Genjitsushugisha no Oukokukaizouki Arc 6 Chapter 2 B

Arc 6
Chapter 2 – Berita Mendadak dan Pertemuan B

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English :
J-Novel Club

Kalau dipikir-pikir, saat ini aku mungkin jadi agak gila. Semua rencana yang ada di kepalaku sampai saat ini langsung buyar. Bagaimanapun, seluruh pikiranku sekarang benar-benar dipenuhi oleh suatu hal tertentu yang tertulis dalam surat Liscia.

Satu kalimat itu membuatku masuk dalam mode bingung karena rasa terkejut dan gembira. Surat itu mengatakan…

Aku hamil.

“Aku meminta Dokter Hilde untuk datang dan memeriksa ku, jadi aku yakin dengan hal itu. Oh! Dokter Hilde juga hamil. Aku merasa tidak enak karena telah memanggilnya. Dia bilang kalau yang melakukannya adalah Dokter Brad. Mereka kelihatan tidak terlalu akrab, jadi itu agak mengejutkan, ya?”

Aku memang terkejut, tapi aku tak peduli dengan hal itu sekarang!

Saat sedang membaca surat itu, aku ingin bermesraan dengan Liscia. Surat itu berlanjut, “Tapi bagaimanapun…”

Itu adalah cara penulisan yang terlalu berbelit-belit. Mungkin Liscia juga merasa tegang saat sedang menulis surat ini.

“Ini adalah anak kita. Apakah kau sedang? Kau senang, kan?”

Tentu saja aku senang! Tidak, itu bukan berarti kalau pikiranku sudah sepenuhnya memahami fakta ini, tapi aku merasa senang sambil merasa terkejut. Jika Liscia ada disini sekarang, tanpa ragu lagi aku akan memeluknya. Tangan yang kupakai untuk memegang surat itu gemetaran.

“Ngomong-ngomong, orang yang paling sedang mendengar berita ini adalah chamberlain kita, Marx, yang terus mendesak kita untuk membuat pewaris takhta. Dia mengeluarkan banjir air mata, kemudian berdiri dan berkata, ‘Aku harus segera mempersiapkan ruangan dan pakaian untuk pangeran muda!’ dan langsung mulai bekerja. Meskipun saat ini kita belum tau apakah anak ini laki-laki atau perempuan.”

 

Apa yang kau lakukan, Marx? Pikirku. Aku lega karena dia merasa senang, sih.

 

“Aku sangat senang,” kata surat itu. “Karena bisa mengandung anakmu. Aku bisa mengatakannya karena aku sudah hamil, tapi aku merasa agak khawatir. Kau tau, karena kau berasal dari dunia lain, kan? Tiamat-dono berkata bahwa meskipun kita berdua adalah manusia, tapi asal kita berbeda, jadi aku bertanya-tanya apakah kita bisa memiliki anak, dan apa yang harus kulakukan jika kita tidak bisa. Tapi sepertinya aku telah mengkhawatirkan hal yang sia-sia, sih.”

 

Liscia…

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku ingin langsung terbang ke sisi Liscia. Aku didominasi oleh perasaan itu, dan mencoba mengumumkan secara sepihak bahwa kami akan pulang ke Kerajaan sebelum mulai mencoba berlari.

Namun…

“M-Maafkan saya!” Aisha tiba-tiba melompat ke atasku dari belakang, dan menekanku ke atas tanah.

“Gwah!”

Dengan tangannya menahan punggungku, aku terlihat seperti seorang penjahat yang sedang ditahan oleh pihak berwajib.

Di bawah Aisha, aku berusaha untuk melepaskan diri darinya.

“L-Lepas, Aisha! Aku harus pergi ke Liscia…”

“Saya tidak tau mengapa, tapi Liscia-sama meminta saya untuk melakukan hal ini!”

Huh? Liscia menyuruhnya?

Saat aku berhenti memberontak, Aisha menyerahkan surat yang ditujukan kepadanya kepadaku.

 

“Untuk Aisha,” kata surat itu. “Jika Souma berkata dia ingin pulang setelah membaca suratku, tahan dia. Lalu suruh dia membaca surat ini dengan teliti, dan lakukan seperti yang kuminta. Selain itu, sampai kamu menahannya, tolong rahasiakan isi surat ini.”

Sepertinya Liscia telah menduga apa tanggapanku setelah membaca surat itu. Aku menyerah dan, sambil berdiri, aku kembali membaca surat itu.

 

“Kau bisa menjadi overprotektif jika menyangkut soal keluarga, jadi aku yakin kau ingin pulang ke rumah saat kau membaca ini, tapi… kau tidak boleh melakukannya, ok? Kau tidak akan punya banyak kesempatan untuk pergi melihat-lihat negara lain dengan bebas, jadi pastikan kau melakukannya kali ini.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku punya Serina dan Carla, yang sama-sama bergegas kemari saat mereka mendengar berita ini, dan menjagaku dengan sepenuh hati, dan aku berencana untuk tinggal bersama orang tuaku sampai bayi ini lahir. Wilayah lama milik ayahku jauh lebih damai daripada ibukota, dan itu berada di pinggiran negara. Aku akan menanyakan berbagai pertanyaan tentang bagaimana cara membesarkan anak kepada mereka. Jadi, Souma, kau juga lakukanlah apa yang harus kau lakukan sekarang.”

 

Sepertinya Liscia telah merencanakan ini dengan hati-hati. Kelihatannya aku tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa, tapi… Meski begitu, sudah merupakan sifat bawaanku sebagai seorang pria untuk merasa khawatir, kau tau?

Tapi, karena Liscia sudah mengatakan semua itu kepadaku, kurasa aku tidak bisa mengabaikan apa yang harus kulakukan dan pulang sekarang.

Saat bahuku terkulai, kalimat terakhir dari surat itu menarik perhatianku.

 

“P.S. Sekarang kau sudah bisa menyentuh para tunangan lainnya.”

 

Liscia… Di bagian paling akhir, dia memutuskan untuk menulis hal itu? Mungkin itu adalah caranya untuk menyembunyikan rasa malunya.

Apapun alasannya, aku memutuskan untuk menunjukkan surat ini kepada yang lainnya. Nenek tua pemilik kedai melihat kami dengan curiga saat kami semua pergi sejenak untuk membisikkan hal ini, tapi saat ini masalah keluarga kami adalah prioritas utama.”

Saat mereka melihat surat itu, semua orang terkejut untuk sesaat, tapi mereka semua mengucapkan selamat kepadaku.

“Ya ampun!” seru Aisha. “Ini memang saat yang berbahagia!”

“Sungguh menakjubkan,” Juna tersenyum. “Selamat, Yang Mulia.”

“Bisa dibilang pewaris takhta sudah aman sekarang, huh?” Roroa menyeringai. “Geh heh heh! Jadi selanjutnya adalah giliran salah satu dari kami?”

“Selamat, Onii-chan!” teriak Tomoe.

“Selamat,” kata Kaede. “Sekarang keluarga anda sudah aman. Jika sekarang kita sedang tidak berada di luar negeri, saya ingin berteriak, ‘Kemenangan untuk Friedonia,’ anda tau.”

“Selamat,” kata Halbert. “Souma menjadi seorang ayah, huh… aku cukup tergerak, sebagai seorang pria dari generasi yang sama.”

“Apakah hal ini akhirnya membuatmu ingin membuat seorang pewaris untuk Keluarga Magna?” tanya Kaede kepadanya.

“Pak tua-ku masih menjadi kepala keluarga saat ini. Tapi… itu memang membuatku berpikir kalau tidak ada salahnya melakukan itu.”

Hal dan Kaede sepertinya sedang berada dalam mood yang bagus. Mereka menggunakan berita baik milik keluarga lain untuk mulai bermesraan, huh? Yah, bukan berarti aku keberatan sih.

Aku memasukan surat itu ke saku ku dan berbalik ke arah Roroa.

“Roroa, kemarilah sebentar.”

“Hm? Ngapa… tunggu, whoa?!”

Aku meletakkan tanganku di bawah ketiak Roroa, dan mengangkatnya tinggi-tinggi seperti seorang anak kecil.

Roroa memiliki tubuh yang kecil, jadi meski dengan tanganku yang lemah, aku bisa dengan mudah mengangkatnya. Jika aku memilih Aisha yang tinggi, atau Juna yang montok, aku ragu apakah aku bisa melakukannya.

Dengan Roroa terangkat tinggi, aku berputar di tempat.

“Oi oi oi oi?!” Roroa mengeluarkan suara bingung yang tak biasa.

Setelah berputar-putar untuk sesaat, aku melepaskan tanganku dan menangkapnya menggunakan lenganku saat dia jatuh. Mata Roroa tampak berputar-putar.

“K-Kenapa kau tiba-tiba ngelakuin hal itu?!”

“Maaf,” kataku. “Aku jadi agak bersemangat. Sungguh, aku ingin melakukan hal itu pada Liscia, tapi dia tidak ada disini. Aku melakukannya denganmu karena kau memiliki tubuh yang paling mirip dengannya.”

“Murgh… Aku tidak begitu senang dijadikan sebagai pengganti Cia-nee, tapi, yah, yang barusan menyenangkan juga, jadi kali ini aku akan memaafkannya. Tapi, kau tau, jarang sekali aku melihatmu begitu bersemangat, darling?”

“Ya… Yah, hanya untuk hari ini, jadi abaikan saja.”

Maksudku, aku mendapat seorang bayi. Seorang anggota keluarga baru. Dengan kematian Kakek dan Nenek, aku kehilangan orang terakhir yang bisa kupanggil keluarga. Itulah sebabnya aku ingin melindungi Liscia dan Tomoe, karena mereka sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.

Sekarang, karena aku dan Liscia akan memiliki seorang anak, kami akan menjadi keluarga sungguhan, bukan hanya sekedar seperti keluarga. Tidak ada hal lain yang bisa membuatku lebih bahagia dari ini.

“Jika saat ini kita sedang berada di istana, aku mungkin akan langsung mengusulkan sistem perlindungan anak!” kataku, sambil mengepalkan tangan dan berbicara dengan bersemangat.

“Yah, aku menurutku itu terlalu berlebihan,” kata Roroa, tampak kaget. “Mungkin pergi sejenak dari istana untuk menenangkan pikiran adalah ide yang bagus.”

Ya, aku setuju.

Hal bertanya dengan putus asa, “Jadi? Pada akhirnya, apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Hrm…” kataku. “Aku mau pulang sekarang, tapi Liscia bilang tidak boleh…”

“Anda adalah seorang raja, jadi anda harus memprioritaskan kepentingan negara, seperti yang Liscia-sama katakan,” saran Juna.

“Itu benar,” kata Roroa. “Kau harus membuat kerajaan terus berkembang. Untuk penduduk saat ini, dan juga untuk anak-cucu kita nantinya.”

Untuk anak-cucu kita, huh… Jika dilihat dari sudut pandangan itu, aku tidak bisa memberikan satupun bantahan.

“Baik,” kataku. “Tidak ada perubahan dalam rencana. Kita akan mulai dengan pergi ke tempat yang dikatakan oleh wanita itu tadi.”

Setelah menetapkan hal itu, kami kembali menghampiri wanita dan kedainya tadi.

 “Ada apa, anak muda?” tanya pemilik kedai itu. “Kalian sudah selesai berbicara sekarang?”

“Ya. Lalu, dimana letak Lokakarya Ozumi yang kamu sebutkan tadi?”

“Kau bisa melihatnya dari kota ini. Lihat, tempat itu ada di bukit sebelah sana,” kata wanita itu, sambil menunjuk bukit yang ada di pinggiran kota.

Itu adalah sebuah bukit berumput dengan lereng yang landai. Ada banyak pepohonan di kedua sisinya, dan itu tampak seperti lereng ski saat musim panas. Masih ada sedikit salju di pepohonannya; bahkan jika kami mengamatinya sepanjang tahun, salju itu mungkin tidak akan meleleh.

Ada sebuah bangunan bata merah di bukit itu. Aku bisa melihatnya berada di dekat hutan. Apakah itu adalah Lokakarya Ozumi?

Kami membayar barang yang kami beli, menunggu nenek itu menuliskan surat pengantar untuk kami, dan segera bergegas menuju bangunan itu.

Setelah meninggalkan kota Noblebeppu, kami menghabiskan waktu selama tiga puluh menit menaiki kereta yang berguncang-guncang. Dan akhirnya kami berdiri di depan bangunan yang terbuat dari batu bata: Lokakarya Ozumi.

Lokakarya itu, yang berdiri di tengah padang rumput dengan hutan di belakangnya, memiliki sebuah cerobong asap. Kelihatannya, selain membuat aksesoris, mereka juga menempa senjata.

Setelah diberitahu kalau Taru adalah orang yang pemalu, sepertinya aku akan membuatnya terkejut jika aku membawa segerombolan orang yang berpakaian seperti petualang masuk bersamaku, jadi kami meninggalkan Aisha dan yang lain di dalam kereta sementara aku, Juna, Roroa, dan Tomoe masuk ke dalam bangunan itu.

Dari apa yang kulihat, sepertinya mereka tidak memiliki meja kasir. Bangunan itu terletak di pelosok, jadi mungkin mereka menjual seluruh produk mereka di kota. Aku bisa mendengar sesuatu yang sedang ditempa di dalam.

Aku mengetuk pintunya, tapi tidak ada satu orangpun yang menjawabnya. Apakah tidak ada satu orangpun yang mendengarku? Kelihatannya ada seseorang di dalam, jadi aku mencoba mengetuk lagi, dan setelah beberapa saat, pintu itu terbuka dengan perlahan.

Seorang gadis dengan bandana menutupi kepalanya keluar. “Siapa itu…?”

5

Gadis itu mungil dan memiliki baby face. Aku menduga dia berumur sekitar lima sampai enam belas tahun. Meskipun di luar sangat dingin, dia mengenakan kaos berlengan pendek, celana panjang, dan sebuah apron blacksmith. Di tangannya yang memakai sarung tangan, dia memegang sebuah palu yang tampak tidak cocok dengan tubuhnya yang mungil. Apakah mungkin dia adalah pengrajin yang dimaksud oleh nenek itu?

“Erm, maaf… Apakah anda adalah Taru-dono?” tanyaku sambil berdiri tegap.

Gadis itu memiringkan kepalanya dan menatapku dengan mata mengantuk. “Ya, benar. Ada apa?”

Berurusan denganmu itu melelahkan. Jika kau tidak punya urusan disini, maka pulanglah. Sepertinya itulah yang tersirat dari sikapnya kepadaku.

Beberapa orang mungkin akan marah saat ini, tapi aku sudah terbiasa berurusan dengan orang-orang seperti Genia, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.

Aku membungkuk dengan sopan, dan memperkenalkan diriku. “Saya datang kemari dengan sebuah surat pengantar dari seorang nona di Noblebeppu. Nama saya adalah Kazuma Souya.”

Tentu saja, aku menggunakan nama palsuku. Karena jika namaku sampai ketahuan, belum lagi seluruh anggota di kelompok kami, itu pasti akan menjadi sebuah masalah.

Aku kemudian memperkenalkan yang lainnya. “Ini adalah istri saya, Juna, adik saya, Tomoe, dan pegawai saya, Roroa.”

“Saya Juna. Senang bertemu dengan anda.”

“A-A-Aku Tomoe.”

“Roroa. Senang bertemu denganmu.”

Aku merasa kalau Taru menjadi sedikit lebih santai setelah para gadis ini memperkenalkan diri mereka. Yah, Tomoe yang tergagap saat memperkenalkan dirinya akan membuat hati setiap orang yang mendengarnya menjadi hangat.

Saat Taru melepaskan bandana-nya dan memperkenalkan dirinya, aku melihat dua buah telinga beruang di atas kepalanya. Dia adalah seorang beastman beruang? Kurasa itu menunjukkan kalau dia berasal dari ras beruang salju, satu dari Lima Ras Daratan Bersalju. Suasana nya sudah menjadi sedikit lebih santai, jadi aku segera mengatakan alasan kami datang kemari.

“Di Noblebeppu, saya melihat aksesoris yang dibuat oleh para pengrajin di negara ini, dan hal itu membuat saya kagum. Dilihat dari detail dan hiasan yang halus pada aksesoris itu, saya bisa menyimpulkan bahwa kalian pasti sangat terampil dalam menggunakan tangan kalian. Hal itu membuat saya berpikir bahwa, jika kami menggunakan para pengrajin di negara ini, kami mungkin bisa membuat benda tertentu yang sudah saya rencanakan sejak lama. Saya bertanya apakah ada seorang pengrajin handal di dekat sini, dan nona yang saya ajak berbicara mengatakan tempat ini kepada saya. Apakah anda bersedia mendengar kelanjutan dari apa yang ingin saya bicarakan?”

“Masuk…” Taru mengisyaratkan kepada kami untuk masuk ke dalam lokakarya.

Aku berpikir, Fiuh… aku berhasil berbicara dengan lancar, seperti anak seorang pebisnis, tapi…

“Dan juga, bicaralah dengan normal. Aku yakin kau lebih tua dariku. Selain itu, aku ragu kalau kau terbiasa berbicara dengan gaya seperti itu.”

Sepertinya Taru bisa dengan mudah membongkar akting-ku.

Melihatku menggaruk kepalaku dengan canggung, Roroa menahan tawanya.

Hei, jangan tertawa! Aku sedang malu disini!

Saat kami dibawa masuk ke dalam lokakarya, api yang membara di tungku membuat tempat ini menjadi sangat hangat. Tak aneh kalau Taru bisa berpakaian seperti itu. Kami juga melepas jubah kami, tapi saat Tomoe melepas kerudung penyihir putih buatanku, mata Taru menyipit.

“Kau seorang beastman anjing… Tidak. Seorang beastman serigala?”

“Oh, benar!” kata Tomoe. “Dari ras mystic wolf.”

Taru melihat ke arahku seolah-olah dia ingin bertanya sesuatu. “Bukankah dia seharusnya adalah adikmu?”

Oh… itu yang membuatnya penasaran, huh. Cukup wajar, karena Tomoe dan aku bukan berasal dari ras yang sama, dan wajah kami juga sama sekali tidak mirip. Kami pasti tidak terlihat seperti saudara.

“Dari ibu yang berbeda,” kataku. “Itu adalah masalah keluarga, jadi aku harap kau tidak menggalinya terlalu dalam.”

“Begitu…”

Aku membuatnya terdengar seperti sebuah masalah yang rumit, dan Taru tidak bertanya lebih jauh lagi. Saat menyangkut topik seperti ini, meskipun dia merasa tertarik, dia pasti akan lebih memilih untuk tidak melanjutkannya.

Dengan itu, Taru menuntun kami, dan tepat saat kami hendak duduk, aku menyadari benda aneh yang tersandar di dinding pojok ruangan ini.

Benda itu berbentuk seperti tongkat, tapi memiliki dua ujung yang menggelembung. Jika ini adalah sebuah game RPG, aku mungkin akan menyebutnya gada. Benda itu memiliki desain mencolok dengan pola kelabang yang panjang dan besar melingkarinya sampai pada bagian pegangannya. Menurutku itu tampak keren, tapi aku tidak yakin dengan fungsinya sebagai senjata.

Saat aku melihatnya dengan tatapan ragu, Taru bertanya, “Apakah kau menyukainya?”

“Oh, itu memiliki desain yang mengagumkan, tapi…”

Aku tidak ingin mengatakan hal aneh tentang produknya, jadi aku tidak menjawab pertanyaan itu, tapi Taru malah menurunkan bahunya seolah-olah untuk mengatakan, aku tau apa yang ingin kau katakan.

“Itu tidak apa-apa. Pendapatmu sangat normal. Apa yang tidak normal adalah selera dari orang bodoh yang memesannya.”

“Bodoh? Sungguh? Um, kau sedang membicarakan pelangganmu, kan?”

“Aku kenal baik dengannya, dan aku mengatakan hal itu di depan mukanya.”

Seseorang yang dia sebut “orang bodoh yang tak punya selera” langsung di depannya? Orang seperti apa dia itu, dan ada hubungan apa antara Taru dan orang itu?

Yah, kesampingkan gada yang aneh itu, sekarang saatnya membicarakan bisnis kami. Taru menunggu semua orang duduk dan kemudian bertanya, “Jadi, apa yang ingin kau pesan dariku?”

“Apakah kau bisa membuat sesuatu seperti ini?” Aku menggunakan pena bulu untuk menggambar di atas kertas yang sebelumnya sudah kupersiapkan untuk menjelaskan benda seperti apa yang kuinginkan.

Saat dia melihat gambarku, Taru memiringkan kepalanya. “Bentuknya sendiri sederhana. Tapi kurasa itu akan sangat sulit.”

“Kupikir juga begitu,” desahku.

“Fakta bahwa kau menginginkannya ‘setipis mungkin’ tapi juga ‘kuat’ adalah yang membuatnya sulit. Jika hanya salah satunya, aku bisa melakukannya, tapi menyeimbangkan kedua aspek itu akan sangat sulit. Kau butuh berapa banyak?”

“Lebih banyak lebih baik. Aku butuh dalam jumlah ribuan atau puluhan ribu. Tentu saja, aku tidak berencana memesan semuanya disini. Aku juga akan melakukan pembicaraan seperti ini dengan para pengrajin lainnya.”

“Puluhan ribu?” Kata Taru dengan terkejut, dan menatapku dalam-dalam dengan matanya yang tampak mengantuk.

“A-Ada apa?” tanyaku. “Jadi, apakah kau bisa membuatnya?”

“Sebelum aku menjawab, aku ingin agar kau memberitahuku satu hal,” kata Taru dengan nada serius. “Sebenarnya untuk apa benda ini akan digunakan?”

Aku terdiam.

Untuk apa benda ini digunakan, huh. Aku membuat sebuah permintaan aneh, jadi sudah wajar kalau dia merasa penasaran.

Tapi apakah tidak masalah jika aku mengatakan jawabannya disini? Akan beda ceritanya jika ini berada di dalam negaraku, tapi sekarang kami berada di luar negeri. Ini adalah sesuatu yang kubutuhkan, tapi sejujurnya aku tidak terlalu ingin terlalu banyak membongkar informasi yang dimiliki negaraku.

“Apakah aku benar-benar harus mengatakannya?” tanyaku.

“Benar. Atau aku tidak akan membuatnya, dan aku tidak akan merekomendasikanmu kemanapun.”

Dia benar-benar serius soal hal itu, jadi aku berbisik kepada Roroa, “Bagaimana menurutmu?”

“Aku tau kau nggak mau mengatakan alasannya, darling, tapi dilihat dari kemampuan cewek ini, kurasa dia bisa membuat apa yang kau inginkan.”

“Lalu, apakah menurutmu tidak apa-apa jika aku mengatakan untuk apa benda itu akan digunakan?”

“Aku nggak tau. Jika kita mau pesan dalam jumlah banyak, lokakarya ini nggak akan bisa menanganinya, jadi kita harus berharap agar siapa saja yang memimpin negara ini tidak terlalu keras kepala…”

“Pada akhirnya, semuanya akan jadi seperti itu ya…” gumamku.

Saat kami saling berbisik satu sama lain, Taru pelan-pelan menarik bagian leher dari apron-nya, dan mengeluarkan sesuatu yang ada di baliknya. Apa yang dia ambil adalah sebuah mata panah obsidian. Sepertinya dia menggunakannya sebagai kalung. Mata panah itu telah dipoles, dan mengeluarkan cahaya samar.

Sambil memegang benda itu, Taru berkata, “Mata panah ini adalah pelajaran dari kakekku, seorang blacksmith.”

“Itu dari kakekmu?”

“’Busur dan anak panah bisa digunakan untuk memburu binatang dan mengisi perut orang-orang, tapi itu juga bisa digunakan untuk membunuh orang. Mata panah adalah bagian dari busur dan anak panah. Meskipun ini hanyalah bagian dari produk yang kami para pengrajin buat, kami harus tau untuk apa benda yang kami buat akan digunakan.”

Taru mengatakan hal itu sambil menatap lurus ke mataku.

“Bagi seorang pengrajin, sudah menjadi tugas mereka untuk mengetahui untuk apa benda yang mereka buat akan digunakan. Jika sesuatu yang kubuat digunakan untuk kejahatan, hal itu akan membuatku merasa sangat sedih. Itulah sebabnya aku tidak akan membuat sebuah benda jika aku tidak tau untuk apa mereka akan digunakan. Aku tidak bisa.”

“Apa yang terjadi pada kakekmu?”

“Dia meninggal tahun lalu.”

“Begitu…”

Dia adalah seorang gadis yang menyimpan perkataan kakeknya di dalam hatinya sambil membuka sebuah lokakarya. Aku juga kehilangan kakekku tahun lalu (meskipun tahun itu telah berganti menjadi kalender dunia ini di tengah jalan), jadi aku merasakan keterikatan aneh dengannya. Aku selalu lemah saat mendengar cerita seperti ini. Sisi manusia yang ada di dalam diriku berkata, “Kenapa kau tidak katakan saja kepadanya?” sementara sisi penguasa di dalam diriku berkata, “Berhati-hatilah dalam segala hal.”

Saat aku benar-benar tersiksa dengan apa yang sebaiknya kulakukan, aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang dingin di tanganku. Saat aku melihatnya, Juna, yang duduk di sampingku, sedang meletakkan tangan kirinya di atas tangan kananku. Aku menatapnya dengan terkejut, tapi Juna tidak mengatakan apapun, dan hanya tersenyum dalam diam.”

Tolong, lakukan apa yang kamu inginkan.

Aku merasa seolah-olah dia mengatakan hal itu kepadaku. Dalam sekejap, hatiku terasa jauh lebih ringan, sampai-sampai tangan dingin Juna terasa nyaman bagiku.

Yah… baiklah kalau begitu. Taru sepertinya benar-benar teguh tentang hal itu, jadi mungkin tidak masalah untuk memberitahunya.

Setelah memutuskan hal itu, aku bertanya kepada Taru.

“Apakah kau bisa menjamin hal ini tak akan bocor?”

“Apakah ini berbahaya?”

“Tidak, bukan itu. Yah, jika digunakan dengan cara yang salah, mereka bisa jadi berbahaya, tapi hal yang sama juga bisa dikatakan pada pisau, kan? Ini adalah bagian dari peralatan yang akan menyelamatkan banyak nyawa.”

“Peralatan yang akan menyelamatkan banyak nyawa?” Taru memiringkan kepala nya dengan bingung, dan aku menanggapinya dengan anggukan.

“Aku berencana untuk membuat jarum suntik.”

Untuk membujuk Brad dan Hilde agar mau menjadi dua pilar dari reformasi medis-ku, aku menjanjikan dua hal:

Pertama adalah membuat sistem kesehatan nasional yang akan membuat semua warga di kerajaan bisa mendapat perawatan medis. Yang kedua adalah, meminta pengrajin terbaik di kerajaan untuk membuat pisau bedah, jarum untuk menjahit luka, dan peralatan medis lainnya.

Untuk mendapatkan dana untuk memenuhi janji yang pertama, aku telah memprioritaskan penaikan pajak. Meskipun masih panjang jalan yang harus kami tempuh, tapi semuanya berjalan lancar.

Sementara untuk janji yang kedua, pengembangan peralatan medis, ada beberapa perlengkapan yang bisa dibuat dengan baik, dan ada beberapa yang tidak.

Bidang medis di dunia ini kebanyakan mencakup sihir elemental (sihir pemulihan), dan tanaman obat yang diramu oleh mantri, dan kegiatan operasi sangat jarang dilakukan. Peralatan yang dibuat oleh ahli bedah yang sangat langka, seperti Brad, harus dipesan secara khusus. Karena dia mengembangkan pisau bedah, benang jahit, dan suntikan sendiri, kualitas dari barang-barang itu tidak bisa dibilang bagus. Dia tidak bisa membuat pisau bedahnya menjadi lebih kecil, dan suntikan memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari yang biasanya kulihat.

Dana yang dia miliki untuk melakukan penelitian mungkin terbatas, jadi aku tak bisa menyalahkannya, tapi itu tetap memberikan tekanan yang terlalu besar kepada pasien. Karena itu, aku ingin menyusun sebuah proyek nasional untuk meningkatkan perlengkapan medis kami. Untuk saat ini aku telah berhasil memproduksi peralatan yang bisa membuat Brad dan Hilde puas, tapi saat ini aku belum bisa memproduksinya secara massal.

Meskipun aku memiliki seseorang yang bisa membuat jarum jahit yang tipis, tentu saja ada batasan seberapa banyak jarum yang bisa dia buat. Mereka tidak diproduksi di pabrik, jadi itu sudah wajar, dan tidak banyak pengrajin yang bisa membuat jarum yang tipis. Dalam situasi saat ini dimana kami sedang mencoba meningkatkan jumlah dokter di kerajaan, tentu saja kami kekurangan peralatan. Karena peralatan medis tidak bisa segera digunakan kembali, dan harus di rebus terlebih dahulu untuk digunakan pada pasien lain, jumlah yang kami butuhkan semakin meningkat.

Jadi, kami sedang kesulitan untuk membuat perlengkapan medis, tapi sepertinya ada banyak pengrajin handal di negara ini yang bisa membuat hiasan yang sangat detail, jadi kupikir kami bisa melakukan produksi massal di negara ini.

Saat ini negara kami sedang mempelajari banyak bidang, dan kami sedang kekurangan pekerja di segala tempat, jadi kupikir keputusan terbaik adalah untuk melindungi para pengrajin kami dan menyerahkan apa yang bisa dilakukan oleh negara lain ke negara lain tersebut.

Sambil memikirkan hal itu, aku menjelaskan kegunaan jarum suntik kepada Taru. Karena operasi sendiri adalah hal yang tidak dikenal di Republik Turgis, aku harus memulainya dari sana, jadi itu butuh waktu yang agak lama.

Setelah aku menjelaskan dasar-dasarnya kepadanya, mata Taru terbuka lebar dalam keterkejutan. “Di kerajaan, kalian bisa menyembuhkan orang tanpa penyihir yang menggunakan sihir elemen cahaya? Menurutku itu menakjubkan.”

“B-Benarkah?” tanyaku.

“Di negara ini, daratan tertutupi salju dari bulan Oktober sampai Maret. Orang-orang yang memiliki kaki lemah bahkan tidak bisa pergi keluar dengan leluasa. Jika kami memiliki setidaknya satu dokter di setiap desa, kupikir hidup disini akan menjadi jauh lebih mudah.”

“Yah, itu adalah kebijakan penuh pengertian yang dikeluarkan oleh raja kami.” Roroa tersenyum kepadaku saat mengatakan hal itu.

Itu adalah sebuah pujian, jadi aku tidak terlalu memikirkannya, tapi tetap saja.

Taru menyilangkan tangannya dan mengernyitkan dahinya. “Aku paham kalau jarum suntik ini penting. Aku merasa bahwa, dengan para pengrajin di negara kami, kalian juga akan bisa memproduksinya secara massal. Aku ingin menerima tantangan itu. Kurasa itu adalah pekerjaan yang akan membuat hatiku menari.”

“Oh! Kalau begitu kau akan…”

… menerima pekerjaan itu, aku hampir saja mengatakan itu, tapi Taru mengangkat dua jarinya.

“Tapi, meskipun aku berhasil membuatnya, ada dua masalah besar untuk membawanya ke kerajaan. Pertama, mengirim senjata ke negara lain memerlukan persetujuan dari negara. Jika yang membelinya hanyalah seorang petualang untuk dipakai sendiri dan membawanya keluar, maka mereka tidak akan mempermasalahkan nya, tapi jika kita mengirim produk dalam jumlah besar, kita memerlukan persetujuan negara. Hal yang sama juga berlaku di Kerajaan Friedonia, kan?”

“Yah… benar sekali…”

Itu benar, negara kami juga mengatur ekspor dan impor senjata.

Memang tidak separah dengan larangan yang berlaku di era Edo tentang senapan yang masuk ke dalam kota dan wanita yang pergi keluar, tapi… senjata dalam jumlah banyak yang dibawa masuk ke dalam negara dari suatu tempat bisa menjadi ancaman untuk kedamaian. Jika senjata itu di bawa keluar negeri, itu akan menurunkan kemampuan kami dalam mempertahankan diri, dan jika mereka dibawa masuk, itu bisa jadi merupakan tanda-tanda pemberontakan. Itulah sebabnya, di negara manapun, impor dan ekspor senjata tanpa izin adalah hal yang sangat dilarang.

“Tapi jarum bukan senjata, kan?” kataku.

“Jika memang begitu, kau harus bisa membuktikannya kepada pihak yang berwenang. Sebelumnya tidak ada negara yang membuat jarum, jadi sulit untuk menentukan apakah itu senjata atau bukan jika hanya dilihat sekilas. Jika kita mencoba menanganinya tanpa bisa menjamin kalau itu bukan senjata, maka akan ada banyak resiko kedepannya.”

“Jika itu hanya jarum, tentu saja tidak akan ada seorangpun yang berpikir kalau itu adalah senjata, kan?”

“Meskipun itu sendiri bukanlah senjata, semuanya akan berakhir jika mereka mencurigai kalau itu adalah bagian dari sebuah senjata.”

“Aku paham apa maksudmu…”

Sayangnya, Taru benar.

Memang benar, jika seseorang yang tidak tidak terbiasa dengan jarum melihat jarum suntik secara langsung, mereka tidak akan sepenuhnya percaya kalau itu bukanlah senjata. Jika kami harus menjelaskan kegunaan mereka setiap kali kami berhenti di gerbang kota atau perbatasan, itu akan jadi merepotkan, dan tidak ada jaminan mereka akan mempercayai kami. Sepertinya, aku memang harus meminta izin dari negara ini untuk mengimpor dan mengekspor mereka.

Tapi negara ini berbentuk republik, kan? Apakah mereka, secara teknis, memiliki seorang kepala negara. Tapi sampai aku melihat keseimbangan kekuatan antara kepala negara dan Menteri Kabinet mereka, aku tidak yakin siapa yang harus kubujuk. Aku benar-benar menemui jalan buntu.

Aku harus memikirkan hal ini dengan lebih hati-hati.

“Jadi, apa masalah lainnya?” tanyaku.

“Itu tentang pengiriman. Musim dingin di negara ini berlangsung lama. Jalan dipenuhi salju, dan laut tertutup es. Kau bilang kalian menginginkan puluhan ribu, jadi itu artinya kalian membutuhkan mereka secara terus-menerus, kan? Memang tidak akan masalah saat musim panas, tapi apakah kalian hendak mengirimnya saat musim dingin, saat rute darat dan laut sama-sama tidak bisa digunakan?”

“Benar juga…” Aku hanya bisa memegangi kepalaku. Itu benar, pengiriman akan jadi sebuah masalah.

Bahkan di Kerajaan Friedonia, wilayah selatan tertutup dalam salju dan es di musim dingin. Sepertinya akan benar-benar sulit untuk mengamankan jalur pengiriman dari Republik Turgis, dimana musim dinginnya jauh lebih panjang dan parah. Karena ini adalah negara asing, aku tidak bisa membangun jalur transportasi disini.

Aku bertanya kepada Roroa dengan bisikan, “Apakah saat ini kita hanya bisa berdagang dengan mereka di musim panas? Yah, untuk itu, aku yakin kita memerlukan persetujuan resmi. Bagaimana menurutmu?”

Roroa meletakkan tangan di mulutnya dan memikirkan hal itu sebelum menjawab dengan pelan, “Ya… Tapi darling, jika kau memutuskan untuk melakukannya, kupikir kau harus melakukan negosiasi langsung dengan para petinggi. Jika kau mencoba untuk terus ngelakuinnya dengan cara pedagang, akan butuh waktu untuk melaporkan apa yang terjadi untuk menutupinya.”

“Jadi maksudmu, jangan bernegosiasi dibawah nama samaran, tapi sebagai Souma Kazuya?”

“Kau tentunya nggak akan bisa bertemu dengan para petinggi sambil memakai topeng, bukan?”

“Memang benar,” kataku. “Yah, kalau begitu kurasa kita harus membawa pulang masalah ini. Padahal kita sudah hampir bisa memproduksinya secara massal…”

Saat aku menurunkan bahuku dengan kecewa, Taru menatap kami dengan tertarik. “Kupikir kalian adalah tuan muda dan pegawainya? Menurutku kalian bertindak seperti berada di derajat yang sama.”

Urkh… Yang barusan memang tampak aneh, bukan? Roroa selalu terasa seperti seorang partner saat kami sedang berbicara tentang bisnis seperti ini.

“Mwahaha, menurutmu begitu?” Kata Roroa. “Yah, aku bukan sekedar pegawai biasa, bagaimanapun aku adalah kekasihnya dan sudah mendapat izin dari Istri-nya, Juna.

Setelah mengatakan itu, Roroa merangkul tanganku dengan erat. Tunggu, seorang kekasih yang sudah disetujui istriku?!

Latar belakang aneh macam apa itu?! Sekarang aku harus mengikuti cerita itu?!

Aku melakukan komplain, tapi kami sedang berada di hadapan Taru, jadi aku menahan diri.

Roroa tersenyum dengan gembira saat dia menatapku. Dasar… Dia tau aku tidak bisa memarahinya disini, jadi dia berani mengatakan hal itu.

Udara terasa membeku. Meskipun Juna tersenyum, ada semacam intensitas aneh di dalamnya, dan Tomoe jadi panik saat dia melihat wajah Juna.

Taru sedikit mundur ke belakang karena menyadari kegelisahan yang ada di udara.

“Apakah ini… juga merupakan situasi keluargamu?”

“Kuharap kau tidak menggalinya terlalu dalam…” Hanya itulah yang berhasil kukatakan.

Tiba-tiba, Juna berdiri. “Sayang, kami akan permisi sebentar.”

“Huh, Juna?”

Dia masih menunjukkan senyuman yang sama seperti sebelumnya. Lalu dia berdiri di belakang Roroa dan meletakkan tangannya di atas bahu Roroa.

Ekspresi Roroa langsung menegang. Ini adalah negara yang dingin, tapi dia jelas-jelas sedang banjir keringat.

“U-Um, Ju… Nyonya, apakah ada yang salah?” Roroa memutar kepalanya untuk melihat Juna.

Juna tersenyum dan berkata, “Kenapa kita berdua tidak pergi mencari udara segar bersama?”

“Tidak… aku mau tetap disini… kau tau…”

“Jangan begitu. Ikut denganku, Nona Roroa, kekasih yang telah kusetujui.

Ada tekanan dalam kata-kata itu yang tidak akan menerima satupun argumen.

Ada yang bilang “semakin pendiam seseorang, semakin menakutkan saat dia sedang marah,” dan sepertinya Juna adalah tipe seperti itu.

Roroa mengirimkan tatapan ke arahku. Matanya meneriakkan, T-Tolong aku!

Tapi aku hanya menggelengkan kepalaku dalam diam. Kau terlalu banyak bercanda, Roroa. Nikmati saja itu.

A-Aku hanya sedikit terbawa suasana!

Katakan hal itu kepada Juna…

Tidaaaaak…

“Hee hee! Bisakah kita pergi… Hm?”

Tepat saat Juna hendak menyeret Roroa keluar, hal itu terjadi.

Dun… Dun… Terdengar suara mengguncang bumi dari kejauhan. Disaat bersamaan, ruangan tempat kami berada bergetar. Itu adalah sebuah gempa berskala kecil.

Peralatan yang tergantung di dinding mulai berdentangan. Suara dan getaran itu menjadi semakin kuat dan kuat.

“Apa yang terjadi? Apakah ini adalah gempa bumi?” tanya Roroa.

“Sepertinya… tidak begitu,” kata Juna.

Tomoe, jika getarannya menjadi semakin kuat, bersembunyilah di bawah meja,” perintahku.

“B-Baik!”

Saat kami sedang panik, ekspresi Taru sama sekali tidak berubah. Bukan hanya itu, ekspresinya tampak agak dingin, dan dia mendesah saat berkata, “Ini bukan gempa bumi. Ini hanyalah kedatangan orang bodoh.”

← PREV | Table of Contents | NEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

16 Comments Add yours

  1. Anonymous says:

    And when is the next chapter? It seems there have been no updates for a long time …

    Like

  2. juna says:

    Ya si pemesan tongkat kelabang. Lnjtkn tor.

    Like

  3. Oppai doragon says:

    Thanks min

    Like

  4. seedsvin says:

    Kirain mau bikin katana

    Like

  5. Anonymous says:

    Ini novel bagus, cuma sayang di web syosetsu nya udh dihapus, katanya dilanjut di pixiv tapi kurang ngerti cara kerja web nya ga kaya di syosetsu yg gampang di akses, gatau gimana caranya semoga mimin ini bisa lanjut garap ini novel, thanks.

    Like

  6. Anonymous says:

    Lanjotkan

    Like

  7. Reader says:

    Next min, lanjut terozz

    Like

  8. Roronoa Zoro says:

    thanks bang zen buat updatenya

    Like

  9. Rusdi says:

    Akhir nya zen-san kembali…. priode iykwim baru …. sayang bukan R-18

    Like

  10. Bang Zen ada sedikit kesalahan di

    “Untuk Liscia,” kata surat itu. “Jika Souma berkata dia ingin… .”

    Seharusnya “untuk liscia” di ganti “untuk aisha”.
    Btw thanks dah upload 🙂

    Liked by 1 person

    1. Zen Quarta says:

      Sudah diperbaiki…
      Terima kasih sudah mengingatkan…

      Like

  11. Sheard says:

    Thanks dah update bang zen

    Like

    1. Anonymous says:

      Mantap, dilanjut update’a lagi bang

      Like

  12. budhycc says:

    Lanjut min

    Like

  13. RZD says:

    semangat terus bang zen

    Like

  14. sn27 says:

    Update juga setelah lama menanti

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s