Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 6 A

Volume 2
Chapter 6 – Di Belakang Titik Desimal (Bagian 1)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Di suatu tempat di City of Duel, Gideon.

“Heyoo-kuma! Lama tak jumpa, Figgy.”

“Oh? Aku tau suara itu, tapi tidak dengan wajahnya. Kostum baru, Shu?”

“Kau benar-kuma. Ini adalah MVP special reward yang disebut ‘Hind Bear.’”

“… Begitu, kostum lain.”

“Ya, ini kostum lain. Masalah buat lu?”

“Sudah berapa banyak yang kau miliki sekarang?”

“Maaf-kuma, aku tidak ingat semua itu-kuma. Yang kutahu, aku hanya memiliki satu special reward yang tidak berbentuk kostum-kuma.”

“… Begitu, aku bisa sedikit menduganya.”

Setiap special reward selain yang kudapatkan dari Gloria adalah kostum-kuma! Itu sama sekali tidak masuk akal-kuma!”

“Meskipun mengalahkan begitu banyak UBM bukanlah hal yang biasa, sih.”

“Maaf, tapi dari semua, aku sama sekali tidak ingin mendengar hal itu darimu-kuma.”

“Kau mungkin benar. Oh, aku baru ingat… Kau sudah memakai kostum beruang sejak saat itu, kan?”

“’Saat itu,’ maksudmu…?”

“Saat kita pertama kali bertemu.”

“Oh iya. Aku juga mengenakan kostum saat itu-kuma. Meskipun yang itu adalah sesuatu yang kubeli dari toko-kuma.”

“Itu juga pertama kalinya kita bertarung melawan UBM, kan?”

“Ya. Itu membuatku merasa nostalgia.”

“Kita benar-benar kesulitan menangani mereka.”

“Itu terjadi ketika Infinite Dendrogram baru rilis sekitar 10 hari atau lebih, kan? Level kita saat itu masih sangat rendah-kuma.”

“Yap, kelihatannya seperti itu.”

“Aku masih heran kenapa kita bisa menang… Sejujurnya, kalau diingat-ingat, sebenarnya aneh juga kita bisa melakukannya-kuma.”

“Tapi kau tidak menunjukkan satupun tanda-tanda menyerah pada saat itu, kan?”

“Ha ha ha! Kau pikir aku akan melakukannya-kuma. Seperti yang kukatakan saat itu: ‘Kemungkinan akan selalu…’”

***

Paladin Ray Starling, di dalam mimpi masa lalu

Pada musim panas tahun 2035 itu, kakakku mengalami kecelakaan saat melindungi kami. Nyawanya tidak dalam bahaya. Namun, kaki kanannya—tertabrak truk—benar-benar terluka parah. Dagingnya membengkak, pembuluh darah dibawah kulitnya pecah, dan tulangnya juga patah. Di dalam game, sihir atau item penyembuh mungkin dapat mengatasi luka semacam itu, tapi di dunia nyata, itu adalah luka parah yang tidak akan sembuh dalam waktu singkat.

Itu cukup parah sampai membuatnya bisa menginap di rumah sakit. Dan pertandingan final dari turnamen yang dia ikuti akan dilaksanakan satu jam lagi setelah dia mengalami hal itu.

“Tidak a d a y a n g bisa d i lakukan?” tanya siluet itu.

“Benar,”anggukku. “Tidak ada harapan untuknya.”

… jika dilihat dari apa yang ada, pikirku.

Aku dapat melihat orang-orang yang lewat di dekat situ mulai mengelilingi kami dan membuat kegemparan. Beberapa orang panik, yang lainnya mulai memanggil ambulans, sementara beberapa orang yang terlihat seperti wartawan mulai berfokus pada kakakku sebagai petarung di pertandingan final dengan memanggilnya “Tuan Mukudori!”

Berdiri di samping kakakku—yang sedang terbaring di atas trotoar—adalah diri mudaku dan gadis kecil itu, yang sama-sama menangis. Gadis itu mungkin menangis karena rasa takut setelah terlihat kecelakaan seperti itu, sementara aku menangis karena fakta bahwa Shu menjadi terluka karena diriku.

Aku dapat mengingat dengan jelas apa yang kupikirkan pada saat itu. Itu bisa disimpulkan sebagai perasaan bersalah atas apa yang telah kulakukan kepadanya bercampur dengan harapan agar ada seseorang yang menolongnya.

Menanggapi semua tatapan simpati dan perasaanku, kakakku—masih berada di atas trotoar—menatap diri mudaku untuk sesaat dan…

“Owie!”

… melompat sambil mengatakan hal itu dengan nada yang biasanya dia gunakan saat kepalanya menabrak kusen pintu.

Semua orang tercengang.

Diri mudaku, gadis kecil itu, dan semua orang yang kebetulan lewat disana melihatnya dengan mata terbuka lebar karena terkejut. Sebagai tambahan—bahkan siluet yang ada disampingku juga tampak terkejut.

“Aduh, sial… Ini benar-benar terlihat patah,” katanya sambil menatap kaki kanannya sambil berdiri di kaki kirinya yang tidak terluka. Tapi sekali lagi, nadanya tidak sesuatu dengan keadaan itu, membuatnya lebih terdengar seperti baru saja mematahkan sebuah gunpla daripada kakinya. Dan tidak, itu bukan “lebih baik dari pada kelihatannya”—kakinya benar-benar terluka parah.

“Itu r e a k s i y ang a neh.” Komentar siluet yang ada disampingku.

“Nah, dialah yang sedang kita bicarakan, jadi yah.” Saat ini aku sudah sering melihat kakak bertindak dan berbicara seperti itu. Tapi diriku saat itu masih belum begitu mengetahui sisi eksentrik miliknya, jadi dia sangat terkejut.

“A-Aku baru saja memanggil ambulan! Mereka akan sampai sebentar lagi! Tolong jangan terlalu banyak bergerak!” salah satu orang yang kebetulan lewat mengatakan hal itu kepada kakakku.

Namun, menanggapi hal itu, Shu berkata, “Eh? Oh… Yah, terima kasih atas perhatian anda. Tapi saat ini hal itu tidak diperlukan.”

“’Tidak diperlukan’?” beberapa orang secara bersamaan mengulangi apa yang dia katakan dengan tercengang.

“Aku memiliki pertandingan final yang harus kuikuti di bangunan sebelah sana. Jadi aku akan pergi ke rumah sakit setelah itu selesai,” kata kakak.

Saat dia mengatakan hal itu, aku merasa seperti waktu sedang terhenti.

Sepertinya aku dan semua orang yang ada disana—selain kakakku—memikirkan hal yang benar-benar sama: Apa yang orang ini bicarakan?

Dari reaksinya, bisa dikatakan bahwa siluet itu juga memikirkan hal yang sama.

*

Tempat mimpi itu berubah, dan kami saat ini sedang berada di ruang tunggu milik Shu.

Sesaat sebelum adegan ini, di tempat ini terdapat dokter yang memberikan pertolongan pertama kepada kakakku dan guru dari dojo-nya yang juga datang kemari untuk melihat pertandingan itu, tapi mereka sudah tidak ada lagi disana. Orang yang ada di ruangan itu hanyalah aku dan Shu.

Kaki kanannya tertutupi kompres dan perban. Tapi hanya itu saja. Tidak ada gips maupun alat bantu lain padanya. Bagaimanapun, Shu hendak bertarung di sebuah turnamen. Dia menolak semua gips atau alat pendukung lain karena mereka akan dihitung sebagai senjata. Luka itu sangat parah sampai harus dilakukan operasi, tapi…

“… d i a a k a n bertarung?” tanya siluet itu.

“Ya,” anggukku.

Karena siluet itu hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi, sulit untuk menebak apa yang sedang dia pikirkan, tapi bahkan aku bisa memahami kalau saat ini dia sedang setengah kagum dan setengah terkejut. “Tidak a d a y a ng meng hen tikannya?”

“Dalam turnamen bela diri biasa, pertarungan itu pasti akan dihentikan karena perintah dokter, tapi ini adalah Un-kra.”

Sekali lagi, Un-kra mengizinkan semuanya selain penggunaan senjata dan ancaman, dan hanya akan berakhir dengan KO atau menyerah. Sebenarnya aneh juga karena turnamen seperti itu bisa ada di hari dan zaman sekarang ini.

“Tapi it u p atah,” protes siluet itu. “Dia b isa m e nang? Bukankah d ia membutuh kan k a ki k a nannya?”

“Dojo seni bela diri koryu yang dihadiri kakakku lebih berfokus pada pukulan, dari pada lemparan dan sejenisnya,” jawabku. “Tentu saja, tendangan juga merupakan bagian yang penting, dan kontrol kaki yang tepat saat sedang memukul juga merupakan hal yang sangat penting.”

Sekarang kalau kupikir-pikir, gaya itu benar-benar terlihat seperti yang ada di dalam manga, pikirku. Serius, selama peragaan yang kulihat, tendangan mereka bisa menghancurkan batang pohon setebal tubuh manusia. Apa ya nama dari tendangan itu? Aku hanya ingat kalau itu terdengar sangat keren.

“Apa k a h lawannya l emah?” tanya siluet itu.

“Lawan dalam pertandingan final adalah Gregory Asimov Kaiser,” kataku. “Dia memiliki tinggi hampir dua meter dan berat lebih dari seratus kilo, sebagian besar berasal dari ototnya yang terlatih. Ahli dalam pukulan, kuncian, dan lemparan, dia dapat dengan mudah dikatakan sebagai murid terkuat yang berpartisipasi pada saat itu. Saat ini dia sedang bekerja keras untuk menjadi ahli bela diri profesional.”

“Murid… a n ak… anak?”

“Pada saat itu dia berumur 17 tahun, yang masih termasuk di bawah umur, jadi ya.” Juga, bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, Gregory masih menjadi sosok yang terkenal dalam pertunjukan seni bela diri akhir tahun. Di tahun baru sebelumnya—ketika kakakku untuk liburan—aku ingat kami berdua menonton TV dan melihat Gregory masih melakukan hal itu.

“Ka kak tida k b isa mena ng, kan?”

“Dia memiliki kesempatan kecil bahkan jika berada dalam keadaan sempurna, tapi dia akan mengikuti pertandingan itu dengan kaki patah,” kataku. “Sudah wajar jika orang-orang berusaha menghentikannya.”

Bukan berarti dia mau mendengarkannya, sih, pikirku. Sekarang kalau dipikir-pikir, guru dari dojo-nya adalah salah satu orang yang tidak mencoba untuk menghentikannya.

“Shu, jangan! Jika kau bertarung dengan seseorang sekuat dirinya dengan luka seperti itu, kau akan mati!” Diri mudaku masih menangis dan mencoba menghentikannya.

Itu sudah wajar. Bagaimanapun, saat Shu terluka karena diriku, aku diselimuti oleh rasa takut yang besar. Tapi, meskipun keadaannya seperti itu, dia hendak melakukan sesuatu yang ceroboh, atau mungkin bisa dibilang gila. Ketakutanku pada saat itu tidak mengizinkanku untuk tetap diam dan membiarkannya melakukan hal itu.

“Yah, kurasa melakukan kodachi menggunakan kakiku adalah ide yang buruk,” kata Shu, dengan benar-benar santai.

Oh, iya, pikirku. Itulah nama tendangan yang diajarkan dojonya.

“Kodachi,” pembelah pohon atau “battle-ax”, adalah tendangan putaran depan yang mengincar kepala lawan. Kakakku hebat dalam melakukan hal itu, Tendangan yang—seperti namanya—cukup kuat untuk membelah batang pohon dan sepertinya bisa melakukan yang sama pada kepala manusia, benar-benar membuat Gregory ketakutan.

Namun, dengan kaki kanan yang patah, kakakku tidak bisa lagi melakukannya. Dia juga tidak bisa melakukannya dengan kaki kiri, karena kalau begitu dia harus menggunakan kaki kanannya sebagai tumpuan. Shu harus bertarung tanpa tendangan andalannya.

Itu hanya berarti satu hal—dia tidak memiliki kesempatan menang.

Dia mendapat luka itu karena diriku. Dan karena itu akan menjadi alasan kekalahannya—atau bahkan mungkin kematiannya—aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Oleh karenanya, aku mencoba menghentikannya.

Namun, Shu tidak menunjukkan tanda-tanda berubah pikiran. Dia selalu seperti itu. Keras kepala dan eksentrik, kakakku bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah membatalkan apa yang sudah dia putuskan.

Setelah diri mudaku memahami bahwa mencoba membujuknya adalah sesuatu yang sia-sia, dia menundukkan kepalanya dalam kesedihan.

“Aku seharusnya tidak melompat ke tengah jalan…” gumamnya pada diri sendiri.

“Hmm.” Mendengar hal itu, Shu memikirkan sesuatu, mendekat ke arah diri mudaku, dan meletakkan tangannya di bahuku, dan menatap mataku. “Sejujurnya, Reiji… kupikir kau akan lebih menyesalinya jika kau tidak mencoba untuk menyelamatkannya.”

“T-Tapi kaulah yang sebenarnya menyelamatkannya!” diri mudaku memprotesnya. “Aku tidak bisa melakukannya sendiri! Apa yang kulakukan hanya membuatmu terluka!” Diri mudaku menangisi ketidakberdayaannya. Apa yang dia rasakan pada saat itu adalah penyesalan, kesedihan, dan kemarahan pada dirinya sendiri.

“Kau benar, aku terluka.” Shu menyetujui pernyataanku. “Tapi kau tau, sangat mungkin bahwa aku tidak akan menyelamatkannya jika kau tidak mencoba melakukannya terlebih dahulu.”

“Eh?” Hal itu mengejutkan diri mudaku.

“Karena kau mencoba menyelamatkan gadis itu, Aku—tanpa pikir panjang—langsung melompat untuk menyelamatkan kalian berdua,” jelasnya. “Pada akhirnya, dia selamat karena pilihan yang telah kau buat.

Itu mungkin adalah kebenaran, atau hanya bualan untuk membuatku merasa lebih baik. Namun, ada ketulusan yang terlihat di matanya.

“Itu sudah cukup bagus, Reiji,” katanya. “Kau tidak perlu menyesali keputusan yang telah kau pilih. Bagaimanapun, itu adalah premis utama untuk menggenggam kemungkinan yang akan mengantarmu ke masa depan yang kau inginkan.”

Dia menambahkan banyak penekanan pada perkataannya selanjutnya.

“Setelah memilih sesuatu, yang tersisa adalah apakah kau bisa melihatnya atau tidak dan apakah kau bisa menggenggamnya atau tidak.”

“Menggenggamnya atau tidak?” tanya diri mudaku.

“Ya, kemungkinan akan selalu…”

Inilah yang dia katakan…

“Kemungkinan akan selalu ada disana—di dalam keinginanmu. Tidak peduli seberapa kecil itu, tidak peduli dibelakang berapa banyak angka nol pada pecahan desimal hal itu berada—itu selalu ada. Kemungkinan itu tidak akan ada disana hanya pada saat kau menyerah dalam menggenggam masa depan yang kau inginkan. Selama kau tidak menyerah dan terus membuat pilihan ke arah masa depan yang ingin kau lihat, kemungkinan itu tidak akan pernah menghilang, bahkan jika itu terletak jauh dibelakang angka desimal.”

Perkataan itu masih terukir di dalam hatiku sampai saat ini.

“Itulah sebabnya pilihanmu sebelumnya untuk menyelamatkan gadis itu bukanlah sebuah kesalahan,” tambahnya.

“Shu…” kata diri mudaku.

Dia menunjukkan senyum berani kepada diriku dan berdiri. “Hari ini adalah kesempatan yang sempurna, jadi aku akan menunjukkan tali itu kepadamu. Kau akan segera mengerti apa artinya memberikan semua yang kau miliki untuk menggenggam kemungkinan itu.”

Dengan mengatakan hal itu sebagai ucapan terakhirnya, Shu meninggalkan ruang tunggu dan menggunakan penopang untuk pergi ke tempat pertandingan itu akan berlangsung.

*

Pada saat itulah mimpi yang menggambarkan masa laluku berakhir. Bangunan tempat kami berada sebelumnya telah menghilang, hanya menyisakan sebuah alam mimpi kosong yang kabur dan mengingatkanku pada kabut pucat.

Diri mudaku dan kakakku tidak terlihat dimanapun, yang artinya orang yang saat ini berada disini adalah, diriku sebagai Ray, dan siluet itu.

“S u dah s e l esai?” tanya siluet itu.

“Yah, pertandingannya seharusnya terjadi setelah ini,” jawabku.

Meskipun, jika tujuan dari mimpi ini adalah untuk menampilkan asal mula-ku, masuk akal kalau itu akan berakhir setelah percakapanku dengan Shu, pikirku.

“Bisakah a k u m e nanyak an h al lain?”

“Tentu,” aku sudah tau apa yang ingin dia tanyakan.

“A p akah d ia me nang?”

‘Dia menang.”

Benar—Shu pergi mengikuti pertandingan final melawan Gregory dan benar-benar menggapai kemenangan.

“B a ga imana?” tanya siluet itu.

Ugh, aku benar-benar tidak ingin mengatakannya, pikirku. Meskipun aku juga tidak ingin membuat siluet ini penasaran, jadi kurasa aku akan mengatakannya.

Berita tentang kaki kanan kakakku yang tidak bisa lagi digunakan telah menyebar diantara orang-orang yang ada di tempat itu. Bahkan para penonton yang ada di sekitar tempat dudukku juga sedang membicarakan hal itu. Juga, cara Shu naik ke atas ring—sambil membawa penopang—telah membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Saat dia naik ke atas ring, dia tidak membiarkan kaki kanannya menyentuh lantai yang ada di bawahnya. Hanya bisa menggunakan kaki kirinya membuatnya benar-benar kesulitan dan membuat orang-orang paham seberapa parah luka yang dia derita.

Karena suatu alasan, orang-orang sudah tau bahwa hal itu disebabkan oleh sebuah kecelakaan yang dia alami saat menyelamatkan dua orang anak, dan membuatnya mendapatkan banyak tatapan simpati. Beberapa ahli bela diri memujinya karena tidak mundur dari pertandingan bahkan setelah mendapatkan luka separah itu, dan menyebutnya “petarung sejati.”

Lawannya, Gregory, juga merasakan hal yang sama. “Sayang sekali aku tidak bisa bertarung melawanmu dalam kondisi terbaikmu,” katanya. “Meskipun aku yakin bahwa suatu hari kita akan bertarung habis-habisan satu sama lain.”

Meskipun dia terlihat mengintimidasi, Gregory sebenarnya adalah orang yang lembut.

“Aku yakin kita akan melakukannya,” jawab kakakku dengan nada yang agak ceria.

Ada perbedaan dalam tinggi badan mereka. Dalam berat badan. Dan masalah serius pada keadaan salah satu peserta. Hasilnya sudah jelas. Apa yang akan terjadi adalah event mirip ritual yang hanya dimaksudkan untuk menghormati harga diri kakakku dan kebanggaan sebagai seorang ahli bela diri.

Itulah yang dipikirkan oleh semua orang yang ada disana.

Setelah itu, suara gong terdengar… dan Shu menggunakan kaki kanannya, melancarkan tendangan Kodachi, mengenai rahang Gregory, dan membuatnya pingsan seketika.

Pertandingan itu berakhir disana…

Unlimited Pankration U-17 telah berakhir dengan kemenangan kakakku.

“Itu gila,” kataku.

“… Kaki i t u patah, ka n?” tanya siluet itu.

“Ya, dia benar-benar menggunakan kakinya yang patah untuk melakukan tendangan penghancur rahang untuk memberikan gagar otak kepada musuhnya dan menang dengan one-hit KO,” kataku.

Tentu saja, tidak ada seorangpun yang menduga bahwa Shu akan melakukan sesuatu sekeras itu menggunakan kakinya yang patah. Gregory tentu saja tidak menyangka hal itu dan sama sekali tidak bersiap untuk menerima tendangan itu, membuat kakakku mendaratkan sebuah serangan langsung.

“… Tid ak a d il.”

“Aku setuju,” kataku. Dia membuat semua simpati yang dia dapatkan dari para penonton menjadi sia-sia.

Sekarang kalau dipikir-pikir, aku agak penasaran dengan alasan kenapa simpati itu—berita tentang dirinya yang mengalami kecelakaan—bisa tersebar ke seluruh bangunan ini, pikirku. Itu semua membuatnya bisa melakukan serangan kejutan yang sempurna. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk percaya bahwa Shu sebenarnya telah melakukan sesuatu untuk membuat hal itu terjadi.

Dan dengan mempertimbangkan hal itu, bisa di asumsikan bahwa keceriaan yang dia tunjukkan sebelum pertandingan dimulai sebenarnya juga merupakan bagian dari persiapannya untuk melakukan tendangan itu.

Apapun alasannya, serangan nekat itu tentu saja membuat lukanya menjadi semakin parah, dan memperpanjang waktu pemulihannya dari satu bulan menjadi tiga bulan.

Saat aku bertemu dengan kakakku setelah event itu, dia menunjukkan wajah paling bangga paling menjengkelkan dan mengatakan sesuatu seperti “Inilah yang dimaksud memberikan semua yang kau miliki untuk menggenggam kemungkinan yang ada!”

Yang kemudian kujawab dengan, “Kak, dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?!” sambil melemparkan handuk ke wajahnya.

Oh iya, pikirku. Sebenarnya sejak saat itulah aku mulai memanggilnya “Kakak.”

*TN: mungkin yang dimaksud disini awalnya Reiji memanggilnya “Onii-chan”, tapi setelah kejadian itu dia mulai memanggilnya “Aniki” (tapi entahlah, saya cuma mengikuti sumber englishnya xD)

“Sungg uh k akak ya ng h ebat,” komentar siluet itu.

“Memang,” anggukku.

Meskipun dia benar-benar meruntuhkan perkataan yang sebelumnya dia katakan di ruang tunggu, perkataan itu masih terukir di dalam hatiku. Itulah alasan kenapa aku selalu siap untuk menggapai semua kemungkinan yang bisa menuntunku menuju masa depan tanpa penyesalan atau rasa pahit di mulutku.

“Mungkin itulah sebabnya replay itu berakhir setelah pembicaraan di ruang tunggu,” kataku. Pertandingan itu sendiri tidak menambahkan sesuatu yang berharga.

Meskipun mungkin itu adalah pertunjukkan yang bagus untuk sikap “genggam kemungkinan yang ada tidak peduli apapun yang diperlukan.” Aku bukanlah tipe orang yang akan menggunakan mentalitas sampai sejauh itu. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa aku akan terlibat kedalam situasi dimana aku harus melakukannya, tapi…

“Sa a t put us asa, l a ngk ah pu tu s asa,” kata siluet itu.

“Ya,” kataku.

Dengan replay ingatan yang sudah berakhir, sudah saatnya aku terbangun. Setelah itu terjadi, aku harus menghadapi Gouz-Maise dalam keadaan yang bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Oleh karenanya, jika aku hendak menggapai kemungkinan itu, aku harus mencari metode baru.

“Yah, bagaimanapun, aku harus melakukannya,” kataku.

“Be g itu,” angguk siluet itu. “Mak a, bangun l ah.”

Aku merasa seperti melihat siluet itu tersenyum.

“Ray, a da pe r tan yaan?”

Yah, ada satu hal yang ingin kuketahui, pikirku.

“Baiklah, aku akan bertanya secara langsung… Apa kau ini?” Dugaanku sendiri tidak cukup untuk mengetahui identitasnya.

“… Eheh e h.” aku tidak bisa melihat satupun mata pada siluet merah gelap itu, tapi aku dapat dengan mudah mengatakan bahwa dia sedang menatapku sambil tertawa. “Kau tidak ak a n me n g u asaiku jik a ka u h a nya me ng gunakan api, Ray.”

Perkataan itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. “K-Kau Gardran…?”

Sebelum aku dapat menyelesaikan perkataanku, dunia mimpi ini mulai menghilang.

“Aku adalah fragment. Sebuah kekuatan yang tidak sempat digunakan karena kau telah mengalahkan kami saat aku masih belum sempurna. Aku adalah hidup dan pikiran yang gagal di lahirkan oleh iblis itu. Hidup yang telah terlahir kembali sebagai item milikmu. Aku adalah ‘diriku’ yang ingin mengenal pria yang telah membunuh ibuku.”

Siluet itu—Gardranda—berbicara sambil penampilannya semakin terlihat jelas. Dia tidak memiliki penampilan seperti iblis besar itu, tapi seorang gadis kecil dengan dua tanduk.

“Aku sudah memahamimu sekarang,” kata Gardranda. “Jadi tolong, pahami aku juga.”

Dan dengan begitu, dunia mimpi dan ingatan kami mulai memudar.

“Bangunlah, gunakan semua yang kau miliki, termasuk aku dan Nemesis, dan genggam kemungkinan itu. ok?” Dia mengatakan hal itu, dan kesadaranku mulai kembali.

***

Maiden of Vengeance, Nemesis.

Setelah aku menghindari serangannya dan menggunakan serangan pura-pura, aku telah mengulur waktu sekitar lima menit. Tubuhku dipenuhi luka-luka ringan. Meskipun aku mampu menghindari kaki dan tinjunya, aku menerima damage dari potongan kayu dan tanah yang terbang ke segala arah.

Meskipun sakit untuk mengakuinya—bentuk manusia-ku memang lemah. Karena aku tidak memiliki cara untuk menyembuhkan diriku sendiri, aku tidak akan bertahan lama.

Gouz-Maise, disisi lain, benar-benar tidak terluka. Karena pedangku bahkan tidak dapat memberikan goresan kepadanya, dia bahkan tidak perlu menggunakan Automatic Restoration.

“BoUsyuSsAdaSAA aaA!” Meskipun dia tidak terluka, Gouz-Maise merasa kesal karena tidak dapat membunuhku dan mengekspresikannya dengan mengeluarkan raungan penuh kemarahan dan mengeluarkan sedikit cairan dari seluruh wajah yang ada di tubuhnya.

Pemandangan itu benar-benar menjijikkan.

Makhluk itu sendiri adalah perwujudan rasa jijik yang keluar dari seluruh mayat yang membentuknya. Penampilan dan cara kelahirannya sudah cukup untuk mengubah pemandangan itu menjadi sesuatu yang membuat pikiranku menjerit. Itulah kesan keseluruhan yang kumiliki pada undead ini.

Dulu pada saat aku dan Ray mengunjungi Tomb Labyrinth, aku merasa benar-benar ketakutan. Aku tidak tau kenapa, tapi undead adalah hal yang benar-benar mengerikan bagiku. Saat mencari jawabannya melalui ingatan Ray, aku merasa bahwa aku hanya lemah terhadap sesuatu yang menyeramkan.

Namun, sepertinya bukan begitu. Aku memahami hal itu setelah menghadapi undead yang ada di ruang bawah tanah benteng itu dan monster yang ada di depanku. Aku tidak takut dengan penampilan mereka. Apa yang membuatku merasa ketakutan adalah keberadaan mereka.

Mereka sudah mati, namun mereka tidak pergi ke alam baka, ataupun terlahir kembali.

Mereka sudah mati, namun mereka terus berjalan bersama kami.

Keadaan yang mirip mimpi buruk itu begitu menakutkan sampai-sampai membuat hatiku mengencang.

Aku tidak tau alasan dari hal itu.

Namun, hatiku mengatakan kepadaku bahwa aku tidak bisa membiarkannya terus begini.

“Hatiku, eh?” gumamku.

Sungguh aneh, pikirku. Berdasarkan pengetahuan Ray, aku tidak lain hanyalah AI yang ada di dalam sebuah game. Apakah aku benar-benar memiliki hati? Tunggu.

“Paling tidak, aku memiliki cukup hal itu untuk merasakan sesuatu,” kataku.

Itu pasti ada. Aku memiliki sebuah hati yang merasakan sesuatu untuk Ray.

“Heh heh.” Aku hanya bisa tertawa. Tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang cukup lucu. Bagaimanapun—dia adalah orang yang membuatku ada. Tapi, apa yang dirasakan hatiku tentang dirinya bukalah sebuah kepalsuan.

Aku…

“D A s d a S A A a A a a a A!”

“Kau memang makhluk yang suka merusak suasana, bukan, dasar monster menjijikkan?” bentakku.

Tonjolan panjang menggeliat keluar dari seluruh mulut yang ada di tubuh Gouz-Maise.

Itu adalah lidah. Cairan busuk yang menetes darinya bukan satu-satunya hal yang menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak seperti milik manusia—bentuk mereka juga mengingatkanku dengan lidah yang digunakan oleh bunglon dan katak dari ingatan Ray.

Sudah jelas untuk apa dia akan menggunakan lidah-lidah itu.

Jelas, bahwa dia menjadi lelah dan tidak sabar karena aku selalu menghindari serangannya. Sama seperti ular yang mengangkat kepalanya, lidah-lidah itu bersiap untuk menyerangku.

“Aku tidak akan bisa menghindari serangan ini,” kataku. Bukan hanya aku menerima banyak luka—aku juga tidak memiliki skill dan kemampuan untuk menghindari serangan semacam itu. Aku tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi.

“… Heh heh.”

Lihatlah aku, Ray, pikirku. Inilah seberapa kuat diriku saat sedang seorang diri. Inilah batas dari apa yang bisa kulakukan oleh diriku sendiri. Saat sendirian, aku tidak bisa melakukan lebih dari ini. Jadi…

“Jadi cepatlah datang kemari.”

Pada saat Gouz hendak menusukku menggunakan lidahnya…

“Tentu.”

… aku mendengar perkataan itu, yang diikuti oleh hembusan api berwarna merah gelap yang membakar lidah menjijikkan itu.

Api yang ada di lidahnya membuat Gouz-Maise berteriak kesakitan. Saat ini, aku sudah familiar dengan api berwarna merah gelap itu. Bagaimanapun, orang yang mengendalikan mereka adalah Master-ku.

“Sepertinya kau menikmati waktu istirahatmu, Ray,” kataku.

“Maaf, sebuah mimpi kecil membuatku ketiduran,” jawabnya.

“Kau seharusnya tidak membuat seorang nona menunggu terlalu lama,” aku memarahinya. “Tapi, baiklah… kau datang tepat waktu, jadi aku memaafkannya.”

“Terima kasih, Nemesis.”

Mendengar hal itu membuat ekspresi-ku melembut, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkannya.

“Jadi, bisakah kita melanjutkannya?” tanyaku. “Kita kehabisan stok Counter Absorption dan sudah mendapatkan banyak luka. Situasi ini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Apakah menurutmu kita bisa melakukannya?”

“Ya,” angguk Ray. “Aku mengingat sesuatu… tidak, dua hal. Kita akan menggunakan mereka untuk mengalahkan makhluk itu.”

“Mengingat dua hal? Maukah kau memberitahuku apa itu?”

Sebelum menjawab pertanyaanku, Ray menunjukkan senyum berani “Sesuatu yang kutolak untuk digunakan… dan perkataan kakakku.”

Pada saat dia mengatakan hal itu, aku segera paham yang dia pikirkan dan mengetahui apa yang dia rencanakan.

Wow, pikirku, antara kagum dan sedikit terkejut.

“Heh heh! Apakah kau gila?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya.

“Ini akan menjadi tindakan kegilaan murni dengan tingkat keberhasilan yang rendah. Ini akan sama berbahayanya dengan berjalan di atas seutas tali, bukan?!” aku benar-benar bingung dengan proses berpikirnya.

“Jika ada kemungkinan disana, maka aku hanya perlu melakukan semua yang kubisa untuk menggapainya,” kata Ray.

Begitu, pikirku. Maka aku akan menemanimu.

“Meskipun, kesempatan rencana ini akan membawa kita menuju kemenangan hanya sekitar… 30%, dan itupun sudah sangat bagus,” tambahnya.

Sekitar sepertiga, eh?

“Sepertinya itu sudah cukup bagiku,” kataku.

“Lebih dari cukup,” kata Ray. Setelah percakapan itu, aku berubah kedalam bentuk pedang-ku dan menjadi senjata Ray.

“Ayo menangkan ini, ok?” kataku.

“Ya, ayo menangkan ini.”

Dan kemudian, berbalik untuk menghadapi monster yang merupakan Gouz-Maise, Aku dan Ray menjadi satu

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. Talisman says:

    Apa dia akan mendapatkan loli baru?

    Like

  2. zozoz says:

    oww gantung sekaliii

    Like

Leave a Reply to zozoz Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s