Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 4 B

Volume 2
Chapter 4 – Dua Pemimpin (Bagian 2)

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Paladin Ray Starling

Dunia Infinite Dendrogram memiliki sistem job.

Sama seperti job “Paladin” milikku, para Master dan tian lainnya juga memiliki job mereka masing-masing. Satu-satunya orang yang tidak memiliki job adalah Master yang baru saja mulai memainkan Infinite Dendrogram dan tian yang masih anak-anak.

Job memiliki jumlah dan variasi yang sangat banyak. Job vanguard saja memiliki banyak kelompok seperti Knight—Paladin termasuk kedalam kelompok ini—Swordsman, Warrior, Gladiator, Pugilist, Samurai, dan banyak lagi.

Lalu ada juga kelompok job yang bertugas sebagai rearguard, support, crafting, dan sebagainya… Jika disimpulkan, mereka memiliki jumlah yang terlalu banyak untuk diingat.

Katalog yang diberikan kakak kepadaku memiliki daftar kondisi untuk mendapatkan setiap low-rank job dan high-rank job. Daftar yang ada di dalamnya berjumlah beberapa ribu, dan—tentu saja—aku masih kesulitan untuk mengingat mereka semua. Master yang masih aktif bermain berjumlah beberapa ratus ribu, dan aku menduga bahwa—jika job-job itu dibagi rata kepada semua player—maka akan ada kurang dari seribu orang untuk setiap job. Tentu saja, pembagian job yang sebenarnya sama sekali tidak mendekati kata “rata”. Contohnya, Job Pimp milik Rook tidak populer diantara para Master.

Tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah job yang tersedia bagi player di MMORPG lain tidak dapat dibandingkan dengan kebebasan yang ada di Dendro. Tapi meskipun memiliki jumlah yang begitu banyak, ada sebuah job yang tertanam di pikiranku. Itu adalah job yang tidak akan pernah bisa kulupakan.

Itu adalah sebuah job yang bernama “Necromancer.”

Kelebihan job itu adalah memiliki banyak skill debuff, skill serangan dark magic…

… dan tentu saja, Necromancy—skill yang memungkinkan seseorang untuk mengubah mayat menjadi tamed monster dengan biaya MP.

Skill itu dapat digunakan pada manusia maupun makhluk lainnya.

Tentu saja, tingkat kesulitan dalam mengubah mayat menjadi tamed monster tergantung pada seberapa kuat makhluk itu ketika masih hidup.

Disisi lain, itu berarti bahwa anak-anak—yang hampir tidak memiliki kekuatan—dapat diubah menjadi undead tanpa banyak kesulitan.

Katalog itu mengatakan bahwa salah satu kondisi untuk mendapatkan high-rank job dari kelompok Necromancer berhubungan dengan jumlah keberhasilan menggunakan skill Necromancy. Aku juga membaca di wiki bahwa beberapa tian kriminal adalah Necromancer yang menggunakan anak-anak dan orang sakit untuk tujuan tersebut. Beberapa orang juga menduga bahwa mendapatkan Superior Job dari kelompok tersebut juga berhubungan dengan kondisi yang sama.

Implikasi dari ide tersebut membuatku merasa muak, jadi aku mengukir keberadaan Necromancer kedalam ingatanku. Dan sekarang, semua itu datang kepadaku.

Mencoba untuk menyimpulkan kenapa Gouz-Maise Gang menculik anak-anak, aku terus berlari menuju ujung lorong bawah tanah ini.

*

Lorong ini adalah sebuah jalan lurus tanpa cabang, jadi aku hanya perlu terus maju ke depan.

Meskipun aku tidak menemui satupun bandit, aku harus menghadapi beberapa undead—kali ini orang dewasa—yang menghadang jalanku.

Mereka mungkin dibuat dari mayat-mayat yang terkumpul disini ketika benteng ini masih ditempati oleh tentara. Tapi disisi lain, bisa saja mereka adalah sisa-sisa para petualang yang dikalahkan oleh para bandit ini.

Aku menghancurkan setiap undead yang menghalangi jalanku. Bahkan jika sebelumnya mereka adalah manusia, aku tidak boleh membiarkan mereka menghentikanku. Jika aku melakukannya, jumlah kematian yang ada hanya akan semakin bertambah.

Akhirnya, aku sampai di ujung lorong, dimana aku disambut oleh sebuah pintu. Pintu ini tersusun dari kayu-kayu berat dan dikunci menggunakan gembok baja. Pintu itu memisahkanku dengan ruang yang ada dibelakangnya, dimana aku bisa merasakan keberadaan makhluk hidup disana.

“Hhgh!”

Aku mengayunkan Nemesis langsung ke arah pintu tersebut, bukan ke arah gemboknya. Saat potongan kayu bertebaran keberbagai arah, aku melompat kedalam ruangan dan mengamati sekelilingku.

Aku sudah benar-benar siap menebas setiap bandit yang menungguku, tapi satu-satunya makhluk hidup yang ada disini hanyalah anak-anak yang dikurung.

Mereka berjumlah tujuh anak.

Dilihat dari mata mereka yang tertutup, aku bisa mengetahui bahwa mereka sudah tertidur pulas. Aku tidak tau yang mana, tapi aku cukup yakin bahwa salah satu dari mereka adalah Roddie—anak yang harus kami selamatkan. Tentu saja, aku berniat untuk menyelamatkan mereka semua, tidak peduli jika mereka tidak ada hubungannya dengan quest.

Aku merasa curiga karena kelihatannya hanya ada anak-anak ini disini.

“Tidak ada satupun bandit?” kataku kebingungan.

“Bagaimanapun, ruangan ini terkunci menggunakan gembok,” kata Nemesis. “Dapat disimpulkan bahwa mereka menyerahkan tugas untuk mengawasi anak-anak ini kepada para undead.”

“Kurasa itu masuk akal.” Aku memeriksa keadaan anak-anak itu dengan hati-hati. Aku menjulurkan tanganku melalui celah kurungan dan mengguncang mereka dengan lembut, tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

“Kurasa mereka diberi obat atau sedang berada dibawah efek debuff spell,” komentar Nemesis.

“Mungkin saja,” anggukku. Ini hanya intuisi-ku, tapi aku yakin bahwa itu adalah sihir. Bagaimanapun, orang yang melakukan hal ini kemungkinan besar adalah orang yang menciptakan undead menggunakan anak-anak di lorong tadi.

Baginya, mereka hanyalah kartu yang dapat digunakan untuk mendapatkan uang tebusan. Dan jika aku tidak datang, dia pasti sudah siap untuk membunuh mereka dan menggunakan Necromancy-nya untuk menyiksa mayat mereka. Aku benar-benar tidak tahan lagi.

“Master, lihat ke sebelah kanan,” kata Nemesis.

Aku melihat ke arah itu dan melihat sebuah pintu lain—kali ini terbuat dari besi. Setelah mendekatinya, aku memutar gagang-nya dengan pelan. Karena gagangnya dapat diputar, sudah jelas bahwa pintu ini tidak dikunci dan oleh karenanya aku tidak memiliki kesulitan untuk membukanya.

“Apakah kau akan masuk kedalam?” tanya Nemesis.

‘Tentu saja,” jawabku.

Aku memutar gagang pintu itu dan segera menendang terbuka pintu itu. Aku sudah merusak sebuah pintu. Jika memang ada orang di dalam ruangan ini, maka tidak ada gunanya bagiku untuk bertindak secara diam-diam.

“Bukankah itu…?” Aku mulai berbicara.

Hal pertama yang kulihat setelah masuk kedalam ruangan adalah seseorang. Seorang anak laki-laki, tepatnya. Dia sedang tertidur—sama seperti anak-anak lain yang ada di dalam kurungan. Di tengah ruangan, di atas lantai yang terletak di bawah anak itu, terdapat sebuah lingkaran sihir yang dibuat dengan sangat detail.

“Ada banyak hal yang dapat dikatakan tentang selera pemilik ruangan ini.” Nemesis mengatakan hal itu dengan nada marah.

Lingkaran sihir yang ada dilantai bukanlah satu-satunya hal yang dia maksud. Faktanya, lingkaran itu tampak biasa saja jika dibandingkan dengan pemandangan lainnya.

Sisa-sisa darah menutupi dinding dan langit-langit. Sesuatu yang mirip dengan kulit ditumpuk di sudut ruangan. Drum yang ada di dekatnya dipenuhi oleh tulang-tulang berwarna putih. Meja yang ada di dekat dinding dipenuhi oleh peralatan dan material, tapi tidak ada yang benar-benar mencolok sampai aku melihat sebuah tangan kanan dengan dua belas jari yang sudah diawetkan, yang membuatku mengalihkan pandanganku secara refleks.

Aku menakan kemarahanku dalam diam. Tidak diragukan lagi bahwa kami sedang berdiri di laboratorium milik Necromancer yang telah menciptakan undead itu.

Namun, Necromancer itu sendiri tidak ada di tempat ini. Dapat disimpulkan bahwa dia pergi untuk menghadapi Hugo.

Anak yang ada di tengah lingkaran sihir itu mungkin akan menjadi kelinci percobaannya selanjutnya. Kami telah menyelamatkannya dengan datang kemari.

“Sekarang bagaimana?” tanya Nemesis. “Apakah kita harus memastikan keselamatan anak-anak ini atau pergi membantu Hugo menghabisi para bandit?”

Itu adalah sebuah pilihan yang sulit. Menyelamatkan anak-anak adalah tujuan utama kami, tapi membawa mereka bertujuh ke suatu tempat yang aman akan terlalu sulit untuk kulakukan sendirian. Namun, jika aku meninggalkan mereka disini dan pergi keluar untuk bertarung, itu akan meningkatkan kemungkinan mereka akan dijadikan sandera.

Pilihanku yang lain adalah tetap disini dan melindungi anak-anak sementara Hugo menangani para bandit itu, tapi itu semua akan berakhir jika Hugo terbunuh.

“Wew, ini pilihan yang sulit…” kataku sambil menghela nafas.

“Untuk saat ini, kupikir kita harus memindahkan anak itu ke ruangan lain,” kata Nemesis. “Aku tidak tau lingkaran sihir macam apa itu, tapi aku yakin bahwa itu tidak aman digunakan sebagai tempat tidur.”

Aku mengangguk dan berjalan ke arah anak yang berada di tengah lingkaran itu.

Setelah beberapa langkah, aku menginjak sesuatu yang terlihat aneh. Itu adalah sepotong kain tebal. Sekilas, itu terlihat seperti kasur tipis yang terbuat dari bulu, tapi kemudian aku menyadari bahwa kain itu memiliki dua lengan baju yang terjahit padanya, yang memastikan bahwa itu adalah sepotong pakaian—sebuah jubah, tepatnya. Apa yang tampak aneh bukanlah fakta bahwa pakaian itu tergeletak di lantai, tapi fakta bahwa aku dapat merasakan sesuatu yang keras di bawahnya.

Aku menendang jubah itu dan menemukan apa itu.

“Ini adalah…”

… tulang—itulah benda keras yang ada dibawah jubah tadi.

Hal itu sama sekali tidak membuatku terkejut. Bagaimanapun, drum yang ada di dekat sini dipenuhi oleh tulang. Namun, itu aneh karena separuh tulang itu adalah tulang manusia, sementara sisanya milik makhluk yang berbeda. Tulang itu terlihat lebih tebal dan mengingatkanku pada tulang kuda yang pernah kulihat di museum.

“Bagaimana bisa tulang manusia dan tulang kuda tergeletak di tempat yang sama?” tanyaku.

“Aku menduga bahwa ini adalah tulang horse-man,” kata Nemesis. “Sejauh yang kutahu, ini mirip seperti sisa-sisa kerangka mereka.”

Hal itu mengingatkanku bahwa, saat di Gideon, aku telah melihat beberapa anggota ras yang terlihat seperti centaur dari mitologi Yunani.

Aku kembali melirik ke arah kakiku. Tubuh bagian atas dan juga tengkoraknya sudah jelas adalah milik manusia, sementara tulang tubuh bagian bawah terlihat mirip dengan kerangka kuda. Memang, hampir dapat dipastikan bahwa kerangka ini milik seorang horse-man.

Namun, ada satu hal yang perlu dikatakan tentang ukurannya. Aku tidak tau ukuran tubuh rata-rata milik ras itu, tapi setidaknya, sudah jelas bahwa ini bukan milik seorang anak-anak.

Bagaimana bisa tulang milik seorang horse-man dewasa berada disini? Pikirku.

“Necromancer itu mungkin entah bagaimana mendapatkan salah satu mayat mereka dan menggunakannya untuk eksperimen-nya,” kata Nemesis.

“Kalau begitu, seharusnya dia sudah membersihkan hal ini,” sanggahku. “Bagaimanapun, dia sudah mempersiapkan kelinci percobaannya selanjutnya.”

Aku melihat ke arah anak yang ada di tengah lingkaran sihir. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui bahwa Necromancer yang bersangkutan telah benar-benar siap memulai eksperimen selanjutnya. Dia tidak akan membiarkan tulang dari eksperimen sebelumnya tergeletak dilantai begitu saja seperti ini.

Maksudku, madman itu cukup rajin untuk meletakkan semua tulang lain di dalam drum sebelah sana, pikirku.

“Mencoba memahami proses berpikir milik seorang madman adalah usaha yang bodoh, menurutku,” kata Nemesis.

“…. Tidak ada gunanya memikirkan hal itu, ya?” gumamku.

Dia benar. Tujuan utamaku adalah untuk memindahkan anak itu dari sini.

Setelah menggunakan Nemesis untuk beberapa kali menggores lingkaran sihir itu dan memastikan bahwa aku tidak akan memicu aktifnya beberapa sihir aneh, aku melangkah kedalam lingkaran itu dan mengambil anak laki-laki itu.

Tertidur di lantai yang dingin telah membuat suhu tubuhnya menurun. Tapi, dia masih bernafas dengan baik dan memiliki denyut nadi yang stabil. Merasa sedikit lega, aku mulai menggendong anak itu di punggungku dan berjalan keluar ruangan.

Tiba-tiba, aku merasakan nafasnya di belakangku.

Itu adalah hal yang normal—mengingat dimana dia berada—tapi karena suatu alasan, keringat dingin menuruni punggungku seperti kilat…

“Mati.”

Aku tidak yakin dari mana perkataan itu berasal. Tapi itu sudah terlalu terlambat. Aku mendengar suara pisau mengiris leherku.

Entah bagaimana aku tidak melihatnya, tapi anak yang ada di punggungku membawa sebuah dagger ditangannya.

Saat darah mulai mengalir dari arteri karotis-ku, aku roboh ke lantai batu yang dingin.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

One Comment Add yours

  1. yuu shion says:

    Yah si MC kena gorok

    Like

Leave a Reply to yuu shion Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s