Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 4 C

Volume 2
Chapter 4 – Dua Pemimpin (Bagian 3)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Salah satu dari Dua Pemimpin Gouz-Maise Gang, Lich Maise.

Dunia ini memiliki kekuatan yang sering disebut sebagai “Superior Job”.

Dari ribuan job yang tersedia bagi makhluk humanoid, itu adalah job tertinggi — hanya dimiliki oleh beberapa orang terpilih.

Superior Job memungkinkan seseorang melewati batas-batas bentuk jasmani mereka.

Salah satu orang yang memiliki Superior Job adalah Arch Wiseman — orang yang disebut sebagai dewa penjaga kerajaan. Dia memiliki kekuatan sihir sekelas dewa. Dia dapat membelah daratan dan bahkan menjatuhkan langit.

Namun, dalam peperangan melawan Dryfe, Arch Wiseman dikalahkan oleh King of Beast — seorang Master dan juga merupakan pemilik Superior Job.

Meskipun itu bisa dikatakan sebagai tragedi bagi Kerajaan Alter, ada beberapa orang yang lega karena kematiannya. Bagaimanapun — takhta Superior Job hanya bisa dipegang oleh satu orang. Dengan kematian Arch Wiseman milik Kerajaan, peran Arch Wiseman kembali terbuka untuk siapa saja yang ingin mendapatkannya.

Aku juga sedang mengincar sebuah Superior Job. Namun, itu adalah job yang benar-benar berkebalikan dengan milik Wiseman.

Superior Job yang ku incar berada di puncak kelompok Necromancer. Itu adalah sebuah Job yang disebut King of Corpses.

Kekuatannya jauh berada di atas sihir milik Necromancer biasa… dan bahkan melebihi Necromancy milik para Lich — orang-orang yang telah mengubah diri mereka menjadi Undead.

Siapa saja yang menduduki takhta King of Corpses akan menjadi abadi, tidak akan mati, dan memiliki kekuatan komando melebihi semua job yang berada di bawahnya. Itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan keabadian seperti yang dimiliki oleh para Master.

Itulah King of Corpses.

Aku mulai memimpin Gouz-Maise gang demi memperkeras usahaku untuk mendapatkan Superior Job itu. Aku melakukan penculikan anak-anak untuk membantu melatih skill Necromancy-ku. Uangnya tebusannya kubutuhkan untuk mendapatkan item sihir tertentu dan untuk menyogok Caldina,

Di negara itu, uang adalah awal dan akhir sebuah pembicaraan. Semua yang ada di Caldina memiliki harga. Bahkan sebuah kelompok penjahat yang memiliki banyak uang bisa menggerakkan tentara milik Caldina untuk merespon pergerakan prajurit Gideon.

Karena tempat ini terletak di dekat perbatasan, hal itu membuat kerajaan ragu untuk menyerang kami karena hal itu dapat memprovokasi Caldina.

Dan juga, dengan semua item sihir Conceal dan Presence Manipulation yang kubeli dari mereka, menculik anak-anak menjadi lebih mudah bagi kami. Diberkahi oleh bahan yang melimpah dan tempat yang strategis, aku mampu mempelajari jalan Necromancy dengan sepenuh hati dan secara perlahan menapaki jalan menuju takhta King of Corpses.

Untuk mendapatkan Superior Job itu, aku harus memenuhi beberapa persyaratan sulit dan kemudian melewati sebuah tes tertentu. Aku telah mengetahui persyaratannya dengan mengartikan sebuah tulisan kuno yang mendeskripsikan proses-proses rahasia.

Persyaratan pertama adalah “Mengubah 5000 tahun kehidupan menjadi kematian*.” yang dapat dengan mudah kucapai dengan menjadikan benteng ini sebagai tempat persembunyianku dan membuat para bandit bekerja untukku. Karena aku hanya berfokus pada anak-anak — yang mudah untuk diubah menjadi undead dan masih memiliki masa depan yang panjang — itu semua berjalan dengan sangat lancar. Aku hanya membutuhkan kurang dari 1000 anak-anak untuk memenuhi persyaratan ini, tapi karena undead adalah sebuah asset yang berharga, aku terus melakukan hal ini.
*TN: Kehidupan yang dimaksud disini adalah sisa umur milik seseorang.

Persyaratan kedua — yang juga sudah kucapai — adalah membuat sebuah Crystal of Resentment. Itu dibuat dengan cara memasukkan ketakutan — atau lebih tepatnya, dendam — dalam jumlah besar, kedalam sebuah Crystal of Purity — sebuah item yang bisa memurnikan undead.

Gouz berkontribusi banyak dalam hal ini. Ketakutan anak-anak yang dia makan hidup-hidup berubah menjadi dendam yang sedih dan indah.

Tentu saja, dendam yang kudapat dari mengubah mereka menjadi material untuk membuat undead menggunakan Anguish Circle, juga tidak terlalu buruk.

Hasilnya, kristal yang dulunya memancarkan cahaya suci saat ini sudah menjadi benar-benar hitam sampai ke intinya.

Dengan itu, aku sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi King of Corpses. Aku hanya tinggal pergi ke Legendaria — tempat dimana takhta job itu disegel — untuk menyelesaikan quest persyaratan dan membuat gelar itu menjadi milikku.

Benteng dan para bandit itu sudah tak berguna lagi. Sebentar lagi Gideon akan dipenuhi oleh para pengganggu. Sebelum hal itu terjadi, aku berencana untuk membawa Gouz — satu-satunya bawahanku yang berguna — bersamaku, kemudian menghancurkan semua pengetahuan yang mungkin kutinggalkan disini dan pergi untuk selamanya.

Pada saat itulah seorang penyusup menyelinap ke dalam benteng.

*

“Mati.”

Sesaat setelah aku mengatakan hal itu. Aku mendengar suara seorang pria yang roboh ke lantai laboratorium. Aku tidak dapat melihat bagaimana raut wajahnya, tapi lantai di bawahnya sudah penuh dengan genangan darahnya.

Yang berdiri di sampingnya adalah seorang anak kecil yang kukendalikan menggunakan sihir untuk menggorok leher pria itu.

Seorang undead akan mudah dikenali hanya dengan melihat deskripsi yang ada di atas kepalanya, pikirku. Jika seperti itu, akan lebih baik jika aku menggunakan mereka hidup-hidup.

“Jadi seorang anak kecil membuatmu lengah, ya?” gumamku. “Betapa bodohnya dirimu.”

Aku mulai membangun kembali tubuhku yang tersebar. Setelah kerangka horse-man-ku terkumpul, aku kembali memakai jubahku. Dan kemudian, kulit dan bulu mulai menutupi tulangku sebelum mulai menyebar untuk menyesuaikan diri dengan daging yang ada di dalamnya.

Sesaat sebelumnya, aku hanyalah tulang belulang, yang dapat kulakukan dengan menggunakan salah satu skill Lich milikku — Corpsification. Bagi pria yang saat ini tergeletak di lantai, aku mungkin terlihat seperti sisa-sisa kerangka biasa.

Aku adalah seorang undead dan memiliki Lich — sebuah high-rank Job dari kelompok Necromancer. Memiliki trik pura-pura mati seperti itu adalah sebuah hal yang wajar bagiku.

“Oh? Kau masih hidup?” kataku sambil menatap ke bawah ke arah pria itu. Meskipun dia telah kehilangan begitu banyak sampai-sampai aliran darah yang keluar dari lehernya sudah cukup melemah, kelihatannya denyut nadinya masih hidup. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah halberd berwarna hitam dengan sebuah kibaran cahaya hitam muncul dari bagian belakangnya. Aku mencoba untuk mengidentifikasinya, tetapi sama sekali tidak mendapatkan hasil. Hal itu hanya bisa berarti satu hal: senjata itu adalah sebuah Embryo dan pria ini adalah seorang Master.

“Kau juga masih sadar?” Aku kembali berbicara. “Yah, itu tidak penting. Dagger itu dilumuri oleh cairan yang menyebabkan Paralysis dan Poison, yang dibuat khusus oleh-ku. Poison yang dibuat oleh Lich juga merupakan sesuatu yang sebaiknya tidak kau sentuh. Kau akan mati tanpa bisa melakukan apa-apa.”

Bleeding dan Poison menguras hidupnya, sementara Paralysis mengunci setiap pergerakannya. Sayang sekali karena dia adalah seorang Master — jika tidak, aku bisa memanen dendam yang benar-benar bagus darinya.

Master adalah sumber dendam terburuk. Ketika dibunuh, mereka hanya akan kembali hidup tiga hari kemudian. Dibandingkan dengan tian, rasa takut mereka akan kematian dan dendam terhadap pembunuh mereka pada dasarnya… biasa saja. Bukan hanya itu — keabadian absolut yang mereka miliki juga membuat mereka menjalani hidup seolah-olah itu hanyalah sebuah game.

Seperti itulah party para Master yang pernah menyerang tempat ini. Sihirku dan kekuatan Gouz sudah lebih dari cukup untuk menangani mereka, tapi karena aku tidak dapat mengubah mayat mereka menjadi undead, mereka benar-benar tidak berguna untuk pekerjaan Necromancy-ku. Para Master benar-benar membuatku merasa kesal sampai saat ini. Mereka memperlakukan dunia ini seperti permainan, dan fakta bahwa mereka secara otomatis memperoleh keabadian… satu hal yang membuatku mendedikasikan seluruh hidupku padanya.

… Oh, itu mengingatkanku. Party pertama yang datang kemari sepenuhnya terdiri dari para tian, dan dendam yang kuperoleh setelah menyiksa mereka benar-benar banyak. Ah, aku benar-benar bersenang-senang pada saat itu. Mayat mereka juga menjadi beberapa material yang bagus.

Mengubah tian menjadi undead adalah hal yang sangat mudah. Aku juga agak tertarik dengan ide membuat undead dari para Master, tapi untuk saat ini, aku hanya bisa menyingkirkan mereka setiap kali mereka menggangguku.

Saat ini, Gouz mungkin sudah menangani rekan pria ini yang ada di permukaan. Apa yang tinggal kulakukan sekarang adalah meninggalkan benteng, pergi ke tempat tujuanku, menyelesaikan quest persyaratan, dan menjadi King of Corpses.

“Dengan begitu, inilah saatnya untuk keluar dan pergi menuju Legendaria,” gumamku.

Saat aku sedang berjalan menuju pintu laboratorium, aku melihat material milikku… anak-anak yang kubuat tertidur di ruangan lain. Aku hampir melupakan mereka.

“Tindakan penculikan itu sudah berakhir,” kataku. “Lebih baik aku membunuh semua anak-anak itu dan mengubah mereka menjadi material untuk undead-ku… hm?”

Pada saat aku mengatakan hal itu, aku melihat jari milik pria yang sedang tergeletak di lantai itu sedikit bergerak. Tindakan kecil itu — digabungkan dengan raut wajahnya — membuatku menyadari sesuatu.

“Apakah kau benar-benar datang jauh-jauh kemari hanya untuk menyelamatkan anak-anak itu?” tanyaku. “Kau bukan datang untuk mengambil harta-ku?”

Dia tidak mengatakan apapun. Bukan berarti dia dapat melakukannya sih, mengingat kondisinya saat ini, tetapi reaksi yang dia tunjukkan sudah lebih dari cukup.

“Hah… hah… HAHAHAHAHAHAHA!” Aku meletakkan tangan di perutku dan tertawa terbahak-bahak.

Tidak ada reaksi yang lebih tepat dari ini Bagaimana mungkin aku tidak tertawa?

“Hahahahahah! Seorang manusia abadi? Pergi jauh-jauh kemari untuk menyelamatkan beberapa anak kecil? Ghahahahahah! Aduh, kau benar-benar melakukan sesuatu yang heroik, Tuan Master.”

Kau merasa seperti sedang berperan sebagai pembela keadilan, ya? Pikirku. Fakta bahwa itu lah yang membuatnya datang kemari membuatku dipenuhi kesenangan.

“Heheheh,” aku terus tertawa. “Baiklah, inilah yang akan kulakukan. Aku akan membuat beberapa makhluk undead kecil yang manis, dan kau akan melihat hal itu terjadi sampai racun itu membunuhmu. Siapa tau? Kau mungkin akan mempelajari sesuatu. Bagaimanapun, aku cukup terampil dalam hal itu, jika aku harus mengatakannya sendiri. Tapi itu sudah wajar, mengingat aku sudah membuat ribuan undead seperti itu!”

Menanggapi perkataanku, pria yang tergeletak di lantai itu menunjukkan ekspresi traumatis yang mengerikan.

Bagus sekali, pikirku. Kelihatannya Master juga bisa menjadi bahan yang bagus jika di pancing dengan benar. Tapi bahkan lebih dari itu, sebagai seseorang yang sebentar lagi akan menjadi King of Corpses, sekarang aku tau bahwa aku akan benar-benar menikmati kebebasan untuk memandang rendah setiap dan semua Master abadi itu.

“Baiklah, sekarang…” kataku. “Anak dengan tulang yang terlihat tebal itu akan ku ubah menjadi Skeleton, sementara yang lainnya akan ku ubah menjadi Zombie saja. Oh, tapi mungkin sebaiknya aku mengubah anak yang terlihat di sana menjadi mayat yang diawetkan dan menjualnya di suatu tempat. Meskipun terlihat seperti ini, tanganku cukup lihai, lho, jadi sebenarnya aku cukup bagus dalam membuat detail yang bagus. Beberapa orang penggemar seni mungkin akan menghargai karya-ku dengan harga tinggi.”

Sebagai tanggapan, aku menerima lebih banyak kemarahan sunyi.

Ah, senangnya, pikirku. Ini benar-benar sebuah kebahagiaan.

Aku tak pernah menyangka akan mendapatkan kesenangan seperti ini dari seorang Master. Kesedihannya terasa seperti sebuah bumbu yang sempurna.

Namun, ini adalah saatnya untuk mengakhiri hal ini.

“Sekarang, mari kita mulai dari bocah yang menggorok lehermu!” seruku. “Pertama, aku akan membuatnya menggorok lehernya sendiri dan — “

Tiba-tiba, aku merasakan sebuah hembusan angin…

… diikuti oleh suara sesuatu yang jatuh ke atas lantai.

“… Apa?” Kebingungan, aku melihat ke arah asal suara itu dan melihat sesuatu yang sangat familiar.

Itu adalah sebuah tangan kiri, yang dipenuhi oleh cincin sihir. Cincin sihir yang membuatku mengeluarkan banyak uang.

Bukankah itu… tangan kiriku? Pikirku, tertegun.

“Jika… kau…”

Pria yang kekalahannya sudah hampir dapat dipastikan mulai berbicara. Dia mengangkat tangan kanannya ke udara.

“Jika kau… bukanlah makhluk hidup…”

Bilah halberd yang dia pegang mengeluarkan kilau putih yang mulia. Aku mengenali hal itu. Bilah itu diselimuti oleh kutukan bagi para undead — Purifying Silverlight.

“Jika kau… kehilangan pandangan tentang arti menjadi seorang manusia…”

Dia berdiri dengan perlahan dan menghadap ke arahku. Luka yang ada di lehernya yang masih ada disana kurang dari satu menit yang lalu, sudah menghilang tanpa bekas.

“Jika kau… adalah orang yang bertanggung jawab atas pemandangan itu…”

Ekspresinya tidak menunjukkan kelemahan karena Poison, maupun kekakuan karena Paralysis.

“Jika kau… mengatakan bahwa kau akan tetap melakukan hal itu…”

Satu-satunya ekspresi murni yang ada diwajahnya tercermin melalui cahaya matanya — sebuah kobaran kemarahan murni,

“… maka aku akan membunuhmu.”

Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang Master — salah satu mayat hidup abadi — menunjukkan ekspresi seperti itu.

Aku tidak bisa sepenuhnya mencerna hal itu, tapi apa yang kurasakan adalah ketakutan. Sebuah ketakutan luar biasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Instingku mulai berteriak, dan menyuruhku untuk melakukan satu hal:

Lari! Dia akan memusnahkanmu.

Insert4

“■■■■ — Abyssal Delusion!”

Dead Man’s Bind!

Aku segera menggunakan kutukan terkuat yang kumiliki. Keduanya adalah debuff-spell tingkat tinggi — satunya adalah vocal dan diikuti oleh mantra, sementara yang lainnya berasal dari item sihir di tangan kananku dan tidak membutuhkan satupun mantra.

Abyssal Delusion adalah sebuah kutukan kuat yang memberikan Death Sentence, Weakness, dan Deterioration kepada penerimanya, membuat mereka membusuk dan menjadi mayat hidup-hidup. Dead Man’s Bind adalah spell lain dengan tiga buah debuff — Binding, Curse, dan Lethargy. Jika digabungkan, mereka memberikan enam debuff yang kuat.

Kombinasi itu telah mengirim banyak musuhku menuju kematian. Setiap orang yang cukup malang untuk menerimanya benar-benar tidak akan bisa bergerak.

“Ghaah!”

Tapi dia tidak berhenti. Seolah-olah dia membalikkan semua efek dari kutukanku, dia menjadi lebih mengintimidasi dan mengayunkan halberd-nya — yang bersinar dengan Purifying Silverlight — secara horizontal ke arahku.

“Guh?!” aku berseru. Jika aku selangkah saja lebih dekat, serangannya akan membelah tubuhku.

Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi. Menerima damage fatal dari-nya adalah sesuatu yang harus kuhindari dengan segala cara.

Aku adalah seorang Lich — seorang undead master of magic. Sebagian besar luka ku akan sembuh dengan sendirinya sesaat setelah mereka terjadi. Aku bisa saja kehilangan sebuah tangan atau mendapati tubuhku terbelah dua — damage seperti itu bukanlah hal yang mematikan bagiku.

Namun, dalam hal ini, penyembuhan itu sama sekali tidak akan bekerja. Faktanya, tangan yang baru saja dia potong telah berubah menjadi debu.

Itu sudah wajar. Bagaimanapun — dia sedang menggunakan Purifying Silverlight. Itu adalah sebuah cahaya yang hanya dapat digunakan oleh sebagian kecil Paladin dan Temple Knight — cahaya yang ditujukan untuk memusnahkan undead. Tidak peduli sehebat apa aku sebagai seorang Lich, Aku tidak bisa kembali sembuh setelah menerima serangan fatal dari senjata yang diselimuti oleh cahaya menjijikkan itu.

Rasa takut akan kematian menyelimutiku. Itu adalah perasaan yang sejak lama telah menjadi alien bagiku. Itu adalah perasaan yang tidak akan pernah lagi menyerangku setelah aku menjadi King of Corpses. Tapi disini dan saat ini, perasaan itu benar-benar menderaku. Perasaan itu benar-benar mengguncang keberadaanku.

“Awaken Undead!” Menggunakan Necromancy-ku, aku mengaktifkan monster undead yang telah kusimpan di dalam drum di ruangan ini.

Skeleton Soldier yang tak terhitung jumlahnya memenuhi panggilanku.

Namun, mereka tidak berarti banyak.

Tidak mungkin mereka bisa menang melawan aberasi ini, tapi itu tidak penting. Mereka hanya perlu memberikan waktu yang dapat kugunakan untuk kabur.

Saat para undead itu mulai menyerbu ke arahnya, aku berbalik dan meninggalkan laboratorium itu. Jika aku berada disana lebih lama lagi, aku tau bahwa tempat itu akan menjadi kuburanku.

Kemudian — saat nafasku menjadi berat — aku berlari menuju permukaan melalui lorong bawah tanah. Setelah kami para Lich berubah menjadi Undead, jantung dan paru-paru kami kehilangan fungsinya dan digantikan oleh sihir yang terkristalisasi. Oleh karena itu, kelelahan dan kehabisan nafas seharusnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah kualami lagi. Akan tetapi, saat ini aku merasa seperti sedang tercekik.

“Kenapa seorang Master…?!” Melalui nafasku yang tersengal-sengal, aku menyuarakan ketakutanku. “Kenapa salah satu dari kekejian abadi itu… benar-benar marah?”

Perasaan takut ini adalah sesuatu yang tidak kuketahui. Rasa takut akan emosi makhluk itu. Teror yang kurasakan terhadap aberasi itu.

Teror — hanya itulah yang dapat kuungkapkan. Mendapati salah satu kekejian abadi itu mengarahkan niat membunuh murni dan kemarahan kepadaku bukan hanya sekedar ketakutan. Bagaimanapun, itu artinya bahwa seorang manusia yang abadi dan tidak dapat dihancurkan akan terus memburuku selamanya.

Aku harus meloloskan diri. Setiap tempat di dekat aberasi itu adalah kematian, jadi aku harus meninggalkan benteng ini dan lari ke tempat dimana dia tidak akan pernah bisa menemukanku.

Aku harus melakukannya — dan aku bisa melakukannya.

Meskipun aku adalah Lich, Agility-ku jauh lebih besar dari dirinya, jadi aku pasti dapat menjauhkan dari dirinya.

Mencapai permukaan akan berarti bertemu dengan Gouz. Lalu, aku hanya tinggal membuatnya bertarung melawan aberasi itu sementara aku melarikan diri.

“Aku bisa melakukannya…!” Membayangkan masa depan itu membuatku merasa lega.

Karena merupakan seorang horse-man, lorong bawah tanah itu dipenuhi oleh suara kaki kuda yang menginjak lantai.

Namun, suara itu segera membaur dengan suara lain.

“… Apa?” Aku berteriak.

Sumber suara itu mendekat dari belakang. Sebuah suara sistematis, namun memberikan dampak yang kasar di atas lantai — suara yang mirip dengan suara yang berasal dari bawah kakiku. Itu adalah suara kuda yang sedang berpacu.

“Gh…!”

Tidak dapat menahan ketegangan yang disebabkan oleh suara yang makin mendekat itu, aku melihat ke belakang.

Apa yang kulihat benar-benar berada di luar imajinasiku. Itu adalah seekor kuda mekanik berwarna perak, yang sedang berlari di sepanjang lorong bawah tanah. Dan di sampingnya terdapat sang aberasi.

Karena suatu alasan, dia tidak menunggangi kuda itu. Aberasi itu memegang tali kekang milik kuda perak itu menggunakan tangan kanannya, dan menyeret kakinya di atas lantai. Itu mengingatkanku dengan olahraga air yang ada di Granvaloa.

Di tangan kirinya, dia masih memegang halberd dengan sinar hitam yang muncul dari bagian belakang bilahnya berkibar seperti bendera

Kenapa dia tidak menggunakan skill Riding miliknya? Pikirku.

Cara dia mengendarainya seharusnya akan segera menghancurkan kakinya dan membuat mereka menjadi tidak berguna, kan? Tapi kenapa dia terlihat seperti tidak menerima damage sedikitpun?

Pemandangan aneh itu memunculkan beberapa pertanyaan di kepalaku, tapi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah hal yang penting.

Hal terpenting saat ini adalah fakta bahwa dia masih mengejarku… dan kuda itu juga lebih cepat dariku, yang artinya dia akan segera menyusulku.

“AAAAUUUGHHHHH!”

Mengabaikan rasa malu dan reputasiku, aku berteriak dalam ketakutan sambil terus berlari secepat mungkin menuju permukaan.

“Awaken… AWAKEN UNDEAAAAD!” Tanpa melambat sedikitpun, aku mengaktifkan monster undead yang telah kukubur di dinding untuk keadaan darurat seperti ini.

Mereka disebut sebagai “High-End Skeleton Warrior.” Aku telah membuat high-rank undead ini dengan menggunakan mayat dari para tian yang kuat. Mereka adalah sisa-sisa party yang telah aku dan Gouz tangani.

Enam High-End Skeleton Warrior berdiri diantara diriku dan dirinya. Meskipun telah berubah menjadi undead, mereka semua pernah menjadi pemegang high-rank job, jadi ada kesempatan bahwa…

“Menyingkir dari jalan kami!” dua buah suara — miliknya dan sebuah suara feminim lain — mengatakan hal itu di saat bersamaan. Sesaat kemudian, massa berwarna perak itu menerobos para Skeleton dan mengubah mereka semua menjadi abu.

Halberd yang ada di tangan kirinya dan kaki milik kuda buatan itu mengakhiri semua undead-ku dalam sekejap mata. Aku kemudian menyadari bahwa bukan hanya halberd, tetapi seluruh tubuh milik kuda itu bersinar dengan Silverlight.

“Aaagh?!”

Itu bukan kuda hidup — itu adalah sebuah equipment. Mengeluarkan Silverlight dan berpacu dengan kecepatan tinggi, kuda itu memusnahkan semua dan setiap undead yang menyentuhnya.

Tidak peduli apakah itu adalah high-rank undead atau bukan. Hal itu adalah kutukan bagi semua undead. Itu adalah sebuah peluru perak yang membawa akhir yang pasti.

“GGGHAAAHHHHH!”

Benar-benar putus asa, aku menggunakan waktu yang diberikan oleh para monster undead-ku untuk menaiki tangga menuju permukaan. Karena Master itu diseret oleh kuda, dia tidak dapat menaiki tangga dengan mudah. Seharusnya hal itu akan mempengaruhi kecepatannya.

Sesaat sebelum dia dapat mengejarku, aku berlari menaiki tangga dan meloloskan diri menuju permukaan.

“GOUZ! GOOUUUZ!” Aku berteriak sambil berlari di dalam benteng.

Setelah aku berlari di lorong lantai pertama dan dapat melihat pintu gerbang benteng, aku diselimuti oleh rasa lega. Itu karena aku melihat wajah Gouz.

Sesaat kemudian, rasa lega itu berubah menjadi keputusasaan.

Hal itu karena wajah Gouz… adalah satu-satunya hal yang ada disana.

Aku tidak dapat memahami apa yang terjadi, tetapi kepala Gouz yang terpenggal — membeku sepenuhnya — tertusuk di pintu gerbang.

Ke-Kemana perginya tubuh kekar miliknya? Tanyaku pada diriku sendiri. Aku tidak dapat melihatnya dimanapun. Apa yang dapat kulihat hanyalah daging beku, yang bertebaran di seluruh area luar pintu gerbang. Dua dari potongan daging itu — ditempatkan saling berdampingan — terlihat mirip dengan kaki Gouz.

Tepat disebelah mereka berdiri sebuah anomaly yang terlihat mirip seperti gereja antromorfis yang terbuat dari es — musuh dari jenisku jika sebelumnya aku pernah melihatnya.

“Pilihlah takdirmu, wahai pendosa,” kata anomali itu. “Akhir mana yang engkau inginkan? Neraka, atau Hukuman Ilahi?”

Aku langsung memahami apa yang dia bicarakan.

Dia menyuruhku untuk memilih akhir diriku, apakah di tangan anomali es itu atau aberasi perak itu.

“Tidak!” teriakku. “Ini tidak mungkin terjadi!”

Aku tidak boleh mati disini! Aku sudah sampai sejauh ini! Dan sekarang, saat takhta King of Corpses sudah berada di dalam jangkauanku, Aku…

“Kenapa…?!” Aku kembali menyuarakan keputusasaanku. “Apa…?!”

Apa yang harus kulakukan untuk menghindari hal ini?!

“Baiklah,” anomali itu kembali berbicara. “Hukuman ilahi kalau begitu.”

Dia kemudian mengarahkan pedang es miliknya ke arah sesuatu yang ada di belakangku.

Aku berbalik dan melihat aberasi perak itu.

Aberasi itu telah menyusulku.

Sebuah suara yang dipenuhi ketakutan keluar dari mulutku. Aku tidak bisa lari atau bersembunyi lagi.

Pa-Pasti ada sesuatu yang dapat kulakukan! Pikirku. Bukankah aku memiliki sebuah item teleportasi? Tidak?! Aku pasti memiliki sesuatu! Aku…!

“Huh…?” Saat aku menggali kedalam inventory di dalam jubahku, jariku menyentuh sesuatu yang membuatku tercengang. Aku mengeluarkannya dengan perlahan. Itu adalah sebuah objek kristal berwarna hitam legam yang sama sekali tidak mengeluarkan cahaya — Crystal of Resentment.

“Tidak…” Aku berkata dengan putus asa. Aku menggenggam objek mirip batu obsidian itu di tanganku. Itu adalah sebuah item yang tanpanya aku tidak akan pernah bisa menjadi King of Corpses. Untuk membuatnya aku harus memimpin Gouz-Maise Gang dan menghabiskan waktu selama hampir satu tahun mengorbankan anak-anak dalam jumlah besar.

Namun, selain merupakan persyaratan untuk menjadi King of Corpses, kristal ini juga merupakan medium ultimate bagi sihir milik kelompok Necromancer. Menggunakannya disini memang menyakitkan, tapi…

“Jika aku mati… semuanya akan sia-sia!” teriakku.

Aku harus memilih antara mati dan menggunakan Crystal ini untuk bertahan hidup, jadi aku dengan senang hati memilih pilihan terakhir. Jika aku tidak melakukannya, waktu dan usaha yang telah kuhabiskan untuk tujuanku akan menjadi sia-sia. Aku hanya harus bertahan hidup dan melakukannya dari awal lagi di kota lain. Bagaimanapun — waktu, pekerjaan yang ingin kujalani dan pengorbanannya tidak akan ada habisnya.

Selama aku tetap hidup, Aku bisa mengulanginya sebanyak mungkin! Pikirku. Tentu saja — aku tidak boleh membiarkan diriku mati disini! Mati karena pertemuan yang kebetulan seperti ini adalah hal yang tidak dapat kuterima!

“DASAR MONSTER MENJIJIKKAN!” Aku meraung sambil mengisi Crystal of Resentment — harta karun terbesarku — dengan sihir dalam jumlah besar. “KALIAN PARA MONSTER TIDAK AKAN BISA MENGAKHIRI HIDUPKU!”

Setelah mengubah perasaan jahat di dalam kristal itu menjadi energi penghancur murni, aku melepaskan itu semua ke arah aberasi perak itu, aku juga sepenuhnya sadar bahwa hal itu bisa akan menghancurkan benteng ini. Bagaimanapun, itu adalah skill sihir serangan terkuat yang dapat dimiliki oleh setiap Lich.

“DEADLY MIXEEERRRR!”

Dengan ketakutan dan kemarahan besar yang menyelimutiku, aku melepaskan serangan terkuat yang pernah kulakukan. Itu cukup kuat untuk memusnahkan seekor Pure-Dragon dalam sekejap. Dia tidak mungkin bisa bertahan dari hal itu.

“Counter Absorption.”

Namun…

“Ah…? Ugh…? Eahhh…?” kebingungan keluar dari mulutku dalam bentuk suara yang aneh. Sihir yang membuatku mendedikasikan seluruh keberadaanku berhasil ditahan oleh sebuah dinding cahaya yang dia ciptakan di depannya. “It-Itu tidak mungkin!”

Kejutan itu membuatku kehilangan pijakan dan jatuh ke atas tanah. Sesaat kemudian, aberasi perak itu sudah berada tepat di depanku.

“Ghah?! T-Tidak!”

Pada saat aku mencoba untuk berdiri dan melarikan diri dalam ketakutan, halberd-nya — masih memancarkan cahaya perak — menembus tubuhku dan membuatku tertancap di tanah.

“GYYAAAHH!”

Aku tidak dapat bergerak — karena halberd yang menembus tubuhku dan rasa sakit yang disebabkan oleh Silverlight — dan aberasi itu berdiri di depanku.

“Berhenti… melarikan diri,” dia mendesis melalui nafasnya yang tersengal-sengal.

“T-Tunggu!” kataku. “Aku tidak akan lari! Kau menangkapku!”

Aku tidak bisa melarikan diri lagi saat ini, tapi aku masih tetap harus bertahan hidup, bahkan jika aku harus memohon ampun padanya.

“M-Mari buat kesepakatan!” kataku dengan panik. “U-Uang! Aku akan memberimu uang! Aku masih punya banyak! 70,000,000 lir, lebih tepatnya! Itu milikmu! Ambil itu semua, tapi tolong, ampuni aku!”

Aberasi itu tidak mengatakan apapun.

Ya! Pikirku. Dia bereaksi terhadap tawaranku! Aku tidak peduli jika aku harus memberinya seluruh koin-ku! Aku sudah mengorbankan Crystal of Resentment! Uang adalah harga yang murah untuk bertahan hidup!

“Hhaaahh…” Dia menghela nafas dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku.

Bagus! Itu berhasil!

“Khah! Hahahah!” Aku tertawa. “T-Tunggu sebentar. Aku akan mengeluarkannya dari inventory-ku, jadi — “

“Nyawamu sudah cukup sebagai bayaran,” katanya, memotong perkataanku.

“Eh?”

Saat kebingungan melandaku, telapak tangannya yang terbuka berbuah menjadi sebuah tinju, dan bracer yang dia pakai mulai memancarkan cahaya perak yang menyakitkan.

Aku mendengar tengkorakku retak dan hancur. Dan kemudian aku berakhir.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

11 Comments Add yours

  1. alone698 says:

    wah krg berasa perlawanan dari gouz maiz nih.

    Like

  2. Manusia says:

    Lanjut dah.

    Like

  3. Anon says:

    Mau beli novelnya di amazon kok not available ya? Padahal tinggal pakai cod*shop.

    Like

    1. Zen Quarta says:

      cari aja lewat google atau langsung ke situs amazon, gan…

      Like

      1. Anonymous says:

        Udah gan…

        Like

      2. Zen Quarta says:

        hmm… coba datang langsung ke situs J-Novel Club, disana ada pilihannya (kalo ngk salah bisa lewat kobo, amazon, bookwalker)…

        btw, novel ini cuma ada dalam bentuk epub lho…

        Like

      3. Anonymous says:

        Ga punya katu kredit klo buat Kobo ma Nook. Bookwalker kayaknya bisa. Dia bisa paypal.

        Like

      4. Zen Quarta says:

        tapi kalo bookwalker ngk bisa di baca offline sih..
        harus lewat website nya..

        Like

      5. Zen Quarta says:

        volume lainnya bisa di beli kah?

        Like

  4. Anonymous says:

    Mantap

    Like

  5. yuu shion says:

    Gak kebayang kalo Ray bertarung ngelawan ahli debuff, semakin kuat ahli debuff semakin kuat si Ray. (contohnya ya yang satu ini)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s