Infinite Dendrogram Volume 2 Chapter 1 B

Volume 2
Chapter 1 – Pagi di Gideon Bagian 2

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Keesokan harinya, aku segera log in setelah bangun tidur.

Aku tidur cukup lama sampai-sampai satu hari telah terlewat di dalam game. Fitur waktu tiga kali lebih cepat di Infinite Dendrogram ini memang berguna, tapi situasi seperti ini membuatnya tampak membingungkan dan bahkan merepotkan. Waktu di dunia nyata sekarang ini adalah pukul 6 tepat, dan matahari baru saja mulai terbit.

Sesaat setelah aku log in, Nemesis keluar dari lambang yang ada di tangan kiriku dan menyapaku. “Selamat pagi, Master. Kau benar-benar datang awal hari ini.”

“… Lucu, mengingat pada dasarnya aku ketiduran jika dilihat dari waktu dunia nyata,” kataku.

“Jadi apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Nemesis. “Ini masih terlalu pagi bagi toko-toko untuk buka.”

“Yah, aku berpikir untuk melakukan itu setelah mendapatkan beberapa equipment baru, tapi kurasa aku akan melakukan pengetesan terlebih dahulu,” jawabku.

“Pengetesan? Untuk apa?” dia kembali bertanya.

Aku mengangkat kedua tanganku di depannya. “Ini.” Tanganku di tutupi oleh dua buah armor. Miasmaflame Bracer milikku.

Sama seperti ibukota kerajaan, sebagian besar kota di kerajaan selalu membuka gerbang mereka. Ada banyak alasan untuk hal itu, tapi salah satunya adalah fakta bahwa ada banyak Master yang aktif di malam hari. Akan menjadi sangat tidak nyaman jika mereka hanya di izinkan masuk di siang hari, dan akan ada banyak orang yang mencoba melewatinya dengan cara memanjat dinding pembatas. Oleh karena itu, gerbang kota buka selama 24 jam per hari. Ada tiga shift penjaga, dan itu mengingatkanku dengan pekerjaan paruh waktu di mini market.

Saat aku melewati gerbang utara dan menyapa para penjaga yang berdiri disana, mereka menyapa balik dengan agak mengantuk.

Segera setelah meninggalkan kota, aku berdiri di Nex Plain, tempat yang sama dengan yang kulewati kemarin.

Aku berkeliaran di sekitar tempat itu untuk mencari monster yang dapat kugunakan sebagai kelinci percobaan, dan tidak butuh waktu lama sampai aku menemukan satu Goblin Warrior. Aku sudah terbiasa dengan monster ini, jadi aku pasti dapat mengalahkannya bahkan jika pengujian ini gagal. Bagaimanapun aku melihatnya, itu adalah sebuah target yang bagus.

“Kau mengatakan bahwa kau ingin menguji sarung tangan pelindung itu, tapi apakah ada hal lebih spesifik yang kau pikirkan?” Tanya Nemesis dalam bentuk pedangnya.

“Yah, Miasmaflame Bracer ini memiliki skill tambahan, kan? Aku ingin tau apakah kita dapat menggunakannya,” kataku. “Aku tidak suka dengan ide untuk mencobanya pada sesuatu yang lebih kuat dari diriku.”

Aku sudah mendapatkan Vengeance is Mine selama pertarungan melawan Demi-Drag dan Like a Flag Flying the Reversal saat bertarung melawan Gardranda, tapi aku tidak bisa terus bergantung pada skill yang belum terbiasa kugunakan untuk mencocokkan dengan situasi yang kualami dan membawaku menuju kemenangan. Pengujian adalah hal yang penting.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menguji dua skill yang ada pada item ini—Purgatorial Flames dan Hellish Miasma. Aku tidak dapat menggunakan skill yang bernama “???”, jadi itu ditunda untuk saat ini.

Yang pertama adalah skill penyembur api, sementara yang kedua adalah skill yang mengeluarkan gas beracun. Jika aku dapat menguasai mereka, aku akhirnya akan memiliki serangan selain serangan standar dan Vengeance is Mine. Bagaimanapun, harus menggunakan Gem hanya untuk mengaktifkan sihir itu cukup boros.

“… Oh, itu mengingatkanku bahwa Gem itu masih tersisa beberapa,” gumamku.

Tiba-tiba, Goblin itu menyadari bahwa aku ada disana dan berlari ke arahku sambil mengayunkan senjatanya.

“Baiklah, kalau begitu… Purgatorial Flames.” Aku menjulurkan tanganku ke arah Goblin itu dan membuka telapak tanganku ke arahnya.

Sesaat kemudian, mulut iblis yang ada di sarung tangan pelindung itu terbuka…

“Eh?”

… dan mengeluarkan sebuah api crimson besar yang menutupi pandanganku dengan warna merah.

“AAAGHHHH!”

Sial, itu membuat HP ku turun dengan cepat! Pikirku. Ini adalah seranganku sendiri, jadi Paladin Aegis dan skill defense lainnya tidak berpengaruh padanya.! Oh, sial! Aku bahkan mendapatkan debuff “Burn”.

“Dasar bodoh! Apakah kau mencoba membunuh dirimu sendiri?! Oh! Goblin itu mendekat!” teriak Nemesis.

“OAAGHH!”

Damage yang disebabkan oleh diriku sendiri telah mengubah itu menjadi sebuah pertarungan yang sangat berbahaya. Aku dengan putus asa mempertahankan diriku dari serangan Goblin itu, menggunakan beberapa skill dan item penyembuh, dan akhirnya bisa memenangkannya dengan tipis.

Pelajaran didapat. Hal yang sama pentingnya dengan pengujian adalah, seseorang harus selalu mengutamakan keselamatan.

*

“… Baiklah, waktunya untuk menenangkan diriku dan menguji Hellish Miasma,” kataku.

“Apakah kau yakin kali ini akan berhasil?” tanya Nemesis.

“Pasti,” jawabku. “… Kurasa.”

Setelah mencari mangsa baru untuk sesaat, aku bertemu dengan seekor monster bipedal mirip tumbuhan. Kalimat yang ada di atas kepalanya mengatakan “Walking Grapevine”, dan sama seperti namanya, itu pada dasarnya adalah sebuah pohon anggur berjalan dengan banyak anggur yang menggantung padanya.

“Apakah hal itu bahkan bernafas?” tanya Nemesis. “Bukankah akan lebih baik jika membakarnya?”

“Aku akan menguji Hellish Miasma saat ini. Dan ya, tumbuhan juga bernafas, jadi ini seharusnya berhasil,” jawabku. “Hellish Miasma! Release!”

Kali ini, aku memastikan wajah yang ada di punggung tanganku menghadap ke arah musuh dan dengan demikian akan mencegah asap itu mengenai diriku sendiri.

Sama seperti yang kuinginkan, miasma itu mengelilingi Walking Grapevine… dan kemudian sebuah angin kencang berhembus dan membuat asap itu kembali ke arahku.

“GYAAAHHH!”

“Aku tau ini akan terjadi!” teriak Nemesis.

Mencoba untuk menahan nafasku, aku meloloskan diri dari awan beracun itu.

Njir, itu tadi hampir saja, pikirku. Aku hampir dihancurkan oleh skill-ku sendiri.

“Sekarang, mari lihat apa yang terjadi pada monster setelah menerima hal itu.” kataku. Aku melihat saat angin menghilangkan miasma itu dan menunjukkan Walking Grapevine, yang jelas sedang menderita karena menerima debuff.

“Kelihatannya itu efektif,” kata Nemesis. “Namun, sulit untuk menggunakannya di hari yang berangin, dan mencoba menggunakannya di ruang tertutup bahkan bukanlah sebuah pilihan.”

“Ya, aku tidak bisa menyangkal bahwa ini adalah skill yang sulit digunakan,” kataku.

Saat kami sedang membicarakan hal itu, sesuatu terbang dan masuk tepat ke mulutku.

“Hghuh?!” Aku tanpa sengaja menggigit dan menelannya. Apa yang kurasakan—manis dan masam—adalah rasa dari buah anggur.

Sebuah anggur, berarti.

Ya, Walking Grapevine itu benar-benar menyerangku menggunakan anggur.

“Seranghan macham apha ithu?!” Aku berseru kebingungan.

“Master, jangan berbicara saat mulutmu penuh,” kata Nemesis.

Serius, apa yang harus kukatakan tentang serangan ini? Pikirku. Anggur itu cukup enak, dan bahkan jika mereka mengenai tubuhku, mereka hanya membuatku sedikit kotor dan sama sekali tidak terasa sakit—

“Guh…” Ekspresiku tiba-tiba berubah.

“Master, ada apa?! Apakah serangan itu beracun?!” tanya Nemesis dengan bingung.

Racun? Pikirku. Ya, itu beracun.

Stat-ku jelas-jelas menunjukkan bahwa aku telah menerima debuff. Nama debuff itu adalah Poison, Intoxication, dan Weakness.

“Mereka adalah debuff yang sama dengan yang kuberikan kepadanya…!” kataku. Tampaknya, buah itu terpapar racun milik miasma itu dan aku malah ikutan mendapatkannya karena memakannya. Aku benar-benar tidak tau bahwa debuff bisa berjalan-jalan seperti itu.

“M-Master!” seru Nemesis. “Ada beberapa monster yang datang kemari!”

Aku berbalik dan melihat beberapa Goblin dan monster tipe hewan disana-sini. Mereka semua kemari karena diriku—atau lebih tepatnya, jus buah yang ada di tubuhku.

“Begitu, jadi inilah tujuan dari serangan itu…” gumamku.

Lalu, dengan masih berada dalam efek debuff, aku diserang oleh sekelompok monster yang berjumlah lebih dari sepuluh.

*

“Kita bertemu dengan masalah yang tak terduga, tapi kupikir sekarang aku sudah tau cara kerja skill-skill ini,” kataku.

Meskipun terjadi kegagalan besar dalam penggunaan pertama, aku segera mengetahui bahwa Purgatorial Flames adalah skill yang sangat efektif.

Pertama, itu sangat kuat. Itu benar-benar memberikan damage yang lebih besar dari pada serangan standar-ku. Aku juga bisa terus mengeluarkannya selama aku memiliki MP, ditambah lagi itu juga bisa memberikan debuff Burn atau tingkat yang lebih atas—Charring. Sama seperti namanya, itu adalah debuff yang bisa mengubah lengan milik Goblin yang sudah terbakar menjadi arang.

Itu memang kuat, tetapi selain pada musuh, Purgatorial Flames juga akan mengenai kawan.

Sial, bahkan itu juga mengenaiku, jadi aku harus benar-benar berhati-hati saat menggunakannya, pikirku.

Dan juga, kekuatannya lebih rendah daripada api milik Gardranda. Jika kekuatannya sama, kegagalan pertama tadi mungkin sudah menerbangkan kepalaku. Aku hanya bisa berpendapat bahwa Purgatorial Flames lebih lemah dari pada aslinya entah karena efeknya dikurangi setelah menjadi equipment, atau hanya karena aku adalah makhluk yang lebih lemah. Karena fakta bahwa ada skill yang masih belum terbuka, sepertinya sudah jelas bahwa aku belum bisa menguasai Miasmaflame Bracer saat ini.

Dan meskipun itu menyebabkan diriku masuk kedalam masalah tak terduga dengan diserang oleh lebih dari sepuluh monster, pengujian Hellish Miasma juga bisa dianggap berhasil.

Njir, itu tadi berbahaya, pikirku. Jika aku tidak mengaktifkan Reversal, aku pasti sudah mati sekarang.

Satu-satunya alasan kenapa aku bisa bertahan adalah karena aku bertarung melawan para monster itu sambil diperkuat oleh debuff yang sudah diputar-balikkan.

Pada saat pertarungan itu berakhir, Walking Grapevine itu telah menyerah pada Poison dan mati. Aku beruntung karena menemukan bahwa memberikan debuff kepada monster dan kemudian mendapatkan debuff itu kembali dengan cara memakan bagian tubuh monster itu akan dihitung sebagai debuff yang berasal dari monster itu.

Meskipun aku tidak tau apakah itu akan berguna dalam pertarungan, pikirku. Bagaimanapun, aku tidak memakan monster saat sedang bertarung.

Apapun itu, aku harus extra hati-hati saat menggunakan Hellish Miasma.

Oh, aku hampir lupa menyebutkannya. Karena Walking Grapevine itu telah mati, Reversal tidak lagi efektif. Oleh karena itu, saat ini aku sedang disiksa oleh debuff.

“Uoghh…” Aku mengerang. “First Heal.”

Sambil terbaring di atas tanah karena Intoxication dan Weakness, aku menggunakan sihir penyembuh untuk memulihkan HP-ku, yang dikuras oleh Poison.

Karena Purgatorial Flames itu lebih lemah, aku berharap agar hal itu juga berlaku pada Hellish Miasma, tapi sudah jelas itu tidak terjadi. Ini hampir sama buruknya dengan saat Gardranda memberikan debuff ini kepadaku.

“Mungkin ini menjadi kurang efektif pada makhluk yang lebih kuat,” renung Nemesis. “Levelmu masih rendah, jadi kelihatannya pengaruhnya terhadap dirimu masih terlalu kuat.”

“K-Kau mungkin benar…” gumamku.

Saat mempelajari cara debuff itu diberikan dan hubungan antara Burn dan Charring, aku mulai percaya bahwa beberapa debuff dapat berubah tergantung pada seberapa besar penyebabnya. Katakanlah seseorang diserang oleh sesuatu yang mengandung debuff, dan menyebabkan “tingkat” debuff milik orang tersebut meningkat dan membuat sebuah debuff muncul. Apakah akan benar-benar aneh untuk menggunakan serangan seperti itu secara terus menerus untuk mengumpulkan tingkat debuff dan membuat efeknya menjadi lebih besar?

Dengan kata lain, menghirup miasma itu dalam waktu lama mungkin akan menyebabkan munculnya beberapa debuff baru, pikirku. … Bukan berarti aku mau mencobanya.

“Tapi njir, ini buruk, “ kataku. “Aku mungkin harus kembali ke kota sambil merangkak.”

“Itu akan terlihat sangat buruk,” kata Nemesis. “Oh…?”

Saat aku melihat ke arah Gideon—sambil masih terbaring di atas tanah—sebuah bayangan mendekatiku.

Aku menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di belakangku, jadi aku bangun dengan perlahan dan melihat siapa itu. Aku sedang tidak terburu-buru karena aku masih berada dalam efek debuff dan merasakan bahwa kehadiran itu tidak memiliki aura permusuhan, tidak seperti Goblin dan sejenisnya.

“… Eh?” kataku, tercengang.

Pemikiranku itu telah berubah menjadi benar dan salah. Hal itu sudah pasti bukan seekor monster. Namun, itu sudah pasti adalah makhluk yang akan membuat seseorang merasa waspada.

“…”

Itu adalah seekor Penguin. Sebuah kostum penguin sebesar beruang sedang menatap ke bawah ke arahku.

“Huh?!” Aku segera mencoba untuk mundur, tapi debuff itu membuatku tidak bisa bergerak seperti yang kuinginkan. Bahkan saat aku mulai panik, penguin itu tidak melakukan apapun selain terus menatapku, sama sekali tidak bergerak.

“… Apakah Kakak Beruang membeli kostum baru?” tanya Nemesis.

“Tidak, itu bukan kakakku,” jawabku.

Namun, dia juga tidak terlihat seperti monster atau PK.

Kelihatannya apa yang dia lakukan hanya mengamatiku.

“Apa kau ini?” tanyaku.

“Apa aku ini, tanyamu? Heh heh heh heh… Oops!” Menanggapi pertanyaanku, penguin itu—suaranya terdengar seperti laki-laki—benar-benar menghancurkan sikap diam dan tidak bergeraknya dan melompat ke atas.

Setelah melakukan beberapa kali melakukan putaran di udara, dia mendarat dan melakukan pose V.

“Namaku adalah Fla… MINGO! Jika kau mau, kau bisa memanggilku Dr. Flamingo.”

Sungguh orang aneh. Pikirku.

“Apakah kau akan mengatakan bahwa kostum-kostum itu adalah sebuah tanda grup lawak?” tanya Nemesis.

Sampai saat ini kita baru melihat dua, pikirku. Jika kita menemukan yang orang aneh berkostum yang ketiga, aku akan menerima pemikiranmu itu.

Tapi, kesampingkan hal itu…

“Flamingo?” Aku mengangkat alisku. “Itu sebuah kostum penguin, kan?”

Itu mengingatkanku pada Penguin Adelie, yang ada di banyak kebun binatang. Warna utamanya adalah hitam dan putih, dan tidak ada orang yang mungkin salah mengenalinya dengan burung mencolok berwarna pink yang merupakan nama orang ini.

“Siapa yang peduli dengan hal itu?! Yang jadi masalah disini adalah kelihatannya kau sedang berada dalam situasi terjepit! Minumlah ini!” Penguin itu merogoh sakunya—yang terletak di daerah perutnya—dan mengeluarkan sebuah botol obat yang berisi cairan di dalamnya.

“Apa ini?” tanyaku.

“Sebuah obat yang dapat menghilangkan semua debuff!” jawabnya. “Itu akan langsung menghilangkan semua status effect berbentuk penyakit!”

Aku tidak tau bagaimana harus menanggapinya. Jika dia tidak berbohong, aku akan dengan senang hati meminumnya, tapi pada dasarnya aku tidak memiliki alasan untuk mempercayai seekor penguin yang tampak mencurigakan seperti ini.

“Bukankah ini adalah jebakan?” tanya Nemesis.

Aku telah menjalani pelatihan dari Lei-Lei dengan alkohol palsu itu dan tau seberapa bahayanya hal itu, tapi jika penguin ini memiliki niat untuk menyakitiku, dia akan melakukannya saat aku sedang menggeliat kesana-kemari karena debuff ini. Dia tidak memiliki alasan untuk mempersiapkan jebakan bagiku.

“Terima kasih.” Aku mengambil obat itu dari tangan penguin itu, mengaktifkan Reversal hanya untuk jaga-jaga, dan perlahan meminumnya.

… Hei, ini cukup enak, pikirku. Itu memiliki rasa seperti jus buah.

Sesaat setelah aku meminumnya, debuff yang menggerogoti tubuhku segera menghilang…

“Habiskan itu, ok?” kata penguin itu.

… dan, disaat bersamaan, aku tiba-tiba diserang oleh sakit kepala yang luar biasa.

“Huh?! Kau…!” erangku.

“Jadi itu adalah sebuah jebakan!” seru Nemesis.

Sakit kepala itu membuatku jatuh berlutut dan memegangi kepalaku.

“Aku telah memperhatikanmu dan berpikir…” kata penguin itu.”… Obat seperti apa yang cocok untuknya?” Rasa sakit itu menjadi semakin parah.

“Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai sebuah kesimpulan! Aku hanya harus memberikannya prototype ini!” katanya.

Tak lama kemudian, rasa sakit itu menjadi benar-benar tidak tertahankan… dan kemudian itu menghilang seolah-olah rasa sakit itu tidak pernah ada sebelumnya.

“Huh?”

Apa-apaan ini? Pikirku. Sakit kepala itu menghilang dan tidak menyebabkan apapun.

Penguin yang menjebakku anehnya terlihat puas. Bukan berarti aku bisa melihat wajahnya, tapi tetap saja.

“Hei, obat apa yang barusan kau berikan kepada—?!”

“M-Master!” Nemesis menyela perkataanku. “Telinga! Telingamu!”

Menanggapi perkataannya, aku meraih telingaku, tapi tidak merasakan sedikitpun keanehan pada mereka.

“Bukan telinga yang itu! Telinga yang ada di atas!” dia berseru.

Telinga atas? Pikirku. Tapi aku hanya memiliki sepasang teling—

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang lembut.

“Hm…?”

Apa-apaan sensasi yang aneh ini? Aku sekali lagi meraih tempat yang baru saja kusentuh—area diantara daerah temporal dan calvaria. Dan sekali lagi, aku merasakan sesuatu yang lembut. Itu sebenarnya perasaan yang cukup nyaman. Itu mengingatkanku dengan telinga anjing Siberia yang pernah kumiliki…

“YA! Aku tau bahwa telinga itu akan terlihat cocok untukmu!” Dari suatu tempat, penguin itu mengeluarkan sebuah cermin besar. Di balik cermin itu, aku melihat diriku…

… dengan telinga anjing—yang berwarna emas sama seperti rambutku—muncul di atas kepalaku.

“…” … Ap— “APA-APAAN INI?!”

Insert1

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

3 Comments Add yours

  1. theo david says:

    kritik min dr ane untuk bahasa gaul kaya njir lebih baik dibuat bahasa yang normal aja soalnya kg nyambung dgn bahasa formal. thank you

    Like

    1. Zen Quarta says:

      Ane juga sependapat, sih :v

      Like

  2. Manusia says:

    Lanjut min..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s