Infinite Dendrogram Volume 2 Epilog B

Volume 2
Epilog – Pagi dengan Senyuman (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Ketika akhirnya aku sampai di kota, aku hanya bisa menyadari bahwa suasananya persis sama dengan saat kami pertama kali memasukinya. Salah seorang rekan ksatria Liliana menggunakan skill komunikasi sihir untuk memberitahu para penjaga tentang kekalahan Epic-rank UBM—Revenant Ox-Horse, Gouz-Maise—dan membuat mereka tidak lagi penuh waspada.

Setelah kami melewati gerbang, aku melihat sekeliling, tapi aku sama sekali tidak melihat Hugo dan Cyco.

“Liliana, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu,” kataku. “Apakah kau melihat Hugo…? Dia adalah rekanku. Pria yang membawa kereta berisi anak-anak itu kemari.”

“Maafkan aku,” kata Liliana. “Aku langsung berangkat sesaat setelah dia memberitahu situasinya kepadaku. Sebentar aku akan coba menanyakannya kepada para penjaga.”

Setelah mengatakan itu, Liliana mulai berbicara kepada para penjaga yang ditempatkan di sekitar gerbang.

Sesaat kemudian, salah satu dari mereka maju ke depan. “Setelah menjelaskan situasinya dan menyerahkan anak-anak itu kepada kami, orang yang kau maksud berkata, ‘Aku harus kembali ke sisi lain’ dan menghilang.”

Menghilang? Tanyaku dalam hati. Apa yang dia maksud dengan “sisi lain”? Dryfe? Tidak…

“Jadi dia log out, huh?” Kataku. Dia mungkin melakukannya untuk menghindari pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Dia tidak sedang diborgol atau sejenisnya, jadi dia bisa langsung offline tanpa masalah.

Aku penasaran apakah besok kami akan bertemu lagi, pikirku.

“Dan juga, dia memberiku ini,” kata penjaga itu dan menyerahkan sebuah surat kepadaku.

“Terima kasih.” Aku membukanya dan segera menyadari bahwa itu adalah sebuah pesan yang ditinggalkan untukku.

“Kepada Ray Starling. Aku memberikan pesan ini untukmu jika saja kau memilih untuk tetap bertahan di dunia ini dan kembali kemari dengan selamat ataupun masa death penalty-mu telah habis.

Pertama, aku ingin berterima kasih. Tanpa dirimu, aku tidak mungkin bisa membawa anak-anak itu kembali kepada orang tuanya atau nona yang kite temui di gang belakang.

Kau mungkin akan mendapatkan banyak hadiah karena telah mengalahkan Gouz-Maise Gang dan sejenisnya, dan kau bisa merasa santai karena itu semua adalah milikmu. Aku tidak membutuhkan hal itu. Faktanya, aku tidak bisa menerima hadiah dari institusi publik milik kerajaan.

Kita memang belum lama bertemu, tapi aku percaya sudah memahami orang seperti apa dirimu itu. Kau kemungkinan besar akan ragu untuk menerima apa yang sudah kutawarkan. Namun, karena hanya kaulah yang dapat melakukannya, kau harus menerima hadiah itu.

Dan juga, kau bisa merasa tenang karena aku sudah menerima hadiahku. Hadiahku adalah senyum Nona Rebecca dan air mata kebahagiaan yang dia keluarkan ketika aku mengembalikan adik kecilnya kepadanya.

Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Jika kau masih enggan dengan hal itu, kau bisa mentraktirku makan siang saat kita bertemu lagi.

Tolong maafkan fakta bahwa ucapan ini berada dalam bentuk tulisan, tapi ini adalah ucapan selamat tinggalku untukmu.

Sampai jumpa. Kuharap kita bisa bertemu kembali. Au revoir. À bientôt.

Ksatria robot es dan mawar, Hugo Lesseps.”

Aku kehabisan kata-kata.

Jika saja aku memilih untuk bertahan di dunia ini, huh? Pikirku, Aku…

“Umm… Ray?” Saat aku sedang melamun, Liliana menatapku dengan mata khawatir.

“Apakah kau yakin kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Oh, maaf,” kataku. “Aku cukup baik, terima kasih.’

“Baiklah, jika kau berkata demikian… Bagaimanapun, karena kau telah mengalahkan Gouz-Maise Gang, tolong luangkan sedikit waktu beberapa hari kedepan untuk melaporkan hal itu ke Adventurer Guild dan kantor ksatria. Adventurer Guild untuk mendapatkan bounty, sementara para ksatria harus mengetahui tentang pemusnahan sebuah organisasi kriminal.”

“Aku paham. Terima kasih.”

“Hari sudah gelap sekarang, dan aku yakin bahwa kau sangat kelelahan, jadi silahkan beristirahat dengan tenang,” katanya.

“Kurasa aku harus benar-benar melakukannya,” setujuku. “Bagaimanapun, ini adalah hari yang sangat panjang. Apa yang akan kau lakukan, Liliana?”

“Aku akan kembali untuk melindungi Tuan Putri.”

“… Sepertinya, aku bukan satu-satunya orang disini yang pantas menerima ucapan terima kasih atas kerja keras mereka.”

“Oh, itu tidak perlu, eheheh…”

“Baiklah. Aku akan permisi sekarang,” kataku.

“Silahkan,” katanya. “Ayo bertemu lagi di lain kesempatan.”

Dengan itu, Aku dan Liliana berpisah.

Masih dalam keadaan log in, aku pergi tidur disalah satu penginapan Gideon. Setelah aku membiarkan diriku jatuh ke atas kasur, semua kejadian yang terjadi hari ini mulai terbayang di pikiranku. Namun, karena kelelahan yang kumiliki, dewi tidur sudah membawaku pergi sebelum aku dapat memikirkan tentang hal itu.

Kali ini, aku sama sekali tidak bermimpi.

*

Keesokan harinya, entah kenapa aku bangun pagi-pagi sekali.

Tidak ada cahaya matahari yang masuk melalui jendela dan langit yang ada di luar masih belum terlalu terang, jadi mungkin sekarang masih fajar. Aku meletakkan tanganku di kepalaku dan segera menemukan bahwa telinga anjing yang telah menyiksaku sepanjang hari kemarin telah hilang. Karena aku menghabiskan waktu semalaman di dalam game, sepertinya mereka menghilang karena sudah mencapai batas waktu yang ada.

“Apakah kau sudah bangun, Ray?” tanya sebuah suara.

Aku menoleh ke arah asal suara itu—sisi seberang jendela. Disana, aku melihat Nemesis, yang sedang duduk di kursi dan menatapku.

“Pagi, Nemesis,” aku menyapanya.

“Selamat pagi, Ray,” jawabnya.

Setelah itu, kami berdua saling menatap satu sama lain dalam diam.

Pada akhirnya, aku memecah kesunyian itu dan mengajak Nemesis jalan-jalan. Aku membawanya ke tanah lapang tepat di luar gerbang utara Gideon. Karena ini adalah ketiga kalinya aku kemari, area ini sudah menjadi akrab untukku.

Aku dan Nemesis berlari disana sambil menunggangi Silver. Aku memegang kekang dan mengendalikan kuda itu sementara Nemesis duduk di belakangku dan merangkul pinggangku.

“Ini benar-benar nyaman,” kata Nemesis.

“Benar,” kataku.

Saat aku melakukan percakapan santai seperti itu dengan Nemesis, aku terus membuat Silver berpacu di tanah lapang ini. Setelah berlalu sekitar 30 menit, aku melihat matahari mulai menampakkan dirinya dari balik pegunungan sebelah timur.

“Apakah kau akan meninggalkan dunia ini?” Pada saat itulah Nemesis menanyakan hal itu kepadaku.

Aku tidak mengatakan apapun. Dia mengacu pada apa yang telah kupertimbangkan pada saat berada di ruang bawah tanah benteng itu.

Jika aku menganggap Infinite Dendrogram sama dengan dunia nyata, aku ragu apakah terus berada di dunia yang dipenuhi dengan kematian akan menjadi hal yang bagus bagiku. Pemandangan mayat anak-anak yang bahkan tidak kukenal sudah cukup membuat hatiku terasa ditusuk-tusuk. Jika mereka adalah orang yang kukenal, seperti Liliana atau Miliane, maka itu mungkin akan membuatku merasa sakit seperti kehilangan teman sendiri di dunia nyata.

Namun…

“Di dunia ini ada lebih banyak hal selain kehilangan,” kataku.

Jika aku tidak mulai bermain Infinite Dendrogram, aku tidak akan pernah bertemu dengan dua saudara itu, Rook, Marie, Hugo, Cyco dan—tentu saja—kau, Nemesis. Pada dasarnya aku tidak akan pernah mengenal mereka jika tidak berada disini, dan Nemesis juga tidak akan pernah terlahir.

“Kau sadar bahwa kau mungkin akan melalui sesuatu yang menyakitkan lagi, kan?” kata Nemesis.

Tentu saja, pikirku. Kau sepenuhnya benar tentang hal itu. Kejadian seperti yang kita alami kemarin mungkin adalah hal yang terjadi sehari-hari disini. Tapi tetap saja…

“Jika sesuatu yang akan meninggalkan rasa pahit seperti itu terjadi  di depanku… aku hanya harus menghentikannya,” kataku.

Pada saat itu, aku sudah terlambat saat tiba disana. Namun, jika saja aku berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat, aku akan melakukan apapun yang kubisa untuk mencegah tragedi seperti itu. Bagaimanapun, kemungkinan yang akan menuntun menuju masa depan yang diinginkan akan terus ada, selama kau tidak menyerah.

“Aku akan memberikan semua yang kumiliki untuk menggenggam kemungkinan itu,” kataku.

“Begitu,” kata Nemesis dari belakangku. “Kurasa kau memikul terlalu banyak hal jauh melebihi batasmu, tapi aku tidak bisa mengatakan kalau itu tidak seperti dirimu. Ya—kau harus bertarung untuk melindungi sesuatu. Dan saat kau melakukan itu…”

Masih di belakangku, Nemesis dengan lembut menepuk kepalaku.

Kelembutan tangannya membuatku berbalik.

“… Aku akan menjadi orang yang melindungimu.”

Nemesis, bermandikan sinar mentari pagi, menunjukkan senyum paling lembutnya kepadaku.

Ekspresi itu membuatku kembali menatap ke depan dan mengayunkan kekang milik Silver untuk membuatnya berpacu ke depan. Karena suatu alasan, aku merasa cukup malu sampai tidak bisa menatap wajahnya lagi. Tapi, aku merasa bahwa aku harus membalas perkataannya.

“Terima kasih… Nemesis…” Hanya itulah yang bisa kukatakan.

Saat dia sedang merangkulku, aku merasa seolah-olah dia kembali tersenyum kepadaku.

Masih berada di punggung Silver, kami berpacu melewati tanah lapang ini saat sinar mentari pagi dengan tersenyum menyelimuti kami.

Insert7

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

One Comment Add yours

  1. Kenzo says:

    pensi si hugo?

    Like

Leave a Reply to Kenzo Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s