Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 6 B

Volume 2
Chapter 6 – Di Belakang Titik Desimal (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Revenant Ox-Horse, Gouz-Maise

Makhluk yang dinyatakan dunia sebagai “Revenant Ox-Horse, Gouz-Maise” sedang marah.

Sejak saat dia lahir, Gouz-Maise hanya bisa merasakan kebencian yang sangat besar. Hal itu karena makhluk itu sebenarnya adalah campuran dari kemarahan dan kebencian yang ditinggalkan oleh orang-orang mati. Itu adalah hasil dari mereka yang tidak meninggalkan apapun selain penyesalan.

“GUdsFDgaadASaaAAaAdSdAAa!”

Itulah semua arti yang dimiliki Gouz-Maise.

Mayat yang menjadi bahan dasarnya adalah mereka yang hidup dengan ketamakan dan kejahatan—orang-orang yang gagal meninggalkan apapun selain dendam mereka. Jika setidaknya ada satu saja mayat yang mati dengan cinta di hatinya, campuran kematian ini mungkin tidak akan tumbuh menjadi sekuat ini dan mungkin tidak akan menjadi seekor UBM. Tapi sayangnya, hal itu tidak terjadi, dan Gouz-Maise—seperti sekarang ini—tidak akan pernah merenungkan dirinya sendiri. Dendam yang mendidih di dalam makhluk itu membuatnya mengamuk, dan mengumpulkannya untuk dijadikan kekuatan melawan makhluk hidup lain dan memaksa mereka bergabung dengan kumpulan dendam yang ada di dalamnya.

Namun, saat ini, Gouz-Maise bahkan jauh lebih marah dari pada biasanya. Hal itu disebabkan karena dia tidak bisa membunuh makhluk hidup mirip tikus yang ada di bawahnya.

Itu adalah seorang Master.

Master adalah makhluk yang abadi.

Membunuh mereka hanya akan membuat mereka menghilang untuk sementara. Namun—hanya sebatas itu. Mereka pada akhirnya akan mematahkan roda kematian dan kembali muncul di dunia ini.

Master yang satu ini, khususnya, telah menghadapi Gouz-Maise dan mencoba mencegahnya untuk menenggelamkan makhluk hidup lain kedalam dendamnya.

Bahkan saat dia terluka, sendirian, atau terkena pukulan, Master itu tetap saja menghalangi jalannya.

Gouz-Maise tidak dapat menerima hal itu. Dia tidak mempunyai pikiran kenapa dia merasakan hal itu, tapi dia hanya tidak bisa memaafkan Master itu.

Namun, pertarungan itu sudah hampir berakhir. Gouz-Maise memiliki cara untuk mengakhirinya. Itu adalah sihir kuat yang digunakan oleh salah satu mayat yang menjadi bahan dasarnya. Undead itu berniat untuk membunuh Master itu dengan kembali menggunakan sihir itu.

Setelah melakukan itu, dia berencana untuk pergi ke kota. Salah satu bagian dendam yang dia miliki ingin membunuh orang-orang yang tinggal ditempat yang ada di ingatannya dan membuat mereka bergabung dengan dendam yang ada di dalam dirinya. Dia percaya bahwa—dengan melakukan itu—dia dapat menjadi lebih kuat dan dengan begitu bisa menenggelamkan lebih banyak makhluk hidup ke dalam dendamnya. Dan dia akan terus melakukan itu sampai seluruh dunia tenggalam di dalamnya.

Ya… yeah, Aku… kami semua sudah mati. Jadi, dunia dimana orang-orang masih bisa hidup adalah sebuah kesalahan. Itu… salah, itu benar-benar salah! Semuanya, semuanya, semuanya, semuanya harus tenggelam kedalam kegelapan. Bunuh dan makan semua yang ada di dunia ini.

Kesadaran Gouz-Maise sama seperti sebuah kelereng warna-warni yang mencampurkan objektivitas dan subjektivitas. Namun, meskipun memiliki pikiran yang kacau, dia masih bisa kebingungan. Tentu saja bukan karena pikirannya sendiri, tapi karena tindakan makhluk kecil yang ada di bawahnya.

Makhluk kecil itu menggunakan tangan kirinya untuk menutup mulut dan hidungnya menggunakan lengan bajunya… sementara bracer yang ada tangan kanannya di arahkan kepada Gouz-Maise.

Bracer itu mengeluarkan api. Gouz-Maise sudah mengetahui hal itu. Namun, sejauh ini, hanya bracer sebelah kiri yang mengeluarkan api, dan dia tidak ingat kalau bracer sebelah kanan juga melakukan hal yang sama.

Saat pikiran kacau milik Gouz-Maise mencoba untuk menduga apa yang akan dikeluarkan oleh bracer sebelah kanan itu…

“Hellish Miasma… kekuatan penuh!”

… pria berambut pirang itu mengatakan sesuatu, dan membuat asap ungu keluar dari bracer sebelah kanannya dengan intensitas besar.

Gouz-Maise tidak familiar dengan serangan itu. Dia tidak tau apa itu, apa efeknya, atau apa yang direncanakan oleh musuh. Menggunakan kemampuan perhitungan yang terbatas, Gouz-Maise mencoba memahami apa itu, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai pada sebuah kesimpulan.

Asap itu tidak berbahaya baginya—malahan menguntungkan.

Itu adalah miasma. Kabut beracun yang menderita, melemah, dan menuntun makhluk hidup kedalam kematian yang perlahan.

Bagi Gouz-Maise—seekor undead—itu bukanlah masalah yang besar.

Karena dia memiliki sel hidup, dia tidak dapat menghindari debuff yang kabut itu berikan, tapi dampak mereka pada tubuhnya tidak terlalu signifikan. Sejak awal, sedikit Weakness dan Intoxication tidak ada artinya bagi kumpulan mayat. Bahkan jika Gouz-Maise menerima debuff itu, efek yang mereka berikan akan sangat kecil. Meskipun Poison  bisa merusak sel-nya, itu bukanlah hal yang tidak dapat ditangani oleh Automatic Restoration yang dia miliki.

Oleh karenanya, karena itu hanya membuat makhluk hidup mendekati kematian, miasma ini adalah sebuah keuntungan bagi Gouz-Maise. Mencoba menduga kenapa pria itu melakukan hal yang begitu bodoh, dia akhirnya menyadari sebuah fakta tertentu.

Dia tidak dapat melihat apapun. Asap ungu gelap itu telah menyebar sempai sebatas lehernya, dan bahkan dia tidak dapat melihat sekelilingnya meskipun dia menggunakan mata yang ada di seluruh wajah di permukaan tubuhnya.

Tabir asap itu pasti adalah tujuan pria itu yang sebenarnya. Meskipun miasma ini berbahaya baginya, dia tetap menggunakannya untuk menyegel penglihatan Gouz-Maise.

“DaaDFdZfaaASsaDASasAaAaaAA!” Gouz-Maise meraung dan mulai mengamuk dengan liar. Pergerakannya yang tak kenal ampun dan dapat menghancurkan tanah yang ada di bawahnya itu dia lakukan untuk menghancurkan pria, yang pasti masih ada di sekitar sana. Gouz-Maise terus melakukan hal itu untuk beberapa saat—tanpa memikirkan damage yang hal itu berikan pada  permukaan dan wajah yang ada di kakinya—tapi dia tidak merasakan satupun makhluk hidup di bawah kakinya.

Dia tidak dapat mengenai pria itu. Dia juga tidak mengetahui pria itu ada dimana. Situasi itu membuatnya merasa marah dan gelisah, tapi di dalam dendamnya yang kacau, ada bagian yang tenang dan mencapai sebuah kesimpulan tertentu.

Pria itu mengincar kepala. Namun, dia bertubuh kecil dan tidak dapat terbang. Untuk menyerang kepala, dia pasti akan mencoba memotong kakinya. Pada saat itu, kita harus menggunakan sihir itu dan memusnahkannya bersama dengan kaki yang dia serang.

Rencana itu melibatkan pengorbanan bagian dari tubuhnya. Namun, karena Gouz-Maise memiliki Automatic Restoration, itu bukanlah biaya yang mahal. Bahkan, jika pria itu tetap menyembunyikan dirinya, hanya ada satu cara baginya untuk mencapai kemenangan. Selama Gouz-Maise tidak membiarkannya melakukan hal itu, kemenangannya sudah terjamin. Pria itu masih dapat menggunakan api dari bracer sebelah kirinya, tapi api itu hanya memberikan rasa sakit dan tidak memberikan luka parah.

Selanjutnya… Saat selanjutnya kami merasakan sakit, kami akan menembakkan sihir itu ke arah asalnya, pikir Gouz-Maise. Dampak penggunaan kedua kalinya memang besar. Namun, itu adalah harga yang murah untuk dapat membunuhnya.

Dengan pemikiran itu, dia memfokuskan perhatiannya pada kakinya dan memberikan kendali tubuhnya kepada dendam yang dapat menggunakan sihir itu.

Lalu, dia menunjukkan inti yang ada di kepalanya dan bersiap untuk menembakkan sihir itu.

Tiba-tiba, kaki belakang sebelah kiri milik Gouz-Maise disentuh, menyebabkan sistem saraf setengah busuk yang ada disana mengirimkan sebuah sinyal.

“D E e e E a A D d L y y Y y M i x e E E e e R r r R R R r R!!”

Sesaat kemudian, dia menembakkan sihir dengan tujuan untuk memusnahkan pria itu dan kakinya sendiri.

Kecepatan dia memalingkan kepalanya untuk melakukan hal itu telah menyebabkan lehernya robek dan patah, tapi dia tidak peduli. Meskipun targetnya sangat dipaksakan, tapi kekuatan serangan itu cukup besar untuk membuat kakinya sendiri menghilang. Gouz-Maise kehilangan pijakannya dan berteriak karena rasa sakit yang dia rasakan, tapi damage sebesar itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat ditangani oleh kemampuan Automatic Restoration miliknya.

Yang terpenting adalah kami telah membunuhny—

Pada saat pemikiran itu muncul di kepalanya, pria yang seharusnya sudah musnah itu melompat ke atas punggung Gouz-Maise.

Dia tidak dapat memahami apa yang terjadi. Tak terhitung dendam yang ada di dalamnya menjadi panik dan membuatnya kaku untuk sesaat.

Lalu, dia menyadari kondisi pria itu.

Tangan kanannya tertutupi darah dan memegang sepotong daging yang familiar. Itu adalah bagian tubuh milik Gouz-Maise, dan—dengan melihat mulutnya—mudah disimpulkan bahwa pria itu memakannya. Terakhir, dia memegang sebuah halberd dengan bendera hitam berkibar di belakang bilahnya.

Barusan, dengan kecepatan yang tidak biasa, dia melompat ke atas punggung Gouz-Maise, dan sekarang dia bersiap untuk berlari ke arah kepalanya. Kecepatannya jauh lebih besar dibandingkan beberapa saat yang lalu, atau bahkan saat dia masih belum terluka. Sulit dipercaya bahwa pria itu sedang terluka parah. Faktanya, luka yang dia miliki menghilang tepat di depan mata Gouz-Maise.

Tiba-tiba, dendam yang mengendalikan Gouz-Maise bergidik ketakutan. Bagaimanapun—hal itu mengingatkan pengejaran yang dia alami di ruang bawah tanah.

“Sepertinya… ini berhasil,” kata pria itu melalui nafasnya yang terengah-engah. Seluruh wajah mayat yang ada di permukaan tubuhnya mendengar pria itu bergumam. “Jika kau menerima debuff dengan memakan bagian tubuh musuh yang menerima debuff darimu… Reversal menganggapnya sebagai sebuah negative effect yang disebabkan oleh musuh. Hal itu dibuktikan dengan pertarunganku melawan Grapevine tadi pagi.”

Gouz-Maise tidak mengerti apa yang pria itu katakan.

“Aku tidak tau apakah Hellish Miasma berefek pada undead, dan ada juga kemungkinan bahwa kejadian dengan Grapevine hanya terjadi karena dia lah yang menyerangku,” kata pria itu. “Jika seperti itu, maka aku akan berakhir mati karena seranganku sendiri… tapi ternyata ini berhasil.”

Gouz-Maise tidak bisa memahami keadaan pria itu saat ini.

“Ha ha… Sungguh perjudian yang menjijikkan,” kata pria itu sambil tertawa.

Gouz-Maise hanya memiliki cukup pikiran untuk memahami bahwa pria itu menciptakan situasi ini dengan memakan daging busuk miliknya.

“GgiiIiieEe!? DdGgAaaAAaAqQaAa!?” Gouz-Maise mengeluarkan teriakan dari mulut yang ada di kepala dan seluruh tubuhnya.

“Kau takut?” tanya pria itu.

Benar—Gouz-Maise merasa ketakutan. Sebagai satu kesatuan, kesepakatan Gouz-Maise Gang—kelompok bajingan yang telah mengambil nyawa banyak anak-anak dan memakan banyak daging manusia—menyimpulkan bahwa mereka takut dengan pria yang ada di depannya.

“Kurasa ini adalah pertama kalinya kau dimakan, ya,” kata pria itu. Inilah pria yang, seolah-olah membuat Gouz-Maise membayar dosa-dosanya, telah memakan dagingnya dan berjalan semakin mendekat untuk mengakhiri hidupnya.

Tentu saja, kumpulan undead itu merasa takut dengan perbuatan pria itu.

Dia benar-benar seorang Dewa Kematian.

Kedua tangannya—yang kiri berwarna merah darah, yang kanan berwarna hitam legam—memegang sebuah bendera berwarna hitam. Sementara di kepalanya, terdapat telinga mirip serigala. Dia tidak ragu memakan daging milik pemakan manusia. Jika dia bukanlah Dewa Kematian yang dikirim untuk mengakhiri mereka—lalu siapa lagi.

“K A d s F a ! ? A s a S A D a a A q A S Q a!”

Gouz-Maise mulai mengayunkan tangannya dengan liar secara terus-menerus ke arahnya, tapi pria itu dapat menghindari semua serangan itu, dan membuat seolah-olah kumpulan mayat itu bergerak sangat lambat. Bukan hanya itu—pria itu melompat ke atas tangan kiri yang dia ayunkan dan mulai berlari menuju kepalanya.

Insert6

Sedikit demi sedikit, Dewa Kematian… Grim Reaper itu… mulai mendekati kepala Gouz-Maise.

Diselimuti perasaan putus asa, Gouz-Maise menggunakan kartu terakhirnya,

“D e E e A A — D e E a a D A a a — D d d D L Y y y M i X e E e e E E r r R R r R !?!?”

Itu adalah ketiga kalinya dia menggunakan sihir itu.

Dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi karena hal itu. Karena sihir itu mengonsumsi banyak dendam—yang menjadi inti dari keberadaan Gouz-Maise—ada kemungkinan bahwa menggunakannya sebanyak tiga kali dalam waktu singkat dapat membuat dirinya menghancurkan diri sendiri. Namun, rasa takutnya terhadap pria yang berlari di atas tangannya itu terlalu besarnya baginya untuk bisa menahan diri.

Ledakan sihir penghancur itu membuat Dewa Kematian dan semua yang ada dibawah lengan kirinya benar-benar musnah. Meskipun tangan Gouz-Maise lebih besar dari pada batang pohon, sihir itu tetap memusnahkannya sampai ketulang-tulangnya.

Sinyal rasa sakit yang disebabkan oleh hal itu sangat kuat, dan karena berkurangnya jumlah dendam yang dia miliki, kemampuan Automatic Restoration-nya tidak bekerja secara penuh. Dendam yang mengalir di dalam tubuhnya telah berkurang menjadi hanya dendam yang dapat mengaktifkan Deadly Mixer dan beberapa dendam lainnya. Namun, meski begitu, semua wajah yang menutupi tubuhnya dan beberapa dendam yang tersisa di dalam tubuhnya tersenyum lega.

Satu kaki, satu tangan, dan sekitar 80% dari dendam yang membentuknya.

Harganya memang mahal, tapi mereka telah membuat musuh mereka—dewa kematian itu sendiri—menghilang. Pertarungan itu sudah berakhir. Sekarang, dia hanya tinggal menunggu Automatic Restoration selesai, pergi menuju kota untuk mengumpulkan dendam baru dan…

“AaHhHh?” Tiba-tiba, sebuah bayangan datang dari atas kepalanya.

Gouz-Maise menatap ke atas.

Membelakangi matahari terbenam, terselimuti sinar matahari senja, terdapat asal dari bayangan itu.

Siluet berwarna hitam itu memegang sebuah pedang hitam di tangannya. Dan, dengan kecepatan tinggi, dia mendekat ke arah kepala Gouz-Maise.

“Kau monster… yang berkubang diantara mayat hidup…” kata sebuah suara yang terdengar feminim.

“… pergilah tidur… selamanya!” dan diselesaikan oleh Dewa Kematian itu.

Ujung dari greatsword hitam itu menembus dahi Gouz-Maise dan menyentuh intinya.

“VENGEANCE IS MINE!”

Dengan begitu, sebuah serangan yang setara dengan dua kali lipat dari seluruh damage yang telah Gouz-Maise berikan kepada pria itu… tidak—sebuah serangan yang membalaskan dendam milik semua orang yang menderita akibat perbuatan Gouz-Maise Gang…

…. sepenuhnya menghancurkan intinya dan mengakhiri keberadaannya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    “veagence is mine” ternyata ada yang sama dengan skill milik Nemesis

    Like

  2. Ayuba says:

    Mantap :v
    Tinggal nunggu rewardnya apa 😆

    Like

Leave a Reply to Ayuba Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s