Japan Summons Prolog B

Volume 1
Prolog – Kontak Bagian 2

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yukkuri

Kadipaten Qua-Toyne, Kota Perdagangan Maihark.

Kadipaten Qua-Toyne adalah sebuah negara yang terletak di timur laut Benua Rodenius. Sebuah wilayah yang diberkahi oleh Dewi Tanah, yang meskipun memiliki tanah yang subur, tempat itu sulit ditumbuhi oleh rumput. Bahkan jika tumbuhan dan biji-bijian yang dapat dimakan, diabaikan dan tidak mendapatkan sedikitpun perhatian manusia, mereka akan tumbuh dengan baik. Sebuah negara dengan tingkat ketersediaan pangan jauh di atas 100%, dimana air dan makanan bisa didapatkan dengan gratis, dan bahkan hewan peliharaan bisa memakan makanan yang enak. Di timur laut negara pertanian ini terdapat sebuah Kota Pusat Perdagangan, Maihark. Bangunan toko-toko tua berjajar dijalan utama beraspal yang terletak di tengah kota dimana kereta dan burung darat berlalu-lalang dengan sangat ramai.

Sebuah pintu terbuka dengan suara keras, dimana seorang wanita yang berada di pertengahan umur 20-an bergegas keluar dengan ekspresi khawatir. Wanita itu mengenakan sebuah armor, dengan pedang dipinggang dan panah di punggungnya. Dibelakang wanita yang mulai berlari cepat itu, ada beberapa orang, yang kelihatannya adalah bawahannya, yang sedang mengikutinya. Berkebalikan dengan pemandangan kota yang damai, setiap anggota itu mengenakan armor dan kegugupan menyelimuti wajah mereka.

Mereka berlari menuju puncak bangunan yang terletak di sudut Benteng Maihark.

“Ha… Ha… Ha…”

Orang-orang itu, yang bergegas naik ke puncak bangunan sambil mengenakan armor, mulai menatap ke arah langit sambil menenangkan nafas mereka. Kapten dari Korps Ksatria Pertahanan Maihark, Ine, mengingat laporan dari Skuadron Naga Terbang Ke-6 dan memerintahkan bawahannya.

“Tak lama lagi, objek asing itu akan tiba di wilayah udara Maihark! Berdasarkan laporan Skuadron Naga Terbang Ke-6, objek asing itu akan datang dengan kecepatan yang melebihi wyvern. Semuanya, ambil posisi kalian!”

Setiap anggota dari Korps Ksatria mempersiapkan anak panah di busur yang mereka pegang menggunakan tangan kiri dan sekali lagi melihat ke arah langit. Tatapan Ine beralih di antara menara pengawas yang terletak di keempat sudut kota saat setiap Ksatria telah menempati posisi mereka. Dia mulai menilai kembali situasi yang ada. Berdasarkan laporan, dengan kecepatan dan ketinggiannya, objek asing itu berhasil lepas dari Skuadron Naga Terbang Ke-6 yang merupakan kebanggaan negara ini. Biasanya, metode serangan dari langit ke darat yang dimiliki oleh naga terbang hanyalah menembakkan nafas dari mulutnya. Itu karena secara mengejutkan naga terbang tidak dapat membawa satupun objek berat. Jika hanya ada satu unit yang datang ke tempat ini, bahkan jika dia melakukan serangan, tidak akan ada kerusakan besar yang terjadi. Dia menduga bahwa tujuan musuh mungkin adalah untuk melakukan pengintaian. Namun, apa-apaan objek itu yang bahkan tidak dapat dikejar oleh naga terbang? Dengan mudahnya terbang di ketinggian yang melampaui naga terbang, sungguh hal yang mengerikan. Lalu tak lama lagi, objek itu akan muncul di langit di atas Kota Perdagangan Maihark. Ine mengamati langit dengan teliti.

ine

“Dia datang!!”

Ksatria di gedung timur, yang sedang mengawasi arah timur, berteriak dengan keras. Semua orang segera berpaling ke arah itu. Objek yang terlihat seperti butiran debu, tak lama kemudian menunjukkan bentuknya yang sebenarnya. Sambil mengeluarkan suara samar yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, objek terbang itu tiba di langit Maihark. Objek itu melambat dan berputar mengelilingi kota dengan ketinggian yang tidak dapat dijangkau oleh panah. Objek berwarna putih itu lebih besar dari pada wyvern, lalu sayapnya yang tidak mengepak memiliki sebuah gambar lingkaran berwarna merah.

“Begitu cepat…….”

Objek misterius yang bahkan dapat terbang lebih cepat dari Ksatria Naga Terbang terbaik di Kadipaten Qua-Toyne. Objek itu jelas-jelas sudah memasuki wilayah udara kota, tapi kelihatannya dia tidak melakukan serangan. Objek itu bisa diserang menggunakan wyvern, tetapi Skuadron Naga Terbang Ke-6 telah diberangkatkan dan sedang dalam perjalanan kembali. Karena objek itu mendekat dengan sangat cepat, mereka juga tidak dapat mempersiapkan perlengkapan tambahan. Satu-satunya metode serangan balasan yang mereka miliki saat ini adalah menembakkan anak panah dari darat. Meski begitu, sudah jelas bahwa anak panah tidak akan bisa mencapai objek itu. Objek itu mengelilingi kota beberapa kali seolah-olah sedang mengincar mangsa sambil mengeluarkan suara samar yang menakutkan.

“A…. Apa-apaan itu!!?”

“Waaaa, monster!! Seekor monster telah datang!!”

Wajah para penduduk membeku ketakutan. Orang-orang yang berada didalam rumah begitu ketakutan sampai-sampai mereka mulai menutup jendela satu per satu. Itu adalah sebuah kekacauan karena orang-orang yang berada di jalan mulai berlari kesana-kemari mencari tempat persembunyian. Bahkan hewan peliharaan seperti kuda dan burung darat mulai berlarian dengan sendirinya karena merasa takut setelah mendengar suara yang dikeluarkan oleh objek itu dan pada akhirnya menyebabkan kecelakaan di berbagai tempat. Objek itu, yang telah menimbulkan ketakutan dan teror di kota yang damai itu, tidak melakukan apapun, dan setelah beberapa saat, seolah-olah dia telah merasa puas, objek itu terbang menuju ke arah utara.

***

Kalender Central Tahun 1639, Bulan 1, Tanggal 27.
Kadipaten Qua-Toyne. Sebuah Pelabuhan di Kota Perdagangan Maihark.

Pelabuhan yang terletak di sebelah utara Kota Perdagangan Maihark terpisah agak jauh dari kota, tapi karena tempat itu berafiliasi dengan Maihark, maka itu disebut [Pelabuhan Maihark]. Di Pelabuhan Maihark, terdapat sebuah markas dimana Armada Ke-2 Angkatan Laut Kadipaten Qua-Toyne sedang terselimuti oleh ketegangan yang melebihi biasanya.

Asal dari ketegangan itu adalah kejadian yang terjadi 3 hari yang lalu. Sebuah objek asing besar telah dengan mudah melewati jaringan pertahanan udara milik skuadron naga terbang yang dimiliki oleh Kadipaten dan berputar-putar di atas Maihark. Karena objek itu tidak melakukan satupun serangan, disimpulkan bahwa dia sedang melakukan pengintaian, tapi masalahnya adalah, unit itu sudah jelas bukanlah sesuatu yang berasal dari Kerajaan Louria. Selain itu, tidak dapat laporan dari keberadaan unit seperti itu di Kekuatan Utama dari Wilayah Tiga Peradaban Besar, Kekaisaran Papardia. Sejak awal, ada sebuah kemungkinan bahwa itu tidak berafiliasi dengan negara manapun.

Meski begitu, merupakan sebuah fakta bahwa Kadipaten telah di intai oleh sebuah keberadaan asing, yang semakin menegangkan suasana militer. Karena Militer Kadipaten Qua-Toyne sedang berada dalam keadaan siaga 1, setiap kapal perang keluar untuk melakukan tugas patroli lepas pantai. Skuadron Naga Terbang Ke-6 juga melipat gandakan kewaspadaan mereka terhadap jaringan pengamatan mereka melebihi sebelumnya. Situasi patroli dari segala arah dilaporkan secara rutin ke Ruang Kendali Pertahanan Maihark. Tidak ada keanehan khusus dan mereka tidak mendeteksi apapun.

“Apa yang Komandan Nouka pikirkan tentang bentuk sebenarnya dari objek asing itu?”

Seorang perwira muda bertanya kepada Komandan.

“Hmm… Karena aku tidak melihatnya, aku tidak dapat mengatakannya. Hanya saja, jika itu hanya dilihat oleh seorang Ksatria Naga, maka itu hanya akan berakhir sebagai kabar burung. Tetapi setiap anggota dari Skuadron Naga Terbang Ke-6 telah melihatnya, selain itu, ada laporan saksi mata dari penduduk Maihark dan Korps Ksatria. Setidaknya, objek asing itu benar-benar ada.”

Nouka melanjutkan deduksinya seolah-olah dia sedang menyusun pemikirannya.

“Tidak ada negara di arah timur, dan di timur laut, ada sekelompok pulai yang berpenghuni, namun dari laporan yang ada, mereka tidak memiliki unit seperti itu. Ada kemungkinan bahwa itu berasal dari Kerajaan Louria atau Kekaisaran Papardia di Wilayah Peradaban Besar di Utara, tapi berdasarkan persenjataan yang dimiliki oleh kedua negara yang telah dicatat sampai sekarang, tidak ada satupun yang mirip dengan objek itu. Kita tidak dapat mengabaikan kemungkinan bahwa itu adalah unit yang baru dikembangkan, tapi bentuknya terlalu tidak biasa. Intuisiku berkata, objek itu bukan milik kedua negara itu.”

“Begitu….”

Perwira muda yang masih belum berpengalaman itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya dan menurunkan bahunya. Seolah-olah dihasut oleh kegelisahan itu, operator komunikasi berteriak dengan keras.

“Komandan!! Komandan!!”

Wajah sang komandan dan perwira itu terselimuti oleh ketegangan dan sama-sama menatap ke arah operator komunikasi.

“Laporan dari Kapal Perang Prima! [Terdeteksi sebuah kapal asing berukuran besar. Lokasi saat ini, 60km sebelah utara dari Pelabuhan Maihark. Akan mendekati kapal itu dan melakukan pemeriksaan kapal].”

“Kapal besar…..?”

Apa yang mereka temukan bukanlah objek misterius, jadi sang komandan menunjukkan ekspresi ragu. Namun, bisa dikatakan bahwa party itu memiliki hubungan dengan masalah tersebut.

“Jika mereka hanya mendeteksinya, maka masih tidak jelas kapal macam apa itu…. Kapal Perang Prima adalah kapal milik Kapten Midori, kan? Minta mereka untuk segera melapor setelah mereka mengenali kapal itu, tapi tolong periksa kapal itu tanpa menyebabkan insiden apapun, setiap bagian mencurigakan harus di selidiki secara menyeluruh.”

“Baik, Pak!”

Perintah itu kemudian di kirimkan ke Kapal Perang Prima oleh operator komunikasi.

***

Kadipaten Qua-Toyne, 60km Sebelah Utara dari Pelabuhan Maihark.

Kapal Perang Prima yang termasuk dalam Armada Ke-3 Angkatan Laut Kadipaten Qua-Toyne, saat ini sedang bergerak menuju kapal besar yang aneh. Layarnya dibentangkan sepenuhnya, dan angin yang tertangkap diubah menjadi tenaga kinetik, sementara dayung ditarik keluar dari kapal dan mereka mendayung sesuai dengan irama gendang. Kapal Perang itu telah berada dalam mode tempur. Semua awak mengenakan armor kulit. Awak bersenjatakan pedang telah berdiri di dek teratas dan mempersiapkan panah mereka. Perisai kayu untuk menangkis anak panah telah terjajar di dek teratas, dan ballista besar telah terpasang disisi kapal. Ada juga beberapa gentong minyak yang terletak didekat sana untuk menembakkan panah api. Mereka sudah siap untuk terjun kedalam pertempuran kapan saja.

Sambil mempertahankan kesiapan itu, Kapten kapal itu, Midori menjadi pucat melihat kapal asing berukuran besar itu saat mereka mendekat. Mungkin dia menyadari alasan kenapa mereka belum sampai saat ini meskipun mereka telah mendekatinya dalam waktu yang cukup lama.

“Kapten, mungkin kapal asing itu menyadari bahwa kita sedang mendekat jadi kelihatannya mereka menurunkan kecepatannya dengan tiba-tiba.”

Midori mulai berbicara dengan Wakil Kapten yang saat ini belum menyadari situasinya.

“Itu benar…. Wakil Kapten, aku akan memimpin kelompok pemeriksa. Jika terjadi sesuatu, aku akan menyerahkan komando kepadamu.”

“Baik, Kapten…. Apakah ada sesuatu yang anda khawatirkan?”

Karena Midori menatap kapal besar itu dengan ekspresi yang tak berubah, Wakil Kapten itu juga menatap ke arah kapal besar itu. Tak lama kemudian, dia akhirnya juga menyadari kenyataan kenapa mereka tidak sampai-sampai ke kapal itu meskipun mereka telah mendekatinya sejak beberapa waktu yang lalu. Hanya sosok kapal itu yang menjadi semakin besar dan semakin besar. Karena kapal itu sangat besar, mereka salah memperhitungkan jarak di antara mereka.

“…… Wakil Kapten. Bukankah ukurannya melebihi standar kapal normal?”

“Benar…. Saya juga hanya bisa menganggapnya sebagai sebuah pulau kecil yang mengambang.”

ship

Midori dan wakil kaptennya kehabisan kata-kata, tapi entah bagaimana mereka berhasil memaksa keluar perkataan mereka.

“Kelihatannya adalah sebuah bendera berwarna putih dengan bulatan merah di atas kapal itu. Apakah kau mengenali bendera seperti itu?”

“Tidak, saya tidak pernah melihat atau mendengar bendera berwarna putih dengan bulatan merah ditengahnya sebelumnya.”

“Lalu, apakah kau tau negara mana yang memiliki kapal sebesar itu?”

“Itu… sebelumnya saya pernah pergi ke Papardia untuk melakukan pelatihan, bahkan dibandingkan dengan [100 Cannons-Class Ship-of-the-Line[1]] milik Kekaisaran yang bisa disebut sebagai senjata super, kapal asing itu memiliki ukuran yang jelas lebih besar.”

Semua awak di Kapal Perang Prima kewalahan dengan ukuran raksasa dari kapal besar itu saat mereka mendekat. Lalu, dari atas kapal besar itu, puluhan orang mengirimkan cahaya berkedip ke arah Prima. Para awak bersiaga karena berpikir bahwa itu adalah semacam serangan, tapi mereka melihat bahwa orang-orang itu sedang melambaikan tangan mereka untuk menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki rasa permusuhan. Kapten Midori membungkuk dan kemudian berbicara kepada awaknya tanpa menghilangkan ekspresi tegasnya.

“Kita akan mengirimkan kelompok pemeriksa untuk menaiki kapal itu. Selain ada perintah dariku, atau kapal lain menyerang, jangan pernah serang kapal itu. Juga, afiliasi dari kapal itu masih tidak diketahui, mungkin itu milik sebuah negara yang baru terbentuk. Karena ini bisa menjadi urusan internasional, aku melarang semua sikap intimidasi yang ceroboh, apakah kalian paham!”

“Ya!”

Kapten Midori kemudian menaiki kapal besar itu dengan dipandu oleh awak kapal itu.


Catatan Penerjemah

[1] Kapal yang memiliki 100 meriam dan memiliki panjang sekitar 50 sampai 70 meter (saya kurang tau soal yang beginian jadi saya biarkan saja begitu)

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

 

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s