Genjitsushugisha no Oukokukaizouki Volume 8 Chapter 5 A

Volume 8
Chapter 5 – Reuni Dengan Musuh Lama (A)

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English :
J-Novel Club

—Beberapa saat sebelum Souma dan Julius Bertemu—

“Jangan biarkan diri kalian gentar!” Lauren, kapten dari pasukan Lastania, berteriak dari atas benteng. “Kita tidak boleh membiarkan satupun monster menerobos dinding!”

Menggunakan perisainya untuk menghantam seekor lizardman yang berusaha menaiki dinding, dia memberi semangat kepada rekan-rekan prajuritnya yang terlihat hampir putus asa.

Setelah mendengar bahwa beberapa lizardman berhasil menerobos masuk dan menyerang istana, Lauren ingin pergi menolong mereka, tapi karena Julius dan Jirukoma sudah pergi, dia bergabung dengan para prajurit di dinding utara untuk mengambil alih komando.

Dia mengkhawatirkan keselamatan Putri Tia, tapi untuk melindungi Tuan Putri, begitu juga dengan para warga biasa yang ada di belakang dinding, dia tidak boleh membiarkan ada musuh yang menerobos lagi.

“Bagus!” teriaknya. “Semuanya, halau mereka sekuat tenaga!”

Semangat tempur yang ditunjukkan Lauren menaikan moral para prajurit yang ada di dinding utara. Dia dengan susah payah bisa menahan gerombolan lizardman yang mencoba memanjat dinding benteng sebelah barat.

Bagus. Kami akhirnya bisa pulih. Sekarang…

Lauren mulai merasa lega, akan tetapi hal itu terjadi.

“Kapten! Lihatlah ke langit!” salah satu prajurit menunjuk ke arah langit selatan dan berteriak.

Saat Lauren mendongak, terdapat banyak sesuatu yang terbang dari arah selatan. Awalnya dia khawatir kalau itu adalah gerombolan monster baru, tapi jika mereka memang monster, mereka pasti datang dari utara.

Pada akhirnya, saat mereka semakin mendekat, dia menyadari bahwa mereka adalah wyvern yang ditunggangi oleh manusia. Itu adalah sebuah unit kavaleri wyvern.

Pasukan militer?! Dari negara mana…?!

Lalu dia melihat unit kavaleri wyvern itu menjatuhkan sesuatu. Hal itu jatuh langsung ke arah Lasta, dan setelah beberapa saat, sesuatu berwarna putih terbentang. Pada saat benda putih itu terbuka, kecepatan jatuh dari benda itu menurun drastis.

Akhirnya, saat sesuatu itu turun semakin dekat ke Lasta, Lauren menyadari bahwa ada orang yang tergantung di bawah benda putih itu.

“Tunggu, orang?!” teriaknya.

Kenapa kavaleri wyvern menjatuhkan seseorang? Itu adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Lauren menjadi bingung, tapi kemudian senjata anti-udara melancarkan tembakan ke arah orang yang sedang terbang turun itu.

“Huh?! Oh, sialan!”

Senjata anti-udara mengincar objek yang datang. Pada saat Lauren menyadarinya, sudah ada peluru tombak dalam jumlah besar yang terbang ke arah orang yang terbang turun itu. Dia mengira orang itu akan tertembak jatuh, tapi…

“Cih?! Mau bagaimana lagi!” Orang yang terbang turun itu berteriak dengan terkejut, lalu menangkis peluru tombak yang terbang ke arahnya satu-per-satu dengan tombak ganda-nya.

Lauren ternganga. Dia menangkis semua peluru tombak itu?! Apakah dia itu seorang monster?!

Saat orang itu sudah cukup dekat, Lauren bisa melihat bahwa ia adalah seorang pemuda berambut merah. “Tolong hentikan tembakan senjata anti-udara nya! Kami datang sebagai bala bantuan!” teriaknya.

Bala bantuan… Bala bantuan?! Lauren mengulangi kalimat itu di kepalanya, dan saat ia memahaminya, dia segera memberi perintah kepada prajuritnya.

“Kirimkan signal kepada penembak senjata anti-udara di setiap sisi dinding untuk menahan tembakan! Mereka adalah bala bantuan kita!”

“Baik, kapten!”

Prajurit yang diberi perintah itu segera mengirimkan signal asap. Tak lama kemudian, senjata anti-udara di setiap sudut dinding menghentikan tembakannya.

Seakan mereka sudah menunggu hal itu, para wyvern yang ada di langit menjatuhkan orang demi orang, dan, sama seperti sebelumnya, sebuah benda putih terbentang di udara.

Kemungkinan besar, benda putih itu adalah peralatan yang bertujuan untuk memudahkan pendaratan. Tapi melihat lebih dari seratus alat pendaratan bulat berwarna putih itu terbentang di langit membuat mereka tampak seperti benih dandelion yang menari tertiup angin.

Saat Lauren berpikir mereka terlihat tidak cocok di wilayah pertempuran yang ganas ini, dia melihat pemuda berambut merah yang turun lebih dulu sekarang telah mendarat.

Pemuda berambut merah itu melepaskan dirinya dari alat pendaratan, dan bergegas ke arah Lauren.

“Wheeewww. Aku memang sudah dilatih untuk melakukan hal ini, tapi tadi kupikir aku akan mati,” kata pemuda berambut merah itu sambil memutar bahunya.

Meskipun telah menunjukkan aksi menakjubkan dengan menangkis peluru tombak yang terbang ke arahnya, pemuda itu tampaknya masih bisa menangani lebih banyak lagi.

“Siapa… kamu sebenarnya?!” Lauren bertanya dengan tercengang, dan pemuda berambut merah itu berdiri tegap, dan memberi hormat menanggapinya.

“Saya minta maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Saya adalah Kapten Pasukan Penyerang, Halbert Magna, dari Dratrooper, pasukan khusus pendaratan Kerajaan Friedonia. Apakah anda adalah komandan disini?”

“Huh…? Uh, benar! Saya Lauren Fran, kapten prajurit Kerajaan Lastania. Um, Halbert-dono, apakah barusan anda mengatakan kalau anda tergabung dalam pasukan militer Kerajaan Friedonia…?”

Lauren terdiam, dan mulai berharap.

Halbert memberikan anggukan tegas. “Ya. Souma… Raja Souma Kazuya dari Friedonia menerima permintaan dari Julius-dono, mantan putra mahkota Amidonia, dan saya datang kemari di bawah perintahnya untuk memberikan bantuan.”

“Bala bantuan yang dikatakan Julius-dono… Ah! Lalu apakah pasukan utama kalian juga sudah mendekat?”

Kerajaan Friedonia sekarang adalah negara adidaya di selatan. Mustahil rasanya jika mereka akan mengirimkan kurang dari 10,000 prajurit. Pasukan itu pasti sudah dekat sekarang.

Atau setidaknya, itulah yang Lauren harapkan saat dia menatap Halbert dengan penuh ekspetasi, tapi Halbert hanya menggaruk pipinya dengan canggung.

“Uhh, tidak. Kami adalah kelompok pendahulu. Masih butuh beberapa saat sampai pasukan utama tiba, jadi kami dikirim terlebih dahulu karena mobilitas kami yang tinggi. Kami kemari untuk memastikan kekuatan para monster, dan untuk membantu prajurit lokal agar kota ini tidak jatuh sebelum pasukan utama tiba.”

“Be… Begitu…” Jadi pasukan utama mereka masih jauh. Lauren menurunkan bahunya.

Halbert meletakkan tangannya di bahu Lauren dan tersenyum kepadanya. “Oh, jangan khawatir. Dratrooper adalah pasukan elit di Pasukan Militer Kerajaan Friedonia. Sekarang karena kami sudah sampai kemari… Whoa!”

7

Halbert melompat ke pinggir dinding, menusuk salah satu lizardman yang mencoba memanjat menggunakan tombak di tangan kanannya. Lalu, disaat bersamaan, dia membakat lizardman yang tertusuk itu menggunakan sihir api sebelum menendangnya jatuh ke arah gerombolan monster yang berkumpul di depan dinding. Saat monster itu menyentuh tanah…

Boom!

… lizardman yang terbakar itu meledak. Lizardman yang berada di dekatnya terpental akibat gelombang ledakan. Bukan hanya itu, api terus menyebar ke arah lizardman lain yang berada di dekatnya, dan mereka semua berubah menjadi bola api.

“””Gugyagyagyagyagya…””” teriak para lizardman itu.

“Dan begitulah,” kata Halbert. “Aku tidak akan membiarkan mereka melewati dinding ini.”

Dengan api dan asap membumbung di belakangnya, Halbert menarik kembali tombak yang tadi dia lemparkan menggunakan rantai tipis yang tersambung dengan ujung kedua tombaknya. Dia membusungkan dadanya untuk membuat dirinya tampak bisa diandalkan.

Lauren tercengang oleh kecepatan reaksinya, tapi kemudian terdengar komplain dari langit.

“Jangan mengatakan, ‘Aku duluan!’ dasar bodoh! Ksatria macam apa yang melompat sendirian dan meninggalkan naganya, dasar ksatria nggak ada akhlak?!”

“Whuh?!” Lauren kembali berteriak dengan terkejut.

Mendongak ke arah suara itu berasal, dia melihat seekor naga merah terjun dari langit langsung ke arah mereka. Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan api, menyebabkan tembakan lurus ke arah gerombolan lizardman yang mencoba memanjat dinding.

Bwooooooooosh!

Sebuah dinding api membumbung, membakar para lizardman yang ada dihadapan mereka. Di tengah pemandangan menakjubkan itu, Halbert membungkukkan kepalanya ke arah naga merah itu.

“Hai, Ruby, maaf! Di bawah sini kelihatannya sedang gawat, jadi aku tidak punya pilihan lain…”

“Tidak, pilihlah pilihan lain! Jangan membuatku takut seperti itu, dasar bodoh!”

Naga merah itu memalingkan kepalanya, dan cemberut seperti seorang gadis muda.

Lauren tidak bisa lagi menganggap pemandangan di depannya sebagai kenyataan. Mulutnya ternganga. “A-Apakah pasukan Friedonia se… gila ini?”

“Aku tidak ingin kamu menganggap keluarga kami normal, kamu tau,” kata seorang gadis beastman bertelinga dan berekor rubah saat dia melompat turun dari punggung naga merah itu. Gadis bertelinga rubah itu berjalan ke arah Lauren dan mengulurkan tangannya. “Kamu pasti adalah komandan disini. Senang bertemu denganmu, kamu tau. Aku adalah atasan Hal, begitu juga komandan operasional dari Dratrooper, Kaede Foxia.”

“… Oh! Saya Kapten Lauren!” Lauren segera menjabat tangan Kaede. Tapi meskipun mereka bersalaman, Lauren menatap Kaede dengan ragu. “Um… Karena anda turun dari seekor naga, apakah itu berarti anda adalah seorang ksatria naga, kaede-dono?”

“Tidak. Ruby… ksatria milik naga merah itu adalah Halbert, kamu tau. Aku dan Halbert bertunangan, jadi dia mengizinkanku menaikinya dengan alasan bahwa tunangan dari tunangannya bisa dianggap sebagai tunanganku juga.”

“Huh…? Anda adalah tunangan dan atasan Halbert-dono, dan naga merah itu adalah tunangannya juga?” Lauran jadi kebingungan.

Kaede tersenyum kecut. “Aku bisa menjelaskannya nanti, kamu tau. Ada hal yang lebih penting untuk saat ini.” Kaede melihat ke arah Istana saat dia mengatakan hal itu. “Aku telah diperintahkan untuk mengerahkan 200 Dratrooper kami untuk bekerja sama dengan prajurit dari masing-masing sisi dinding untuk menghalau para monster, kamu tau. Perintah utama kami adalah untuk mengamankan dinding.”

“Saya berterimakasih atas hal itu, tapi… jika anda memiliki 200 prajurit, maka itu artinya ada 50 prajurit di setiap sisi dinding, kan?” tanya Lauren. “Tidak peduli seberapa elit kalian, apakah itu cukup untuk lepas dari situasi saat ini?”

Lauren merasa khawatir, tapi Kaede tersenyum kepadanya. “Itu benar, jumlah pasukan yang kami kirim ke benteng ini hanya 200 prajurit, tapi… kamu melupakan sesuatu yang penting, kamu tau.”

“Melupakan sesuatu yang penting?”

Kaede mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk ke atas.

Lauren melihat ke arah yang Kaede tunjuk, dan… akhirnya, dia memahami apa yang Kaede coba katakan.

“Itu benar… Di atas sana kami masih memiliki pasukan yang super kuat saat melawan pasukan darat, kamu tau,” kata Kaede sambil tersenyum.

***

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.