Ouroboros Record Chapter 0

Volume 1
Chapter 00 – Mengejar Kekekalan

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : yAmi Translation

— Jika kegelapan dikarenakan kurangnya cahaya, maka ini sudah pasti kegelapan.

 

Perasaan tertekan karena jatuh.
Seperti sebuah bola dari benang wol yang terbuka, unsur-unsur yang membentuknya mulai terurai melalui ujung wol-nya.
Ingatan, bahasa, panca indera, perasaan.
Dan kemudian semuanya terjatuh. Apa yang tersisa padanya setelah itu?

 

— Tidak ada.

 

Menyadari hal itu dalam sepersekian detik, dia menjadi ketakutan, ngeri dan tidak dapat menahannya lagi.
Bahkan saat dia dengan panik mencoba mengumpulkan bagian dirinya yang tersebar, dan mencoba untuk menahannya, mereka tetap saja menghilang.
Tidak peduli sekeras apapun dia berjuang, dia tidak mampu mencegah kekalahannya.
Aku akan menghilang. Aku akan mati.

 

— Kebohongan.

 

Ini memang seperti mimpi tapi sudah pasti ini bukanlah pengalaman lembut seperti itu.
Berpisah dengan intimu seolah-olah kau sedang meleleh, kekejaman itu dapat dibandingkan dengan dicerna di dalam perut binatang buas.
Tidak ada sesuatu seperti ketenangan. Itu hanyalah perasaan gelisah karena kehilangan panca inderamu.
Dan di saat tertentu, kau akan merasakan kehampaan. Kau bahkan tidak merasakan apa-apa. Kau menjadi kosong.

 

— Aku benci itu.

 

Benci, benci, benci, benci, benci!
Aku benci karena ini harus berakhir!
Apakah aku ditakdirkan untuk terus berada dalam kehampaan ini, di dunia dimana tidak ada apapun ini?
Apakah kau mengatakan bahwa semua yang kulakukan sampai saat ini, hanyalah untuk menyambut akhir seperti ini!?

 

“……… Itu akan menjadi terlalu kejam.”

***

Aku terbangun oleh pembicaraan dalam tidurku sendiri.

Pandangan dari tempatku berada masuk kedalam pandanganku, cahaya dari lampu yang berkelip-kelip, sebuah meja kayu, dan di atas itu semua, sebuah kandang tikus, dan obat-obatan yang tak terhitung jumlahnya. Tempat ini adalah sebuah laboratorium bawah tanah yang sudah sering kulihat.

Kelihatannya aku tertidur saat sedang melakukan percobaan.

Yang tadi hanyalah mimpi buruk. Sebuah mimpi buruk yang sudah sering kulihat, tampaknya aku kembali melihatnya hari ini.

Mungkin karena aku telah melihatnya berulang kali sampai-sampai saat ini, aku tidak lagi berteriak dan melompat bangun. Namun, perasaan ngeri ini adalah kenyataan.

Bangun dari kursi, aku dapat merasakan sensasi basah karena keringat dari tubuhku meskipun di sini tidak hangat. Aku selalu seperti ini setelah melihat mimpi itu.

 

— Mimpi sebelum aku lahir.

— Atau mimpi setelah aku mati.

 

“Meskipun baru-baru ini aku sudah melihat mimpi itu…. kenapa aku harus melihatnya lagi sekarang?”

“Chi, chi, chi!” Mendengar monologku, tikus yang ada di dalam kandang itu berteriak. Rasanya mereka seperti sedang mengejekku.

……… Ah, benar juga. Aku telah memutuskan apa penyebab mimpi itu.

Itu karena aku mencapai jalan buntu dalam penelitianku.
Sebuah penelitian yang harus kulakukan karena hal itu.
Sebuah penelitian untuk menjadi awet muda dan abadi.

“….. Aku merasa sudah cukup banyak waktu berlalu. Tapi, aku baru tertidur selama 10 menit.”

Saat aku mengatakan itu, aku mengangkat tanganku ke arah lampu. Ukuran mereka yang kecil sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan ukuran mereka yang sebenarnya.

Jarinya terlihat kecil, dan tangan yang tidak pernah berhenti untuk tumbuh itu tak diragukan lagi adalah sebuah tangan anak kecil.

Suaraku sendiri yang mengirimkan getaran ke gendang telingaku adalah sebuah suara nyaring milik anak kecil yang belum merusak suaranya.

Bahkan rambut yang terjalin di jariku saat aku sedang menggaruk kepalaku, memiliki warna merah, sebuah warna merah tembaga. Itu sudah pasti bukan warna hitam yang biasanya.

Begitu.

Ini adalah diriku yang telah di reinkarnasi setelah mengalami kematian di dunia lamaku.

Tulius Shernan Oubeniel, yang baru berusia delapan tahun.

 

— Siklus Transmigrasi.

 

Tidak peduli bagaimanapun aku melihatnya, itu adalah fenomena yang telah kualami.

Setelah mati sekali, aku dibangkitkan bersama dengan kepribadian dan ingatanku.

Kenapa aku terlahir kembali? Untuk pertanyaan itu, aku tidak pernah kehabisan ketertarikan padanya, tapi untuk saat ini, alasannya masih belum jelas. Setidaknya, tidak ada makhluk aneh di sekitarku dan bahkan jika orang seperti itu benar-benar ada, itu semua hanyalah mitos dan dongeng yang tidak bisa di bedakan dari cerita fiksi.

Kehidupan seperti apa yang telah kutinggalkan di masa hidupku yang sebelumnya adalah sesuatu yang tidak perlu kukatakan, aku yakin.

Sama seperti kehidupanku sekarang, aku adalah seorang laki-laki dan lahir pada abad ke-21 di Jepang. Aku mati muda tanpa merasakan sedikitpun kehidupan dewasa. Jika hanya itulah yang dapat ku ingat dari kehidupanku yang sebelumnya, aku penasaran apakah hal itu akan membawa masalah.

Bagaimanapun, yang terpenting adalah aku mati sekali dan telah di reinkarnasi bersama dengan sedikit ingatanku.

……… Ya, aku masih memiliki ingatan tentang kematianku.

Apakah itu adalah akibat dari otakku yang menunjukkan sesuatu atau itu adalah pandangan yang kudapat setelah jiwaku meleleh dari tubuhku? Aku dipaksa merasakan sensasi kembali ke ketiadaan, sebuah perasaan yang hanya bisa dideskripsikan sebagai sesuatu yang memuakkan.

Apa yang terjadi setelah itu dan keberuntungan macam apa yang telah melewatiku? Entah bagaimana aku di berikan kehidupan yang kedua.

Namun, setiap kali aku memimpikan saat-saat itu, aku akan menggila. Tidak, mungkin aku sudah benar-benar gila.

Bagaimanapun, aku masih dihantui oleh rasa takut dari kematian itu.

….. Manusia pada akhirnya akan mati. Itu adalah hal yang tidak dapat di ganggu gugat di dunia. Bahkan jika aku di reinkarnasi seperti ini, suatu hari aku akan menjadi tua dan jatuh sakit, atau mungkin aku akan mengalami sebuah kecelakaan — dalam kemungkinan yang paling buruk aku mungkin akan dibunuh tapi bagaimanapun, semua itu akan menuntun ku menuju kematian.

…… Aku tidak menginginkan hal itu.

Alasan dan bagaimana aku bisa bereinkarnasi masih belum kuketahui sampai saat ini. Itu berarti bahwa, aku tidak mungkin bisa membayangkan apakah aku akan kembali di reinkarnasi jika aku mati lagi.

Aku punya firasat bahwa aku tidak akan kembali lagi kali ini. Perasaan terpecah belah setelah kematian. Karena hal itu dan juga karena keberuntunganku mungkin tidak akan muncul untuk kedua kalinya, itu adalah sebuah alasan yang lebih dari cukup untuk meyakinkan diriku.

Itulah sebabnya, bahkan sebelum aku berumur sepuluh tahun, aku telah melakukan penelitian ini.

Eh? Penelitian seperti apa?

“Aku telah mengulangi penelitian ini lagi dan lagi sampai tidak akan ada lagi kegagalan sih….”

Aku melemparkan seekor tikus dari dalam kandang sambil mengatakan itu.
Salah satu kaki depan tikus itu sudah hilang. Aku telah memotongnya demi penelitianku.

Mungkin karena otak kecilnya mengingat bahwa kakinya telah dipotong, tikus itu menggeliat tanpa henti. Aku tidak memperdulikan hal itu, dan menambahkan sejumlah [Bahan] di kakinya yang hilang.

Selanjutnya, aku melantunkan sebuah [Mantra].

6

“<<Alchemise>>”

Partikel yang menunjukkan kilau samar berkumpul di bahan-bahan itu dan ketika itu mulai berkilau, cahaya yang telah berkumpul di satu tempat itu berubah menjadi bentuk yang berbeda.

Itu adalah kaki depan tikus tadi. Bagian yang telah kupotong dengan sengaja telah mulai beregenerasi. Aku telah berhasil mencapai regenerasi hanya dengan tanganku sendiri.

 

— Alkimia.

 

Sebuah bentuk sihir yang mengubah suatu material menjadi benda yang bernilai lebih tinggi, seperti mengubah besi menjadi emas.

Secara ekstrim, itu juga dapat di artikan sebagai sihir yang mengekstrak jiwa untuk membuat manusia menjadi eksistensi yang lebih sempurna.

Itulah apa yang aku, Tulius Shernan Oubeniel, telah pelajari. Sebuah penelitian untuk menyelidiki kemungkinan menghindari kematian.

……. Aku mungkin lupa menyebutkan ini tapi di dunia tempatku bereinkarnasi, hal-hal seperti sihir ada di sini.

***

Kerajaan Alcael, Ibukota Kerajaan Brolsenul.

Itu bukanlah sebuah nama yang orang Jepang biasa sepertimu, yang lahir di awal abad ke-21, pernah dengar sebelumnya.

Sebenarnya, sebelum aku datang ke dunia ini, aku juga tidak mengetahui nama itu.
Itu adalah sebuah kota benteng yang dilindungi oleh dinding batu yang dibangun dalam bentuk melingkar mengelilingi bagian luar kota. Kota itu dibagi menjadi dua bagian sama besar oleh Sungai Amon yang mengalir dari timur laut ke barat daya.

Jika dilihat dari atas, penampakan kota itu akan tampak seperti apa yang mereka sebut Yin dan Yang di Asia Timur.

Mansion milik Keluarga Oubeniel, dimana aku tinggal, juga berada di kota ini.

 

“Tulius. Apakah kau masih berkutat dengan aktivitas vulgar itu?”

Di ujung meja panjang yang dapat dengan mudah menampung sepuluh orang di setiap sisinya, terdengar teriakan seorang pria paruh baya. Dia adalah ayahku.

Dia mengenakan gaun longgar. Dan yang mengintip dibalik pakaian mahal itu adalah…. Ehem, terbentuk sebuah lengkungan yang cukup tajam. Itu adalah sebuah perut yang sangat gendut. Warna kulitnya bagus dan bentuk fisiknya juga tidak buruk sehingga akan lebih baik jika dia melakukan lebih banyak latihan untuk memperkuat tubuhnya.

“Tolong berhenti mengatakan hal itu, ayah.”

Aku berasumsi bahwa dia akan memulai ceramahnya dan membuka mataku dengan malas. Pemandangan ruang makan mansion ini masuk kedalam pandanganku.

Dengan datangnya fajar, lampu gantung hias yang mewah berkilauan terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela. Karena ukurannya, aku tanpa sadar membayangkan bahwa jika lampu itu dihidupkan, maka malam akan berubah menjadi seperti siang hari. Ayahku, yang merupakan kepala keluarga saat ini, sedang duduk dan di belakangnya terdapat sebuah lukisan yang tergantung di dinding. Lukisan itu digambar dengan gaya misterius dan menggambarkan kejadian 200 tahun yang lalu, pada saat pendiri keluarga ini menyelesaikan jasa besar di medan perang dan sedang diberikan kenaikan pangkat oleh rasa saat itu.

Apakah itu adalah karpet mengkilap yang tergelar di lantai atau vas yang terlihat mahal yang diletakkan di sepanjang dinding, sinar dan kilauan dari semua benda itu hanya membuat mataku sakit. Bagiku yang sepenuhnya memotong koneksi dari dunia luar dan menjadi orang tertutup di kehidupanku sebelumnya, aku tidak bisa terbiasa dengan desain mewah yang berlebihan ini.

Seolah-olah ini adalah sebuah istana milik keluarga kerajaan atau bangsawan kelas tinggi tapi,

“Sesuatu yang rendahan seperti alkimia, bagaimana lagi aku harus menyebutnya? Tidak bagus bagi anak dari keluarga Count Oubeniel untuk mengotori tangannya dengan kegiatan yang jorok seperti itu.”

Kata ayahku dengan ketus.

Itu benar, keluarga dimana aku terlahir pada kehidupan ini sedikit agak kebangsawanan. Selain itu, keluarga ini juga memiliki gelar yang cukup tinggi, pada tingkat Count.

Keluarga Count Oubeniel didirikan 200 tahun yang lalu tapi dibandingkan dengan negara ini yang telah berumur 500 tahun, ini adalah keluarga yang masih cukup baru. Bagaimanapun, pendiri keluarga ini adalah keturunan dari keluarga bangsawan kuat yang sebagian besar telah musnah tapi, setelah melakukan jasa pada peperangan dengan negara tetangga, dia kembali diberikan gelar Count oleh raja pada masa itu. Sejujurnya, kebenaran dari hal ini masih diragukan. Bagi seseorang yang awalnya memiliki status sosial yang rendah untuk mendapatkan kenaikan gelar sebanyak itu, bisa saja bahwa, orang yang bersangkutan memperoleh silsilah keturunan keluarga setelah membelinya. Bagaimanapun, sebelumnya hal ini pernah terjadi di duniaku sebelumnya. Tokugawa Ieyasu adalah contoh yang cocok untuk hal ini. Aku ingat pernah membacanya dari beberapa buku bahwa ada pemikiran yang agak konyol bahwa dia, berdasarkan fakta yang ada, adalah seorang penipu yang membeli nama Ieyasu.

Yah, aku harus berpindah dari topik silsilah keluarga ini. Bagiku, terlahir di dalam Keluarga Oubeniel adalah sebuah keberuntungan yang sangat besar. Itu karena di dunia ini, seperti yang dapat dilihat, para bangsawan memegang kekuasaan yang cukup besar — sebuah hierarki masyarakat feodalistis. Jika saja aku terlahir sebagai anak petani atau sejenisnya, aku sama sekali dapat melihat masa depan. Jangankan mempelajari tentang keabadian, hanya untuk mencoba mempertahankan hidup saja sudah cukup sulit untuk dilakukan. Dilahirkan di dalam keluarga yang makmur adalah, kombinasi dari reinkarnasiku, sebuah berkah tak terbayangkan dari surga.

Hidup di ibukota juga merupakan hal yang bagus. Ayah tidak terlalu hebat dalam mengelola wilayah, dan karenanya, dia menyerahkan pekerjaan itu kepada bawahannya sementara dia hidup di ibukota. Berkat itu, bukannya tinggal di tempat yang tidak nyaman seperti pedesaan, aku dapat hidup dengan agak tenang di kota dengan berbagai infrastruktur yang terbangun didalamnya.

Pengecualian untuk gaya hidup ini adalah masalah mendesak dari penolakan ayah tentang penelitian alkimia-ku.

“Bagaimanapun. Wahai Tulius, jika kau memiliki bakat sebesar itu, hmm, kenapa kau tidak berhenti bergantung pada kemampuan berpikiran sempit itu dan berusaha untuk menjadi penyihir seperti semua orang? Dengan itu, bahkan sebagai anak kedua, kau dapat menjadi penyihir kekaisaran dan menciptakan jalan untuk menjadi terkenal. Bukankah menjadi alchemist adalah sebuah kedudukan yang vulgar? Itu sama seperti penjual pinggir jalan mencurigakan yang menjual obat-obatan.”

“Ya……”

Aku memberikan jawaban standar yang selalu kukatakan ketika menanggapi ceramahnya itu.

Sama seperti yang dia katakan, kedudukan alkimia di dunia ini sangat rendah. Alasannya adalah sihir sering dijadikan tolak ukur bagi alkimia di dunia ini, dan sihir jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan alkimia. Tentu saja kau dapat menciptakan api atau petir dari tongkat. Secara umum, luka dan penyakit dapat di sembuhkan jika kau meminta perawatan dari priest yang ada di gereja. Bahkan jika kau membawa obat-obatan yang dibuat dengan cara menumbuknya atau senjata yang di imbuhi kekuatan sihir. Kompatibilitas sihir saat ini begitu besar sampai-sampai mereka dapat dengan mudah menggantikan hal-hal itu.

Dari sudut pandang manusia modern sepertiku, itu adalah sebuah teori yang akan membuat seseorang tertawa terbahak-bahak. Menggantikan mereka? Bukankah itu menakjubkan? Dapat menggantikan berbagai item dengan efektif sebaliknya akan berarti bahwa itu dapat di produksi massal. Meskipun, itu agak kurang fleksibel mengingat sihir adalah kemampuan bawaan yang terbatas pada beberapa pengguna.

Dikatakan bahwa, bagi sebagian besar orang, tanggapan mereka kepada orang yang menggunakan alkimia dan sejenisnya, untuk membuat suatu hal sebagai sebuah pekerjaan, mereka beranggapan bahwa sihir sudah lebih dari cukup bagi mereka.

……. Apa yang mereka katakan? Biaya pasti akan berkurang dengan adanya produksi massal dan mempertimbangkan bahwa pintu masuk bagi para pengguna sihir terlalu sempit, hanya ada beberapa orang yang menerima berkah untuk dapat menggunakan sihir. Selain itu, sihir pemulihan untuk perawatan medis di monopoli oleh orang-orang dari gereja dan karena itu, tidak peduli berapa lama waktu berlalu, biaya perawatan akan tetap terlalu mahal. Bagi kaum petani yang tidak memiliki uang, jika ada wabah yang menyerang, mereka hanya akan mati dengan menderita. Itulah sebabnya pertumbuhan penduduk begitu lamban dan perkembangan di perbatasan tidak ada kemajuan. Meskipun semua ini telah terjadi berulang kali, tidak ada tanda-tanda hal itu akan berubah.

Yah, semua itu berasal dari pemikiranku sebagai mantan orang modern Jepang yang berasal dari dunia dengan ilmu pengetahuan, filosofi dan ekonomi yang telah maju. Jika sebagian besar penduduk dunia ini — benua Itousera — hidup dengan sejahtera, aku tidak berpikir mereka akan mengganggu status quo itu sih.

“Apakah kau berpikir akan bagus bagimu untuk memarahinya karena masalah kecil seperti itu, ayah?”

Seorang pemuda yang telah menonton semua kejadian tadi dalam diam, menyela ceramah ayah dengan nada tenang dan elegan. Dia memiliki rambut berwarna emas dan terlihat mewah dan mata berwarna biru. Fitur wajahnya yang terlihat ramping tertata rapi, dan ekspresinya menunjukkan bahwa dia telah di didik dengan baik.

Linus Strein Oubeniel. Kakak yang terlahir tujuh tahun lebih dulu dari pada diriku.

“Tulius adalah anak yang pintar. Melihatnya begitu antusias menjalani hal itu, bukankah akan lebih baik jika kita mendukungnya sampai batas tertentu?”

“Ohh! Seperti yang diharapkan dari kakak, dia mengatakan hal itu dengan cukup pengertian!”

Aku berteriak dengan gembira.

Dia berbeda dengan ayah yang terus mengabaikan wilayahnya. Jika itu adalah ayah, dia akan selalu mengatakan bahwa dia sedang sibuk dengan hubungan sosial tapi pada kenyataannya, dia hanya memanjakan dirinya dalam kemewahan di ibukota. Aku sudah sering mendengar para tamu yang di undang ke pesta malam membicarakan gaya hidup ayah yang terlalu mewah. Tapi sebaliknya, Kak Linus adalah pekerja keras. Satu-satunya hal mewah yang ada pada dirinya adalah ketertarikannya pada teh. Lain dari pada itu, dia adalah orang yang hidup dengan tulus dan tak terpengaruh dengan sekelilingnya, dengan kesabaran dan semangat. Apa yang dapat kupikirkan adalah jika suatu hari ayah meninggal, mungkin situasinya akan lebih bagus dari saat ini jika dia menjadi kepala keluarga ini. Itulah pendapatku tentang Kakak. Dia sudah banyak membantuku.

Namun, ayah terlihat merajuk saat dia menyeruput sup nya dan mendengus dengan tidak senang.

“Kau memutuskan untuk berbicara kurang ajar huh, Linus.”

Sebuah ketidaksenangan yang lebih besar, jika dibandingkan dengan ceramahnya yang biasa, tampak di wajahnya.

“Itulah karena hal itu akan bagus bagimu yang merupakan pewaris yang tidak layak.”

Dia menambahkan. Kenapa dia selalu mencari-cari kesalahan kakak.

“Ayah…..”

Kakak menelan ludah….

Memang benar bahwa jika ada perselisihan diantara kami untuk menjadi kepala keluarga selanjutnya, akan sangat bagus baginya jika saingannya mengabdikan diri pada hobi yang kotor. Namun, hal itu juga akan bagus bagiku, bagaimanapun, jika kakak bisa menjadi pewaris, aku dapat mendedikasikan diriku dalam penelitianku.

“Jika orang sehebat kakakku dianggap tidak layak, harapan ayah pastilah terlalu tinggi,” aku memotong perkataan ayahku dengan nada takjub, “Jika kau benar-benar menginginkan pewaris yang menakjubkan seperti itu, kenapa kau tidak mencari istri kedua?”

“Oi, Tulius.”

Mata ayah terbuka lebar dan terlihat sangat marah. Saat ini, dia adalah seorang duda. Wanita yang merupakan ibuku dan Kakak meninggal setelah melahirkanku. Dikatakan bahwa pemulihan pasca persalinannya sulit.

Meskipun rambut ayah sudah mulai beruban, dia masih dalam masa prima nya. Istri kedua tidak akan aneh baginya, dia sudah memiliki dua orang putra dan akibatnya, memiliki sedikit keberuntungan dengan yang baru. Meskipun dia mungkin adalah sebuah lelucon bagi seorang Count, keadaan keuangannya tidak terlalu buruk. Aku tidak akan terkejut jika ada satu atau dua wanita di luar sana berencana untuk mendapatkan uang dan status sosial dengan menikah ke dalam keluarga Count.

Dia berkata dengan ekspresi busuk.

“….. Bagaimana jika kau membersihkan tanganmu dari alkimia, maka aku akan mengabulkan permintaanmu?”

Apa yang dikatakan orang ini?

“Tolong hentikan. Meskipun tidak ada kekurangan yang jelas pada perilaku kakak, urutan dari tua ke muda sudah menjadi berantakan — pertengkaran tak berguna ini pasti adalah penyebabnya. Aku minta maaf ayah.”

Sesuatu seperti menyingkirkan putra tertua yang tidak mengomentari kemanisan adiknya adalah bendera kematian yang sangat terkenal dalam Kisah Tiga Kerajaan. Diantara kamp-kamp besar yang dihancurkan oleh Cao Cao, Keluarga Yuan dan Keluarga Liu di provinsi Jing adalah contoh yang cukup cocok dengan situasi saat ini. Itu sama dengan era saat Liu Bei dan Sun Quan menjadi kelompok terkuat. Tidak ada alasan bagi keluarga Oubeniel untuk mengikuti jalan itu juga. Bagaimanapun, salah satu hal paling dasar dari yang paling dasar di Kerajaan Alcael, adalah putra tertua akan mewarisi keluarga.

Aku secara terbuka mengatakan pemikiran itu tapi, ayah yang dengan tenang mengabaikan peringatanku pasti adalah orang yang cukup bodoh.

“Sudah menjadi hal biasa di dunia ini bagi orang tua untuk mendukung putra termuda yang lebih berbakat. Terlebih lagi, akan menjadi tidak rasional untuk memperlakukan properti keluarga kita seperti sebuah permainan. Yang terpenting, tidak peduli bagaimana aku, sebagai seorang adik melihatnya, kakak adalah pewaris yang layak, kan?”

Aku mengirim tatapan yang meminta persetujuan ke arah kakak dan dia wajahnya menjadi kaku dalam sekejap.

“A-Ahh…. Mendengarmu mengatakan hal itu, aku sangat senang, Tulius.”

Lalu dia menghela nafas sambil bergumam.

“…….. Sungguh, kau masih anak kecil tapi kau sudah bertindak begitu dewasa, jadi inilah bagaimana kau tumbuh eh.”

Aku dapat mendengarmu, kakak. Kau pasti berniat mengatakannya dalam hati sih.

Ayah kemungkinan besar berpikir bahwa mungkin aku adalah anak berbakat yang melebihi kakakku karena gaya bicaraku yang sudah seperti orang dewasa.

Itu hanyalah perilaku yang kuingat ketika aku dewasa sebelum di reinkarnasi. Singkatnya, sebuah kecurangan, atau biasa disebut cheat. Jika aku harus mengatakannya, kakakku yang berumur 15 tahun adalah anak yang menakjubkan yang mengabdikan dirinya dalam belajar demi menjadi pewaris keluarga. Dibandingkan dengan diriku yang berumur 15 tahun di masa lalu, dia sudah pasti jauh lebih menakjubkan.

Karena itu, aku tidak berencana untuk berperilaku seperti anak kecil saat ini. Aku sudah pasrah pada nasibku sebagai seorang bayi, ketika aku hanya bisa membasahi diriku sendiri dari atas sampai bawah dan harus menghisap susu dari ibu asuh. Permainan seperti itu, bagi seseorang yang tidak memiliki kecenderungan seperti itu, hanyalah sebuah penderitaan dan siksaan. Aku harus menahannya selama lebih dari satu tahun. Jika aku memiliki kesadaran dari orang yang sudah dewasa, dan dapat berjalan sendirian, sudah wajar bahwa aku ingin berbicara dengan nada seperti itu.

Meskipun dapat dikatakan bahwa tidak memiliki kesabaran dan tidak menahan diri adalah sebuah tindakan yang sangat kekanak-kanakan.

“Ahem,” ayah berdehem.

“Baiklah, kita harus mengesampingkan hal itu. Kau sudah berumur delapan tahun. Kau tidak bisa terus menghabiskan tahunmu dengan bermain dan bersenang-senang, kan?”

Itu datang dari mulut seorang bangsawan yang bersenang-senang setiap hari, tapi aku harus menahannya untuk saat ini dan menganggukkan kepalaku. Kekuasaan kepala keluarga adalah hal yang absolut. Itu adalah salah satu aturan dalam keluarga bangsawan.

“Kau juga hampir berada pada umur ketika anak bangsawan belajar bagaimana cara menggunakan orang. Karena itu, kau akan pergi ke pasar budak sore nanti untuk membeli seorang budak.”

“Budak?”

Aku dapat menyadari bahwa ekspresi wajahku menjadi mengerikan.

Budak. Mereka berada pada hierarki terendah dalam masyarakat ini. Ini adalah dunia yang memiliki konsep hak asasi manusia yang berbeda dengan dunia modern. Oleh karena itu, di dunia ini terdapat para budak. Selama ada lingkungan yang keras seperti tambang, budak adalah pilihan utama untuk ditugaskan disana.

Juga, diantara para bangsawan dan rakyat jelata dengan kedudukan yang tinggi, ada beberapa keluarga yang membeli budak untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa budak ada untuk melakukan semuanya dan semuanya untuk semua orang. Meskipun ketika itu menyangkut masa depan kekayaan dan kedudukan seseorang, penting bahwa bawahan yang melayanimu memiliki kecocokan dengan status keluargamu.

Dalam kasus Keluarga Oubeniel, mengingat bahwa gelar kebangsawanan kami adalah Count, status yang cocok sebagian besar merujuk pada warga biasa. Sementara untuk pembantu dekat yang berpartisipasi dalam urusan pemerintahan, bawahan sekunder (anggap saja itu adalah bawahan yang melayani bawahan lain) dari bangsawan yang lebih rendah akan melayani mereka. Bagi Keluarga Count untuk membeli budak dan membawanya ke rumah akan berarti bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan yang jahat dan kotor…. Atau mungkin budak itu akan digunakan sebagai bawahan seorang anak yang belum terbiasa menggunakan orang. Memulainya dengan seorang budak, lalu bergerak ke warga biasa, dan akhirnya ke bangsawan yang lebih rendah, semuanya dilakukan secara berurutan. Itulah cara untuk membiasakan diri dalam memerintah orang lain.

Memang tepat bagi anak berumur delapan tahun untuk mulai melatih hal itu, tapi aku hanya bisa merasakan firasat buruk tentang hal ini.

Aku bertanya dengan takut.

“Hmm, aku tidak keberatan tapi…. berapa banyak dana yang harus kugunakan?”

“Kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Aku akan memberikan jatah bulan depan lebih awal dan mengirimkannya kepadamu.”

Aku tau itu! Aku mengalihkan tatapanku ke arah langit secara naluriah.

Dana untuk penelitianku pada dasarnya berasal dari jatah yang kudapatkan dari ayah. Meskipun itu adalah jatah untuk seorang anak kecil, itu adalah jatah yang diberikan kepada salah satu putra Count, dan selain itu, itu adalah uang yang hanya berpindah tangan. Itu adalah jatah yang tidak biasa bagi seorang anak berumur delapan tahun yang normal.

Namun, menggunakan jatah bulan depan untuk membeli budak, apa yang akan terjadi pada penelitianku? Tanpa uang yang cukup, bukankah itu akan menyebabkan masalah pada pengeluaran untuk penelitianku bulan depan? Ini tidak seperti bahan dan peralatan percobaan itu adalah sesuatu yang gratis, jadi hanya menggunakan mereka seperti biasa akan menyebabkan penurunan pada aliran uangku.

Ada juga masalah tentang mengurus budak. Bahkan jika kami membuatnya memakan makanan sisa dan dapat menyimpan biaya makan sebanyak mungkin, ada juga biaya pakaian yang harus diperhitungkan. Sebagai bawahan dari anak seorang Count, penting bagi budak itu untuk memiliki penampilan yang cocok. Apalagi, jika budak itu sakit atau terluka, akan ada juga biaya perawatan yang dikeluarkan.

Untuk semua pengeluaran itu, apakah ayah akan menutupinya? Tidak, tidak mungkin dia akan mengeluarkan uang sepeserpun. Karena jatah bulanan sudah lebih dari cukup, ceritanya akan berakhir hanya dengan mengalokasikan uang itu. Memulai diskusi bahwa aku tidak akan dapat melanjutkan penelitian alkimia-ku hanya akan memancing kembali penolakan ayah yang sebelumnya.

Ayah tersenyum sambil menunjukkan ekspresi “Kena kau”.

“Sebuah kesempatan yang bagus. Itu akan berfungsi untuk membantumu mengalihkan fokus pikiranmu, dan mengembalikanmu ke jalan yang benar sebagai putra seorang bangsawan.”

Sederhananya, ini adalah perintah penghentian penelitian yang memiliki bentuk berbeda.

Berhenti bercanda. Bagiku untuk berhenti melakukan penelitian alkimia sama saja dengan aku harus mati dan hidupku akan berakhir hanya karena pada saat itu aku hanya dapat menerimanya. Meskipun telah diberkati dengan begitu banyak keberuntungan dan di reinkarnasi ke dunia ini, tidak mungkin aku dapat menerima begitu saja untuk dikirim kembali ke dunia kekosongan itu tanpa hidup setidaknya selama 100 tahun!

Aku harus mengatasi hal ini dengan suatu cara —

……

Tidak, tunggu?

Memiliki budak akan berarti bisa memerintahkan budak itu untuk melakukan apapun yang ku mau. Misalnya, jika seorang manusia bergerak sesuai keinginanku tanpa satupun penolakan, oh itu dia.

Jika seperti itu….. tidak masalah jika aku memintanya membantu dalam alkimia, kan?

Bahkan jika aku harus mengatakannya sendiri, itu adalah sebuah ide yang menarik.

Bagaimanapun, akhir-akhir ini aku merasa seperti terjebak dalam kebuntuan pada penelitianku. Tidak peduli seberapa banyak pengetahuan dan kepintaran orang dewasa yang kumiliki, kelihatannya aku tekah mencapai batas pada apa yang dapat dilakukan seorang diri. Apalagi, dengan bertambahnya tenaga kerja, apa yang dapat ku capai akan semakin besar. Setidaknya, jika budak itu memiliki pemikiran yang sama denganku, jumlah kepala akan bertambah dari satu menjadi dua dan dengan perhitungan sederhana, itu berarti penggandaan tenaga kerja.

Tentu saja, jika itu adalah seorang budak yang hampir tidak memiliki pengetahuan, waktu harus dihabiskan untuk melatih budak itu dalam alkimia tapi, jika aku dapat membuat budak itu ahli dalam alkimia, keuntungan yang kudapat akan lebih besar.

Sekarang setelah aku memikirkannya, itu bukanlah pertukaran yang buruk. Ini adalah sebuah keberuntungan besar, atau sama seperti seseorang yang menemukan sampan ketika dia harus menyeberangi sungai.

“Memang, seperti yang ayah katakan — ini mungkin adalah sebuah kesempatan emas.”

Aku menyembunyikan ekspresi yang ada diwajahku, dan mencoba sekeras mungkin untuk terlihat sedih saat mengatakan hal itu.

Hal itu agar aku dapat menyembunyikan hinaan kepada lawan yang ku tipu sehingga aku harus menutupi kegembiraanku dengan mengatakan bahwa itu adalah ide yang bagus untukku.

Ini seharusnya cukup. Itu adalah sebuah pembelian yang hampir benar-benar menyapu seluruh jatah bulan depanku. Aku setidaknya harus berusaha sekeras mungkin untuk menemukan budak yang benar-benar berbakat!

Mendengar jawabanku, ayah bahkan tidak repot-repot menyembunyikan kepuasannya, sementara kakak memberikan tatapan menyelidik ke arahku, seolah-olah ada sesuatu yang tidak beres.

***

Dengan demikian, kami pergi menuju pasar budak Brolsenul.

Itu mungkin bisa disebut sudut jalan tapi tempat itu adalah wilayah perdagangan yang ramai di ibu kota kerajaan dunia ini. Bukan berarti aku tidak memiliki opini sebagai mantan orang Jepang modern tentang tempat itu, tapi seperti itulah, dan jika disana tidak ada yang menyusahkanku, maka aku harus bisa menolerirnya sampai sejauh itu. Aku adalah orang yang menganut prinsip membiarkan sesuatu untuk menghindari masalah.

“Jadi, tuan muda. Budak seperti apa yang anda inginkan?”

Bawahan yang ditugaskan oleh ayah untuk bertindak sebagai pengawalku dan untuk mengawasiku berbicara dengan nada berat.

Dia diberi julukan sebagai ksatria generasi pertama dan merupakan seorang mantan rakyat jelata, atau begitulah kelihatannya. Aku tidak terlalu akrab dengannya dan tidak tahu banyak tentangnya sih. Meskipun kami tidak terlalu akrab dengan rakyat jelata, aku masih memiliki sedikit pengetahuan tentang hal itu. Itulah maksud dari memiliki pandangan dunia.

Tatapan matanya saat menatap papan harga yang ada pada kalung perak yang di pakai oleh para budak lebih memiliki kesan kasihan dari pada cemoohan. Itu mungkin karena mereka termasuk kedalam tingkatan yang paling rendah. Tapi meski begitu, tatapan cemoohan tidak akan pernah bisa hilang, sampai-sampai aku bisa merasakannya dari tatapan yang dia tujukan kepada budak dari rakyat jelata itu (meskipun mereka memiliki status sosial yang hampir sama).

“Mm, aku menginginkan seseorang yang dapat menjadi bahan ajar untuk pembelajaranku tentang bawahan…… jika bisa, seseorang yang masih muda dan memiliki umur sepantaran akan lebih bagus. Aku juga berharap memiliki budak yang dapat membantuku sehingga akan lebih bagus lagi jika budak itu memiliki pemahaman sihir dasar.”

Mengabaikan kesulitan yang dia tunjukkan, aku menyatakan persyaratan dan standarku dari awal sampai akhir. Alkimia adalah penelitian dan sejenis sihir di saat bersamaan. Tidak ada gunanya mempertimbangkan siapapun yang tidak memiliki kemampuan sihir dasar. Sebagai catatan, aku dapat menggunakan sihir. Aku sedikit dapat menggunakan sihir api sampai pada tingkatan aku dapat bermain dengan api dan dapat menyembuhkan luka ringan juga.

“Eh? Sesuatu seperti cantik dan sejenisnya, apakah tidak ada satu bagianpun dari hal itu yang masuk kedalam target anda?”

“Jika itu dimasukkan, bukankah itu akan meningkatkan harganya?”

Selain itu, masih terlalu cepat untuk mencari kesenangan seperti itu pada umurku yang sekarang. Yah, memiliki penampilan yang cantik dan manis mungkin juga akan bagus untuk mood-ku tapi mengeluarkan sejumlah besar uang untuk tujuan itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

“Meskipun kau berpikiran seperti itu, aku masih akan tetap memilih mereka berdasarkan harganya, dimulai dari yang termurah.”

Seorang budak yang masih muda akan memiliki harga yang murah selama dia normal. Seorang anak berumur sepantaran yang kuminta seharusnya ada cukup banyak di pasar ini.

“Oh?”

Pengawal itu menjawab dan mengubah ekspresinya menjadi seperti seorang pebisnis. Itu tidak masalah bagiku. Apa yang mungkin dia pikirkan saat ini bukanlah urusanku. Melakukan apa yang harus kulakukan dan tidak melakukan apa yang tidak harus kulakukan adalah hal yang harus lebih kupikirkan.

Berpikir tanpa ketertarikan seorang anak kecil, aku memeriksa budak-budak yang ada disini.

Mereka sebagian besar, seperti yang kuduga, adalah anak-anak petani, yang telah dijual oleh orang tua mereka. Bagi masyarakat dengan industri pertanian yang masih belum berkembang, hanya dengan sebuah badai salju atau kekeringan sudah dapat membuat para petani mengalami dilema. Bahkan tanpa satupun bencana alam, selama ada tuan tanah bodoh yang memberikan pajak yang berat, keadaan mereka tidak akan pernah pulih. Dengan kondisi itu dan ditambah dengan adanya keluarga yang melahirkan tanpa henti seperti tikus, setiap kali situasi berubah menjadi yang terburuk, mereka akan menjual anak-anak yang tidak mampu mereka beri makan….. Negara ini, Kerajaan Alcael, seharusnya lebih diberkahi dalam hal persediaan makanan dibandingkan dengan negara lain namun, kenapa ada banyak sekali petani yang menghadapi kemiskinan seperti itu? Tak diragukan lagi bahwa kesulitan mereka berbanding lurus dengan kelompok tuan tanah yang ada di atas mereka. Orang-orang seperti kepala keluargaku huh.

Kembali ke topik. Pada kelompok kedua, ada banyak kriminal. Benua Itousera memang mirip seperti abad pertengahan tapi peradaban disini sudah berada pada tingkatan sekitar periode kebangkitan. Disini tidak ada hal-hal maju seperti penjara. Setidaknya, aku tahu bahwa disini tidak ada fasilitas seperti itu dimana rakyat jelata akan dipenjarakan setelah ditangkap. Kriminal yang melakukan kejahatan kecil untuk sementara akan ditahan didalam sel setelah tertangkap, dan kemudian akan diminta untuk membayar denda. Mereka yang tidak dapat membayar denda atau yang melakukan kejahatan besar akan jatuh kedalam belenggu perbudakan. Dan ada juga mereka yang langsung di eksekusi setelah melakukan kejahatan yang tak terampuni. Ada kasus dimana bangsawan besar atau pendeta berperingkat tinggi di izinkan untuk pensiun di perbatasan setelah melakukan kejahatan — istilah lembut untuk penahanan — tapi yah, mereka adalah pengecualian. Apakah tidak masalah untuk membeli budak yang merupakan mantan kriminal? Itulah yang ada dalam pikiranku, tapi ada itu. Sebuah sihir yang memaksa budak patuh untuk mencegah pemberontakan telah diaktifkan pada mereka. Hasil dari hal itu adalah kalung perak yang mereka pakai di leher mereka. Seperti yang diharapkan dari dunia fantasi, selama disini ada sihir, tidak ada hal yang tidak mungkin.

Dan, sebagian kecil dari para budak adalah demi-human, elf, dan dwarf. Benar, demi-human. Ada makhluk hidup lain di dunia ini yang juga memiliki akal. Terlepas dari ras mirip manusia yang cenderung hidup lama, ada juga naga yang dapat berbicara, tapi aku belum pernah melihatnya saat ini. Mereka adalah makhluk yang langka dan menangkapnya juga merupakan hal yang sulit. Biasanya, bahkan jika mereka ada di pasaran, harga mereka akan sangat tinggi. Sejujurnya, itu bukanlah sesuatu yang dapat dibeli menggunakan jatah seorang anak dari Keluarga Count. Yang membuatnya semakin buruk, kesetiaan ras ini adalah yang terendah di banding dengan ras lain. Juga, para elf memiliki berkah alami dalam art misterius dan ditakutkan bahwa mereka dapat menghilangkan sihir yang memaksa mereka untuk patuh. Itu akan menjadi hal yang romantis tapi mengingat keadaanku, mereka sudah pasti tidak masuk dalam hitungan.

Apa yang kucari adalah budak adalah apa yang kusebutkan kedua, mantan kriminal… atau lebih tepatnya, hal yang mirip dengan itu. Karena percekcokan domestik atau kecurigaan pemberontakan, sebuah keluarga mungkin akan dihancurkan dan agar tidak terlibat dalam hal itu, ada anak-anak yang jatuh kedalam perbudakan. Artinya adalah kemungkinan bahwa adalah seorang budak yang telah di didik dengan baik sampai batas tertentu di pasar ini. Aku dapat menghemat waktu untuk mengajarkan dasarnya kepada mereka, aku sangat menginginkan budak seperti itu sampai-sampai tanganku terasa ingin keluar dari tenggorokanku[1].

Bahkan, jika itu adalah anak seorang bangsawan, ada kemungkinan yang lebih besar bahwa dia dapat menggunakan sihir.

Akar dari sihir. Hal ini ditentukan oleh faktor bawaan, sehingga, sampai batas tertentu, sihir dapat diwariskan dari orang tua ke anaknya. Di atas itu semua, sihir membutuhkan perapalan dan kemampuan untuk menggunakannya jadi anak-anak harus di ajarkan dengan benar tentang cara menggunakan sihir. Itu adalah sifat mendasar dari masyarakat kelas atas. Selain itu, di Itousera, teknologi masih belum berkembang dan oleh karenanya pilihan utama dari senjata yang dapat digunakan adalah pedang dan sihir. Akan menjadi sebuah bencana jika masyarakat melakukan pemberontakan dan oleh karena itu, orang yang berbakat dalam sihir dan kepemilikan buku penting tentang sihir di atur secara ketat oleh para bangsawan. Orang-orang bayaran atau mungkin bisa disebut para petualang mungkin memiliki penyihir diantara mereka tapi orang ini mungkin terikat pada bangsawan tertentu atau mungkin adalah seorang bangsawan yang jatuh.

Pemikiran itu berputar di kepalaku, saat aku memeriksa para budak itu satu per satu berdasarkan harganya.

Tingkat pemahaman sihir mereka dapat di lihat dari jumlah kekuatan sihir yang mereka lepaskan ke udara. Demikian juga, ada trik untuk menyembunyikan hal itu, tapi jika disini ada budak yang memiliki kemampuan seperti itu, harga mereka juga akan menjadi lebih tinggi. Apakah sang penjual akan menipuku sehingga dapat menurunkan harga budaknya? Penjual yang hebat tidak akan pernah melakukan hal itu. Tidak ada seorangpun yang akan memakai baju rumahan yang dibeli pada saat obral dan pakaian bermerek di saat bersamaan. Jika itu benar-benar dibuat berharga murah, maka itu pasti karena ada harapan bahwa pembeli itu akan kembali lagi ke tempat mereka. Bagiku untuk menjual barang pribadi dan asetku akan berarti bahwa aku harus berada pada skenario dimana aku sudah terpojok, tapi meski begitu aku masih akan tetap mengikuti prinsipku untuk menjualnya dengan harga setinggi mungkin.

Yap, aku tidak merasakan satupun orang seperti itu di antara mereka. Budak yang dapat menggunakan sihir benar-benar berjumlah sedikit. Hal yang sama juga berlaku pada budak yang telah menerima pendidikan. Tidak ada pilihan lain, aku harus mencoba toko lain dengan barang yang berkelas lebih tinggi.

Pada saat itulah aku merasakannya.

“……. Oh?”

2a

Aku dapat merasakan sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah aura sihir yang agak bagus. Meskipun sudah pasti itu adalah sensasi yang samar, aura itu terasa cukup halus. Tapi, daya tariknya sama sekali tidak lemah. Sejauh yang ku tahu, kualitas sihir sebanding dengan kuantitas sihir. Cukup langka untuk merasakan sihir berkualitas setinggi ini meskipun memiliki kuantitas yang kecil.

Mungkinkah sumber dari sihir ini, sedang sekarat? Aku selalu menutup diri dan fokus pada penelitianku, dan sejauh ini, orang yang kutemui hanyalah orang-orang yang sehat. Aku hampir tidak punya pengalaman bertemu dengan orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup di ujung kematian. Apalagi orang yang memiliki kualitas sihir selangka ini. Aku telah melihat tak terhitung adegan dimana budak dibunuh setelah memancing kemarahan ayah atau kakak, tapi para korban itu tidak pernah memiliki sedikitpun bakat sihir. Bagaimanapun, cara kakak membunuh mereka tanpa ragu adalah bukti bahwa budak tidak lagi di anggap sebagai manusia.

Bagaimanapun, dengan kemungkinan bahwa aku telah menemukan sebuah barang bagus, aku menatap ke arah sumber sihir itu.

“Yang satu ini kondisinya agak parah….”

Ke arah dimana pandanganku tertuju, pengawal itu berbicara dengan nada berat.

Memang, budak ini berada dalam keadaan tragis.

Budak itu mungkin adalah seorang gadis muda. Membandingkan tubuh fisiknya denganku, kurasa dia satu atau dua tahun lebih muda dariku.

Ada sisa-sisa rambut hitam panjang yang tersisir, tetapi saat ini rambut itu barada dalam keadaan berantakan. Dinilai dari tubuhnya yang bagus dan kulitnya yang putih, aku hanya dapat membayangkan bahwa sebelum dia jatuh ke tingkat serendah ini, dia hidup di lingkungan yang cukup bagus. Namun, itu hanya membuatnya menjadi semakin tragis.

Apakah dia sudah dihajar berulang kali? Setiap bagian dari mata sampai ke hidungnya membengkak. Aku harus memperkirakan jenis kelaminnya, dan menggunakan kata ‘mungkin’ karena kondisi babak belur nya itu. Hal ini pasti telah dianggap sebagai penampilan aslinya. Pakaian budak yang compang-camping, sebuah pakaian sederhana yang terdiri dari sepotong kain besar dengan lubang di tengahnya sebagai kerah, yang dia pakai hanya bisa di deskripsikan sebagai karung goni yang penuh dengan lubang. Jika dilihat lebih dekat, ada darah kering dan kotoran berwarna hitam di area diantara pahanya. Mungkin karena luka sobek di tubuh bagian bawahnya sehingga dia tidak dapat berdiri. Sebelum jatuh ke pasar ini, ini pasti adalah keadaan setelah dia digunakan dengan kejam oleh penjual sebelumnya untuk bersenang-senang. Bagaimana bisa seseorang menghancurkan seorang anak yang umurnya masih satu digit sampai sejauh ini? Ini adalah dunia yang gagal kupahami.

Benar-benar keserakahan yang mengerikan. Bukankah jika dia di jual pada saat masih cantik, dia akan memberikan jumlah uang yang lebih banyak.

Aku melirik ke arah papan harganya.

“…… Mahalnya.”

Aku tanpa sadar menggumamkan hal itu.

Harga yang tertulis di papan harga mencapai apa yang kusebut mahal berdasarkan dana yang kuterima. Itu seharusnya bukanlah harga seseorang yang sudah kesulitan bernafas dan sedang menunggu kematian dengan perlahan.

Mengingat bahwa dia memiliki kualitas sihir yang bagus dan langka, hal itu sudah wajar tapi setidaknya, akan lebih baik jika dia menerima sedikit perawatan. Jika hal itu dilakukan, aku yakin dia dapat di jual pada toko-toko kelas dua. Tidak, jika dia berada dalam kondisi sehat, kuantitas sihirnya akan kembali normal dan hanya dengan itu saja, tidak akan aneh jika dia memiliki harga tertinggi saat ini.

Yah, pasar budak bukanlah kantor pelayanan penyihir. Bahkan jika pemilik toko mengetahui jumlah kekuatan sihir yang dimiliki seseorang, mereka tidak akan dapat memahami tingkatan sebenarnya dari hal itu. Aku dapat merasakan kurangnya usaha mereka dalam berdagang tapi bagaimanapun aku tidak punya tugas dan niat untuk menuntut peningkatan.

“Ayo pergi, tuan muda. Anak ini terlalu menyedihkan, dia bahkan tidak memenuhi persyaratan anda.”

Pengawalku menarik lengan bajuku dengan ringan.

Aku melepaskannya.

“Tunggu sebentar.”

Mengabaikan pengawalku yang tersentak, aku mendekat ke arah budak itu.

Aku melakukan pemeriksaan lain padanya dan seperti yang kuduga, tangannya tidak menunjukkan bekas kerja berat. Pergelangan tangannya tampaknya retak karena telah digenggam dengan kuat tapi meski begitu, telapak tangannya terlihat cantik.

Kaki telanjangnya telah tergores oleh tempat tidur batu tapi bentuk kukunya masih utuh. Ujung kaki dan pergelangan kakinya tidak melakukan kontak langsung dengan tempat tidur, sehingga tidak terluka. Dia pasti menggunakan sepatu atau kaus kaki sebelum dijual.

Semua ini menunjukkan bahwa dia adalah anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mapan. Mungkin keluarganya bertemu dengan kehancuran atau dia mungkin telah diculik, dan berakhir di pasar budak ini.

Dengan kata lain, dia mungkin adalah kandidat yang sedang kucari — seorang anak yang menerima pendidikan sampai tingkat tertentu.

……. Aku merenung untuk sejenak.

Pertama-tama, dia hampir seumuran denganku, jadi ayah akan menganggapnya sebagai objek latihan untuk menggunakan bawahan yang cocok untukku.

Sebagai catatan, dia adalah apa yang kucari, seorang anak yang mungkin menerima jumlah pendudukan yang cukup.

Dan…. Sihirnya berada pada tingkat atas.

Terus terang, jika kita memasukkan kemungkinan bahwa dia mungkin akan menjadi orang yang luar biasa di masa depan, harga ini sama sekali tidak terlihat mahal. Ini sebenarnya adalah sebuah obral yang dapat ku jangkau dengan uang yang kumiliki.

Satu-satunya masalah disini adalah dia merupakan barang cacat yang mungkin akan segera mati dalam waktu dekat.

Apakah dia benar-benar pembelian yang bagus? Jika aku dapat membawanya kerumah dan dia bertahan hidup, itu akan layak mendapatkan perayaan. Tapi, jika terjadi hal terburuk, ada kemungkinan bahwa aku harus membuang-buang seluruh jatah bulan depanku untuk membeli mayat. Apa yang akan kulakukan jika itu terjadi? Setelah melakukan hal sebodoh itu, dimarahi oleh ayah mungkin adalah sebuah skenario yang terlalu optimis. Jika aku sedang sial, aku mungkin tidak akan lagi diberi uang dalam jumlah besar dan kemungkinan jatah bulananku yang akan datang juga akan dipotong.

Apakah ada cara lain untuk keluar dari hal ini?…. Tidak ada hal lain secara khusus.

Tidak usah dikatakan bahwa kedudukanku akan menurun tajam. Ayah mungkin akan menunjukkan perhatian yang kurang kepadaku. Namun, memangnya kenapa? Masalah sebenarnya disini adalah ayah yang memberikan perhatian berlebihan kepadaku dan mungkin akan menjadikanku pewaris selanjutnya. Jika itu terjadi, pertengkaran antara aku dan kakak tidak dapat dihindari. Bahkan jika aku menang, aku harus mengejar karier dalam politik sebagai kepala Keluarga Count dan harus meninggalkan penelitianku. Tidak, dalam kasus terburuk, para atasan mungkin akan menggunakan pertengkaran rumah tangga itu sebagai alasan untuk menghancurkan kami.

Dengan pertimbangan itu, kehilangan poin pada saat ini kurang lebih dapat dianggap sebagai investasi untuk masa depan. Tidak masalah untuk bergantung pada kakak yang dengan tulus memiliki motivasi untuk mengambil alih peran kepala keluarga. Selama aku dapat menerima bantuan dana sampai batas tertentu dan dapat terus melakukan percobaanku untuk mencapai keabadian. Aku sudah puas. Satu-satunya dampak dari membeli budak mati, pada kenyataannya, orang yang sudah hampir mati, mungkin adalah penghentian sementara dari penelitian yang kulakukan. Bagaimanapun, aku sudah mencapai batas dari apa yang dapat kulakukan sendirian dalam penelitianku. Jika hal itu benar-benar terjadi, apa yang harus kulakukan adalah menyimpan uang sambil menganggap hal itu sebagai istirahat panjang yang diberikan dewa kepadaku.

Jika aku gagal, aku akan kembali dari nol, tapi jika aku berhasil, aku akan untung. Berpikir seperti itu membuatku merasa seperti sedang membeli tiket lotre.

Aku entah bagaimana dapat menangani luka jadi aku akan menyembuhkan luka gadis ini dan memberikan kesempatan hidup lain untuk dirinya. Posisi kakak sebagai pewaris akan aman dengan kegagalan saingannya, jadi ayah seharusnya bisa mengatakan siapa yang benar-benar pantas menjadi pewaris. Mari kita tangani apapun yang akan terjadi nanti!

“Baiklah. Anak ini, aku akan membelinya.”

“Tuan muda!?”

Pengawal yang mengikutiku itu membuka lebar matanya secara berlebihan. “Saya tidak dapat mempercayai ini”, adalah apa yang tampak di wajahnya. Sebuah reaksi yang normal dan biasa.

Mengabaikan hal itu, aku mengintip ke arah wajah gadis muda yang meringkuk itu. Aku mengabaikan bau tajam yang menyerang lubang hidungku. Setelah berpengalaman menangani senyawa kimia ketika membuat obat, aku sudah terbiasa pada tingkat bau seperti ini.

“Siapa namamu?”

“………….”

Gadis muda dengan wajah bengkak itu, menggumamkan sesuatu yang tak dapat kudengar. Apakah dia memberitahu namanya seperti yang kutanyakan atau dia mengatakan beberapa ejekan kepadaku, atau apakah dia hanya bergumam tak jelas? Aku tidak dapat membuat penilaian yang pasti pada hal itu.

‘Yah, aku akan mendengarnya lain kali ketika kau sudah dapat menjawabnya. Oleh karena itu, hmm….. bisakah kau membawaku ke seseorang yang dapat ku ajak membahas pembelian ini?”

Dia membawaku ke orang itu saat aku meminta kepadanya. kesepakatan itu selesai dalam dua jawaban dari pemilik toko meskipun dia memberikan tatapan curiga.

Yah, itu pasti karena dia adalah budak yang satu langkah lagi menuju kematian dan bukanlah budak yang akan menarik perhatian sebagian besar orang. Dia pasti berpikir “Tidak peduli seberapa tidak berpengalaman dirinya, anak ini pasti adalah orang bodoh.”

***

—— Dengan itu, aku berhasil membelinya.

Aku tidak tahu makna seperti apa yang akan dia bawa mulai dari sekarang.


Catatan Penerjemah

[1] Ideom jepang yang mendeskripsikan keinginan yang sangat kuar akan suatu hal

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

 

 

2 Comments Add yours

  1. SaikiShu says:

    Project yang satu ini Bagus Banget (Kurasa)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s