Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 1 C

Volume 2
Chapter 1 – Pagi di Gideon Bagian 3

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

“Aku kebetulan adalah seorang Peneliti biasa, dan aku hanya ingin menguji Obat Telinga Binatang buatanku sendiri,” jelas penguin itu. “Saat aku berkeliling untuk mencari kelinci percobaan yang cocok, aku melihatmu sedang terbaring disini. Tidak menyia-nyiakan berkat dari surga ini, aku mencampur sebuah obat yang dapat menghilangkan semua debuff mu dengan obat yang ingin ku uji. Penilaianku ternyata tidak salah! Obat Telinga Binatang itu berhasil, dan telinga anjing itu terlihat sangat cocok denganmu! … Maaf, aku benar-benar minta maaf! Aku menyesal dan minta maaf, jadi bisa tolong kau tarik pedangmu? Kau akan merobek kostumku! Tolong hentikan! Itu akan mencapai leherku!”

Aku mendorong Nemesis ke leher ilmuwan penguin gila itu saat aku mengetahui bahwa aku telah digunakan sebagai kelinci percobaan.

Maafkan aku Lei-Lei, pikirku, Aku mengalami hal ini karena tidak mengikuti nasihatmu. Tapi njir, bukankah ini sedikit terlalu berlebihan?

“Aku bukan penggemar fashion, tapi ada tiga hal yang tidak akan pernah kupakai dalam keadaan apapun,” kataku.

“D-Dan apa itu?” tanya Nemesis.

“Kacamata, pakaian wanita, dan ikat kepala berbentuk telinga binatang.”
Sebenarnya, kejadian ini benar-benar membuatku kesal.

“Master,” kata Nemesis, “kau lebih tidak suka memakai kacamata dari pada pakaian wanita?”

“Kacamata itu bagus,” kata penguin itu. “Contohnya, kacamata ini memberimu berbagai macam skill dan—“

“Bacot!” aku memotong perkataannya.

“K-Kau terdengar seperti ingin membunuhnya,” komentar Nemesis.

“Ampun, gan!” tangis penguin itu.

Jangan kacamata, jangan pernah, pikirku.

“Nah… apa yang harus kulakukan sekarang?” aku mencoba menyembunyikan telinga binatang itu menggunakan penutup kepala, tapi aku tidak dapat memakai apapun. Mereka semua ditolak seperti magnet dari kutub yang sama. Aku membuka equipment window-ku, dan disana tertulis bahwa aku telah memakai “Dog Ears” dikepalaku. Kelihatannya, seperti yang ada pada kebanyakan game, kau hanya bisa memakai sebuah equipment pada setiap slot.

Ngomong-ngomong, Dog Ears ini tidak memberikan bonus stats maupun skill. Ini hanyalah sebuah equipment yang hanya mengubah penampilanku. Namun, sama seperti barang kutukan yang sering muncul pada game RPG, telinga ini tidak dapat dilepaskan melalui equipment window.

Benda ini juga tidak memberikan status effect, dan Reversal juga tidak dapat melakukan apapun pada hal itu.

“Itu tumbuh langsung dari kepalamu, jadi kau tidak bisa melepasnya begitu saja,” kata penguin itu. “Itu sama seperti sebuah gaya rambut khusus.”

Njir, itu menjengkelkan, pikirku.

“Oh, tapi itu akan menghilang setelah beberapa saat,” lanjutnya. “Kurasa, itu akan terjadi sekitar sore nanti.”

“Menggunakan standar waktu yang mana?” tanyaku.

“Tentu saja, dunia ini.”

Itu sama dengan sepuluh jam disini atau tiga jam di dunia nyata.

“Kalau begitu kurasa aku hanya harus log out sampai waktunya tiba,” kataku. Aku tidak ingin orang lain melihatku seperti ini.

“Oh jangan, waktu saat kau log out tidak akan dihitung,” kata penguin itu. “Akan membosankan jika seperti itu.”

… Penguin ini baru saja mengatakan kata “membosankan”, bukan?

“Hhaah… baiklah,” aku menghela nafas, dan menenangkan diri. “Kalau begitu, kurasa aku akan terus bermain seperti ini…”

Harus bermain dengan sesuatu seperti ini dikepalaku memang agak memalukan. Tapi jika dibandingkan dengan harus mengenakan kacamata… hei, kurasa ini tidak terlalu buruk juga, pikirku.

“Apa yang pernah dilakukan kacamata kepadamu?” tanya Nemesis.

No komen.

“Ngomong-ngomong, agan Ray,” penguin itu kembali berkata.

“Apa?” tanyaku.

“Aku memiliki sebuah permintaan kecil.” Penguin itu menatapku dengan tatapan serius—bukan berarti aku bisa melihatnya, tapi aku merasa seperti itu—dan mengatakan apa yang dia inginkan dariku. “Aku ingin mengambil screenshot, jadi bisakah kau melepaskan bajumu? Bagian atas saja tidak masalah.”

Tanpa mengatakan apapun, aku langsung menebas ke arahnya.

“Fwahahahah! Sampai jumpa!”

Penguin itu menghindari seranganku dan segera melarikan diri ke arah kota.

Njir, apakah dia secepat itu, pikirku. Seekor penguin seharusnya tidak bisa berlari seperti itu.

“Kenapa kita harus melakukan lelucon seperti ini…?” tanya Nemesis.

“Tidak tau. Dari fakta bahwa dia menyebutkan screenshot, sudah jelas bahwa dia adalah seorang Master, tapi… Hm?” Aku berhenti berbicara dan menyadari sesuatu.

Aku menyadari bahwa penguin itu telah memanggilku menggunakan namaku sebelum dia pergi. Dan aku sudah jelas belum memperkenalkan diriku kepadanya…

Setelah penguin aneh itu memberikan obat telinga anjing kepadaku, aku berjalan kembali ke kota.

Karena Gideon adalah tempat dimana demi-human bukanlah hal yang langka, para penjaga tidak membuat satupun komentar tentang perubahan penampilanku.

Aku bisa mendengar salah satu dari mereka berbisik, “Huh? Apakah pria itu memiliki telinga itu saat menyapa kita tadi pagi…? Kurasa aku masih terbawa mimpi,” tapi mereka hanya berkomentar sejauh itu.

“Baiklah, selanjutnya apa?” aku bertanya kepada diriku sendiri.

Selain melakukan pengujian, aku berencana untuk mengatakan halo kepada Alejandro, membeli beberapa equipment baru, dan mungkin melakukan leveling bersama Rook dan Marie, saat mereka sudah online. Namun, dengan apa yang barusan terjadi, aku tidak ingin bertemu dengan orang yang kukenal. Akan sangat memalukan jika salah seorang kenalanku melihatku memakai telinga anjing ini.

“Aku tidak paham kenapa itu begitu mengganggumu,” kata Nemesis.

Akan lebih aneh jika aku tidak merasa terganggu, pikirku. Bayangkan sebuah skenario dimana seorang kenalan tiba-tiba muncul di depanmu dengan sepasang telinga anjing yang muncul dari kepalanya.

Aku sangat yakin bahwa pemandangan seperti itu akan tertanam di otakku selamanya.

Aku benar-benar ingin menghindari hal itu, jadi aku tidak ingin bertemu dengan seseorang yang ku ken—

“Ah, Ray, Nemesis. Selamat pagi,” sebuah suara feminin mencapai telingaku sebelum aku dapat menyelesaikan pikiranku.

Aku tidak bisa mengatakan apapun terhadap situasi ini.

Serius?! Kau melakukan hal ini kepadaku tepat pada saat aku memikirkannya?! Pikirku.

“Nah, bukankah itu Marie,” kata Nemesis.

“Benar ini aku,” jawab Jurnalis itu.

“Oh, Ray, kenapa kau menunjukkan wajah seperti it…” Marie berhenti berbicara dan mengarahkan tatapannya ke arah benda yang ada di atas kepalaku.

Sial, dia menatapnya, Aku diam-diam merasa panik. Dia benar-benar mengamatinya.

“Marie, asal kau tau, ini bukan seper—“

“Jangan katakan apapun, Ray!” dia memotong perkataanku.

“Maaf?!” Semangat yang ada pada kalimatnya membuatku menjadi kaku dan tidak dapat melanjutkan apa yang ingin kukatakan. Dengan tatapan masih tertuju kepadaku, Marie merogoh inventory berbentuk gelang miliknya dan mengeluarkan sesuatu. Itu adalah…

“Sebuah buku gambar dan… pena?” aku menatap benda itu dengan bingung.

Sama seperti saat dia menjelaskan tentang minion capacity, Marie mulai menggambar sesuatu dengan kecepatan yang luar biasa. Aku tidak terlalu paham dengan urusan menggambar, tapi aku tidak punya pilihan lain selain bertanya apakah mungkin sebuah gambar yang masuk akal bisa dibuat dengan pergerakan secepat itu. Dengan gesit, dia menggambar outline, rambut, detail wajah dan—tentu saja—telinga anjing.

“Fiuh,” dia menghela nafas. Dua menit kemudian, Marie akhirnya menjauhkan pena-nya dari buku gambar dan menunjukkan ekspresi puas. Dibuku gambar yang ada di tangannya, terdapat sebuah gambar seorang pemuda berambut pirang dengan telinga anjing dan tidak memakai pakaian atas.

… Huh? Apakah itu aku? Tapi aku masih memakai pakaianku, pikirku.

“Menakjubkan,” kata Nemesis.

“Yah, ok, itu bagus, tapi… itu bagus, tapi aku, uh…” aku tergagap.

Itu memang sebuah gambar berkualitas tinggi, tapi aku tidak tau bagaimana harus bereaksi setelah melihat gambarku yang tidak memakai pakaian atas dan memiliki telinga anjing. Gaya gambarnya sangat mirip dengan manga yang ada di majalah bulanan yang ditujukan kepada para remaja pria, tapi malah menarik banyak pembaca wanita, dan hal itu semakin membuatku sulit untuk mengomentarinya.

“Apakah disini ada Drawing Skill atau sejenisnya?” tanyaku.

“Ya, itu termasuk dalam sense skill, tapi ini adalah bakat asliku,” jawab Marie.

Oh, jadi dia juga pandai menggambar di dunia nyata, pikirku.

“Jadi, Ray, bagaimana kau bisa berakhir dengan telinga anjing yang menakjubkan itu?” tanya Marie.

“… Seekor penguin meracuniku.” Aku menceritakan detail pertemuanku dengan Mister Flamingo.

“Aku harus mengatakan bahwa penguin itu memiliki selera yang bagus,” kata Marie. “Aku pasti akan membeli Obat Telinga Binatang itu jika sudah beredar di pasaran.”

“Bukan berarti aku mau menghentikanmu, tapi… apakah kau serius?” tanyaku.

“Sangat,” jawabnya. “Ngomong-ngomong, Ray. Telinga anjing memang terlihat cocok untukmu, tapi menurutku telinga macan atau serigala aka—“

“Whoa, stop! Jangan berencana menggunakannya padaku!” Aku memotong perkataannya.

“… Tcih.”

Apakah jurnalis licik ini baru saja mendecakkan lidahnya?! Pikirku dengan kaget.

“Bagaimanapun, kau mengatakan bahwa efeknya akan hilang nanti sore,” kata Marie untuk mengubah subjek pembicaraan. “Apa yang akan kau lakukan sampai saat itu?”

“Aku berencana mengunjungi toko Alejandro, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukannya dengan hal yang muncul di kepalaku ini,” jawabku. Aku tidak ingin orang lain melihatnya.

Meskipun mungkin itu sudah tidak berlaku lagi karena mereka sudah dilihat oleh seseorang yang kukenal, pikirku.

“Hmm, aku benar-benar berpikir bahwa itu bukanlah hal yang terlalu besar,” kata Marie. “Kau seharusnya tidak terlalu memikirkannya.”

“Tapi—“

“Kau akan sulit menemukan tian yang akan terkejut melihat seorang Master yang tiba-tiba memiliki telinga binatang,” dia memotong perkataanku dan menjelaskannya. “Bagi sebagian besar tian, kita para Master adalah makhluk yang ada diluar akal sehat.”

Begitukah? Aku bertanya pada diriku sendiri. Yah, kalau dipikir-pikir, King of Destruction telah menghancurkan seluruh hutan dalam satu malam, jadi cukup masuk akal jika para tian berpikir seperti itu.

“Kalau begitu, kurasa aku akan pergi ke toko Alejandro,” aku menghela nafas.

“Aku masih sibuk dengan suatu hal, jadi aku tidak bisa bergabung denganmu,” kata Marie.

“Sibuk?” tanyaku.

“Berbagai macam persiapan dan sejenisnya,” dia menjawab, tetapi tetap tidak membuat semuanya menjadi jelas. “Ngomong-ngomong, jangan lupa untuk menemuiku besok siang.”

“Ya, aku mengingatnya,” kataku. “Lagipula, apa yang kau persiapkan?”

“Itu rahasia,” jawabnya. “Sampai jumpa besok!”

Setelah mengatakan hal itu, Marie berlari ke arah tertentu. Aku hanya bisa penasaran dengan kejutan seperti apa yang dia persiapkan untuk kami.

Setelah berpisah dengan Marie, Aku dan Nemesis berjalan menuju alamat toko yang kemarin telah diberikan oleh Alejandro kepada kami, yang terletak di distrik keempat Gideon.

Gideon adalah kota melingkar yang terbagi menjadi 12 distrik—membuatnya terlihat seperti potongan kue—dan distrik keempat adalah area yang berfokus pada perdagangan. Aku berjalan melewati pasar sambil mencoba untuk tidak tersesat diantara orang dan hal lainnya, dan akhirnya aku sampai di toko Alejandro.

Bangunan besar itu memiliki penanda yang bertuliskan “Perusahan Alejandro.” Aku mengintip kedalam dan melihat berbagai macam barang dijual disana. Tentu saja, disana ada senjata, armor, dan item penyembuh, tapi aku juga melihat hasil seni seperti lukisan dan patung. Disana juga ada buah-buahan dan makanan lainnya, dan mereka menciptakan pemandangan yang cukup kontras dengan jajaran permata yang ada disampingnya. Tempat ini lebih terlihat seperti sebuah supermarket.

“Selamat pagi,” kataku sambil masuk kedalam. Sesaat kemudian, seorang gadis muda—yang sudah jelas merupakan seorang pegawai—bergegas menghampiriku.

“Apakah Alejandro ada?” tanyaku.

“Oh! Anda adalah Master yang kemarin lusa!” dia berseru. “Terima kasih banyak atas apa yang sudah anda lakukan pada saat itu! Saya akan segera memanggil tuan pemilik!” gadis itu berlari kebagian dalam toko.

Dari perkataannya, sudah jelas bahwa dia merupakan salah satu tian yang menaiki kereta saat Gardranda menyerang. Aku tidak ingat apakah dia ada disana pada saat itu, sih. Bagaimanapun, keadaan disana benar-benar kacau.

“Sungguh gadis muda yang canggung,” kata Nemesis. “Dari aura yang ada di sekitarnya, aku berpendapat bahwa dia berbakat menjadi orang ‘ceroboh’.”

Aku tidak yakin bagaimana rasanya mendeskripsikan seseorang dengan satu kata, pikirku. Kata apa yang cocok untuk mendeskripsikan dirimu sendiri, Nemesis?

“Dewi,” dia menjawab tanpa ragu.

Yah, kau memang memiliki nama seorang dewi, ya, tapi menurutku kau lebih cocok dideskripsikan sebagai ‘loli tua bangk—“ pikirku dengan sengaja.

“Hei! Apa yang hendak kau pikirkan barusan?!” Nemesis berseru.

“Ha ha ha, jangan terlalu keras,” kataku. “Kau akan mengganggu pelanggan lain.”

“Tawa itu terlalu dipaksakan!” teriaknya, menebak apa yang kupikirkan.

Saat kami sedang bercanda, Alejandro berjalan keluar dari bagian dalam toko.

“Nah, bukankah itu adalah Mr. Ray,” katanya. “Anda sangat diterima disini.”

“Halo,” aku menyapanya. “Karena kau bersikeras bahwa aku harus berkunjung, maka aku datang untuk melihat barang daganganmu.”

“Oh, silahkan,” katanya. “Lihat mereka selama yang anda mau. Anda akan mendapatkan diskon pada apapun yang anda beli.”

“Terima kasih,” kataku.

Aku harus mendapatkan banyak perlengkapan yang sesuai dengan levelku saat ini, jadi diskon adalah hal yang sangat aku syukuri.

Juga, ada sesuatu yang mau tidak mau kusadari. Pegawai wanita yang tadi dan Alejandro tidak mengatakan apapun tentang telinga anjingku. Memang, gadis tadi memberikan beberapa lirikan, tapi dia sama sekali tidak mengatakan apapun. Alejandro, disisi lain, bertingkah seolah-olah telinga itu tidak pernah ada. Seperti yang diharapkan dari seorang pro.

Mungkin Marie benar tentang tian yang tidak terlalu memikirkan hal-hal yang terjadi pada Master.

Aku bersyukur pada hal itu. Harus menjelaskan telinga anjing ini kepada setiap orang yang kutemui akan menjadi benar-benar menjengkelkan.

Sekarang, aku hanya bisa berharap telinga ini menghilang sebelum aku bertemu dengan Rook lagi, pikirku.

“Oh, lihat, itu Ray dan Nemesis,” kata seseorang yang ada di dalam toko. “Selamat pagi. Senang melihat kau sudah login.”

“Halloo,” diikuti sebuah suara feminin. “Oh? Kenapa kau memiliki telinga itu, Ray?”

Aku berbalik dan melihat Rook dan Baby, yang—kelihatannya—sudah datang ke toko ini lebih dulu dari kami.

Aku kehabisan kata-kata. Ini kedua kalinya untuk hari ini dimana harapanku langsung mati tepat pada saat aku memikirkannya, pikirku. Apakah telinga anjing ini dikutuk atau sejenisnya?

“Jika kau mempertimbangkan semua yang terjadi sejak kau login pagi ini, item yang dikutuk mungkin adalah Miasmaflame Bracers, bukan telinga itu,” kata Nemesis.

… Kau benar, pikirku.

“Ray, bagaimana kau bisa berakhir dengan telinga yang bagus itu?” tanya Rook.

“Ini adalah hasil dari ini dan itu yang terjadi karena hal ini dan hal itu,” kataku.

“Tentunya kau tidak berharap dia memahami hal itu,” komentar Nemesis.

“Begitu,” kata Rook. “Kau berakhir seperti itu karena ada orang licik yang menjebakmu untuk meminum semacam obat, kan?”

“Dia benar-benar bisa memahaminya?!” Aku dan Nemesis tidak bisa menyembunyikan keterkejutan kami.

Apakah kau adalah Esper atau sejenisnya? Pikirku.

“Tidak, ini bukanlah kekuatan super atau sejenisnya,” dia menjawab apa yang kupikirkan. “’Membaca pikiran’ seperti ini sebenarnya mudah jika kau sudah terbiasa.”

“Bagaimana kau bisa mengatakannya mudah saat kau berbicara dengan pikiranku dengan mudahnya sama seperti yang dilakukan Nemesis?!” tanyaku, masih tercengang.

“Ohh… sungguh pukulan keras pada identitasku.” Kaget karena suatu alasan, Nemesis jatuh berlutut.

“Itu sangat menakjubkan, Rook.” Kataku. “Kau tidak akan terkalahkan saat bermain old maid.”

“Old maid, huh…” katanya. “Aku tidak yakin jika kemampuanku ini bisa kupakai dengan sempurna pada orang yang tidak kukenal, sih. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan pada orang asing adalah mengatakan apa yang mereka rasakan dan menyadari jika mereka memiliki niat tersembunyi.”

Tetap saja itu menakjubkan, pikirku.

Setelah Rook mengejutkan kami dengan kemampuannya, kami mulai melihat-lihat barang yang ada di toko ini.

“Lagipula, kenapa kau ada disini?” aku bertanya kepadanya. “Untuk mengatakan hai dan membeli beberapa perlengkapan, kurasa?”

“Ya,” jawabnya. “Bukan hanya untukku dan Baby. Aku baru saja mengetahui bahwa aku juga bisa membelikan senjata untuk Marilyn dan Audrey. Juga, kami pergi leveling kemarin, jadi aku memiliki beberapa drop yang bisa dijual.”

Jadi disini juga ada perlengkapan untuk monster, huh? Pikirku. Toko ini benar-benar memiliki item yang sangat bervariasi.

“Leveling, eh? Kataku. “Level berapa kau saat ini?”

“48,” jawabnya.

… D-Dia sudah hampir mencapai level maksimal yang bisa dicapai job tingkat rendah, pikirku. Itu hampir dua kali lipat dari levelku saat ini. Bagaimana aku harus menanggapi hal ini?

“Sepertinya ada orang yang benar-benar sibuk selama aku offline…” gumamku.

Aku hanya bisa berpendapat bahwa memiliki Marilyn dan Audrey telah membuat proses levelingnya menjadi lebih efektif. Sial, Rook dan Baby benar-benar sudah menjadi mimpi buruk dalam pertarungan berskala besar hanya dengan mereka berdua.

“Aku hampir mencapai level 50, jadi aku harus mulai bekerja untuk segera berganti ke job tingkat atas,” kata Rook.

“Apakah kau memiliki rencana?” tanyaku.

“Ya, aku melakukan penelitian dan menemukan bahwa job tingkat tinggi milik Pimp disebut ‘Lost Heart’,” jawabnya.

Lost Heart, eh? Pikirku. Hal itu berdasarkan kata dalam bahasa Jepang yang digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang telah kehilangan delapan kebajikan seperti yang disebutkan dalam The Eight Dog Chronicles. Istilah itu juga mengacu pada orang-orang yang mengelola tempat hiburan. Penamaan yang cukup unik.

“Ini adalah persyaratannya.” Rook mengeluarkan sebuah Katalog dan menunjukkan halaman Lost Heart kepadaku.

 

Persyaratan no. 1: Mencapai level 50 sebagai Pimp.

Persyaratan no. 2: Total stats semua monster bawahan dan budak perempuan telah mencapai batas tertentu.

Persyaratan no. 3: Total uang yang dihasilkan oleh monster bawahan dan budak perempuan harus berada diatas 1,000,000 lir.

 

“Begitu,” kataku. Tidak seperti Paladin, itu tidak memiliki satupun persyaratan yang melibatkan hubungan dengan manusia lain atau beberapa kemenangan khusus. Faktanya, semuanya bisa dicapai hanya dengan bermain sebagai Pimp dalam jangka waktu tertentu. Persyaratan itu mungkin menjadi salah satu alasan kenapa job itu tidak diklasifikasikan sebagai job yang fokus pada pertarungan.

“Aku hampir mencapai level 50, dan persyaratan kedua sudah terpenuhi,” kata Rook. “Persyaratan ketiga akan butuh waktu agak lama, sih.”

“Ya, kelihatannya itu memerlukan kerja keras,” kataku.

Apakah Pimp bahkan bisa menghasilkan uang menggunakan makhluk seperti Marilyn dan Audrey? Pikirku.

“Kurasa mereka akan sangat membantu dalam pekerjaan bangunan,” kata Rook.

Aku berkata, “Kupikir salah satu game retro yang dimiliki kakakku memiliki beberapa monster peliharaan yang bekerja di sekitar lokasi pembangunan… Hm?”

Aku baru menyadari bahwa Rook mengenakan pakaian yang berbeda dengan yang dia pakai kemarin. Itu adalah sebuah mantel yang kelihatan memancarkan cahaya perak yang aneh.

Yah, itu tampak baru, pikirku.

“Itu adalah mantel yang tampak menakjubkan, Rook,” kataku. Detail hiasan yang rumit, dan kilau logam itu benar-benar keren.

Lengan mantelnya memiliki panjang yang berbeda, yang membuatnya terlihat sangat stylish, dan Rook—yang merupakan orang tampan—membuatnya terlihat semakin bagus. Dia tidak mengenakan hal itu kemarin, jadi aku hanya bisa berpendapat bahwa dia mendapatkannya saat aku sedang offline.

“Oh, ya. Aku sangat menyukai Liz,” katanya.

Kau bahkan memberinya nama? Aku mengangkat satu alisku.

Tiba-tiba, mantel itu bergerak dengan cara aneh. Aku tidak tau kenapa, tapi pergerakan itu tampak seolah-olah menunjukkan kegembiraan.

Sambil melakukan ini dan itu, aku selesai memilih semua yang kubutuhkan. Karena aku ingin memakai Miasmaflame bracer tidak peduli bagaimanapun caranya, aku tidak membeli set armor seperti item Riot series.

Dalam kasusku, salah satu equipment terpenting adalah armor dada, dan karena Rook terlihat benar-benar keren dalam mantelnya, aku juga memutuskan untuk membeli mantel. Mantel itu memiliki nama “Blaze Metal Scale Coat.”

Itu terbuat dari kulit berwarna merah milik monster sejenis serigala dan diperkuat dengan banyak sisik logam. Mantel itu memiliki dua skill—“Fire Affinity” dan “Fire Resistance.” Yang pertama meningkatkan damage berbasis api milikku sebesar 10%, sementara yang kedua mengurangi damage yang kuterima dari serangan berbasis api dengan jumlah yang sama, membuatnya cocok dengan Purgatorial Flame. Tentu, ini adalah sebuah item mewah yang berharga 80,000 lir, tapi aku tidak menyesal karena telah memilihnya.

Aku membawa equipment lain yang kupilih dan berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

“Eh?” Tepat di samping kasir, terdapat sebuah mesin yang sering kau lihat di dunia nyata.

Itu adalah sebuah kotak persegi panjang dengan banyak kapsul berbentuk bulat di dalamnya. Dengan memasukan uang kedalam mesin, kau dapat menarik tuas dan membuat sebuah kapsul keluar.

Pada dasarnya itu adalah sebuah mesin penjual gacha otomatis.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

One Comment Add yours

  1. yuu shion says:

    Kanyanya lucknya si ray bakal kesedot menin gacha nihhh…..
    Thanks zen dilanjut..

    Like

Leave a Reply to yuu shion Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s