60,000,000 lir untuk Figaro.

“DASAR BODOOH!” teriak Nemesis saat dia menyerangku menggunakan dropkick dan membuatku terbang melintasi lorong.

“Ap-Apa yang kau lakukan?!” seruku.

“Tidak, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau memakai semua uang yang kau dapatkan untuk berjudi?!”

“Karena aku mempercayai perkataan Figaro.”

“Jujur,” sergahnya.

“… Aku hanya ingin mengalami pengalaman berjudi seperti yang ada di manga.”

“Baiklah, duduk di sana. Aku akan menjelaskan kepadamu tentang seberapa pentingnya uang itu!” Nemesis kemudian mulai menceramahiku tepat di depan meja kasir…

“Sayang sekAli, gan. SeMua uang iTu akan terbUang sia-sIa.”

Aku mendengar sebuah gumaman aneh dan merasakan seseorang memegang bahuku. Aku terkejut dan segera berbalik, tapi aku tidak melihat siapapun di depanku.

Sebenarnya, aku melihatnya, tapi orang itu berada sejauh sepuluh meter dariku. Tidak mungkin dia bisa memegang bahu seseorang dari jarak sejauh itu, dan memang, tidak ada lagi yang menyentuhku saat ini.

Untuk sesaat, aku berpikir bahwa aku hanya membayangkan ada seseorang yang menyentuh bahuku karena aku mendengar suara itu, tapi aku menyimpulkan bahwa itu tidak benar, karena sensasi sentuhan itu masih dapat kurasakan saat ini.

Sentuhan itu lebih dingin dari es, membuatku merasa seakan-akan bukan hanya bahuku yang disentuh, tetapi juga jantung yang ada di balik tulang rusukku.

“Jadi Figaro hAnya 1.2x, eH?” kata makhluk itu. “Aku tau kalau aKu adalah petArung tanDang disini, tapi siAlan, mereka beNar-bEnar meremeHkanku.”

Bahkan setelah melalui fungsi penerjemah milik Infinite Dendrogram yang sangat bagus, perkataan yang keluar darinya masih memiliki intonasi yang aneh.

Makhluk itu berjalan sambil mengeluarkan sebuah aura abnormal. Saat dia mendekat, orang-orang yang masih berada di lorong mulai mundur ke belakang atau langsung lari kocar-kacir.

Nona resepsionis juga, jatuh dari kursinya dan terduduk di lantai, terlihat seperti akan menangis. Tidak ada seorangpun yang bisa menyalahkannya, sih.

Aku tidak tau apa yang membuat makhluk ini terlihat begitu tidak senang, begitu penuh dengan kemarahan, tapi dia mengeluarkan rasa haus darah yang sangat besar ke sekitarnya.

Aku melihat makhluk itu dalam diam. Intinya, kita para manusia hanyalah binatang, dan insting dasarku memperingatkanku bahwa aku sedang berhadapan dengan kematian itu sendiri. Namun, aku tetap saja memandang ke arahnya. Dan saat aku melakukannya, aku menyadari bahwa makhluk itu memiliki sosok yang sama abnormal-nya dengan aura yang dia keluarkan.

Juga, dia berada sejauh sepuluh meter dariku. Alasan kenapa aku merasa dia berada lebih dekat adalah tingginya yang tidak biasa, yang sepertinya melebihi empat meter.

Makhluk itu memakai sebuah topi dengan jimat yang menggantung di depannya, membuatnya terlihat mirip seperti jiangshi yang ada di film-film china. Tubuhnya tertutupi oleh pakaian panjang yang tampak terlalu besar untuknya, dan hanya memperlihatkan sebagian kecil dari lengannya. Namun, fakta bahwa lengan itu dapat terlihat dari balik lengan baju sepanjang dua meter itu jauh lebih menakutkan.

Kaki dan tangannya sangat panjang. Kuku tangannya terlihat seperti logam, tajam, dan mengeluarkan intimidasi yang cukup untuk membuatku yakin bahwa mereka telah digunakan untuk membunuh ribuan makhluk hidup.

Sudah jelas, makhluk itu mengerikan.

“Gh…!” Menyadari ketakutanku sendiri membuat kaki-ku gemetaran.

Demi-Dragon Worm, Gardranda, Gouz-Maise… tidak ada satupun dari makhluk tangguh yang kuhadapi pernah membuatku kehilangan semangat bertarung seperti ini, tapi hal yang ada di hadapanku hampir membuatku hancur. Insting-ku mengatakan kepadaku bahwa makhluk tinggi ini berada di level yang benar-benar berbeda dengan semua yang pernah kulawan dan satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah melarikan diri.

Namun, sebelum aku dapat melakukan hal itu, aku menyadari bahwa makhluk itu sedang memegang seorang wanita seolah-olah dia adalah semacam barang bawaan.

“Ah!”

Ekspresi kesakitan yang ada di wajahnya membuatku tidak bisa mengabaikan mereka dan melarikan diri.

“Nemesis!” teriakku.

“Ok!” jawabnya dan segera menyatu denganku dan berubah ke bentuk pedangnya.

Merasakan sensasi partner-ku di tangan kananku segera membangkitkan semangat bertarungku.

“ApA? Kau NglAwan?” makhluk itu memberikan tanggapan saat aku mengarahkan pedangku ke arahnya.

Makhluk itu mengangkat tangan kanannya dengan sikap malas sambil tetap memegang wanita yang ada di tangan kirinya.

Gerakan itu diikuti oleh sebuah helaan nafas tidak senang, setelah tangan kanannya menekuk dengan cara mengerikan, membentuk mirip sebuah sabit.

Di saat bersamaan, rasa haus darah yang dia keluarkan ke sekitarnya tiba-tiba ditujukan kepadaku, yang merupakan pertanda sebuah serangan.

“Coun—“

“TerlAlu lAmbAt.”

Untuk sesaat aku seperti melihat masa depan dimana Nemesis hancur dan kepalaku melayang di udara.

“HENTIKAN ITU-KUMA!” teriak sebuah suara.

Namun, masa depan itu tidak pernah datang. “HuH?” Rasa haus darah milik makhluk itu menghilang seolah-olah tidak pernah ada sebelumnya. Tidak—itu tidak menghilang—itu hanya di arahkan ke pada orang lain. Orang lain itu adalah yang barusan berteriak dan menyela kami.

“SiaPa kAu?” tanya makhluk itu.

“Hanya seekor beruang yang numpang lewat!” jawab target baru dari rasa permusuhan makhluk itu—kakakku, Shu.

Tidak lagi menjadi target makhluk itu membuatku menghela nafas lega. Bisa dipastikan bahwa, jika Shu tidak datang, aku pasti sudah mendapatkan death penalty keduaku.

“BeruAng? Hmm, Kau kelihAtan cukup tAngguh,” kata makhluk itu.

“Oh tidak, aku hanya orang yang sangat tertarik dengan kostum-kuma.”

“HahAh, iNi jAdi MenArik.”

Sesaat setelah makhluk itu tertawa, sebuah suara ledakan, suara goresan logam, suara tabrakan, dan suara sesuatu yang hancur mencapai telingaku, semuanya disaat bersamaan. Aku kehabisan kata-kata pada hal itu. Aku mendengar suara, tapi aku tidak tau apa penyebabnya.

Sebelum aku menyadarinya, tangan kanan Shu sudah berada pada posisi seolah-olah dia baru saja menangkis sesuatu, sementara tangan kanan makhluk itu di arahkan kepadanya. Salah satu tiang yang ada di dekat sini telah hancur, dan tangan kanan kostum milik kakakku mengeluarkan asap putih—pertanda bahwa barusan terjadi sebuah gesekan.

Aku tidak melihat apapun, tapi sudah jelas bahwa mereka baru saja bertukar serangan. Serangan itu hanya terlalu cepat untuk dapat kulihat dengan mata telanjang.

Mengingat apa yang telah Marie katakan kepadaku, aku menyadari bahwa aku baru saja menjadi saksi pergerakan supernatural yang disebabkan oleh stats yang sangat tinggi—sebuah pertarungan yang terjadi diluar kecepatan suara.

“Kh, he, hahAhah! Kau sungguh sesuatu, beruang! KalAu begitu, apAkah itu kAu? ApakAh kau adalah Figaro?” tanya jiangshi itu.

“Salah-kuma!” kata kakakku.

Insert3

“Ya, aku tAu! Kau bukanlah yAng kulihat di foto, dan aku ragu rAja duel kerajaan akan berjAlan kEsana kemari dengan penampilan aneh seperti itu!”

… Dia melakukannya, sih, pikirku.

“SeriUs, kAu sungguh seSuatu! Kau menAngkis seranganku mesKipun kau jAuh lebih lAmbat dariku!”

Dia melakukannya?

“Altar terlihat mau runtuh, jadi aku merEmehkannya, tapi baGaimanapun, sEpertinyA datang kemari adalah hAl yang laYak! BahkAn jiKa agan Figaro ini tiDak terlalu hebat, kupikir akan meNyenangkan jika aku beRtarung denganmu sebagai gantinya!”

“Ya. Aku tidak akan menolak untuk bertarung denganmu jika Figaro kalah,” kata Shu. “Tapi hal itu tidak akan terjadi. Maksudku, dia akan mengalahkanmu.”

“Heh, HehEheheHe! Dia pAsti begItu hebAt samPai kau mempercayainya sejAuh itu! Kurasa aku mEmiliki dua hiDangan utaMa disini!” setelah mengatakan hal itu, makhluk jangkung itu berjalan melewati kami dan pergi semakin jauh ke dalam lorong.

“… Tunggu!” teriakku sebelum dia pergi.

“HuUh?” makhluk itu berbalik ke arahku dan memiringkan kepalanya, jelas terganggu karena hal itu. Niat membunuh yang di arahkan kepadaku kembali membuatku dipenuhi rasa takut, tapi aku tidak boleh mundur.

“Apa yang akan kau lakukan kepadanya?” tanyaku.

Saat ini, aku sangat tau bahwa aku tidak akan bisa menang melawan makhluk itu. Tapi aku tidak bisa pura-pura tidak tau pada apa yang terjadi. Itu akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.

“’Dia’? Oh, makSudmu ini?” kata makhluk itu dan meletakkan wanita yang dia pegang di atas lantai.

Wanita itu mengerang kesakitan.

“Dia dAtang bersamAku. Kami dAtang kamAri dengan agAk kasAr, jadi dia menjadi seDikit muAl dan pUsing,” kata makhluk itu sambil menghela nafas panjang.

“Eh?” aku bertanya dengan bingung.

Mereka datang bersama? Serius? Pikirku. Oh… jika kulihat lebih teliti, dia terlihat agak pucat dan ekspresi wajahnya juga tidak terlalu bagus, tapi dia sama sekali tidak terluka.

“HmM? Tunggu, apAkah kau benAr-beNar menantAngku karena kau kiRA aku adAlah penCulik atau sEjenisnya?” tanya makhluk itu.

“… Maaf.”

Serius, Aku minta maaf. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Aku mungkin menjadi tidak rasional karena menghadapi tekanan itu, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa itu akan menjadi kematian yang bodoh jika Shu tidak menengahinya.

Sialan, ini memalukan.

“Kh, heH, KhaHahahahAhahaHa!’ Jawabanku membuat makhluk itu tertawa terbahak-bahak. “Kau jUga cukUp sesUatu, buKan? Kau beNar-benAr menCoba melaWanku saat aKu mengEluaRkan rAsa haus darah disekitArku! PertamA beruang, dan seKarang kau—ada baNyak orAng-oRang lucu diantara Master nEgara ini!” Katanya sambil meletakkan kuku logam panjangnya di atas kepalaku.

Bahkan sebelum aku bisa melihatnya bergerak, dia mendekatkan wajahnya yang tertutup jimat ke telingaku…

“Aku menyukaimu, manis. Kapan-kapan, ayo main sama-sama.”

… dan mengatakan hal itu dengan suara yang tidak di dipengaruhi oleh sihir pengubah suara.

… Eh? Tunggu, suara itu…

“HahahAh! JumPa laGi naNti!” kata makhluk itu sebelum berbalik dan menyeret wanita yang ada di atas lantai ke ujung lorong.

Saat dia semakin menjauh dari kami, aku masih dapat mendengar makhluk itu mengatakan. “Hei, DuTa BesAr, bangUn. Kau PuNya pekerjAan yanG harus diLakukan.”

Mendengar hal itu, wanita itu mengerang dan dengan lemah mengatakan, “Tolong, jangan melakukan perjalanan supersonik lagi…”

Setelah mereka pergi, suasana disekitar kami mulai menenang.

“Yo, yang tadi itu hampir saja, bukan?” kata Shu.

“… Thanks, kak.” Aku mungkin sudah mati jika dia tidak datang menolongku. Makhluk itu memiliki kekuatan dan niat membunuh untuk melakukannya.

“Kau cukup keren karena bisa mengacungkan pedangmu terhadap sesuatu seperti itu, tapi perlu kau ingat bahwa kau harus menggunakan keberanianmu pada tempatnya,” tambahnya. “Ini masih terlalu cepat bagimu untuk bertarung melawan Superior.”

“Superior… jadi itu…”

“Ya, dia adalah lawan Figaro. Salah satu orang terkuat di negeri para pertapa—salah satu dari Huang He Si Ling.”

Xunyu sang Yinglong. Aku gemetaran.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. shu starling says:

    Keadilan yang sok2 an rasa pahit dilidahku. Kg ad bhsa yg lain kah?!!

    Like

  2. Manusia says:

    Seru.. Lanjut min..

    Like

  3. anjiiiiirr.. penjudi gak punya aturan.. masak di kasih semua uangnya…. wkwkwk

    Like

  4. ivanalfikri says:

    Makasih minnn!! Bagus kaya biasa translate nya😍😍

    Like

Leave a Reply to Manusia Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s