Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 5 B

Volume 2
Chapter 5 – Revenant Ox-Horse (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Maiden of Vengeance, Nemesis.

Tepat setelah kami menggunakan Counter Absorption untuk memblokir Deadly Mixer milik Gouz-Maise, tinju-nya yang besar menghantam tubuh Ray. Sambil masih memegangku dalam bentuk greatsword-ku, Master-ku terlempar kesamping. Melewati sela-sela pepohonan yang ada di hutan, dia terbang di udara seperti daun yang diterbangkan angin.

Pemandangan itu mengingatkanku dengan kecelakaan truk yang ada pada ingatan Ray… dan saat Superior Killer memberikan death penalty pertama kepadanya.

“Ray!” aku memanggilnya, tapi dia tidak memberikan jawaban.

Dia sudah kehilangan kesadaran. Dan tubuh pingsannya sedang terbang tepat ke arah sebuah pohon.

“Ah!” aku segera berubah ke dalam bentuk manusia, merangkulnya dari belakang, dan menutup mataku dengan erat. Sesaat kemudian, aku merasakan dampak yang kuat dan rasa sakit menyebar di punggungku. Saat pohon yang kami tabrak berguncang, kami berdua jatuh ke tanah yang ada di bawahnya.

“Khh… Ah…” Aku masih merasakan rasa sakit itu setelah kami menghantam permukaan tanah. Dampak yang kurasakan saat terjepit di antara pohon dan Ray—yang memiliki tubuh lebih besar dari pada diriku—sepertinya membuat beberapa tulang rusukku retak. Namun, aku yakin bahwa itu telah membuat Ray terhindar dari semua rasa sakit ini. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

“Ray!” Aku memanggilnya, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

Melihat ke arah status-nya, Aku melihat bahwa HP-nya sudah berada di bawah 10% dan dia memiliki beberapa status effect seperti Fainting dan beberapa Bone Fracture. Merogoh kedalam inventory-nya, aku mengeluarkan HP recovery Potion dan menuangkannya kedalam mulutnya. Hal itu memulihkan sedikit HP-nya, tapi itu tidak menghilangkan satupun status effect-nya. Lukanya terlalu parah. Juga, consumable item jenis Potion akan lebih efektif jika ditelan, dan karena sedang pingsan, Ray tidak dapat meminum sedikitpun Potion yang coba kuberikan kepadanya.

“Maafkan aku!” Aku menuangkan isi Potion itu kedalam mulutku dan menempelkan bibirku dengan miliknya. Aku kemudian melakukan hal itu sebanyak dua kali lagi. Dengan itu, aku berhasil membuat Ray meminum Potion sejumlah satu botol.

FrontMatter3

Hal itu menjadi efektif hampir dalam sekejap, menyembuhkan sekitar sepertiga HP-nya dan menyembuhkan Bone Fracture ringan. HP-nya juga telah berhenti berkurang.

Meskipun Ray masih belum sadar, dapat dipastikan bahwa dia sudah tidak berada di ambang kematian. Namun, aku tidak yakin apakah masih bisa memandang matanya setelah ini.

“Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal itu!” teriakku dengan putus asa.

Kami masih berada dalam situasi yang mengerikan. Aku bisa mendengar getaran yang mendekat ke arah kami, memperingatkanku bahwa Gouz-Maise sudah semakin mendekat. Jika monster itu melihat Ray dalam keadaan seperti ini, dia akan langsung membunuhnya.

Dia akan mati untuk kedua kalinya.

“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

Aku tidak bisa menerima gagasan bahwa Ray akan dibunuh oleh makhluk itu.

“Ray,” kataku.

Masih pingsan, Master-ku terbaring di dekat pohon yang kami tabrak.

Aku membelai pipinya dengan lembut dan berpaling darinya. “Aku akan memberimu sedikit waktu.”

Aku percaya padamu. Sore hari setelah kita kalah dari Superior Killer, kita telah membuat sebuah janji. Saat itu, kita berdua masih lemah dan tidak dapat melakukan apapun terhadap orang itu. Oleh karenanya, kita setuju untuk menjadi lebih kuat dan menggapai kemenangan. Sekarang, kita berdua bertarung bersama, Aku tau kau akan segera bangun. Jadi aku akan mengulur waktu sampai saat itu tiba… karena itulah yang akan menuntun kita menuju kemenangan.

“Majulah!” aku mengubah tangan kananku menjadi pedang hitam. Meskipun cukup kecil, itu hampir sama kuatnya dengan bentuk pedangku.

Aku menempatkan diriku di depan Gouz-Maise sebelum dia dapat menemukan Ray. “Kau harus melewatiku dulu, Gouz-Maise!”

“DHISSSSIIIIUAAAAAAA!!”

Setiap wajah yang ada di tubuhnya berteriak. Seluruh mata yang ada di wajah-wajah itu berputar dan tertuju kepadaku.

Counter yang ada pada diriku tidak bereaksi, yang artinya dia tidak sedang dikendalikan oleh dendam milik Lich itu. Dia menyadariku hanya karena aku adalah makhluk hidup.

Aku harus menghadapinya dan menahannya cukup lama sampai Ray bangun.

“Augh!” aku menggunakan tangan kananku yang berubah menjadi pedang untuk menyerang Gouz-Maise.

Strategiku sama dengan Ray. Aku menyerangnya, kemudian di serangan balik, dan menghindarinya.

Meskipun Gouz-Maise tangguh dan kuat, dia sama sekali tidak cepat. Bahkan aku sama sekali tidak kesulitan menghindari serangannya.

Namun, tidak seperti ketika Ray mengayunkanku, sepertinya aku sama sekali tidak bisa melukainya. Tanpa Silverlight, apa yang bisa kuberikan kepadanya adalah sebuah sayatan dangkal.

Stats-ku berada jauh dibawah Ray. Bukan hanya itu, tapi aku juga tidak bisa lagi menggunakan skill yang dapat kugunakan sendiri—Counter Absorption.

Gouz-Maise, disisi lain, hanya menyerangku menggunakan pukulan yang dapat langsung membunuhku. Tidak seperti saat aku berada dalam bentuk pedang, satu serangan langsung saja dapat membuat tubuhku hancur.

Meskipun satu kesalahan saja dapat menjadi hal yang fatal, aku terus maju. Jika aku menyerah, kemungkinan Ray akan bangun dan membawa kami menuju kemenangan akan menjadi nol.

Tidak satupun diantara aku dan Ray dapat menerima hal itu. Oleh karenanya, aku bertarung untuk menjaga kemungkinan itu tetap hidup.

Perasaan ini sudah ada pada diriku sejak aku terlahir. Aku yakin kalau Ray juga memiliki perasaan yang sama.

Itu adalah satu hal sejati yang tetap membuat kami tertambat dan terhubung.

***

Paladin Ray Starling, di dalam sebuah mimpi

Aku langsung memahami bahwa aku sedang bermimpi.

Aku masih berada dalam penampilan avatar-ku di Infinite Dendrogram, tapi semuanya terasa agak kabur, membuatku merasa seperti sedang berada dalam lucid dream.

Namun, meski begitu, aku sama sekali tidak kesulitan memahami situasi dan keadaan di sekitarku. Contohnya, aku dapat dengan jelas melihat seorang anak kecil—tepatnya, diriku saat masih kecil—berlari ke suatu tempat.

“Oh… aku ingat hal ini,” kataku.

Aku dapat dengan mudah mengatakan bahwa mimpi ini menggambarkan masa laluku. Aku bahkan tau kapan hal itu terjadi. Itu adalah musim panas pada tahun 2035—hampir sepuluh tahun yang lalu.

Tentu saja, Infinite Dendrogram belum rilis saat itu, jadi aku dan kakakku memainkan game yang berbeda.

Saat itu—saat dia berumur 16 tahun—Shu sedang ketagihan memainkan game retro dan belajar seni bela diri. Dia secara bertahap terus meningkatkan kemampuan bertarungnya dengan mengunjungi sebuah dojo milik teman kakak perempuan kami, dan pada akhirnya dia menjadi kontestan yang cukup terkenal lewat U-17—sebuah turnamen untuk remaja.

Hari-hariku pada saat itu diisi dengan bermain game retro bersamanya sambil tidak sabar untuk melihat pertarungannya di turnamen itu. Pada hari hal itu terjadi, aku berniat pergi ke tempat dimana turnamen itu dilaksanakan dengan bersemangat.

Sama seperti yang ada pada ingatan ini.

“Wew, apa-apaan ini?” gumamku.

Sudah wajar aku menanyakan hal itu. Bagaimanapun, Aku—sebagai avatar-ku, Ray—sedang mengikuti diriku saat masih kecil. Bukan hanya itu, tapi ada sesuatu tak dikenal berdiri disampingku. Jika aku harus mendeskripsikannya dengan satu kata, maka itu adalah “siluet.”

Ya—sebuah siluet berbentuk humanoid sedang melayang di tengah hari musim panas yang terlihat normal ini. Warnanya adalah campuran dari merah dan hitam, membuatnya terlihat agak menyeramkan. Dalam bentuk Ray milikku dan masih mengenakan semua armor-ku, aku berjalan melewati hari biasa di Jepang ini bersama siluet yang ada disampingku. Keanehan pada situasi ini adalah alasan lain kenapa aku menyimpulkan bahwa aku sedang bermimpi. Sesuatu se-aneh ini hanya bisa terjadi di dalam mimpi.

Siluet itu sama sekali tidak bersuara.

“Bagaimana jika kau mengatakan sesuatu?” kataku kepadanya.

“R e p l a y,” kata siluet itu.

R-Replay?

“Jadi ini adalah perbuatanmu?” tanyaku.

Karena suara siluet itu terdengar feminim, aku sesaat menduga bahwa dia adalah Nemesis, tapi aku segera merasa bahwa itu tidak benar.

“A k u i n g i n b e r t a n y a.”

Hei, aku juga memiliki beberapa pertanyaan, pikirku.

“G a n t i a n.”

Gantian…? Jadi kita akan bergantian mengajukan pertanyaan? Pikirku.

“Ok,” anggukku.

Dan dengan begitu, diriku dan siluet berwarna merah hitam yang sepertinya bisa membaca pikiranku itu melakukan sedikit percakapan.

“K e m a n a a n a k i t u a k a n p e r g i?” tanya siluet itu.

“Tempat dimana kakakku akan melakukan pertandingan di sebuah turnamen,” jawabku. “Ini ketika, uh…”

Tentu saja, aku tau persis kemana diriku akan pergi pada saat itu, apa yang seharusnya berlangsung disana… dan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini terjadi ketika dia berpartisipasi dalam turnamen Un-kra U-17.”

“U n – k r a?” siluet merah hitam itu bertanya sambil memiringkan kepalanya, tapi sekarang adalah giliranku untuk mengajukan pertanyaan.

“Beritahu aku,” kataku. “Jika ini adalah sebuah mimpi, lalu apa yang terjadi kepadaku? Aku sangat yakin sedang berada di tengah pertarungan melawan Gouz-Maise. Apakah aku mendapatkan death penalty?”

Kelihatannya bukan begitu, karena sepertinya aku masih berada di dalam game.

“H i d u p… P i n g s a n.”

Jadi aku pingsan, huh? Pikirku… Tunggu, bukankah itu artinya aku bisa terkena serangan akhir kapan saja?

“A p a i t u U n – k r a?”

“Sebuah turnamen seni bela diri berjenis death match tanpa batasan berat, tanpa batasan gaya, tanpa peraturan selain penggunaan senjata dan ancaman, dan tidak akan berakhir tanpa KO atau menyerah—Unlimited Pankration. Juga dikenal sebagai ‘Un-kra’.”

Itu adalah sebuah turnamen populer yang mulai dilaksanakan—jika ingatanku benar—sejak tahun 2027. Dengan mengizinkan penggunaan karate, judo, boxing, kickboxing, sumo, wrestling, Muay Thai, capoeira, koryu, dan gaya seni bela diri lainnya, itu terlihat seperti sebuah event di dalam manga Shonen. Tingkat kekerasannya menuai banyak kritik, tapi turnamen itu tetap menjadi populer.

“…” Siluet itu terlihat agak bersemangat.

Apakah dia menyukai seni bela diri? Aku bertanya pada diriku sendiri. Atau death match?

“Giliranku untuk bertanya,” kataku. “Kenapa kau tidak mengetahui apa itu Un-kra sementara—seperti yang kau katakan sendiri—kaulah orang yang me-replay adegan ini?”

Nemesis memiliki sebagian ingatanku sejak saat dia lahir, jadi aku merasa aneh karena siluet ini tidak memilikinya.

“H a n y a … m e – r e p l a y … i n g a t a n… y a n g d i b u t u h k a n.”

Jadi dia hanya me-replay ingatan yang dianggap perlu, huh? Pikirku. Tapi, jika dia bisa men-scan ingatanku, meskipun bukan merupakan sebuah Embryo… makhluk apa dia sebenarnya? Kurasa aku harus menanyakannya secara langsung…

“A p a y a n g a k a n t e r j a d i s e k a r a n g …?”

Aku menduga bahwa seseorang yang me-replay adegan ini sudah mengetahui hal itu, pikirku.

“Terus tonton dan kau akan melihatnya dalam beberapa menit,” kataku. “Sekarang, pertanyaanku: apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Y a,” jawab siluet itu. “D i s i n i , k i t a s e l a l u b e r s a m a …”

“Apa…?” kataku kebingungan.

“Disini,” maksudnya, di dalam Infinite Dendrogram? Tapi satu-satunya orang yang selalu bersamaku di dunia ini adalah Nemesis.

“A n a k k e c i l s e n d i r i a n , t i d a k b a h a y a …?” siluet itu bertanya sambil menunjuk diriku saat masih kecil.

“Sistem keamanan yang mengamati jalan publik sudah ada di sana sepuluh tahun yang lalu, jadi, aku tidak sedang dalam bahaya akan diculik atau sejenisnya,” kataku.

Aku kesulitan mengingat kapan mesin penjaga keamanan tersebar luas. Aku merasa bahwa mereka sudah ada sejak aku lahir.

“T a p i , a n a k k e c i l s e o r a n g d i r i …?”

“Itu mungkin memang liburan musim panas-ku, tapi itu masih merupakan hari-hari biasa bagi orang dewasa, jadi ya… Tunggu, bukankah itu adalah pertanyaan kedua?”

“Tanya d u a kali j u g a , Ray.” Meskipun kalimatnya masih monoton, dia semakin pandai dalam berbicara.

“Bagaimana aku bisa kembali tersadar?” tanyaku.

“Bang u n s e t e l a h s e lesai m e nonton.”

“Selesai menonton apa?” tanyaku.

“Ke l a h i r a n m u.”

Ke-Kelahiranku…?

“Menonton kenapa k a u men j a d i Ray y a n g s e karang.”

“… Begitu,” kataku.

Alasan kenapa aku menjadi diriku yang saat ini, huh? Melihat kejadian yang akan terjadi sudah lebih dari cukup untuk mengetahui hal itu.

“Tidak akan lama lagi.” Sambil mengatakan hal itu, aku menunjuk ke arah diri kecilku, yang sedang berjalan di depan kami.

Dia sudah berada di dekat tempat turnamen dan hanya perlu berjalan melewati penyeberangan jalan untuk sampai ke pintu masuk. Saat diriku yang berumur delapan tahun menunggu rambu lalu lintas berubah, ada gadis yang jauh lebih kecil berada di samping diri kecilku. Dia memakai aksesoris lucu di rambutnya, tapi karena dia memasangnya dengan salah, benda itu terbang pada saat ada hembusan angin menerpa, dan aksesoris itu jatuh di tengah jalan.

Rambunya masih berwarna hijau untuk kendaraan, dan ketika gadis itu mencoba untuk pergi dan mengambil aksesoris itu, dia tidak menyadari bahwa ada truk yang melaju ke arahnya. Beberapa saat sebelum truk itu menabraknya, diri kecilku berlari, memegang tangannya, dan mencoba untuk menariknya keluar dari jalan. Namun, diriku pada saat itu terlalu lambar dan lemah.

Pada umur delapan tahun, dia terlalu lemah untuk menyelamatkan gadis itu sebelum truk itu menabrak mereka berdua. Hasilnya, apa yang diriku lakukan pada saat itu hanya akan meningkatkan jumlah korban yang ada. Dan dengan begitu, truk itu hendak menabrak kedua anak kecil itu.

Namun, sesaat kemudian, seseorang yang datang dari seberang jalan mengambil mereka berdua dan melompat keluar dari jalan.

Normalnya, orang itu tidak akan sempat. Faktanya, normalnya orang itu tidak akan sempat bahkan jika dia datang ketika gadis itu baru saja pergi ke tengah jalan. Namun, hal itu adalah sesuatu yang sangat mungkin dilakukan oleh orang itu. karena kekuatan kakinya yang luar biasa, dia memperpendek jarak di antara kami dalam sekejap dan dengan cepat mengambil gadis itu menggunakan tangannya.

Namun, di sana juga ada aku—yang pada saat itu hanya menjadi beban. Karena diriku melompat ke tengah jalan, orang itu harus mengambil kami berdua. Dan meskipun dia bisa melompat sambil membawa dua anak kecil, itu—sudah sewajarnya—memperlambat gerakannya.

Aku mengingatnya dengan jelas. Setelah perasaan mengambang selama beberapa saat, aku merasakan sebuah dampak lainnya. Kemudian—sambil masih tetap di pegang oleh orang itu—aku berguling di atas tanah.

Meski begitu, aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit. Orang yang memegang kami melakukan kerja yang bagus dalam melindungi kami. Aku bisa mendengar beberapa orang yang ada di dekat situ mulai berteriak. Aku, di sisi lain, tidak dapat mengatakan apapun.

Itu sudah wajar. Bagaimanapun—orang yang menyelamatkan kami adalah kakakku.

Mengetahui bahwa aku datang, dia berjalan untuk menemuiku. Dan pada saat itu dia melihat bahwa kami berdua sedang dalam bahaya dan menyelamatkan kami. Meskipun dia harus membayar hal itu—kaki kanannya tertabrak oleh truk itu. Dari betapa biru-kehitaman dan bengkak yang ada di kakinya, kau tidak memerlukan ahli untuk mengetahui bahwa kakinya patah.

Shu hendak mengikuti pertandingan final di turnamen ini. Namun, tepat sebelum itu terjadi, kakinya malah patah…

… Dan itu semua terjadi karena aku mencoba menyelamatkan gadis itu, padahal aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

One Comment Add yours

Leave a Reply to ナウファル ファクルディン Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s