Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 4 D

Volume 2
Chapter 4 – Dua Pemimpin (Bagian 4)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Paladin Ray Starling

Mayat tak berkepala milik Lich itu berubah menjadi debu dan mulai hancur.

Disaat bersamaan, badanku segera menjadi terlalu berat sampai aku tidak bisa berdiri tegak dan aku roboh sebelum aku dapat melakukan sesuatu untuk memperkecil dampak jatuhku.

“Sepertinya… ini sudah berakhir,” aku memaksa keluar gumamanku. Status window-ku menampilkan Poison, Paralysis, Death Sentence, Weakness, Deterioration, dan beberapa debuff lainnya. Jumlah mereka ada sangat banyak sampai-sampai menghitung mereka semua terasa seperti sesuatu yang bodoh.

Namun, fakta bahwa status effect yang kudapat dari musuhku telah kembali kepadaku membuatku yakin bahwa dia sudah mati.

“Like a Flag Flying the Reversal.” Itu adalah skill unik yang didapat Nemesis setelah mencapai bentuk kedua—The Flag Halberd. Skill itu membalikkan semua debuff yang diberikan kepadaku oleh makhluk yang mengirimkan hawa permusuhan kepadaku. Disisi lain, itu berarti bahwa skill itu akan berhenti pada saat makhluk yang mengirimkan hawa permusuhan itu mati. Kembalinya debuff yang dia berikan adalah bukti nyata bahwa dia sudah mati.

Sesaat setelah dia mengendalikan anak itu untuk menggorok leherku, aku telah membuat Nemesis berubah dari bentuk greatsword ke bentuk Flag Halberd dan mengaktifkan Reversal. Itulah reaksi yang kulakukan setelah melihat ada beberapa debuff yang muncul di status window-ku. Setelah skill itu aktif, Bleeding mulai meningkatkan aliran darahku, Poison malah menyembuhkanku, dan Paralysis menaikan kemampuan fisikku.

Damage yang kuterima dari serangan kejutan itu telah disembuhkan oleh Poison yang telah dibalikkan saat aku masih terbaring lantai. Setelah efeknya berhasil menutup luka yang ada dileherku, status effect Bleeding telah benar-benar menghilang.

Selanjutnya, saat dia menyerangku dengan kedua debuff spell itu, aku juga membalikkan mereka semua menjadi buff. Meskipun aku merasa bahwa tidak semuanya berhasil dibalikkan, aku yakin bahwa aku tidak sedang terkena negative effect.

Dia berakhir memberikan banyak buff kepadaku dan membalikkan keadaan.

Dia juga memiliki masalah kecocokan denganku. Purifying Silverlight adalah sebuah skill yang ditujukan untuk memusnahkan para undead, dan Lich juga merupakan salah satu dari mereka. Juga, Silver telah memberikan bantuan yang besar dalam mengejarnya saat dia melarikan diri.

Tentu saja, aku masih belum memiliki Riding Skill. Jadi aku tidak menungganginya. Aku hanya membuat Silver berpacu ke arah Lich itu sementara aku memegang kekangnya, dan membiarkan kaki-ku terseret di sepanjang lantai.

Itu tidak terlalu berbeda dengan adegan yang biasa muncul di film barat dimana orang ditarik kesana-kemari sambil diikat pada seekor kuda. Dalam keadaan itu, kakiku menerima damage yang berkelanjutan, tapi aku mampu menutupinya dengan penyembuhan yang berasal dari Poison yang telah dibalikkan.

Setelah sampai ke permukaan, aku menahan mantra terakhirnya dengan Counter Absorption. Meskipun itu jauh lebih kuat dari pada api milik Gardranda, kami entah bagaimana mampu menanganinya.

Untuk saat, aku berpikir bahwa debuff yang kembali karena Nemesis harus berubah ke bentuk pertama untuk menggunakan Counter Absorption akan membuatku roboh, tapi setelah serangan itu berakhir, Nemesis segera kembali berubah ke bentuk Flag Halberd dan kembali mengaktifkan Reversal, membuatku bisa keluar dari hal itu tanpa terluka. Kemudian aku menancapkan Lich itu ke atas tanah menggunakan senjataku dan mengakhiri hidupnya dengan tinjuku.

Keseluruhan pertarungan ini telah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagiku. Aku hanya bisa memenangkannya karena adanya beberapa keadaan yang sangat spesifik. Itu bukanlah hal yang bisa kembali kulakukan dalam waktu dekat.

“… Aku beruntung kali ini,” kataku.

“Aku tau semua alasan kenapa kita bisa menang, tapi bahkan aku juga hanya bisa berpikir demikian,” kata Nemesis.

Mungkin takdir itu sendiri telah menolongku untuk memburu dan menghukum bajingan yang telah bermain-main dengan kehidupan banyak anak-anak, pikirku.

Aku menatap tanganku dalam diam. Sensasi yang kurasakan saat menghancurkan kepalanya masih bisa kurasakan. Entah karena dia seorang undead atau karena Silverlight-ku, itu terasa mirip seperti menghancurkan sebuah pohon yang sudah kering, tapi tetap saja sensasi itu tetap ada ditanganku.

Meskipun dia adalah sepotong sampah yang tidak dapat dimaafkan, dia juga merupakan tian pertama yang kubunuh.

Jika aku—yang merupakan Master Maiden—merasa dunia ini sama dengan dunia nyata, pembunuhan ini mungkin akan membuatku merasa sakit.

“Aku tidak keberatan dengan pemikiran seperti itu, tapi kau harus meninggalkan itu untuk nanti,” kata Nemesis.

“Nemesis?” tanyaku, sedikit kebingungan. Dia telah kembali ke bentuk manusianya dan sedang menatapku.

Dia menunjuk ke sebuah bagian di status window—tepatnya, ke arah debuff Death Sentence. Setelah diteliti lebih jauh, aku menyadari bahwa terdapat sebuah counter disamping debuff itu, yang bertuliskan “362 detik.”

Apakah ini adalah salah satu debuff yang akan membunuhmu ketika counter-nya mencapai angka 0? Pikirku.

“Jadi, Master, apakah kau memiliki obat anti-debuff?” tanya Nemesis.

“Aku membeli beberapa Antidote untuk Poison, tapi aku tidak pernah menyangka akan menerima debuff seperti ini,” kataku.

Ini buruk… Benar-benar buruk. Jika begini, aku akan mendapatkan death penalty.

Hugo ada disini, anak-anak sudah aman, dan para bandit sudah dikalahkan, jadi aku sama sekali tidak mengkhawatirkan hal itu. Namun, mati akan berarti gagal menepati janji yang sudah kubuat dengan Marie. Aku benar-benar tidak menyukai skenario itu.

“Sialan kau, dasar zombie kuda menjijikkan!” teriak Nemesis. “Kau baru saja memberikan hadiah perpisahan seperti ini kepada kami!”

“… Sial,” gumamku. Karena semua debuff yang kuterima, hanya mulutku yang masih berfungsi dengan benar, jadi aku bahkan tidak bisa memegangi kepalaku dengan putus asa.

Nemesis mulai mengobrak-abrik inventory-ku untuk melihat apakah aku memiliki sesuatu yang dapat menolongku. Silver—yang masih belum kumasukkan kedalam inventory—sedang menatapku dengan sikap yang agak khawatir.

“Kau harus minum ini.” Sesuatu yang keras dimasukkan kedalam mulutku dengan paksa.

Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Hugo—yang baru saja melompat keluar dari… apa yang hanya bisa kudeskripsikan sebagai robot es dengan Magingear di dalamnya—memasukkan sebuah potion kedalam mulutku.

Setelah aku menelan isinya sampai habis, tubuhku menjadi begitu ringan seolah-olah debuff tadi tidak pernah ada.

Dia kemudian kembali memasukkan potion lainnya. Setelah aku meminumnya, aku menatap ke arah status window dan melihat bahwa semua status effect yang kuterima sudah hilang.

“Aku sembuh!” teriakku.

“Benar sekali!” kata Nemesis. “Hugo, kami sangat berterima kasih!”

“Sama-sama,” jawabnya sambil tersenyum.

“Lagi pula, obat macam apa ini?” tanyaku.

“Sebuah Elixir dan High Spirit Water yang dapat menghilangkan kutukan,” katanya.

“Dan kau tidak keberatan memberikannya kepadaku?” tanyaku.

“Tidak sama sekali. Bagaimanapun, aku mendapatkan mereka dari inventory milik musuh yang kukalahkan.” Hugo menunjuk ke arah kepala sapi yang tergantung di pintu gerbang benteng.

Aku melihat ke area sekitarnya dan melihat berbagai macam item tergeletak di sekitar sisa-sisa tubuhnya.

Beberapa dari mereka berbentuk botol, sama seperti yang baru saja kuminum.

“Kenapa item-item itu bisa bertebaran seperti itu?” tanyaku.

“Inventory-nya hancur karena seranganku,” jawab Hugo. “Aku, uh… mungkin sudah terlalu berlebihan.”

Hal itu membuatku teringat dengan tutorial, ketika Cheshire mengatakan bahwa inilah yang akan terjadi jika inventory-mu hancur. Meskipun kekuatan ledakannya sering membuat isi yang ada di dalamnya hancur, itu adalah cara paling mudah untuk merampas item milik orang lain. Karena hal itu, beberapa penjahat memilih untuk menyerang orang kaya dan membuat item mereka tersebar ke berbagai arah.

Cara lain untuk mendapatkan item milik orang lain adalah dengan menggunakan skill Steal milik job dari kelompok Bandit—yang secara langsung mencuri itam dari inventory seseorang—dan skill Plunder milik job dari kelompok Burglar—yang mengganti status kepemilikan dari item yang mereka ambil. Ketika aku mengetahui hal itu, aku bertanya-tanya kenapa kedua skill itu dimiliki oleh dua kelompok job yang berbeda meskipun skill-nya sendiri tidak terlalu berbeda.

“Hm? Bukankah itu…?”

Aku melihat inventory milik Lich yang baru saja kukalahkan berada dibawah jubahnya. Jika inventory milikku berbentuk seperti sebuah tas, inventory miliknya berbentuk kotak dengan warna hitam.

Di saat terakhirnya, dia merogoh inventory itu untuk mengambil uangnya dan menyogokku. Jadi, dengan menghancurkan hal itu, aku mungkin bisa mendapatkan uang dan beberapa item langka yang dia miliki, tapi…

“Aku tidak ingin menyentuh barang yang ditinggalkan oleh orang gila itu,” kataku.

Nyawa-nya sudah lebih dari cukup untukku. Juga, mudah bagiku untuk membayangkan caranya mendapatkan kekayaan itu, dan hal itu membuatku sama sekali tidak tertarik padanya.

“Aku juga merasakan hal yang sama,” kata Nemesis. “Uang itu begitu kotor sampai-sampai hanya dengan mengambilnya akan mengotori hati kita.”

“Aku paham,” kata Hugo. “Tinggalkan saja itu disana. Pada akhirnya pasti akan ada seseorang yang lewat dan mengambilnya.”

“Benar,” anggukku.

Meskipun, dengan kalahnya Gouz-Maise Gang, benteng ini sekarang kembali kosong sama seperti sebelum mereka menjadikan tempat ini sebagai persembunyian mereka. Aku tidak yakin akan ada seseorang yang menginjakkan kaki ditempat ini lagi.

Namun, melaporkan kejadian ini ke Adventurer Guild mungkin akan membuat mereka melakukan investigasi. Mungkin memberitahu mereka untuk mengumpulkan setiap harta yang ditinggalkan oleh bajingan itu adalah ide yang bagus. Mungkin uang itu akan menjadi lebih bersih jika digunakan untuk kepentingan masyarakat… dan mereka yang menderita karena perbuatan keji kelompok itu.

“Oh iya, Hugo,” kataku. Pemikiran itu membuatku teringat akan sesuatu. “Aku bertemu dengan beberapa anak yang diculik di ruang bawah tanah. Delapan dari mereka masih hidup. Dari apa yang kulihat, mereka sepertinya dibuat tertidur dengan menggunakan sihir. Aku ingin kita kesana bersama-sama dan membawa mereka keluar, jadi… Tunggu, dimana Cyco?”

Kami sudah menyelesaikan semuanya disini namun aku tidak bisa melihatnya dimanapun.

Aku ingat bahwa dia meninggalkan slot party-nya sebelum pertempuran dimulai, tapi setelah itu dia sama sekali tidak menunjukkan diri, jadi… apakah dia mendapatkan death penalty?

“Cyco baik-baik saja,” kata Hugo. “Tunggu sebentar. Cyco, kemarilah… Ya, tidak masalah.”

Dia mengatakan hal itu sambil menghadap ke arah Magingear yang terbungkus armor yang terlihat mirip dengan sebuah gereja es. Sesaat kemudian, armor terpecah menjadi partikel cahaya berwarna putih dan biru yang tak terhitung jumlahnya.

Tanpa armor es yang menopangnya, Magingear itu roboh, dan membuat Hugo mengatakan sesuatu tentang mendapatkan gantinya dari seorang “pemimpin”. Namun, Aku dan Nemesis jauh lebih tertarik dengan arah yang dituju oleh partikel cahaya itu. Mereka semua berkumpul di satu tempat dan membentuk sebuah sosok humanoid.

“Halooo.”

Itu adalah Master serba putih—Cyco. Namun, dia tidak lagi memiliki bukti seorang Master—tato di tangan kirinya.

Juga, cara dia berubah bentuk sama seperti perubahan bentuk milik Nemesis tapi dengan warna yang berbeda.

“Begitu,” kata Nemesis. “Jadi aku dan Cyco… adalah bulu dari burung yang sama.”

“Ya,” angguk Cyco. “Nama asliku adalah Cocytus.”

“Bulu dari burung yang sama…?” aku mengangkat alisku. “Jadi dia sebenarnya adalah…”

… Embryo Type Maiden—sama seperti Nemesis. Dan Hugo adalah Master-nya.

“Tapi bukankah sebelumnya dia memiliki tato ditangan kirinya?” tanyaku.

“Tato itu ada disana karena efek Crest Disguise—sebuah skill unik milik Embryo Type Maiden,” jawab Hugo. “Itu membuat tangan mereka dan status yang tampil terlihat seperti milik seorang Master.”

“Aku tidak tau ada skill seperti itu…” kataku, sedikit terkejut.

“Mereka akan mendapatkannya setelah bertarung sementara waktu dalam bentuk manusia-nya,” kata Hugo.

Sampai saat ini, aku belum pernah membiarkan Nemesis bertarung sendirian. Jadi tentu saja aku tidak memilikinya.

“Lagipula, apa gunanya skill seperti itu?” tanyaku.

“Kau pasti terkejut,” kata Hugo. “Karena mereka merupakan sesuatu yang unik dan tidak dapat diprediksi, Embryo adalah sebuah kartu as yang kuat. Dengan Crest Disguise, kau dapat membuat seolah-olah ada Master lain didekatmu—dan tentu saja, Embryo lain—dari pada kenyataannya.”

Jadi kau dapat menggunakannya untuk melakukan gertakan, huh? Pikirku. Aku menduga bahwa skill itu pasti juga memiliki kegunaan lain, jadi mungkin kami juga harus mempelajarinya.

“Bagaimanapun, sekarang karena kita semua sudah berada disini, kita harus segera pergi ke ruang bawah tanah dan mengembalikan hari-hari cerah milik anak-anak itu,” kataku.

“Aku setuju,” kata Hugo.

Aku, Nemesis, Hugo, dan Cyco mulai berjalan menuju ruang bawah tanah benteng ini.

Dengan kami berempat dan Silver milikku, ada kemungkinan bahwa kami dapat membawa mereka semua sekaligus. Juga, dengan kematian Lich itu, anak-anak itu saat ini mungkin sudah terbangun, jadi kami harus bergegas dan menenangkan mereka.

***

Area sekitar benteng.

“… Apakah mereka sudah pergi?” tanya sebuah suara.

“Ya, mereka masuk ke dalam benteng.”

Di dalam hutan yang ada di sekitar benteng, di sebuah area yang bahkan lebih padat dari pada rute yang diambil oleh Marshall II milik Hugo, ada lima orang yang tampak mencurigakan.

“Aku tidak menyangka kedua boss akan dikalahkan,” kata salah satu dari mereka.

Mereka adalah sisa-sisa dari Gouz-Maise Gang, dan mereka adalah lima orang yang sama dengan yang ditemui oleh Ray dan Hugo di Gideon.

Setelah Ray dan Cyco mengalahkan dan menyerahkan mereka ke para penjaga, beberapa rekan mereka datang dan menyelamatkan mereka sebelum mereka dimasukkan kedalam penjara.

Setelah itu, mereka mengikuti kereta milik Gouz-Maise Gang dari jarak yang cukup jauh—hanya untuk memastikan bahwa mereka tidak diikuti—dan ketika mereka mencapai benteng, mereka menemukan bahwa tempat persembunyian dan seluruh rekan mereka sudah benar-benar dihancurkan.

Mereka beruntung karena mereka berada ditempat dimana Enemy Detect milik Cyco tidak dapat menjangkau mereka. Oleh karenanya, mereka dapat menyembunyikan diri dan terhindar dari pembantaian itu.

“Sekarang apa?” tanya salah satu dari mereka.

“Apa yang kau maksud, ‘apa’—kita harus pergi dari sini!” jawab orang lainnya. “Kita tidak punya kesempatan menang melawan monster yang dapat membunuh boss kita, yang juga merupakan monster.”

“Sialan, itu artinya kita harus meninggalkan semua harta karun yang mereka tinggalkan.” Salah seorang pria—tepatnya, orang yang dipukul oleh Ray—mendecakkan lidahnya dengan frustrasi. “… Oh, tunggu.” Dia kelihatannya baru saja mendapatkan ide. “Ya, itulah yang harus kita lakukan!”

Dia mengangguk, benar-benar puas dengan dirinya sendiri.

“Apa yang merasukimu?” Keempat orang lainnya menatapnya dengan kebingungan.

“Saat ini mereka sedang berada di dalam benteng, kan?” dia mulai berbicara. “Jadi ini adalah saat yang sempurna bagi kita untuk mengambil semua uang dan item yang boss tinggalkan! Juga, kita bisa dengan muda mengambil para bocah yang ada di dalam kereta. Kita dapat menggunakan mereka untuk mendapatkan uang tebusan atau kita tinggal menjual mereka di suatu tempat di Caldina. Atau mungkin kita bisa menjadikan mereka sebagai jaminan untuk bergabung ke kelompok bandit yang lain!”

“Oh, man!” pria lainnya berteriak.

“Itu adalah rencana yang tidak dapat kutolak!”

Saran dari rekan gang mereka membuat keempat pria lainnya menjadi kegirangan.

“Kalau begitu, tidak ada waktu yang lebih baik dari sekarang…” kata seorang pria.

“Ya!” teriak pria lainnya. “Ayo kita ambil item dan bocah-bocah itu dan kemudian pergi dari sini!”

Mereka kemudian berpencar. Beberapa mulai mengumpulkan item yang bertebaran di atas tanah, sementara lainnya mulai menghubungkan kuda-kuda yang masih hidup dengan kereta berisi anak-anak di dalamnya.

Namun, salah satu dari mereka—orang yang menyarankan agar mereka melakukan hal itu—memiringkan kepalanya di samping mayat Maise, yang saat ini sudah menjadi debu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya pria lainnya.

“Inventory milik Boss Maise tidak hancur,” jawabnya. Itu adalah Inventory yang sama dengan yang dibiarkan begitu saja oleh Ray dan Hugo.

“Huuhh? Kalau begitu, hancurkan itu, goblok,” kata pria lainnya. “Rekan kita yang memiliki skill Plunderer telah dibantai, jadi hanya itulah yang bisa kita lakukan.”

Seperti halnya kelompok bandit lainnya, Gouz-Maise Gang memiliki anggota dengan skill Steal dan Plunder. Namun, mereka semua telah mati di tangan Marshall II milik Hugo.”

“Itu benar,” angguk pria itu. “Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

Pria itu mengeluarkan sebuah dagger dan—dengan sekuat tenaga—menancapkannya ke arah inventory itu. Sudah pasti, benda itu hancur dan mengeluarkan semua isinya ke sekitar area itu.

“Whooaaahhhh! Cepat kumpulkan semua koin itu!”

“Serius! Kupikir kita tidak usah lagi menjadi bandit! Kita dapat hidup dengan mulia menggunakan semua ini!”

“Kita juga memiliki bocah-bocah itu, jadi mungkin kita bisa memulai bisnis sebagai Penjual Budak!”

“Ide bagus!”

Uang yang ditinggalkan oleh Maise membuat mereka semua membayangkan masa depan yang cerah. Mereka dikelilingi oleh kekayaan yang melimpah. Sama seperti yang dikatakan oleh Maise kepada Ray, jumlah uang yang dia miliki melebihi 70,000,000 lir. Tentu saja, dia juga memiliki banyak permata langka, equipment, dan material mahal.

Dengan semua itu, mereka dapat dengan muda membuat mimpi mereka menjadi nyata. Masa depan mereka akan menjadi lebih terjamin setelah langkah selanjutnya. Mereka semua memikirkan hal yang sama pada saat itu. Mereka semua ingin membunuh keempat pria lain dan membuat seluruh kekayaan itu menjadi milik mereka sendiri.

Namun… itu adalah hal yang benar-benar tidak mungkin.

“Huh?” salah seorang pria berbicara dengan bingung. “Apa ini?”

Dia mengambil sebuah item yang tergeletak di atas tanah. Kalau dilihat dari bentuknya, benda itu terlihat seperti telur ayam. Namun, benda itu memiliki warna merah gelap dan memiliki sebuah area di permukaannya yang terlihat seperti kelopak mata.

Sekilas, itu terlihat tidak ada bedanya dengan material-material lain yang dimiliki oleh Lich Maise, tapi pria yang memegangnya tidak akan mengatakan hal yang sama.

Dia memiliki skill identifikasi level tinggi dan dapat mengidentifikasi hampir semua item yang dia temui, tapi dia tidak mendapatkan satupun hasil dari objek mirip telur itu. Hal itu membuatnya kebingungan, karena sebelumnya dia tidak pernah kesulitan dalam mengidentifikasi material atau telur monster. Namun, sudah jelas bahwa dia tidak dapat mengidentifikasi benda yang ada di tangannya. Bagaimanapun, dalam hal ini, itu bukanlah sebuah item, seekor monster, atau makhluk hidup lainnya.

Itu tidak lain adalah sebuah kutukan.

“Awakening.”

Sebuah suara keluar dari setiap inci kulitnya saat telur itu membuka ‘kelopak mata’nya.

“Eee!”

Hal itu membuat pria itu terkejut dan dia mencoba untuk melemparkan telur itu, tapi telur itu terasa seperti menempel di jari-jarinya seperti sebuah lem yang sangat kuat.

“Apa?”

“Ada apa?”

Pria lainnya memanggil orang yang baru saja berteriak—wajah mereka masih menyeringai karena baru saja mendapatkan banyak kekayaan.

Jika mereka berpikir dan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan mulai melarikan diri, pria yang sedang memegang telur di tangannya itu mungkin akan menjadi satu-satunya yang mati.

Namun, tidak ada harapan. Siapa saja yang memiliki firasat akan bahaya, sejak awal tidak akan pernah menyentuh barang milik Maise.

Maise merupakan salah satu pengguna Necromancy terbaik di Kerajaan Altar. Bukan hanya dia sangat serius dalam mengejar impiannya untuk menjadi King of Corpses—dia juga merupakan seorang pria yang dapat memanfaatkan orang lain dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dia adalah tipe orang yang mau membuang Crystal of Resentment paling berharganya—benda yang dibutuhkan untuk menjadi King of Corpses—hanya untuk bertahan hidup. Dia juga tidak ragu untuk mencoba menyelamatkan hidupnya dengan cara mencoba menyogok Ray dengan semua kekayaan yang dia miliki.

Jika seorang pria dengan riwayat kehidupan seperti itu dibunuh dan mendapati harta karun-nya diambil…

Apa yang akan dia lakukan?

Sejauh mana dia akan melakukannya?

Pria-pria itu sudah kalah pada saat mereka tidak mempertimbangkan pertanyaan itu.

“Penghancuran inventory: Dikonfirmasi,” kata telur itu. “Pencarian: Gelombang Sihir milik Lich Maise… Tidak ada tanggapan. Pembunuhan Lich Maise: Dikonfirmasi. Dugaan: dirampok dengan niat jahat. Mengaktifkan sihir terakhir—Undead Grudge construction.”

Setelah telur itu selesai berbicara, jari milik pria yang menyentuh telur itu tersedot masuk ke dalamnya. Sama seperti limbah yang dibuang di saluran pembuangan, tubuhnya mulai terhisap kedalam telur itu, tubuhnya hancur dan memuncratkan darah ke segala arah saat tubuhnya sedang dipadatkan.

“AUGH!! UuGgh!! EeuGH!!”

Hanya meninggalkan teriakan yang benar-benar tidak terdengar seperti berasal dari manusia, benda yang sebelumnya adalah seorang pria itu menghilang ke dalam objek itu.

Ukuran telur itu membesar, menjadi sebesar telur burung unta.

“EEEEK!”

“AP-APA-APAAN ITU?!”

Pemandangan itu membuat keempat pria lainnya menjadi panik, dan mereka segera berbalik dan mencoba melarikan diri.

Sesaat kemudian, telur itu mengeluarkan selang yang mirip dengan pembuluh darah dan mengarahkan mereka ke punggung tiga dari keempat pria yang mencoba untuk melarikan diri. Dan—seakan-akan sedang meminum jus menggunakan sedotan—telur itu mulai menyedot pria itu ke tubuhnya.

“GHHHY! JAUHGHH! EIHH!”

“EGGH… UGHAAAHH!”

“ASSHHDIEDEAAAGAUGHH!!!”

Merasakan sakit diluar bayangan mereka, ketiga pria itu menghilang sambil menyuarakan kalimat yang tidak akan pernah dikeluarkan oleh orang waras.

“AAAAHHHH!”

Satu-satunya pria yang bertahan hidup—orang yang menyarankan mereka untuk mengambil kekayaan Maise—jatuh ke tanah dalam ketakutan dan mencoba mundur sambil kencing di celana. Dia menduga bahwa telur itu juga akan meluncurkan selang itu ke arahnya, tapi karena suatu alasan, hal itu tidak terjadi. Malahan, telur itu mulai menjulurkan selangnya ke arah mayat-mayat yang ada di sekitar area itu.

Mayat-mayat itu berjumlah sangat banyak. Mereka semua adalah anggota Gouz-Maise Gang yang telah kehilangan nyawa dalam pertempuran melawan Marshall II. Selang itu menggapai potongan-potongan daging yang tercecer akibat tembakan meriam, tubuh yang terbelah menjadi dua karena tebasan pisau, mayat yang diinjak oleh robot itu, dan kepala Gouz yang tergantung di pintu gerbang benteng.

Bukan hanya itu—permukaan telur itu juga mengeluarkan organ seperti corong yang mulai menyerap sesuatu yang tak terlihat—dendam—dari udara dan tanah di bawahnya. Dan—meskipun tubuhnya telah berubah menjadi abu—telur itu juga menyerap kekecewaan, kebencian, dan kesedihan milik Lich Maise. Semua daging dan dendam yang terkumpul membuat telur itu semakin membesar.

Sekarang dia terlihat seperti sebuah orb yang memiliki besar seperti tangki bensin dan rapuh seperti balon. Pemandangan yang ada didepan matanya membuat pria yang tersisa dari Gouz-Maise Gang itu pingsan.

Tak lama kemudian, orb itu retak.

Selanjutnya, orb itu pecah dan melahirkan seekor monster yang terlalu busuk. Seekor monster yang terlalu mengerikan.

Itu adalah hasil akhir dari Gouz-Maise Gang dan semua yang telah mereka lakukan.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa makhluk itu—kumpulan dari daging penjahat dan berbagai macam emosi ini—adalah sesuatu yang keluar langsung dari neraka. Mayat milik ratusan orang saling disatukan seperti jigsaw puzzle, membentuk sebuah tubuh horse-man berkepala sapi.

Bukannya darah, satu-satunya hal yang mengalir di dalam pembuluhnya adalah keinginan jahat dan dendam kesumat.

Kumpulan orang mati itu tidak menunjukkan apapun selain penghinaan bagi semua makhluk hidup dan hanya bergerak dengan keinginan jahat untuk membuat seluruh dunia mati seperti mereka.

Dan, tentu saja, target pertama dari dendamnya adalah…

“Ah… Eh… Aahh?” … orang terakhir yang bertahan dari Gouz-Maise Gang.

Tangan pucat menjijikkan milik makhluk itu mencengkeram tubuh pria itu. Kemudian berganti memegang tangannya—hanya jempol dan jari telunjuk—sebelum mulai menariknya. Dia melakukannya dengan begitu lambat sampai terlihat seperti sebuah kelembutan.

“AGH! AAGHYAAAAAHHHH!”

Perlahan, pasti… seperti seorang anak yang bermain dengan serangga… dia terus menariknya sampai salah satu tangan pria itu terlepas dari tubuhnya. Kemudian dia melakukan hal yang sama pada kaki pria itu. Dan ketika pria itu hanya memiliki masing-masing sebuah kaki dan lengan, horse-man berkepala sapi itu membuka mulut besarnya.

Meskipun rasa sakit yang dirasakan oleh pria itu sudah hampir membuatnya merasa gila, dia masih memiliki cukup pikiran untuk memahami kenapa makhluk itu melakukan hal itu. Bagaimanapun, itu sudah terjadi berulang kali selama hari-harinya bersama Gouz-Maise Gang.

“Ahaha… apakah aku… adalah makanan penutup…?”

Terkoyak seperti serangga, pria itu akhirnya ditarik masuk ke dalam mulut sapi itu dan dihancurkan oleh taring-taring mematikan yang ada disana.

Dan dengan itu, Gouz-Maise Gang menjadi satu. Secara harfiah sebagai satu kesatuan, mereka semua membentuk sebuah makhluk tunggal yang dipenuhi kebencian.

Sementara secara kiasan yang mungkin terdengar mulia dan agung, apa yang terjadi disini tidak lain adalah sesuatu yang membuatmu ingin muntah.

Itu adalah kelahiran dari undead paling mengerikan yang pernah ada.

***

[Pengumuman Non-Player]

[Menemukan seekor monster yang memenuhi kondisi untuk diakui sebagai Unique Boss Monster]

[Dikonfirmasi bahwa tidak pernah ada makhluk yang sama sebelumnya]

[Memberitahu control AI yang bertugas mengelola UBM]

[Menerima persetujuan dari control AI yang mengelola UBM]

[Mengakui target sebagai UBM]

[Memperkuat kemampuan target dan memberikan fungsi special reward setelah kematian]

[Memberikan status Epic kepada target. Memberikan nama kepada target sebagai “Revenant Ox-Horse, Gouz-Maise”]

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    untung ray kg ambil hartanya. selamet2

    Like

  2. yuu shion says:

    Oh jadi ini yang disebut pertarungan yang sebenarnya..
    Thanks zen

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s