Infinite Dendrogram Volume 1 Chapter 7 B

Volume 1
Chapter 7 – Cobaan Untuk Para Pemula Bagian 2

Penerjemah: Zen Quarta
Editor:
Sumber English: J-Novel Club

Goblin yang berada dalam gerombolan itu memiliki fisik yang lebih baik dari pada Little Goblin yang telah aku dan Rook lawan di Easter Plain.

Jika Little Goblin normal berukuran separuh tinggi badanku, goblin yang ada di depan kami mencapai 80% tinggi badanku. Bukan hanya itu, mereka juga memegang pedang dan panah, dan memakai armor yang bagus. Beberapa dari mereka bahkan menunggangi beberapa monster kecil yang mirip dengan dinosaurus karnivora. Nama yang ada di atas kepala mereka adalah—Goblin Warrior, Goblin Archer, dan Goblin Rider—yang semakin memperjelas bahwa mereka lebih kuat dari pada goblin yang kami lawan sebelumnya.

Dan mereka semua sedang menyerang kereta milik para pedagang.

Aku bisa melihat beberapa orang yang tampaknya adalah tian, sedang berusaha melawan mereka, tetapi sayangnya, jumlah para goblin itu jauh lebih banyak.

“… Itu benar-benar goblin yang sangat banyak. Dan sepertinya masing-masing dari mereka lebih kuat dari pada monster di Mountain Pass. Apa yang harus kita lakukan?” Marie mengamati musuh itu, dan bertanya apakah kami harus bergabung kedalam pertempuran itu atau tidak.

Aku mulai merenung. Kami adalah para pemula, dan menyebut kami kuat adalah sebuah kesalahan. Marie adalah seorang veteran, ya, tapi dia tidak dapat berpartisipasi dalam pertempuran, apalagi fakta bahwa kekuatan musuh akan jauh melebihi kekuatan kami meskipun Marie bisa bertempur.

Kami jelas-jelas memiliki kesempatan menang yang rendah. Pilihan yang paling aman adalah berbalik, mundur ke Mountain Pass, menunggu kumpulan goblin itu pergi, dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke Gideon.

Namun, itu berarti kami harus membiarkan orang-orang itu mati. Dan itu… akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.

“Rook, Marie,” aku berbicara. “Kita mungkin akan mendapatkan penalti kematian dan gagal melakukan quest karena hal ini, tapi…”

… Jika kalian tidak keberatan dengan hal itu, maka…

“Ayo lakukan itu,” Rook mengatakan hal itu sebelum aku dapat menyelesaikan perkataanku. Dan kemudian melepaskan mari dari Kereta Naga…

“Injak mereka semua.”

… dan mengarahkannya menuju para goblin.

“MMHOOOOO!” dia meraung dan langsung berlari.

Sambil mengarahkan tanduknya ke depan, Marilyn berlari ke arah gerombolan goblin itu dengan sekuat tenaga. Saat mereka menyadari kehadiran sesuatu selain kereta—mangsa mereka—itu sudah terlalu terlambat. Hampir empat belas goblin dimusnahkan oleh tanduk Marilyn.

“Ayo, Ray.” Kata Rook. “Marilyn mungkin memang kuat, tapi itu masih terlalu banyak untuk dia tangani sendiri.”

“… Ya!” aku menyetujui itu.

“Begitu”. Nemesis kelihatannya menyadari sesuatu. “Sama seperti Master-ku yang kasar, bawahan Rook itu kelihatannya juga memiliki sisi yang berbahaya.”

“Mrrgh!” Gerutu Baby. “Tidak adil, Marilyn! Aku sudah bersamanya terlebih dahulu, jadi akulah seharusnya yang paling banyak melakukan sesuatu!”

Aku, Rook, dan Baby melompat ke tempat kosong yang dibuka oleh Marilyn dan mulai bertarung melawan goblin yang ada di sekitar kami.

“Hghaah!” Aku mempererat peganganku pada Nemesis—yang sudah berada dalam bentuk pedang—dan mengayunkannya ke arah Goblin Warrior yang ada didepanku dengan sekuat tenaga. Bilah pedang Nemesis mengenai bahu Warrior itu, tetapi armor yang dia pakai menghentikan bilah itu setelah hanya menancap 10 cm di bahunya.

“Ghghee!” Luka itu tidak parah, jadi Warrior itu masih mencoba mengayunkan senjatanya ke arahku.

“Kalau begitu bagaimana dengan… ini?!” Aku mengangkat pedangku ke atas—mengangkat Warrior itu ke atas—dan segera mengayunkannya kembali ke tanah. Momentum yang ditambahkan pada seranganku membuat Warrior—dan armornya—terbelah dua.

Berkat level yang kudapatkan barusan, hal seperti itu tidak terlalu sulit bagiku.

Tapi butuh waktu agak lama untuk melakukannya, pikirku. Jadi selanjutnya, aku akan langsung mengincar leher mereka.

“Heh heh heh, sungguh pertarungan yang agresif,” Nemesis terkekeh. “Ini adalah kesukaanku.”

Yah, kelihatannya seseorang sedang bersenang-senang, pikirku. Aku merasa itu agak aneh karena dia tidak bisa menangani zombie, tetapi dia baik-baik saja dengan semua adegan gore ini.

“Di belakangmu!” dia memperingatkanku.

“… Whoa!” Aku berbalik, mengayunkan pedangku kesamping dan menebas Warrior yang mencoba menyerangku dari belakang.

Sayang baginya, memiliki Nemesis di sisiku pada dasarnya membuatku dapat melihat ke segala arah. Di kelilingi oleh musuh bukanlah sebuah masalah bagiku.

“Siapa kalian?!” salah satu pengawal yang sedang bertarung untuk melindungi kereta itu berseru.

Aku memutuskan untuk mempersingkat perkenalan kami.

“Kami adalah Master yang sedang menuju ke Gideon,” kataku. “Kami datang untuk membantu. Demi-Dragon itu berada di pihak kita, jadi jangan menyerangnya.”

“Begitu! Maka, kami tidak akan menyerangnya! Terima kasih atas bantuan kalian!” Merasa yakin, dia mulai menceritakan tentang kami kepada teman-temannya.

Dengan itu, sekarang sudah jelas siapa yang berada di sisi siapa. Tentu saja, karena musuhnya hanya para goblin dan mount mereka, hanya memberitahu mereka tentang Marilyn sudah lebih dari cukup. Namun, kami masih benar-benar kalah jumlah.

Di kelilingi oleh para goblin, Marilyn tidak bisa mendapatkan kecepatan yang cukup untuk membunuh mereka secepat di awal tadi. Para pengawal kereta melakukan yang terbaik yang mereka bisa, tapi itu masih tidak cukup untuk mengalahkan perbedaan jumlahnya.

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Rook dan Baby tidak bersama dengan kami.

Aku melihat sekeliling dan menemukan mereka berdua sedang berdiri di tempat yang sama.

Hanya itulah yang mereka lakukan. Meskipun ada kekacauan di sekeliling mereka, mereka hanya berdiri disana, saling membelakangi.

Namun, mereka segera bergerak.

“Male…”

“Lilim…”

Rook mengulurkan tangan kanannya… sementara Baby mengulurkan tangan kirinya…

“… Temptation!”

… dan—sambil mengatakan itu secara bersamaan—mereka menggerakkan tangan mereka seolah-olah sedang memanggil sesuatu.

Sesaat kemudian, seekor Goblin Warrior betina tertentu menebas goblin yang ada di sampingnya.

Satu lagi—seekor Goblin Archer yang kelihatannya berperan sebagai komandan—tiba-tiba menghancurkan kepala mount yang dia tunggangi.

“Ghgheee?! Kak! Ap-Apa yang kau lakukan?!”

“Kapten?!”

Teriakan, kebingungan, dan—yang terpenting—kekacauan mulai menyebar di antara pasukan goblin. Jumlah korbannya meningkat dalam sekejap. Satu per satu, para goblin kehilangan kewarasan mereka dan mulai menyerang kawannya sendiri.

Goblin yang terkena debuff Charm menyerang goblin lain yang tidak terkena debuff itu, sementara mereka yang tidak terkena debuff itu ragu untuk melawan balik dan pada akhirnya akan ikut terkena debuff itu atau mati begitu saja.

Kerusakan yang ditimbulkan kelompok itu meningkat dengan tajam, dan kemudian saat semua goblin itu sudah mati atau terkena debuff Charm…

“Lilim Draaain!”

…. Baby mulai menguras semua HP dari para goblin yang terkena debuff Charm.

Hal itu membuat beberapa dari mereka tersadar, tapi sama seperti sebelumnya, mereka hanya akan dibunuh oleh goblin yang masih terkena debuff itu atau terkena debuff itu lagi.

“Terima kasih untuk makanannyaaa!”

Mengingat betapa mengerikannya situasi itu bagi para korban, suara Baby yang terdengar santai itu cukup tidak pantas. Namun, perkataan itu adalah hal yang menandai akhir dari pertempuran itu.

Gerombolan goblin itu telah benar-benar dimusnahkan. Kecuali para goblin yang telah dikalahkan oleh pengawal kereta, seluruh goblin itu telah dibunuh oleh kawannya sendiri atau dihisap sampai kering seperti mumi.

“Berkebalikan dengan serangan balik milik kita—yang efektif melawan boss tunggal seperti kelabang sialan itu—kemampuan mereka sangat bagus untuk memusnahkan sekelompok monster kecil,” komentar Nemesis.

Dia benar. Kekuatan kami dan kekuatan mereka benar-benar berbeda. Dengan menggunakan Charm, Rook dan Baby telah menciptakan sekutu yang tersebar didalam pasukan musuh. Hal itu membuat musuh tidak bisa fokus pada serangan mereka, dan menghancurkan semua kerja sama yang mereka miliki.

Saat mereka mencoba pulih dari hal itu, efek dari Charm telah menyebar dan membuat lebih banyak dari mereka beralih ke sisi Rook. Perulangan spiral kebawah. Itu adalah skenario paling buruk dalam setiap pertempuran kelompok.

“Aku bersyukur karena mereka bukan musuh kita,” kata Nemesis.

Aku tidak bisa membantahnya.

Para pengawal tian dan bahkan para pedagang di dalam kereta itu semuanya terkejut melihat apa yang baru saja Rook lakukan. Itu sudah wajar.

Kami benar-benar yakin bahwa dia bukan orang jahat, tapi tidak diragukan lagi bahwa apa yang baru saja dia lakukan itu benar-benar jahat.

Charm itu menakutkan—diskusi berakhir. Itu mengingatkanku kenapa aku takut kepada Rocbouquet.

“Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan ini didalam pertempuran, dan aku sangat bersyukur karena ini berguna,” kata Rook.

“Itu tidak begitu enak, tapi aku benar-benaaar kenyang sekarang!” Kata Baby.

Fakta bahwa mereka adalah seorang Master dengan low-rank job dan Embryo bentuk pertama membuatku ketakutan hanya dengan membayangkan akan jadi seperti apa mereka dimasa depan, pikirku.

“Ah! Rook, Rook! Aku mendapatkan skill baru! Aku mencapai bentuk kedua!” teriak Baby.

“Benarkah?!” Rook berseru.

Dan tepat pada saat itulah aku mendengar mereka mengatakan hal itu.

Meskipun penampilannya tidak berubah, pertempuran ini—atau lebih tepatnya, “pemusnahan”—telah membuat Baby berevolusi. Itu tidak terlalu mengejutkan, mengingat berapa banyak goblin yang mereka musnahkan.

Aku melihat stat dasar milik Rook dan melihat bahwa dia juga, sudah sedikit berada diatas level 30 saat ini. Namun, aku juga sudah berada pada level 20.

“Selamat,” kataku kepada Rook.

“Terima kasih!” jawabnya. “Jadi, Baby, skill seperti apa yang kau dapatkan?”

“Umm… itu disebut ‘Drain Learning’!”

Rook melihat ke arah window Embryo-nya dan mengamati skill baru itu. Dia juga membiarkanku melihatnya, jadi aku membaca rinciannya.

Itu mengatakan “Memberikan kesempatan kecil (1%) untuk mempelajari skill dari monster yang sedang dihisap.”

 

 

“…… Mempelajari, eh?” aku berkata pada diriku sendiri. Itu hampir sama seperti blue magic dari sebuah seri RPG yang terkenal. Pada dasarnya, itu memungkinkan penggunanya untuk mempelajari dan meniru skill milik monster musuh.

Dalam kasus Baby, kemungkinan itu terjadi hanya 1%. Namun, jika perhitunganku benar, itu artinya dia memiliki kesempatan lebih dari 60% untuk mendapatkan skill baru setelah menghisap seratus musuh yang sama. Karena di game ini tidak ada batasan berapa banyak skill yang bisa dimiliki seseorang, itu memiliki potensi untuk menjadi kemampuan yang sangat berguna.

… Aku merasa bahwa dia akan menjadi benar-benar kuat di masa depan, pikirku.

Tiba-tiba, Nemesis mengeluarkan erangan yang tampak benar-benar gelisah. “Mmrgh…”

“Ada apa, Nemesis?” tanyaku.

“Aku merasa bahwa kau dan aku tidak bisa dibandingkan dengan mereka, dan aku merasa itu benar-benar menggelisahkan,” jawabnya.

“… Ayolah. Tidak ada yang peduli dengan hal itu,” kataku.

Yah, memang benar kalau kami tidak menjadi player yang kuat hanya karena mengalahkan satu Demi-Dragon Worm itu. Kami bahkan mati sekali. Dan lagi, jika yang kami temui adalah hewan buas seperti Superior Killer atau Figaro, kami pasti akan langsung kalah.

Itulah sebabnya itu semua menjadi terlalu buruk ketika kami tidak bisa pamer, pikirku.

Dan kemudian, meskipun itu mungkin tidak terkait dengan kekhawatiran Nemesis dan perasaanku…

“GOOOAAAAHHHHH!”

… sesuatu berteriak dan mendarat di atas mayat para goblin yang tercecer di medan pertempuran.

Tidak—kata “mendarat” itu kurang tepat, karena itu membuat hal itu tampak lembut. Sesuatu yang besar—seekor iblis—jatuh di medan pertempuran.

Kaki iblis itu menciptakan retakan di tanah—sehingga tampak gemetar—tapi monster itu sendiri sama sekali tidak terluka.

Dalam keterkejutan, aku menatap penampilan menakutkannya.

Itu mengerikan dalam setiap artian kata. Aku kekurangan kata untuk mendeskripsikannya. Sebagian dari tubuhnya berwarna cokelat dan hitam. Tanduk yang ada di kepalanya—digabungkan dengan sosok yang memiliki tinggi lebih dari lima meter—membuatnya terlihat persis dengan iblis kubayangkan. Namun, dia memiliki sebuah ciri yang tidak biasa.

Dia memiliki mulut besar di kepala dan kedua bahunya. Semua mulut itu mengeluarkan asap berwarna ungu gelap, sebuah pemandangan yang membuat keringat dingin mengalir dipunggungku.

Yang terakhir tapi bukan yang terakhir, kalimat “Great Miasmic Demon, Gardranda” terdapat di atas kepala monster itu.

Kehadiran mengintimidasi milik “Gardranda” ini sudah cukup untuk mempengaruhi kecepatan reaksi kami. Bahkan sebelum kami menyadarinya, dia mengangkat kaki kanannya, menginjak salah satu pengawal… dan kemudian melanjutkannya dengan sebuah pukulan menggunakan tinjunya yang besar—di arahkan kepadaku.

FrontMatter3

“Counter… Absorption!”

Nemesis menciptakan dinding cahaya tepat pada waktunya untuk menghentikan tinju Gardranda agar tidak mengenaiku secara langsung, yang benar-benar menurunkan damage yang kuterima.

Karena Nemesis sudah berpengalaman untuk mengaktifkan skill itu secara tiba-tiba. Nemesis memiliki reaksi yang cepat. Itulah hal terbaik pada situasi saat ini.

“Monster ini jauh lebih kuat dari pada para kelabang itu…!” teriaknya.

“Jadi itu benar-benar berada di atas Demi-Dragon Worm, huh?” tanyaku.

“Great Miasmic Demon, Gardranda”. Monster ini memiliki sebuah julukan dan sebuah nama.

Aku tidak pernah melihat monster dengan rincian seperti itu sebelumnya… Pikirku. Tunggu, bukankah namanya ada di dalam daftar bounty yang Nemesis baca kemarin?

“Ray! Rook! Berhati-hatilah!” Marie—yang berdiri diluar medan pertempuran—tiba-tiba berteriak ke arah kami. “Itu adalah Unique Boss Monster!”

Peringatannya membuatku mengingat sebuah informasi kecil yang telah kulihat di wiki.

UBM.

Sama seperti namanya, itu adalah sebuah istilah yang mengacu pada boss monster yang unik—tidak seperti makhluk lain yang ada di dunia ini.

Boss monster biasa, seperti Demi-Dragon Worm, sering muncul secara berkelompok. Tetapi berbeda dengan UBM. Hanya ada satu dari setiap UBM di seluruh dunia. Tidak ada UBM yang muncul saat ini pernah muncul sebelumnya, dan tidak ada UBM yang muncul di masa lalu yang akan kembali muncul. Mereka semua—tanpa terkecuali—benar-benar kuat dan bahkan memiliki kemampuan unik mereka sendiri. Sederhananya, mereka seperti “Master” dari faksi monster.

Oleh karenanya, mereka beberapa tingkat lebih kuat dari pada boss monster lain dengan level yang sama.

“Kenapa monster seperti itu muncul disini…?” Aku hanya bisa menanyakan hal itu. Mempertimbangkan kekuatan para goblin yang ada di sekitar kami, Gardranda terlalu kuat untuk berada disini.

Tunggu… para goblin? Pikirku.

“Aku paham apa yang terjadi…” kata Nemesis. “Iblis ini seperti pemimpin dari para goblin. Dia keluar karena para bawahannya telah dimusnahkan.

Dengan kata lain, dia datang kemari karena kami telah membuatnya marah. Namun, ada hal lain yang kupikirkan.

Aku mengalihkan pandanganku dan terdiam. Pandanganku tertuju pada sebuah mayat. Mayat itu adalah milik pengawal kereta yang diserang disaat bersamaan denganku. Itu adalah mayat orang yang baru saja kuajak berbicara beberapa saat yang lalu.

Mayatnya—tubu yang dihancurkan oleh iblis itu—tampak sedikit tidak nyata.

Tentu saja, aku hanya merasa seperti itu karena pengalamanku dengan mayat yang hancur tidak melampaui batas fiksi. Namun, tingkat rialistisme di dunia ini sudah lebih dari cukup untuk meniru berat…

beban dari hilangnya sebuah nyawa.

Sebelumnya aku sudah bertarung melawan undead dan melihat sekilas para player yang menghilang kedalam senja didalam hutan saat mereka sedang dibantai oleh Superior Killer. Bahkan, beberapa pengawal yang ada disini sudah mati di tangan para goblin sebelum kami bergabung kedalam pertempuran.

Namun, orang yang telah dihancurkan oleh Gardranda adalah orang pertama yang mati di depan mataku.

Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak tau namanya, ataupun tau orang seperti apa dia itu. Aku bahkan kesulitan untuk mengingat wajahnya.

Tapi… aku telah berbicara dengannya beberapa saat yang lalu.

Sekarang dia sudah tidak bisa ditolong lagi. Dunia ini tidak akan mengizinkan dirinya kembali. Dia hanya sudah mati.

“Ini akan meninggalkan rasa pahit dimulutku…” Aku mengatakan hal itu dengan sedikit kemarahan pada nada suaraku, dan menatap ke arah sosok besar milik monster itu.

Aku melihat pembuluh darah bermunculan dan berdenyut di kepalanya. Tidak—bukan hanya di kepalanya. Itu juga terjadi di sekitar mulut yang ada di bahunya.

“Dia akan mengeluarkan semacam nafas!” Teriak Marie. “Menjauh darinya!” Aku tidak tau apakah peringatannya itu terlalu terlambat atau itu terjadi terlalu cepat.

Dengan kepekatan tinggi, ketiga mulut Gardranda menyemburkan asap berwarna ungu tua disaat bersamaan.

“… Huh?!” aku berseru.

Itu sedikit mengingatkanku dengan insektisida. Semprotan yang langsung membunuh serangan menjengkelkan yang sudah biasa kita lihat. Tentu saja, Aku sendir telah menggunakan semprotan seperti itu. Namun, aku tidak pernah menyangka seseorang akan menggunakan sesuatu seperti itu kepadaku.

Nafas beracun itu di keluarkan dalam tiga arah—ke arahku, ke arah Rook dan Baby, dan ke arah Marilyn dan para pengawal—dan nafas itu segera menutupi kami semua.

Awalnya miasma berwarna ungu gelap itu tidak memberikan sedikitpun damage. Namun, itu segera membuatku merasa pusing dan memaksaku jatuh berlutut.

Aku melihat ka arah status window, dimana aku melihat bahwa aku sedang berada di bawah pengaruh tiga buah debuff—Poison, Intoxication, dan Weakness.

Poison membuat HP-ku menurun dengan perlahan, Intoxication membuatku kesulitan bahkan hanya untuk berdiri, sementara Weakness mengurangi lebih dari separuh stat-ku, dan membuatku merasa bahkan perlengkapan yang kupakai terlalu berat bagiku.

Aku mengalihkan pandanganku dan melihat bahwa para pengawal dan pedagang juga sedang tergeletak di tanah.

Namun, Rook, berada di atas kami. Baby telah mengangkatnya ke atas sebelum miasma itu mencapainya.

“Mh-mhooooo…!”

Aku mendengar sebuah raungan yang familiar, tapi itu jauh lebih lemah dari pada sebelumnya. Dia, juga, berada dibawah pengaruh debuff milik miasma ini. Namun, dia mengerahkan semua kekuatan yang dia miliki, menekan kakinya ke tanah, dan berlari ke arah Gardranda.

Itu adalah sebuah serangan yang sama yang dapat membunuh empat belas goblin secara bersamaan dan bahkan bisa mengalahkan boss level rendah dalam sekejap, namun…

“GOAAAAHHHHH!”

… Gardranda menghentikannya.

Iblis itu membuka kedua lengannya yang seperti batang pohon dan meraih dua dari tiga tanduk milik Marilyn. Meskipun dia terdorong beberapa meter kebelakang, Gardranda mampu menghentikan serangan Marilyn—seekor Demi-Dragon.

Kemudian, iblis itu menambahkan sedikit kekuatan…

“GeeeeYYAAAHHHH!”

… dan melemparkan Marilyn ke udara.

Menggambar sebuah lengkungan di udara, hewan dengan berat beberapa ton itu terbang sekitar sepuluh meter sebelum menghantam tanah dengan sebuah suara kuat yang tidak menyenangkan.

“Marilyn!” Rook tampak sedikit panik.

“Mh, mhoo, mo…” Marilyn mengeluarkan sebuah suara lemah.

Dengan damage dari hantaman itu ditambah dengan semua debuff yang dia terima, sudah jelas bahwa sudah berada pada batasnya.

“Recall!” Perkataan Rook membuatnya kembali kedalam Jewel. Waktu terhenti bagi para binatang yang ada di dalamnya, jadi Marilyn sudah aman sekarang.

“Mrrgh! Ini tidak berhasiiil!” Baby sudah mencoba untuk menggunakan Temptation pada Gardranda untuk beberapa saat, tapi karena level, MP, dan SP milik iblis itu sangat tinggi, Charm benar-benar tidak berpengaruh padanya.

“Kesesuaian, kah?” Aku berbisik pada diriku sendiri. Rook dan Baby tidak cocok dalam pertarungan melawan boss.

Namun, jika ada orang disini yang…

“Master!” Menanggapi teriakan Nemesis, aku kembali mengalihkan perhatianku kepada Gardranda.

Saat aku berlutut disana—hampir tidak bisa bergerak karena semua debuff yang kuterima—iblis itu mengayunkan tangan kanannya ke arahku seolah-olah ingin menghancurkan seekor lalat.

“Jangan meremehkanku!” Aku memaksa tubuhku untuk bergerak, mengayunkan Nemesis ke arah telapak tangan Gardranda…

“Vengeance is Mine!”

… dan mengaktifkan skill pada saat pedang itu menyentuhnya.

Damage dari pukulan Gardranda yang ditiadakan ditambah dengan HP-ku yang hilang karena Poison, dikalikan dua, dan meledakkan tangan kanan iblis itu.

Serangan itu merobek telapak tangan itu dan membuat tiga buah jarinya putus.

“GUUUOOOAAHHHHH?!” Gardranda berteriak kesakitan.

Tapi damage yang kuberikan terlalu rendah. Karena damage yang ku kumpulkan dari Gardranda sampai saat ini tidak terlalu besar. Vengeance is Mine juga tidak memberikan terlalu banyak damage. Juga, serangan ke telapak tangannya tadi telah menghabiskan semua damage yang ku kumpulkan. Untuk menggunakan Vengeance is Mine lagi, aku harus kembali mengumpulkan damage-nya dari awal.

“Ghh!” Mengikuti serangan itu, aku kembali mengayunkan Nemesis dan melancarkan serangan biasa. Namun, itu beberapa tingkat lebih lemah dari pada biasanya, dan juga tidak se efektif biasanya.

Alasan dari hal itu sudah jelas. Debuff itu masih mempengaruhi tubuhku.

Great Miasmic Demon, Gardranda memiliki kekuatan fisik yang membuatnya bisa melemparkan sesuatu seberat Marilyn dan kemampuan untuk melemahkan musuhnya dengan tiga cara yang berbeda.

HP yang menurun secara perlahan karena Poison bukanlah masalah besar selama aku mengamati HP bar milikku. Namun, Intoxication melumpuhkan kanal semicircular dan karenanya memberikan dampak negatif pada pergerakanku, sementara Weakness mengurangi stat-ku sebanyak lebih dari 50% dan mengubah pertarungan yang paling dasar menjadi sebuah kesulitan.

“Ini buruk…” aku bergumam. Sialan, kesempatanku sudah rendah bahkan tanpa debuff ini.

Tiba-tiba, Marie memanggilku dari belakang. “Ray!”

Aku berbalik, mengira dia akan memperingatkanku akan sesuatu, dan malah mendapati sebuah botol kaca mengenai wajahku dan hancur.

“Khah…!” Aku berseru.

“Master?!” Nemesis juga kebingungan. Saat dampaknya membuatku memundurkan kepalaku, aku dihujani oleh pecahan botol dan isinya.

Pengaturan rasa sakitku ku atur “off”, jadi itu sama sekali tidak sakit, tapi aku tidak punya pilihan lain selain bertanya-tanya apa maksud dari hal itu.

Marie sedang berpose seperti seorang pitcher yang baru saja melempar bola, jadi sudah cukup jelas bahwa dialah yang baru saja melemparkan benda itu.

Saat aku hendak berteriak kepadanya karena telah bermain-main disaat pertempuran, aku menyadari sesuatu.

“… Aku sembuh, dan semua debuffnya hilang,” gumamku. HP ku berada pada level 100% dan tiga status effect itu tidak lagi muncul di status window-ku.

Apa ini? Aku bertanya dalam hati.

“Itu adalah Elixir yang kupersiapkan hanya untuk jaga-jaga! Dengan ini, kau seharusnya kebal terhadap debuff berjenis penyakit selama 180 detik! Namun, aku Cuma mempunyai satu, jadi gunakanlah dengan baik!” jelas Marie.

Elixir? Jadi itulah yang ada didalam botol itu. Tampaknya, itu adalah sebuah obat yang sangat kuat. Namun, dengan ini…

“Tampaknya kita kembali berada pada kondisi terbaik,” kataku.

“Benar,” Nemesis menyetujuinya. “Dengan tidak adanya debuff yang mengganggu kita, Gardranda ini sama saja dengan kelabang sialan itu—kecuali dia memiliki bulu.”

Dengan HP dan defense-ku saat ini, aku dapat menahan serangan iblis itu, dan jika aku dapat menahannya—aku memiliki kesempatan untuk menang.

“Untuk Poison itu, untuk Marilyn, dan untuk mereka yang telah mati… kau akan menerima akibat dari perbuatanmu, dasar iblis sialan!” Aku mengacungkan Nemesis dan berlari ke arah Gardranda.

Efek Elixir itu masih akan tersisa selama 154 detik. Itu adalah jumlah waktu yang kumiliki sebelum aku kembali menjadi rentan terhadap miasma milik Gardranda dan kembali mendapatkan debuff. Oleh karenanya, aku harus menyelesaikan ini sebelum waktu itu habis.

“Rrraaaghhh!” Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke arah lutut Gardranda. Pedang itu menembus kulitnya dan memercikkan sedikit darah, tapi luka itu sama sekali tidak dalam. Meskipun itu sedikit menembus kulit dan mengenai ototnya, itu bahkan masih jauh dari tulangnya.

Bahkan ketika aku berada dalam kondisi terbaikku, serangan biasaku tidak cukup bagus untuk memberikan damage yang berarti baginya.

STR milikku tidak terlalu tinggi, dan meskipun Nemesis mungkin adalah senjata yang kuat saat aku masih level 1, dia termasuk senjata yang lemah setelah aku mencapai level 20. Jika aku mencoba untuk mengalahkannya hanya dengan menggunakan serangan biasa, jangankan 150 detik, 1500 detik saja tidak akan cukup.

Namun…

“GUUOOOAAAHHHH!”Gardranda membalas dengan sebuah tendangan, dan aku memilih untuk membiarkannya mengenaiku.

“Ghh…!” Aku terlempar sekitar tujuh meter, tapi berhasil melakukan pendaratan yang mulus.

Meskipun dia menerbangkanku, serangan itu tidak memberikan terlalu banyak damage kepadaku.

Damage itu hanya sekitar 600. Itu setara dengan seperempat dari total HP-ku.

Aku sudah level 20. Dengan bonus HP yang kudapat dari naik level saat menjadi Paladin, bonus dari Embryo-ku, dan skill “HP Increase”, total HP-ku telah mencapai 2500.

Salah satu skill-ku—Paladin Aegis—mengurangi semua damage yang kuterima, dan perlengkapanku jauh lebih baik dari pada saat aku bertarung melawan Demi-Dragon Worm. Oleh karenanya, makhluk yang memiliki serangan sedikit lebih kuat dari mereka tidak akan pernah bisa membunuhku dengan sekali pukul. Dan jika aku tidak bisa mati dengan sekali pukul, aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan kemenangan.

“First Heal!” Aku berlari sambil mengaktifkan sihir penyembuh pada diriku sendiri dan melengkapinya dengan menggunakan salah satu Heal Potion-ku. Dengan itu, HP-ku kembali hampir penuh.

“Rrraaghh!”

Kemudian aku hanya perlu mengulangi apa yang kulakukan sebelumnya. Serang. Menerima serangan. Sembuhkan.

Aku hanya harus mengulanginya selama 150 detik. Hanya itulah satu-satunya kesempatanku untuk menang.

Sekali perulangan memakan waktu sekitar 20 detik dan membuatku mendapatkan 600 damage, yang akan menjadi 660 jika aku menghitung damage yang ditiadakan oleh Paladin Aegis. Aku dapat melakukannya sebanyak tujuh kali dan mengumpulkan 4620 damage. Vengeance is Mine akan melipat gandakan jumlah itu dan damage-nya akan menjadi 9240.

Bisakah kau bertahan jika itu mengenai kepalamu, dasar iblis sialan? Pikirku.

“Itu adalah satu-satunya pilihan kit—Master!”

Saat aku menghitung waktu yang tersisa dan damage yang dapat kukumpulkan, Nemesis memanggilku. Karena sudah terbiasa dengan nada itu, aku langsung tau bahwa itu adalah sebuah peringatan.

“Lihatlah ke atas!” dia berteriak.

Aku segera melakukan apa yang dia katakan. Di langit, agak kabur karena miasma milik Gardranda…

“KIIIAAAAA!”

… Aku melihat seekor burung pemangsa besar berwarna crimson saat dia menukik ke arahku dengan kecepatan tinggi dan mempersiapkan cakarnya.

“Whoa!” Aku buru-buru melompat kesamping, membuat bayangan crimson itu hanya lewat disampingku.

Kelihatan kesal karena gagal menangkapku, burung pemangsa itu mengepakkan sayapnya sekali dan tiba-tiba kembali baik ke atas langit.

Sebelum dia pergi, aku melihat sekilas pada nama yang tampil di atasnya: “Crimson Roc Bird—Mount Owner: Great Miasmic Demon, Gardranda.”

“Se… seekor mount…?!” Aku tergagap.

Deskripsi itu membuatku menyadari sesuatu. Saat Gardranda datang kemari, dia hanya jatuh dari langit begitu saja. Namun, iblis itu tidak mungkin bisa terbang atau melompat setinggi itu, dan area datar ini tidak memiliki satupun tempat yang memiliki tinggi yang cukup untuk membuat kedatangan seperti itu. Oleh karenanya, hanya ada satu penjelasan yang masuk akal: Gardranda telah dibawa kemari oleh sesuatu yang bisa terbang. Dan sesuatu itu telah terbang di atas kami sejak kami memulai pertarungan ini.

“… Ini buruk,” aku bergumam. Aku tidak bisa lagi fokus pada Gardranda.

Kecepatan dan ukuran tubuh burung itu membuatnya jelas bahwa dia adalah monster yang cukup kuat. Jika aku harus menebaknya, aku menduga dia sama kuatnya—jika tidak lebih kuat—dengan Demi-Dragon Worm itu. Dia bahkan dapat menggenggamku menggunakan cakarnya dan menjatuhkanku dari tempat yang sangat tinggi, membuatku tidak bisa melawan balik.

Memang, burung ini adalah musuh yang berbahaya.

Namun, jika aku terus berkonsentrasi untuk menghindarinya, efek Elixir itu akan habis, dan aku tidak lagi memiliki kesempatan untuk menang.

“Apa yang harus kulakukan…?” Aku bertanya kepada diriku sendiri.

“Ray!” Sebelum aku dapat membayangkan bagaimana cara mengatasi musuh baru itu…

“Kami akan menangani Roc Bird itu!” Teriak Rook.

“Aku dapat terbang, jadi serahkan kepadaku!” Baby juga berteriak kepadaku.

“Kau hanya perlu berkonsentrasi pada Gardranda, Ray!” tambah Rook.

“Tapi…!”

Rook dan Baby tidak bisa melakukan apapun untuk melawan monster sekuat itu. Monster itu mungkin juga kebal dengan skill Charm mereka. Sebelum aku dapat memberitahu mereka, Rook kembali berbicara.

“Kami akan mengulur waktu sampai kau mengalahkan Gardranda!” teriaknya.

“Ya! Jadi jangan mengkhawatirkan kami!” tambah Baby.

Sambil memegang Rook, Baby naik dan terbang ke arah Roc Bird. Aku menatap mereka dalam diam.

“Master,” Nemesis berbicara kepadaku. “Kau tidak berencana untuk membiarkan tekad mereka menjadi sia-sia, kan?”

“… Mana mungkin,” jawabku. Aku mengacungkan Nemesis dan sekali lagi berlari ke arah Gardranda.

Alasan kenapa aku dapat terus bertarung adalah karena Marie telah menggunakan Elixir-nya kepadaku. Alasan kenapa aku dapat terus berkonsentrasi pada pertarungan ini adalah karena Rook dan Baby sedang menahan Roc Bird itu. Aku dan Nemesis tidak sendirian dalam pertarungan ini.

Ini berbeda dengan saat kami dibunuh oleh Superior Killer. Aku… tidak, kami sedang bertarung sebagai sebuah party.

“Tersisa 67 detik,” kataku. “Dengan menurunkan fokus kita pada penyembuhan, kami bisa melakukannya sebanyak tiga kali, atau paling bagus empat kali.”

“Kita lakukan saja, kalau begitu!” Nemesis menunjukkan antusiasme-nya.

Kami berlari, menyerang Gardranda, menerima serangan balasan, berdiri, dan kembali berlari. Itu semua kami lakukan agar kesempatan yang diberikan oleh rekan kami menjadi tidak sia-sia… dan untuk mengangkat peluang kemenangan kami. Aku tidak peduli secompang-camping apa aku setelah melakukan hal ini.

Tak lama kemudian, kami hanya memiliki 10 detik tersisa.

“Nemesiiiiis!” Teriakku.

“Akumulasi Damage: 4973! Kita dapat melakukannya!” teriaknya. “Master!”

Semuanya lengkap saat Gardranda menyerang kami untuk yang terakhir kalinya. HP-ku hanya tersisa kurang dari separuh, tapi aku masih dapat bergerak. Yang tersisa tinggal menyerang iblis itu dengan Vengeance is Mine.

Aku berlari ke arah Gardranda dengan satu tujuan, yaitu memberikan sebuah serangan mematikan.

Tersisa 7 detik.

6 detik, 5 detik, 4 detik.

“Guuuhhh—GHHAAAAAAGHHHH!”

Hanya tinggal beberapa langkah sampai iblis itu berada dalam jangkauan kami.

Itulah saat ketika mulut yang ada di kepala iblis itu terbuka lebar dan mengeluarkan sebuah api berwarna merah crimson.

Kali ini bukan miasma.

Nafas ini semata-mata dimaksudkan untuk memberikan damage kepada siapa saja yang disentuhnya.

Selama ini, Gardranda telah menyembunyikan kartu as ini dari kami, dan tidak mungkin aku dapat bertahan setelah menerima serangan langsung dari api itu.

Namun…

“Ambil… itu… semua!” teriakku. “Counter Absorption!”

Dinding cahaya yang diciptakan oleh Nemesis menghentikan api pemusnah itu dan menyerap damage yang diberikannya.

“Vengeance is… Mine!”

Serangan yang memiliki dua kali lipat total damage dari serangan dan api milik Gardranda, menghancurkan kepala iblis itu dan mengakhiri hidupnya…

… Atau seperti itulah seharusnya.

Kehilangan kepalanya membuat Gardranda terdiam. Namun, tubuhnya terus bergerak dan menyerangku seolah-olah itu hanyalah hal biasa.

“Huh?!” Aku berseru.

Meskipun kehilangan kepala—dan otak—Gardranda mengayunkan tangan kanannya ke arahku, membuatnya jelas bahwa dia tidak peduli dengan damage yang kuberikan. Dan aku—kehabisan semua cara untuk bertahan dan kelelahan karena batu saja menggunakan serangan terkuatku sampai saat ini—tidak dapat menghindari lengan iblis itu.

“… Gh!” lengan itu mengenaiku secara langsung, menerbangkanku, dan membuatku terseret ditanah sejauh sekitar 10 meter setelah mendarat.

Namun—mungkin karena Gardranda telah kehilangan kepalanya—damage yang diberikan oleh serangan itu tidak sebesar sebelumnya, dan itu tidak membunuhku.

“First… Heal…” Aku berusaha berdiri sambil mengaktifkan sihir penyembuhan pada diriku sendiri.

Namun, waktunya habis. 180 detik telah berlalu sejak aku berada di bawah efek Elixir, dan efek itu sekarang sudah hilang.

Udara disekitarku masih dipenuhi oleh miasma milik Gardranda, jadi aku langsung menerima efek dari ketiga debuff itu.

“Sialan…” Aku tidak bisa bertarung dengan benar dalam keadaan seperti ini, tapi iblis itu masih benar-benar baik-baik saja.

Setidaknya dia tidak melihat tanpa kepa—pikiranku terpotong sampai disana.

“Monster seperti apa kau ini?” Teriakku, tidak mengharapkan satupun jawaban. Di kedua bahu Gardranda—tepat di atas mulutnya—muncul sebuah bola berdarah—yang jelas merupakan sebuah mata.

Kelihatannya mata di bahunya itu masih belum berfungsi saat ini, tapi sudah jelas bahwa mereka akan segera memperoleh pandangan dan memungkinkan iblis itu melihatku dan membunuhku dengan mudah.

“Kenapa ini bisa terjadi?! Kita benar-benar sudah menghancurkan kepalanya!” teriak Nemesis dalam kebingungan. Serangan Vengeance is Mine milik kami telah menciptakan sebuah ledakan di kepala Gardranda dan bagian tengah tubuhnya.

Tentu saja, kepala itu menghilang tanpa jejak, dan bahkan dadanya memiliki lubang berbentuk setengah lingkaran.

Kelihatannya kami bahkan mengenai jantungnya, dan tetap saja…

“… Jantung?” aku merasakan ada sesuatu dibalik perkataanku, terutama kata itu.

Tiba-tiba, aku mengingatnya.

Aku menggerakkan tanganku—gemetar karena Intoxication—pergi menuju menu, membuka memo windows-ku.

Ini dia, aku menemukan sebuah catatan yang mengatakan, “Jantung iblis itu terletak di perutnya.—Cheshire.”

“… Jadi itu yang dia maksud,” gumamku.

“Master?” Nemesis terdengar kebingungan.

Perkataan Cheshire benar-benar cocok dengan situasi ini.

Kucing itu mungkin tau bahwa aku akan bertamu dengan Gardranda pada saat aku mengatakan bahwa kami akan menuju ke Gideon. Cheshire memberikan perkataan itu untuk jaga-jaga jika aku masuk kedalam situasi seperti ini.

Jantung Gardranda—inti yang mengendalikan semua fungsinya—tidak berada di kepala ataupun dadanya, tetapi berada di perutnya. Oleh karenanya, Gardranda tidak akan mati sampai apa yang dikatakan “jantung” itu dihancurkan.

Bagi iblis ini, kepala hanyalah hal lain dapat digunakan untuk menyerang. Bahkan jika aku menghancurkan “wajah” yang tersisa di kedua bahunya, Gardranda akan terus bergerak selama inti yang ada di perutnya masih utuh.

Seranganku sebelumnya seharusnya ku arahkan ke perutnya bukan ke kepalanya.

Tapi bahkan jika aku menyadari hal itu, aku kehabisan kekuatan untuk—

“… Mana mungkin,” gumamku.

“Kehabisan kekuatan?” Siapa yang peduli dengan hal itu? Pikirku dengan sengit.

Rook dan Baby masih menahan Roc Bird itu. Oleh karenanya, Aku—yang telah dipercaya untuk bertugas mengalahkan Gardranda—tidak di izinkan untuk menyerah saat mereka masih berjuang disana.

“Masih belum…” Kataku, sambil menggertakkan gigiku.

Aku tidak boleh menyerah. Bahkan jika aku tidak bisa bergerak atau jika stat-ku dikuras sampai habis, menyerang bukanlah sebuah pilihan. Aku harus bertahan dari semua ini selama yang kubisa dan mendaratkan serangan lain pada perut Gardranda.

Ini bukan masalah apakah aku “bisa” atau “tidak bisa”. Temanku telah memberikan tugas ini kepadaku. Mereka telah mempercayakannya kepadaku. Oleh karenanya, aku akan melakukannya bahkan jika itu berarti aku harus melewati batasku.

Aku akan terus menggenggam kesempatan untuk menang.

“Jika aku bahkan tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak layak bermimpi untuk melakukan balas dendam kepada Superior Killer!” kataku dengan sengit. Meskipun berada di ujung kekalahan, aku mengumpulkan tekadku.

“Master!” teriak Nemesis.

“Nemesis, takdir sedang melawan kita, tapi itu masih belum berakhir sekarang,” aku berkata kepadanya. “Kau tidak keberatan untuk melanjutkan hal ini, kan?”

“Itu sudah pasti,” jawabnya. “Namun, bukan itu yang ingin kukatakan.”

Apa?

“Menurutmu apa ini?” tanyanya.

Di sudut window yang telah kubuka, terdapat sebuah window berwarna merah yang asing.

[Kehidupan Master dalam bahaya: dikonfirmasi]

[Keinginan Master untuk hidup: dikonfirmasi]

[Jenis Embryo: Maiden, “Maiden of Vengeance, Nemesis”, XP yang terkumpul—green]

[Eksekusi *** tersedia]

[Mempersiapkan aktivasi ***]

[Jika anda ingin membatalkannya, tolong lakukan itu dalam 20 detik ke depan]

[Apakah anda ingin membatalkannya? Y/N]

Apa ini? Pikirku sambil bengong.

“Nemesis?” aku memanggilnya, mengharapkan sebuah penjelasan.

“Aku juga tidak tau tentang hal ini,” katanya.

“Apa ini…?”

Window-nya berwarna merah, membuatnya lebih terlihat seperti sebuah peringatan.

Dari teks yang ada, sudah jelas bahwa itu berhubungan dengan Nemesis. Namun, hal terpenting dari teks itu sepertinya rusak—tidak, kepalaku bahkan tidak dapat memahaminya sebagai sebuah bahasa.

Apa, sebenarnya, maksud dari hal itu?

Aku menonton dalam diam saat hitung mundurnya terus menurun. Ketika itu mencapai 10 detik, aku mulai khawatir, dan mengulurkan tangan ke arah windows dengan niat untuk menghentikannya…

“CUUAAAAGGHHHH!”

… tapi sebelum aku dapat menyelesaikan gerakannya, mata yang ada di bahu Gardranda mulai dapat melihat, dan iblis itu berlari ke arahku sambil meraung melalui mulut yang ada di kedua bahunya.

“Kenapa harus sekarang…?!” teriakku.

Waktu yang ada di window merah di depanku terus menurun saat Gardranda semakin mendekat ke arahku dari detik ke detik.

Aku tidak punya pilihan lain selain mengabaikan window itu dan menghadapi iblis itu.

Namun, dengan Weakness yang mengurangi stat-ku dan Intoxication yang membuatku sulit untuk bergerak, apa yang dapat kulakukan hanyalah mengacungkan Nemesis.

Aku harus menggunakan pertahanan dan penyembuhanku untuk menciptakan kesempatan lain untuk menggunakan Vengeance is Mine, dan…

[Hitung Mundur Selesai]

[Mengakui niat untuk memulai proses evolusi darurat via *** protocol]

[Menilai 172 pola yang tersedia dari XP yang terkumpul dan memperhitungkan solusi terbaik untuk situasi saat ini]

[Target Embryo: “Maiden of Vengeance, Nemesis”. Memulai evolusi darurat via ***]

[Untuk mengurangi waktu evolusi, interval sampai evolusi selanjutnya akan diperpanjang]

Tepat setelah aku melihat pesan itu, Nemesis kehilangan bentuk fisiknya dan terpencar kedalam partikel-partikel yang mengambang di udara.

“Eh…?” Aku tertegun.

Itu adalah fenomena yang sama persis dengan yang selalu terjadi setiap kali Nemesis berubah dari bentuk manusia ke bentuk pedangnya. Namun, kali ini. Dia tidak kembali ke bentuk manusianya, ataupun menjadi sebuah pedang lagi. Melainkan, partikel itu berputar di sekelilingku.

“CAAAAAGGHHHHH!”

Saat aku tidak bisa memahami situasi itu, Gardranda hanya terus mendekat ke arahku.

[*** selesai]

Tidak memberiku sedikitpun waktu untuk memahami semuanya, window output itu menunjukkan kalimat baru.

[Bentuk 2: “The Flag Halberd”]

Partikel Nemesis berputar di sekelilingku dan mulai berkumpul di tanganku.

Setelah berubah menjadi butiran partikel cahaya yang mengambang di udara, Nemesis kembali ke tanganku dengan bentuk yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

“Lompat, Master!” itu adalah suaranya.

Aku segera melakukan apa yang dia katakan, menendang kakiku dari tanah… dan memperjauh jarak ku dari Gardranda.

Insert7

“Huh?!” sebuah suara keterkejutan keluar dari mulutku. Sebelum aku menyadarinya, aku telah melompat sejauh 20 meter.

Keterkejutan itu tertuju pada kekuatan lompatanku yang tidak dapat dipercaya dan fakta bahwa…

… Nemesis bukan manusia.

Maupun sebuah pedang.

Dia adalah sebuah tombak.

Meskipun, karena dia memiliki kapak yang muncul dari salah satu ujungnya, kata “halberd” mungkin akan lebih cocok.

Bagian belakang dari bilah kapak itu meninggalkan jejak cahaya berwarna hitam, membuat keseluruhan dirinya terlihat seperti sebuah bendera perang.

Aku melihat ke arah equipment window dan melihat nama “The Flag Halberd”.

“Nemesis… apa yang terjadi kepadamu?” Aku tidak punya pilihan lain selain menanyakan hal itu.

“Aku tidak yakin apakah bisa menjawab pertanyaan itu,” jawabnya. “Aku tiba-tiba menjadi seperti ini bahkan sebelum aku menyadarinya.”

Kurasa dia kehilangan kesadaran saat dia berubah menjadi partikel cahaya itu, pikirku.

“Namun, ada satu hal yang aku yakini,” lanjutnya.

“Dan apa itu?” tanyaku.

“Aku telah berevolusi ke bentuk kedua-ku,” Ungkap Nemesis. “Kekuatan yang ada di dalam diriku lebih kuat dari sebelumnya.”

Evolusi.

Itu adalah fitur utama dari setiap Embryo—sebuah fungsi yang memberikan mereka kekuatan dari pola yang tak terbatas.

Window merah itu juga mengatakan sesuatu tentang “evolusi darurat.”

Apakah ini adalah hal yang wajar? Aku bertanya pada diriku sendiri. Saat Baby milik Rook berevolusi, semuanya tidak terlihat seperti ini, sih…

“… Yah, bagaimanapun, ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu,” aku bergumam. Aku hanya harus fokus pada satu hal saat ini.

“COOAAAGHHH!”

Setelah sekali kehilangan pandangan dariku, Gardranda kembali melihatku dan meraung dengan mulut di kedua bahunya.

“Ngomong-ngomong, Nemesis,” kataku.

“Ada apa, Master?” jawab Nemesis.

“Kau mengatakan bahwa kekuatanmu ‘lebih kuat dari pada sebelumnya’… sampai sejauh mana itu?”

Aku hampir dapat melihatnya menunjukkan sebuah senyum berani.

“Cukup untuk memungkinkan kita berdua mengalahkan iblis sialan itu,” jawabnya.

“Sempurna,” aku tersenyum. Kemungkinan itu ada.

Fakta bahwa dia hanya mengatakan bahwa itu “mungkin” membuatku mengingat saat pertama kali kami bertemu. Namun, itulah yang paling ku butuhkan. Jika kemungkinan kami untuk menang masih ada…

… maka, demi Rook, Baby, Marie, dan para tian yang nyawanya sedang dalam bahaya…

… kami hanya harus bertaruh pada kemungkinan itu dan melakukan semua yang kami bisa.

“Ayo kita mulai, Gardranda,” kataku.

Karena Gardranda muncul setelah kami memusnahkan para goblin itu, iblis ini memiliki keuntungan, dia bahkan dapat memojokkan kami setelah kepalanya dihancurkan. Tapi sekarang, kami memiliki cara baru untuk mencapai kemenangan.

Aku tau bagaimana kau bekerja, pikirku. Aku akan segera mengakhirinya.

Aku mengacungkan Flag Halberd itu di atas kepalaku dan berteriak ke arah iblis tak berkepala itu. “Ini… adalah ronde terakhir!”

Setelah memutar halberd itu di atas kepalaku, aku berlari ke arah Gardranda.

Meskipun Weakness seharusnya menurunkan stat-ku, aku berlari lebih cepat dari pada saat aku berada dalam kondisi normal. Dan meskipun Intoxication seharusnya membuat pandanganku menjadi samar, aku merasa seperti aku dapat melihat lebih jauh dari pada biasanya.

Gardranda menyerangku dengan mengayunkan tangan kanannya—tangan yang memiliki lebih sedikit jari—tapi aku dapat dengan mudah menghindarinya dan menancapkan bilah kapak dari halberd-ku ke lengan iblis itu saat aku melakukannya.

Seranganku menembus kulitnya, tenggelam di dagingnya, dan menebas tulangnya. Aku memotong tangan iblis itu sepenuhnya, menyebabkan darah berwarna crimson tersebar dari lukanya.

“Kita melakukannya dengan baik,” kataku. Sudah jelas bahwa evolusinya telah meningkatkan stat dan bonus milik Nemesis, tapi perbedaan antara ini dan bentuknya yang sebelumnya terlalu besar.

Ya, kupikir kami dapat menangani hal ini… Oh, tunggu… Aku berpikir, dan mengingat sesuatu.

Aku masih berada di bawah efek Poison.

Jika aku tidak hati-hati, HP-ku mungkin akan habis sepenuhnya, dan… Huh?

“… Kita melakukannya dengan terlalu baik,” gumamku.

Meskipun Poison seharusnya mengurangi HP-ku secara perlahan, sebenarnya sekarang hal itu menjadi sebaliknya.

Peningkatan kemampuan fisik ku, kejelasan inderaku, dan regenerasi HP yang terus menerus. Seolah-olah semua debuff itu telah di putar balikkan.

“Begitu, jadi ini adalah…” Aku berkata dengan perlahan.

“Benar,” kata Nemesis. “Ini adalah skill baruku: ‘Like a Flag Flying the Reversal’.”

Nemesis membuka sebuah window yang menunjukkan nama skill itu dan menjelaskan apa yang dilakukan oleh skill itu.

Pada dasarnya, itu memutar balikkan efek debuff yang kuterima dari satu musuh.

Bukannya memberikan damage secara terus menerus, Poison malah akan menyembuhkanku.

Bukannya menurunkan stat-ku, Weakness malah meningkatkan mereka.

Bukannya melumpuhkan inderaku, Intoxication malah membuat mereka menjadi lebih tajam.

“Like a Flag Flying the Reversal” adalah sebuah buff skill yang memutar balikkan semua debuff yang mempengaruhiku.

“Ini sangat ideal untuk situasi saat ini,” kata Nemesis. “Sejujurnya itu tampak terlalu ideal.”

“… Kau benar,” kataku. “Namun…”

Menurut pesan yang ada pada window merah itu, berdasarkan semua kemungkinan yang tersedia untuknya, Nemesis telah di berikan sebuah “solusi terbaik”. Namun, pesan itu hanya mendeskripsikan apa yang terjadi.

Karena suatu alasan, aku yakin bahwa aku adalah orang yang memanggil hasil ini. Bagaimanapun, skill ini memungkinkan diriku menemukan jalan keluar dari situasi ini… itu sama persis dengan saat pertama kali aku dan Nemesis bertemu.

Oleh karenanya…

“Untuk saat ini… aku mempertaruhkan segalanya pada kemungkinan ini!” teriakku.

“Kalau begitu kita memiliki pemikiran yang sama!” serunya kembali.

Aku dan Nemesis mengeluarkan teriakan pertarungan saat aku menghindari serangan Gardranda dan terus menebas ke arah iblis itu.

Ketiga debuff yang dia berikan kepadaku awalnya adalah yang terburuk. Namun, sekarang mereka membuatku menjadi lebih kuat dan memperpendek jarak antara diriku dan Gardranda.

Aku secara efektif mendapatkan buff HP Recovery, Perception, dan Physical Strengthening, sementara iblis itu telah kehilangan kepalanya dan pada dasarnya kemampuan miasma-nya telah ditiadakan. Keseimbangan kekuatan kami sekarang sudah seimbang—tidak, faktanya, sekarang semuanya sudah berbalik.

“CUUUOAAAGGGHHH!”

Mungkin marah melihat keadaan yang berbalik ini, Gardranda mulai mengeluarkan miasma ke segala arah.

Namun, bagiku dan Nemesis, nafas itu tidak lain hanyalah sebuah asap.

“Rraagh!”

Saat Gardranda terus mengeluarkan miasma, aku menusuk perutnya. Flag Halberd itu menusuk kedalam daging iblis itu dan menyentuh titik lemah—inti—yang ada didalamnya.

“CEEEAAAGH…!” Gardranda meraung kesakitan. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa perut adalah bagian yang harus ku incar.

Namun…

“Dia beregenarasi!” teriak Nemesis.

Luka yang baru saja kuberikan menghilang bersamaan dengan sebuah asap berwarna ungu gelap.

“Hah,” kata Nemesis. “Kelihatannya hanya titik lemahnya yang dilindungi oleh kemampuan regenerasi.”

“Itu artinya kita akan butuh waktu selamanya untuk mengalahkannya jika kita hanya bergantung pada serangan lemah,” kataku.

“Bagaimanapun, itu tidak seperti kita bisa bertarung seperti ini untuk waktu yang lama,” katanya.

Aku tau persis apa yang dimaksud oleh Nemesis. Karena efek dari Like a Flag Flying the Reversal, HP-ku beregenerasi secara terus menerus. Namun, SP-ku terus berkurang. Itulah bayaran dari terus mengaktifkan skill ini.

Dibandingkan dengan HP-ku, SP-ku tidak terlalu tinggi. Itu tidak akan bertahan lama. Oleh karenanya, aku harus memikirkan apa yang harus kulakukan untuk bisa menang.

Setelah mempertimbangkan inti yang beregenerasi itu, waktu yang terbatas, dan kemampuan kami…

… hanya ada satu jawaban.

“Aku harus berhenti menghindari dan membiarkannya menyerangku begitu saja,” kataku.

“Hanya itu yang akan berhasil,” jawab Nemesis.

Aku akan mengakumulasi damage yang diberikan iblis itu kepadaku dan menyerangnya dengan Vengeance is Mine. Namun, kali ini, aku akan langsung mengincar titik lemah di perutnya.

“Ada sesuatu yang harus kau ketahui, sih.” kata Nemesis.

“Apa itu?” tanyaku.

“Dalam bentuk ini kita tidak dapat menggunakan Counter Absorption dan Vengeance is Mine,” jawabnya.

“Lagi pula, kita sudah kehabisan stok Counter Absorption,” kataku.

“Tidak,” katanya, membantah perkataanku. “Evolusiku telah meningkatkan stoknya menjadi tiga, jadi kita dapat menggunakannya sekali lagi. Namun, sama seperti Reversal yang hanya dapat digunakan dalam bentuk Flag Halbert, kedua skill itu juga hanya bisa digunakan dalam bentuk pedang.”

Pada dasarnya, untuk menggunakan Vengeance is Mine, aku harus berganti dari bentuk Flag Halberd ke bentuk pedang. Itu artinya aku akan kehilangan efek Like a Flag Flying the Reversal.

Untuk dapat memberikan sebuah serangan mematikan sambil berada dibawah debuffnya… aku harus membunuh mobilitasnya! Pikirku.

“Nemesis, ayo kita serang kakinya!” teriakku.

“Baiklah!”

Aku mengayunkan Flag Halberd itu dan berulang kali menyerang pergelangan Gardranda.

Iblis itu membalas dengan ayunan tangannya, tapi aku hanya membiarkan mereka mengenaiku.

Tentu saja, aku menerima damage, tapi Poison yang sudah dibalikkan segera mengembalikan HP-ku menjadi penuh.

Ini mirip seperti pada saat aku berada di bawah efek Elixir. Kecuali—berkat regenerasi yang terus menerus—aku dapat menyerang, menerima serangan, dan disembuhkan jauh lebih lancar dari pada sebelumnya.

“… 3250… 3784.”

Saat aku mendengar Nemesis mengatakan jumlah damage yang telah ku kumpulkan, Aku menatap ke ujung status window-ku dan memeriksa sisa SP-ku.

53… 52… Jumlah waktu yang tersisa untuk terus mempertahankan Reversal sudah berada kurang dari satu menit.

“… 4265, Master!” panggil Nemesis.

Baiklah, aku akan mempertaruhkan segalanya pada serangan ini!

“Hhaaagh!”

Aku berlari melalui miasma—yang hanya bagaikan asap bagiku—menyelinap ke tempat Gardranda berdiri, mengumpulkan tekadku, dan mengayunkan Flag Halberd itu secara horizontal ke arah kakinya.

Kedua tendonnya telah terluka parah akibat seranganku sampai saat ini, jadi dengan ayunan mematikan itu, bilah kapak pada Flag Halberd-ku memotong kakinya.

“CUEEEEEEEGHHH!!” Gardranda berteriak dan jatuh berlutut, membuat tanah bergetar.

“lakukan itu sekarang, Nemesis!” teriakku.

“Pergantian Bentuk—Black Blade!” teriaknya. Perkataannya membuat Flag Halberd kehilangan bentuknya dan tersebar menjadi partikel cahaya, yang kemudian kembali berkumpul untuk membentuk pedang hitam yang familiar.

Tepat pada saat itu, aku langsung berada dibawah efek dari tiga debuff yang sebelumnya. Namun, itu tidak lagi jadi masalah. Aku hanya perlu melakukan serangan akhir.

Saat kaki gemetar karena Intoxication, aku berlari ke arah iblis itu. Gardranda masih jatuh berlutut, dan ketika aku mengangkat pedangku dan bersiap untuk menyerang…

… aku menyadari sesuatu.

Asap miasma berwarna ungu gelap itu menghalangi pandanganku. Namun, itu tidak menyembunyikan fakta bahwa mulut yang ada di kedua bahu iblis itu mengeluarkan cahaya terang berwarna merah.

“CHHHHGHAAAHH!!”

Api mematikan.

Mereka tidak hanya bisa digunakan pada kepala yang telah kuhancurkan—Gardranda juga dapat mengeluarkannya dari mulut yang ada di kedua bahunya.

Namun, aku tidak akan berhenti.

“Counter Absorption!” Nemesis menciptakan dinding cahaya ketiga—yang dia dapat dari evolusi sebelumnya. Penghalang itu menghentikan api itu dan menyerap damage yang mereka miliki.

Meskipun itu tidak diperlukan, hal itu membuat damage yang ku kumpulkan mencapai jumlah terbesar.

Aku tidak bisa lebih yakin lagi bahwa aku akan berhasil.

“Sekarang, Master!” kata Nemesis.

Setelah aku melewati api itu, dinding cahaya itu menghilang.

Akhirnya, aku mulai mengayunkan pedangku ke arah perut Gardranda…

“CHHHGHAAAAHH!”

… dan tiba-tiba berhadapan dengan mulut yang ada di bahu kiri iblis itu, yang sudah siap menembakkan api lagi.

“Apa…?!” aku terkejut.

“Huh…?!” Nemesis berseru, saat kami menyadari bahwa Gardranda telah mempelajari sesuatu dari pertarungan sampai saat ini. Iblis itu menggunakan api mematikan dari kedua bahunya secara terpisah…

… hanya agar bisa melewati Counter Absorption milik Nemesis.

Semua miasma yang dia keluarkan sebelumnya juga bukannya tak berguna—itu adalah sebuah tindakan persiapan yang dimaksudkan untuk membuat kami tidak dapat melihat bahwa iblis itu memisahkan semburan apinya.

“Master!” teriak Nemesis.

Aku sudah mengayunkan pedangku.

Bilang pedang itu membelah udara dengan satu tujuan yaitu menyerang perut Gardranda dengan Vengeance is Mine. Bahkan dengan debuff yang kuterima, aku bisa mendaratkan serangan itu hanya dalam waktu tiga detik. Namun, api milik iblis itu akan lebih cepat mencapaiku.

Seolah-olah berada di ujung kematian, aku mulai melihat dunia dalam gerak lambat.

Mulut yang ada di bahu kirinya terbuka lebar dan hendak memandikan ku dalam api.

“Gyaghghghghghgh!”

Sebelum dia dapat melakukannya, sesuatu yang mirip dengan peluru menerobos asap miasma itu dan mengenai bahu kiri Gardranda.

Objek yang familiar itu meledak dan bahu kiri iblis itu—ketika terkena ledakan itu—hancur sebelum dia dapat mengeluarkan apinya.

Pada saat gelombang panas itu membelai pipiku…

“Vengeance is Mine!”

… Aku dan Nemesis meneriakkan nama skill yang sama, mendaratkan serangan di perut Gardranda, dan menghancurkan intinya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. Manusia says:

    Uwoh.. Mantep.. Di tunggu kelanjutannya min!

    Like

  2. yuu shion says:

    Kenapa ane pikir marie itu superior killer ya…
    Hmm…….

    Like

  3. archi says:

    Ditolongin kakak nya ?

    Like

    1. Zen Quarta says:

      ngk.. objek itu cuma mirip peluru jadi bukan kakaknya…
      Tebak aja, ada satu lagi kenalan(?) Ray yg memiliki embryo mirip peluru.. xD

      Like

      1. alone698 says:

        jangan2 “superior killer” atau figaro kebetulan lewat?!

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s