Fureimu Oukoku Koubouki Chapter 1 B

Volume 1
Chapter 1 Bagian 2

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Daikyun Translations

“…. Paling tidak, aku hanya seorang pegawai bank [Biasa].”

Lotte melotot dengan kasar ke arah pemuda yang melangkah keluar dari lingkaran sihir dengan santai itu. Terus terang, gagasan tentang “memanggil pahlawan dari dunia lain” itu terlalu mengada-ada sampai-sampai dia sama sekali tidak dapat mempercayainya, dia hanya mendukung rencana ini dengan setengah hati, seolah-olah sedang melihat permainan anak-anak. Namun, kenyataannya… pemanggilan itu berhasil. Dia hanya bisa melihat saat kejadian itu terjadi di hadapannya.

“…. Apakah kau adalah…. Sang pahlawan?”

“…. Aku benar-benar minta maaf, tapi aku hanyalah orang biasa yang lemah. Ah, maafkan aku… bolehkah aku mengetahui namamu?”

“Hmm? Oh… ahhh… Maafkan aku. Aku adalah penguasa ke-lima puluh empat dari Kerajaan Flame, Elizabeth Aurenfert Flame. Tamu kami dari dunia lain, senang bertemu denganmu.”

Liz sedikit mengangkat ujung gaunnya, dan melakukan sapaan dengan sopan. Melihat itu, Kouta juga membungkukkan kepalanya dengan sopan.

“Terima kasih atas perhatianmu. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, namaku adalah Matsushiro Kouta, saat ini bekerja di bank… hmm… seorang salaryman.”

“[Salaryman] yang kau sebutkan itu…. julukan seperti apa itu?”

“Itu bukan sebuah julukan, itu lebih seperti profesi…. Hmm, tidak juga…. Itu lebih seperti [nama panggilan].”

“Apakah itu adalah semacam nama panggilan khusus seperti yang akan diberikan kepada seorang master swordsman?”

“Tidak.”

“Apakah kau memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir?”

“Tidak, aku tidak memilikinya.”

“Menguraikan bacaan kuno, dan mendapatkan pengetahuan yang setara dengan para saint…”

“Aku tidak memiliki kemampuan seperti itu.”

“Atau… dapat berkomunikasi dengan dewa, atau sesuatu seperti itu?”

“Aku akan kerepotan jika dapat melakukan hal itu. [Salaryman] yang baru saja kusebutkan tadi, maksudnya adalah orang yang bekerja untuk mendapatkan gaji. Di Jepang… err… kampung halamanku, sebagian besar orang adalah [salaryman]. Jika kamu menganggap mereka sebagai [penangkap ikan] atau [penjual sayur]… kurasa, itu tidak terlalu jauh berbeda.”

“Maka itu adalah nama panggilan yang biasa saja?”

“Ya. Seperti yang kukatakan dalam perkenalanku sebelumnya—aku hanyalah seorang pegawai bank [biasa].”

Kouta mengangkat bahunya.

“Meskipun kamu telah memanggilku kemari, aku minta maaf karena aku tidak dapat memenuhi harapanmu. Namun, melihat bagaimana kamu repot-repot memanggilku kemari, kamu pasti sedang menghadapi masalah serius…”

Kouta yang melihat kebawah dan memberikan kesan ‘aku benar-benar minta maaf karena aku tidak dapat memberikan satupun bantuan’, dan Liz yang wajahnya dipenuhi dengan kegugupan dan ketakutan…. Itu adalah pemandangan yang dilihat oleh Lotte. Oh tidak, ini akan selesai dengan cepat—adalah apa yang dipikirkan Lotte di kepalanya.

“…. Bagaimanapun, Yang Mulia. Aku memiliki pertanyaan karena rasa penasaran… Apa yang terjadi disini? Mari kita lihat, Raja Iblis mungkin?”

“Wah! Uh, uhuhh! Bu… Bukan itu…”

“Jika bukan Raja Iblis…. Lalu seekor naga? Atau bahkan alien dari luar angkasa mungkin?….. Apapun itu, itu pasti adalah musuh yang sangat menakutkan, kan?”

“Uhh, itu… haruskah kami menganggapnya menakutkan atau….”

Melihat ekspresi panik milik Liz—Lotte paham bahwa pemikirannya yang barusan tepat sasaran, dan menghela nafas dengan berat. Tepat sasaran pada firasat buruk, apakah itu adalah hal yang bagus atau hal yang buruk?

“Namamu adalah Matsushiro?”

Untuk membantu sang Ratu, Lotte memutuskan untuk menyela percakapan mereka. Meskipun orang tua yang hanya melihat sejak awal, menyela percakapan dengan tiba-tiba, Kouta tidak terlihat terkejut, tapi malah membungkukkan kepalanya dengan sopan.

“Itu benar, nama saya adalah Matsushiro Kouta. Bolehkah saya menanyakan nama anda?”

“Maaf karena sudah tidak sopan. Saya adalah Perdana Menteri di Kerajaan Flame, Lotte, Lotte Baumgarten. Senang bertemu dengan anda.”

“Kerajaan Flame? Saya minta maaf, saya belum pernah mendengar negara seperti itu sebelumnya.”

“Benarkah? Maafkan saya, karena tidak ada seorangpun di benua Orkena yang tidak mengetahui nama [Kerajaan Flame]…. Jika seperti itu, maka anda memang berasal dari [dunia lain].”

Lotte mengamati Kouta, dan disaat bersamaan masuk kedalam pemikiran panjang. Setiap orang yang lahir di Orkena, selama dia bukan seorang anak balita, akan mengetahui nama tujuh negara yang ada di benua ini.

Negara yang didirikan 300 tahun yang lalu oleh saudara Raja dari Kerajaan Flame, dan tidak pernah diserang oleh negara lain, “Negara Dinding Besi”
—Kerajaan Rarkia.

Negeri yang memiliki tanah yang subur dan kaya, dimana rakyatnya tidak akan kelaparan bahkan selama masa panen yang buruk, “Negara Kesuburan dan Kemakmuran”
—Kerajaan Westlia.

Negara dengan “3 Pelabuhan Besar”. Kato, Armessa, dan Sorbania, dengan perdagangan yang ramai dan sebuah ibukota yang makmur, “Negara Perdagangan”
—Kerajaan Sorbania.

Negara yang membuang sistem monarki, dan menerapkan sistem konsul yang dipilih dari seluruh negara, “Negara Bebas”
—Perserikatan Rhime.

Negara dimana “jabatan dapat dibeli” dan “hidup seorang pria dapat hancur dalam satu malam”, negara yang penuh dengan kesenangan dan keinginan, “Negara Nafsu dan Keserakahan”
—Kadipaten Parsena.

Negara yang tidak pernah menyerang negara lain tanpa alasan, meskipun memiliki pasukan ksatria terkuat, negara tanpa ampun di benua Orkena, “Negara Harta Karun”
—Kerajaan Laurent.

Dan—

“…. Yang Mulia, berapa lama kamu akan terus meminta maaf?”

“—Aku sangat, sangat, sangat minta maaf!”

Dianggap sebagai “Penerus Sejati Kekaisaran Flame”, “Pelopor Negara-Negara di Benua Orkena” dan “Kerajaan Bersejarah”, “Negara Sejarah dan Kebudayaan”
—Kerajaan Flame.

Penguasa muda dari negara ini, Elizabeth Aurenfert Flame—Liz, terus meminta maaf kepada pemuda dari dunia lain yang telah dipanggil ‘tanpa alasan khusus’, seakan-akan mengatakan ‘ini tidak cukup’.

“Umm…”

Kouta, melihat ke arah gadis yang terus meminta maaf kepadanya, menunjukkan ekspresi tidak tau harus melakukan apa. Namun, itu sudah wajar. Bagaimanapun, gadis ini memberikan penjelasan yang mirip dengan kalimat “Karena kami tidak menduga ini akan berhasil, jadi kami mencoba melakukannya. Tapi ternyata ini berhasil. Aha!”, apa yang harus dia lakukan sekarang?

“Umm… Yang Mulia, tolong angkat kepalamu. Melihat sebuah bunga yang sedang mekar dan wanita yang luar biasa cantik sepertimu meminta maaf, itu malah membuatku takut. Tolong berhenti melakukan hal itu.”

Melihat Kouta menundukkan kepalanya, Liz segera mengangkat kepalanya. Semu kemerahan mulai muncul di pipinya, mungkin itu adalah tanggapan dari kalimat “bungan yang sedang mekar” dan “wanita yang luar biasa cantik” —jeda waktu diantara kedua tindakan itu cukup lama sehingga Lotte berhasil menangkap reaksi Liz dan menjawab demi dirinya.

“Tolong terima permintaan maaf dari saya juga, Matsushiro-sama. Kami benar-benar menyebabkan banyak masalah untuk anda.”

“Ah, tidak… Umm, yah, tidak perlu menggunakan honorifik [-sama], Saya tidak terbiasa mendengar orang lain memanggil saya begitu.”

“Kalau begitu, Matsushiro-dono.”

“Itu… Jika bisa, tolong tidak usah menggunakan honorofik, panggil saja saya Matsushiro.”

“Kami tidak dapat melakukan hal itu, karena situasi ini terjadi karena keteledoran kami…”

“…. Saya paham. Tapi [-dono] tetap ditolak. Setidaknya jelaskan situasi saat ini kepadaku terlebih dahulu.”

Kouta merasa bahwa melanjutkan perdebatan itu tidak akan membuahkan hasil, dan berbalik ke arah Liz, dengan kelima jari terentang.

“Pertama, dunia ini sedang tidak berada dibawah ancaman [Raja Iblis] atau sejenisnya.”

Satu.

“Ya.”

“Meskipun begitu, kalian masih tetap melakukan [Ritual Pemanggilan Pahlawan], hanya untuk memuaskan rasa penasaran kalian.”

Dua.

“…… Ya.”

“Dan dengan tidak adanya masalah mendesak yang harus diselesaikan, kalian tidak tau harus berbuat apa padaku.”

Tiga.

“………… Ya.”

“Dan tidak mungkin kalian hanya mengatakan [Itu saja, selamat tinggal] dan mengirimku pulang.”

Empat.

“……………… Ya.”

“Bahkan jika kalian berusaha sekeras mungkin untuk menemukan sebuah cara, karena buku kuno itu sudah terlalu tua, kesempatan untuk menemukan jawabannya mendekati nol. Dengan kata lain, tidak ada jalan pulang.”

Lima.

Kelima jari yang terangkat itu sekarang telah mengepal.

“……………… Uwuuu……”

“…… Matsushiro-dono, Matsushiro-dono. Saya benar-benar paham bahwa ini adalah kesalahan kami… dan meski begitu saya harus meminta anda untuk berhenti melakukan tindakan yang mungkin bisa menghancurkan jiwa milik Ratu kami?”

Kouta segera melirik ke arah Liz.

“…… uwuu…… Aku minta maaf…. Uwuu uwuu…………”

Disana adalah seorang gadis muda dengan air mata mengalir dipipinya, bercampur dengan ingus dari hidungnya—tapi bukan itu masalahnya sekarang.

“… Ah, aku… aku benar-benar minta maaf! Aku tidak bermaksud memarahimu! Aku hanya ingin menganalisa situasinya!”

“… Yang Mulia… Matsushiro-dono lah yang seharusnya menangis saat ini.”

Lotte dengan putus asa—benar-benar putus asa—melihat ke arah Kouta yang sedang menghela nafas. Penyesalan, permintaan maaf, dan refleksi diri adalah hal yang diperlukan, tapi apa yang perlu kami lakukan saat ini adalah terus maju… Lotte sendiri memahami bahwa membawa seseorang ke tempat asing tanpa izin memang terlalu kejam.

“…. Saya memang mengatakan bahwa Matsushiro-dono adalah orang yang seharusnya menangis, tapi Matsushiro-dono, jika anda ingin mengatakan sesuatu, silahkan katakan saja. Kami tidak akan menghukum anda dengan tuduhan [bersikap tidak sopan terhadap Ratu].”

Biasanya, siapapun akan marah jika mereka tiba-tiba dilemparkan ke tempat asing, bahkan sebelum menambahkan “tidak ada apapun yang terjadi, tapi kami tetap memanggilmu”. Bahkan jika itu adalah Lotte yang ‘lembut’, tidak perlu dikatakan lagi bahwa dia akan marah. Meski begitu…

“Ini tidak apa-apa… Tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan.”

Itulah masalahnya. Tidak bukanlah seorang saint besar, tetapi dia bahkan tidak mengeluh, itu agak mengganggu.

“…. Mungkin memang begitu, tapi anda telah [dipanggil] dengan tiba-tiba? Meskipun kami lah yang telah memanggil anda, bahkan saya sendiri berpikir bahwa anda seharusnya merasa marah?”

Mendengar jawaban Lotte, Kouta berpikir untuk sesaat, dan tersenyum.

“Saya masih ingat apa yang dikatakan oleh atasan saya kepada saya sebelumnya.”

“…. Tolong lanjutkan.”

“[Buat sekelilingmu menjadi menguntungkan bagimu, dan berjuanglah untuk hasil yang terbaik]. Jika dengan marah akan membuat situasinya membaik, maka saya akan mengungkapkan semua keluhan dan kebencian saya… Karena melakukan hal itu tidak akan membuat apapun menjadi lebih baik, itu hanya akan buang-buang waktu.”

“…… Itu tidak salah….”

—Itu saja? Pengalaman Lotte sendiri mengatakan kepadanya bahwa orang tidak akan mencapai sebuah kesimpulan dengan semudah itu.

(Apakah ini adalah perbedaan dalam pandangan dunia?)

Di Kerajaan Flame yang mengutamakan garis keturunan, Lotte… Lotte Baumgarten adalah Perdana Menteri pertama yang berasal dari rakyat jelata. Tidak peduli seberapa luar biasa dirinya, dia diabaikan hanya karena merupakan seorang rakyat jelata. [Buat sekeliling menjadi keuntungan bagimu, dan berjuanglah untuk hasil yang terbaik]. Itu masuk akal. Tapi meski begitu…. Jika itu sudah cukup untuk memberikan kebahagiaan kepadanya, maka Lotte dengan status ‘perdana menteri pertama yang berasal dari rakyat jelata’ dan memiliki julukan sebagai ‘orang dengan kewenangan tertinggi dalam semua urusan Kerajaan’, tidak akan pernah ada.

(Memang, ini adalah masalah perbedaan pandangan dunia, untuk hal baik atau hal buruk)

“Sekarang jika dipikir-pikir, bukankah saya sedikit beruntung?”

“….. Beruntung?”

“Sederhananya, olah raga bukanlah point terbaik saya. Saya tidak pernah berkelahi dengan orang lain sebelumnya, ataupun memimpin orang lain. Jika seseorang mengatakan [Wahai pahlawan, tolong kalahkan Raja Iblis!], saya pasti sudah melarikan diri. Jika anda membandingkan kedua situasi itu, bukankah ini lebih baik?”

Saat Kouta mengatakan hal itu, sebuah senyum ramah yang cerah muncul di wajahnya. Mendengar itu semua, Lotte diam-diam bepikir di dalam hatinya—orang ini terlalu aneh.

“……. Anda dapat menganggapnya seperti itu. Meskipun ini bukanlah situasi yang tepat untuk hal itu.”

“Orang lain sering mengatakan [Seringlah menyerah], dalam hal baik maupun hal buruk.”

[Seringlah menyerah], huh. Begitu… Aku tidak paham, tapi aku yakin. Orang ini mungkin memang aneh… tetapi dia tidak bodoh.

“…… Bagaimanapun, Matsushiro-dono. Bisakah saya mendiskusikan sesuatu dengan anda?”

Jika orang ini bukan orang bodoh…. Mungkin dia adalah orang yang ‘lembut’ dan ‘bijaksana’ seperti apa yang tampak pada penampilannya.

“Sebuah diskusi, kan? Un, silahkan.”

Lotte mengangguk, puas dengan jawabannya.

“Bisakah anda…. Meninggalkan istana kerajaan?”

Apakah dia juga akan menerima permintaan seperti ini?

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. swarakula says:

    Kocak, alasanvpemanggilannya lebih gak layak dibanding Realist Hero 😁😁

    Like

    1. Fayori Akbar says:

      seharusnya ni metode pemanggilan pahlawan gak usah dicoba.. kalau MC bisa tersambung ke forum Pahlawan (Yuusha Gojo Kumiai Kouryuugata Keijiban) mungkin bisa dipulangin..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s