Fureimu Oukoku Koubouki Chapter 1 C

Volume 1
Chapter 1 Bagian 3

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Daikyun Translations

Lotte Baumgarten adalah Perdana Menteri pertama di Kerajaan Flame yang berasal dari rakyat jelata.

Berasal dari sebuah keluarga petani miskin yang terdiri dari 5 orang anggota keluarga, lulus dari universitas setelah bekerja keras bertahun-tahun dan akhirnya mendapatkan pekerjaan di istana kerajaan….
—Kenyataan tidak seperti dongeng yang menghangatkan hati seperti itu.

Meskipun dikategorikan sebagai ‘rakyat jelata’, tetapi keluarga Baumgarten masih merupakan salah satu keluarga pedagang terkaya di seluruh Flame, dan Lotte sendiri tidak pernah mendapatkan masalah yang terkait dengan ‘uang’. Sambil menjalani sekolahnya di institut akademik terbaik—Akademi Kerajaan, dia adalah peraih nilai terbaik dari seluruh subjek politik, dan kemudian dipekerjakan sebagai pejabat istana.

Lotte yang memiliki bakat alami itu terkenal dengan cepat. Atasannya pada saat itu menilainya sebagai “dia memiliki kepala yang bagus di bahunya, tapi rasanya dia terlihat sering memandang rendah rekan dan bawahannya”. Ketika Lotte mengenang masa lalunya, dia merasa bahwa dia benar-benar naif, dan bekerja keras untuk menutupi kesalahannya…. Namun, bahkan jika waktu berjalan mundur dan dia kembali ke masa lalu, kemungkinan besar dia tidak akan melakukan hal itu dengan berbeda.

Atasan yang tidak berguna, tetapi tetap berada di atasnya karena ‘umur’.
Atasan yang tidak berguna, tetapi tetap berada di atasnya karena ‘garis keturunan’.
Atasan yang tidak berguna, tetapi tetap berada di atasnya karena ‘koneksi’.

Sejujurnya, dia menjadi pejabat istana bukan karena rasa patriotisme. Keluarga Lotte adalah salah satu keluarga pedagang paling terkenal di Kerajaan, dan juga melakukan bisnis dengan berbagai persatuan pedagang di negara lain. Meskipun dia juga merupakan seorang ‘rakyat jelata’, dia merasa lebih dekat ke ‘negara lain’ dari pada penduduk asli dari Flame, Karena itulah, pemikiran ‘bukan berarti Flame adalah satu-satunya negara yang ada di dunia’ tertanam kuat di hatinya. Atasannya juga merasa demikian, meskipun tidak ada seorangpun yang berani mengatakannya dengan kuat.
Di masyarakat Orkena yang dipenuhi dengan pernikahan politik dan pernikahan antara para kerabat, jumlah orang dengan hak mengklaim takhta di lebih dari satu negara tidaklah sedikit, meskipun sebagian besar dari mereka—jika tidak semua, berada jauh dibelakang garis suksesi.
Dari sudut pandang Lotte, tidak ada seorangpun di istana yang memiliki sedikitpun ‘rasa patriotisme’, dan oleh karenanya, dia mengikutinya.

“Kau mengatakan beberapa hal yang sangat bagus.”

Orang yang mengakui pekerjaan Lotte adalah Raja Flame sebelumnya, Raja George. Pada saat itu, Flame telah mengalami masa panen terburuk di dalam sejarah, dan kebijakan Lotte telah menarik perhatiannya.
Jalan kesuksesan Lotte dimulai dari sana.
Raja George tidak dapat dianggap ‘bijaksana’, ataupun seorang ‘raja bodoh’ berpikiran sempit.

Setidaknya, dia dapat melihat para bangsawan langsung ke mata mereka dan menyatakan—keluarga kerajaan telah memberikan hak kepada Lotte untuk bertindak dibawah namaku, aku akan menanggung semua tanggung jawab atas tindakannya.

Mungkin itu adalah salah satu kriteria untuk bisa dikatakan ‘bijaksana’?
Lalu, Lotte yang telah diangkat sebagai Akuntan Kebijakan Kerajaan mulai mengenalkan kebijakan baru disana-sini. Jalan kerjanya sangat menarik baginya. Meskipun tidak sampai berada pada level ‘seorang pria yang harus menghabiskan hidupnya dalam politik’, tapi fakta bahwa pemikiran, pengetahuan, dan pandangannya telah direfleksikan dalam kebijakan nasional, dan dia dapat melihat kemajuan negara ini, membuatnya merasa benar-benar senang. Lotte bekerja siang dan malam, bahkan sampai tidak tidur…

George melihat semua itu, dan penilaiannya terhadap Lotte meningkat. Posisi Lotte meningkat bersama dengan penilaian atasannya terhadap dirinya, dan dalam sekejap, dia telah berada dalam posisi tertinggi dalam politik kerajaan.
—Pada saat itu, Lotte mulai mencintai negara ini, mencintai ‘Flame’.
Seperti anak kecil yang sudah dia besarkan dengan tangannya sendiri. Lotte tidak punya pilihan lain selain mulai menganggap Flame itu ‘manis’.
Dia perlahan mulai tidak dapat menoleransi segala sesuatu yang dapat mengganggu tatanan negara ini, kemakmuran negara ini, kedamaian negara ini, dan identitas negara ini.

“Lotte! Apa yang kau bicarakan!”

“Apakah anda tidak mendengar apa yang saya katakan, Yang Mulia?”

Oleh karena itu…. bajingan yang dapat menyebabkan kekacauan di negara ini, sebaiknya menghilang saja.

“Aku tidak salah dengar, kan? Apakah kau baru saja meminta Matsushiro-san untuk pergi?”

“Tidak ada yang salah dengan pendengaran anda, Yang Mulia. Memang itulah yang saya katakan.”

“Lotte!”

Lotte mengabaikan Liz yang gelisah, dan menatap Kouta dengan ekspresi tulus.

“Bagaimana menurut anda, Matsushiro-dono? Maukah anda meninggalkan Ibukota Rarkia?”

“Dengan cepat menjawab [Tentu, kenapa tidak] di situasi seperti ini terasa agak sulit. Bolehkah saya menanyakan alasannya?”

Dia tidak marah, dan malah menanyakan alasannya. Orang ini cukup cerdas—Lotte tau bahwa penilaiannya yang sebelumnya tidak terlalu salah dan melanjutkan…

“Pada saat ini tidak aneh jika negara ini dan negara tetangga—Kerajaan Westlia, memulai peperangan kapan saja. Meskipun kami berusaha keras untuk menjaga hubungan diplomatik dengan Westlia, itu hanyalah sebuah tindakan penyeimbangan yang sangat berbahaya. Tentang kekuatan tempur kedua negara, meskipun saya berharap dapat mengatakannya 50:50, kenyataannya adalah pasukan kami sedikit lebih lemah dari pada pasukan mereka. Tetapi itu tidak sampai pada titik dimana ibukota kami dapat diserang. Jika perang benar-benar terjadi, kami mungkin harus menyerahkan beberapa wilayah kepada mereka.”

Lotte membicarakan topik tentang ‘perang’ seolah-olah itu adalah hal yang tidak perlu di khawatirkan.

“Dalam keadaan seperti ini, menurut anda apa yang akan terjadi jika rumor tentang ‘Kerajaan Flame telah berhasil memanggil seorang pahlawan’ mulai menyebat di perbatasan kami?”

“……. Maksud anda adalah, bagi negara lain, ancaman yang akan mereka hadapi akan setara dengan ancaman seorang [Raja Iblis]?”

“Tapi bagaimanapun kau melihatnya, dia tetap seorang ‘pahlawan’, kan?”

“Bukankah mereka akan mencurigai kebenaran rumor itu?”

“Itu mungkin benar. Namun, tetap saja faktanya anda telah dipanggil, dan kami tidak dapat terus merahasiakan masalah ini dalam waktu lama. Selain itu, bukan tidak mungkin jika musuh berpendapat [Mari kita serang mereka duluan sebelum sang Pahlawan terbiasa dengan dunia ini!] dan langsung menyerang kami. Jika [Pahlawan] dari dongeng yang dapat mengalahkan Raja Iblis dan naga benar-benar datang ke benua ini dari dunia lain, dan yang lebih buruk lagi, dia muncul di negara yang tidak memiliki hubungan baik dengan mereka….. Tidak mengetahui kekuatan apa, sihir apa, dan berapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh musuh. Tidak mustahil bagi mereka untuk mencapai kesimpulan ‘yang pertama kali menyerang adalah yang menang’ dan menyerang kami.”

“Apakah itu alasannya?”

“Ada alasan lain. Itu berhubungan dengan Yang Mulia….”

“Hanya karena alasan seperti itu, kau memutuskan untuk mengusir Matsushiro-dono—Eh? Aku?”

Liz memiringkan kepalanya kesamping karena bingung. Melihat tindakannya yang tidak seperti seorang Ratu dari Kerajaan Flame yang memiliki sejarah besar, Kouta hanya bisa tertawa.

 

“Anda tahu, di Flame, kami semua berharap agar pengantin kami masih perawan.”

 

“………………………….. Ah?”

Tawa Kouta berhenti di tengah jalan. Entah kenapa, topik pembicaraan ini tiba-tiba berbelok ke arah yang aneh.

“L-L-L-L-L-Lotte! K-K-K-Kau! A-A-A-A-A-A-Apa yang kau bicarakan?”

Liz kelihatannya merasa lebih malu dari pada Kouta. Apa-apaan dengan ekspresi malu tapi marah yang dia tunjukkan itu?

“Dari apa yang saya lihat, Umur Kouta-dono seharusnya sudah lewat 20 tahun….. tapi mungkin belum mencapai 30 tahun?”

“….. Itu benar. Aku berumur 26 tahun.”

“Yang Mulia Liz berumur 16 tahun, masa paling peka yang dimiliki oleh seorang gadis. Jika rumor tentang seorang pria muda sehat dan seorang gadis dalam masa mudanya tinggal di bawah atap yang sama mulai tersebar…..”

“……. Itu akan menjadi skandal besar, kan?”

“Begitulah. Selain itu, cerita seperti ini akan tersebar bahkan lebih jauh dari pada rumor.”

“Lotte! B-Bahkan jika kami tinggal di bawah atap yang sama, itu bukan berarti kami akan tidur di kamar yang sama! Itu—“

“Yang Mulia terlalu naif. Bahkan lebih manis daripada susu dari Beatrotti[1].”

“—bukan masalah……. Eh? N-Naif? Apa maksudmu menyebut aku naif!”

“Masalah yang ada disini bukan tentang [apa yang terjadi], tetapi [apa yang mungkin terjadi]. Rumor seperti ini tidak dapat dikendalikan menggunakan hukum. Dan jika rumor ini menyebar ke seluruh Kerajaan, bahkan ke negara tetangga, rumor yang baru mungkin akan tersebar tentang—

 

—Ratu Kerajaan Flame adalah….. barang bekas.”

“A-a-a-a-a-a-a-a-apa yang kau maksud dengan [barang bekas]! Ini diskriminasi!”

Lotte membungkuk meminta maaf ke arah Liz dengan gerakan terlatih. Sudah jelas bahwa pemandangan ini menggambarkan hubungan senior-junior di antara mereka berdua.

“Matsushiro-dono, apakah anda memahaminya?”

“………….. Meskipun apa yang anda katakan agak mengerikan…. Tapi seperti ini, kan? [Akan buruk jika reputasi seorang gadis yang belum menikah ternodai] — itulah yang anda maksud, bukan?”

“Benar. Itulah intinya.”

“Jika seperti itu… Bagaimana jika aku meninggalkan istana dan tinggal di ibukota?”

“Ya, melakukan hal itu akan menyelesaikan masalah kedua…. Tetapi masalah pertama, tentang anda yang merupakan [pahlawan] sulit untuk diselesaikan.”

“………….. Mungkin memang begitu. Lalu menurut anda apa yang harus saya lakukan? Untuk memastikan, anda tidak akan tiba-tiba mengatakan hal-hal seperti [pergi dan matilah], kan?”

Menghadapi pertanyaan Kouta, Lotte menganggukkan kepalanya dalam diam.

“Tentu saja saya tidak akan mengatakan hal-hal seperti [tolong matilah demi kami], namun faktanya itu memang cara tercepat untuk menyelesaikan masalah ini.”

“LOTTE!”

“Saya hanya bercanda, Yang Mulia.”

“Ada tempat dan waktunya untuk bercanda!”

Liz yang menunjukkan wajah merah memarahi Lotte dengan keras, kejadian ini kelihatannya bukanlah hal yang langka. Melihat bagaimana Lotte dengan santai menanggapi kemarahan Liz, itu seakan-akan seperti sebuah pertunjukkan komedi.

“Oleh karena itu, Matsushiro-dono, tolong tinggalkan istana kerajaan……. Tidak, tinggalkan ibukota kerajaan. Tentu saja, saya akan meminta orang terpercaya untuk menangani kebutuhan sehari-hari anda.”

“Jika begitu, maka…… tentu.”

“Matsushiro-san! Tidak masalah jika kau menolak—apa yang kau katakan?!”

“Jadi…………. Jika saya mengalami masalah, saya dapat mengatakannya kepada [orang terpercaya] itu, kan?”

“Tunggu dulu! Berhenti bicara sebentar!”

“…………… Ada apa, Yang Mulia?”

“Apa maksudmu dengan, [ada apa]! Lotte! Apakah kau paham dengan apa yang kau katakan? Memanggilnya ke dunia lain tanpa izin dan kemudian mengusirnya? Apakah kau pikir aku akan membiarkan tindakan seperti itu terjadi?”

“Tapi Matsushiro-dono menyetujuinya, kan?”

“Itulah masalahnya!”

“Apakah ada masalah?”

“Matsushiro-san, kau juga! Apakah kau memahami posisimu saat ini?”

“Posisiku?………. Itu adalah [menjadi masalah bagi orang lain], kan?”

“Bagaimana kau bisa mencapai kesimpulan itu! Kau adalah korban! Korban! Bahkan jika kau dengan keras kepala mengatakan [Bertanggung jawablah!], itu adalah hal yang wajar!”

“Yang Mulia, bahkan jika Matsushiro-dono mengatakan kepada kita untuk bertanggung jawab, kita tidak mungkin bisa melakukannya.”

“Itu adalah sebuah perumpamaan! Bagaimanapun! Kau selalu mengatakan [Ya, ya]! Apakah kau tidak memiliki satupun keyakinan atau gagasan atau pendapat!”

“………………. Aku minta maaf.”

“Itulah masalahnya! Kenapa kau selalu meminta maaf dengan begitu cepat! Dengar, bukankah perkataanku yang sebelumnya begitu membingungkanmu! Bukankah ini adalah saatnya kau marah?!”

“Jadi anda juga sadar diri tentang betapa membingungkannya perkataan anda?”

“Lotte, bacod! Matsushiro-dono, marahlah sekarang!” (TN: Ah, maaf saya terbawa suasana :v )

“Umm…. Aku minta maaf?”

“Seperti.Yang.Kubilang—Kenapa kau minta maaf lagi?!”

“Aku minta maaf… Tapi, Yang Mulia, dari sudut pandangmu, bukankah ini adalah hal yang bagus?”

“Ya! Ini adalah hal yang sangat bagus! Aku tidak bisa meminta lebih! Tetapi melihatmu menyetujui segalanya dengan begitu mudah membuatku merasa benar-benar bersalah!”

“Bukankah anda seharusnya merasa bersalah sejak saat pemanggilan itu berhasil?”

“Lotte, diam! Cepat, Matsushiro-san! Jika kau memiliki ketidakpuasan, katakanlah sekarang!”

Liz mendekat ke arah Kouta dengan marah, menyebabkan dirinya mengalihkan pandangannya. Wajah manis miliknya, pada saat itu, menjadi seperti wajah Yaksha…… Terus terang, itu agak mengerikan.

“……… Yang Mulia, aku benar-benar tidak keberatan.”

“Apa yang kau katakan!”

“Bagaimana jika…. Hanya sebuah hipotesis… bagaimana jika, aku tetap berada di istana… bahkan jika masalah yang dikatakan Lotte-san tidak ada, bukankah posisiku akan semakin canggung?”

“I-Itu…. Itu benar!”

“Tentu saja, tidak bisa keluar-masuk istana kapanpun aku mau dengan alasan seperti [Aku akan pergi ke pasar untuk membeli barang!], dan terkurung didalam istana, itu akan membuatku merasa bosan…… Karena seperti itu, bukankah akan lebih nyaman jika aku bisa hidup di suatu tempat dimana aku dapat menikmati kebebasan?”

Jadi itulah alasannya, itu sangat masuk akal. Meskipun itu masuk akal…. Itu masih terdengar tidak mengenakkan.

“Itu…. Apakah itu maksudnya kau tidak mau tinggal bersamaku?!”

“Bagaimana kamu bisa mencapai kesimpulan itu! Tolong tunggu sebentar, Yang Mulia! Entah kenapa ini terasa salah! Bagaimanapun, apakah kamu ingin agar aku tinggal bersamamu?”

“Bukan itu yang kumaksud, tetapi mendengarmu mengatakan [Ok, aku paham] dengan begitu mudah…….”

—Bukankah kau baru saja mengatakan bahwa aku adalah wanita yang luar biasa cantik?!
Gadis muda itu berteriak di dalam hati.

“Itu terasa seperti kau mengabaikan pesona fiminimku! Itu membuatku benar-benar merasa tidak senang! Perbaiki perkataanmu!”

P 041

“Itu adalah hal paling tidak masuk akal yang Yang Mulia katakan! Yang Mulia! Aku tidak bermaksud akan meninggalkan istana karena kamu tidak memiliki pesona feminim! Aku hanya memikirkan tentang negara—“

“Ck~ck~”

“—Tunggu, anda juga, Lotte-san!”

“Apakah kau membenciku? Tolong katakan kepadaku, Matsushiro-san!”

“Apa yang kamu katakan, Yang Mulia! T-Tenanglah!”

“Sekarang, Yang Mulia! Tekan dia ke bawah!”

“Lotte———!”

 

……. Pembicaraan mereka berhenti.

 

“…… Aku minta maaf.”

“Sama.”

“Kalian berdua benar-benar menghibur saya.”

“……… Lotte.”

“Ya, saya akan diam sekarang.”

Setelah membuat diri mereka terlihat bodoh, mereka duduk dengan jengkel di atas kursi (kecuali Lotte yang sedang cengar-cengir). Itu benar-benar kacau.

“……… Bahkan jika kau diam, kita tidak dapat melanjutkan pembicaraan. Karena Matsushiro-san telah memberikan pendapatnya, kita juga harus menerimanya. Jadi, Lotte? Siapa [orang terpercaya] yang kau bicarakan?”

Setelah Liz menanyakan hal itu, kesunyian itu terus bertahan selama beberapa detik.

“Orang yang saya maksud adalah Erica-sama.”

 

Atmosfer di dalam ruangan itu membeku.

“Lotte….. Kau!”

“Jika itu adalah Erica-sama, jika dia tahu bahwa Matsushiro-dono adalah [pahlawan], itu tidak akan menjadi masalah, ditambah, wilayah dibawah kekuasaannya terletak jauh dari ibukota kerajaan. Selain itu, karena dia periang dan lembut, pasti Matsushiro-dono bisa hidup dengan damai.”

“…….. Kau benar! Tapi!”

“Umm…….”

“Ada apa, Matsushiro-dono?”

“Umm, [Erica-sama], kan? Jadi anda menyuruh saya untuk tinggal bersama orang itu?”

“Ya, dia sangat lembut, dan…. Umm…. Merupakan orang yang sangat [menarik].”

“Meskipun anda bilang [menarik], itu membuatku merasa sedikit tidak nyaman, tapi….. [Erica-sama] ini, orang seperti apa dia? Dinilai dari namanya, dia perempuan kan?”

“Ya, dia perempuan. Erica Aurenfert Fan Flame. Dia adalah putri Raja sebelumnya, George Aurenfert Flame…..”

Lotte berhenti sejenak.

 

“Dan dia juga merupakan kakak perempuan Yang Mulia.”


Catatan Penerjemah

[1] Dalam bahasa Jepang kata untuk ‘naif’ dan ‘manis’ memiliki huruf yang sama.

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. swarakula says:

    BACOD!! 😁😁😁
    Ini MC gak punya emosi gitu ya? Nerimo kayak gitu, padahal udah sadar jadi korban pemanggilan. Kazuma, Souma, ama Saito aja tetep punya ego juga. Mungkin karena usianya udah 26 yak, beda ama 3 MC isekai di atas yang masih belasan. Sangar Bang Zen, lanjutkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s